Senin, 28 September 2026
10:55 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal
Meganthropus

Meganthropus

Manusia Purba

Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia.
Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Meganthropus
Rentang waktu: Early Pleistocene–Middle Pleistocene
250px-Meganthropus_palaeojavanicus_cranium.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi tengkorak bedasarkan afinitias dengan Ponginae
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Hominidae
Genus: †Meganthropus
Spesies:
†M. palaeojavanicus
Nama binomial
†Meganthropus palaeojavanicus
von Koenigswald, 1950
Sinonim
  • †Homo erectus palaeojavanicus
  • †Pithecanthropus dubius

Meganthropus adalah sekumpulan koleksi fosil mirip manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Fosil ini pertama kali ditemukan oleh G.H.R von Koenigswald pada tahun 1936 dan berakhir 1941 di Situs Sangiran, yaitu rahang bawah dan rahang atas. Ketika pertama ditemukan, von Koenigswald menyebutnya Meganthropus palaeojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa. Ciri-ciri fosil ini berbeda dari Pithecanthropus erectus (Homo erectus) yang lebih dulu ditemukan di Sangiran. Fosil serupa juga ditemukan oleh Marks pada tahun 1952 berupa rahang bawah.[1]

250px-Pithecanthropus_modjokertensis.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Salah satu kerangka dari manusia purba

Pada pertengahan tahun 2000-an taksonomi dan filogeni spesimen tersebut masih belum pasti, dan sebagian besar ahli paleoantropologi menganggap mereka berkerabat dengan Homo erectus dalam beberapa hal. Namun, nama Homo palaeojavanicus dan Australopithecus palaeojavanicus juga digunakan, yang menunjukkan ketidakpastian klasifikasi.

Setelah ditemukannya tengkorak kokoh di Swartkrans pada tahun 1948 (SK48), nama Meganthropus africanus sempat digunakan. Namun, spesimen tersebut sekarang secara resmi dikenal sebagai Paranthropus robustus dan nama sebelumnya merupakan sinonim junior. Beberapa temuan ini disertai dengan bukti penggunaan alat yang mirip dengan Homo erectus. Inilah alasan Meganthropus sering dikaitkan dengan spesies tersebut sebagai H. e. palaeojavanicus. Pada tahun 2019, studi morfologi gigi menemukan Meganthropus valid genus kera hominid non-hominin, berkerabat dekat dengan Lufengpithecus.[2]

Ciri ciri tubuhnya kekar, rahang dan gerahamnya besar, serta tidak berdagu sehingga menyerupai kera, diperkirakan juga makanan yang dikonsumsi oleh manusia purba ini adalah tumbuh-tumbuhan. Meganthropus diperkirakan hidup 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu, pada masa Paleolitikum atau Zaman Batu Tua. Meganthropus memiliki kelebihan pada bentuk tubuhnya yang lebih besar dibandingkan manusia purba lainnya.

Referensi

  1. ↑ "ITIS - Report: Meganthropus". www.itis.gov. Diakses tanggal 2023-03-06.
  2. ↑ Zanolli, Clément; Kullmer, Ottmar; Kelley, Jay; Grine, Frederick E.; Bacon, Anne-Marie; Demeter, Fabrice; Dumoncel, Jean; Fiorenza, Luca; Hublin, Jean-Jacques, Nguyen Anh Tuan, Thi Mai Huong (Mei 2019). "Evidence for increased hominid diversity in the Early to Middle Pleistocene of Indonesia". Nature Ecology & Evolution (dalam bahasa Inggris). 3 (5): 755–764. doi:10.1038/s41559-019-0860-z. ISSN 2397-334X. PMID 30962558.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan