Sabtu, 07 November 2026
17:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Manusia

Manusia

nama umum Homo sapiens, satu-satunya spesies genus Homo yang masih ada

Bagikan:
Manusia
Rentang waktu: 0.3–0 jtyl Chibanium – sekarang
250px-Akha_cropped_hires.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pria (kiri) dan wanita (kanan) dewasa dari suku Akha di Thailand utara. Pria tersebut membawa batang pohon pisang, yang akan dijadikan pakan babi mereka.
Suara bayi baru lahir yang sedang menangis, sinyal vokal manusia yang paling umum dihasilkan di seluruh dunia
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Hominidae
Subfamili: Homininae
Tribus: Hominini
Genus: Homo
Spesies:
H. sapiens
Nama binomial
Homo sapiens
250px-World_Population_Density_Map_2020.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kepadatan populasi Homo sapiens (2020)

Manusia (Homo sapiens, yang berarti 'manusia berakal' atau 'manusia bijak') adalah spesies primata yang paling melimpah dan tersebar luas. Manusia dicirikan oleh bipedalisme, rambut tubuh yang minim, serta otak yang besar dan kompleks yang memungkinkan berkembangnya teknologi, budaya, dan bahasa tingkat lanjut. Manusia adalah makhluk yang sangat sosial dan cenderung hidup dalam struktur sosial kompleks yang terdiri dari berbagai kelompok yang saling bekerja sama dan bersaing, mulai dari keluarga dan jaringan kekerabatan hingga negara politik. Interaksi sosial antarmanusia telah membentuk berbagai nilai, norma sosial, dan ritual yang memperkuat masyarakat manusia. Rasa ingin tahu serta keinginan manusia untuk memahami dan memengaruhi lingkungan telah memotivasi lahirnya seni, sains, filsafat, agama, mitologi, dan bidang-bidang pengetahuan lainnya.

Manusia memiliki korteks prefrontal yang besar dan berkembang pesat, yaitu bagian otak yang berkaitan dengan kognisi tingkat tinggi. Manusia adalah makhluk cerdas yang mampu menggunakan memori episodik, menampilkan ekspresi wajah secara fleksibel, memiliki kesadaran diri, serta teori pikiran. Pikiran manusia mampu melakukan introspeksi (metakognisi), pemikiran pribadi, imajinasi, kehendak, dan membentuk pandangan mengenai keberadaan. Manusia juga dapat melakukan perjalanan waktu secara mental (kronestesia), yang menandakan adanya pandangan masa depan episodik.[1] Atribut-atribut ini memungkinkan manusia mencapai kemajuan teknologi yang besar melalui penalaran dan pewarisan pengetahuan kepada generasi mendatang. Dalam antropologi, pelestarian dan pengembangan pengetahuan secara kumulatif antar-generasi ini dikenal sebagai efek ratset.[2]

Manusia bersifat omnivora, mampu mengonsumsi berbagai jenis bahan tumbuhan dan hewan, serta telah menggunakan api untuk mengolah dan memasak makanan. Manusia dapat bertahan hidup hingga delapan minggu tanpa makanan dan tiga atau empat hari tanpa air. Manusia umumnya bersifat diurnal, tidur rata-rata tujuh hingga sembilan jam per hari. Persalinan manusia berisiko tinggi terhadap komplikasi dan kematian. Baik ibu maupun ayah umumnya mengasuh anak-anak mereka, yang tidak berdaya saat lahir.

Gen dan lingkungan memengaruhi variasi biologis manusia dalam penampilan, fisiologi, sistem kekebalan tubuh, kemampuan mental, ukuran tubuh, dan rentang hidup. Meskipun manusia bervariasi dalam banyak sifat, dua manusia mana pun secara rata-rata memiliki kemiripan genetik lebih dari 99%, dengan populasi yang paling beragam secara genetik berasal dari Afrika. Tingkat variasi genetik terbesar terjadi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan genetik antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 1% hingga 2%. Rata-rata, laki-laki memiliki kekuatan tubuh yang lebih besar, sedangkan perempuan umumnya memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Perempuan mengalami menopause dan menjadi tidak subur potensi puluhan tahun sebelum akhir hayat mereka. Perempuan juga memiliki rentang hidup yang lebih panjang di hampir semua populasi di seluruh dunia. Pembagian peran gender laki-laki dan perempuan telah bervariasi secara historis, dan tantangan terhadap norma-norma gender yang dominan telah berulang kali muncul di berbagai masyarakat.

Cabang evolusi tempat manusia berasal terpisah dari Hominini lain di Afrika beberapa juta tahun yang lalu. Meskipun beberapa ilmuwan menyamakan manusia dengan semua anggota genus Homo, dalam penggunaan umum istilah ini biasanya merujuk pada Homo sapiens, satu-satunya anggota yang masih tersisa. Homo sapiens muncul sekitar 300.000 tahun yang lalu dan bermigrasi keluar dari Afrika, secara bertahap menggantikan populasi lokal manusia purba. Manusia purba adalah pemburu-peramu, sebelum penemuan pertanian dan domestikasi hewan mendorong pemukiman permanen di Bulan Sabit Subur dan pusat-pusat peradaban lainnya. Ketika surplus makanan memungkinkan populasi menjadi lebih besar dan lebih padat, bentuk-bentuk pemerintahan berkembang, penggunaan tulisan menjadi diperlukan, serta sejumlah peradaban tumbuh dan runtuh. Manusia terus berkembang hingga melampaui 8,3 miliar jiwa yang mendiami hampir seluruh wilayah Bumi pada tahun 2026, bahkan telah mengunjungi Bulan. Ekspansi ini, yang dikombinasikan dengan industrialisasi, telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan pencemaran yang berkontribusi secara signifikan terhadap kepunahan massal berbagai bentuk kehidupan lainnya yang sedang berlangsung.

Etimologi dan definisi

Informasi lebih lanjut: Nama untuk spesies manusia dan Taksonomi manusia
250px-Carl_von_Linn%C3%A9.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Carl Linnaeus mencetuskan nama Homo sapiens.

Semua manusia modern diklasifikasikan ke dalam spesies Homo sapiens, nama yang dicetuskan oleh Carl Linnaeus dalam karyanya tahun 1735, Systema Naturae.[3] Nama generik Homo merupakan turunan ilmiah abad ke-18 dari bahasa Latin homō, yang merujuk pada manusia dari jenis kelamin apa pun.[4][5] Kata human dapat merujuk pada seluruh anggota genus Homo.[6] Nama Homo sapiens berarti 'manusia bijak' atau 'manusia berpengetahuan'.[3] Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah anggota genus yang telah punah tertentu, yaitu Neanderthal, harus dimasukkan sebagai spesies manusia tersendiri atau sebagai subspesies dari H. sapiens.[6]

Human merupakan kata serapan dalam bahasa Inggris Pertengahan dari bahasa Prancis Kuno humain, yang pada akhirnya berasal dari bahasa Latin hūmānus, bentuk kata sifat dari homō ('man' dalam arti kemanusiaan).[7] Istilah asli bahasa Inggris man dapat merujuk pada spesies secara umum (sinonim dari humanity atau kemanusiaan) maupun pada manusia laki-laki. Istilah ini juga dapat merujuk pada individu dari jenis kelamin apa pun.[8]

Meskipun kata animal (hewan) secara kolokial digunakan sebagai antonim dari human (manusia),[9] dan berlawanan dengan kesalahpahaman biologis yang umum, manusia adalah hewan.[10] Kata person sering digunakan secara bergantian dengan human, tetapi terdapat perdebatan filosofis mengenai apakah keperibadian (personhood) berlaku untuk semua manusia atau semua makhluk sentien, serta apakah seorang manusia dapat kehilangan status keperibadiannya (seperti saat berada dalam keadaan vegetatif persisten) dan kapan awal timbulnya keperibadian manusia.[11]

Dalam bahasa Indonesia, kata "manusia" diserap dari bahasa Sanskerta मनुष्य (manuṣya), yang diturunkan dari kata मनु (manu) yang berarti 'berpikir' atau 'berakal'. Kata ini juga berkaitan dengan sosok Manu dalam mitologi Hindu, yang dianggap sebagai leluhur pertama umat manusia.[12][13] Akar kata Sanskerta tersebut berasal dari bahasa Proto-Indo-Eropa *men- ('berpikir'), yang juga menjadi akar kata dari mind dalam bahasa Inggris dan mens dalam bahasa Latin.[14]

Evolusi

Artikel utama: Evolusi manusia

Manusia termasuk dalam famili biologis kera besar (famili Hominidae, superfamili Hominoidea).[15] Garis keturunan kera yang akhirnya melahirkan manusia pertama kali terpisah dari owa (famili Hylobatidae), kemudian orangutan (genus Pongo), lalu gorila (genus Gorilla), dan terakhir simpanse serta bonobo (genus Pan). Pemisahan terakhir, yaitu antara garis keturunan manusia dan simpanse–bonobo, terjadi sekitar 4–8 juta tahun yang lalu pada kala Miosen akhir.[16][17] Selama pemisahan ini, kromosom 2 pada manusia terbentuk dari penggabungan dua kromosom lain, sehingga manusia hanya memiliki 23 pasang kromosom, dibandingkan dengan 24 pasang pada kera lainnya.[18] Setelah berpisah dengan simpanse dan bonobo, hominin terdiversifikasi menjadi banyak spesies dan setidaknya dua genus yang berbeda. Seluruh garis keturunan tersebut kini telah punah, kecuali satu garis keturunan yang diwakili oleh genus Homo dengan satu-satunya spesies yang masih tersisa, yaitu Homo sapiens.[19]

250px-Lucy_Skeleton.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rekonstruksi Lucy, fosil kerangka Australopithecus afarensis pertama yang ditemukan

Genus Homo berevolusi dari Australopithecus.[20][21] Meskipun fosil dari masa transisi tersebut langka, anggota-anggota terawal dari genus Homo berbagi beberapa sifat utama dengan Australopithecus.[22][23] Akibat terbatasnya bukti yang tersedia, waktu kemunculan perpecahan menuju genus Homo belum memiliki konsensus.[24] Beberapa penelitian yang menggunakan teknik jam molekuler memperkirakan genus Homo muncul 4,30–2,56 juta tahun yang lalu,[25] sementara penelitian lain menyanggah bahwa beberapa spesies Homo awal secara tidak tepat dimasukkan ke dalam genus tersebut sehingga menempatkan perkiraan ini sekitar 1,87 juta tahun yang lalu.[24]

Catatan terawal mengenai genus Homo adalah spesimen LD 350-1 berusia 2,8 juta tahun dari Etiopia, dan spesies terawal yang diberi nama adalah Homo habilis serta Homo rudolfensis, yang berevolusi sekitar 2,3 juta tahun yang lalu.[23] H. erectus (varian Afrika terkadang disebut H. ergaster) berevolusi 2 juta tahun yang lalu dan merupakan spesies manusia purba pertama yang meninggalkan Afrika dan menyebar ke seluruh Eurasia.[26] H. erectus juga merupakan spesies pertama yang mengembangkan rencana tubuh khas manusia. Homo sapiens muncul di Afrika setidaknya 300.000 tahun yang lalu dari spesies yang umumnya diidentifikasi sebagai H. heidelbergensis atau H. rhodesiensis, yaitu keturunan dari H. erectus yang tetap tinggal di Afrika.[27] H. sapiens bermigrasi keluar dari benua tersebut, secara bertahap menggantikan atau kawin silang dengan populasi lokal manusia purba.[28][29][30] Manusia mulai menunjukkan modernitas perilaku sekitar 160.000–70.000 tahun yang lalu,[31] dan kemungkinan bisa lebih awal.[32] Perkembangan ini kemungkinan terseleksi di tengah perubahan iklim alami pada periode Pleistosen Tengah hingga Pleistosen Akhir di Afrika.[33]

Migrasi "keluar dari Afrika" terjadi dalam setidaknya dua gelombang, gelombang pertama sekitar 130.000 hingga 100.000 tahun yang lalu, sedangkan gelombang kedua (Penyebaran Selatan) terjadi sekitar 70.000 hingga 50.000 tahun yang lalu.[34][35] H. sapiens kemudian mengolonisasi seluruh benua dan pulau-pulau besar kecuali Antarktika, tiba di Eurasia 125.000 tahun yang lalu,[36][37] Australia sekitar 65.000 tahun yang lalu,[38] Benua Amerika sekitar 15.000 tahun yang lalu, serta pulau-pulau terpencil seperti Hawaii, Pulau Paskah, Madagaskar, dan Selandia Baru antara tahun 300 hingga 1280 M.[39][40]

Evolusi manusia bukanlah perkembangan linier atau bercabang yang sederhana, melainkan melibatkan perkawinan silang antarspesies yang berkerabat.[41][42][43] Penelitian genomik menunjukkan bahwa hibridisasi antara garis keturunan yang telah terpisah secara signifikan merupakan hal yang umum dalam evolusi manusia.[44] Bukti DNA menunjukkan bahwa beberapa gen yang berasal dari Neanderthal hadir di antara seluruh populasi non-Afrika Sub-Sahara, serta Neanderthal dan hominin lainnya, seperti manusia Denisova, mungkin telah menyumbang hingga 6% dari genom mereka kepada manusia non-Afrika Sub-Sahara masa kini.[41][45][46]

Evolusi manusia ditandai oleh sejumlah perubahan morfologis, perkembangan, fisiologis, dan perilaku yang telah terjadi sejak perpecahan dari leluhur bersama terakhir manusia dan simpanse. Adaptasi paling signifikan dari perubahan ini adalah ketiadaan rambut,[47] bipedalisme obligat, peningkatan ukuran otak, serta penurunan dimorfisme seksual (neoteni). Hubungan antara seluruh perubahan tersebut masih menjadi subjek perdebatan yang terus berlanjut.[48]

Hominoidea (hominoid, kera)

Hylobatidae (owa)

Hominidae (hominid, kera besar)

Sejarah

Artikel utama: Sejarah manusia

Prasejarah

Artikel utama: Prasejarah
500px-Early_migrations_mercator.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambaran umum persebaran populasi dunia melalui migrasi awal manusia selama periode Paleolitikum Akhir, mengikuti paradigma Penyebaran Selatan

Hingga sekitar 12.000 tahun yang lalu, seluruh manusia hidup sebagai pemburu-peramu.[49][50] Revolusi Neolitikum (penemuan pertanian) pertama kali terjadi di Asia Barat Daya dan menyebar ke sebagian besar wilayah Dunia Lama selama milenium-milenium berikutnya.[51] Revolusi ini juga terjadi secara independen di Mesoamerika (sekitar 6.000 tahun yang lalu),[52] Tiongkok,[53][54] Papua Nugini,[55] serta kawasan Sahel dan Sabana Barat di Afrika.[56][57][58]

Pembentukan permukiman manusia secara permanen, domestikasi hewan, serta penggunaan perkakas logam diikuti oleh terbentuknya surplus makanan permanen untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pertanian dan gaya hidup menetap mendorong munculnya peradaban-peradaban awal.[59][60][61]

Zaman Kuno

Artikel utama: Sejarah kuno
250px-All_Gizah_Pyramids.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Piramida Agung Giza, Mesir

Suatu revolusi perkotaan terjadi pada milenium ke-4 SM dengan berkembangnya negara-negara kota, terutama kota-kota Sumeria yang terletak di Mesopotamia.[62] Di kota-kota inilah bentuk tulisan terawal yang diketahui, yaitu aksara paku, muncul sekitar tahun 3000 SM.[63] Peradaban besar lainnya yang berkembang pada masa ini adalah Mesir Kuno dan Peradaban Lembah Indus.[64] Peradaban-peradaban ini pada akhirnya saling berdagang dan menciptakan teknologi seperti roda, bajak, dan layar kapal.[65][66][67][68] Muncul sekitar tahun 3000 SM, Peradaban Caral-Supe adalah peradaban kompleks tertua di Benua Amerika.[69] Astronomi dan matematika juga dikembangkan, serta Piramida Agung Giza dibangun.[70][71][72] Terdapat bukti mengenai kekeringan parah yang berlangsung sekitar satu abad yang mungkin menjadi penyebab kemunduran peradaban-peradaban tersebut,[73] dengan munculnya peradaban-peradaban baru setelahnya. Bangsa Babilonia mulai menguasai Mesopotamia, sementara peradaban lain,[74] seperti Kebudayaan Poverty Point, Peradaban Minoa, dan Dinasti Shang, berkembang di wilayah-wilayah baru.[75][76][77] Runtuhnya Zaman Perunggu Akhir sekitar tahun 1200 SM mengakibatkan hilangnya sejumlah peradaban dan dimulainya Zaman Kegelapan Yunani.[78][79] Selama periode ini, besi mulai menggantikan perunggu, sehingga memicu dimulainya Zaman Besi.[80]

Pada abad ke-5 SM, sejarah mulai dicatat sebagai disiplin ilmu, yang memberikan gambaran kehidupan yang jauh lebih jelas pada masa itu.[81] Antara abad ke-8 dan ke-6 SM, Eropa memasuki era antikuitas klasik, sebuah periode ketika Yunani Kuno dan Romawi Kuno berkembang pesat.[82][83] Sekitar masa ini, peradaban-peradaban lain juga mulai menonjol. Peradaban Maya mulai membangun kota-kota dan membuat kalender-kalender yang kompleks.[84][85] Di Afrika, Kerajaan Aksum mengambil alih Kerajaan Kush yang sedang mengalami kemunduran serta memfasilitasi perdagangan antara India dan Laut Tengah.[86] Di Asia Barat, sistem pemerintahan tersentralisasi Kekaisaran Akhemeniyah menjadi cikal bakal bagi banyak kekaisaran di kemudian hari,[87] sementara Kekaisaran Gupta di India dan Dinasti Han di Tiongkok digambarkan sebagai zaman kejayaan di wilayah mereka masing-masing.[88][89]

Pascaklasik

Artikel utama: Sejarah pascaklasik
250px-Cleric%2C_Knight%2C_and_Workman_representing_the_Three_Classes.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi naskah Prancis abad pertengahan yang menggambarkan tiga kelas masyarakat abad pertengahan dari karya abad ke-13 Li Livres dou Santé

Menyusul runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, Eropa memasuki Abad Pertengahan.[90] Selama periode ini, Kekristenan dan Gereja bertindak sebagai sumber otoritas dan pendidikan.[91] Di Timur Tengah, Islam menjadi agama utama dan meluas hingga ke Afrika Utara. Perkembangan ini memicu terjadinya Zaman Keemasan Islam, yang menginspirasi berbagai pencapaian dalam bidang arsitektur, kebangkitan kembali kemajuan sains dan teknologi masa lalu, serta pembentukan gaya hidup yang khas.[92][93] Dunia Kristen dan Islam pada akhirnya berselisih, dengan Kerajaan Inggris, Kerajaan Prancis, serta Kekaisaran Romawi Suci memaklumkan serangkaian perang suci untuk merebut kembali kendali atas Tanah Suci dari umat Muslim.[94]

Di Benua Amerika, antara tahun 200 hingga 900 M, Mesoamerika berada dalam Periode Klasik,[95] sementara di wilayah yang lebih utara, masyarakat Mississippian yang kompleks mulai bermunculan sekitar tahun 800 M.[96] Kekaisaran Mongol menaklukkan sebagian besar Eurasia pada abad ke-13 dan ke-14.[97] Pada periode yang sama, Kekaisaran Mali di Afrika berkembang menjadi kekaisaran terbesar di benua tersebut, membentang dari Senegambia hingga Pantai Gading.[98] Oseania menyaksikan bangkitnya Kekaisaran Tuʻi Tonga, yang meluas ke berbagai pulau di Pasifik Selatan.[99] Pada akhir abad ke-15, bangsa Aztek dan Inka masing-masing telah menjadi kekuatan dominan di Mesoamerika dan Pegunungan Andes.[100]

Zaman Modern

Artikel utama: Era modern

Periode awal zaman modern di Eropa dan Timur Dekat (ca 1450–1800) dimulai dengan kekalahan akhir Kekaisaran Bizantium dan bangkitnya Kekaisaran Utsmaniyah.[101] Sementara itu, Jepang memasuki Zaman Edo,[102] Dinasti Qing bangkit di Tiongkok,[103] dan Kekaisaran Mughal menguasai sebagian besar India.[104] Eropa mengalami masa Renaisans, dimulai pada abad ke-15,[105] dan Zaman Penjelajahan dimulai dengan penjelajahan serta kolonisasi wilayah-wilayah baru.[106] Hal ini mencakup kolonisasi Benua Amerika[107] dan Pertukaran Kolumbia.[108] Ekspansi ini memicu terjadinya Perdagangan budak Atlantik[109] serta genosida terhadap penduduk asli Amerika.[110] Periode ini juga ditandai dengan Revolusi Ilmiah, yang membawa kemajuan besar dalam bidang matematika, mekanika, astronomi, dan fisiologi.[111]

250px-A_Man_on_the_Moon%2C_AS11-40-5903_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buzz Aldrin di Bulan dalam misi Apollo 11 tahun 1969, ketika ia bersama Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di benda langit lain

Periode zaman modern akhir (1800–sekarang) menyaksikan Revolusi Industri dan Revolusi Teknologi membawa penemuan-penemuan seperti teknologi pencitraan, inovasi besar dalam transportasi, serta pengembangan energi.[112] Dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Zaman Pencerahan, Benua Amerika dan Eropa mengalami periode revolusi politik yang dikenal sebagai Zaman Revolusi.[113] Perang Napoleon berkecamuk di seluruh Eropa pada awal tahun 1800-an,[114] Spanyol kehilangan sebagian besar koloninya di Dunia Baru,[115] sementara bangsa Eropa melanjutkan ekspansi ke Afrika, dengan kendali Eropa yang meningkat dari 10% menjadi hampir 90% dalam waktu kurang dari 50 tahun,[116] serta ke Oseania.[117] Pada abad ke-19, Kekaisaran Britania meluas hingga menjadi kekaisaran terbesar di dunia.[118]

Keseimbangan kekuasaan yang rapuh di antara negara-negara Eropa runtuh pada tahun 1914 akibat pecahnya Perang Dunia I, salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah.[119] Pada tahun 1930-an, krisis ekonomi dunia memicu bangkitnya rezim otoriter dan meletusnya Perang Dunia II, yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia.[120] Kehancuran akibat perang tersebut menyebabkan runtuhnya sebagian besar kekaisaran global, yang kemudian memicu dekolonisasi secara luas.

Menyusul berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, Amerika Serikat[121] dan Uni Soviet muncul sebagai dua negara adidaya global yang tersisa. Hal ini memicu terjadinya Perang Dingin yang diwarnai persaingan pengaruh global, termasuk perlombaan senjata nuklir dan perlombaan antariksa, yang berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet.[122][123] Abad Informasi saat ini, yang didorong oleh perkembangan Internet, menyaksikan dunia yang semakin terglobalisasi dan saling terhubung.[124]

Habitat dan populasi

Informasi lebih lanjut: Geografi manusia dan Demografi
Statistik populasi
960px-Population_Density%2C_v4.11%2C_2020_%2848009093621%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta khoroplet yang menunjukkan perkiraan kepadatan penduduk (jiwa per kilometer persegi) berdasarkan kisi 30 detik busur pada tahun 2020
Populasi dunia≈ 8,3 miliar
Kepadatan penduduk16/km2 (42/sq mi)
berdasarkan total luas wilayah
56/km2 (145/sq mi)
berdasarkan luas daratan
Kota-kota terbesar[a]Tokyo, Delhi, Shanghai, São Paulo, Kota Meksiko, Kairo, Mumbai, Beijing, Dhaka, Osaka

Permukiman awal manusia sangat bergantung pada akses ke sumber air dan, sesuai dengan gaya hidupnya, sumber daya alam lain yang digunakan untuk subsistensi, seperti populasi hewan buruan untuk pemburuan serta lahan subur untuk bercocok tanam dan menggembalakan ternak.[126] Namun, manusia modern memiliki kapasitas besar untuk mengubah habitat mereka melalui teknologi, irigasi, perencanaan kota, konstruksi, deforestasi, dan pengurunan.[127] Permukiman manusia tetap rentan terhadap bencana alam, terutama permukiman yang berada di lokasi berbahaya dan memiliki kualitas konstruksi yang rendah.[128] Pengelompokan dan pengubahan habitat secara sengaja sering kali dilakukan dengan tujuan memberikan perlindungan, mengumpulkan kenyamanan atau kekayaan materi, memperluas ketersediaan pangan, meningkatkan estetika, menambah pengetahuan, atau meningkatkan pertukaran sumber daya.[129]

Manusia merupakan salah satu spesies yang paling mampu beradaptasi, meskipun memiliki toleransi yang rendah atau terbatas terhadap banyak lingkungan ekstrem di Bumi.[130] Saat ini, spesies ini hadir di seluruh delapan alam biogeografi, meskipun keberadaan mereka di alam Antarktika terbatas pada stasiun penelitian, dan secara tahunan terjadi penurunan populasi pada bulan-bulan musim dingin di alam tersebut.[131] Manusia telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan. Pertumbuhan populasi manusia, industrialisasi, pembangunan lahan, konsumsi berlebihan, dan pembakaran bahan bakar fosil telah menyebabkan kerusakan lingkungan serta pencemaran yang berkontribusi secara signifikan terhadap kepunahan massal bentuk kehidupan lain yang sedang berlangsung.[132][133]

Dalam satu abad terakhir, manusia juga telah menjelajahi laut dalam dan antariksa. Hunian manusia di lingkungan yang berbahaya ini bersifat terbatas dan mahal, umumnya berdurasi singkat, serta terbatas pada ekspedisi ilmiah, militer, atau industrial.[134] Manusia telah mengunjungi Bulan dan menandai keberadaan mereka di benda-benda langit lain melalui wahana antariksa robotik buatan manusia.[135][136][137] Sejak tahun 2000, keberadaan manusia di antariksa berlangsung secara terus-menerus melalui hunian di Stasiun Luar Angkasa Internasional.[138]

Dengan menggunakan perkakas canggih dan pakaian, manusia telah mampu memperluas toleransi mereka terhadap berbagai variasi suhu, kelembapan, dan ketinggian.[130][139] Hasilnya, manusia merupakan spesies kosmopolitan yang ditemukan di hampir seluruh wilayah dunia, termasuk hutan hujan tropis, padang pasir yang gersang, wilayah Arktik yang sangat dingin, hingga kota-kota yang terpolusi berat; sebagai perbandingan, sebagian besar spesies lain terbatas pada beberapa area geografis saja karena keterbatasan daya adaptasinya.[140] Namun, populasi manusia tidak tersebar secara merata di permukaan Bumi, karena kepadatan penduduk bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain, dan hamparan permukaan yang luas hampir seluruhnya tidak dihuni, seperti Antarktika dan wilayah samudra yang luas.[130][141] Sebagian besar manusia (61%) tinggal di Asia; sisanya tinggal di Benua Amerika (14%), Afrika (14%), Eropa (11%), dan Oseania (0,5%).[142]

500px-Distribution-of-earths-mammals.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manusia dan hewan domestikasi mereka mewakili 96% dari seluruh biomassa mamalia di Bumi, sementara seluruh mamalia liar hanya mewakili 4%.[143]

Perkiraan populasi pada saat pertanian mulai berkembang sekitar tahun 10.000 SM berkisar antara 1 juta hingga 15 juta jiwa.[144][145] Sekitar 50–60 juta orang tinggal di gabungan Kekaisaran Romawi bagian timur dan barat pada abad ke-4 M.[146] Wabah pes, yang pertama kali dicatat pada abad ke-6 M, mengurangi populasi sebesar 50%, dengan Kematian Hitam membunuh 75–200 juta orang di Eurasia dan Afrika Utara saja.[147] Populasi manusia diyakini telah mencapai satu miliar pada tahun 1800. Sejak saat itu, populasinya meningkat secara eksponensial, mencapai dua miliar pada tahun 1930 dan tiga miliar pada tahun 1960, empat miliar pada tahun 1975, lima miliar pada tahun 1987, serta enam miliar pada tahun 1999.[148] Populasi melampaui tujuh miliar pada tahun 2011[149] dan melampaui delapan miliar pada tahun 2022.[150] Dibutuhkan lebih dari dua juta tahun prasejarah manusia dan sejarah manusia hingga populasi manusia mencapai satu miliar, dan hanya 207 tahun berikutnya untuk tumbuh menjadi 7 miliar.[151] Gabungan biomassa karbon dari seluruh manusia di Bumi pada tahun 2018 diperkirakan sebesar 60 juta ton, sekitar 10 kali lebih besar daripada biomassa seluruh mamalia non-domestikasi.[143]

Pada tahun 2018, sebanyak 4,2 miliar manusia (55%) tinggal di kawasan perkotaan, meningkat dari 751 juta pada tahun 1950.[152] Wilayah yang paling terurbanisasi adalah Amerika Utara (82%), Amerika Latin (81%), Eropa (74%), dan Oseania (68%), sedangkan Afrika dan Asia memiliki hampir 90% dari 3,4 miliar populasi pedesaan di dunia.[152] Masalah bagi manusia yang tinggal di kota mencakup berbagai bentuk pencemaran dan kejahatan,[153] terutama di kawasan permukiman kumuh di pusat kota dan pinggiran kota.

Biologi

Anatomi dan fisiologi

500px-Anterior_view_of_human_female_and_male%2C_with_labels_2.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fitur anatomi dasar manusia perempuan dan laki-laki. Pada model ini, rambut tubuh dan rambut wajah laki-laki telah dihilangkan serta rambut kepala telah dipotong.
Artikel utama: Tubuh manusia

Sebagian besar aspek fisiologi manusia sangat homolog dengan aspek fisiologi hewan yang setara. Rumus gigi manusia adalah: 2.1.2.32.1.2.3, seperti kera hidung sempit (Catarrhini) lainnya. Manusia memiliki langit-langit mulut yang secara proporsional lebih pendek dan gigi yang jauh lebih kecil daripada primata lainnya. Manusia adalah satu-satunya primata yang memiliki gigi taring pendek yang relatif sejajar. Manusia memiliki ciri khas gigi yang berdesakan, dengan celah akibat gigi yang tanggal biasanya tertutup dengan cepat pada individu berusia muda. Manusia secara bertahap kehilangan gigi geraham ketiga mereka, dan beberapa individu bahkan tidak memilikinya sejak lahir secara bawaan.[154]

Manusia dan simpanse sama-sama memiliki ekor vestigial,[155] usus buntu, sendi bahu yang fleksibel, jari-jari tangan untuk menggenggam, serta ibu jari yang dapat dioposisikan.[156] Manusia juga memiliki dada berbentuk seperti tong yang berbeda dari bentuk corong pada kera lain, yang merupakan bentuk adaptasi untuk pernapasan bipedal.[157] Selain bipedalisme dan ukuran otak, manusia berbeda dari simpanse terutama dalam hal penciuman, pendengaran, serta pencernaan protein.[158] Meskipun manusia memiliki kepadatan folikel rambut yang sebanding dengan kera lainnya, rambut tersebut utamanya berupa rambut velus, yang sebagian besarnya sangat pendek dan halus hingga hampir tidak terlihat.[159][47] Manusia memiliki sekitar 2 juta kelenjar keringat yang tersebar di seluruh tubuh mereka, jauh lebih banyak daripada simpanse yang kelenjar keringatnya sedikit dan terutama terletak di telapak tangan serta telapak kaki.[160]

Diperkirakan bahwa tinggi badan rata-rata di seluruh dunia untuk manusia laki-laki dewasa adalah sekitar 171 cm (5 ft 7 in)*, sedangkan tinggi badan rata-rata untuk perempuan dewasa adalah sekitar 159 cm (5 ft 3 in)*.[161] Setelah lahir, pertumbuhan manusia berlangsung lambat dibandingkan primata lain hingga masa pubertas, saat pertumbuhan mengalami percepatan selama beberapa tahun.[162] Penurunan tinggi badan dapat dimulai pada usia paruh baya pada beberapa individu, tetapi cenderung khas terjadi pada orang yang sangat lanjut usia.[163] Sepanjang sejarah, populasi manusia secara universal bertambah tinggi, kemungkinan sebagai akibat dari nutrisi, perawatan kesehatan, dan kondisi kehidupan yang lebih baik.[164] Rata-rata massa manusia dewasa adalah 59 kg (130 pon) untuk perempuan dan 77 kg (170 pon) untuk laki-laki.[165] Seperti halnya banyak kondisi lainnya, berat badan dan tipe tubuh dipengaruhi oleh kerentanan genetik dan lingkungan, serta sangat bervariasi di antara setiap individu.[166][167]

Manusia memiliki lemparan yang jauh lebih cepat dan lebih akurat daripada hewan lain.[168] Manusia juga termasuk pelari jarak jauh terbaik di dunia hewan, tetapi lebih lambat dalam jarak pendek.[169][158] Rambut tubuh manusia yang lebih tipis dan kelenjar keringat yang lebih produktif membantu menghindari kelelahan akibat panas saat berlari jarak jauh.[170] Dibandingkan dengan kera lain, jantung manusia menghasilkan isi sekuncup dan curah jantung yang lebih besar, serta ukuran aorta yang secara proporsional lebih besar.[171][172]

Genetika

Artikel utama: Genetika manusia
250px-Karyotype.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Representasi grafis dari kariotipe standar manusia, yang mencakup kromosom seks perempuan (XX) dan laki-laki (XY)

Manusia, seperti halnya semua hewan, tumbuhan, dan jamur, merupakan spesies eukariotik, dan seperti sebagian besar hewan, merupakan spesies diploid. Setiap sel somatis memiliki dua set 23 kromosom, dengan masing-masing set diterima dari salah satu orang tua; gamet hanya memiliki satu set kromosom, yang merupakan campuran dari kedua set orang tua tersebut. Di antara 23 pasang kromosom, terdapat 22 pasang autosom dan satu pasang kromosom seks. Pada manusia, penentuan jenis kelamin terutamanya dimediasi oleh gen SRY yang terletak pada kromosom Y. Meskipun konfigurasi tipikal mengikuti Sistem penentuan kelamin XY (XX untuk perempuan, XY untuk laki-laki), ekspresi genetik protein Sex-determining Region Y merupakan faktor krusial dalam memulai diferensiasi gonad laki-laki.[173] Akibatnya, individu dapat terlahir dengan genotipe kromosom yang tidak sejajar dengan jenis kelamin fenotipe mereka, suatu kondisi yang sering kali menyebabkan infertilitas karena ketiadaan gen spesifik yang diperlukan untuk gametogenesis.[174] Gen dan lingkungan memengaruhi variasi biologis manusia dalam karakteristik yang terlihat, fisiologi, kerentanan terhadap penyakit, serta kemampuan mental. Pengaruh pasti gen dan lingkungan terhadap sifat-sifat tertentu belum sepenuhnya dipahami.[175][176]

Meskipun tidak ada manusia, bahkan kembar monozigotik sekalipun, yang identik secara genetik,[177] dua manusia secara rata-rata memiliki kemiripan genetik sebesar 99,5%–99,9%.[178][179] Hal ini membuat manusia lebih homogen dibandingkan kera besar lainnya, termasuk simpanse.[180][181] Variasi kecil dalam DNA manusia dibandingkan dengan banyak spesies lain ini menunjukkan adanya kemacetan populasi selama periode Pleistosen Akhir (sekitar 100.000 tahun yang lalu), ketika populasi manusia menyusut menjadi sejumlah kecil pasangan berkembang biak.[182][183] Kekuatan seleksi alam terus bekerja pada populasi manusia, dengan bukti bahwa wilayah tertentu dari genom menunjukkan seleksi terarah dalam 15.000 tahun terakhir.[184]

Sebagian besar genom manusia pertama kali diskuensing pada tahun 2001, dengan skuensing lengkap berhasil diselesaikan pada tahun 2022.[185] Hingga2023[update], diperkirakan bahwa manusia memiliki sekitar 19.500 gen pengode protein, dengan banyak varian yang berbeda, serta sejumlah gen RNA non-pengode yang belum diketahui pastinya.[186] Populasi Afrika menyimpan varian genetik privat dalam jumlah tertinggi. Meskipun banyak varian umum yang ditemukan pada populasi di luar Afrika juga ditemukan di benua Afrika, masih terdapat sejumlah besar varian yang privat untuk wilayah-wilayah ini, terutama Oseania dan Benua Amerika.[187] Dengan membandingkan DNA mitokondria, yang hanya diwariskan dari ibu, para ahli genetik menyimpulkan bahwa leluhur perempuan bersama terakhir yang penanda genetiknya ditemukan pada semua manusia modern, yang disebut Hawa mitokondria, kemungkinan besar hidup sekitar 90.000 hingga 200.000 tahun yang lalu.[188][189][190][191]

Siklus hidup

250px-Tubal_Pregnancy_with_embryo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Embrio manusia berukuran 10 mm pada usia 5 minggu

Sebagian besar reproduksi manusia terjadi melalui pembuahan internal melalui hubungan seksual, tetapi dapat pula terjadi melalui prosedur teknologi reproduksi berbantu.[192] Masa gestasi rata-rata adalah 38 minggu, tetapi kehamilan normal dapat bervariasi hingga 37 hari.[193] Perkembangan embrio pada manusia mencakup delapan minggu pertama perkembangan; pada awal minggu kesembilan embrio tersebut dinamakan janin.[194] Manusia dapat menginduksi persalinan lebih awal atau melakukan operasi sesar jika bayi perlu dilahirkan lebih awal karena alasan medis.[195] Di negara-negara maju, bayi saat lahir biasanya memiliki berat 3–4 kg (7–9 pon) dan tinggi 47–53 cm (19–21 in).[196][197] Namun, berat badan lahir rendah umum terjadi di negara-negara berkembang, dan hal ini berkontribusi terhadap tingginya tingkat mortalitas bayi di wilayah-wilayah tersebut.[198]

Dibandingkan dengan spesies lain, persalinan manusia berbahaya, dengan risiko komplikasi dan kematian yang jauh lebih tinggi.[199] Ukuran kepala janin lebih pas dengan panggul daripada pada primata lainnya.[200] Alasan untuk hal ini belum sepenuhnya dipahami,[b] tetapi hal tersebut berkontribusi pada proses persalinan yang menyakitkan dan dapat berlangsung selama 24 jam atau lebih.[202] Peluang keberhasilan persalinan meningkat secara signifikan selama abad ke-20 di negara-negara kaya seiring hadirnya teknologi medis baru. Sebaliknya, kehamilan dan persalinan alami tetap menjadi proses yang penuh risiko di wilayah-wilayah berkembang di dunia, dengan angka kematian ibu kira-kira 100 kali lebih besar daripada di negara-negara maju.[203]

Baik ibu maupun ayah memberikan pengasuhan bagi anak-anak mereka, berbeda dari primata lain yang pengasuhannya sebagian besar dilakukan oleh ibu.[204] Tidak berdaya saat lahir, manusia terus tumbuh selama beberapa tahun, umumnya mencapai kematangan seksual pada usia 15 hingga 17 tahun.[205][206][207] Rentang hidup manusia telah dibagi menjadi berbagai tahap berkisar antara tiga hingga dua belas. Tahap-tahap yang umum meliputi masa bayi, masa kanak-kanak, remaja, masa dewasa, dan usia lanjut.[208] Panjang tahap-tahap ini bervariasi di berbagai budaya dan periode waktu, tetapi dicirikan oleh lonjakan pertumbuhan yang tidak biasa cepatnya selama masa remaja.[209] Perempuan mengalami menopause dan menjadi tidak subur pada usia sekitar 50 tahun.[210] Ada teori yang menyatakan bahwa menopause meningkatkan keberhasilan reproduksi seorang perempuan secara keseluruhan dengan memungkinkannya menginvestasikan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk anak-anaknya yang sudah ada, dan pada gilirannya untuk cucu-cucunya (Hipotesis nenek), daripada terus melahirkan anak hingga usia tua.[211][212]

Rentang hidup seorang individu bergantung pada dua faktor utama, yaitu genetika dan pilihan gaya hidup.[213] Karena berbagai alasan, termasuk penyebab biologis/genetis, perempuan rata-rata hidup sekitar empat tahun lebih lama daripada laki-laki.[214] Hingga2018[update], rata-rata global angka harapan hidup saat lahir untuk anak perempuan diperkirakan 74,9 tahun dibandingkan dengan 70,4 tahun untuk anak laki-laki.[215][216] Terdapat variasi geografis yang signifikan dalam angka harapan hidup manusia, sebagian besar berkorelasi dengan perkembangan ekonomi, seperti di Hong Kong, angka harapan hidup saat lahir adalah 87,6 tahun untuk anak perempuan dan 81,8 untuk anak laki-laki, sedangkan di Republik Afrika Tengah, angkanya adalah 55,0 tahun untuk anak perempuan dan 50,6 untuk anak laki-laki.[217][218] Dunia maju secara umum mengalami penuaan populasi, dengan usia median sekitar 40 tahun. Di negara berkembang, usia median berada di antara 15 dan 20 tahun. Masing-masing satu dari lima orang Eropa berusia 60 tahun atau lebih, sedangkan hanya satu dari dua puluh orang Afrika berusia 60 tahun atau lebih.[219] Pada tahun 2012, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan terdapat 316.000 sentenarian (manusia berusia 100 tahun atau lebih) yang masih hidup di seluruh dunia.[220]

Tahapan kehidupan manusia
120px-Baby_with_Aerobie_flying_ring.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-%D0%A0%D0%BE%D0%BC%D1%81%D1%8C%D0%BA%D0%B8%D0%B9_%D1%85%D0%BB%D0%BE%D0%BF%D1%87%D0%B8%D0%BA_%28%D0%9C%D1%83%D0%BA%D0%B0%D1%87%D0%B5%D0%B2%D0%BE%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Boy_in_Dar_es_Salaam_%2814453809622%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Pataxo001.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-An_old_age.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Baby_playing_with_yellow_paint._Work_by_Dutch_artist_Peter_Klashorst_entitled_%22Experimental%22.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Ethnie_dong_6511a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Portrait_of_a_Persian_lady_in_Iran%2C_10-08-2006_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Punjabi_woman_smile.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-HappyPensioneer.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bayi laki-laki dan perempuan Anak laki-laki dan perempuan sebelum pubertas (anak-anak) Remaja laki-laki dan perempuan Manusia dewasa laki-laki dan perempuan Pria dan wanita lansia

Pola makan

Artikel utama: Nutrisi manusia
250px-Preparing_The_Feast.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manusia sedang menyiapkan hidangan di Bali, Indonesia

Manusia adalah organisme omnivora oportunistik yang mampu mengonsumsi berbagai jenis bahan tumbuhan dan hewan.[221][222][223] Berbagai kelompok manusia telah menerapkan beragam pola makan, mulai dari yang murni vegan hingga yang utamanya bersifat karnivora. Dalam beberapa kasus, pembatasan pola makan pada manusia dapat menyebabkan penyakit defisiensi; namun, kelompok manusia yang stabil telah beradaptasi dengan berbagai pola makan melalui spesialisasi genetik maupun konvensi budaya untuk menggunakan sumber makanan dengan nutrisi yang seimbang.[224] Pola makan berperan besar dalam membentuk mikrobioma usus, yang pada gilirannya memengaruhi kesehatan manusia.[225][226] Pola makan manusia tercermin secara menonjol dalam kebudayaan manusia dan telah mendorong berkembangnya Ilmu pangan.[227]

Hingga berkembangnya pertanian, Homo sapiens mengandalkan metode pemburu-peramu sebagai satu-satunya cara mengumpulkan makanan.[227] Hal ini melibatkan penggabungan sumber makanan yang tidak berpindah (seperti buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian, jamur, larva serangga, dan moluska air) dengan hewan buruan liar, yang harus diburu dan ditangkap terlebih dahulu untuk dapat dikonsumsi.[228] Telah diusulkan bahwa manusia telah menggunakan api untuk mengolah dan memasak makanan sejak masa Homo erectus.[229] Domestikasi tumbuhan liar oleh manusia dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu, yang mendorong perkembangan pertanian,[230] sebuah proses bertahap yang disebut Revolusi Neolitikum.[231] Perubahan pola makan ini mungkin juga telah mengubah biologi manusia; penyebaran peternakan penghasil susu menyediakan sumber makanan baru yang kaya nutrisi, yang mendorong evolusi kemampuan mencerna laktosa pada beberapa orang dewasa.[232][233] Jenis makanan yang dikonsumsi, serta cara pengolahannya, sangat bervariasi berdasarkan waktu, lokasi, dan budaya.[234][235]

Secara umum, manusia dapat bertahan hidup hingga delapan minggu tanpa makanan, bergantung pada cadangan lemak tubuh.[236] Kelangsungan hidup tanpa air biasanya terbatas pada tiga atau empat hari, dengan batas maksimum satu minggu.[237] Pada tahun 2020, diperkirakan bahwa 9 juta manusia meninggal setiap tahun akibat sebab-sebab yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Kelaparan.[238][239] Malnutrisi pada anak-anak juga umum terjadi dan berkontribusi terhadap beban penyakit global.[240] Namun, distribusi pangan global tidak merata, dan obesitas di antara beberapa populasi manusia telah meningkat pesat, sehingga menyebabkan komplikasi kesehatan dan peningkatan mortalitas di beberapa negara maju dan beberapa negara berkembang. Di seluruh dunia, lebih dari satu miliar orang mengalami obesitas,[241] dengan 16,2% populasi diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan pada tahun 2024.[242] Obesitas disebabkan oleh konsumsi kalori yang lebih banyak daripada yang dikeluarkan, sehingga kenaikan berat badan berlebih biasanya disebabkan oleh pola makan yang padat energi.[241]

Konsumsi makanan merupakan langkah pertama dari proses pencernaan,[243] yang mana manusia pada akhirnya mengeluarkan feses antara tiga kali per hari hingga tiga kali per minggu,[244][245] dengan frekuensi lebih tinggi pada masa awal kanak-kanak.[246] Pola makan sangat memengaruhi komposisi kotoran manusia dan laju pengeluarannya.[247]

Variasi biologis

250px-Seti1a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Orang Libya, orang Nubia, orang Suriah, dan orang Mesir, gambar karya seniman tak dikenal berdasarkan lukisan dinding makam Seti I, disalin oleh Heinrich von Minutoli (1820). Perhatikan bahwa warna kulit yang berlebihan ini merupakan ulah ilustrator abad ke-19, bukan dari karya asli Mesir Kuno.

Terdapat variasi biologis pada spesies manusia, dengan ciri-ciri seperti golongan darah, penyakit genetik, ciri tengkorak, ciri wajah, sistem organ, warna mata, warna rambut dan tekstur rambut, tinggi dan perawakan badan, serta warna kulit yang bervariasi di seluruh dunia. Tinggi badan khas manusia dewasa berkisar antara 14 dan 19 m (45 ft 11 in dan 62 ft 4 in), meskipun hal ini bervariasi secara signifikan tergantung pada jenis kelamin, asal-usul etnis, dan garis keturunan keluarga.[248][249] Ukuran tubuh sebagian ditentukan oleh gen dan juga dipengaruhi secara signifikan oleh faktor lingkungan seperti diet, olahraga, dan pola tidur.[250]

250px-Hair_colors.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Beragam warna rambut manusia; dari kiri atas, searah jarum jam: hitam, cokelat, pirang, putih, dan merah

Terdapat bukti bahwa berbagai populasi telah beradaptasi secara genetik terhadap beragam faktor eksternal. Gen yang memungkinkan manusia dewasa untuk mencerna laktosa hadir dalam frekuensi tinggi pada populasi yang memiliki sejarah panjang domestikasi ternak serta lebih bergantung pada susu sapi.[251] Anemia sel sabit, yang mungkin memberikan peningkatan resistensi terhadap malaria, sering ditemukan pada populasi di wilayah tempat malaria bersifat endemik.[252][253] Populasi yang telah lama mendiami iklim tertentu cenderung mengembangkan fenotipe khusus yang menguntungkan bagi lingkungan tersebut, seperti tubuh pendek dan gempal di daerah dingin, tubuh tinggi dan kurus di daerah panas, serta kapasitas paru-paru yang tinggi atau adaptasi lain di dataran tinggi.[254] Beberapa populasi telah berevolusi mengembangkan adaptasi yang sangat unik terhadap kondisi lingkungan yang sangat spesifik, seperti adaptasi yang menguntungkan bagi gaya hidup di laut dan selam bebas pada suku Bajau.[255]

Warna rambut manusia bervariasi mulai dari merah, pirang, cokelat, hingga hitam, yang merupakan warna paling umum.[256] Warna rambut bergantung pada jumlah melanin, dengan konsentrasi yang memudar seiring bertambahnya usia, sehingga menyebabkan rambut beruban atau bahkan berwarna putih. Warna kulit dapat berkisar dari cokelat paling gelap hingga merah muda paling terang, atau bahkan hampir putih atau tidak berwarna pada kasus albinisme.[257] Warna kulit cenderung bervariasi secara klinal dan umumnya berkorelasi dengan tingkat radiasi ultraviolet di wilayah geografis tertentu, dengan kulit yang lebih gelap sebagian besar terdapat di sekitar khatulistiwa.[258] Penggelapan warna kulit mungkin berevolusi sebagai perlindungan terhadap radiasi ultraviolet sinar matahari.[259] Pigmentasi kulit yang terang melindungi dari penyusutan vitamin D, yang membutuhkan sinar matahari untuk pembentukannya.[260] Kulit manusia juga memiliki kemampuan untuk menggelap (menjadi kecokelatan) sebagai respons terhadap paparan radiasi ultraviolet.[261][262]

Hanya ada relatif sedikit variasi antarpopulasi geografis manusia, dan sebagian besar variasi yang terjadi berada pada tingkat individu.[257][263][264] Sebagian besar variasi manusia bersifat kontinu, sering kali tanpa titik batas yang jelas.[265][266][258][267] Data genetik menunjukkan bahwa bagaimanapun kelompok populasi didefinisikan, dua orang dari kelompok populasi yang sama memiliki perbedaan yang hampir sama besarnya dengan dua orang dari dua kelompok populasi yang berbeda.[178][268][269] Populasi berkulit gelap yang ditemukan di Afrika, Australia, dan Asia Selatan tidak memiliki kekerabatan yang dekat satu sama lain.[258][270]

Penelitian genetik telah menunjukkan bahwa populasi manusia asli di benua Afrika memiliki keanekaragaman genetik yang paling tinggi[271] dan keanekaragaman genetik tersebut menurun seiring dengan jarak migrasi dari Afrika, yang kemungkinan merupakan akibat dari efek leher botol selama migrasi manusia.[272][273] Populasi non-Afrika ini memperoleh masukan genetik baru dari pembauran dengan populasi purba setempat dan memiliki variasi yang jauh lebih besar dari Neanderthal dan Manusia Denisova dibandingkan dengan yang ditemukan di Afrika,[187] meskipun pembauran Neanderthal ke dalam populasi Afrika mungkin belum terperkirakan fully.[274] Selain itu, studi terbaru menemukan bahwa populasi di Afrika sub-Sahara, khususnya Afrika Barat, memiliki variasi genetik leluhur yang telah ada sebelum manusia modern dan telah lenyap pada sebagian besar populasi non-Afrika. Sebagian dari garis keturunan ini diperkirakan berasal dari pembauran dengan hominin purba yang tidak diketahui yang terpisah sebelum perpecahan antara Neanderthal dan manusia modern.[187][275]

Manusia adalah spesies gonokoris, yang berarti mereka terbagi menjadi jenis kelamin laki-laki dan perempuan.[276][277][278] Tingkat variasi genetik terbesar terjadi antara laki-laki dan perempuan. Meskipun variasi genetik nukleotida pada individu dengan jenis kelamin yang sama di seluruh populasi dunia tidak lebih besar dari 0,1%–0,5%, perbedaan genetik antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 1% dan 2%. Laki-laki rata-rata 15% lebih berat dan 15 cm (6 in) lebih tinggi daripada perempuan.[279][280] Rata-rata, laki-laki memiliki kekuatan tubuh bagian atas sekitar 40–50% lebih tinggi dan kekuatan tubuh bagian bawah 20–30% lebih tinggi daripada perempuan pada berat badan yang sama, karena jumlah otot yang lebih banyak dan serat otot yang lebih besar.[281] Perempuan umumnya memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi daripada laki-laki.[282] Perempuan memiliki kulit yang lebih terang daripada laki-laki dalam populasi yang sama; hal ini dijelaskan oleh kebutuhan vitamin D yang lebih tinggi pada perempuan selama kehamilan dan masa laktasi.[283] Karena terdapat perbedaan kromosom antara perempuan dan laki-laki, beberapa kondisi dan gangguan yang terkait dengan kromosom X dan Y hanya memengaruhi laki-laki atau perempuan saja.[284] Setelah memperhitungkan berat dan volume tubuh, suara laki-laki rata-rata satu oktaf lebih rendah daripada suara perempuan.[285][286] Perempuan memiliki angka harapan hidup yang lebih panjang di hampir semua populasi di seluruh dunia.[287] Terdapat variasi interseks dalam populasi manusia; perkiraannya berkisar antara 0,018% hingga 1,7%.[288][289]

Psikologi

Artikel utama: Psikologi
250px-NIA_human_brain_drawing.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambar otak manusia, yang memperlihatkan beberapa struktur penting

Otak manusia merupakan pusat fungsi "tingkat tinggi" seperti pemikiran, penalaran, dan abstraksi.[290] Proses-proses kognitif ini membentuk pikiran, dan bersama dengan konsekuensi perilakunya, dipelajari dalam bidang psikologi. Manusia memiliki korteks prefrontal yang lebih besar dan lebih berkembang dibandingkan dengan primata lainnya, yaitu wilayah otak yang dikaitkan dengan kognisi tingkat tinggi.[291][292] Hal ini menyebabkan manusia mengklaim diri mereka lebih cerdas daripada spesies lain yang diketahui.[293] Mendefinisikan kecerdasan secara objektif terbilang sulit, karena hewan lain mengadaptasi indra dan unggul dalam bidang-bidang yang tidak mampu dilakukan manusia.[294]

Terdapat beberapa ciri yang, meskipun tidak sepenuhnya unik, membedakan manusia dari hewan lainnya.[295] Manusia mungkin merupakan satu-satunya hewan yang memiliki memori episodik dan mampu melakukan "perjalanan waktu mental".[296] Bahkan jika dibandingkan dengan hewan sosial lainnya, manusia memiliki tingkat fleksibilitas ekspresi wajah yang sangat tinggi.[297] Manusia adalah satu-satunya hewan yang diketahui dapat meneteskan air mata emosional.[298] Manusia merupakan salah satu dari sedikit hewan yang mampu mengenali diri sendiri dalam uji cermin,[299] dan terdapat pula perdebatan mengenai sejauh mana manusia menjadi satu-satunya hewan yang memiliki teori pikiran.[300][301]

Tidur dan mimpi

Artikel utama: Tidur dan Mimpi

Manusia pada umumnya bersifat diurnal. Waktu tidur yang dibutuhkan rata-rata antara tujuh hingga sembilan jam per hari untuk orang dewasa dan sembilan hingga sepuluh jam per hari untuk anak-anak, sedangkan orang lanjut usia biasanya tidur selama enam hingga tujuh jam. Waktu tidur yang lebih singkat dari rentang tersebut tergolong umum di kalangan manusia, meskipun kurang tidur dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Pembatasan waktu tidur orang dewasa secara terus-menerus menjadi empat jam per hari terbukti berkorelasi dengan perubahan fisiologi dan kondisi mental, termasuk penurunan daya ingat, kelelahan, agresivitas, serta rasa tidak nyaman pada tubuh.[302]

Saat tidur manusia bermimpi, yaitu ketika mereka mengalami citraan sensorik dan suara. Mimpi dirangsang oleh pons dan sebagian besar terjadi selama fase tidur dengan gerakan mata cepat (REM).[303] Durasi mimpi bervariasi, mulai dari beberapa detik hingga 30 menit.[304] Manusia bermimpi sebanyak tiga hingga lima kali per malam, dan beberapa orang bahkan dapat bermimpi hingga tujuh kali.[305] Orang yang bermimpi lebih cenderung mengingat mimpinya jika terbangun pada fase REM. Peristiwa dalam mimpi umumnya berada di luar kendali orang yang bermimpi, kecuali dalam mimpi sadar (lucid dreaming), ketika orang tersebut menyadari keberadaan dirinya.[306] Mimpi terkadang dapat memicu munculnya pemikiran kreatif atau memberikan rasa inspirasi,[307] seperti yang terjadi pada beberapa karya fiksi, konsep ilmiah, dan karya seni terkemuka.

Kesadaran dan pemikiran

Artikel utama: Kesadaran dan Kognisi

Kesadaran manusia, dalam bentuk yang paling sederhana, merupakan sentiens atau kesadaran akan keberadaan internal maupun eksternal.[308] Meskipun telah melalui analisis, definisi, penjelasan, dan perdebatan selama berabad-abad oleh para filsuf dan ilmuwan, hakikat mendasar dari kesadaran tetap misterius dan belum banyak dipahami,[309] sekaligus menjadi "aspek yang paling familier tetapi juga paling misterius dalam kehidupan kita".[310] Satu-satunya gagasan yang disepakati secara luas mengenai topik ini adalah intuisi bahwa kesadaran itu ada.[311] Pendapat berbeda-beda mengenai apa sebenarnya yang perlu dipelajari dan dijelaskan sebagai kesadaran. Beberapa filsuf membagi kesadaran menjadi kesadaran fenomenal, yang merupakan pengalaman sensorik itu sendiri, dan kesadaran akses, yang dapat digunakan untuk penalaran atau mengendalikan tindakan secara langsung.[312] Istilah ini terkadang dianggap sinonim dengan 'pikiran', dan di saat lain dianggap sebagai salah satu aspek darinya. Secara historis, kesadaran dikaitkan dengan introspeksi, pemikiran pribadi, imajinasi, dan kehendak.[313] Kini kesadaran sering kali mencakup jenis pengalaman, kognisi, perasaan, atau persepsi tertentu. Kesadaran dapat berupa 'kesadaran', 'kesadaran akan kesadaran', atau kesadaran diri.[314] Kesadaran mungkin memiliki tingkat atau tingkatan kesadaran yang berbeda,[315] atau jenis kesadaran yang berbeda, atau hanya satu jenis dengan fitur yang bervariasi.[316]

Proses memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui pemikiran, pengalaman, dan indra dikenal sebagai kognisi.[317] Otak manusia mempersepsikan dunia luar melalui indra, dan setiap individu manusia sangat dipengaruhi oleh pengalamannya, sehingga menghasilkan pandangan subjektif mengenai keberadaan dan perjalanan waktu.[318] Hakikat pemikiran merupakan inti dari psikologi dan bidang-bidang terkait. Psikologi kognitif mempelajari kognisi, yaitu proses mental yang mendasari perilaku.[319] Berfokus terutama pada perkembangan pikiran manusia sepanjang rentang kehidupan, psikologi perkembangan berupaya memahami bagaimana orang-orang mulai mempersepsikan, memahami, dan bertindak di dunia serta bagaimana proses-proses tersebut berubah seiring bertambahnya usia.[320][321] Kajian ini dapat berfokus pada perkembangan intelektual, kognitif, saraf, sosial, atau perkembangan moral. Para psikolog telah mengembangkan tes kecerdasan dan konsep hasil bagi kecerdasan untuk menilai kecerdasan relatif manusia dan mempelajari distribusinya di antara populasi.[322]

Motivasi dan emosi

Artikel utama: Motivasi dan Emosi
250px-Plate_depicting_emotions_of_grief_from_Charles_Darwin%27s_book_The_Expression_of_the_Emotions.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi rasa duka dari buku karya Charles Darwin tahun 1872 yang berjudul The Expression of the Emotions in Man and Animals

Motivasi manusia belum sepenuhnya dipahami. Dari perspektif psikologis, hierarki kebutuhan Maslow merupakan teori yang mapan yang dapat didefinisikan sebagai proses pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan urutan tingkat kerumitan yang meningkat.[323] Dari perspektif filosofis yang lebih umum, motivasi manusia dapat didefinisikan sebagai komitmen terhadap, atau penarikan diri dari, berbagai tujuan yang membutuhkan penerapan kemampuan manusia. Selain itu, insentif dan preferensi merupakan faktor pendukung, demikian pula hubungan yang dirasakan antara insentif dan preferensi tersebut. Kehendak juga dapat terlibat, yang dalam hal ini kekuatan kehendak (willpower) turut menjadi faktor. Idealnya, baik motivasi maupun kehendak memastikan pemilihan, pemenuhan, dan realisasi tujuan secara optimal, suatu fungsi yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang hayat dalam proses yang dikenal sebagai sosialisasi.[324]

Emosi adalah kondisi biologis yang berhubungan dengan sistem saraf[325][326] yang dipicu oleh perubahan neurofisiologi yang dikaitkan dengan beragam pikiran, perasaan, tanggapan perilaku, serta tingkat kenikmatan atau ketidaknikmatan.[327][328] Emosi sering kali saling terjalin dengan suasana hati, temperamen, kepribadian, disposisi, kreativitas,[329] dan motivasi. Emosi memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku manusia dan kemampuan mereka untuk belajar.[330] Bertindak berdasarkan emosi yang ekstrem atau tidak terkendali dapat menyebabkan kekacauan sosial dan kejahatan,[331] dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pelaku kejahatan mungkin memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah daripada orang pada umumnya.[332]

Pengalaman emosional yang dirasakan menyenangkan, seperti kegembiraan, rasa tertarik, atau kepuasan, berbanding terbalik dengan pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan, seperti kecemasan, kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan.[333] Kebahagiaan, atau kondisi menjadi bahagia, merupakan suatu kondisi emosional manusia. Definisi kebahagiaan merupakan topik filosofis yang umum. Beberapa orang mendefinisikannya sebagai pengalaman merasakan perasaan dari afek emosional positif, sembari menghindari afek yang negatif.[334][335] Sebagian lainnya memandangnya sebagai penilaian atas kepuasan hidup atau kualitas hidup.[336] Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menjadi bahagia mungkin melibatkan pengalaman beberapa emosi negatif ketika manusia merasa hal tersebut beralasan.[337]

Seksualitas dan cinta

Artikel utama: Seksualitas manusia dan Cinta
250px-Sweet_Baby_Kisses_Family_Love.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Orang tua manusia sering kali menunjukkan cinta kekeluargaan kepada anak-anak mereka.

Bagi manusia, seksualitas melibatkan perasaan dan perilaku biologis, erotis, fisik, emosional, sosial, atau spiritual.[338][339] Karena merupakan istilah luas yang bervariasi mengikuti konteks sejarah dari waktu ke waktu, istilah ini tidak memiliki definisi yang pasti.[339] Aspek biologis dan fisik dari seksualitas sebagian besar berkaitan dengan fungsi reproduksi manusia, termasuk siklus respons seksual manusia.[338][339] Seksualitas juga memengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek budaya, politik, hukum, filosofis, moral, etis, dan keagamaan dalam kehidupan.[338][339] Hasrat seksual (libido) merupakan kondisi mental dasar yang hadir pada awal perilaku seksual. Berbagai studi menemukan bahwa laki-laki melaporkan hasrat seksual yang lebih kuat daripada perempuan dan lebih sering melakukan masturbasi.[340][341]

Manusia dapat berada di titik mana pun sepanjang skala kontinum orientasi seksual,[342] meskipun sebagian besar manusia bersifat heteroseksual.[343][344] Meskipun perilaku homoseksual terjadi pada beberapa hewan lain, sejauh ini hanya manusia dan domba domestik yang terbukti menunjukkan preferensi eksklusif terhadap hubungan sesama jenis.[343] Sebagian besar bukti mendukung penyebab biologis non-sosial dari orientasi seksual,[343] karena budaya yang sangat toleran terhadap homoseksualitas tidak memiliki tingkat kejadian yang lebih tinggi secara signifikan.[344][345] Penelitian dalam bidang ilmu saraf dan genetika menunjukkan bahwa aspek-aspek lain dari seksualitas manusia juga dipengaruhi secara biologis.[346]

Cinta paling umum merujuk pada perasaan daya tarik yang kuat atau keterikatan emosional. Cinta dapat bersifat impersonal (cinta terhadap suatu objek, cita-cita, atau hubungan politik maupun spiritual yang kuat) atau interpersonal (cinta antarmanusia).[347] Dalam kondisi emosional cinta romantis, senyawa neurokimia seperti dopamin, norepinefrin, serotonin, dan oksitosin merangsang sistem imbalan otak melalui jalur mesokortikolimbik (MCL). Jalur dopaminergik ini dapat menghasilkan efek samping seperti takikardia (peningkatan denyut jantung), kehilangan nafsu makan, insomnia (tidak bisa tidur), dan euforia yang intens.[348]

Kebudayaan

Artikel utama: Kebudayaan dan Universal budaya
Statistik masyarakat manusia
Bahasa dengan penutur terbanyak[349][350]Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Hindi, Bahasa Spanyol, Bahasa Prancis, Bahasa Arab Standar, Bahasa Bengali, Bahasa Rusia, Bahasa Portugis, Bahasa Urdu
Agama yang paling banyak dianut[351]Kekristenan, Islam, Hinduisme, Buddha, kepercayaan tradisional, Sikhisme, Yudaisme, tidak berafiliasi

Set keterampilan intelektual manusia yang luas merupakan faktor kunci dalam kemajuan teknologi spesies ini serta dominasi yang menyertainya atas biosfer.[352] Tanpa memperhitungkan hominid yang telah punah, manusia adalah satu-satunya hewan yang diketahui mengajarkan informasi yang dapat digeneralisasi,[353] secara bawaan memanfaatkan penyisipan rekursif untuk menghasilkan dan mengomunikasikan konsep-konsep rumit,[354] melakukan "fisika awam" yang diperlukan untuk merancang alat secara mahir,[355][356] atau memasak makanan di alam liar.[357] Kemampuan untuk melestarikan dan mengajarkan informasi kepada generasi mendatang dalam satu masyarakat atau lebih dikenal sebagai efek raset dalam antropologi.[2] Menurut kiasan ini, begitu sekelompok orang memahami suatu teknologi, akan sulit bagi mereka untuk melupakannya, dan teknologi tersebut dapat digunakan untuk mempelajari teknologi dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi.[2] Proses mengajar dan belajar melestarikan identitas budaya dan etnografis masyarakat manusia.[358] Ciri dan perilaku lain yang sebagian besar hanya dimiliki oleh manusia meliputi kemampuan menyalakan api,[359] penyusunan fonem,[360] serta pembelajaran vokal.[361]

Bahasa

Artikel utama: Bahasa
500px-Primary_Human_Languages_Improved_Version.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumpun bahasa utama di dunia (dan dalam beberapa kasus kelompok geografis dari rumpun tersebut)

Meskipun banyak spesies berkomunikasi, bahasa bersifat unik pada manusia,[362] menjadi fitur penentu kemanusiaan,[363][364] serta merupakan sebuah universal budaya.[365] Berbeda dari sistem komunikasi hewan lain yang terbatas, bahasa manusia bersifat terbuka, yaitu jumlah makna yang tak terbatas dapat dihasilkan dengan menggabungkan sejumlah simbol yang terbatas.[366][367] Bahasa manusia juga memiliki kapasitas pengalihan, yaitu menggunakan kata-kata untuk mewakili hal-hal dan kejadian yang tidak sedang terjadi saat itu atau di tempat tersebut, melainkan berada dalam imajinasi bersama para lawan bicara.[154]

Bahasa berbeda dari bentuk komunikasi lainnya karena bersifat independen terhadap modalitas; manusia dapat menyampaikan makna yang sama melalui media yang berbeda: secara auditori dalam pertuturan, secara visual melalui bahasa isyarat atau tulisan, dan melalui media taktil seperti braille.[368] Bahasa sangat penting bagi komunikasi antarmanusia, serta bagi rasa identitas yang dapat menyatukan bangsa, budaya, dan kelompok etnis.[369]

Hingga1996[update], manusia menggunakan sekitar enam ribu bahasa yang berbeda, termasuk bahasa isyarat, dan ribuan bahasa lainnya telah punah.[370]

Kesenian

Artikel utama: Seni

Seni manusia dapat mengambil berbagai bentuk, termasuk rupa, sastra, dan pertunjukan. Seni rupa dapat berkisar dari lukisan dan patung hingga film, desain busana, dan arsitektur.[371] Seni sastra dapat mencakup prosa, puisi, dan drama. Seni pertunjukan umumnya melibatkan teater, musik, dan tari.[372][373] Manusia sering kali menggabungkan bentuk-bentuk yang berbeda tersebut (misalnya, video musik).[374] Entitas lain yang pernah dijelaskan memiliki kualitas artistik meliputi penyiapan makanan, permainan video, dan ilmu kedokteran.[375][376][377] Selain memberikan hiburan dan memindahkan pengetahuan, seni juga digunakan untuk tujuan politik.[378]

250px-British_Museum_Flood_Tablet.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lempengan Air Bah dari wiracarita Gilgames dalam bahasa Akkadia

Seni merupakan karakteristik penentu manusia, dan terdapat bukti adanya hubungan antara kreativitas dengan bahasa.[379] Bukti seni paling awal adalah ukiran cangkang yang dibuat oleh Homo erectus 300.000 tahun sebelum manusia modern berevolusi.[380] Seni yang dikaitkan dengan H. sapiens telah ada setidaknya 75.000 tahun yang lalu, dengan ditemukannya perhiasan dan gambar di gua-gua di Afrika Selatan.[381][382] Terdapat berbagai hipotesis mengenai alasan manusia melakukan adaptasi terhadap seni. Hipotesis ini mencakup kemampuan untuk memecahkan masalah dengan lebih baik, menyediakan sarana untuk mengendalikan atau memengaruhi manusia lain, mendorong kerja sama dan kontribusi dalam masyarakat, atau meningkatkan peluang untuk menarik perhatian calon pasangan.[383] Penggunaan imajinasi yang berkembang melalui seni, digabungkan dengan logika, mungkin telah memberikan keuntungan evolusioner bagi manusia purba.[379]

Bukti mengenai manusia yang melakukan aktivitas bermusik mendahului seni gua, dan sejauh ini musik telah dipraktikkan oleh hampir semua kebudayaan manusia yang diketahui.[384] Terdapat beragam genre musik dan musik etnis, dengan kemampuan bermusik manusia berkaitan dengan kemampuan lainnya, termasuk perilaku sosial manusia yang kompleks.[384] Telah ditunjukkan bahwa otak manusia merespons musik dengan tersinkronisasi bersama ritme dan ketukan, sebuah proses yang disebut entrainment.[385] Tari juga merupakan bentuk ekspresi manusia yang ditemukan di semua budaya[386] dan mungkin telah berevolusi sebagai cara untuk membantu manusia purba berkomunikasi.[387] Mendengarkan musik dan mengamati tarian merangsang korteks orbitofrontal dan area perasa kenikmatan lainnya di otak.[388]

Berbeda dengan berbicara, membaca dan menulis tidak terjadi secara alami pada manusia dan harus diajarkan.[389] Meskipun demikian, sastra telah ada sebelum ditemukannya kata-kata dan bahasa, dengan lukisan berusia 30.000 tahun pada dinding di dalam beberapa gua yang menggambarkan serangkaian adegan dramatis.[390] Salah satu karya sastra tertua yang masih bertahan adalah Wiracarita Gilgamesh, yang pertama kali diukir pada lempengan Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun yang lalu.[391] Selain sekadar mewariskan pengetahuan, penggunaan dan pemutakhiran fiksi imajinatif melalui cerita mungkin telah membantu mengembangkan kemampuan komunikasi manusia dan meningkatkan kemungkinan mendapatkan pasangan.[392] Mendongeng juga dapat digunakan sebagai cara untuk memberikan pelajaran moral kepada pendengar dan mendorong kerja sama.[390]

Alat dan teknologi

Artikel utama: Alat dan Teknologi
Kereta berjalan di atas rel
SCMaglev, kereta tercepat di dunia, dengan kecepatan 603 km/h (375 mph) pada tahun 2015[393]

Alat batu telah digunakan oleh manusia purba setidaknya 2,5 juta tahun yang lalu.[394] Penggunaan dan pembuatan alat telah dikemukakan sebagai kemampuan yang mendefinisikan manusia melebihi hal lainnya[395] dan secara historis dipandang sebagai langkah evolusi yang penting.[396] Teknologi menjadi jauh lebih canggih sekitar 1,8 juta tahun yang lalu,[395] dengan pengendalian api yang dimulai sekitar 1 juta tahun yang lalu.[397][398] Roda dan kendaraan beroda muncul secara bersamaan di beberapa wilayah sekitar milenium keempat SM.[66] Perkembangan alat dan teknologi yang lebih kompleks memungkinkan lahan untuk ditanami dan hewan untuk didomestikasi, sehingga terbukti sangat penting dalam perkembangan pertanian, yang dikenal sebagai Revolusi Neolitikum.[399]

Tiongkok mengembangkan kertas, mesin cetak, bubuk mesiu, kompas, dan penemuan penting lainnya.[400] Peningkatan berkelanjutan dalam peleburan memungkinkan penempaan tembaga, perunggu, besi, dan pada akhirnya baja, yang digunakan pada jalur kereta api, pencakar langit, dan berbagai produk lainnya.[401] Hal ini bertepatan dengan Revolusi Industri, ketika penemuan mesin-mesin otomatis membawa perubahan besar bagi gaya hidup manusia.[402] Teknologi modern diamati berkembang secara eksponensial,[403] dengan inovasi-inovasi utama pada abad ke-20 meliputi: listrik, penisilin, semikonduktor, mesin pembakaran dalam, Internet, pupuk penambat nitrogen, pesawat terbang, komputer, mobil, pil kontrasepsi, fisi nuklir, revolusi hijau, radio, pemuliaan tanaman secara ilmiah, roket, pengondisi udara, televisi, dan lini perakitan.[404]

Agama dan spiritualitas

Artikel utama: Agama dan Spiritualitas
250px-Brooklyn_Museum_1992.133.4_Figure_of_Shango_on_Horseback.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Shango, Orisha api, kilat, dan petir dalam agama Yoruba, yang digambarkan sedang menunggang kuda

Definisi agama bervariasi;[405] menurut salah satu definisi, agama adalah sistem kepercayaan yang berkaitan dengan hal-hal supernatural, sakral, atau ilahi, serta praktik, nilai, institusi, dan ritual yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Beberapa agama juga memiliki kode moral. Evolusi dan sejarah agama-agama pertama telah menjadi bidang penyelidikan ilmiah yang aktif.[406][407][408] Bukti tepercaya mengenai perilaku keagamaan berasal dari era Paleolitikum Menengah (45–200 ribu tahun yang lalu).[409] Perilaku ini mungkin berevolusi untuk berperan dalam membantu menegakkan dan mendorong kerja sama antarmanusia.[410]

Agama memanifestasikan dirinya dalam beragam bentuk.[405] Agama dapat mencakup kepercayaan pada kehidupan setelah kematian,[411] asal-usul kehidupan, hakikat alam semesta (kosmologi keagamaan), dan nasib akhir alam semesta (eskatologi), serta ajaran moral atau etika.[412] Pandangan mengenai transendensi dan imanensi sangat bervariasi; berbagai tradisi menganut monisme, deisme, panteisme, dan teisme (termasuk politeisme dan monoteisme).[413]

Meskipun mengukur religiusitas terbilang sulit,[414] sebagian besar manusia menganut beberapa jenis kepercayaan keagamaan atau spiritual. Pada tahun 2020, porsi terbesar adalah Umat Kristiani, diikuti oleh Umat Muslim, Umat Hindu, dan Umat Buddha. Hingga tahun 2020, sekitar 24%, atau 1,9 miliar manusia, bersifat irreligius, termasuk mereka yang tidak memiliki kepercayaan agama atau tidak beridentifikasi dengan agama apa pun.[351]

Sains dan filsafat

Artikel utama: Sains dan Filsafat
250px-Dunhuang_star_map.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Dunhuang, sebuah peta bintang yang menunjukkan wilayah Kutub Utara, dibuat di Tiongkok ca 700

Atribut penentu kemanusiaan adalah kapasitas untuk evolusi budaya kumulatif melalui penyampaian pengetahuan lintas generasi dengan secara terus-menerus membangun pengetahuan masa lalu untuk mengembangkan alat, hukum-hukum ilmiah, dan kemajuan lainnya untuk diwariskan kepada generasi mendatang,[415] yang dikenal sebagai efek raset dalam antropologi.[2] Pengetahuan yang terakumulasi ini dapat diuji untuk menjawab berbagai pertanyaan atau membuat prediksi tentang cara kerja alam semesta, yang mendorong kemajuan manusia yang berkelanjutan.[416]

Aristoteles telah dijelaskan sebagai ilmuwan pertama,[417] dan mendahului kebangkitan pemikiran ilmiah sepanjang periode Helenistik.[418] Kemajuan awal lainnya dalam sains berasal dari Dinasti Han di Tiongkok dan selama Zaman Kejayaan Islam.[419][92] Revolusi Ilmiah, di dekat akhir Renaisans, mengarah pada munculnya sains modern.[420]

Serangkaian peristiwa dan pengaruh mengarah pada pengembangan metode ilmiah, sebuah proses pengamatan dan eksperimen yang digunakan untuk membedakan sains dari pseudosains.[421] Pemahaman tentang matematika bersifat unik bagi manusia, meskipun spesies hewan lain memiliki kognisi angka tertentu.[422] Seluruh sains dapat dibagi menjadi tiga cabang utama, yaitu sains formal (misalnya logika dan matematika) yang berkaitan dengan sistem formal, sains terapan (misalnya rekayasa, kedokteran) yang berfokus pada penerapan praktis, dan sains empiris yang didasarkan pada pengamatan empiris, yang pada gilirannya dibagi menjadi ilmu-ilmu alam (misalnya fisika, kimia, biologi) dan ilmu-ilmu sosial (misalnya psikologi, ekonomi, sosiologi).[423]

Filsafat adalah bidang studi tempat manusia berupaya memahami kebenaran mendasar tentang diri mereka sendiri dan dunia tempat mereka tinggal.[424] Penyelidikan filosofis telah menjadi fitur utama dalam perkembangan sejarah intelektual manusia.[425] Bidang ini telah digambarkan sebagai "wilayah tak bertuan" antara pengetahuan ilmiah yang definitif dan ajaran agama yang dogmatis.[426] Bidang-bidang utama filsafat meliputi metafisika, epistemologi, logika, dan aksiologi (yang mencakup etika dan estetika).[427]

Masyarakat

Artikel utama: Masyarakat
250px-Indian_family_in_Brazil_posed_in_front_of_hut.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto yang diambil antara tahun 1890 dan 1923 memperlihatkan sebuah keluarga penduduk asli di Brasil, yang terdiri atas tiga perempuan remaja atau dewasa, seorang laki-laki dewasa, dan seorang bayi. Manusia sering kali hidup dalam struktur sosial berbasis keluarga.

Masyarakat adalah sistem organisasi dan lembaga yang timbul dari interaksi antarmanusia. Manusia sangat bersifat sosial dan cenderung hidup dalam kelompok sosial yang besar dan kompleks. Masyarakat dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda berdasarkan pendapatan, kekayaan, kekuasaan, reputasi, dan faktor-faktor lainnya. Struktur stratifikasi sosial dan tingkat mobilitas sosial berbeda-beda, terutama antara masyarakat modern dan tradisional.[428] Kelompok manusia berkisar dari seukuran keluarga hingga bangsa. Bentuk organisasi sosial manusia yang pertama diperkirakan menyerupai masyarakat kelompok pemburu-peramu.[429]

Gender

Artikel utama: Gender
250px-Ring_ceremony%2C_Indian_Hindu_wedding.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pria sebagai mempelai pria dan seorang wanita sebagai mempelai wanita dalam pernikahan Hindu di India Utara, dengan mempelai pria mengenakan sherwani serta sorban pagri dan mempelai wanita mengenakan sari

Masyarakat manusia biasanya menunjukkan identitas gender dan peran gender yang membedakan antara karakteristik maskulin dan feminin, serta menetapkan rentang perilaku dan sikap yang dapat diterima bagi anggotanya berdasarkan jenis kelamin mereka.[430][431] Pengategorian yang paling umum adalah biner gender antara pria dan wanita.[432] Beberapa masyarakat mengakui gender ketiga,[433] atau yang lebih jarang, gender keempat atau kelima.[434][435] Di beberapa masyarakat lainnya, non-biner digunakan sebagai istilah payung untuk berbagai identitas gender yang tidak semata-mata laki-laki atau perempuan.[436]

Peran gender sering kali dikaitkan dengan pembagian norma, praktik, pakaian, perilaku, hak, kewajiban, hak istimewa, status sosial, dan kekuasaan, dengan pria menikmati lebih banyak hak dan hak istimewa daripada wanita di sebagian besar masyarakat, baik saat ini maupun pada masa lalu.[437] Sebagai suatu konstruksi sosial,[438] peran gender tidak bersifat tetap dan bervariasi secara historis dalam suatu masyarakat. Tantangan terhadap norma-norma gender yang dominan telah berulang kali terjadi di banyak masyarakat.[439][440] Hanya sedikit yang diketahui mengenai peran gender pada masyarakat manusia paling awal. Manusia modern awal kemungkinan besar memiliki rentang peran gender yang serupa dengan budaya modern setidaknya sejak era Paleolitikum Atas, sementara Neanderthal memiliki dimorfisme seksual yang lebih rendah dan terdapat bukti bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan sangat minimal.[441]

Kekerabatan

Artikel utama: Kekerabatan

Semua masyarakat manusia mengatur, mengakui, dan mengklasifikasikan jenis-jenis hubungan sosial berdasarkan hubungan antara orang tua, anak, dan keturunan lainnya (konsanguinitas), serta hubungan melalui pernikahan (afinitas). Terdapat pula jenis ketiga yang diterapkan pada orang tua wali atau anak adopsi (fiktif). Hubungan-hubungan yang didefinisikan secara budaya ini disebut sebagai kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, kekerabatan merupakan salah satu prinsip pengorganisasian sosial yang paling penting dan berperan dalam mewariskan status serta hak waris.[442] Semua masyarakat memiliki aturan tabu inses, yang melarang pernikahan antara jenis hubungan kerabat tertentu, dan beberapa masyarakat juga memiliki aturan pernikahan preferensial dengan kerabat tertentu.[443]

Ikatan pasangan merupakan fitur yang ada di mana-mana dalam hubungan seksual manusia, baik diwujudkan sebagai monogami serial, poligini, maupun poliandri.[444] Bukti genetika menunjukkan bahwa manusia sebagian besar bersifat poligini selama sebagian besar keberadaan mereka sebagai spesies, tetapi kondisi ini mulai bergeser selama era Neolitikum, ketika monogami mulai meluas seiring dengan transisi dari masyarakat nomaden ke masyarakat menetap.[445] Bukti anatomi berupa rasio jari kedua terhadap jari keempat, yang menjadi penanda biologis untuk efek androgen prenatal, juga menunjukkan bahwa manusia modern bersifat poligini selama era Pleistosen.[446]

Kelompok etnis

Artikel utama: Suku bangsa

Kelompok etnis manusia adalah kategori sosial yang mengidentifikasikan orang-orang secara bersama-sama berdasarkan atribut bersama yang membedakan mereka dari kelompok lain. Atribut ini dapat berupa serangkaian tradisi, asal-usul leluhur, bahasa, sejarah, masyarakat, kebudayaan, bangsa, agama, atau perlakuan sosial bersama di wilayah tempat tinggal mereka.[447][448] Etnisitas terpisah dari konsep ras, yang didasarkan pada karakteristik fisik, meskipun keduanya dikonstruksikan secara sosial.[449] Menentukan etnisitas pada populasi tertentu terbilang rumit, karena bahkan di dalam penetapan etnis yang umum sekalipun dapat terdapat beragam subkelompok, dan susunan kelompok etnis ini dapat berubah seiring waktu, baik pada tingkat kolektif maupun individu.[180] Selain itu, tidak ada definisi yang diterima secara umum mengenai apa yang membentuk suatu kelompok etnis.[450] Pengelompokan etnis dapat memainkan peran yang kuat dalam identitas sosial dan solidaritas unit-unit etnopolitik. Hal ini sangat berkaitan erat dengan bangkitnya negara bangsa sebagai bentuk utama organisasi politik pada abad ke-19 dan ke-20.[451][452][453]

Pemerintahan dan politik

Artikel utama: Pemerintahan dan Politik
250px-United_Nations_Headquarters_in_New_York_City%2C_view_from_Roosevelt_Island.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (kiri) di Kota New York menampung salah satu organisasi politik terbesar di dunia.

Seiring dengan berkumpulnya populasi petani dalam komunitas yang lebih besar dan padat, interaksi antara kelompok-kelompok berbeda ini meningkat. Hal ini menyebabkan berkembangnya tata kelola pemerintahan di dalam dan antar-komunitas.[454] Manusia telah berevolusi hingga memiliki kemampuan untuk mengubah afiliasi dengan berbagai kelompok sosial secara relatif mudah, termasuk aliansi politik yang sebelumnya kuat, jika hal tersebut dianggap memberikan keuntungan pribadi.[455] Fleksibilitas kognitif ini memungkinkan setiap individu manusia untuk mengubah ideologi politik mereka, dengan individu yang memiliki fleksibilitas lebih tinggi cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mendukung pandangan otoriter dan nasionalis.[456]

Pemerintah membuat hukum dan kebijakan yang memengaruhi warga negara yang mereka perintah. Terdapat banyak bentuk pemerintahan sepanjang sejarah manusia, yang masing-masing memiliki berbagai cara untuk memperoleh kekuasaan serta kemampuan untuk menerapkan beragam kendali atas populasi.[457] Hingga2021[update], sekitar 47% manusia hidup dalam beberapa bentuk demokrasi, 17% dalam rezim hibrida, dan 37% dalam rezim otoriter.[458] Banyak negara menjadi anggota organisasi dan aliansi internasional; yang terbesar di antaranya adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan 193 negara anggota.[459]

Perdagangan dan ekonomi

Artikel utama: Perdagangan dan Ekonomi
330px-Silk_route.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jalur Sutra (merah) dan rute perdagangan rempah-rempah (biru)

Perdagangan, yaitu pertukaran barang dan jasa secara sukarela, dipandang sebagai karakteristik yang membedakan manusia dari hewan lain dan telah disebut sebagai praktik yang memberi Homo sapiens keunggulan besar dibandingkan hominid lainnya.[460] Bukti menunjukkan bahwa H. sapiens awal memanfaatkan rute perdagangan jarak jauh untuk menukar barang dan gagasan, yang mengarah pada ledakan budaya serta menyediakan sumber makanan tambahan ketika hasil berburu sedikit, sementara jaringan perdagangan semacam itu tidak ada pada Neanderthal yang kini telah punah.[461][462] Perdagangan awal kemungkinan melibatkan bahan-bahan untuk membuat alat seperti obsidian.[463] Rute perdagangan internasional yang benar-benar pertama berpusat pada perdagangan rempah-rempah sepanjang periode Romawi dan Abad Pertengahan.[464]

Perekonomian manusia awal lebih cenderung didasarkan pada pemberian hadiah alih-alih sistem barter.[465] Uang awal terdiri dari komoditas; yang tertua berbentuk hewan ternak dan yang paling luas digunakan adalah kulit kerang.[466] Uang kemudian berevolusi menjadi koin yang diterbitkan pemerintah, uang kertas, dan uang elektronik.[466] Ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari cara masyarakat mendistribusikan sumber daya yang terbatas di antara orang-orang yang berbeda.[467] Terdapat ketimpangan yang sangat besar dalam pembagian kekayaan di antara manusia; nilai moneter dari delapan manusia terkaya setara dengan gabungan kekayaan separuh populasi manusia termiskin.[468]

Konflik

Artikel utama: Konflik
Informasi lebih lanjut: Kejahatan kekerasan dan Perang
250px-Into_the_Jaws_of_Death_23-0455M_edit.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pasukan Amerika mendarat di Normandia selama Perang Dunia II

Manusia melakukan kekerasan terhadap sesama manusia pada tingkat yang sebanding dengan primata lain, tetapi memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk membunuh orang dewasa, sementara pembunuhan bayi lebih umum terjadi di antara primata lainnya.[469] Analisis filogenetik memperkirakan bahwa 2% dari H. sapiens awal dibunuh, meningkat menjadi 12% selama Abad Pertengahan, sebelum turun hingga di bawah 2% pada era modern.[470] Terdapat variasi yang besar dalam hal kekerasan di antara populasi manusia, dengan tingkat pembunuhan sekitar 0,01% pada masyarakat yang memiliki sistem hukum dan sikap budaya yang kuat dalam menolak kekerasan.[471] Faktor-faktor lain yang memengaruhi tingkat pembunuhan adalah ketimpangan sumber daya relatif dan analisis biaya-manfaat dari pembunuhan dibandingkan dengan strategi penyelesaian masalah lainnya.[472]

Kesediaan manusia untuk membunuh sesama anggota spesiesnya secara massal melalui konflik terorganisasi (yaitu perang) telah lama menjadi subjek perdebatan. Satu pemikiran berpendapat bahwa perang berevolusi sebagai sarana untuk menyingkirkan pesaing dan telah menjadi karakteristik bawaan manusia sejak dahulu.[473] Pandangan lain menyatakan bahwa perang merupakan fenomena yang relatif baru dan muncul akibat perubahan kondisi sosial.[474] Meskipun belum sepenuhnya disepakati, bukti-bukti saat ini menunjukkan bahwa kekerasan antarindividu telah menjadi bagian yang ada di mana-mana dalam sejarah manusia sejak awal keberadaan spesies ini, dengan catatan bioarkeologi yang memperlihatkan tingginya angka trauma akibat kekerasan yang diyakini sebagai akibat dari perang pada populasi pemburu-peramu jauh sebelum munculnya pertanian dan masyarakat menetap.[473]

Perang membawa dampak yang sangat mahal bagi kehidupan manusia; diperkirakan bahwa selama abad ke-20, antara 167 juta hingga 188 juta orang tewas akibat perang.[475] Data korban perang kurang dapat diandalkan untuk era pra-Abad Pertengahan, terutama angka secara global. Namun jika dibandingkan dengan periode mana pun dalam 600 tahun terakhir, 80 tahun terakhir (pasca-1945) menunjukkan penurunan yang sangat signifikan dalam tingkat kematian militer dan sipil secara global akibat konflik bersenjata.[476]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Kota-kota dengan lebih dari 10 juta penduduk per 2018.[125]
  2. ↑ Secara tradisional, hal ini dijelaskan oleh tekanan evolusi yang saling bertentangan antara bipedalisme dan ensefalisasi, yang disebut dilema kebidanan, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor-faktor lain mungkin ikut berperan.[200][201]

Referensi

  1. ↑ Nyberg, Lars; Kim, Alice S. N.; Habib, Reza; Levine, Brian; Tulving, Endel (2010-12-21). "Consciousness of subjective time in the brain". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 107 (51): 22356–22359. Bibcode:2010PNAS..10722356N. doi:10.1073/pnas.1016823108. ISSN 1091-6490. PMC 3009795. PMID 21135219.
  2. 1 2 3 4 Tennie, Claudio; Call, Josep; Tomasello, Michael (2009-08-27). "Ratcheting up the ratchet: on the evolution of cumulative culture". Philosophical Transactions of the Royal Society of London, Series B. 364 (1528): 2405–2415. doi:10.1098/rstb.2009.0052. ISSN 1471-2970. PMC 2865079. PMID 19620111.
  3. 1 2 Spamer EE (29 Januari 1999). "Know Thyself: Responsible Science and the Lectotype of Homo sapiens Linnaeus, 1758". Proceedings of the Academy of Natural Sciences of Philadelphia. 149 (1): 109–114. JSTOR 4065043.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Porkorny (1959). IEW. s.v. "g'hðem" pp. 414–116.
  5. ↑ "Homo". Dictionary.com. Random House. 23 September 2008. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2008.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 Barras, Colin (11 Januari 2016). "We don't know which species should be classed as 'human'". BBC. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Agustus 2021. Diakses tanggal 31 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ OED. s.v. "human".
  8. ↑ "Man". Merriam-Webster Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2017. Diakses tanggal 14 September 2017. Definition 2: a man belonging to a particular category (as by birth, residence, membership, or occupation) – usually used in combination{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Thesaurus results for human". Merriam-Webster Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2022. Diakses tanggal 21 Mei 2022.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Misconceptions about evolution – Understanding Evolution". University of California, Berkeley (dalam bahasa American English). 19 September 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Juni 2022. Diakses tanggal 21 Mei 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ "Concept of Personhood". University of Missouri School of Medicine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2021. Diakses tanggal 4 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Gonda, Jan (1973). Sanskrit in Indonesia (dalam bahasa Inggris). International Academy of Indian Culture. hlm. 84–86.
  13. ↑ Zoetmulder, Petrus Josephus (1995). Kamus Jawa Kuna–Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9789796053476.
  14. ↑ Mallory, J. P.; Adams, D. Q. (2006). The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World. Oxford University Press. hlm. 358–359. ISBN 9780199296682.
  15. ↑ Tuttle, Russell H. (2018). "Hominoidea: Conceptual history". The International Encyclopedia of Biological Anthropology. hlm. 1–2. doi:10.1002/9781118584538.ieba0246. ISBN 978-1-118-58442-2.
  16. ↑ Goodman M, Tagle DA, Fitch DH, Bailey W, Czelusniak J, Koop BF, et al. (Maret 1990). "Primate evolution at the DNA level and a classification of hominoids". Journal of Molecular Evolution. 30 (3): 260–266. Bibcode:1990JMolE..30..260G. doi:10.1007/BF02099995. PMID 2109087.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Ruvolo M (Maret 1997). "Molecular phylogeny of the hominoids: inferences from multiple independent DNA sequence data sets". Molecular Biology and Evolution. 14 (3): 248–265. doi:10.1093/oxfordjournals.molbev.a025761. PMID 9066793.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ MacAndrew A. "Human Chromosome 2 is a fusion of two ancestral chromosomes". Evolution pages. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2011. Diakses tanggal 18 Mei 2006.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ McNulty, Kieran P. (2016). "Hominin Taxonomy and Phylogeny: What's In A Name?". Nature Education Knowledge (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2016. Diakses tanggal 11 Juni 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Strait DS (September 2010). "The Evolutionary History of the Australopiths". Evolution: Education and Outreach. 3 (3): 341–352. doi:10.1007/s12052-010-0249-6.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ Dunsworth HM (September 2010). "Origin of the Genus Homo". Evolution: Education and Outreach. 3 (3): 353–366. doi:10.1007/s12052-010-0247-8.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Kimbel WH, Villmoare B (Juli 2016). "From Australopithecus to Homo: the transition that wasn't". Philosophical Transactions of the Royal Society of London, Series B. 371 (1698) 20150248. doi:10.1098/rstb.2015.0248. PMC 4920303. PMID 27298460.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. 1 2 Villmoare B, Kimbel WH, Seyoum C, Campisano CJ, DiMaggio EN, Rowan J, et al. (Maret 2015). "Paleoanthropology. Early Homo at 2.8 Ma from Ledi-Geraru, Afar, Ethiopia". Science. 347 (6228): 1352–1355. Bibcode:2015Sci...347.1352V. doi:10.1126/science.aaa1343. PMID 25739410.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. 1 2 Wood, Bernard (28 Juni 2011). "Did early Homo migrate "out of" or "in to" Africa?". Proceedings of the National Academy of Sciences. 108 (26): 10375–10376. Bibcode:2011PNAS..10810375W. doi:10.1073/pnas.1107724108. PMC 3127876. PMID 21677194.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Püschel, Hans P.; Bertrand, Ornella C.; O'Reilly, Joseph E.; Bobe, René; Püschel, Thomas A. (Juni 2021). "Divergence-time estimates for hominins provide insight into encephalization and body mass trends in human evolution". Nature Ecology & Evolution. 5 (6): 808–819. Bibcode:2021NatEE...5..808P. doi:10.1038/s41559-021-01431-1. hdl:20.500.11820/35151870-c7b5-477e-aca8-2c75c8382002. PMID 33795855.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ Zhu Z, Dennell R, Huang W, Wu Y, Qiu S, Yang S, et al. (Juli 2018). "Hominin occupation of the Chinese Loess Plateau since about 2.1 million years ago". Nature. 559 (7715): 608–612. Bibcode:2018Natur.559..608Z. doi:10.1038/s41586-018-0299-4. PMID 29995848.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Hublin JJ, Ben-Ncer A, Bailey SE, Freidline SE, Neubauer S, Skinner MM, et al. (Juni 2017). "New fossils from Jebel Irhoud, Morocco and the pan-African origin of Homo sapiens". Nature. 546 (7657): 289–292. Bibcode:2017Natur.546..289H. doi:10.1038/nature22336. hdl:1887/74734. PMID 28593953.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ "Out of Africa Revisited". Science (This Week in Science). 308 (5724): 921. 13 Mei 2005. doi:1126/science.308.5724.921g.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. ↑ Stringer C (Juni 2003). "Human evolution: Out of Ethiopia". Nature. 423 (6941): 692–693, 695. Bibcode:2003Natur.423..692S. doi:10.1038/423692a. PMID 12802315.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  30. ↑ Johanson D (Mei 2001). "Origins of Modern Humans: Multiregional or Out of Africa?". actionbioscience. Washington, DC: American Institute of Biological Sciences. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Juni 2021. Diakses tanggal 23 November 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  31. ↑ Marean, Curtis; et al. (2007). "Early human use of marine resources and pigment in South Africa during the Middle Pleistocene". Nature. 449 (7164): 905–908. Bibcode:2007Natur.449..905M. doi:10.1038/nature06204. PMID 17943129.
  32. ↑ Brooks AS, Yellen JE, Potts R, Behrensmeyer AK, Deino AL, Leslie DE, Ambrose SH, Ferguson JR, d'Errico F, Zipkin AM, Whittaker S, Post J, Veatch EG, Foecke K, Clark JB (2018). "Long-distance stone transport and pigment use in the earliest Middle Stone Age". Science. 360 (6384): 90–94. Bibcode:2018Sci...360...90B. doi:10.1126/science.aao2646. PMID 29545508.
  33. ↑ Wilkins, Jayne; Schoville, Benjamin J. (Juni 2024). "Did climate change make Homo sapiens innovative, and if yes, how? Debated perspectives on the African Pleistocene record". Quaternary Science Advances (dalam bahasa Inggris). 14 100179. Bibcode:2024QSAdv..1400179W. doi:10.1016/j.qsa.2024.100179.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  34. ↑ Posth C, Renaud G, Mittnik A, Drucker DG, Rougier H, Cupillard C, et al. (Maret 2016). "Pleistocene Mitochondrial Genomes Suggest a Single Major Dispersal of Non-Africans and a Late Glacial Population Turnover in Europe". Current Biology. 26 (6): 827–833. Bibcode:2016CBio...26..827P. doi:10.1016/j.cub.2016.01.037. hdl:2440/114930. PMID 26853362.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. ↑ Karmin M, Saag L, Vicente M, Wilson Sayres MA, Järve M, Talas UG, et al. (April 2015). "A recent bottleneck of Y chromosome diversity coincides with a global change in culture". Genome Research. 25 (4): 459–466. doi:10.1101/gr.186684.114. PMC 4381518. PMID 25770088.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. ↑ Armitage SJ, Jasim SA, Marks AE, Parker AG, Usik VI, Uerpmann HP (Januari 2011). "The southern route "out of Africa": evidence for an early expansion of modern humans into Arabia". Science. 331 (6016): 453–456. Bibcode:2011Sci...331..453A. doi:10.1126/science.1199113. PMID 21273486.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  37. ↑ Rincon P (27 Januari 2011). "Humans 'left Africa much earlier'". BBC News. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ Clarkson C, Jacobs Z, Marwick B, Fullagar R, Wallis L, Smith M, et al. (Juli 2017). "Human occupation of northern Australia by 65,000 years ago". Nature. 547 (7663): 306–310. Bibcode:2017Natur.547..306C. doi:10.1038/nature22968. hdl:2440/107043. PMID 28726833.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. ↑ Lowe DJ (2008). "Polynesian settlement of New Zealand and the impacts of volcanism on early Maori society: an update" (PDF). University of Waikato. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 Mei 2010. Diakses tanggal 29 April 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. ↑ Appenzeller T (Mei 2012). "Human migrations: Eastern odyssey". Nature. 485 (7396): 24–26. Bibcode:2012Natur.485...24A. doi:10.1038/485024a. PMID 22552074.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. 1 2 Reich D, Green RE, Kircher M, Krause J, Patterson N, Durand EY, et al. (Desember 2010). "Genetic history of an archaic hominin group from Denisova Cave in Siberia". Nature. 468 (7327): 1053–1060. Bibcode:2010Natur.468.1053R. doi:10.1038/nature09710. hdl:10230/25596. PMC 4306417. PMID 21179161.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. ↑ Hammer MF (Mei 2013). "Human Hybrids" (PDF). Scientific American. 308 (5): 66–71. Bibcode:2013SciAm.308e..66H. doi:10.1038/scientificamerican0513-66. PMID 23627222. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 Agustus 2018.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. ↑ Yong E (Juli 2011). "Mosaic humans, the hybrid species". New Scientist. 211 (2823): 34–38. Bibcode:2011NewSc.211...34Y. doi:10.1016/S0262-4079(11)61839-3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  44. ↑ Ackermann RR, Mackay A, Arnold ML (Oktober 2015). "The Hybrid Origin of 'Modern' Humans". Evolutionary Biology. 43 (1): 1–11. doi:10.1007/s11692-015-9348-1.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  45. ↑ Noonan JP (Mei 2010). "Neanderthal genomics and the evolution of modern humans". Genome Research. 20 (5): 547–553. doi:10.1101/gr.076000.108. PMC 2860157. PMID 20439435.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  46. ↑ Abi-Rached L, Jobin MJ, Kulkarni S, McWhinnie A, Dalva K, Gragert L, et al. (Oktober 2011). "The shaping of modern human immune systems by multiregional admixture with archaic humans". Science. 334 (6052): 89–94. Bibcode:2011Sci...334...89A. doi:10.1126/science.1209202. PMC 3677943. PMID 21868630.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  47. 1 2 Sandel, Aaron A. (30 Juli 2013). "Brief communication: Hair density and body mass in mammals and the evolution of human hairlessness". American Journal of Physical Anthropology. 152 (1): 145–150. Bibcode:2013AJPA..152..145S. doi:10.1002/ajpa.22333. hdl:2027.42/99654. PMID 23900811.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  48. ↑ Boyd R, Silk JB (2003). How Humans Evolved. New York: Norton. ISBN 978-0-393-97854-4.
  49. ↑ Little, Michael A.; Blumler, Mark A. (2015). "Hunter-Gatherers". Basics in Human Evolution. hlm. 323–335. doi:10.1016/B978-0-12-802652-6.00023-2. ISBN 978-0-12-802652-6.
  50. ↑ Scarre, Chris (2018). "The world transformed: from foragers and farmers to states and empires". Dalam Scarre, Chris (ed.). The Human Past: World Prehistory and the Development of Human Societies (Edisi 4th). London: Thames & Hudson. hlm. 174–197. ISBN 978-0-500-29335-5.
  51. ↑ Colledge S, Conolly J, Dobney K, Manning K, Shennan S (2013). Origins and Spread of Domestic Animals in Southwest Asia and Europe. Walnut Creek, CA: Left Coast. hlm. 13–17. ISBN 978-1-61132-324-5.
  52. ↑ Scanes CG (Januari 2018). "The Neolithic Revolution, Animal Domestication, and Early Forms of Animal Agriculture". Dalam Scanes CG, Toukhsati SR (ed.). Animals and Human Society. Elsevier. hlm. 103–131. doi:10.1016/B978-0-12-805247-1.00006-X. ISBN 978-0-12-805247-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  53. ↑ He K, Lu H, Zhang J, Wang C, Huan X (7 Juni 2017). "Prehistoric evolution of the dualistic structure mixed rice and millet farming in China". The Holocene. 27 (12): 1885–1898. Bibcode:2017Holoc..27.1885H. doi:10.1177/0959683617708455.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  54. ↑ Lu H, Zhang J, Liu KB, Wu N, Li Y, Zhou K, et al. (Mei 2009). "Earliest domestication of common millet (Panicum miliaceum) in East Asia extended to 10,000 years ago". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 106 (18): 7367–7372. Bibcode:2009PNAS..106.7367L. doi:10.1073/pnas.0900158106. PMC 2678631. PMID 19383791.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  55. ↑ Denham TP, Haberle SG, Lentfer C, Fullagar R, Field J, Therin M, et al. (Juli 2003). "Origins of agriculture at Kuk Swamp in the highlands of New Guinea". Science. 301 (5630): 189–193. doi:10.1126/science.1085255. PMID 12817084.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  56. ↑ Scarcelli N, Cubry P, Akakpo R, Thuillet AC, Obidiegwu J, Baco MN, et al. (Mei 2019). "Yam genomics supports West Africa as a major cradle of crop domestication". Science Advances. 5 (5) eaaw1947. Bibcode:2019SciA....5.1947S. doi:10.1126/sciadv.aaw1947. PMC 6527260. PMID 31114806.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  57. ↑ Winchell F (Oktober 2017). "Evidence for Sorghum Domestication in Fourth Millennium BC Eastern Sudan: Spikelet Morphology from Ceramic Impressions of the Butana Group". Current Anthropology. 58 (5): 673–683. Bibcode:2017CurrA..58..673W. doi:10.1086/693898.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  58. ↑ Manning K (Februari 2011). "4500-Year old domesticated pearl millet (Pennisetum glaucum) from the Tilemsi Valley, Mali: new insights into an alternative cereal domestication pathway". Journal of Archaeological Science. 38 (2): 312–322. Bibcode:2011JArSc..38..312M. doi:10.1016/j.jas.2010.09.007.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  59. ↑ Noble TF, Strauss B, Osheim D, Neuschel K, Accamp E (2013). Cengage Advantage Books: Western Civilization: Beyond Boundaries. Cengage. ISBN 978-1-285-66153-7. Diakses tanggal 11 Juli 2015.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  60. ↑ Spielvogel J (2014). Western Civilization: Volume A: To 1500. Cengage. ISBN 978-1-285-98299-1. Diakses tanggal 11 Juli 2015.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  61. ↑ Thornton B (2002). Greek Ways: How the Greeks Created Western Civilization. San Francisco: Encounter. hlm. 1–14. ISBN 978-1-893554-57-3. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  62. ↑ Garfinkle, Steven J. (2013). "Ancient Near Eastern City-States". Dalam Peter Fibiger Bang; Walter Scheidel (ed.). The Oxford Handbook of the State in the Ancient Near East and Mediterranean. Oxford Academic. hlm. 94–119. doi:10.1093/oxfordhb/9780195188318.013.0004. ISBN 978-0-19-518831-8.
  63. ↑ Woods C (28 Februari 2020). "The Emergence of Cuneiform Writing". Dalam Hasselbach-Andee R (ed.). A Companion to Ancient Near Eastern Languages (Edisi 1st). Wiley. hlm. 27–46. doi:10.1002/9781119193814.ch2. ISBN 978-1-119-19329-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  64. ↑ Robinson A (Oktober 2015). "Ancient civilization: Cracking the Indus script". Nature. 526 (7574): 499–501. Bibcode:2015Natur.526..499R. doi:10.1038/526499a. PMID 26490603.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  65. ↑ Crawford H (2013). "Trade in the Sumerian world". The Sumerian World. Routledge. hlm. 447–461. ISBN 978-1-136-21911-5.
  66. 1 2 Bodnár M (2018). "Prehistoric innovations: Wheels and wheeled vehicles". Acta Archaeologica Academiae Scientiarum Hungaricae. 69 (2): 271–298. doi:10.1556/072.2018.69.2.3. Templat:CEEOL.
  67. ↑ Pryor FL (1985). "The Invention of the Plow". Comparative Studies in Society and History. 27 (4): 727–743. doi:10.1017/S0010417500011749. JSTOR 178600.
  68. ↑ Carter, R. A. (2012). "Watercraft". A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. hlm. 347–372. doi:10.1002/9781444360790.ch19. ISBN 978-1-4051-8988-0.
  69. ↑ Centre, UNESCO World Heritage. "Sacred City of Caral-Supe". UNESCO World Heritage Centre. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Mei 2024. Diakses tanggal 27 Mei 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  70. ↑ Pedersen O (1993). "Science Before the Greeks". Early physics and astronomy: A historical introduction. Cambridge University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-521-40340-5.
  71. ↑ Robson E (2008). Mathematics in ancient Iraq: A social history. Princeton University Press. hlm. xxi.
  72. ↑ Edwards JF (2003). "Building the Great Pyramid: Probable Construction Methods Employed at Giza". Technology and Culture. 44 (2): 340–354. doi:10.1353/tech.2003.0063. JSTOR 25148110.
  73. ↑ Voosen P (Agustus 2018). "New geological age comes under fire". Science. 361 (6402): 537–538. Bibcode:2018Sci...361..537V. doi:10.1126/science.361.6402.537. PMID 30093579.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  74. ↑ Saggs HW (2000). Babylonians. University of California Press. hlm. 7. ISBN 978-0-520-20222-1.
  75. ↑ Sassaman KE (1 Desember 2005). "Poverty Point as Structure, Event, Process". Journal of Archaeological Method and Theory. 12 (4): 335–364. Bibcode:2005JAMT...12..335S. doi:10.1007/s10816-005-8460-4.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  76. ↑ Lazaridis I, Mittnik A, Patterson N, Mallick S, Rohland N, Pfrengle S, et al. (Agustus 2017). "Genetic origins of the Minoans and Mycenaeans". Nature. 548 (7666): 214–218. Bibcode:2017Natur.548..214L. doi:10.1038/nature23310. PMC 5565772. PMID 28783727.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  77. ↑ Keightley DN (1999). "The Shang: China's first historical dynasty". Dalam Loewe M, Shaughnessy EL (ed.). The Cambridge History of Ancient China: From the Origins of Civilization to 221 BC. Cambridge University Press. hlm. 232–291. ISBN 978-0-521-47030-8.
  78. ↑ Kaniewski D, Guiot J, van Campo E (2015). "Drought and societal collapse 3200 years ago in the Eastern Mediterranean: a review". WIREs Climate Change. 6 (4): 369–382. Bibcode:2015WIRCC...6..369K. doi:10.1002/wcc.345.
  79. ↑ Drake BL (1 Juni 2012). "The influence of climatic change on the Late Bronze Age Collapse and the Greek Dark Ages". Journal of Archaeological Science. 39 (6): 1862–1870. Bibcode:2012JArSc..39.1862D. doi:10.1016/j.jas.2012.01.029.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  80. ↑ Wells PS (2011). "The Iron Age". Dalam Milisauskas S (ed.). European Prehistory. Interdisciplinary Contributions to Archaeology. New York: Springer. hlm. 405–460. doi:10.1007/978-1-4419-6633-9_11. ISBN 978-1-4419-6633-9.
  81. ↑ Hughes-Warrington M (2018). "Sense and non-sense in Ancient Greek histories". History as Wonder: Beginning with Historiography. United Kingdom: Taylor & Francis. ISBN 978-0-429-76315-1.
  82. ↑ Beard M (2 Oktober 2015). "Why ancient Rome matters to the modern world". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2021. Diakses tanggal 17 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. ↑ Vidergar AB (11 Juni 2015). "Stanford scholar debunks long-held beliefs about economic growth in ancient Greece". Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2021. Diakses tanggal 17 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  84. ↑ Inomata T, Triadan D, Vázquez López VA, Fernandez-Diaz JC, Omori T, Méndez Bauer MB, et al. (Juni 2020). "Monumental architecture at Aguada Fénix and the rise of Maya civilization". Nature. 582 (7813): 530–533. Bibcode:2020Natur.582..530I. doi:10.1038/s41586-020-2343-4. PMID 32494009.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  85. ↑ Milbrath S (Maret 2017). "The Role of Solar Observations in Developing the Preclassic Maya Calendar". Latin American Antiquity. 28 (1): 88–104. doi:10.1017/laq.2016.4.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  86. ↑ Benoist A, Charbonnier J, Gajda I (2016). "Investigating the eastern edge of the kingdom of Aksum: architecture and pottery from Wakarida". Proceedings of the Seminar for Arabian Studies. 46: 25–40. JSTOR 45163415.
  87. ↑ Farazmand A (1 Januari 1998). "Administration of the Persian Achaemenid world-state empire: implications for modern public administration". International Journal of Public Administration. 21 (1): 25–86. doi:10.1080/01900699808525297.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  88. ↑ Ingalls DH (1976). "Kālidāsa and the Attitudes of the Golden Age". Journal of the American Oriental Society. 96 (1): 15–26. doi:10.2307/599886. JSTOR 599886.
  89. ↑ Xie J (2020). "Pillars of Heaven: The Symbolic Function of Column and Bracket Sets in the Han Dynasty". Architectural History. 63: 1–36. doi:10.1017/arh.2020.1.
  90. ↑ Marx W, Haunschild R, Bornmann L (2018). "Climate and the Decline and Fall of the Western Roman Empire: A Bibliometric View on an Interdisciplinary Approach to Answer a Most Classic Historical Question". Climate (dalam bahasa Inggris). 6 (4): 90. Bibcode:2018Clim....6...90M. doi:10.3390/cli6040090.
  91. ↑ Brooke JH, Numbers RL, ed. (2011). Science and Religion Around the World. New York: Oxford University Press. hlm. 72. ISBN 978-0-19-532819-6. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  92. 1 2 Renima A, Tiliouine H, Estes RJ (2016). "The Islamic Golden Age: A Story of the Triumph of the Islamic Civilization". Dalam Tiliouine H, Estes RJ (ed.). The State of Social Progress of Islamic Societies. International Handbooks of Quality-of-Life (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer International Publishing. hlm. 25–52. doi:10.1007/978-3-319-24774-8_2. ISBN 978-3-319-24774-8.
  93. ↑ Vidal-Nanquet P (1987). The Harper Atlas of World History. Harper & Row Publishers. hlm. 76.
  94. ↑ Asbridge T (2012). "Introduction: The world of the crusades". The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBN 978-1-84983-770-5.
  95. ↑ "Classic and Postclassic Periods - Sam Noble Museum". 3 November 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Mei 2024. Diakses tanggal 27 Mei 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  96. ↑ Adam King (2002). "Mississippian Period: Overview". New Georgia Encyclopedia. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Agustus 2009. Diakses tanggal 15 November 2009.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  97. ↑ May T (2013). The Mongol Conquests in World History. Reaktion Books. hlm. 7. ISBN 978-1-86189-971-2.
  98. ↑ Canós-Donnay, Sirio (2019). "The Empire of Mali". Oxford Research Encyclopedia of African History. doi:10.1093/acrefore/9780190277734.013.266. ISBN 978-0-19-027773-4.
  99. ↑ Aswani, Shankar; Graves, Michael W. (1998). "The Tongan Maritime Expansion: A Case in the Evolutionary Ecology of Social Complexity". Asian Perspectives. 37 (2): 135–164. JSTOR 42928433. Gale A53675990 ProQuest 199458937.
  100. ↑ Conrad G, Demarest AA (1984). Religion and Empire: The Dynamics of Aztec and Inca Expansionism. Cambridge University Press. hlm. 2. ISBN 0-521-31896-3.
  101. ↑ Kafadar, Cemal (1994). "The Ottomans and Europe". Handbook of European History 1400-1600: Late Middle Ages, Renaissance and Reformation. hlm. 589–635. doi:10.1163/9789004391659_019. ISBN 978-90-04-39165-9.
  102. ↑ Goree, Robert (2020). "The Culture of Travel in Edo-Period Japan". Oxford Research Encyclopedia of Asian History. doi:10.1093/acrefore/9780190277727.013.72. ISBN 978-0-19-027772-7.
  103. ↑ Mosca MW (Desember 2010). "CHINA'S LAST EMPIRE: The Great Qing". Pacific Affairs. 83 (4): 768–769. doi:10.1080/17153379.2010.12559010. ProQuest 820544016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  104. ↑ Suyanta, Sri; Ikhlas, Silfia (2016). "Islamic Education at Mughal Kingdom in India (1526-1857)". Al-Ta Lim Journal. 23 (2): 128–138. doi:10.15548/jt.v23i2.228.
  105. ↑ Kirkpatrick R (2002). The European Renaissance, 1400–1600. Routledge. hlm. 1. ISBN 978-1-317-88646-4. OCLC 893909816.
  106. ↑ Arnold D (2002). The Age of Discovery, 1400–1600 (Edisi Second). Routledge. hlm. xi. ISBN 978-1-136-47968-7. OCLC 859536800.
  107. ↑ Dixon EJ (Januari 2001). "Human colonization of the Americas: timing, technology and process". Quaternary Science Reviews (dalam bahasa Inggris). 20 (1–3): 277–299. Bibcode:2001QSRv...20..277J. doi:10.1016/S0277-3791(00)00116-5.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  108. ↑ Keehnen, Floris W. M.; Mol, Angus A. A. (2020). "The roots of the Columbian Exchange: an entanglement and network approach to early Caribbean encounter transactions". Journal of Island and Coastal Archaeology. 16 (2–4): 261–289. doi:10.1080/15564894.2020.1775729. PMC 8452148. PMID 34557059.
  109. ↑ Lovejoy PE (1989). "The Impact of the Atlantic Slave Trade on Africa: A Review of the Literature". The Journal of African History. 30 (3): 365–394. doi:10.1017/S0021853700024439. JSTOR 182914.
  110. ↑ Cave AA (2008). "Genocide in the Americas". Dalam Stone D (ed.). The Historiography of Genocide (dalam bahasa Inggris). London: Palgrave Macmillan UK. hlm. 273–295. doi:10.1057/9780230297784_11. ISBN 978-0-230-29778-4.
  111. ↑ Delisle RG (September 2014). "Can a revolution hide another one? Charles Darwin and the Scientific Revolution". Endeavour. 38 (3–4): 157–158. doi:10.1016/j.endeavour.2014.10.001. PMID 25457642.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  112. ↑ "Greatest Engineering Achievements of the 20th Century". National Academy of Engineering. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2015. Diakses tanggal 7 April 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  113. ↑ "Sister Revolutions: American Revolutions on Two Continents (Teaching with Historic Places) (U.S. National Park Service)". www.nps.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2024. Diakses tanggal 27 Mei 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  114. ↑ O'Rourke, Kevin H. (2006). "The worldwide economic impact of the French Revolutionary and Napoleonic Wars, 1793–1815". Journal of Global History. 1: 123–149. doi:10.1017/S1740022806000076.
  115. ↑ Zimmerman AF (November 1931). "Spain and Its Colonies, 1808–1820". The Hispanic American Historical Review. 11 (4): 439–463. doi:10.2307/2506251. JSTOR 2506251.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  116. ↑ David S (2011). "British History in depth: Slavery and the 'Scramble for Africa'". BBC (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2022. Diakses tanggal 5 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  117. ↑ Raudzens G (2004). "The Australian Frontier Wars, 1788–1838 (review)". The Journal of Military History. 68 (3): 957–959. doi:10.1353/jmh.2004.0138.
  118. ↑ Palan, Ronen (2010). "International Financial Centers: The British-Empire, City-States and Commercially Oriented Politics". Theoretical Inquiries in Law. 11: 149–176. doi:10.2202/1565-3404.1239.
  119. ↑ Clark CM (2012). "Polarization of Europe, 1887–1907". The sleepwalkers: how Europe went to war in 1914. London: Allen Lane. ISBN 978-0-7139-9942-6. OCLC 794136314.
  120. ↑ Robert Dahl (1989). Democracy and Its Critics. Yale UP. hlm. 239–240. ISBN 0-300-15355-4.
  121. ↑ Herring GC (2008). From colony to superpower: U.S. foreign relations since 1776. New York: Oxford University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-19-972343-0. OCLC 299054528.
  122. ↑ McDougall, Walter A. (1985). "Sputnik, the space race, and the Cold War". Bulletin of the Atomic Scientists. 41 (5): 20–25. Bibcode:1985BuAtS..41e..20M. doi:10.1080/00963402.1985.11455962.
  123. ↑ Plous, S. (1993). "The Nuclear Arms Race: Prisoner's Dilemma or Perceptual Dilemma?". Journal of Peace Research. 30 (2): 163–179. doi:10.1177/0022343393030002004.
  124. ↑ Sachs JD (April 2017). "Globalization –In the Name of Which Freedom?". Humanistic Management Journal (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 237–252. doi:10.1007/s41463-017-0019-5.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  125. ↑ "The World's Cities in 2018" (PDF). Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 November 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  126. ↑ Rector RK (2016). The Early River Valley Civilizations (Edisi First). New York: Rosen Publishing. hlm. 10. ISBN 978-1-4994-6329-3. OCLC 953735302.
  127. ↑ "How People Modify the Environment" (PDF). Westerville City School District. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2021. Diakses tanggal 13 Maret 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  128. ↑ "Natural disasters and the urban poor" (PDF). World Bank. Oktober 2003. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  129. ↑ Habitat UN (2013). The state of the world's cities 2012 / prosperity of cities. [London]: Routledge. hlm. x. ISBN 978-1-135-01559-6. OCLC 889953315.
  130. 1 2 3 Piantadosi CA (2003). The biology of human survival: life and death in extreme environments. Oxford: Oxford University Press. hlm. 2–3. ISBN 978-0-19-974807-5. OCLC 70215878.
  131. ↑ "Population of Antarctica Summer vs Winter - Brilliant Maps" (dalam bahasa American English). 2024-10-10. Diakses tanggal 2025-05-20.
  132. ↑ Stokstad E (5 Mei 2019). "Landmark analysis documents the alarming global decline of nature". Science. AAAS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Oktober 2021. Diakses tanggal 9 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  133. ↑ Pimm S, Raven P, Peterson A, Sekercioglu CH, Ehrlich PR (Juli 2006). "Human impacts on the rates of recent, present, and future bird extinctions". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 103 (29): 10941–10946. Bibcode:2006PNAS..10310941P. doi:10.1073/pnas.0604181103. PMC 1544153. PMID 16829570.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  134. ↑ Heim BE (1990–1991). "Exploring the Last Frontiers for Mineral Resources: A Comparison of International Law Regarding the Deep Seabed, Outer Space, and Antarctica". Vanderbilt Journal of Transnational Law. 23: 819. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  135. ↑ "Mission to Mars: Mars Science Laboratory Curiosity Rover". Jet Propulsion Laboratory. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2015. Diakses tanggal 26 Agustus 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  136. ↑ "Touchdown! Rosetta's Philae probe lands on comet". European Space Agency. 12 November 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Agustus 2015. Diakses tanggal 26 Agustus 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  137. ↑ "NEAR-Shoemaker". NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Agustus 2015. Diakses tanggal 26 Agustus 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  138. ↑ Kraft R (11 Desember 2010). "JSC celebrates ten years of continuous human presence aboard the International Space Station". JSC Features. Johnson Space Center. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Februari 2012. Diakses tanggal 13 Februari 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  139. ↑ Toups, M.A.; Kitchen, A.; Light, J.E.; Reed, D.L. (2011). "Origin of clothing lice indicates early clothing use by anatomically modern humans in Africa". Molecular Biology and Evolution. 28 (1): 29–32. doi:10.1093/molbev/msq234. PMC 3002236. PMID 20823373.
  140. ↑ O'Neil D. "Human Biological Adaptability; Overview". Palomar College. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Maret 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  141. ↑ "Population distribution and density". BBC. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Juni 2017. Diakses tanggal 26 Juni 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  142. ↑ Bunn SE, Arthington AH (Oktober 2002). "Basic principles and ecological consequences of altered flow regimes for aquatic biodiversity". Environmental Management. 30 (4): 492–507. Bibcode:2002EnMan..30..492B. doi:10.1007/s00267-002-2737-0. hdl:10072/6758. PMID 12481916.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  143. 1 2 Bar-On YM, Phillips R, Milo R (Juni 2018). "The biomass distribution on Earth". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 115 (25): 6506–6511. Bibcode:2018PNAS..115.6506B. doi:10.1073/pnas.1711842115. PMC 6016768. PMID 29784790.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  144. ↑ Tellier LN (2009). Urban world history: an economic and geographical perspective. Presses de l'Université du Québec. hlm. 26. ISBN 978-2-7605-1588-8. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  145. ↑ Thomlinson R (1975). Demographic problems; controversy over population control (Edisi 2nd). Ecino, CA: Dickenson Pub. Co. ISBN 978-0-8221-0166-6.
  146. ↑ Harl KW (1998). "Population estimates of the Roman Empire". Tulane.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Mei 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  147. ↑ Zietz BP, Dunkelberg H (Februari 2004). "The history of the plague and the research on the causative agent Yersinia pestis". International Journal of Hygiene and Environmental Health. 207 (2): 165–178. Bibcode:2004IJHEH.207..165Z. doi:10.1078/1438-4639-00259. PMC 7128933. PMID 15031959.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  148. ↑ "World's population reaches six billion". BBC News. 5 Agustus 1999. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2008. Diakses tanggal 5 Februari 2008.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  149. ↑ United Nations. "World population to reach 8 billion on 15 November 2022". United Nations (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Januari 2023. Diakses tanggal 27 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  150. ↑ "Eight billion people, SARS-CoV-2 ancestor and illegal fishing". Nature. 611 (7937): 641. 2022. Bibcode:2022Natur.611..641.. doi:10.1038/d41586-022-03792-4.
  151. ↑ "World Population to Hit Milestone With Birth of 7 Billionth Person". PBS NewsHour. 27 Oktober 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2017. Diakses tanggal 11 Februari 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  152. 1 2 "68% of the world population projected to live in urban areas by 2050, says UN". United Nations Department of Economic and Social Affairs (DESA) (dalam bahasa American English). 16 Mei 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Maret 2021. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  153. ↑ Duhart DT (Oktober 2000). Urban, Suburban, and Rural Victimization, 1993–98 (PDF). U.S. Department of Justice, Bureau of Justice Statistics. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2013. Diakses tanggal 1 Oktober 2006.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  154. 1 2 Collins D (1976). The Human Revolution: From Ape to Artist. Phaidon. hlm. 208. ISBN 978-0-7148-1676-0.
  155. ↑ Weisberger, Mindy (23 Maret 2024). "Why don't humans have tails? Scientists find answers in an unlikely place". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-03-24. Diakses tanggal 24 Maret 2024.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  156. ↑ Marks JM (2001). Human Biodiversity: Genes, Race, and History (dalam bahasa Inggris). Transaction Publishers. hlm. 16. ISBN 978-0-202-36656-2.
  157. ↑ Gea, J (2008). "The Evolution of the Human Species: A Long Journey for the Respiratory System". Archivos de Bronconeumología. 44 (5) (Edisi English): 263–270. doi:10.1016/S1579-2129(08)60042-7. PMID 18448018.
  158. 1 2 O'Neil D. "Humans". Primates. Palomar College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  159. ↑ "How to be Human: The reason we are so scarily hairy". New Scientist. 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2021. Diakses tanggal 29 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  160. ↑ Kirchweger G (2 Februari 2001). "The Biology of Skin Color: Black and White". Evolution: Library. PBS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  161. ↑ Roser M; Appel C; Ritchie H (8 Oktober 2013). "Human Height". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  162. ↑ Stulp, Gert; Barrett, Louise (Februari 2016). "Evolutionary perspectives on human height variation". Biological Reviews (dalam bahasa Inggris). 91 (1): 206–234. doi:10.1111/brv.12165. ISSN 1464-7931. PMID 25530478.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  163. ↑ "Senior Citizens Do Shrink – Just One of the Body Changes of Aging". News. Senior Journal. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Februari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  164. ↑ Bogin B, Rios L (September 2003). "Rapid morphological change in living humans: implications for modern human origins". Comparative Biochemistry and Physiology. Part A, Molecular & Integrative Physiology. 136 (1): 71–84. doi:10.1016/S1095-6433(02)00294-5. PMID 14527631.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  165. ↑ Schlessingerman A (2003). "Mass Of An Adult". The Physics Factbook: An Encyclopedia of Scientific Essays. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Januari 2018. Diakses tanggal 31 Desember 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  166. ↑ Kushner R (2007). Treatment of the Obese Patient (Contemporary Endocrinology). Totowa, NJ: Humana Press. hlm. 158. ISBN 978-1-59745-400-1. Diakses tanggal 5 April 2009.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  167. ↑ Adams JP, Murphy PG (Juli 2000). "Obesity in anaesthesia and intensive care". British Journal of Anaesthesia. 85 (1): 91–108. doi:10.1093/bja/85.1.91. PMID 10927998.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  168. ↑ Lombardo MP, Deaner RO (Maret 2018). "Born to Throw: The Ecological Causes that Shaped the Evolution of Throwing In Humans". The Quarterly Review of Biology (dalam bahasa Inggris). 93 (1): 1–16. doi:10.1086/696721.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  169. ↑ Parker-Pope T (27 Oktober 2009). "The Human Body Is Built for Distance". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  170. ↑ John B. "What is the role of sweating glands in balancing body temperature when running a marathon?". Livestrong.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  171. ↑ Shave, R. E.; Lieberman, D. E.; Drane, A. L.; et al. (2019). "Selection of endurance capabilities and the trade-off between pressure and volume in the evolution of the human heart". PNAS. 116 (40): 19905–19910. Bibcode:2019PNAS..11619905S. doi:10.1073/pnas.1906902116. PMC 6778238. PMID 31527253.
  172. ↑ Ríos, L; Sleeper, M. M.; Danforth, M. D.; et al. (2023). "The aorta in humans and African great apes, and cardiac output and metabolic levels in human evolution". Scientific Reports. 13 (6841): 6841. Bibcode:2023NatSR..13.6841R. doi:10.1038/s41598-023-33675-1. hdl:10261/309357. PMC 10133235. PMID 37100851.
  173. ↑ "SRY gene: MedlinePlus Genetics". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-09.
  174. ↑ Erickson, Robert P. (Februari 2026). "The Role of Sex Reversal Y (SRY) in Pregonadal Sexual Development". Molecular Reproduction and Development. 93 (2) e70066. doi:10.1002/mrd.70066. ISSN 1098-2795. PMID 41645045.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  175. ↑ Edwards JH, Dent T, Kahn J (Juni 1966). "Monozygotic twins of different sex". Journal of Medical Genetics. 3 (2): 117–123. doi:10.1136/jmg.3.2.117. PMC 1012913. PMID 6007033.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  176. ↑ Machin GA (Januari 1996). "Some causes of genotypic and phenotypic discordance in monozygotic twin pairs". American Journal of Medical Genetics. 61 (3): 216–228. doi:10.1002/(SICI)1096-8628(19960122)61:3<216::AID-AJMG5>3.0.CO;2-S. PMID 8741866.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  177. ↑ Jonsson H, Magnusdottir E, Eggertsson HP, Stefansson OA, Arnadottir GA, Eiriksson O, et al. (Januari 2021). "Differences between germline genomes of monozygotic twins". Nature Genetics. 53 (1): 27–34. doi:10.1038/s41588-020-00755-1. PMID 33414551.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  178. 1 2 "Genetic – Understanding Human Genetic Variation". Human Genetic Variation. National Institute of Health (NIH). Diarsipkan dari asli tanggal 25 Agustus 2013. Diakses tanggal 13 Desember 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  179. ↑ Levy S, Sutton G, Ng PC, Feuk L, Halpern AL, Walenz BP, et al. (September 2007). "The diploid genome sequence of an individual human". PLOS Biology. 5 (10) e254. doi:10.1371/journal.pbio.0050254. PMC 1964779. PMID 17803354.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  180. 1 2 Race, Ethnicity, and Genetics Working Group (Oktober 2005). "The use of racial, ethnic, and ancestral categories in human genetics research". American Journal of Human Genetics. 77 (4): 519–532. doi:10.1086/491747. PMC 1275602. PMID 16175499.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  181. ↑ "Chimps show much greater genetic diversity than humans". Media. University of Oxford. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Desember 2013. Diakses tanggal 13 Desember 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  182. ↑ Harpending HC, Batzer MA, Gurven M, Jorde LB, Rogers AR, Sherry ST (Februari 1998). "Genetic traces of ancient demography". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 95 (4): 1961–1967. Bibcode:1998PNAS...95.1961H. doi:10.1073/pnas.95.4.1961. PMC 19224. PMID 9465125.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  183. ↑ Jorde LB, Rogers AR, Bamshad M, Watkins WS, Krakowiak P, Sung S, et al. (April 1997). "Microsatellite diversity and the demographic history of modern humans". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 94 (7): 3100–3103. Bibcode:1997PNAS...94.3100J. doi:10.1073/pnas.94.7.3100. PMC 20328. PMID 9096352.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  184. ↑ Wade N (7 Maret 2007). "Still Evolving, Human Genes Tell New Story". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Januari 2012. Diakses tanggal 13 Februari 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  185. ↑ "First complete sequence of a human genome". National Institutes of Health (NIH) (dalam bahasa Inggris). 12 April 2022. Diakses tanggal 2026-10-05.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  186. ↑ Amaral, Paulo; Carbonell-Sala, Silvia; De La Vega, Francisco M.; Faial, Tiago; Frankish, Adam; Gingeras, Thomas; Guigo, Roderic; Harrow, Jennifer L.; Hatzigeorgiou, Artemis G.; Johnson, Rory; Murphy, Terence D.; Pertea, Mihaela; Pruitt, Kim D.; Pujar, Shashikant; Takahashi, Hazuki (Oktober 2023). "The status of the human gene catalogue". Nature (dalam bahasa Inggris). 622 (7981). Nature Publishing Group: 41–47. arXiv:2303.13996. Bibcode:2023Natur.622...41A. doi:10.1038/s41586-023-06490-x. ISSN 1476-4687. PMC 10575709. PMID 37794265.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  187. 1 2 3 Bergström A, McCarthy SA, Hui R, Almarri MA, Ayub Q, Danecek P, et al. (Maret 2020). "Insights into human genetic variation and population history from 929 diverse genomes". Science. 367 (6484) eaay5012. Bibcode:2020Sci...367y5012B. doi:10.1126/science.aay5012. PMC 7115999. PMID 32193295.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  188. ↑ Cann RL, Stoneking M, Wilson AC (1987). "Mitochondrial DNA and human evolution". Nature. 325 (6099): 31–36. Bibcode:1987Natur.325...31C. doi:10.1038/325031a0. PMID 3025745.
  189. ↑ Soares P, Ermini L, Thomson N, Mormina M, Rito T, Röhl A, et al. (Juni 2009). "Correcting for purifying selection: an improved human mitochondrial molecular clock". American Journal of Human Genetics. 84 (6): 740–759. doi:10.1016/j.ajhg.2009.05.001. PMC 2694979. PMID 19500773.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  190. ↑ "University of Leeds | News > Technology > New 'molecular clock' aids dating of human migration history". 20 Agustus 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Agustus 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  191. ↑ Poznik GD, Henn BM, Yee MC, Sliwerska E, Euskirchen GM, Lin AA, et al. (Agustus 2013). "Sequencing Y chromosomes resolves discrepancy in time to common ancestor of males versus females". Science. 341 (6145): 562–565. Bibcode:2013Sci...341..562P. doi:10.1126/science.1237619. PMC 4032117. PMID 23908239.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  192. ↑ Shehan CL (2016). The Wiley Blackwell Encyclopedia of Family Studies, 4 Volume Set. John Wiley & Sons. hlm. 406. ISBN 978-0-470-65845-1.
  193. ↑ Jukic AM, Baird DD, Weinberg CR, McConnaughey DR, Wilcox AJ (Oktober 2013). "Length of human pregnancy and contributors to its natural variation". Human Reproduction. 28 (10): 2848–2855. doi:10.1093/humrep/det297. PMC 3777570. PMID 23922246.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  194. ↑ Klossner NJ (2005). Introductory Maternity Nursing. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 103. ISBN 978-0-7817-6237-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022. The fetal stage is from the beginning of the 9th week after fertilization and continues until birth{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  195. ↑ World Health Organization (November 2014). "Preterm birth Fact sheet N°363". who.int. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Maret 2015. Diakses tanggal 6 Maret 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  196. ↑ Kiserud T, Benachi A, Hecher K, Perez RG, Carvalho J, Piaggio G, Platt LD (Februari 2018). "The World Health Organization fetal growth charts: concept, findings, interpretation, and application". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 218 (2S): S619–S629. doi:10.1016/j.ajog.2017.12.010. PMID 29422204.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  197. ↑ "What is the average baby length? Growth chart by month". www.medicalnewstoday.com (dalam bahasa Inggris). 18 Maret 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Januari 2021. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  198. ↑ Khor GL (Desember 2003). "Update on the prevalence of malnutrition among children in Asia". Nepal Medical College Journal. 5 (2): 113–122. PMID 15024783.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  199. ↑ Rosenberg KR (1992). "The evolution of modern human childbirth". American Journal of Physical Anthropology (dalam bahasa Inggris). 35 (S15): 89–124. Bibcode:1992AJPA...35S..89R. doi:10.1002/ajpa.1330350605.
  200. 1 2 Pavličev M, Romero R, Mitteroecker P (Januari 2020). "Evolution of the human pelvis and obstructed labor: new explanations of an old obstetrical dilemma". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 222 (1): 3–16. doi:10.1016/j.ajog.2019.06.043. PMC 9069416. PMID 31251927.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  201. ↑ Barras C (22 Desember 2016). "The real reasons why childbirth is so painful and dangerous". BBC.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  202. ↑ Kantrowitz B (2 Juli 2007). "What Kills One Woman Every Minute of Every Day?". Newsweek. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Juni 2007. A woman dies in childbirth every minute, most often due to uncontrolled bleeding and infection, with the world's poorest women most vulnerable. The lifetime risk is 1 in 16 in sub-Saharan Africa, compared to 1 in 2,800 in developed countries.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  203. ↑ Rush D (Juli 2000). "Nutrition and maternal mortality in the developing world". The American Journal of Clinical Nutrition. 72 (1 Suppl): 212S–240S. doi:10.1093/ajcn/72.1.212S. PMID 10871588.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  204. ↑ Laland KN, Brown G (2011). Sense and Nonsense: Evolutionary Perspectives on Human Behaviour (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 7. ISBN 978-0-19-958696-7. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  205. ↑ Kail RV, Cavanaugh JC (2010). Human Development: A Lifespan View (Edisi 5th). Cengage Learning. hlm. 296. ISBN 978-0-495-60037-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Oktober 2023. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  206. ↑ Schuiling KD, Likis FE (2016). Women's Gynecologic Health. Jones & Bartlett Learning. hlm. 22. ISBN 978-1-284-12501-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2023. Diakses tanggal 30 Juli 2022. The changes that occur during puberty usually happen in an ordered sequence, beginning with thelarche (breast development) at around age 10 or 11, followed by adrenarche (growth of pubic hair due to androgen stimulation), peak height velocity, and finally menarche (the onset of menses), which usually occurs around age 12 or 13.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  207. ↑ Phillips DC (2014). Encyclopedia of Educational Theory and Philosophy. SAGE Publications. hlm. 18–19. ISBN 978-1-4833-6475-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2023. Diakses tanggal 30 Juli 2022. On average, the onset of puberty is about 18 months earlier for girls (usually starting around the age of 10 or 11 and lasting until they are 15 to 17) than for boys (who usually begin puberty at about the age of 11 to 12 and complete it by the age of 16 to 17, on average).{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  208. ↑ Mintz S (1993). "Life stages". Encyclopedia of American Social History. Vol. 3. hlm. 7–33.
  209. ↑ Soliman A, De Sanctis V, Elalaily R, Bedair S (November 2014). "Advances in pubertal growth and factors influencing it: Can we increase pubertal growth?". Indian Journal of Endocrinology and Metabolism. 18 (Suppl 1): S53-62. doi:10.4103/2230-8210.145075. PMC 4266869. PMID 25538878.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  210. ↑ Walker ML, Herndon JG (September 2008). "Menopause in nonhuman primates?". Biology of Reproduction. 79 (3): 398–406. doi:10.1095/biolreprod.108.068536. PMC 2553520. PMID 18495681.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  211. ↑ Diamond J (1997). Why is Sex Fun? The Evolution of Human Sexuality. New York: Basic Books. hlm. 167–170. ISBN 978-0-465-03127-6.
  212. ↑ Peccei JS (2001). "Menopause: Adaptation or epiphenomenon?". Evolutionary Anthropology. 10 (2): 43–57. doi:10.1002/evan.1013.
  213. ↑ Marziali C (7 Desember 2010). "Reaching Toward the Fountain of Youth". USC Trojan Family Magazine. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Desember 2010. Diakses tanggal 7 Desember 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  214. ↑ Kalben BB (2002). "Why Men Die Younger: Causes of Mortality Differences by Sex". Society of Actuaries. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  215. ↑ "Life expectancy at birth, female (years)". World Bank. 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Januari 2021. Diakses tanggal 13 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  216. ↑ "Life expectancy at birth, male (years)". World Bank. 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2021. Diakses tanggal 13 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  217. ↑ Conceição P, et al. (2019). Human Development Report (PDF). United Nations Development Programme. ISBN 978-92-1-126439-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 Maret 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  218. ↑ "Human Development Report 2019" (PDF) (dalam bahasa Inggris). United Nations Development Programme. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 April 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  219. ↑ "The World Factbook". U.S. Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 12 September 2009. Diakses tanggal 2 April 2005.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  220. ↑ "Chapter 1: Setting the Scene" (PDF). UNFPA. 2012. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Juni 2013. Diakses tanggal 11 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  221. ↑ Barrientos, Gustavo; Catella, Luciana; Morales, Natalia S. (20 Mei 2020). "A journey into the landscape of past feeding habits: Mapping geographic variations in the isotope (δ15N) -inferred trophic position of prehistoric human populations". Quaternary International (dalam bahasa Inggris). 548: 13–26. Bibcode:2020QuInt.548...13B. doi:10.1016/j.quaint.2020.01.023. hdl:11336/134732. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Mei 2024. Diakses tanggal 20 Juli 2024 – via Elsevier Science Direct.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  222. ↑ Haenel H (1989). "Phylogenesis and nutrition". Die Nahrung. 33 (9): 867–887. PMID 2697806.
  223. ↑ Cordain L (2007). "Implications of Plio-pleistocene diets for modern humans". Dalam Ungar PS (ed.). Evolution of the human diet: the known, the unknown and the unknowable. hlm. 264–265. Since the evolutionary split between hominins and pongids approximately 7 million years ago, the available evidence shows that all species of hominins ate an omnivorous diet composed of minimally processed, wild-plant, and animal foods.
  224. ↑ American Dietetic Association (Juni 2003). "Position of the American Dietetic Association and Dietitians of Canada: Vegetarian diets". Journal of the American Dietetic Association. 103 (6): 748–765. doi:10.1053/jada.2003.50142. PMID 12778049.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  225. ↑ Salonen, Anne; de Vos, Willem M. (28 Februari 2014). "Impact of Diet on Human Intestinal Microbiota and Health". Annual Review of Food Science and Technology (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 239–262. doi:10.1146/annurev-food-030212-182554. ISSN 1941-1413. PMID 24387608.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  226. ↑ Shang, Zifang; Pai, Liu; Patil, Sandip (30 Mei 2024). "Unveiling the dynamics of gut microbial interactions: a review of dietary impact and precision nutrition in gastrointestinal health". Frontiers in Nutrition. 11 1395664. doi:10.3389/fnut.2024.1395664. ISSN 2296-861X. PMC 11169903. PMID 38873568.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  227. 1 2 Crittenden AN, Schnorr SL (2017). "Current views on hunter-gatherer nutrition and the evolution of the human diet". American Journal of Physical Anthropology. 162 (S63): 84–109. Bibcode:2017AJPA..162S..84C. doi:10.1002/ajpa.23148. PMID 28105723.
  228. ↑ Cordain L, Eaton SB, Sebastian A, Mann N, Lindeberg S, Watkins BA, et al. (Februari 2005). "Origins and evolution of the Western diet: health implications for the 21st century". The American Journal of Clinical Nutrition. 81 (2): 341–354. doi:10.1093/ajcn.81.2.341. PMID 15699220.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  229. ↑ Ulijaszek SJ (November 2002). "Human eating behaviour in an evolutionary ecological context". The Proceedings of the Nutrition Society. 61 (4): 517–526. doi:10.1079/PNS2002180. PMID 12691181.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  230. ↑ John Carey (2023). "Unearthing the origins of agriculture". Proceedings of the National Academy of Sciences. 120 (15) e2304407120. Bibcode:2023PNAS..12004407C. doi:10.1073/pnas.2304407120. PMC 10104519. PMID 37018195.
  231. ↑ Ayelet Shavit; Gonen Sharon (2023). "Can models of evolutionary transition clarify the debates over the Neolithic Revolution?". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 378 (1872) 20210413. doi:10.1098/rstb.2021.0413. PMC 9869441. PMID 36688395.
  232. ↑ Krebs JR (September 2009). "The gourmet ape: evolution and human food preferences". The American Journal of Clinical Nutrition. 90 (3): 707S–711S. doi:10.3945/ajcn.2009.27462B. PMID 19656837.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  233. ↑ Holden C, Mace R (Oktober 1997). "Phylogenetic analysis of the evolution of lactose digestion in adults". Human Biology. 69 (5): 605–628. PMID 9299882.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  234. ↑ Gibbons A. "The Evolution of Diet". National Geographic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2014. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  235. ↑ Ritchie H, Roser M (20 Agustus 2017). "Diet Compositions". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Agustus 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  236. ↑ Lieberson AD (2004). "How Long Can a Person Survive without Food?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Februari 2019. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  237. ↑ Spector D (9 Maret 2018). "Here's how many days a person can survive without water". Business Insider Australia (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Juni 2014. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  238. ↑ Holmes J. "Losing 25,000 to Hunger Every Day". United Nations (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2020. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  239. ↑ Mai HJ (2020). "U.N. Warns Number Of People Starving To Death Could Double Amid Pandemic". NPR (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2021. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  240. ↑ Murray CJ, Lopez AD (Mei 1997). "Global mortality, disability, and the contribution of risk factors: Global Burden of Disease Study". Lancet. 349 (9063): 1436–1442. doi:10.1016/S0140-6736(96)07495-8. PMID 9164317.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  241. 1 2 Haslam DW, James WP (Oktober 2005). "Obesity". Lancet. 366 (9492): 1197–1209. Bibcode:2005Lanc..366.1197H. doi:10.1016/S0140-6736(05)67483-1. PMID 16198769.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  242. ↑ The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 (dalam bahasa Inggris). FAO; IFAD; UNICEF; WFP; WHO. 2026-07-21. hlm. 38. doi:10.4060/cd8306en. ISBN 978-92-5-140461-4.
  243. ↑ Sensoy, Ilkay (2021). "A review on the food digestion in the digestive tract and the used in vitro models". Current Research in Food Science (dalam bahasa Inggris). 4: 308–319. doi:10.1016/j.crfs.2021.04.004. PMC 8134715. PMID 34027433.
  244. ↑ "The Basics of Constipation". WebMD. Diakses tanggal 2025-08-15.
  245. ↑ Heitmann, Paul T.; Vollebregt, Paul F.; Knowles, Charles H.; Lunniss, Peter J.; Dinning, Phil G.; Scott, S. Mark (November 2021). "Understanding the physiology of human defaecation and disorders of continence and evacuation". Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology (dalam bahasa Inggris). 18 (11). Nature Publishing Group: 751–769. doi:10.1038/s41575-021-00487-5. ISSN 1759-5053. PMID 34373626.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  246. ↑ Palit, Somnath; Lunniss, Peter J.; Scott, S. Mark (Juni 2012). "The Physiology of Human Defecation". Digestive Diseases and Sciences (dalam bahasa Inggris). 57 (6): 1445–1464. doi:10.1007/s10620-012-2071-1. ISSN 0163-2116. PMID 22367113.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  247. ↑ Rose, C.; Parker, A.; Jefferson, B.; Cartmell, E. (2 September 2015). "The Characterization of Feces and Urine: A Review of the Literature to Inform Advanced Treatment Technology". Critical Reviews in Environmental Science and Technology (dalam bahasa Inggris). 45 (17): 1827–1879. Bibcode:2015CREST..45.1827R. doi:10.1080/10643389.2014.1000761. ISSN 1064-3389. PMC 4500995. PMID 26246784.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  248. ↑ de Beer H (Maret 2004). "Observations on the history of Dutch physical stature from the late-Middle Ages to the present". Economics and Human Biology. 2 (1): 45–55. doi:10.1016/j.ehb.2003.11.001. PMID 15463992. SSRN 522763.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  249. ↑ O'Neil D. "Adapting to Climate Extremes". Human Biological Adaptability. Palomar College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  250. ↑ Rask-Andersen M, Karlsson T, Ek WE, Johansson Å (September 2017). "Gene-environment interaction study for BMI reveals interactions between genetic factors and physical activity, alcohol consumption and socioeconomic status". PLOS Genetics. 13 (9) e1006977. doi:10.1371/journal.pgen.1006977. PMC 5600404. PMID 28873402.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  251. ↑ Beja-Pereira A, Luikart G, England PR, Bradley DG, Jann OC, Bertorelle G, et al. (Desember 2003). "Gene-culture coevolution between cattle milk protein genes and human lactase genes". Nature Genetics. 35 (4): 311–313. Bibcode:2003NaGen..35..311B. doi:10.1038/ng1263. PMID 14634648.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  252. ↑ Hedrick PW (Oktober 2011). "Population genetics of malaria resistance in humans". Heredity. 107 (4): 283–304. Bibcode:2011Hered.107..283H. doi:10.1038/hdy.2011.16. PMC 3182497. PMID 21427751.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  253. ↑ Weatherall DJ (Mei 2008). "Genetic variation and susceptibility to infection: the red cell and malaria". British Journal of Haematology. 141 (3): 276–286. doi:10.1111/j.1365-2141.2008.07085.x. PMID 18410566.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  254. ↑ Shelomi M, Zeuss D (5 April 2017). "Bergmann's and Allen's Rules in Native European and Mediterranean Phasmatodea". Frontiers in Ecology and Evolution. 5: 25. Bibcode:2017FrEEv...5...25S. doi:10.3389/fevo.2017.00025. hdl:11858/00-001M-0000-002C-DD87-4.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  255. ↑ Ilardo MA, Moltke I, Korneliussen TS, Cheng J, Stern AJ, Racimo F, et al. (April 2018). "Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads". Cell. 173 (3): 569–580.e15. doi:10.1016/j.cell.2018.03.054. PMID 29677510.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  256. ↑ Rogers AR, Iltis D, Wooding S (2004). "Genetic variation at the MC1R locus and the time since loss of human body hair". Current Anthropology. 45 (1): 105–08. Bibcode:2004CurrA..45..105R. doi:10.1086/381006.
  257. 1 2 Roberts D (2011). Fatal Invention. London & New York: The New Press.
  258. 1 2 3 Jablonski N (2004). "The evolution of human skin and skin color". Annual Review of Anthropology. 33: 585–623. doi:10.1146/annurev.anthro.33.070203.143955.
  259. ↑ Jablonski NG, Chaplin G (Mei 2010). "Colloquium paper: human skin pigmentation as an adaptation to UV radiation". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 107 (Supplement_2): 8962–8968. Bibcode:2010PNAS..107.8962J. doi:10.1073/pnas.0914628107. PMC 3024016. PMID 20445093.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  260. ↑ Jablonski NG, Chaplin G (Juli 2000). "The evolution of human skin coloration" (PDF). Journal of Human Evolution. 39 (1): 57–106. Bibcode:2000JHumE..39...57J. doi:10.1006/jhev.2000.0403. PMID 10896812. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 14 Januari 2012.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  261. ↑ Harding RM, Healy E, Ray AJ, Ellis NS, Flanagan N, Todd C, et al. (April 2000). "Evidence for variable selective pressures at MC1R". American Journal of Genetics. 66 (4): 1351–1361. Bibcode:2000AmJHG..66.1351H. doi:10.1086/302863. PMC 1288200. PMID 10733465.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  262. ↑ Robin A (1991). Biological Perspectives on Human Pigmentation. Cambridge: Cambridge University Press.
  263. ↑ "The Science Behind the Human Genome Project". Human Genome Project. US Department of Energy. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013. Almost all (99.9%) nucleotide bases are exactly the same in all people.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  264. ↑ O'Neil D. "Ethnicity and Race: Overview". Palomar College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  265. ↑ Keita SO, Kittles RA, Royal CD, Bonney GE, Furbert-Harris P, Dunston GM, Rotimi CN (November 2004). "Conceptualizing human variation". Nature Genetics. 36 (11 Suppl): S17-20. doi:10.1038/ng1455. PMID 15507998.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  266. ↑ O'Neil D. "Models of Classification". Modern Human Variation. Palomar College. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Januari 2013. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  267. ↑ Palmié S (Mei 2007). "Genomics, divination, 'racecraft'". American Ethnologist. 34 (2): 205–222. doi:10.1525/ae.2007.34.2.205.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  268. ↑ Goodman A. "Interview with Alan Goodman". Race Power of and Illusion. PBS. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Oktober 2012. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  269. ↑ Marks J (2010). "Ten facts about human variation". Dalam Muehlenbein M (ed.). Human Evolutionary Biology (PDF). New York: Cambridge University Press. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 15 April 2012. Diakses tanggal 5 September 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  270. ↑ O'Neil D. "Overview". Modern Human Variation. Palomar College. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2012. Diakses tanggal 6 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  271. ↑ Jorde LB, Watkins WS, Bamshad MJ, Dixon ME, Ricker CE, Seielstad MT, Batzer MA (Maret 2000). "The distribution of human genetic diversity: a comparison of mitochondrial, autosomal, and Y-chromosome data". American Journal of Human Genetics. 66 (3): 979–988. doi:10.1086/302825. PMC 1288178. PMID 10712212.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  272. ↑ "New Research Proves Single Origin Of Humans In Africa". Science Daily. 19 Juli 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 November 2011. Diakses tanggal 5 September 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  273. ↑ Manica A, Amos W, Balloux F, Hanihara T (Juli 2007). "The effect of ancient population bottlenecks on human phenotypic variation". Nature. 448 (7151): 346–348. Bibcode:2007Natur.448..346M. doi:10.1038/nature05951. PMC 1978547. PMID 17637668.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  274. ↑ Chen L, Wolf AB, Fu W, Li L, Akey JM (Februari 2020). "Identifying and Interpreting Apparent Neanderthal Ancestry in African Individuals". Cell. 180 (4): 677–687.e16. doi:10.1016/j.cell.2020.01.012. PMC 12805117. PMID 32004458.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  275. ↑ Durvasula A, Sankararaman S (Februari 2020). "Recovering signals of ghost archaic introgression in African populations". Science Advances. 6 (7) eaax5097. Bibcode:2020SciA....6.5097D. doi:10.1126/sciadv.aax5097. PMC 7015685. PMID 32095519. Our analyses of site frequency spectra indicate that these populations derive 2 to 19% of their genetic ancestry from an archaic population that diverged before the split of Neanderthals and modern humans.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  276. ↑ Pierce BA (2012). Genetics: A Conceptual Approach (dalam bahasa Inggris). Macmillan. hlm. 75. ISBN 978-1-4292-3252-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Oktober 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  277. ↑ Muehlenbein MP (29 Juli 2010). Jones J (ed.). Human Evolutionary Biology (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 74. ISBN 978-0-521-87948-4. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  278. ↑ Fusco G, Minelli A (10 Oktober 2019). The Biology of Reproduction (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 304. ISBN 978-1-108-49985-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Oktober 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  279. ↑ Gustafsson A, Lindenfors P (Oktober 2004). "Human size evolution: no evolutionary allometric relationship between male and female stature". Journal of Human Evolution. 47 (4): 253–266. Bibcode:2004JHumE..47..253G. doi:10.1016/j.jhevol.2004.07.004. PMID 15454336.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  280. ↑ Ogden CL, Fryar CD, Carroll MD, Flegal KM (Oktober 2004). "Mean body weight, height, and body mass index, United States 1960–2002" (PDF). Advance Data (347): 1–17. PMID 15544194. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 Februari 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  281. ↑ Miller AE, MacDougall JD, Tarnopolsky MA, Sale DG (1993). "Gender differences in strength and muscle fiber characteristics". European Journal of Applied Physiology and Occupational Physiology. 66 (3): 254–262. doi:10.1007/BF00235103. hdl:11375/22586. PMID 8477683.
  282. ↑ Bredella MA (2017). "Sex Differences in Body Composition". Dalam Mauvais-Jarvis F (ed.). Sex and Gender Factors Affecting Metabolic Homeostasis, Diabetes and Obesity. Advances in Experimental Medicine and Biology. Vol. 1043. Cham: Springer International Publishing. hlm. 9–27. doi:10.1007/978-3-319-70178-3_2. ISBN 978-3-319-70177-6. PMID 29224088.
  283. ↑ Rahrovan S, Fanian F, Mehryan P, Humbert P, Firooz A (September 2018). "Male versus female skin: What dermatologists and cosmeticians should know". International Journal of Women's Dermatology. 4 (3): 122–130. doi:10.1016/j.ijwd.2018.03.002. PMC 6116811. PMID 30175213.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  284. ↑ Easter C. "Sex Linked". National Human Genome Research Institute (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2022. Diakses tanggal 18 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  285. ↑ Puts DA, Gaulin SJ, Verdolini K (Juli 2006). "Dominance and the evolution of sexual dimorphism in human voice pitch". Evolution and Human Behavior. 27 (4): 283–296. Bibcode:2006EHumB..27..283P. doi:10.1016/j.evolhumbehav.2005.11.003.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  286. ↑ Tielen, Mirjam T.J. (1989). "Fundamental frequency characteristics of middle aged men and women" (PDF). Proceedings from the Institute of Phonetic Sciences of the University of Amsterdam. 13. Institute of Phonetic Sciences: 45–58.
  287. ↑ "Gender, women, and health". Reports from WHO 2002–2005. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juni 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  288. ↑ Sax, Leonard (2002). "How common is lntersex? A response to Anne Fausto-Sterling". The Journal of Sex Research. 39 (3): 174–178. doi:10.1080/00224490209552139. PMID 12476264.
  289. ↑ Esteban, Caleb; Ortiz-Rodz, Derek Israel; Muñiz-Pérez, Yesibelle I.; Ramírez-Vega, Luis; Jiménez-Ricaurte, Coral; Mattei-Torres, Edna; Finkel-Aguilar, Victoria (2023-02-07). "Quality of Life and Psychosocial Well-Being among Intersex-Identifying Individuals in Puerto Rico: An Exploratory Study". International Journal of Environmental Research and Public Health. 20 (4): 2899. Bibcode:2023IJERP..20.2899E. doi:10.3390/ijerph20042899. PMC 9957316. PMID 36833596.
  290. ↑ "3-D Brain Anatomy". The Secret Life of the Brain. Public Broadcasting Service. Diarsipkan dari asli tanggal 5 September 2017. Diakses tanggal 3 April 2005.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  291. ↑ Stern P (22 Juni 2018). "The human prefrontal cortex is special". Science (dalam bahasa Inggris). 360 (6395): 1311–1312. Bibcode:2018Sci...360S1311S. doi:10.1126/science.360.6395.1311-g.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  292. ↑ Levy, Richard (16 November 2023). "The prefrontal cortex: from monkey to man". Brain. 147 (3): 794–815. doi:10.1093/brain/awad389. PMC 10907097. PMID 37972282.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  293. ↑ Erickson R (22 September 2014). "Are Humans the Most Intelligent Species?". Journal of Intelligence (dalam bahasa Inggris). 2 (3): 119–121. doi:10.3390/jintelligence2030119.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  294. ↑ "Humans not smarter than animals, just different, experts say". phys.org (dalam bahasa Inggris). 4 Desember 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  295. ↑ Robson D (9 November 2016). "We've got human intelligence all wrong". www.bbc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  296. ↑ Owen J (26 Februari 2015). "Many Animals –Including Your Dog –May Have Horrible Short-Term Memories". National Geographic News. Diarsipkan dari asli tanggal 19 April 2021. Diakses tanggal 6 September 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  297. ↑ Schmidt KL, Cohn JF (2001). "Human facial expressions as adaptations: Evolutionary questions in facial expression research". American Journal of Physical Anthropology. 116 (S33): 3–24. Bibcode:2001AJPA..116S...3S. doi:10.1002/ajpa.20001. PMC 2238342. PMID 11786989.
  298. ↑ Moisse K (5 Januari 2011). "Tears in Her Eyes: A Turnoff for Guys?". ABC News (American) (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  299. ↑ Deleniv S (2018). "The 'me' illusion: How your brain conjures up your sense of self". New Scientist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Februari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  300. ↑ Beck, Jacob (September 7, 2019). "Can We Really Know What Animals Are Thinking?". Snopes. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Oktober 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  301. ↑ Penn, Derek C.; Povinelli, Daniel J. (2007-04-29). "On the lack of evidence that non-human animals possess anything remotely resembling a 'theory of mind'". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 362 (1480): 731–744. doi:10.1098/rstb.2006.2023. PMC 2346530. PMID 17264056.
  302. ↑ Grandner MA, Patel NP, Gehrman PR, Perlis ML, Pack AI (Agustus 2010). "Problems associated with short sleep: bridging the gap between laboratory and epidemiological studies". Sleep Medicine Reviews. 14 (4): 239–247. doi:10.1016/j.smrv.2009.08.001. PMC 2888649. PMID 19896872.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  303. ↑ Ann L (27 Januari 2005). "HowStuffWorks "Dreams: Stages of Sleep"". Science.howstuffworks.com. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Mei 2012. Diakses tanggal 11 Agustus 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  304. ↑ Hobson JA (November 2009). "REM sleep and dreaming: towards a theory of protoconsciousness". Nature Reviews. Neuroscience. 10 (11): 803–813. doi:10.1038/nrn2716. PMID 19794431.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  305. ↑ Empson J (2002). Sleep and dreaming (Edisi 3rd). New York: Palgrave/St. Martin's Press.
  306. ↑ Lite J (29 Juli 2010). "How Can You Control Your Dreams?". Scientific America. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  307. ↑ Domhoff W (2002). The scientific study of dreams. APA Press.
  308. ↑ "Consciousness". Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2019. Diakses tanggal 4 Juni 2012.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  309. ↑ van Gulick R (2004). "Consciousness". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2019. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  310. ↑ Schneider S, Velmans M (2008). "Introduction". Dalam Velmans M, Schneider S (ed.). The Blackwell Companion to Consciousness. Wiley. ISBN 978-0-470-75145-9.
  311. ↑ Searle J (2005). "Consciousness". Dalam Honderich T (ed.). The Oxford companion to philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7.
  312. ↑ Block N (Juni 1995). "On a confusion about a function of consciousness". Behavioral and Brain Sciences. 18 (2): 227–247. doi:10.1017/S0140525X00038474.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  313. ↑ Jaynes J (2000) [1976]. The Origin of Consciousness in the Breakdown of the Bicameral Mind (PDF). Houghton Mifflin. ISBN 0-618-05707-2. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Agustus 2019. Diakses tanggal 25 Oktober 2020.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  314. ↑ Rochat P (Desember 2003). "Five levels of self-awareness as they unfold early in life". Consciousness and Cognition. 12 (4): 717–731. doi:10.1016/s1053-8100(03)00081-3. PMID 14656513.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  315. ↑ Carruthers P (15 Agustus 2011). "Higher-Order Theories of Consciousness". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 April 2021. Diakses tanggal 31 Agustus 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  316. ↑ Antony MV (2001). "Is consciousness ambiguous?". Journal of Consciousness Studies. 8: 19–44.
  317. ↑ "Cognition". Lexico. Oxford University Press and Dictionary.com. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Juli 2016. Diakses tanggal 6 Mei 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  318. ↑ Glattfelder JB (2019). "The Consciousness of Reality". Dalam Glattfelder JB (ed.). Information—Consciousness—Reality. The Frontiers Collection (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer International Publishing. hlm. 515–595. doi:10.1007/978-3-030-03633-1_14. ISBN 978-3-030-03633-1.
  319. ↑ "American Psychological Association (2013). Glossary of psychological terms". Apa.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juli 2014. Diakses tanggal 13 Agustus 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  320. ↑ "Developmental Psychology Studies Human Development Across the Lifespan". www.apa.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 9 Juli 2014. Diakses tanggal 28 Agustus 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  321. ↑ Burman E (2017). Deconstructing Developmental Psychology. New York: Routledge. ISBN 978-1-138-84695-1.
  322. ↑ Colom R (1 Januari 2004). "Intelligence Assessment". Encyclopedia of Applied Psychology (dalam bahasa Inggris). hlm. 307–314. doi:10.1016/B0-12-657410-3/00510-9. ISBN 978-0-12-657410-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  323. ↑ McLeod S (20 Maret 2020). "Maslow's Hierarchy of Needs". Simplypsychology.org. Simply Scholar Limited. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 November 2018. Diakses tanggal 4 April 2020. Maslow's hierarchy of needs is a motivational theory in psychology comprising a five-tier model of human needs, often depicted as hierarchical levels within a pyramid. Needs lower down in the hierarchy must be satisfied before individuals can attend to needs higher up.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  324. ↑ Heckhausen J, Heckhausen H (28 Maret 2018). "Motivation and Action: Introduction and Overview". Motivation and Action. Introduction and Overview: Springer, Cham. hlm. 1. doi:10.1007/978-3-319-65094-4_1. ISBN 978-3-319-65093-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  325. ↑ Damasio AR (Mei 1998). "Emotion in the perspective of an integrated nervous system". Brain Research. Brain Research Reviews. 26 (2–3): 83–86. doi:10.1016/s0165-0173(97)00064-7. PMID 9651488.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  326. ↑ Ekman P, Davidson RJ (1994). The Nature of emotion: fundamental questions. New York: Oxford University Press. hlm. 291–293. ISBN 978-0-19-508944-8. Emotional processing, but not emotions, can occur unconsciously.
  327. ↑ Cabanac M (2002). "What is emotion?". Behavioural Processes. 60 (2): 69–83. doi:10.1016/S0376-6357(02)00078-5. PMID 12426062. Emotion is any mental experience with high intensity and high hedonic content (pleasure/displeasure)
  328. ↑ Scirst DL (2011). Psychology Second Edition. New York: Worth Publishers. hlm. 310. ISBN 978-1-4292-3719-2.
  329. ↑ Averill JR (April 1999). "Individual differences in emotional creativity: structure and correlates". Journal of Personality. 67 (2): 331–371. doi:10.1111/1467-6494.00058. PMID 10202807.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  330. ↑ Tyng CM, Amin HU, Saad MN, Malik AS (2017). "The Influences of Emotion on Learning and Memory". Frontiers in Psychology. 8 1454. doi:10.3389/fpsyg.2017.01454. PMC 5573739. PMID 28883804.
  331. ↑ Van Gelder, Jean-Louis (2017). "Emotions in Offender Decision Making". Dalam Bernasco, Wim; Van Gelder, Jean-Louis; Elffers, Henk (ed.). The Oxford Handbook of Offender Decision Making. hlm. 466–478. doi:10.1093/oxfordhb/9780199338801.013.19. ISBN 978-0-19-933880-1.
  332. ↑ Sharma N, Prakash O, Sengar KS, Chaudhury S, Singh AR (2015). "The relation between emotional intelligence and criminal behavior: A study among convicted criminals". Industrial Psychiatry Journal. 24 (1): 54–58. doi:10.4103/0972-6748.160934. PMC 4525433. PMID 26257484.
  333. ↑ Fredrickson BL (Maret 2001). "The role of positive emotions in positive psychology. The broaden-and-build theory of positive emotions". The American Psychologist. 56 (3): 218–226. doi:10.1037/0003-066X.56.3.218. PMC 3122271. PMID 11315248.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  334. ↑ Haybron DM (Agustus 2013). "The proper pursuit of happiness". Res Philosophica. 90 (3): 387–411. doi:10.11612/resphil.2013.90.3.5.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  335. ↑ Haybron DM (13 April 2014). "Happiness and Its Discontents". The Opinion Pages. The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Oktober 2018. Diakses tanggal 30 Juli 2022. I would suggest that when we talk about happiness, we are actually referring, much of the time, to a complex emotional phenomenon. Call it emotional well-being. Happiness as emotional well-being concerns your emotions and moods, more broadly your emotional condition as a whole. To be happy is to inhabit a favorable emotional state.... On this view, we can think of happiness, loosely, as the opposite of anxiety and depression. Being in good spirits, quick to laugh and slow to anger, at peace and untroubled, confident and comfortable in your own skin, engaged, energetic and full of life.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  336. ↑ Graham MC (2014). Facts of Life: ten issues of contentment. Outskirts Press. hlm. 6–10. ISBN 978-1-4787-2259-5.
  337. ↑ "Secret to happiness may include more unpleasant emotions: Research contradicts idea that people should always seek pleasure to be happy". ScienceDaily (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association. 14 Agustus 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2020. Diakses tanggal 25 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  338. 1 2 3 Greenberg JS, Bruess CE, Oswalt SB (2016). Exploring the Dimensions of Human Sexuality. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 4–10. ISBN 978-1-284-08154-1. Diakses tanggal 21 Juni 2017. Human sexuality is a part of your total personality. It involves the interrelationship of biological, psychological, and sociocultural dimensions. [...] It is the total of our physical, emotional, and spiritual responses, thoughts, and feelings.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  339. 1 2 3 4 Bolin A, Whelehan P (2009). Human Sexuality: Biological, Psychological, and Cultural Perspectives. Taylor & Francis. hlm. 32–42. ISBN 978-0-7890-2671-2.
  340. ↑ Frankenbach, Julius; Weber, Marcel; Loschelder, David D.; Kilger, Helena; Friese, Malte (September 2022). "Sex drive: Theoretical conceptualization and meta-analytic review of gender differences". Psychological Bulletin (dalam bahasa Inggris). 148 (9–10): 621–661. doi:10.1037/bul0000366. ISSN 1939-1455. PMID 36227317.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  341. ↑ Aavik, Toivo; Täht, Karin; Vainik, Uku; Mõttus, René (2026-01-05). "Associations of Sexual Desire with Demographic and Relationship Variables". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 16 (1) 215. Bibcode:2026NatSR..16..215A. doi:10.1038/s41598-025-23483-0. ISSN 2045-2322. PMC 12769728. PMID 41491164.
  342. ↑ "Sexual orientation, homosexuality and bisexuality". American Psychological Association. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Agustus 2013. Diakses tanggal 10 Agustus 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  343. 1 2 3 Bailey JM, Vasey PL, Diamond LM, Breedlove SM, Vilain E, Epprecht M (September 2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (2): 45–101. doi:10.1177/1529100616637616. PMID 27113562.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  344. 1 2 LeVay S (2017). Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation. Oxford University Press. hlm. 8, 19. ISBN 978-0-19-975296-6. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  345. ↑ Balthazart J (2012). The Biology of Homosexuality. Oxford University Press. hlm. 13–14. ISBN 978-0-19-983882-0. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  346. ↑ Buss DM (2003). The Evolution of Desire: Strategies of Human Mating (Edisi Revised). New York: Basic Books. ISBN 978-0-465-00802-5.
  347. ↑ Fromm E (2000). The art of loving. New York: Harper Perennial. ISBN 978-0-06-095828-2.
  348. ↑ Esch, Tobias; Stefano, George B. (Oktober 2025). "The neurobiology of love and addiction: Central nervous system signaling and energy metabolism". Cognitive, Affective & Behavioral Neuroscience. 25 (5): 1225–1236. doi:10.3758/s13415-025-01333-w. ISSN 1531-135X. PMC 12464042. PMID 40760398.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  349. ↑ "What are the top 200 most spoken languages?". Ethnologue: Languages of the World. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2013. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  350. ↑ World. The World Factbook (Laporan). Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Februari 2026.{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  351. 1 2 Hackett, Conrad; Stonawski, Marcin; Tong, Yunping; Kramer, Stephanie; Shi, Anne; Fahmy, Dalia (2025-06-09). "How the Global Religious Landscape Changed From 2010 to 2020". Pew Research Center (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-17.
  352. ↑ Ord T (2020). The Precipice: Existential Risk and the Future of Humanity. New York: Hachette Books. ISBN 978-0-316-48489-3. Homo sapiens and our close relatives may have some unique physical attributes, such as our dextrous hands, upright walking and resonant voices. However, these on their own cannot explain our success. They went together with our intelligence...
  353. ↑ Goldman JG (2012). "Pay attention... time for lessons at animal school". bbc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  354. ↑ Winkler M, Mueller JL, Friederici AD, Männel C (November 2018). "Infant cognition includes the potentially human-unique ability to encode embedding". Science Advances. 4 (11) eaar8334. Bibcode:2018SciA....4.8334W. doi:10.1126/sciadv.aar8334. PMC 6248967. PMID 30474053.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  355. ↑ Johnson-Frey SH (Juli 2003). "What's so special about human tool use?". Neuron. 39 (2): 201–204. doi:10.1016/S0896-6273(03)00424-0. PMID 12873378.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  356. ↑ Emery NJ, Clayton NS (Februari 2009). "Tool use and physical cognition in birds and mammals". Current Opinion in Neurobiology. 19 (1): 27–33. doi:10.1016/j.conb.2009.02.003. PMID 19328675. In short, the evidence to date that animals have an understanding of folk physics is at best mixed.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  357. ↑ Lemonick MD (3 Juni 2015). "Chimps Can't Cook, But Maybe They'd Like To". National Geographic News. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Januari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  358. ↑ Vakhitova T, Gadelshina L (2 Juni 2015). "The Role and Importance of the Study of Economic Subjects in the Implementation of the Educational Potential of Education". Procedia - Social and Behavioral Sciences. The Proceedings of 6th World Conference on educational Sciences (dalam bahasa Inggris). 191: 2565–2567. doi:10.1016/j.sbspro.2015.04.690.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  359. ↑ McKie R (9 Oktober 2018). "The Book of Humans by Adam Rutherford review – a pithy homage to our species". The Guardian (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  360. ↑ Nicholls H (29 Juni 2015). "Babblers speak to the origin of language". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2021. Diakses tanggal 22 April 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  361. ↑ Dasgupta S (2015). "Can any animals talk and use language like humans?". bbc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Mei 2020. Diakses tanggal 22 April 2020. Most animals are not vocal learners.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  362. ↑ Horner, Victoria; de Waal, Frans B. M. (25 November 2009). "Controlled studies of chimpanzee cultural transmission". Dalam Chiao, Joan Y. (ed.). Cultural Neuroscience: Cultural Influences on Brain Function. Progress in Brain Research, volume 178. New York: Elsevier. hlm. 4. ISBN 978-0-08-095221-5. Diakses tanggal 1 April 2026. [...] a narrow set of underlying processes assumed to be unique to our species, such as language or active teaching.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  363. ↑ Carr, Herbert Wildon (1924). The Scientific Approach to Philosophy: Selected Essays and Reviews. Macmillan. hlm. 276. Diakses tanggal 1 April 2026. [...] language is part of human nature, closely and organically bound up with its rational character [...].{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  364. ↑ Deleuze, Gilles; Guattari, Félix (1 September 2004) [1980]. "10,000 B.C.: The Geology of Morals (Who Does the Earth Think It Is?)". A Thousand Plateaus. Continuum impacts. Diterjemahkan oleh Massumi, Brian (Edisi reprint). London: A&C Black. hlm. 67. ISBN 978-0-8264-7694-4. Diakses tanggal 1 April 2026. What some call the properties of human beings — technology and language, tool and symbol [...].{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  365. ↑ Scott-Phillips TC, Blythe RA (18 September 2013). "Why is language unique to humans?" (dalam bahasa Inggris (Britania)). Royal Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  366. ↑ Pagel M (Juli 2017). "Q&A: What is human language, when did it evolve and why should we care?". BMC Biology. 15 (1) 64. doi:10.1186/s12915-017-0405-3. PMC 5525259. PMID 28738867.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  367. ↑ Fitch WT (4 Desember 2010). "Language evolution: How to hear words long silenced". New Scientist (dalam bahasa Inggris). 208 (2789): ii–iii. Bibcode:2010NewSc.208D...2F. doi:10.1016/S0262-4079(10)62961-2.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  368. ↑ Lian A (2016). "The Modality-Independent Capacity of Language: A Milestone of Evolution". Dalam Lian A (ed.). Language Evolution and Developmental Impairments (dalam bahasa Inggris). London: Palgrave Macmillan UK. hlm. 229–255. doi:10.1057/978-1-137-58746-6_7. ISBN 978-1-137-58746-6.
  369. ↑ "Culture | United Nations For Indigenous Peoples". www.un.org. 5 Juni 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 November 2020. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  370. ↑ Comrie B, Polinsky M, Matthews S (1996). The Atlas of Languages: The Origin and Development of Languages Throughout the World. New York: Facts on File. hlm. 13–15. ISBN 978-0-8160-3388-1.
  371. ↑ Mavrody S (2013). Visual Art Forms: Traditional to Digital (dalam bahasa Inggris). Sergey's HTML5 & CSS3. ISBN 978-0-9833867-5-9. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  372. ↑ "Types of Literary Arts and Their Understanding – bookfestivalscotland.com". Bookfestival Scotland (dalam bahasa British English). 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Mei 2021. Diakses tanggal 5 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  373. ↑ "Bachelor of Performing Arts" (PDF). University of Otago. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 14 Desember 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  374. ↑ Brown S (24 Oktober 2018). "Toward a Unification of the Arts". Frontiers in Psychology. 9 1938. doi:10.3389/fpsyg.2018.01938. PMC 6207603. PMID 30405470.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  375. ↑ "Culinary arts – How cooking can be an art". Northern Contemporary Art (dalam bahasa American English). 21 Oktober 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Mei 2021. Diakses tanggal 5 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  376. ↑ Smuts A (1 Januari 2005). "Are Video Games Art?". Contemporary Aesthetics (Journal Archive). 3 (1). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Mei 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  377. ↑ Cameron IA, Pimlott N (September 2015). "Art of medicine". Canadian Family Physician. 61 (9): 739–740. PMC 4569099. PMID 26371092.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  378. ↑ Bird G (7 Juni 2019). "Rethinking the role of the arts in politics: lessons from the Négritude movement". International Journal of Cultural Policy (dalam bahasa Inggris). 25 (4): 458–470. doi:10.1080/10286632.2017.1311328.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  379. 1 2 Morriss-Kay GM (Februari 2010). "The evolution of human artistic creativity". Journal of Anatomy. 216 (2): 158–176. doi:10.1111/j.1469-7580.2009.01160.x. PMC 2815939. PMID 19900185.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  380. ↑ Joordens JC, d'Errico F, Wesselingh FP, Munro S, de Vos J, Wallinga J, et al. (Februari 2015). "Homo erectus at Trinil on Java used shells for tool production and engraving". Nature. 518 (7538): 228–231. Bibcode:2015Natur.518..228J. doi:10.1038/nature13962. PMID 25470048.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  381. ↑ St Fleur N (12 September 2018). "Oldest Known Drawing by Human Hands Discovered in South African Cave". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2020. Diakses tanggal 20 September 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  382. ↑ Radford T (16 April 2004). "World's oldest jewellery found in cave". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Februari 2021. Diakses tanggal 23 September 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  383. ↑ Dissanayake E (2008). "The Arts after Darwin: Does Art have an Origin and Adaptive Function?". Dalam Zijlmans K, van Damme W (ed.). World Art Studies: Exploring Concepts and Approaches. Amsterdam: Valiz. hlm. 241–263.
  384. 1 2 Morley I (2014). "A multi-disciplinary approach to the origins of music: perspectives from anthropology, archaeology, cognition and behaviour". Journal of Anthropological Sciences. 92 (92): 147–177. doi:10.4436/JASS.92008tidak aktif 6 April 2026. PMID 25020016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per April 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  385. ↑ Trost W, Frühholz S, Schön D, Labbé C, Pichon S, Grandjean D, Vuilleumier P (Desember 2014). "Getting the beat: entrainment of brain activity by musical rhythm and pleasantness". NeuroImage. 103: 55–64. doi:10.1016/j.neuroimage.2014.09.009. PMID 25224999.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  386. ↑ Karpati FJ, Giacosa C, Foster NE, Penhune VB, Hyde KL (Maret 2015). "Dance and the brain: a review". Annals of the New York Academy of Sciences. 1337 (1): 140–146. Bibcode:2015NYASA1337..140K. doi:10.1111/nyas.12632. PMID 25773628.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  387. ↑ Chow D (22 Maret 2010). "Why Do Humans Dance?". livescience.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2021. Diakses tanggal 21 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  388. ↑ Krakauer J (26 September 2008). "Why do we like to dance –And move to the beat?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Februari 2021. Diakses tanggal 21 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  389. ↑ Prior KS (21 Juni 2013). "How Reading Makes Us More Human". The Atlantic (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Januari 2021. Diakses tanggal 23 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  390. 1 2 Puchner M (23 April 2018). "How stories have shaped the world". www.bbc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Januari 2021. Diakses tanggal 23 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  391. ↑ Dalley, Stephanie, ed. (2000). Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others (Edisi revised). Oxford University Press. hlm. 41. ISBN 978-0-19-283589-5.
  392. ↑ Hernadi P (2001). "Literature and Evolution". SubStance. 30 (1/2): 55–71. doi:10.2307/3685504. JSTOR 3685504.
  393. ↑ McCurry J (21 April 2015). "Japan's Maglev Train Breaks World Speed Record with 600 km/h Test Run". The Guardian (Edisi U.S.). New York. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juni 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  394. ↑ Clark JD; de Heinzelin J; Schick KD; Hart WK; White TD; WoldeGabriel G; Walter RC; Suwa G; Asfaw B; Vrba E; H.-Selassie Y (Juni 1994). "African Homo erectus: old radiometric ages and young Oldowan assemblages in the Middle Awash Valley, Ethiopia". Science. 264 (5167): 1907–1910. Bibcode:1994Sci...264.1907C. doi:10.1126/science.8009220. PMID 8009220.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  395. 1 2 Choi CQ (11 November 2009). "Human Evolution: The Origin of Tool Use". livescience.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Oktober 2020. Diakses tanggal 9 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  396. ↑ Orban GA, Caruana F (2014). "The neural basis of human tool use". Frontiers in Psychology. 5: 310. doi:10.3389/fpsyg.2014.00310. PMC 3988392. PMID 24782809.
  397. ↑ Berna F, Goldberg P, Horwitz LK, Brink J, Holt S, Bamford M, Chazan M (Mei 2012). "Microstratigraphic evidence of in situ fire in the Acheulean strata of Wonderwerk Cave, Northern Cape province, South Africa". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 109 (20): E1215-20. doi:10.1073/pnas.1117620109. PMC 3356665. PMID 22474385.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  398. ↑ Gowlett JA (Juni 2016). "The discovery of fire by humans: a long and convoluted process". Philosophical Transactions of the Royal Society of London, Series B. 371 (1696) 20150164. doi:10.1098/rstb.2015.0164. PMC 4874402. PMID 27216521.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  399. ↑ Damiano J (2018). "Neolithic Era Tools: Inventing a New Age". MagellanTV. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Januari 2021. Diakses tanggal 9 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  400. ↑ Deng Y, Wang P (2011). Ancient Chinese inventions. Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. 13–14. ISBN 978-0-521-18692-6. OCLC 671710733.
  401. ↑ Schifman J (9 Juli 2018). "The Entire History of Steel". Popular Mechanics (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2021. Diakses tanggal 5 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  402. ↑ Wilkinson, Freddie (9 Januari 2020). "Industrial Revolution and Technology". National Geographic Society (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2020. Diakses tanggal 9 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  403. ↑ Roser, Max; Ritchie, Hannah (11 Mei 2013). "Technological Progress". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  404. ↑ Fallows J (23 Oktober 2013). "The 50 Greatest Breakthroughs Since the Wheel". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Mei 2021. Diakses tanggal 5 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  405. 1 2 Idinopulos TA (1998). "What Is Religion?". CrossCurrents. 48 (3): 366–380. JSTOR 24460821.
  406. ↑ Emmons RA, Paloutzian RF (2003). "The psychology of religion". Annual Review of Psychology. 54 (1): 377–402. doi:10.1146/annurev.psych.54.101601.145024. PMID 12171998.
  407. ↑ King BJ (29 Maret 2016). "Chimpanzees: Spiritual But Not Religious?". The Atlantic (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Januari 2021. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  408. ↑ Ball, Philip (2015). "Complex societies evolved without belief in all-powerful deity". Nature. doi:10.1038/nature.2015.17040.
  409. ↑ Culotta E (November 2009). "Origins. On the origin of religion". Science. 326 (5954): 784–787. Bibcode:2009Sci...326..784C. doi:10.1126/science.326_784. PMID 19892955.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  410. ↑ Atkinson, Quentin D.; Bourrat, Pierrick (2011). "Beliefs about God, the afterlife and morality support the role of supernatural policing in human cooperation". Evolution and Human Behavior. 32 (1): 41–49. Bibcode:2011EHumB..32...41A. doi:10.1016/j.evolhumbehav.2010.07.008.
  411. ↑ Walker GC (1 Agustus 2000). "Secular Eschatology: Beliefs about Afterlife". OMEGA – Journal of Death and Dying (dalam bahasa Inggris). 41 (1): 5–22. doi:10.2190/Q21C-5VED-GYW6-W091.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  412. ↑ McKay R, Whitehouse H (Maret 2015). "Religion and morality". Psychological Bulletin. 141 (2): 447–473. doi:10.1037/a0038455. PMC 4345965. PMID 25528346.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  413. ↑ Nitsche, Bernhard; Schmücker, Marcus, ed. (2023). God or the Divine?. doi:10.1515/9783110698343. ISBN 978-3-11-069834-3.[halaman dibutuhkan]
  414. ↑ Hall DE, Meador KG, Koenig HG (Juni 2008). "Measuring religiousness in health research: review and critique". Journal of Religion and Health. 47 (2): 134–163. doi:10.1007/s10943-008-9165-2. PMC 8823950. PMID 19105008.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  415. ↑ Di Christina, Mariette (September 2018). "A Very Human Story: Why Our Species Is Special". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2020. Diakses tanggal 27 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  416. ↑ Andersen H, Hepburn B (2020). "Scientific Method". Dalam Zalta EN (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2021. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  417. ↑ Lo Presti R (2014). "History of science: The first scientist". Nature (dalam bahasa Inggris). 512 (7514): 250–251. Bibcode:2014Natur.512..250L. doi:10.1038/512250a.
  418. ↑ Russo L (2004). The forgotten revolution: how science was born in 300 BC and why it had to be reborn. Springer. hlm. 1. ISBN 978-3-642-18904-3. OCLC 883392276.
  419. ↑ Needham, J; Wang Ling (1954). Science and civilisation in China. Cambridge University Press. hlm. 111. OCLC 779676.
  420. ↑ Henry J (2008). "Renaissance and Revolution". The scientific revolution and the origins of modern science (Edisi 3). Basingstoke, UK: Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-137-07904-6. OCLC 615209781.
  421. ↑ Hansson SO (2017). Zalta EN (ed.). "Science and Pseudo-Science". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Juni 2017. Diakses tanggal 3 Juli 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  422. ↑ Olmstead MC, Kuhlmeier VA (2015). Comparative Cognition. Cambridge University Press. hlm. 209–210. ISBN 978-1-107-01116-8.
  423. ↑ "Branches of Science" (PDF). University of Chicago. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 April 2017. Diakses tanggal 26 Juni 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  424. ↑ "What is Philosophy?". Department of Philosophy. Florida State University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2021. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  425. ↑ "Philosophy". Definition, Systems, Fields, Schools, & Biographies. Encyclopedia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2021. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  426. ↑ Kaufmann F, Russell B (1947). "A History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day". Philosophy and Phenomenological Research. 7 (3): 461. doi:10.2307/2102800. JSTOR 2102800.
  427. ↑ Hassan NR, Mingers J, Stahl B (4 Mei 2018). "Philosophy and information systems: where are we and where should we go?". European Journal of Information Systems. 27 (3): 263–277. doi:10.1080/0960085X.2018.1470776. hdl:2086/16128.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  428. ↑ Schizzerotto A. "Social Stratification" (PDF). University of Trento. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 Maret 2018. Diakses tanggal 3 Juli 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  429. ↑ Fukuyama F (2012). The origins of political order: from prehuman times to the French Revolution. Farrar, Straus and Giroux. hlm. 53. ISBN 978-0-374-53322-9. OCLC 1082411117.
  430. ↑ Krahé, Barbara (2012). "Social Role Theory of Sex Differences and Similarities : A Current Appraisal". The Developmental Social Psychology of Gender. hlm. 137–188. doi:10.4324/9781410605245-12. ISBN 978-1-4106-0524-5.
  431. ↑ Blackstone, Amy (2003). "Gender Roles and Society". Dalam Miller, Julia R.; Lerner, Richard M.; Schiamberg, Lawrence B. (ed.). Human Ecology: An Encyclopedia of Children, Families, Communities, and Environments. Sociology School Faculty Scholarship. Santa barbara, CA: ABC-CLIO. hlm. 335. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Mei 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  432. ↑ Nadal, Kevin L. (2017). The SAGE Encyclopedia of Psychology and Gender. SAGE Publications. hlm. 401. ISBN 978-1-4833-8427-6. Most cultures currently construct their societies based on the understanding of gender binary, the two gender categorizations (male and female). Such societies divide their population based on biological sex assigned to individuals at birth to begin the process of gender socialization.
  433. ↑ Herdt, Gilbert (2020). "Third Sexes and Third Genders". Third Sex, Third Gender: Beyond Sexual Dimorphism in Culture and History (dalam bahasa Inggris). Princeton, NJ: Princeton University Press. hlm. 21–83. ISBN 978-1-942130-52-9. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  434. ↑ Trumbach, Randolph (1994). "London's Sapphists: From Three Sexes to Four Genders in the Making of Modern Culture". Dalam Herdt, Gilbert (ed.). Third Sex, Third Gender: Beyond Sexual Dimorphism in Culture and History. New York: Zone (MIT). hlm. 111–136. ISBN 978-0-942299-82-3.
  435. ↑ Graham, Sharyn (April–Juni 2001). "Sulawesi's fifth gender". Inside Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 26 November 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  436. ↑ Richards, Christina; Bouman, Walter Pierre; Seal, Leighton; Barker, Meg John; Nieder, Timo O.; T'Sjoen, Guy (2016). "Non-binary or genderqueer genders". International Review of Psychiatry. 28 (1): 95–102. doi:10.3109/09540261.2015.1106446. hdl:1854/LU-7279758. PMID 26753630.
  437. ↑ Ananthaswamy, Anil; Douglas, Kate. "The origins of sexism: How men came to rule 12,000 years ago". New Scientist (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 7 Maret 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  438. ↑ "What do we mean by "sex" and "gender"?". World Health Organization. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Januari 2017. Diakses tanggal 26 November 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  439. ↑ Alters S, Schiff W (2009). Essential Concepts for Healthy Living. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 143. ISBN 978-0-7637-5641-3. Diakses tanggal 3 Januari 2018.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  440. ↑ Fortin N (2005). "Gender Role Attitudes and the Labour Market Outcomes of Women Across OECD Countries". Oxford Review of Economic Policy. 21 (3): 416–438. doi:10.1093/oxrep/gri024.
  441. ↑ Dobres, Marcia-Anne (2020). "Gender in the Earliest Human Societies". A Companion to Global Gender History. hlm. 183–204. doi:10.1002/9781119535812.ch11. ISBN 978-1-119-53580-5.
  442. ↑ "The Nature of Kinship: Overview". www2.palomar.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Desember 2020. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  443. ↑ Itao K, Kaneko K (Februari 2020). "Evolution of kinship structures driven by marriage tie and competition". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 117 (5): 2378–2384. Bibcode:2020PNAS..117.2378I. doi:10.1073/pnas.1917716117. PMC 7007516. PMID 31964846.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  444. ↑ Schacht, Ryan; Kramer, Karen L. (17 Juli 2019). "Are We Monogamous? A Review of the Evolution of Pair-Bonding in Humans and Its Contemporary Variation Cross-Culturally". Frontiers in Ecology and Evolution. 7 230. Bibcode:2019FrEEv...7..230S. doi:10.3389/fevo.2019.00230.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  445. ↑ Dupanloup, Isabelle; Pereira, Luísa; Bertorelle, Giorgio; Calafell, Francesc; Prata, Maria João; Amorim, Antonio; Barbujani, Guido (2003). "A Recent Shift from Polygyny to Monogamy in Humans is Suggested by the Analysis of Worldwide Y-Chromosome Diversity". Journal of Molecular Evolution. 57 (1): 85–97. Bibcode:2003JMolE..57...85D. doi:10.1007/s00239-003-2458-x. PMID 12962309.
  446. ↑ Nelson, Emma; Rolian, Campbell; Cashmore, Lisa; Shultz, Susanne (3 November 2010). "Digit ratios predict polygyny in early apes, Ardipithecus, Neanderthals and early modern humans but not in Australopithecus". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences (dalam bahasa Inggris). 278 (1711): 1556–1563. doi:10.1098/rspb.2010.1740. PMC 3081742. PMID 21047863.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  447. ↑ Chandra, Kanchan (2012). Constructivist theories of ethnic politics. Oxford University Press. hlm. 69–70. ISBN 978-0-19-989315-7. OCLC 829678440.
  448. ↑ People J, Bailey G (2010). Humanity: An Introduction to Cultural Anthropology (Edisi 9th). Wadsworth Cengage learning. hlm. 389. In essence, an ethnic group is a named social category of people based on perceptions of shared social experience or one's ancestors' experiences. Members of the ethnic group see themselves as sharing cultural traditions and history that distinguish them from other groups. Ethnic group identity has a strong psychological or emotional component that divides the people of the world into opposing categories of 'us' and 'them.' In contrast to social stratification, which divides and unifies people along a series of horizontal axes based on socioeconomic factors, ethnic identities divide and unify people along a series of vertical axes. Thus, ethnic groups, at least theoretically, cut across socioeconomic class differences, drawing members from all strata of the population.
  449. ↑ Blackmore E (22 Februari 2019). "Race and ethnicity: How are they different?". Culture (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 22 Oktober 2020. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  450. ↑ Chandra K (2006). "What is Ethnic Identity and Does It Matter?". Annual Review of Political Science (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 397–424. doi:10.1146/annurev.polisci.9.062404.170715.
  451. ↑ Smith AD (1999). Myths and Memories of the Nation. Oxford University Press. hlm. 4–7.
  452. ↑ Banton M (2007). "Max Weber on 'ethnic communities': a critique". Nations and Nationalism. 13 (1): 19–35. doi:10.1111/j.1469-8129.2007.00271.x.
  453. ↑ Delanty G, Kumar K (2006). The SAGE Handbook of Nations and Nationalism. London: Sage. hlm. 171. ISBN 978-1-4129-0101-7.
  454. ↑ Christian D (2004). Maps of Time. University of California Press. ISBN 978-0-520-24476-4.
  455. ↑ Cronk L, Leech BL (20 September 2017). "How Did Humans Get So Good at Politics?". SAPIENS (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Agustus 2020. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  456. ↑ Zmigrod L, Rentfrow PJ, Robbins TW (Mei 2018). "Cognitive underpinnings of nationalistic ideology in the context of Brexit". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 115 (19): E4532–E4540. Bibcode:2018PNAS..115E4532Z. doi:10.1073/pnas.1708960115. PMC 5948950. PMID 29674447.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  457. ↑ Melina R (14 Februari 2011). "What Are the Different Types of Governments?". livescience.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  458. ↑ "Democracy Index 2021: less than half the world lives in a democracy". The Economist Democracy Index. Economist Intelligence Unit. 10 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  459. ↑ Jeannie Evers (23 Desember 2012). "international organization". National Geographic Society (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2017. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  460. ↑ Horan RD, Bulte E, Shogren JF (1 September 2005). "How trade saved humanity from biological exclusion: an economic theory of Neanderthal extinction". Journal of Economic Behavior & Organization (dalam bahasa Inggris). 58 (1): 1–29. doi:10.1016/j.jebo.2004.03.009.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  461. ↑ Gibbons J (11 Agustus 2015). "Why did Neanderthals go extinct?". Smithsonian Insider (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  462. ↑ University of Wyoming (24 Maret 2005). "Did Use of Free Trade Cause Neanderthal Extinction?". www.newswise.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2021. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  463. ↑ Polianskaya A (15 Maret 2018). "Humans may have been trading with each for as long as 300,000 years". inews.co.uk (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Januari 2021. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  464. ↑ Henriques M. "How spices changed the ancient world". www.bbc.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Januari 2021. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  465. ↑ Strauss IE (26 Februari 2016). "The Myth of the Barter Economy". The Atlantic (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2021. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  466. 1 2 "The History of Money". www.pbs.org (dalam bahasa American English). 26 Oktober 1996. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 November 2020. Diakses tanggal 11 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  467. ↑ "Why do we need economists and the study of economics?". Federal Reserve Bank of San Francisco (dalam bahasa Inggris). Juli 2000. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 23 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  468. ↑ Sheskin M. "The inequality delusion: Why we've got the wealth gap all wrong". New Scientist (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2021. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  469. ↑ Yong E (28 September 2016). "Humans: Unusually Murderous Mammals, Typically Murderous Primates". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Mei 2021. Diakses tanggal 7 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  470. ↑ Gómez JM, Verdú M, González-Megías A, Méndez M (Oktober 2016). "The phylogenetic roots of human lethal violence". Nature. 538 (7624): 233–237. Bibcode:2016Natur.538..233G. doi:10.1038/nature19758. PMID 27680701.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  471. ↑ Pagel M (Oktober 2016). "Animal behaviour: Lethal violence deep in the human lineage". Nature. 538 (7624): 180–181. Bibcode:2016Natur.538..180P. doi:10.1038/nature19474. PMID 27680700.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  472. ↑ Duntley, Joshua; Shackelford, Todd K.; Duntley, Joshua; Shackelford, Todd K., ed. (2008). Evolutionary forensic psychology: Darwinian foundations of crime and law. Oxford: Oxford University Press. hlm. 42. doi:10.1093/acprof:oso/9780195325188.001.0001. ISBN 978-0-19-989380-5.
  473. 1 2 Walker, Phillip L. (2001). "A Bioarchaeological Perspective on the History of Violence". Annual Review of Anthropology. 30 (1): 573–596. Bibcode:2001ARAnt..30..573W. doi:10.1146/annurev.anthro.30.1.573.
  474. ↑ Ferguson RB (1 September 2018). "War Is Not Part of Human Nature". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  475. ↑ Ferguson N (September–Oktober 2006). "The Next War of the World". Foreign Affairs. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  476. ↑ Beauchamp, Zack (23 Juni 2015). "600 years of war and peace, in one amazing chart". Vox.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bagian dari rangkaian mengenai Evolusi manusia
Hominini
Australopithecine
Ardipithecus
Australopithecus
Paranthropus
Manusia dan manusia purba
Homo erectus
Berhubungan
Artikel berkaitan dengan Kera
Spesies kera
Human and gorilla skeleton
Penelitian kera
Status sosial dan legal
Lihat juga


Manusia di proyek saudari Wikipedia:
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan