Kamis, 29 Oktober 2026
13:37 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Orang utan tapanuli

Orang utan tapanuli

spesies orang utan

Bagikan:
Orang utan tapanuli
250px-Pongo_tapanuliensis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jantan dewasa
250px-Pongo_tapanuliensis_female.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Betina dewasa
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Hominidae
Genus: Pongo
Spesies:
P. tapanuliensis
Nama binomial
Pongo tapanuliensis
Nurcahyo, Meijaard, Nowak, Fredriksson & Groves, 2017[catatan 1]
Orang utan tapanuli di Sumatra
Orang utan tapanuli
Perkiraan lokasi di Sumatra

Orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) atau Nihagatua dalam bahasa Nias, Maos dalam bahasa Batak Toba, Mawas dalam bahasa Angkola[2]merupakan salah satu spesies dari genus orang utan (Pongo) yang berasal dari daerah Tapanuli, Sumatra.[3] Tapanuli. Orang utan tapanuli merupakan tambahan spesies baru sekaligus spesies ketiga yang ditemukan setelah spesies orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan sumatra (Pongo abelii).[4]

Penemuan orang utan tapanuli

Keberadaan populasi Orang utan terpencil di ekosistem Batang Toru, Tapanuli Selatan sebenarnya telah dilaporkan sejak tahun 1939.[5] Populasi yang sama kembali dilaporkan pada ekspedisi pada tahun 1997,[6] tetapi tidak diakui sebagai spesies orang utan yang baru.[7]

Orang utan tapanuli baru diakui sebagai spesies orang utan yang baru setelah penelitian filogenetik tahun 2017. Penelitian tersebut menganalisis 37 sampel genetik individu liar dari Sumatra maupun Kalimantan dan juga penelitian morfologi terhadap kerangka 34 orang utan jantan.[8] Holotipe yang digunakan untuk mendeskripsikan spesies ini merupakan spesimen kerangka lengkap individu jantan yang meninggal akibat dilukai penduduk setempat pada November 2013 dan disimpan di Museum Zoologi Bogor.[8][9] Tengkorak dan gigi dari Orang utan tapanuli berbeda jauh dari Orang utan sumatra dan Orang utan kalimantan.[10] Penelitian menggunakan mode Analisis komponen utama dan Genetika populasi menandakan populasi Batang Toru adalah spesies yang baru, berbeda dari populasi lainnya.[8]

Nama spesifik, tapanuliensis, berasal dari nama daerah Tapanuli di Sumatera Utara, dimana populasi spesies ini ditemukan.[8][11]

Habitat orang utan tapanuli

Habitat orang utan tapanuli berada di wilayah Batang Toru, yang merupakan jenis Hutan tropis dan subtropis basah berdaun lebar, terletak di selatan Danau Toba. Seluruh populasi orang utan tapanuli ditemukan di area sekitar 1.000 km2 (390 sq mi) dan pada ketinggian dari 300 hingga 1.300 m (980 hingga 4.300 ft).[8] Populasi ini terisolasi dari populasi orang utan sumatra dan hanya terpisah dengan jarak 100 km (62 mi).[11]

Ciri-ciri fisik

250px-Bornean%2C_Sumatran_%26_Tapanuli_orangs_%28horizontal%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perbandingan individu orang utan jantan (dari kiri ke kanan): Kalimantan, Sumatra, Tapanuli

Tengkorak orang utan tapanuli lebih kecil dibandingkan orang utan sumatra dan orang utan kalimantan.[3] Tulang rahangnya juga lebih halus. Gigi geraham [4] dan gigi taringnya lebih besar dibanding spesies lain.[3] Dibandingkan orang utan sumatra dan orang utan kalimantan, bulu orang utan tapanuli lebih tebal dan lebih keriting. Kumis dan jenggotnya juga tampak lebih menonjol disertai bantalan pipi yang berbentuk datar dan dipenuhi rambut halus berwarna pirang. Orang utan tapanuli jantan memiliki panggilan jarak jauh berbeda dibanding panggilan spesies orang utan lainnya.[4]

Sama dengan orang utan lainnya, jantan lebih besar dari betina; jantan memiliki tinggi 137 cm (54 in) dan berat 70–90 kg (150–200 pon), sedangkan betina memiliki tinggi 110 cm (43 in) dan berat 40–50 kg (88–110 pon).[8][12]

Catatan

  1. ↑ deskripsi Orang utan Tapanuli adalah kolaborasi antara 37 ilmuwan dari berbagai lembaga di seluruh dunia tetapi nama binomial (nama ilmiah) diberikan oleh lima ilmuwan dikutip di sini. Mereka dikutip sebagai otoritas bionomial karena dalam nomenklatur zoologi, otoritas binomial adalah orang atau tim yang menyediakan nama binomial.

Referensi

  1. ↑ Nowak, Matthew G.; Rianti, Puji; Wich, Serge A.; Meijaard, Erik; Fredriksson, Gabriella (2017). "Pongo tapanuliensis". IUCN Red List of Threatened Species. 2017.3. Uni Internasional untuk Konservasi Alam: e.T120588639A120588662. doi:10.2305/IUCN.UK.2017-3.RLTS.T120588639A120588662.en. Diakses tanggal 10 Desember 2017.
  2. ↑ Sitompul, Rahmadi; Berliani, Kaniwa; Lhota, Stanislav; Kozok, Uli; Siregar, Julius Paolo (2025). "Indigenous names matter, too: Tapanuli orangutan names reflect local community perceptions". Primates (dalam bahasa Inggris). 66 (5): 423–429. doi:10.1007/s10329-025-01199-z. ISSN 1610-7365.
  3. 1 2 3 "ANU helps discover a new species of orangutan" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-11-03.
  4. 1 2 3 Amindoni, Ayomi (2017-11-29). "Orang utan Tapanuli, spesies baru orang utan yang masa depannya 'terancam'" (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2019-09-01.
  5. ↑ Natuur in Zuid- en Oost- Borneo. Fauna, flora en natuurbescherming in de Zuider- en Ooster-Afdeeling van Borneo. In 3 Jaren Indisch Natuur Leven: Opstellen over Landschappen, Dieren en Planten, Tevens Elfde Verslag (1936-1938) [Nature in South and East Borneo. Fauna, flora and nature conservation in the southern and eastern part of Borneo. In 3 Years Dutch Indies Nature Life: Compilation on Landscapes, Animals and Plants, Eleven Reports (1936-1938)] (dalam bahasa Belanda). Batavia, Indonesia: Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming. 1939. hlm. 334–411.
  6. ↑ Meijaard, Erik (25 Desember 2015). "A Sumatran wonderland". Jakarta Globe. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Agustus 2018. Diakses tanggal 15 November 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Gill, Victoria (2 November 2017). "New great ape species identified". BBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 November 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 3 4 5 6 Nater, Alexander; Mattle-Greminger, Maja P.; Nurcahyo, Anton; Nowak, Matthew G.; de Manuel, Marc; Desai, Tariq; Groves, Colin; Pybus, Marc; Sonay, Tugce Bilgin; Roos, Christian; Lameira, Adriano R.; Wich, Serge A.; Askew, James; Davila-Ross, Marina; Fredriksson, Gabriella; de Valles, Guillem; Casals, Ferran; Prado-Martinez, Javier; Goossens, Benoit; Verschoor, Ernst J.; Warren, Kristin S.; Singleton, Ian; Marques, David A.; Pamungkas, Joko; Perwitasari-Farajallah, Dyah; Rianti, Puji; Tuuga, Augustine; Gut, Ivo G.; Gut, Marta; Orozco-terWengel, Pablo; van Schaik, Carel P.; Bertranpetit, Jaume; Anisimova, Maria; Scally, Aylwyn; Marques-Bonet, Tomas; Meijaard, Erik; Krützen, Michael (2 November 2017). "Morphometric, behavioral, and genomic evidence for a new orangutan species". Current Biology. 27 (22): 3487–3498. doi:10.1016/j.cub.2017.09.047. PMID 29103940.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Goldman, Jason G. (2 November 2017). "New species of orangutan is rarest great ape on earth". National Geographic Society. Diakses tanggal 6 November 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Stokstad, Erik (12 November 2017). "New great ape species found, sparking fears for its survival". Science. Diakses tanggal 15 November 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. 1 2 Davis, Nicola (2 November 2017). "New species of orangutan discovered in Sumatra – and is already endangered". The Guardian. Diakses tanggal 15 November 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ "Tapanuli Orangutan". New England Primate Conservancy. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-12-02. Diakses tanggal 2020-11-06.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan