Rabu, 30 September 2026
05:08 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
O kara

O kara

Bagikan:
O kara
250px-Bali_3-vowel_O.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinO
IASTO
Fonem[o], [ɔ]
UnicodeU+1B11
Warga aksarakanthya-osthya

O kara adalah salah satu aksara swara (huruf vokal) dalam sistem penulisan aksara Bali. Aksara ini melambangkan bunyi /oː/, sama halnya seperti aksara ओ (o) dalam aksara Dewanagari, huruf O dalam alfabet Latin. Kadang kala disamakan dengan bunyi /ɔ/, sama seperti huruf omicron (ο) dalam alfabet Yunani.

Bentuk

Bentuk O kara persis dengan bentuk angka 3 dalam aksara Bali. Bila O kara dan angka 3 ditulis bersama-sama dalam satu kalimat dengan menggunakan aksara Bali, maka tanda carik dipakai untuk membedakan huruf dan angka.

O Au 3
120px-Bali_3-vowel_O.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_vowel_O_kara-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_3-vowel_O.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Penggunaan

Modre_symbol_Omkara.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Simbol Omkara di Bali.

O kara hanya digunakan apabila menulis bahasa non-Bali[1] (contohnya bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno) dengan menggunakan aksara Bali, atau untuk menulis kata serapan dari bahasa non-Bali dengan menggunakan aksara Bali. Contoh kata yang menggunakan O kara (dalam bahasa Bali): ostya, osadi, oga, dsb. O kara tidak digunakan apabila menulis kata-kata yang memang berasal dari bahasa Bali, atau bukan bahasa Bali yang diserap dari bahasa non-Bali. Contohnya antara lain: oncèr, osek, olih, olèg, dll. Sebagai penggantinya, dianjurkan memakai aksara Ha yang dapat dibubuhi oleh tanda taling dan tedung.[butuh rujukan]

O kara dirgha

O kara dirga
250px-Bali_vowel_O_kara-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinO
IASTŌ
Fonem[aːu],[oː], [ɔː]
UnicodeU+1B12
Warga aksarakanthya-osthya

O kara yang melambangkan bunyi /aːu/ disebut O kara dirgha (secara harfiah, dirgha berarti panjang) atau O kara matedung. Bentuknya merupakan gabungan antara tedung dengan O kara biasa. Bila O kara matedung dialihaksarakan ke dalam huruf Latin, maka ditulis "au". Namun dalam bahasa Bali, pengucapan diftong /aːu/ sering kali luluh menjadi /oː/. Dengan kata lain, diftong /aːu/ berubah menjadi /oː/. Misalnya kata "kaurawa" diucapkan "korawa" atau kata "mausala" diucapkan "mosala".[butuh rujukan]

O kara matedung yang dibubuhi oleh tanda ulu candra dianggap aksara suci oleh penganut agama Hindu di Bali. O kara matedung yang dibubuhi ulu candra tersebut dibaca "Aum". Simbol tersebut dikeramatkan oleh umat Hindu.[butuh rujukan]

Lihat pula

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Tinggen, hal. 11.

Daftar pustaka

  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan