Selasa, 29 September 2026
00:40 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Na (aksara Bali)

Na (aksara Bali)

salah satu huruf aksara Bali

Na
250px-Bali_Na.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinNa
IASTNa
Fonem[n]
UnicodeU+1B26
Warga aksaradantya
Gantungan
(gantungannya bernama "Na kojong")

Na adalah salah satu aksara wianjana (huruf konsonan) dalam sistem penulisan aksara Bali, yang melambangkan bunyi /na/. Jika dialihaksarakan menjadi huruf Latin, maka huruf ini ditulis "Na".[1][2] Huruf ini termasuk dalam warga dantya (konsonan gigi/labial),[2] yaitu huruf yang melambangkan bunyi yang dihasilkan dengan melekatkan lidah ke lengkung kaki gigi bagian atas.

Fonem

Na diucapkan seperti huruf "n" pada kata: "namun" (bahasa Indonesia), nāraka (bahasa Sanskerta), napi (bahasa Bali), nib (bahasa Inggris).

Penggunaan

Dantya (gigi)
Center
Murdhanya (tarik-belakang)
250px-Retroflex.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Talawya (langit-langit)
250px-Palataal.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Penggunaan aksara Na sama dengan penggunaan Na (Dewanagari: न) dalam abjad bahasa Sanskerta.[1] Dalam sistem penulisan dengan aksara Bali, Na digunakan pada kata-kata yang mengandung bunyi /n/, baik dari bahasa Bali, maupun bahasa non-Bali. Selama Na kojong tidak dibubuhi oleh pangangge suara, maka ia dibaca "na" (lafal: /nə/ atau /na/, tergantung kata).

Gantungan aksara Na disebut Na kojong (dalam bahasa Bali, kojong berarti kerucut).

Perubahan menjadi Na rambat

Apabila dalam suatu kata terkandung bunyi /n/ yang menyusul bunyi /r/ (contohnya: "warna", "purna", "sirna", dsb), maka apabila disalin menjadi aksara Bali, huruf N pada kata tersebut patut ditulis dengan Na rambat, bukan Na.[3][4] Hal ini dianjurkan karena penulisan kata-kata dengan menggunakan aksara Bali harus memperhatikan warga aksara (daerah artikulasi tradisional). Menurut aturan tradisional tentang aksara Bali, posisi lidah saat mengucapkan bunyi /r/ adalah murdhanya (langit-langit keras). Sehingga apabila bunyi /r/ disusul bunyi /n/ (contohnya huruf N pada kata "warna") maka, bunyi /n/ (dantya) berubah menjadi bunyi /ɳ/ (murdhanya).[3] Meskipun demikian, dalam fonologi, bunyi /r/ adalah konsonan getar rongga gigi, sedangkan bunyi /n/ adalah konsonan sengau rongga gigi. Maka dari itu, daerah artikulasinya sama tetapi agak berbeda dengan aturan penulisan aksara Bali.

Perubahan menjadi Nya

Apabila dalam suatu kata terkandung bunyi /n/ (konsonan gigi/warga dantya) yang disusul oleh bunyi /c/ atau /ɟ/ (konsonan langit-langit (palatal)/warga talawya), maka bunyi /n/ tersebut berubah menjadi bunyi /ɲ/ (konsonan sengau langit-langit).[3] Contohnya: "ranjang", "pancing", "panjang", "manja", dsb. Dalam aksara Bali, konsonan nasal langit-langit dilambangkan dengan huruf Nya (huruf Latin: Ñ). Maka dari itu, apabila dalam suatu kata ada huruf N yang diikuti oleh huruf C maupun J, bila disalin menjadi aksara Bali, huruf N tersebut patut ditulis dengan Nya, bukan Na.[5] Meskipun demikian, orang Indonesia cenderung menggunakan konsonan gesek /t͡ʃ/ dan /d͡ʒ/ daripada konsonan letup /c/ dan /ɟ/. Bunyi /t͡ʃ/ mirip /c/ dan /d͡ʒ/ mirip /ɟ/. Keduanya dilambangkan dengan huruf C (Ca) dan J (Ja). Konsonan gesek tersebut termasuk ke dalam kelompok konsonan pascarongga-gigi, bukan konsonan langit-langit.

Mengikuti konsonan tarik-belakang

Apabila dalam suatu kata ada bunyi /n/ yang diikuti oleh /ʈ/ maupun /ɖ/ (konsonan tarik-belakang/warga murdhanya), maka bunyi /n/ (konsonan gigi) tersebut akan berubah menjadi /ɳ/ (konsonan tarik-belakang). Maka dari itu, apabila dalam suatu kata ada huruf Na yang dilekati oleh gantungan Ta latik maupun Da madu, huruf Na tersebut patut diganti dengan Na rambat.[6]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. 1 2 Surada, hal. 5.
  2. 1 2 Tinggen, hal. 23.
  3. 1 2 3 Celah-celah Kunci Pasang Aksara Bali
  4. ↑ Simpen, hal. 27.
  5. ↑ Tinggen, hal. 28.
  6. ↑ Tinggen, hal. 29.

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan