Selasa, 27 Oktober 2026
02:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Limbah manusia

Bagikan:

Limbah manusia (atau ekskreta manusia) merujuk pada produk limbah dari sistem pencernaan manusia, darah haid, dan metabolisme manusia termasuk urine dan tinja. Sebagai bagian dari sistem sanitasi yang ada, limbah manusia dikumpulkan, diangkut, diolah, dan dibuang atau digunakan kembali dengan satu metode atau lainnya, tergantung pada jenis toilet yang digunakan, kemampuan pengguna untuk membayar layanan, dan faktor lainnya. Manajemen lumpur tinja digunakan untuk menangani materi tinja yang dikumpulkan dalam sistem sanitasi di tempat seperti jamban cemplung dan tangki septik.

Sistem sanitasi yang ada sangat bervariasi di seluruh dunia, dengan banyak orang di negara berkembang terpaksa melakukan buang air besar sembarangan di mana limbah manusia dibuang ke lingkungan, karena kurangnya pilihan lain. Peningkatan dalam "pasokan air, sanitasi dan higiene" (WASH) di seluruh dunia merupakan isu kesehatan masyarakat utama dalam pembangunan internasional dan menjadi fokus Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6.

Penduduk di negara maju cenderung menggunakan toilet siram di mana limbah manusia dicampur dengan air dan diangkut ke instalasi pengolahan air limbah.

Ekskreta anak-anak dapat dibuang dalam popok dan dicampur dengan limbah padat perkotaan. Popok juga terkadang dibuang langsung ke lingkungan, yang menimbulkan risiko kesehatan masyarakat.

Terminologi

Istilah "limbah manusia" digunakan dalam media umum untuk merujuk pada beberapa hal, seperti air limbah, lumpur limbah, air hitam - pada kenyataannya apa pun yang mungkin mengandung sedikit feses manusia.[1] Dalam pengertian istilah yang lebih ketat, limbah manusia sebenarnya adalah ekskreta manusia, yaitu urine dan tinja, dengan atau tanpa campuran air. Sebagai contoh, toilet kering mengumpulkan limbah manusia tanpa penambahan air.

Aspek kesehatan

Limbah manusia dianggap sebagai limbah biomedis, karena merupakan vektor bagi penyakit virus maupun bakteri. Hal ini dapat menjadi bahaya kesehatan yang serius jika masuk ke dalam sumber air minum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa hampir 2,2 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi, seperti kolera atau disentri. Pencapaian besar peradaban manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui limbah manusia dengan praktik higiene dan sanitasi, yang dapat menggunakan berbagai teknologi berbeda.

Aspek lingkungan

Bahkan pegunungan tinggi tidak bebas dari limbah manusia. Setiap tahun, jutaan pendaki mengunjungi daerah pegunungan tinggi. Mereka menghasilkan berton-ton feses dan urine setiap tahun yang menyebabkan polusi lingkungan. Feses manusia menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi lingkungan pegunungan daripada pembuangan urine yang tidak terkontrol, karena kandungan patogen feses yang lebih tinggi.[2]

Metode pengolahan

Metode pengolahan bergantung pada jenis limbah manusia:

Jumlah air yang bercampur dengan limbah manusia dapat dikurangi dengan penggunaan urinoir tanpa air dan toilet pengomposan serta dengan mendaur ulang air kelabu. Metode pengolahan limbah manusia yang paling umum di daerah pedesaan di mana sistem saluran pembuangan kota tidak tersedia adalah penggunaan sistem tangki septik. Di tempat-tempat pedesaan terpencil tanpa sistem saluran pembuangan atau septik, populasi kecil memungkinkan penggunaan berkelanjutan toilet ember dan laguna limbah (lihat laguna anaerobik) tanpa ancaman penyakit yang muncul di tempat dengan populasi yang lebih padat. Toilet ember digunakan oleh desa-desa pedesaan di Alaska di mana, karena permafrost, sistem pengolahan limbah konvensional tidak dapat digunakan.

Penggunaan

Limbah manusia dalam bentuk air limbah digunakan untuk mengairi dan memupuk lahan di banyak bagian dunia berkembang di mana air bersih tidak tersedia. Terdapat potensi besar bagi pertanian air limbah untuk memproduksi lebih banyak makanan bagi konsumen di daerah perkotaan, asalkan ada edukasi yang cukup mengenai bahaya memakan makanan tersebut tanpa dimasak.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Freeman, David (25 Maret 2015). "Human Waste May Be Flush With Gold, Silver, And Other Valuable Metals". Huffington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2016. Diakses tanggal 8 Juni 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Apollo, Michal (2017-01-02). "The good, the bad and the ugly – three approaches to management of human waste in a high-mountain environment". International Journal of Environmental Studies. 74 (1): 129–158. Bibcode:2017IJEnS..74..129A. doi:10.1080/00207233.2016.1227225. ISSN 0020-7233. S2CID 113843846.
  3. ↑ Human Waste Used by 200 Million Farmers, Study Says, National Geographic News, August 21, 2008
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan