Minggu, 11 Oktober 2026
22:38 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Surang

Surang

salah satu huruf aksara Bali

Bagikan:
Layar (surang)
Aksara JawaAksara Bali
Letak penulisanDi atas aksara yang dilekatinya.

Surang adalah salah satu sandhangan (tanda diakritik) dalam aksara Bali. Aksara ini tergolong ke dalam pangangge tengenan (sama seperti sandhangan dalam aksara Jawa). Layar atau surang identik dengan cakra atau guwung, karena melambangkan fonem /r/. Perbedaannya terletak pada letak penulisan dan pola suku kata yang dilekatinya.

Penggunaan dan aturan

Layar atau surang digunakan pada suku kata yang berpola KVK (konsonan-vokal-konsonan) maupun KKVK (konsonan-konsonan-vokal-konsonan), di mana konsonan terakhir adalah fonem /r/. Contoh suku kata yang dimaksud adalah: sar, tar, swar, plar, dll.

Dalam aksara Bali, fonem /r/ (Ra, Ra repa, guwung, surang) dan sengauan /ɳ/ (Na rambat) sama-sama merupakan warga murdhania (gelungan, meskipun menurut fonologi sesungguhnya Ra merupakan konsonan rongga-gigi) dalam aksara Bali. Maka dari itu, dalam peraturan aksara Bali, apabila fonem /r/ diikuti dengan sebgauan /n/ maka otomatis fonem /n/ tersebut menjadi /ɳ/.[1] Secara sederhana, apabila dalam suatu kata terkandung surang (/r/), dan diikuti oleh aksara Na kojong (/n/), maka Na kojong tersebut berubah menjadi Na rambat (/ɳ/). Contoh kata yang dimaksud adalah: warna, karena, parna, dsb. Bila disalin ke dalam aksara Bali, huruf n pada kata-kata tersebut ditulis dengan Na rambat.

Layar atau surang dapat ditulis berdampingan dengan pepet atau ulu. Dalam penulisannya, pangangge suara (pepet dan ulu) didahulukan, lalu diikuti dengan surang.

330px-Balinese_script_-_her_and_hir.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Contoh penggunaan surang saat suatu huruf sudah dilekati oleh tanda pepet dan ulu.

Surang dalam aksara Bali

Dalam peraturan penulisan aksara Bali, bentuk duita terjadi karena perubahan bentuk dari akar kata menjadi kata.[2] Contoh:

  • budh menjadi buddha
  • cit menjadi citta

Dalam peraturan penulisan aksara Bali pada zaman dahulu terdapat aturan yang berbunyi sebagai berikut:

Saluiring kruna lingga, yening aksarane ring arep masurang, ring pungkur wenang maduita.[2]

Terjemahan

Dalam kata dasar, bila suku kata di depan diberi tanda surang, suku kata yang mengikutinya wajib ditulis seperti bentuk duita.

Karena adanya aturan tersebut, maka kata-kata (khususnya dari bahasa Sanskerta) yang mengandung surang ditulis seperti bentuk maduita, meskipun penulisannya dalam aksara lain yang masih satu leluhur dengan aksara Bali (umpama Dewanagari) tidak demikian karena sudah tidak dipakai lagi.[3] Contoh:

Aksara
Dewanagari
Transliterasi
aksara Dewanagari
(IAST)
Aksara Bali
(dulu)
Transliterasi
aksara Bali (IAST)
कर्ण Karṇa Karṇna
सूर्य Sūrya Sūryya

Namun, aturan tersebut dihapus dalam Pasamuhan Agung Bahasa Bali tahun 1963, karena kurang dapat dipertanggungjawabkan dan penulisannya tidak sesuai dengan artikulasi bunyi.[4] Selain itu, dalam bahasa Sanskerta, kata-kata yang mengandung fonem /r/ di antara dua suku kata belum tentu ditulis dalam bentuk duita. Maka dari itu, kini ditemui perubahan sebagai berikut:

Aksara
Dewanagari
Transliterasi
aksara Dewanagari
(IAST)
Aksara Bali
(kini)
Transliterasi
aksara Bali (IAST)
कर्ण Karṇa Karṇa
सूर्य Sūrya Sūrya

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ Simpen, hal. 27.
  2. 1 2 Tinggen, hal. 18.
  3. ↑ Tinggen, hal. 42.
  4. ↑ Tinggen, hal. 43.

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan