Rabu, 07 Oktober 2026
14:49 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara

Kewawasan

praktik memperhatikan pengalaman yang terjadi pada saat ini

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang kewawasan (mindfulness) sekuler. Untuk kewawasan dalam Buddhisme, lihat Sati (Buddhisme). Untuk konsep awareness, lihat Keawasan. Untuk konsep insight, lihat Wawasan.
Bagian dari seri tentang
Kewawasan
60px-Lotus_position.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kategori

Dalam psikologi klinis dan kajian kesejahteraan psikologis, kewawasan atau keelingan (Inggris: mindfulness) adalah keterampilan kognitif (cognitive skill)[1] atau keadaan yang dicapai dengan secara sengaja[2] mempertahankan keawasan (awareness) dari saat ke saat terhadap sensasi tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan sekitar[3][4][web 1] dengan sikap tanpa menghakimi atau berkeseimbangan batin,[4][5] sehingga mengimbangi ruminasi dan elaborasi kognitif (perkembangbiakan pikiran) otomatis atas pengalaman seseorang.[6][web 1][7] Istilah Inggris mindfulness berasal dari kata Pali sati, unsur penting dalam tradisi Buddhis,[8][9] dan praktiknya menyerap unsur-unsur teknik meditasi Theravāda, Chan, serta Tibet.[10][11][a]

Kewawasan merupakan bentuk meditasi yang disekularkan, hasil sinkretisme timbal balik antara tradisi spiritual Timur yang dipengaruhi esoterisme dan agama Barat di satu sisi, dan tradisi serta psikologi Barat yang dipengaruhi tradisi Timur yang telah tersinkretisasi itu di sisi lain.[12] Pada 1975, kewawasan diperkenalkan ke dalam kedokteran Barat oleh Herbert Benson, lalu pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an dipadukan ke dalam program kesehatan dan psikoterapi oleh Jon Kabat-Zinn, Zindel Segal, dan Mark Williams.[13] Mereka dan sejumlah tokoh lain dalam psikologi klinis dan psikiatri mengembangkan berbagai penerapan terapeutik berbasis intervensi kewawasan untuk membantu orang dengan beragam kondisi psikologis.[12][b] Sejak dasawarsa 1990-an, meditasi kewawasan sekuler diterima luas oleh masyarakat Barat.[14]

Kajian klinis mendokumentasikan manfaat kewawasan bagi kesehatan mental[15][16][17] maupun kesehatan fisik[18][19][20] pada berbagai kelompok pasien serta pada orang dewasa dan anak yang sehat.[21][22][23][24] Penelitian kewawasan juga lama menuai kritik, terutama pada dasawarsa-dasawarsa awalnya, karena kekakuan metodologisnya dianggap terbatas.[25][26] Penelitian yang lebih mutakhir jauh lebih ketat, dengan uji acak terkendali, kelompok kontrol aktif, dan standar metodologis yang lebih kuat.[21]

Sebagian pengkritik berpendapat bahwa kewawasan terlalu dikomersialkan dan dipasarkan berlebihan, serta bahwa "McMindfulness" mencerabutnya dari akar etika dan kebijaksanaan buddhis dan mengubahnya menjadi produk swabantu yang berorientasi produktivitas.[27][web 2][web 3][c]

Etimologi

Istilah buddhis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai mindfulness berasal dari kata Pali sati dan padanan Sanskertanya, smṛti. Kata itu kerap diterjemahkan sebagai "perhatian belaka" (bare attention), tetapi dalam tradisi buddhis maknanya lebih luas, dan makna kedua istilah tersebut menjadi bahan perdebatan panjang.[28]

Kata Inggris mindfulness sudah ada sebelum dipakai dalam konteks buddhis (Barat). Bentuk myndfulness tercatat pertama kali pada 1530 (ketika John Palsgrave menerjemahkan kata Prancis pensée), lalu mindfulnesse pada 1561, dan mindfulness pada 1817. Secara morfologis, bentuk yang lebih tua mencakup mindful (tercatat 1340), mindfully (1382), dan mindiness yang kini usang (sekitar 1200).[29] Menurut Kamus Merriam-Webster, mindfulness juga dapat berarti "keadaan sadar/awas" (Inggris: a state of being aware).[web 4] Sinonim untuk "keadaan sadar/awas" (a state of being aware) ini antara lain keterjagaan (wakefulness),[30][31] perhatian (attention),[web 5] kesiagaan (alertness),[web 6] prudensi (prudence),[web 6] kehati-hatian (conscientiousness),[web 6] keawasan (awareness),[web 4] kesadaran (consciousness),[web 4] dan pengamatan/observasi (observation).[web 4]

Pakar bahasa Pali Thomas William Rhys Davids (1843–1922) pertama kali menerjemahkan sati pada 1881 sebagai mindfulness dalam frasa sammā-sati, "Kewawasan Benar; pikiran yang aktif dan awas".[32] Sambil mencatat bahwa Daniel John Gogerly (1845) semula mengalihbahasakan sammā-sati sebagai "meditasi yang benar",[33] Davids menulis:

sati secara harfiah berarti 'ingatan', tetapi dipakai berkaitan dengan frasa yang berulang kali muncul, 'wawas dan tahu jelas' (sato sampajāno), dan menunjuk pada kegiatan batin serta kehadiran batin yang terus-menerus, yang merupakan salah satu kewajiban yang paling sering ditanamkan kepada seorang buddhis yang baik.[34]

Menurut Bryan Levman, "kata sati mengandung makna 'ingatan' dan 'pengingatan' dalam sebagian besar penggunaannya, baik dalam sutta maupun dalam kitab komentar [buddhis tradisional], dan tanpa komponen ingatan, gagasan kewawasan tidak dapat dipahami atau diterapkan dengan benar, karena kewawasan memerlukan ingatan agar berdaya guna".[35]

Menurut Robert Sharf, smṛti semula berarti 'mengingat', 'mengenang', 'menyimpan dalam batin', seperti dalam tradisi Weda yang menghafalkan teks suci. Kata sati juga berarti 'mengingat'.[36]

John D. Dunne menilai penerjemahan sati dan smṛti sebagai mindfulness membingungkan. Sejumlah cendekiawan buddhis mulai mengusulkan 'retensi' sebagai alternatif yang lebih tepat.[37] Bhikkhu Bodhi juga menjelaskan makna sati sebagai 'ingatan'.[web 7][d][e]

Makna dan definisi

Definisi kewawasan sangat beragam, dan keberagaman itu membatasi keterbandingan hasil penelitian.[39] Kewawasan dapat didefinisikan sebagai praktik (yaitu seperangkat keterampilan dan teknik), sebagai keadaan mental, atau sebagai sifat bawaan.[40][41] Meskipun kerap dirumuskan sebagai "keawasan yang berpusat pada saat kini" (present-centered awareness) atau "perhatian belaka" (bare attention),[42] rumusan itu dipersoalkan dan dikritik,[39] karena kewawasan dalam Buddhisme juga mencakup pembedaan yang jeli dan penilaian etis.[42] Untuk memberi pengantar yang memadai, latar Buddhisnya dibahas lebih dahulu, baru kemudian pendekatan ilmiah psikologis.

Buddhisme

Artikel utama: Sati (Buddhisme)

Kewawasan sekuler diturunkan dari teknik meditasi Buddhis; kata mindfulness menerjemahkan istilah sati dan smṛti.[8][43][40] Kedua istilah itu bermakna majemuk, berpusat pada ingatan dan pengenangan dhamma ("fenomena"), keawasan yang berpusat pada saat kini (present-centered awareness), serta perilaku yang etis (sila) dan pengendalian diri.[4]

Pengenangan dhamma

Kata Pali sati, yang lazim diterjemahkan sebagai 'perhatian-penuh, kesadaran-penuh, pengingatan, mindfulness', membawa konotasi ingatan. Teks Buddhis awal menggambarkan gagasan itu bukan hanya sebagai keawasan atas persepsi indrawi (awareness of sense perceptions), melainkan juga sebagai pengenangan ajaran Buddha[44] dan peristiwa masa lalu:

Sati diperlukan bukan hanya untuk sepenuhnya menyerap saat yang hendak diingat, melainkan juga untuk memanggil kembali saat itu ke dalam batin di kemudian waktu. [...] Watak ganda sati ini juga tampak dalam beberapa syair dari kitab Suttanipāta yang meminta pendengarnya berangkat dengan sati setelah menerima petunjuk Buddha. Dalam hal ini sati tampaknya memadukan keawasan saat kini (present moment awareness) dan pengingatan atas apa yang telah diajarkan Buddha.[45]

Dalam Satipaṭṭhāna Sutta, istilah sati berarti mengenang dhamma ("fenomena"; Sanskerta: dharma), sehingga hakikat sejati segala fenomena dapat terlihat.[28] Sharf merujuk pada kitab Milindapañha, yang menyatakan bahwa munculnya sati memanggil kembali dhamma yang bermanfaat, seperti empat landasan kewawasan (satipaṭṭhāna), lima indriya, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan pencapaian pandangan terang (vipassanā).[46] Menurut Rupert Gethin,

[sati] hendaknya dipahami sebagai yang memungkinkan keawasan (awareness) atas seluruh cakupan dan jangkauan dhamma; sati adalah keawasan (awareness) atas hal-hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain, dan karenanya keawasan (awareness) atas nilai nisbinya. Diterapkan pada satipaṭṭhāna, agaknya ini berarti bahwa sati membuat pelaku yoga "mengingat" bahwa setiap perasaan yang dialaminya ada dalam kaitan dengan seluruh ragam atau dunia perasaan yang bisa terampil atau tidak terampil, bercela atau tanpa cela, relatif rendah atau halus, gelap atau murni.[47][f]

Perhatian belaka dan perilaku etis

Sharf mencatat bahwa makna asal sati hampir tidak berkaitan dengan "perhatian belaka" (Inggris: bare attention), tafsir populer masa kini atas sati, "karena ia mencakup, antara lain, pembedaan yang tepat atas nilai moral fenomena ketika fenomena itu muncul".[47]

Georges Dreyfus juga menyatakan keberatan atas penggambaran kewawasan sebagai "perhatian belaka" (bare attention) atau "keawasan yang tidak elaboratif, tidak menghakimi, dan berpusat pada saat kini" (nonelaborative, nonjudgmental, present-centered awareness), dan menegaskan bahwa kewawasan dalam konteks buddhis juga berarti "mengingat", yang menunjukkan bahwa fungsi kewawasan mencakup pula penyimpanan informasi.[48][g] Robert H. Sharf mencatat bahwa praktik buddhis bertujuan mencapai "pandangan benar" (correct view), bukan sekadar "perhatian belaka" (bare attention).[web 8][h]

Jay L. Garfield, dengan mengutip Shantideva dan sumber lain, menegaskan bahwa kewawasan terbentuk dari penyatuan dua fungsi, yaitu memanggil ke dalam batin dan menjaganya tetap dalam batin dengan waspada. Ia menunjukkan adanya kaitan langsung antara praktik kewawasan dan pengembangan moralitas, setidaknya dalam konteks Buddhisme yang menjadi sumber tafsir modern atas kewawasan.[49]

Definisi buddhis masa kini

Menurut Bhante Vimalaramsi, seorang biku Amerika, dalam bukunya A Guide to Tranquil Wisdom Insight Meditation, istilah "kewawasan" kerap ditafsirkan berbeda dari rumusan asli Buddha. Dalam konteks Buddhisme, ia menawarkan definisi berikut:

Kewawasan berarti mengingat untuk mengamati bagaimana perhatian batin berpindah dari satu hal ke hal lain. Bagian pertama kewawasan adalah mengingat untuk mengamati batin dan mengingat untuk kembali ke objek meditasi ketika batin mengembara. Bagian kedua kewawasan adalah mengamati bagaimana perhatian batin berpindah dari satu hal ke hal lain.[50]

Dalam garis silsilah Thích Nhất Hạnh, kewawasan terjalin erat dengan gagasan interbeing, yaitu anggapan bahwa segala sesuatu saling terhubung. Aliran pemikiran ini menekankan keawasan (awareness) atas saat kini dan kehidupan yang etis, sebagai cerminan sifat keberadaan yang saling terhubung.[51][52] Thích Nhất Hạnh mendefinisikan kewawasan sebagai "energi yang menerangi segala hal dan segala kegiatan, menghasilkan daya konsentrasi, serta memunculkan pandangan terang yang mendalam dan penyadaran".[53]

Shinzen Young menyatakan bahwa seseorang disebut wawas ketika ia memiliki keawasan (awareness) yang wawas, dan mendefinisikannya sebagai keadaan ketika "daya konsentrasi, kejernihan indrawi, dan keseimbangan batin bekerja bersama".[web 9] John Yates (Culadasa) mendefinisikan kewawasan sebagai "interaksi optimal antara perhatian dan keawasan periferal", dengan membedakan perhatian dan keawasan periferal sebagai dua mode berbeda dalam menyadari sesuatu.[54]

Psikologi

Persoalan metodologis

Sejumlah cendekiawan mengkritik cara kewawasan didefinisikan atau disajikan dalam terbitan psikologi Barat mutakhir.[55][56] Dalam psikologi, makna kewawasan lebih sempit daripada dalam Buddhisme.[4] Pemahaman modern ini menyimpang jauh dari uraian tentang kewawasan dalam teks Buddhis awal dan kitab komentar otoritatif tradisi Theravāda serta Mahāyāna India.[56]: 62 [57]

Purser dan Milillo mencatat bahwa para cendekiawan dan psikolog cenderung menafsirkan kewawasan secara sempit, terbatas pada "kapasitas kognitif berupa perhatian dan keawasan (the cognitive capacities of attention and awareness)", dengan menyoroti secara selektif "peran perhatian sebagai komponen kunci kewawasan".[58] Adam Valerio berpendapat bahwa pertentangan antardisiplin akademik mengenai cara kewawasan didefinisikan, dipahami, dan disajikan kepada khalayak bisa jadi menandai perebutan kepemilikan atas kewawasan, baik pada tataran pribadi, kelembagaan, maupun paradigmatik, tempat para akademikus, peneliti, dan penulis terlibat secara pribadi tak ubahnya komunitas keagamaan.[59]

Keterampilan (praktik), keadaan, sifat bawaan

Kewawasan adalah istilah bermakna jamak, karena dapat didefinisikan sebagai sifat bawaan, keadaan mental, maupun praktik atau keterampilan:[40][41]

  1. Sifat bawaan (trait), yaitu ciri disposisional yang relatif bertahan lama,[60] berupa kecenderungan seseorang untuk lebih sering memasuki dan lebih mudah bertahan dalam keadaan wawas;[61]
  2. Keadaan (state), yaitu luaran berupa keawasan (awareness) yang muncul dari latihan kewawasan,[60] yakni berada dalam keadaan sadar akan saat kini;[61]
  3. Keterampilan atau praktik (praktik meditasi kewawasan itu sendiri)[i] untuk mencapai keadaan wawas.

Beberapa kuesioner memperlakukan kewawasan sebagai keadaan,[j] sementara alat ukur lain dikembangkan berdasarkan laporan diri atas konstruk bertipe sifat bawaan.[66][k]

Definisi

Berdasarkan gabungan berbagai sumber, kewawasan dapat didefinisikan sebagai:
* keterampilan kognitif (cognitive skill) untuk,[68][69][70][1][71] atau keadaan yang dicapai dengan[2][72]
* secara sengaja dan bertujuan[2]
* mempertahankan keawasan metakognitif (menaruh perhatian)
* pada saat kini[73][5][l][74][3][25][75] terhadap
- sensasi indrawi (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sensasi jasmani) serta
- peristiwa atau isi batin (pikiran, emosi, persepsi, dan kehendak)
* dengan sikap tanpa menghakimi atau berkeseimbangan batin,[4][5][web 1]
* sehingga mengimbangi ruminasi dan elaborasi kognitif (perkembangbiakan pikiran) otomatis atas "apa yang menampakkan diri dalam pengalaman".[6][web 1][7]

Jon Kabat-Zinn, tokoh perintis yang memperkenalkan pendekatan berbasis kewawasan ke dalam layanan kesehatan dan ilmu psikologi, menggambarkan kewawasan sebagai "keawasan (awareness) yang muncul melalui menaruh perhatian, secara sengaja, pada saat kini, dan tanpa menghakimi, terhadap pengalaman yang tersingkap dari saat ke saat".[3]

Meski begitu, Kabat-Zinn juga menyatakan bahwa kata itu dimaksudkan mencakup baik penerapan keawasan (awareness) yang disengaja maupun "istilah payung yang merangkum seluruh unsur lain Jalan Mulia Berunsur Delapan, bahkan Dhamma itu sendiri, setidaknya dalam bentuk tersirat".[76][m]

Williams dkk. (2007) mendefinisikan kewawasan sebagai "keawasan (awareness) yang muncul melalui menaruh perhatian secara sengaja, pada saat kini, dan tanpa menghakimi, terhadap segala sesuatu sebagaimana adanya".[2]

Bishop dkk. (2004), berdasarkan kesepakatan di kalangan psikolog klinis, mengusulkan model dua komponen, yaitu perhatian yang diregulasi sendiri dan orientasi tertentu terhadap pengalaman yang ditandai oleh rasa ingin tahu, keterbukaan, serta penerimaan.[55][n]

Menurut Chems-Maarif dkk. (2025), definisi psikologis "menekankan (a) keawasan yang berpusat pada saat kini (present-centered awareness) dan perhatian belaka (bare attention), serta (b) sikap menerima dan tidak menghakimi".[39][o]

Greater Good Science Center di Universitas California, Berkeley menggambarkan kewawasan sebagai "pemeliharaan keawasan (awareness) dari saat ke saat atas pikiran, perasaan, sensasi jasmani, dan lingkungan sekitar kita melalui lensa yang lembut dan mengasuh. [Kewawasan] mencakup penerimaan, artinya kita menaruh perhatian pada pikiran dan perasaan tanpa menghakiminya [...] pikiran kita selaras dengan apa yang kita rasakan pada saat kini, alih-alih mengunyah ulang masa lalu atau membayangkan masa depan".[web 1][p]

Alvear dkk. (2022) meneliti teori awam (nonakademik) tentang kewawasan dan mengenali tujuh tema, yaitu perhatian/keawasan (attention/awareness), sikap tanpa penilaian, strategi, keadaan, pengembangan diri, analisis teoretis, dan "ketiadaan pemahaman tentang kewawasan".[77]

Keawasan saat kini dan perhatian belaka

Menurut Shonin dan Van Gordon, "praktik kewawasan pada dasarnya berkenaan dengan menjadi lebih sadar akan saat kini".[78] Chems-Maarif dkk. (2025) mencatat bahwa "berada pada saat kini dipandang sebagai ciri penting dalam pengembangan kewawasan dalam Buddhisme",[79] dan keawasan saat kini (present-centered awareness) serta perhatian belaka (bare attention) juga sentral dalam pemahaman psikologis atas kewawasan,[80] tetapi mereka juga mencatat bahwa "cendekiawan lain menggugat anggapan bahwa fokus pada saat kini adalah inti kewawasan, dan mengkritiknya sebagai pandangan populer dalam definisi kewawasan masa kini yang dijuluki here-and-now-ism".[81][q]

Chems-Maarif dkk. (2025) juga mencatat bahwa "kepusatan keawasan pada saat kini (present-centered awareness) dan perhatian belaka (bare attention) masih agak kabur", dan bahwa "keawasan atas saat kini (awareness of the present moment) adalah gagasan yang sangat luas sehingga perlu dijelaskan lebih lanjut isinya".[82] Hal itu dapat dicapai dengan memperjelas objek perhatian, yaitu "menghubungkan yang di sini dan kini dengan dimensi pengalaman yang kasatmata".[82][75]

Secara fenomenologis,[83] "saat kini" dapat dipandang sebagai arus yang terus berubah[84] berupa pengalaman yang muncul dan lenyap, terdiri atas "persepsi indrawi dan peristiwa batin yang terus berubah".[85]

Chems-Maarif dkk. (2025) mencatat bahwa penekanan pada keawasan saat kini (present-moment awareness) tidak selaras dengan pertalian makna istilah sati dengan ingatan/memori dan pengenangan, mengacu pada pengingatan kembali ajaran Buddha demi kehidupan yang benar.[81] Kewawasan dengan demikian lebih merupakan kehadiran saat ini (Inggris: being present),[81] dan mencakup "pemahaman jernih serta pandangan terang atas hakikat fenomena".[81]

"Perhatian belaka" (bare attention), yaitu "perhatian tanpa pengolahan lanjutan", adalah gagasan yang dipopulerkan Nyanaponika Thera pada dasawarsa 1960-an. Ia menggambarkan perhatian (atau keawasan) belaka (Inggris: bare attention/awareness) sebagai "pencatatan belaka (bare registering) atas fakta yang diamati, tanpa bereaksi terhadapnya lewat perbuatan, ucapan, atau komentar batin yang bisa berupa pengacuan diri (suka, tidak suka, dan sebagainya), penghakiman, atau perenungan".[86][r] Chems-Maarif dkk. (2025) juga mencatat bahwa "keawasan yang berpusat pada saat kini (present-centered awareness) berfungsi mengimbangi elaborasi kognitif (perkembangbiakan pikiran) atas apa yang menampakkan diri dalam pengalaman".[88] Namun, "perhatian belaka" (bare attention) juga ditafsirkan secara lebih sempit, yaitu semata-mata sebagai "pengenalan belaka atas suatu objek" (bare cognizing of an object).[89] "Pengenalan belaka" (bare cognizing) itu sebenarnya lebih tepat dicakup istilah manasikāra, sedangkan kewawasan (Pali: sati) memiliki ciri khas berupa penaruhan perhatian yang disengaja atas pengalaman,[89] "membedakan perbuatan terampil dari yang tidak terampil" dan "meninggalkan keadaan tidak bajik [serta] mengembangkan keadaan bajik",[90] juga "tidak hanyut dari pembedaan keadaan batin yang bajik dan tidak bajik".[83]

Dalam praktik vipassanā masa kini, tujuannya bukanlah memusatkan diri pada 'saat kini', melainkan mengarahkan keawasan (awareness) pada arus pengalaman yang terus berubah serta memupuk pengetahuan diri dan kebijaksanaan mengenai hakikat pengalaman manusia,[91][75] sehingga tumbuh pemahaman bahwa segala fenomena dan persepsi tidak berinti (anatta), tidak kekal (anicca), dan tidak memuaskan (dukkha).[81]

Ranah perhatian

Satipaṭṭhāna Sutta, Majjhima Nikāya 10, merinci empat "landasan kewawasan"[92] atau "kerangka acuan"[93] yang direnungkan[92] atau menjadi fokus[93] setelah meninggalkan kehidupan duniawi: kāya (jasmani), vedanā (perasaan yang timbul dari persepsi), citta (batin/kesadaran), dan dhamma (unsur-unsur ajaran Buddha).

Chems-Maarif dkk. (2025), berdasarkan telaah naratif atas sumber buddhis dan psikologis, menolak "dhamma" beserta skema soteriologis yang mendasarinya sebagai objek perhatian,[94] dan sebagai gantinya mengusulkan empat cakupan kewawasan, yaitu sensasi jasmani, valensi afektif, fenomena kognitif dan emosional, serta lingkungan luar.[95]

Bigman-Peer dan Yovel (2024) membedakan dua ranah pengalaman yang saling terkait, yaitu pengalaman indrawi eksternal "seperti penglihatan, bunyi, bau, atau sensasi jasmani", dan pengalaman batin internal, yaitu "pikiran, ingatan, konsep, yang melibatkan sistem konseptual berdasarkan pengetahuan umum dan pengalaman sebelumnya".[96]

Penerimaan dan ketidakreaktifan

Lihat pula: Samatha dan Papañca

Menurut Chems-Maarif dkk. (2025), "ketidakhakiman dan penerimaan dapat dipandang sebagai inti dari 'bagaimana' kewawasan dijalankan".[86] Istilah terkait mencakup rasa ingin tahu, keterbukaan, kesediaan menerima, dan ketidakmelekatan, yang dapat dirangkum sebagai "sikap berkeseimbangan batin".[86]

Greater Good Science Center menjelaskan bahwa penerimaan berarti menaruh perhatian pada pikiran dan perasaan "tanpa menghakiminya" dan tanpa "mengunyah ulang masa lalu atau membayangkan masa depan".[web 1] Senada dengan itu, Chems-Maarif dkk. (2025) menyatakan bahwa penerimaan berarti "mengamati penghakiman apa adanya (yaitu sebagai pikiran) dan membiarkannya ada tanpa elaborasi lebih lanjut".[97] Mereka menambahkan bahwa "penerimaan berarti bersikap terbuka dan bersedia menerima, menampung segala pengalaman tanpa menghindari, melawan, atau menghakiminya".[98]

Bigman-Peer dan Yovel (2024) mencatat bahwa kewawasan meningkatkan pengendalian dan regulasi diri, yang "memungkinkan seseorang mengamati pengalamannya saat tersingkap tanpa bereaksi secara otomatis",[99] dan bahwa praktisi berupaya "tidak membiarkan batin mengembara ke rantai asosiasi yang terlepas dari saat kini".[100] Kewawasan "memudahkan desentrasi (decentering), yaitu jarak psikologis yang lebih besar, dari pikiran dan emosi seseorang", yang "membebaskan keawasan (awareness) dari narasi kaku tentang diri dan dunia, serta memupuk kemampuan mengambil pilihan yang luwes dan adaptif dalam menanggapi berbagai keadaan", sehingga praktisi dapat "mengurangi gejolak emosional dan somatis yang mungkin menyertai mode pengolahan yang konkret".[101]

Perkembangan historis

Buddhisme

Kewawasan sebagai praktik Barat modern berpijak pada Zen dan vipassanā modern,[10][11][s] dan melibatkan pelatihan sati, yang berarti "keawasan (awareness) dari saat ke saat atas peristiwa yang berlangsung", tetapi juga "mengingat untuk menyadari sesuatu".[103]

Buddhisme awal

Sati adalah salah satu tujuh faktor pencerahan. Kewawasan "benar" (Pali: sammā-sati; Sanskerta: samyak-smṛti) adalah unsur ketujuh Jalan Mulia Berunsur Delapan. Kewawasan merupakan penawar delusi dan dipandang sebagai satu dari 'lima kekuatan' (Pali: pañcabala) yang menyumbang pada pencapaian Nirwana (Pali: Nibbāna). Daya ini menjadi kekuatan terutama ketika berpadu dengan pemahaman jernih atas apa pun yang sedang berlangsung. Nirwana adalah keadaan ketika keserakahan, kebencian, dan delusi (Pali: lobha, dosa, moha) telah diatasi dan ditinggalkan, sehingga tidak lagi hadir dalam batin.

Menurut Thomas William Rhys Davids, ajaran kewawasan adalah "barangkali yang terpenting" setelah Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Rhys Davids memandang ajaran Gotama Buddha sebagai teknik rasional untuk aktualisasi diri dan menolak sebagian darinya, terutama ajaran kelahiran kembali, sebagai sisa takhayul.[104]

Menurut Paul Williams, yang merujuk Erich Frauwallner, kewawasan dalam Buddhisme awal merupakan jalan menuju pembebasan, yaitu "terus-menerus mengamati pengalaman indrawi guna mencegah munculnya keinginan yang akan mendorong pengalaman mendatang ke dalam kelahiran kembali".[105][t] Menurut Vetter, Jhāna mungkin merupakan praktik inti asli Buddha, yang menopang pemeliharaan kewawasan.[106]

Menurut Grzegorz Polak, empat upassanā (landasan kewawasan) telah disalahpahami oleh tradisi buddhis yang berkembang, termasuk Theravāda, sebagai empat landasan yang berlainan. Menurut Polak, keempat upassanā tidak merujuk pada empat landasan berbeda, melainkan pada keawasan (awareness) atas empat segi berbeda dalam membangkitkan kewawasan:[107]

Pendahulu di Barat

Stoikisme

Mazhab filsafat Yunani Stoikisme yang didirikan Zeno dari Kition memuat praktik yang menyerupai kewawasan, misalnya latihan visualisasi. Dalam Discourses, filsuf Stoik Epiktetus secara khusus membahas gagasan perhatian (Yunani: prosoche), gagasan yang juga ditemukan pada Seneka dan Markus Aurelius.[108] Dengan memupuknya dari waktu ke waktu, keterampilan itu diyakini mencegah pelakunya menjadi lengah dan digerakkan naluri alih-alih akal budi.[109]

Kekristenan

Tradisi kewawasan juga ditemukan dalam beberapa tradisi spiritual Kristen. Dalam Aturan Makan-nya, Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan, "hendaklah ia menjaga diri agar seluruh jiwanya tidak tertuju pada apa yang dimakannya, dan dalam makan hendaklah ia tidak tergesa-gesa karena nafsu, melainkan menguasai dirinya, baik dalam cara makan maupun dalam jumlah yang dimakannya."[110] Ia mungkin terilhami Enchiridion karya Epiktetus.[108]

Selain itu, dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata, "Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:34)[111]

Transendentalisme

Praktisi kewawasan Jon Kabat-Zinn menyebut Thoreau sebagai pendahulu minat terhadap kewawasan, bersama tokoh Transendentalis lain seperti Emerson dan Whitman:[web 10]

Pengalaman kolektif[u] para bijak, yogi, dan guru Zen menawarkan pandangan dunia yang melengkapi pandangan reduksionis dan materialistis yang kini mendominasi pemikiran serta kelembagaan Barat. Namun pandangan ini tidak khas "Timur" ataupun mistis. Thoreau melihat masalah yang sama pada keadaan batin kita sehari-hari di New England pada 1846 dan menulis dengan gairah besar tentang akibat buruknya.[web 10]

Sinkretisme timbal balik

Artikel utama: Neo-Vedanta dan Modernisme Buddhis

Pengaruh Transendentalisme

Bentuk agama dan spiritualitas Asia yang diperkenalkan ke Barat sendiri dipengaruhi Transendentalisme dan berbagai perwujudan esoterisme Barat abad ke-19. Transendentalisme berkaitan erat dengan Gereja Unitarian,[112][web 11] yang di India bekerja sama dengan Ram Mohan Roy (1772–1833) dan Brahmo Samaj-nya.[112] Roy menilai Unitarianisme paling mendekati Kekristenan sejati[112] dan sangat bersimpati kepada kaum Unitarian.[113] Pengaruh itu berlanjut pada Vivekananda, yang tafsir modern dan khasnya atas Hinduisme menjadi sangat populer di Barat.[114]

Vipassanā

Meditasi vipassanā, yang disajikan sebagai sistem meditasi berusia berabad-abad, sebenarnya merupakan penemuan ulang abad ke-19[115] yang populer di Asia Tenggara berkat terbukanya akses pada sutta buddhis lewat terjemahan Inggris Pali Text Society.[102] Vipassanā diperkenalkan ke Barat pada abad ke-19 oleh Perhimpunan Teosofi.[102][116] Meditasi vipassanā menjadi populer di Barat melalui Gerakan Vipassanā buddhis modern yang mencontoh praktik meditasi Theravāda,[102] yang memakai vipassanā dan meditasi ānāpāna sebagai teknik utama serta menekankan ajaran Satipaṭṭhāna Sutta. Tokoh-tokoh pentingnya adalah Jack Kornfield, Joseph Goldstein, Sharon Salzberg, dan Jacqueline Schwartz, yang mendirikan Insight Meditation Society pada 1976,[117] yang mewakili garis meditasi masa kini yang dikembangkan Ledi Sayadaw dan Mahasi Sayadaw.[118]

Buddhisme Zen

Buddhisme Zen pertama kali populer di Barat lewat tulisan D.T. Suzuki, yang berupaya menyajikan tafsir modern atas Zen yang disesuaikan dengan selera Barat.[102] Menurut Harrington dan Dunne, Suzuki berpengaruh besar pada psikoterapis humanis dan eksistensialis Barat melalui upayanya "mengubah segi-segi Buddhisme Zen menjadi sumber daya bagi bentuk-bentuk baru psikoterapi psikoanalitis yang eksistensialis".[119] Para psikoterapis itu menghadapi tantangan eksistensial pada pasien mereka, yang "terbebani secara khas oleh dorongan untuk menyesuaikan diri, memproduksi, dan mengonsumsi dengan segala cara, sementara mereka dihantui momok kehancuran atom".[120] Mereka memerlukan pendekatan baru yang tidak semata berorientasi pada terapi sebagai obat penyakit, melainkan sebagai "cara menangani akar penyebab kehampaan spiritual, kecemasan, dan keterasingan pasien".[120] Suzuki menjadi sumber yang mudah dijangkau bagi pendekatan alternatif itu, karena ia mendalami filsafat dan pemikiran psikoanalitis Barat serta menyajikan pandangannya tentang Zen dengan cara yang dikenali orang Barat.[121] Meski disambut antusias oleh sejumlah psikoanalis, termasuk Erich Fromm, muncul pula kritik, terutama dari Scaligero dan Ernest Becker.[121]

Pengaruh Zen lainnya datang dari Thích Nhất Hạnh, biksu Vietnam "modernis buddhis yang berhaluan pembaruan"[122] yang belajar di Amerika Serikat pada awal 1960-an, diasingkan ke Prancis pada 1967, dan mulai mengajarkan meditasi Zen kepada orang Barat pada 1970-an.[118] Thích Nhất Hạnh berasal dari tradisi Thiền Vietnam, yang juga dipengaruhi Buddhisme Theravāda.[122]

Psikologi dan kewawasan sekuler

Menurut Laura Buchholz, "Herbert Benson, MD, pendiri Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine di Massachusetts General Hospital, kerap dianggap sebagai orang yang membawa kewawasan ke ranah kedokteran Barat. Bukunya pada 1975, The Relaxation Response, menguraikan teknik untuk melawan dampak buruk stres dengan metode relaksasi yang mirip meditasi."[13] Kewawasan kemudian dipadukan ke dalam program kesehatan dan psikoterapi lewat kerja perintis Jon Kabat-Zinn, Zindel Segal, dan Mark Williams.[13]

Jon Kabat-Zinn dan MBSR

Jon Kabat-Zinn adalah tokoh kunci dalam pengembangan dan pemasyarakatan MBSR.[123] Dilatih sebagai biolog molekuler, ia berkenalan dengan meditasi pada 1966 ketika menghadiri kuliah Philip Kapleau tentang Zen di MIT, tempat Kabat-Zinn berkuliah. Setelah itu ia mengikuti sesshin yang dipimpin Kapleau, berguru pada Seung Sahn, berlatih meditasi pandangan terang (Pali: vipassanā) di Insight Meditation Society, dan juga berlatih hatha yoga.[123][11]

Pada 1979, dalam retret vipassanā di IMS, ia mengalami "penglihatan" menyeluruh tentang bagaimana "inti meditasi" dapat dibagikan "kepada mereka yang tidak akan pernah bisa mendengarnya lewat kata dan bentuk yang dipakai di pusat-pusat meditasi" dan dapat diterapkan dalam konteks sekuler, yang akan "memicu bidang penelitian ilmiah dan klinis baru serta menyebar ke rumah sakit, pusat kesehatan, dan klinik di seluruh negeri dan dunia, sekaligus menyediakan penghidupan benar bagi ribuan praktisi".[124][125]

Pada tahun yang sama, Kabat-Zinn mendirikan program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR, Pengurangan Stres Berbasis Kewawasan) di Universitas Massachusetts untuk merawat penderita penyakit kronis.[web 12] Program ini memicu penerapan gagasan dan praktik kewawasan dalam kedokteran[126] guna menangani berbagai kondisi, baik pada orang sehat maupun sakit. MBSR dan program serupa kini diterapkan luas di sekolah, penjara, rumah sakit, pusat veteran, dan lingkungan lain.

Salah satu teknik MBSR, yaitu "pemindaian tubuh" (body scan), diturunkan dari praktik meditasi "penyapuan" tradisi U Ba Khin Burma sebagaimana diajarkan S.N. Goenka dalam retret vipassanā yang dimulainya pada 1976. Metode pemindaian tubuh sejak itu diadaptasi luas ke tatanan sekuler, terlepas dari konteks keagamaan atau budaya.[v][w]

Kabat-Zinn juga dipengaruhi buku The Varieties of Religious Experience karya William James,[127] yang menyiratkan bahwa semua agama menunjuk pada pengalaman yang sama, dan yang oleh tokoh kontrabudaya 1960-an ditafsirkan sebagai bahwa kebenaran pengalaman yang universal itu dapat dicapai dengan berbagai cara, termasuk lewat kegiatan nonreligius.[web 13]

Pemasyarakatan dan "gerakan kewawasan"

Kewawasan kian populer sebagai praktik dalam kehidupan sehari-hari, terpisah dari meditasi pandangan terang (Pali: vipassanā) buddhis maupun penerapannya dalam psikologi klinis,[128] dan dapat dijalankan di luar tatanan formal.[web 14] Istilah yang dipakai cendekiawan agama, ilmuwan, jurnalis, dan penulis media populer untuk menggambarkan gerakan pemasyarakatan kewawasan ini, beserta banyak konteks baru praktiknya, terus berubah selama dua dasawarsa terakhir, disertai sejumlah kritik.[59]

Pandemi Covid-19 (2020–2022) turut mendorong pemasyarakatan itu, ketika orang beralih dari sesi meditasi tatap muka ke aplikasi pada gawai. Aplikasi masa kini menyesuaikan diri dengan kebutuhan penggunanya dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, melibatkan psikolog profesional, dan menawarkan beragam pendekatan kewawasan untuk khalayak yang lebih luas, termasuk atlet.[129]

Praktik

Buddhisme

Theravāda dan meditasi vipassanā masa kini

Dalam konteks Buddhis, pemeliharaan sila merupakan tahap persiapan yang penting bagi kewawasan atau meditasi.[130][131] Menurut Buddhadasa, tujuan kewawasan adalah menghentikan munculnya pikiran dan emosi yang mengganggu, yang timbul dari kontak indrawi.[132]

Dalam meditasi vipassanā modern sebagaimana disebarkan Gerakan Vipassanā, sati menunjang vipassanā, yaitu pandangan terang atas hakikat sejati kenyataan, yakni tiga corak keberadaan: ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha) setiap hal berkondisi, dan ketiadaan diri (anatta).[8][133][134] Dengan pandangan terang itu, praktisi menjadi Sotāpanna, "pemasuk arus", tahap pertama jalan menuju pembebasan.[134][web 15][x]

Vipassanā dijalankan seiring dengan samatha, dan juga berperan sentral dalam tradisi buddhis lain.[133][135] Menurut ortodoksi Theravāda masa kini, samatha dipakai sebagai persiapan bagi vipassanā: menenangkan batin dan memperkuat konsentrasi agar kerja pandangan terang dapat berlangsung, yang membawa pada pembebasan.

Vipassanā juga mencakup perenungan atas sebab-musabab dan ajaran buddhis lainnya,[136][137] serta pandangan terang atas cara pikiran dan perasaan muncul setelah masukan dari indra.[8]

Ānāpānasati, satipaṭṭhāna, dan vipassanā

Ānāpānasati adalah kewawasan atas pernapasan. Sati berarti kewawasan, sedangkan ānāpāna merujuk pada tarikan dan embusan napas. Ānāpānasati berarti merasakan sensasi yang ditimbulkan gerak napas dalam tubuh. Ānāpānasati Sutta menguraikan praktik ini.[y]

Satipaṭṭhāna adalah penegakan kewawasan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebisa mungkin memelihara keawasan (awareness) yang tenang atas jasmani, perasaan, batin, dan dhamma. Praktik kewawasan menunjang analisis yang membuahkan kebijaksanaan (Pali: paññā).[133]

Sampajañña, appamāda, dan ātappa

Dalam praktik Theravāda masa kini, "kewawasan" juga mencakup sampajañña, yaitu "pemahaman jernih", dan appamāda, yaitu "kewaspadaan" (Inggris: vigilance).[web 17][z] Ketiganya kadang diterjemahkan sebagai "kewawasan" (Inggris: mindfulness), padahal masing-masing punya nuansa makna tersendiri.

Dalam korespondensi terbuka antara Bhikkhu Bodhi dan B. Alan Wallace, Bodhi menggambarkan pandangan Nyanaponika Thera tentang "kewawasan benar" (Pali: sammā-sati) dan sampajañña sebagai berikut:

Ia berpendapat bahwa dalam praktik kewawasan benar yang tepat, sati harus dipadukan dengan sampajañña, yaitu pemahaman jernih, dan hanya ketika keduanya bekerja bersamalah kewawasan benar dapat memenuhi tujuannya.[138][aa]

Zen

Tujuan zazen Sōtō adalah sekadar duduk, yaitu menangguhkan segala pemikiran yang menghakimi dan membiarkan kata, gagasan, citra, serta pikiran berlalu tanpa terlibat di dalamnya.[139][140]

Kewawasan sekuler

Praktik kewawasan mencakup pengembangan keterampilan mengarahkan perhatian pada apa pun yang sedang berlangsung pada saat kini.[3][8][141] Kewawasan biasanya dikembangkan lewat meditasi[142] atau latihan yang berkelanjutan. Menurut Steven F. Hick, praktik kewawasan mencakup meditasi formal maupun informal serta latihan nonmeditatif.[143] Kewawasan formal, atau meditasi, adalah praktik mempertahankan perhatian pada tubuh, napas, sensasi, atau apa pun yang muncul tiap saat.[143] Kewawasan informal adalah penerapan perhatian yang wawas dalam kehidupan sehari-hari.[143] Latihan nonmeditatif secara khusus dipakai dalam terapi perilaku dialektis dan terapi penerimaan dan komitmen.[143]

Mengamati napas, pemindaian tubuh, dan teknik lain

Ada beberapa latihan yang dirancang untuk mengembangkan meditasi kewawasan, yang dapat dibantu meditasi terpandu "agar terbiasa".[10][144][ab]

  • Salah satu caranya adalah duduk di kursi bersandaran tegak atau duduk bersila di lantai atau bantal, memejamkan mata, dan mengarahkan perhatian pada sensasi napas di sekitar lubang hidung atau pada gerak perut saat menarik dan mengembuskan napas.[5][web 18] Dalam praktik ini seseorang tidak berupaya mengendalikan napas, melainkan sekadar menyadari proses dan irama napas alaminya.[3] Ketika batin lari ke pikiran dan asosiasi lain, ia secara pasif menyadari bahwa batinnya mengembara, lalu kembali pada napas dengan sikap menerima dan tanpa menghakimi.
  • Dalam meditasi pemindaian tubuh, perhatian diarahkan ke berbagai bagian tubuh sambil mencatat sensasi jasmani yang muncul pada saat kini.[5][3][web 19]
  • Perhatian juga dapat diarahkan pada bunyi, sensasi, pikiran, perasaan, dan tindakan yang berlangsung saat ini.[3][141] Dalam kaitan ini, latihan yang terkenal, yang diperkenalkan Kabat-Zinn dalam program MBSR,[web 20] adalah mencicipi kismis secara wawas,[145] yaitu mengecap dan memakan sebutir kismis dengan penuh kewawasan.[146] Dengan memulihkan hubungan dengan isyarat lapar dan kenyang dari dalam, makan secara wawas diusulkan sebagai sarana memelihara pola makan yang sehat dan sadar.[147]
  • Pendekatan lain mencakup latihan asana yoga sambil memperhatikan gerakan dan sensasi tubuh serta meditasi jalan.[5][3]

Durasi

Pemeditasi disarankan memulai dengan sesi singkat sekitar 10 menit per hari. Seiring latihan yang teratur, mempertahankan perhatian pada napas menjadi lebih mudah.[3][148]

Penerapan sekuler

Menurut Jon Kabat-Zinn, praktik kewawasan dapat bermanfaat bagi banyak orang dalam masyarakat Barat yang mungkin enggan menganut tradisi atau kosakata Buddhis.[149] Peneliti dan klinisi Barat yang memasukkan praktik kewawasan ke dalam program kesehatan mental biasanya mengajarkan keterampilan ini terpisah dari tradisi keagamaan dan budaya asalnya.[5] Program berbasis MBSR dan model serupa diterapkan luas di sekolah, penjara, rumah sakit, pusat veteran, dan lingkungan lain.[150]

Program terapi

Pengurangan stres berbasis kewawasan

Pengurangan stres berbasis kewawasan (mindfulness-based stress reduction, MBSR) adalah program berbasis kewawasan[web 21] yang dikembangkan Jon Kabat-Zinn di University of Massachusetts Medical Center, yang memadukan meditasi kewawasan, keawasan tubuh, dan yoga untuk membantu orang menjadi lebih wawas.[3] Meski berakar pada ajaran spiritual, programnya sendiri bersifat sekuler.[3]

Terapi kognitif berbasis kewawasan

Terapi kognitif berbasis kewawasan (mindfulness-based cognitive therapy, MBCT) adalah psikoterapi yang dirancang untuk mencegah kekambuhan depresi, khususnya pada penderita gangguan depresi mayor.[151] MBCT memakai metode terapi perilaku kognitif (CBT) yang lazim, ditambah strategi psikologis yang lebih baru seperti kewawasan dan meditasi kewawasan. Metode kognitifnya dapat mencakup edukasi peserta tentang depresi.[152] Kewawasan dan meditasi kewawasan berfokus pada penyadaran dan penerimaan semua pikiran serta perasaan yang datang, tanpa melekat atau bereaksi terhadapnya.[153]

Seperti CBT, MBCT berpijak pada teori bahwa individu yang berulang kali mengalami depresi akan kembali pada proses kognitif otomatis ketika tertekan, dan proses itu dapat memicu episode depresif.[154] Tujuan MBCT adalah memutus proses otomatis itu dan mengajarkan peserta agar tidak terlalu berfokus pada reaksi terhadap rangsangan, melainkan menerima dan mengamatinya tanpa penghakiman.[154] Praktik ini memungkinkan peserta menyadari ketika proses otomatis sedang berlangsung dan mengubah reaksinya menjadi lebih reflektif. Penelitian mendukung efek MBCT pada orang yang pernah mengalami depresi tiga kali atau lebih, dengan penurunan angka kekambuhan sebesar 50%.[155]

Terapi penerimaan dan komitmen

Terapi penerimaan dan komitmen (acceptance and commitment therapy, ACT) adalah bentuk analisis perilaku klinis[156] yang dipakai dalam psikoterapi. ACT adalah intervensi psikologis yang memadukan strategi penerimaan dan kewawasan[157] dengan strategi komitmen dan perubahan perilaku untuk meningkatkan keluwesan psikologis (psychological flexibility). Pendekatan ini semula disebut comprehensive distancing.[158] ACT dikembangkan pada akhir dasawarsa 1980-an[159] oleh Steven C. Hayes, Kelly G. Wilson, dan Kirk Strosahl,[160] lalu dipopulerkan pada awal 2000-an oleh Russ Harris lewat The Happiness Trap (2007).[161]

Terapi perilaku dialektis

Kewawasan adalah latihan "inti" dalam terapi perilaku dialektis (dialectical behavior therapy, DBT), penanganan psikososial yang dikembangkan Marsha M. Linehan untuk merawat penderita gangguan kepribadian ambang. DBT bersifat dialektis, kata Linehan,[162] dalam arti "pendamaian hal-hal yang berlawanan dalam proses sintesis yang terus berlangsung". Sebagai praktisi teknik meditasi Buddhis, Linehan menyatakan:

Penekanan DBT pada keseimbangan antara penerimaan dan perubahan banyak berutang pada pengalaman saya mempelajari meditasi dan spiritualitas Timur. Prinsip DBT berupa pengamatan, kewawasan, dan penghindaran penghakiman semuanya berasal dari kajian dan praktik meditasi Zen.[163]

Terapi penonaktifan mode

Terapi penonaktifan mode (mode deactivation therapy, MDT) adalah metodologi penanganan yang diturunkan dari prinsip terapi perilaku kognitif dan memadukan unsur ACT, DBT, serta teknik kewawasan.[164] Teknik kewawasan seperti latihan pernapasan sederhana dipakai untuk membantu klien menyadari dan menerima tanpa menghakimi pikiran serta perasaan tidak menyenangkan yang muncul pada saat kini. MDT dikembangkan dan terbukti efektif bagi remaja dengan masalah perilaku dan gangguan psikologis terkait trauma kompleks, menurut terbitan Jack A. Apsche dan Joan Swart.[165]

Program lain

Psikiater Jepang Shoma Morita, yang terlatih dalam meditasi Zen, mengembangkan terapi Morita berdasarkan prinsip kewawasan dan ketidakmelekatan.[166]

Model Sistem Keluarga Internal (IFS) yang dikembangkan Richard C. Schwartz menekankan pentingnya terapis dan klien menjalani terapi dari Diri, istilah IFS untuk "pusat spiritual" seseorang. Diri bersikap ingin tahu terhadap apa pun yang muncul dalam pengalaman saat ini serta terbuka dan menerima segala perwujudannya.[167]

Relaksasi berbasis kewawasan memakai metode pernapasan, pencitraan terpandu, dan praktik lain untuk merilekskan tubuh serta batin dan membantu mengurangi stres.[168]

Pendidikan

Di Amerika Serikat, praktik kewawasan kian lazim di lembaga pendidikan, termasuk sekolah dasar dan sekolah menengah.[169][170][171] Penerapan kewawasan di sekolah bertujuan menenangkan dan merilekskan, membangun welas asih dan empati terhadap orang lain,[172] serta mengurangi kecemasan dan stres pada murid.[173] Berdasarkan telaah meta-analitis yang luas, Zenner dkk. (2014) menyimpulkan bahwa praktik kewawasan meningkatkan perhatian dan fokus murid, regulasi emosi, kreativitas, serta keterampilan pemecahan masalah.[174] Sebuah telaah sistematis pada 2026 menemukan bahwa di sekolah dan komunitas, program kewawasan menghasilkan perbaikan kecil yang umumnya berjangka pendek dan berbeda menurut usia: sedikit berkurangnya masalah perilaku pada anak usia 3–8 tahun, perhatian yang lebih baik pada usia 9–14 tahun, serta kecemasan dan depresi yang sedikit lebih rendah pada usia 15–18 tahun.[175]

Penelitian yang ada menunjukkan kaitan antara kewawasan, perhatian, penurunan kecemasan,[176] dan "perbaikan regulasi perilaku, metakognisi, serta fungsi eksekutif secara keseluruhan".[177] Namun, Johnson dkk. (2016) menyimpulkan bahwa "tidak ada perbaikan yang tampak pada satu pun luaran yang diukur, baik segera setelah intervensi maupun pada tindak lanjut tiga bulan".[178]

Dunia usaha

Pelatihan kewawasan tampaknya kian populer di dunia usaha, dan banyak korporasi besar memasukkan praktik kewawasan ke dalam budaya kerjanya.[179][180][181] Misalnya, perusahaan seperti Google, Apple, Procter & Gamble, General Mills, Mayo Clinic, dan Angkatan Darat Amerika Serikat menyediakan pendampingan kewawasan, jeda meditasi, dan sumber daya lain bagi karyawannya guna meningkatkan kinerja di tempat kerja.[179][182]

Pengenalan kewawasan dalam lingkungan korporat masih berada pada tahap awal dan dampak jangka panjangnya perlu dinilai lebih lanjut. Kewawasan ditemukan meningkatkan kesejahteraan karyawan,[183] menurunkan tingkat frustrasi, mangkir kerja, dan kelelahan mental, serta memperbaiki lingkungan kerja secara keseluruhan.[182]

Hukum

Organisasi hukum dan penegak hukum juga menaruh minat pada kewawasan:[184]

  • Program on Negotiation di Harvard Law School menggelar lokakarya "Mindfulness in the Law & Alternative Dispute Resolution".[185]
  • Banyak firma hukum menyelenggarakan kelas kewawasan.[181]

Program pemasyarakatan

Kewawasan diajarkan di penjara dan terbukti mengurangi permusuhan serta gangguan suasana hati di kalangan narapidana, sekaligus meningkatkan harga diri mereka.[186] Kajian lain menunjukkan bahwa intervensi kewawasan dapat menurunkan kemarahan dan penggunaan zat secara bermakna, serta meningkatkan kapasitas relaksasi, regulasi diri, dan optimisme.[187][188]

Pemerintahan

Banyak lembaga pemerintah menyelenggarakan pelatihan kewawasan.[189] Parlemen Britania Raya menggelar sesi kewawasan bagi para anggotanya pada 2014 yang dipandu Ruby Wax.[web 22]

Olahraga

Kewawasan kian populer dalam olahraga, dan praktiknya dipadukan ke dalam rutinitas tim.[web 23]

Penelitian ilmiah

Artikel utama: Penelitian meditasi

Kewawasan menarik perhatian empiris yang kian besar sejak 1970[12][150] dan diteliti secara luas pada berbagai populasi pasien.[190][191] Meta-analisis menunjukkan manfaatnya bagi orang dewasa sehat,[ac][192][193] remaja, dan anak-anak.[174][23]

Peningkatan kewawasan

Meta-analisis menunjukkan bahwa intervensi berbasis kewawasan, seperti program pelatihan kewawasan terstruktur, menghasilkan peningkatan skor kewawasan yang lebih besar, yang biasanya diukur dengan skala kewawasan sifat bawaan dan keadaan yang tervalidasi, dibandingkan dengan kondisi kontrol aktif.[23][193]

Kesehatan mental

Berbagai kajian menunjukkan hubungan positif antara kewawasan sebagai sifat bawaan dan kesehatan psikologis.[194][26] Dalam suatu tinjauan, Keng, Smoski, dan Robins menyatakan bahwa "kewawasan sebagai sifat bawaan berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup, keramahan, kehati-hatian, vitalitas, harga diri, empati, rasa otonomi, kompetensi, optimisme, dan afek menyenangkan yang lebih tinggi".[26] Xiao dkk. (2020) menemukan kaitan antara kewawasan disposisional dan perilaku prososial.[195]

Meta-analisis menunjukkan luaran perilaku dan kesehatan mental yang positif untuk berbagai masalah kesehatan, termasuk ADHD[196] serta penyalahgunaan narkoba dan alkohol.[197][198] Kewawasan tampaknya merupakan intervensi yang bermanfaat bagi anak berkebutuhan khusus dan pengasuhnya,[199][200][201] termasuk dalam penanganan autisme.[202][203] Praktik kewawasan tampaknya memberi manfaat terapeutik bagi penderita gangguan jiwa,[204][205][206] termasuk manfaat sedang bagi penderita psikosis.[207][208][209]

Berbagai kajian menunjukkan bahwa ruminasi dan kekhawatiran menyumbang pada beragam gangguan jiwa.[210][211] Intervensi berbasis kewawasan dapat meningkatkan kewawasan sebagai sifat bawaan[212] sekaligus mengurangi ruminasi dan kekhawatiran.[211][213][214] Praktik kewawasan disebut memungkinkan seseorang menanggapi situasi penuh tekanan secara lebih efektif dengan membantunya menemukan keseimbangan antara identifikasi berlebihan dan penekanan pengalaman emosional, yaitu titik tengah berupa pengenalan dan penerimaan.[215]

Praktik kewawasan juga dikaitkan dengan pengembangan resiliensi psikologis. Meditasi kewawasan yang teratur dapat membantu orang yang menghadapi trauma atau stres kronis untuk meregulasi emosi, mengurangi ruminasi, dan memperkuat mekanisme koping yang adaptif.[216] Lebih lanjut, praktik kewawasan dapat menjadi strategi pencegahan untuk menghambat berkembangnya masalah kesehatan mental.[217][218][219] Kewawasan juga merupakan pilihan penanganan yang layak bagi penderita insomnia,[220][221] intervensi yang efektif untuk penuaan yang sehat,[222][223][224] serta dipakai untuk meningkatkan performa atletik.[225][226]

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa meditasi kewawasan menyumbang pada rasa diri dan identitas yang lebih padu dan sehat, dalam hal rasa tanggung jawab, keaslian, welas asih, penerimaan diri, dan watak.[227][228]

Meski beberapa kajian mempertanyakan pengaruh kewawasan terhadap perilaku prososial,[229][230][231] artikel tinjauan pada umumnya menunjukkan bahwa kewawasan mendorong perilaku prososial, meskipun diperlukan lebih banyak kajian longitudinal untuk memastikannya.[232][233][234]

Kesehatan fisik

Meta-analisis juga menunjukkan luaran kesehatan fisik yang positif untuk berbagai masalah kesehatan, termasuk pengelolaan berat badan,[235][236][237] penyakit jantung,[18][238][19] gangguan tidur,[239][240] perawatan kanker,[241][242][243][244] sklerosis multipel,[245][246] dan kondisi kesehatan lainnya.[247][248][249] Praktik kewawasan juga dipakai sebagai strategi penanganan kondisi dermatologis[250] dan sebagai intervensi yang bermanfaat pada awal kehamilan.[251][252][253] Kajian mutakhir juga menunjukkan bahwa meditasi kewawasan meredam nyeri fisik secara bermakna lewat beberapa mekanisme yang khas.[254][255]

Meditasi juga dapat memodulasi nyeri. Ketika dipapar nyeri akibat panas, pemindaian otak peserta meditasi kewawasan (dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional) menunjukkan bahwa otak mereka tetap mencatat nyeri itu, tetapi nyeri tersebut tidak diubah menjadi sinyal nyeri yang dipersepsikan. Akibatnya mereka mengalami nyeri 40–50% lebih sedikit.[256]

Kebiasaan psikologis berupa memikirkan pikiran yang menegangkan secara berulang tampaknya memperkuat dampak fisiologis pemicu stres, akibat pengaktifan terus-menerus sistem saraf simpatis dan poros hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang berpotensi memunculkan manifestasi klinis pada kesehatan fisik.[257][258][259] Berbagai kajian menunjukkan bahwa meditasi kewawasan, yang menurunkan ruminasi, dapat mengubah jalur klinis biologis tersebut.[257][211][260] Penelitian juga menunjukkan bahwa kewawasan dapat memengaruhi sistem kekebalan secara menguntungkan[261] serta memengaruhi peradangan,[25][262][263] yang pada gilirannya berdampak pada kesehatan fisik, mengingat peradangan dikaitkan dengan berkembangnya sejumlah penyakit kronis.[264][265] Kajian lain mendukung temuan ini.[19][238][266]

Meditasi kewawasan mungkin mencegah atau menunda munculnya gangguan kognitif ringan dan penyakit Alzheimer.[267]

Penelitian menunjukkan bahwa praktik kewawasan dapat memengaruhi ekspresi genetik sehingga menurunkan risiko penyakit terkait peradangan dan menghasilkan perubahan biomarka yang menguntungkan.[268][269]

Kajian neurologis: perubahan fungsional dan struktural

Pengaruh kewawasan terhadap otak dipelajari dengan teknik pencitraan saraf, pengukuran fisiologis, dan uji perilaku.[270][271][272]

Perubahan emosional dan perilaku yang dibangkitkan kewawasan ditemukan berkaitan dengan perubahan fungsional dan struktural di otak.[273][274] Ruther dkk. (2026) menemukan bahwa MBSR tampaknya lebih memengaruhi fungsi otak daripada strukturnya, dengan peningkatan aktivitas dan konektivitas yang konsisten pada jaringan yang menopang regulasi emosi, pemrosesan swarujuk, dan perhatian.[275]

Penelitian neurologis menunjukkan bahwa kewawasan memengaruhi komponen regulasi perhatian, keawasan tubuh, dan regulasi emosi.[17][276][277]

Konsentrasi materi kelabu di wilayah otak yang mengatur emosi, pemrosesan swarujuk, serta proses belajar dan ingatan menunjukkan perubahan kepadatan setelah MBSR.[278][279]

Teknik pencitraan saraf menunjukkan bahwa praktik kewawasan berkaitan dengan "perubahan pada korteks singulat anterior, insula, pertemuan temporo-parietal, jaringan fronto-limbik, dan struktur jaringan mode bawaan".[276][273]

Praktik MBSR dikaitkan dengan perbaikan sistem kekebalan,[280][262] yang dapat menjelaskan kaitan antara pengurangan stres dan peningkatan kualitas hidup.[281] Sebagian perubahan itu merupakan hasil penebalan korteks prafrontal (fungsi eksekutif) dan hipokampus (kemampuan belajar dan mengingat), penyusutan amigdala (respons emosi dan stres), serta penguatan hubungan antarsel otak.[282][283][284] Pemeditasi jangka panjang memiliki girifikasi ("pelipatan" korteks, yang mungkin mempercepat pemrosesan informasi) yang lebih banyak daripada yang tidak bermeditasi. Ditemukan pula korelasi langsung antara tingkat girifikasi dan lama tahun bermeditasi, yang bisa jadi merupakan bukti tambahan bagi neuroplastisitas otak, yakni kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.[282]

Simon dan Engström (2015) mengusulkan bahwa jaringan mode bawaan otak dapat dipakai sebagai biomarka potensial untuk memantau manfaat terapeutik meditasi.[279]

Faktor penyumbang

Kewawasan mungkin bergantung pada dosis, yaitu meningkat seiring bertambahnya pengalaman berlatih.[285][286] Bergomi dkk. (2015) menemukan bahwa "kewawasan terutama berkaitan dengan praktik yang berlanjut pada masa kini, bukan dengan akumulasi praktik selama bertahun-tahun".[287]

Suelmann dkk. (2018) menemukan bahwa kewawasan berkaitan dengan niat untuk bersikap wawas, dengan perasaan yang baik, serta dengan keadaan tidak terburu-buru atau tidak terlalu sibuk.[288] Gotink dkk. (2016) menemukan bahwa hubungan sebabnya kemungkinan timbal balik: perasaan yang baik meningkatkan kewawasan, dan kewawasan meningkatkan perasaan yang baik.[289]

Shapiro dkk. (2006) mengusulkan bahwa melalui reperceiving, yang berlangsung setelah praktik wawas itu sendiri, terjadi pergeseran perspektif yang memungkinkan pelepasan diri dari pikiran, emosi, dan sensasi jasmani, sehingga seseorang dapat hidup bersama semua itu alih-alih ditentukan olehnya.[290]

Ketiadaan dukungan bagi manfaat tertentu

Goyal dkk. (2014), meta-analisis penelitian meditasi yang kerap dikutip, menemukan bukti yang tidak memadai bagi pengaruh program meditasi terhadap suasana hati positif, perhatian, penggunaan zat, kebiasaan makan, tidur, dan berat badan, tetapi menemukan bukti sedang bahwa meditasi mengurangi kecemasan, depresi, dan nyeri.[291] Namun, kajian itu mencakup kelompok gaya meditasi yang sangat heterogen, artinya tidak berfokus khusus pada meditasi kewawasan, dan ini merupakan keterbatasan penting. Selain itu, meski kewawasan dikenal berdampak psikologis positif pada penderita berbagai jenis kanker,[244] buktinya belum jelas untuk efektivitasnya pada pria dengan kanker prostat.[243]

Efek samping

Meditasi pada umumnya (kewawasan hanyalah salah satu jenisnya) juga dikaitkan dengan pengalaman tidak menyenangkan pada sebagian orang.[292][293][294][295] Dalam beberapa kasus, meditasi juga dikaitkan dengan psikosis dan bunuh diri.[296][297][298][299] Baik kekukuhan dasar ilmiahnya maupun keinginan atas dampak sosialnya telah dipersoalkan.[300][301][302][303]

Dalam satu survei daring lintas bagian yang terbit pada 2019 atas 1.232 pemeditasi teratur dengan pengalaman meditasi sekurangnya dua bulan, sekitar seperempatnya melaporkan pernah mengalami pengalaman meditasi yang sangat tidak menyenangkan (seperti kecemasan, ketakutan, emosi atau pikiran yang terdistorsi, serta perubahan rasa diri atau dunia) yang mereka duga disebabkan praktik meditasi. Survei itu memakai kelompok luas "pemeditasi teratur" dan tidak berfokus khusus pada meditasi kewawasan. Survei itu juga menemukan bahwa pemeditasi dengan tingkat pikiran negatif berulang yang tinggi dan mereka yang hanya menjalankan meditasi dekonstruktif lebih mungkin melaporkan efek samping. Efek samping lebih jarang dilaporkan perempuan dan pemeditasi yang religius.[304]

Kajian observasional lain pada 2021 tentang dampak program berbasis kewawasan menemukan efek samping pada 37% sampel, dengan dampak buruk yang bertahan lama pada 6–14% sampel.[305] Sebagian besar efek samping berkaitan dengan tanda gejolak yang tidak teregulasi, yaitu hiperarousal dan disosiasi. Namun, ada pula beberapa kajian yang tidak menemukan bahaya setelah program MBSR baku yang diterapkan luas.[306][307][308]

Pengalaman sulit dalam meditasi disebut dalam sumber tradisional, dan sebagian dipandang sebagai bagian yang wajar dari prosesnya, misalnya tujuh tahap pemurnian (visuddhi) dalam Buddhisme Theravāda. Kemungkinan munculnya "penglihatan yang tidak bajik atau menakutkan" disebut dalam manual praktis meditasi vipassanā.[309] Sumber klasik memiliki berbagai istilah untuk "penyakit meditasi" dan kesulitan terkait, seperti zouhuorumo (Tionghoa: 走火入魔, harfiah "kerasukan api"), chanbing (禪病, "penyakit Chan"), dan mojing (魔境, "keadaan kerasukan").[310]

Sebuah artikel yang menguraikan catatan Buddhisme Tionghoa abad pertengahan tentang gejala semacam itu menyatakan:

Pengalaman bermasalah seperti sensasi aneh, nyeri yang tak terjelaskan, ketidakstabilan psikologis, halusinasi yang tak dikehendaki, kelainan seksual, perilaku yang tak terkendali, kerasukan, kecenderungan bunuh diri, dan sebagainya tampaknya cukup dikenal dan terdokumentasi dengan baik lintas tradisi.[310]

Namun, sejumlah guru dan tokoh Buddhisme Barat menyatakan bahwa bimbingan yang tepat dari guru yang sah dan benar-benar berpandangan terang mencegah pengalaman negatif dalam meditasi meningkat menjadi dampak yang membahayakan.[310][311][312][313] Misalnya, kajian menunjukkan bahwa orang yang mengalami efek samping sebagai emosi yang sekilas, yaitu memandangnya sebagai fase yang berlalu tanpa mengidentifikasikan diri dengannya, mampu mengatasi tekanannya.[314][312][315] Selain itu, menyeimbangkan praktik konsentrasi dengan praktik pemantauan terbuka, menyertakan meditasi cinta kasih (mettā), bahkan menambahkan aktivitas fisik, dapat mencegah pengalaman negatif meningkat menjadi dampak yang membahayakan.[312] Diusulkan pula bahwa kurangnya pemahaman atas dasar teoretis meditasi turut menjadi penyebab utama munculnya efek samping.[312][313][311]

Kajian tentang efek samping menemukan bahwa peserta yang mengalaminya sama senangnya telah berlatih meditasi dengan mereka yang tidak mengalaminya, dan tetap memandang meditasi sebagai kegiatan berharga yang menunjang kesehatan mental mereka.[316][317]

Keberatan dan kritik

Persoalan metodologis

Mutu metodologis sebagian kajian tergolong lemah. Berbagai tinjauan mutakhir menguraikan persoalan ini.[25][194][318]

Banyak kajian tinjauan yang dikutip di atas juga menunjukkan perlunya penelitian bermutu tinggi di bidang ini, misalnya studi intervensi dengan ukuran sampel yang lebih besar, lebih banyak studi acak terkendali, dan pelaporan rincian metodologis yang lebih lengkap.[25][26] Sebagian besar kajian juga mengukur kewawasan sebagai sifat bawaan, dan dalam penelitian yang memakai intervensi kewawasan dalam praktik klinis, ketiadaan pengacakan yang sesungguhnya menyulitkan pemahaman atas efektivitas kewawasan yang sebenarnya. Meski begitu, metode eksperimental dengan sampel acak menunjukkan bahwa kewawasan sebagai keadaan atau praktik sementara dapat memengaruhi emosi yang dirasakan, misalnya rasa jijik, dan mendorong pengambilan keputusan yang abstrak.[319][320][321] Ada pula beberapa kajian tinjauan yang menemukan sedikit perbedaan antara intervensi kewawasan dan kelompok kontrol, meski kajian itu sendiri menyatakan bahwa kelompok intervensinya ditangani terlalu singkat untuk menghasilkan simpulan yang meyakinkan.[322][323] Dalam ranah tertentu, seperti olahraga, lemahnya validitas internal lintas studi membuat klaim yang kuat tentang dampak kewawasan tidak dapat diajukan.[226] Sejumlah persoalan dalam pengukuran kewawasan juga diidentifikasi, termasuk penggunaan kuesioner laporan diri.[25][26][324] Potensi bias juga ada sejauh para peneliti di bidang ini sekaligus praktisi, sehingga mungkin tertekan untuk menerbitkan hasil yang positif atau signifikan.[10]

McMindfulness

Pemasyarakatan kewawasan sebagai "komoditas"[web 24] dikritik dan oleh sebagian pengkritik dijuluki "McMindfulness".[27][web 2][web 3][c] Ronald Purser mengakui adanya segi yang bermanfaat dalam kewawasan, seperti pengurangan stres, tetapi menurutnya masalahnya terletak pada "produk yang mereka jual dan cara produk itu dikemas".[303] Menurut Harrington dan Dunne, para pengkritik berpendapat bahwa "kewawasan [...] tidak pernah dimaksudkan untuk penurunan berat badan, kehidupan seks yang lebih baik, membantu anak berprestasi di sekolah, membantu karyawan lebih produktif di tempat kerja, atau bahkan memperbaiki fungsi orang yang cemas dan depresi. Ia tidak pernah dimaksudkan menjadi komoditas dagang yang diperjualbelikan."[12] Menurut John Safran, popularitas kewawasan merupakan hasil strategi pemasaran:[web 24] "McMindfulness adalah pemasaran mimpi bentukan, gaya hidup ideal, dan penataan ulang identitas."[325][web 24] Psikolog Thomas Joiner menyatakan bahwa meditasi kewawasan modern telah "dirusak" demi keuntungan komersial oleh selebritas swabantu, dan menurutnya hal itu mendorong pola pikir narsistik dan terobsesi diri yang tidak sehat.[326][327]

Menurut Purser dan Loy, kewawasan tidak dipakai sebagai sarana membangkitkan pandangan terang atas "akar tak bajik berupa keserakahan, niat jahat, dan delusi",[web 2] melainkan dibentuk ulang menjadi "teknik swabantu yang terapeutik dan dangkal" yang justru memperkuat nafsu-nafsu itu.[web 2] Meski dipasarkan sebagai sarana mengurangi stres, dalam konteks buddhis kewawasan merupakan bagian dari program etis menyeluruh untuk memupuk "tindakan bijak, keselarasan sosial, dan welas asih".[web 2] Purser menjelaskan bahwa pada akhirnya kewawasan dicerabut dari akar Buddhisnya, kehilangan penekanan pada latihan etis dan pembebasan dari kemelekatan, lalu disajikan terutama sebagai metode swabantu yang terapeutik.[303] Privatisasi kewawasan mengabaikan penyebab stres dan ketidaknyamanan yang bersifat sosial dan organisasional, dan malah menganjurkan penyesuaian diri terhadap keadaan itu.[web 2] Menurut Bhikkhu Bodhi, "tanpa kritik sosial yang tajam, praktik buddhis dengan mudah dapat dipakai untuk membenarkan dan memantapkan keadaan yang ada, sehingga menjadi penopang kapitalisme konsumen".[web 2] Populernya jenama kewawasan yang baru ini melahirkan komersialisasi meditasi lewat buku swabantu, kelas meditasi terpandu, dan retret kewawasan.

Kewawasan disebut sebagai industri bernilai 4 miliar dolar. Lebih dari 60.000 buku yang dijual di Amazon memuat varian kata "mindfulness" pada judulnya, yang mengiklankan manfaat Mindful Parenting, Mindful Eating, Mindful Teaching, Mindful Therapy, Mindful Leadership, Mindful Finance, a Mindful Nation, dan Mindful Dog Owners, dan masih banyak lagi.[web 25]

Para pengulas buddhis mengkritik gerakan ini karena disajikan setara dengan praktik Buddhis, padahal kenyataannya sangat mungkin telah kehilangan wataknya dan menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, misalnya karena tidak berpijak pada moralitas reflektif tradisional sehingga menyimpang dari etika buddhis tradisional. Kritik menyebut gerakan ini telah didemoralisasi atau dimoralisasi ulang ke dalam etika berbasis klinis. Pertentangannya kerap disajikan dalam kaitan dengan kredensial dan kualifikasi guru, bukan praktik murid yang sesungguhnya. Praktik berpengaruh buddhis yang telah direformasi kini dibakukan dan dimanualkan secara terpisah dari Buddhisme, yang dipandang sebagai agama yang berpusat di wihara, lalu diungkapkan sebagai "kewawasan" dalam etika psikologi baru yang dijalankan di pusat-pusat meditasi modern.[328]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Meski diterjemahkan sebagai "kewawasan" (Inggris: mindfulness) dan kerap ditafsirkan sebagai "perhatian belaka" (Inggris: bare attention), istilah Pali sati memiliki konotasi yang lebih luas: "ingatan" (PTS), "retensi" (Dreyfus 2013, hlm. 44–48), "kewawasan, kesiagaan, penguasaan diri" (PTS). Dalam konteks buddhis, maknanya lebih luas dan bertujuan, berkaitan dengan vipassanā, yaitu sampajañña yang membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak, serta menenangkan batin lewat pembedaan itu (Polak 2011, hlm. 153–56, Williams & Tribe 2000, hlm. 46, Buddhadasa Bhikkhu 2014, hlm. 79, 101, 117 catatan 42). Meski definisi dan tekniknya sangat beragam (Thompson 2020, hlm. 120), tradisi Buddhis menguraikan apa yang membentuk kewawasan, misalnya bagaimana persepsi atas masa lalu, kini, dan mendatang muncul dan lenyap sebagai kesan indrawi serta fenomena batin yang sekejap (Karunamuni & Weerasekera 2019, Analayo 2003, Bhikkhu Bodhi).
  2. ↑ Praktik kewawasan dipakai untuk mengurangi depresi (Blanck et al. 2018, Jain et al. 2015, Galante et al. 2021), stres (Khoury et al. 2015, Hofmann et al. 2010, Galante et al. 2021), kecemasan (Blanck et al. 2018, Khoury et al. 2015, Hofmann et al. 2010, Galante et al. 2021), serta dalam penanganan kecanduan narkoba (Chiesa & Serretti 2014, Garland, Froeliger & Howard 2014, Sancho et al. 2018). Program berbasis model kewawasan diterapkan di sekolah, penjara, rumah sakit, pusat veteran, dan lingkungan lain (Zhang et al. 2021, Gong et al. 2023), dan program kewawasan juga diterapkan untuk luaran lain seperti penuaan sehat, pengelolaan berat badan, performa atletik (Noetel et al. 2019), pendampingan anak berkebutuhan khusus, dan intervensi pada awal kehamilan.
  3. 1 2 "Apa yang dahulu menjadi sarana penjelajahan spiritual telah diubah menjadi obat mujarab bagi zaman modern, penyembuh segala masalah manusia sehari-hari, dari stres, kecemasan, sampai depresi. [...] Namun potensi gangguan emosional dan psikologisnya jarang dibicarakan peneliti kewawasan, media, atau disebut dalam pelatihan. [...] Kewawasan telah dipisahkan dari akarnya, dilucuti dari konotasi etis dan spiritualnya, lalu dijual kepada kita sebagai alat terapeutik. [...] Teknik ini justru telah diubah menjadi McMindfulness yang hanya memperkuat dorongan egosentris seseorang."[web 26]
  4. ↑ "Kata itu berasal dari kata kerja sarati, yang berarti 'mengingat', dan sesekali dalam bahasa Pali sati masih dijelaskan dengan cara yang menghubungkannya dengan gagasan ingatan. Namun, ketika dipakai berkaitan dengan praktik meditasi, tidak ada kata dalam bahasa Inggris yang persis menangkap acuannya. Seorang penerjemah awal dengan cerdik memungut kata mindfulness, yang bahkan tidak ada dalam kamus saya. Kata itu menjalankan perannya dengan baik, tetapi tidak mempertahankan kaitannya dengan ingatan, yang kadang diperlukan untuk memahami suatu bagian teks."[web 7]
  5. ↑ Istilah sati/smṛti pernah diterjemahkan sebagai:
  6. ↑ Kutipan dari Gethin, Rupert M.L. (1992), The Buddhist Path to Awakening: A Study of the Bodhi-Pakkhiȳa Dhammā. Brill's Indological Library, 7. Leiden dan New York: Brill.
  7. 1 2 Dreyfus menutup kajiannya dengan menyatakan: "Penyamaan kewawasan (mindfulness) dengan perhatian belaka (bare attention) mengabaikan, atau setidaknya meremehkan, implikasi kognitif kewawasan, yaitu kemampuannya menyatukan berbagai segi pengalaman sehingga membawa pada pemahaman yang jernih atas hakikat keadaan batin dan jasmani. Dengan terlalu menekankan sifat tidak menghakimi dari kewawasan dan berargumen bahwa masalah kita berasal dari konseptualitas, para penulis masa kini berisiko menghasilkan pemahaman yang berat sebelah tentang kewawasan sebagai bentuk keheningan lapang yang bermanfaat secara terapeutik. Menurut saya penting untuk tidak melupakan bahwa kewawasan bukan sekadar teknik terapeutik, melainkan kemampuan alami yang berperan sentral dalam proses kognitif. Segi inilah yang tampaknya diabaikan ketika kewawasan direduksi menjadi bentuk awareness tidak menghakimi yang berpusat pada saat kini atas pengalaman seseorang."[48]
  8. 1 2 Sharf: "Teknik Mahasi tidak menuntut penguasaan doktrin buddhis (terutama Abhidhamma Theravāda), tidak menuntut kepatuhan pada norma etis yang ketat (terutama kehidupan monastik), dan menjanjikan hasil yang luar biasa cepat. Hal itu dimungkinkan dengan menafsirkan sati sebagai keadaan 'keawasan belaka' (barer awareness), yaitu persepsi atas segala sesuatu 'sebagaimana adanya' tanpa perantara dan tanpa penghakiman, yang tidak diwarnai pengondisian psikologis, sosial, atau budaya sebelumnya. Gagasan kewawasan semacam ini berbeda dari epistemologi buddhis pramodern dalam beberapa hal. Praktik buddhis tradisional lebih berorientasi pada perolehan 'pandangan benar' dan pembedaan etis yang tepat, bukan pada 'tanpa pandangan' dan sikap tanpa penghakiman."[web 8]
  9. ↑ "Meditasi kewawasan" dapat merujuk pada praktik kewawasan sekuler Barat[62] maupun pada meditasi vipassanā buddhis modern.[63][64][65]
  10. ↑ Kuesioner bertipe keadaan:
    • Toronto Mindfulness Scale (TMS) mengukur kewawasan sebagai gejala mirip keadaan yang dibangkitkan dan dipertahankan lewat latihan teratur.[66]
    • State Mindfulness Scale (SMS) berisi 21 butir dengan satu skala keseluruhan dan dua subskala (kewawasan keadaan atas batin dan atas tubuh).[67]
  11. ↑ Alat ukur bertipe sifat bawaan:
    • Mindful Attention Awareness Scale (MAAS)
    • Freiburg Mindfulness Inventory (FMI)
    • Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS)
    • Cognitive and Affective Mindfulness Scale (CAMS)
    • Mindfulness Questionnaire (MQ)
    • Revised Cognitive and Affective Mindfulness Scale (CAMS-R)
    • Philadelphia Mindfulness Scale (PHLMS)
  12. ↑ Baer mengutip Kabat-Zinn, J. (1994): Wherever you go, there you are: Mindfulness meditation in everyday life. New York: Hyperion, hlm. 4.
  13. ↑ Wilson (2014, hlm. 89) merujuk dan mengutip kata pengantar Kabat-Zinn untuk Clinical Handbook of Mindfulness.
  14. ↑ Bishop et al. (2004): "Komponen pertama melibatkan regulasi diri atas perhatian sehingga perhatian tetap tertuju pada pengalaman langsung, sehingga memungkinkan pengenalan yang lebih baik atas peristiwa batin pada saat kini. Komponen kedua melibatkan pengambilan orientasi tertentu terhadap pengalaman pada saat kini, orientasi yang ditandai rasa ingin tahu, keterbukaan, dan penerimaan." Perhatian yang diregulasi sendiri "melibatkan pengarahan keawasan (awareness) pada pengalaman saat ini, yaitu mengamati dan memperhatikan medan 'objek' yang berubah-ubah (pikiran, perasaan, sensasi) dari saat ke saat, dengan mengatur fokus perhatian". Orientasi terhadap pengalaman melibatkan sikap ingin tahu atas objek yang dialami tiap saat, dan atas ke mana serta bagaimana batin mengembara ketika lepas dari fokus perhatian yang dipilih. Klien diminta tidak berupaya menghasilkan keadaan tertentu (misalnya relaksasi), melainkan sekadar mengamati tiap objek yang muncul dalam arus kesadaran (Bishop et al. 2004, hlm. 233).
  15. ↑ Beberapa definisi:
    • Marlatt & Kristeller 1999, hlm. 68: "suatu cara menaruh perhatian".
    • Baer 2003: "Menaruh perhatian dengan cara tertentu: secara sengaja, pada saat kini, dan tanpa menghakimi"; "Membawa perhatian penuh pada pengalaman saat ini dari saat ke saat".
    • Black 2011, hlm. 1: "kapasitas perhatian dan keawasan (attention and awareness) yang berorientasi pada saat kini, yang kadarnya berbeda-beda di dalam dan antarindividu, serta dapat dinilai secara empiris terlepas dari kepercayaan keagamaan, spiritual, atau budaya".
    • Bishop et al. 2004: "Semacam keawasan yang tidak elaboratif, tidak menghakimi, dan berpusat pada saat kini (Inggris: nonelaborative, nonjudgmental, present-centered awareness), yang di dalamnya setiap pikiran, perasaan, atau sensasi yang muncul dalam medan perhatian diakui dan diterima apa adanya."
    Menurut Jong et al. 2025, kewawasan melibatkan proses kognitif seperti pemantauan perhatian, regulasi perhatian, dan reorientasi fokus perhatian.
    Hayes 2004 dan Feldman menekankan bahwa kewawasan dapat dipandang sebagai strategi yang berlawanan dengan strategi penghindaran emosi di satu sisi dan strategi keterlibatan emosional yang berlebihan di sisi lain.
  16. ↑ Lihat pula Papañca.
  17. ↑ Lihat misalnya Purser & Milillo 2015, hlm. 13-15, "Mindfulness Is Not Equivalent to Nonjudgmental Awareness". Purser & Milillo (2015, hlm. 5): "Dengan demikian, kewawasan bukan sekadar kesiagaan yang pasif dan tanpa penghakiman atas saat kini semata, melainkan keawasan (awareness) yang terlibat aktif dan jeli, yang juga mampu mengenang kata dan tindakan dari masa lalu. [...] kewawasan benar bukan sekadar perhatian belaka (bare attention) atas saat kini, melainkan 'mencakup ingatan retrospektif atas masa lalu dan ingatan prospektif atas masa kini dan masa depan' (Kang & Whittingham, 2010, hlm. 165)."
  18. ↑ Gagasan "keawasan belaka" (bare awareness) dikritik Sharf dan yang lain, karena sati mencakup lebih daripada sekadar keawasan (awareness).[87][47][web 8][h][48][g]
  19. ↑ Vipassanā sebagaimana diajarkan para guru gerakan vipassanā merupakan perkembangan abad ke-19, yang terilhami sekaligus bereaksi terhadap modernisme Barat.[102][36] Lihat pula modernisme Buddhis.
  20. ↑ Frauwallner, E. (1973), History of Indian Philosophy, terj. V.M. Bedekar, Delhi: Motilal Banarsidass. Dua jilid, hlm. 150 dst.
  21. ↑ Rujukan pada "pengalaman" sebagai dasar kebenaran religius merupakan siasat yang berakar pada Schleiermacher, sebagai pertahanan terhadap pengaruh rasionalitas Barat yang kian kuat atas kehidupan keagamaan orang Eropa pada abad ke-19. Lihat Sharf (1995), Buddhist Modernism and the Rhetoric of Meditative Experience.[36]
  22. ↑ "Secara historis merupakan praktik Buddhis, kewawasan dapat dipandang sebagai kapasitas manusia yang universal yang diyakini memupuk pemikiran jernih dan keterbukaan hati. Oleh karena itu, bentuk meditasi ini tidak menuntut sistem kepercayaan keagamaan atau budaya tertentu." Ludwig dan Kabat-Zinn, Mindfulness in Medicine.
  23. ↑ "Kabat-Zinn (2000) menyatakan bahwa praktik kewawasan dapat bermanfaat bagi banyak orang dalam masyarakat Barat yang mungkin enggan menganut tradisi atau kosakata Buddhis. Oleh karena itu, peneliti dan klinisi Barat yang memasukkan praktik kewawasan ke dalam program penanganan kesehatan mental biasanya mengajarkan keterampilan ini secara terpisah dari tradisi keagamaan dan budaya asalnya."[5]
  24. ↑ Dalam konteks Mahāyāna, pandangan terang ini digambarkan secara beragam sebagai sunyata, dharmata, ketakterpisahan penampakan dan kekosongan (ajaran dua kebenaran), kejernihan dan kekosongan, atau kebahagiaan dan kekosongan.[web 16]
  25. ↑ Majjhima Nikāya (MN), sutta nomor 118. Wacana lain yang menguraikan keempat tetrad secara lengkap terdapat dalam Ānāpāna-saṃyutta Saṃyutta Nikāya (Bab 54), seperti SN 54.6, SN 54.8, dan SN 54.13. Uraian satu tetrad terdapat misalnya dalam Kāyagatāsati Sutta (MN 119), Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (DN 22), dan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10).
  26. ↑ Dalam wacana buddhis terdapat tiga istilah yang bersama-sama memetakan ranah kewawasan: sati, sampajañña, dan appamāda.[web 17]
  27. ↑ Menurut korespondensi itu, Nyanaponika menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya tinggal bersama dan dirawat Bodhi. Bodhi menyebut Nyanaponika sebagai "kalyāṇamitta terdekat saya dalam hidup saya sebagai biku".
  28. ↑ Kabat-Zinn, dalam Full Catastrophe Living (Revised Edition) (2013), hlm. lxiv, menyarankan penggunaan rekaman praktik kewawasan terpandu: "Hampir semua orang merasa lebih mudah, ketika pertama kali memulai praktik meditasi harian, untuk mendengarkan program audio terpandu dan membiarkannya 'membawa mereka' pada tahap awal, sampai mereka menangkap intinya dari dalam, ketimbang mencoba mengikuti petunjuk dari buku, sejelas dan serinci apa pun buku itu."

    Bandingkan Rupert Gethin (2004), On the practice of Buddhist meditation, hlm. 202–03, yang mencatat bahwa sutta buddhis nyaris tidak menjelaskan cara bermeditasi, lalu menyatakan bahwa "praktik meditasi yang berdaya guna menuntut bimbingan pribadi dari seorang guru."
  29. ↑ Khoury et al. 2015: "Kami melakukan meta-analisis untuk menelaah MBSR pada individu sehat. Meta-analisis ini mencakup 29 studi dengan 2.668 peserta [...] Hasilnya kukuh dan bertahan pada tindak lanjut."

Referensi

  1. 1 2 Bishop et al. 2004, hlm. 230–241.
  2. 1 2 3 4 Williams et al. 2007, hlm. 47.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabat-Zinn 2013.
  4. 1 2 3 4 5 Chems-Maarif et al. 2025.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 Baer 2003.
  6. 1 2 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 8, 11-12.
  7. 1 2 Bigman-Peer & Yovel 2024, hlm. 2403, 2405.
  8. 1 2 3 4 5 Karunamuni & Weerasekera 2019.
  9. ↑ Van Gordon et al. 2014.
  10. 1 2 3 4 Nisbet 2017.
  11. 1 2 3 Wilson 2014, hlm. 35.
  12. 1 2 3 4 Harrington & Dunne 2015.
  13. 1 2 3 Buchholz 2015.
  14. ↑ Wilks 2014.
  15. ↑ Rajan, Kumar & Raj 2026.
  16. ↑ Tong et al. 2026.
  17. 1 2 Calderone et al. 2024.
  18. 1 2 Temgoua Ngou et al. 2026.
  19. 1 2 3 Pascoe et al. 2017.
  20. ↑ Gomutbutra et al. 2020.
  21. 1 2 Goldberg et al. 2022.
  22. ↑ Paulus 2016.
  23. 1 2 3 Dunning et al. 2019.
  24. ↑ David Creswell et al. 2020.
  25. 1 2 3 4 5 6 Creswell 2017.
  26. 1 2 3 4 5 Keng, Smoski & Robins 2011.
  27. 1 2 Bazzano 2014.
  28. 1 2 Sharf 2014, hlm. 942.
  29. ↑ Oxford English Dictionary, edisi kedua, 2002
  30. ↑ Kabat-Zinn 2011, hlm. 22–23.
  31. ↑ Kabat-Zinn 2013a, hlm. 65.
  32. ↑ Davids, T.W. Rhys (1881). Buddhist Suttas. Clarendon Press. hlm. 107. OCLC 13247398.
  33. ↑ Gogerly, D.J. (1845). "On Buddhism". Journal of the Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society. 1: 7–28.
  34. ↑ Davids, T.W. Rhys (1881). Buddhist Suttas. Clarendon Press. hlm. 145. OCLC 13247398.
  35. ↑ Levman, Bryan (2017). "Putting smṛti back into sati (Putting remembrance back into mindfulness)". Journal of the Oxford Centre for Buddhist Studies. 13: 121 at 122.
  36. 1 2 3 Sharf 1995.
  37. ↑ "Lecture, Stanford University Center for Compassion and Altruism Research and Education". The Center for Compassion and Altruism Research and Education. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 20 November 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ James H. Austin (2014), Zen-Brain Horizons: Toward a Living Zen, MIT Press, hlm. 83
  39. 1 2 3 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 1.
  40. 1 2 3 Brown, Kirk Warren; Ryan, Richard M; Creswell, J. David (2007). "Mindfulness: Theoretical Foundations and Evidence for its Salutary Effects". Psychological Inquiry. 18 (4): 211–37. doi:10.1080/10478400701598298. S2CID 2755919.
  41. 1 2 Gehart 2012, hlm. 7–8.
  42. 1 2 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 4-5.
  43. ↑ Karunamuni ND (2015). "The Five-Aggregate Model of the Mind". SAGE Open. 5 (2): 215824401558386. doi:10.1177/2158244015583860.
  44. ↑ Bhikkhu Sujato (2019). "The Linked Discourses: the blueprint for Buddhist philosophy". SuttaCentral. Diakses tanggal 26 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  45. ↑ Anālayo (2003). Satipaṭṭhāna: The Direct Path to Realization (PDF). Windhorse Publications. hlm. 48.
  46. ↑ Sharf 2014, hlm. 942–943.
  47. 1 2 3 Sharf 2014, hlm. 943.
  48. 1 2 3 "Is Mindfulness Present-Centered and Nonjudgmental? A Discussion of the Cognitive Dimensions of Mindfulness" oleh Georges Dreyfus
  49. ↑ "Mindfulness and Ethics: Attention, Virtue and Perfection" oleh Jay Garfield
  50. ↑ Bhante, Vimalaramsi (2015). A Guide to Tranquil Wisdom Insight Meditation (PDF). Annapolis, MO: CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 4. ISBN 978-1-5085-6971-8.
  51. ↑ "The Community of Interbeing (UK)", Adaptation and Developments in Western Buddhism: Socially Engaged Buddhism in the UK, Bloomsbury Academic, 2013, doi:10.5040/9781472552488.ch-005, ISBN 978-1-4725-5248-8
  52. ↑ Thich, Nhat Hanh (2020). Interbeing, 4th Edition: The 14 Mindfulness Trainings of Engaged Buddhism. Parallax Press.
  53. ↑ Hạnh, Thích Nhất (1994). Zen Keys: A Guide to Zen Practice. New York: Harmony Books. ISBN 978-0-385-47561-7.
  54. ↑ Yates, John; Immergut, Matthew; Graves, Jeremy (2015). The Mind Illuminated. Hay House. hlm. 30.
  55. 1 2 Bishop et al. 2004.
  56. 1 2 Wallace, B. Alan (2006). The attention revolution: Unlocking the power of the focused mind. Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-276-2.
  57. ↑ Chiesa, Alberto (2012). "The Difficulty of Defining Mindfulness: Current Thought and Critical Issues". Mindfulness. 4 (3): 255–68. doi:10.1007/s12671-012-0123-4. S2CID 2244732.
  58. ↑ Purser & Milillo 2015, hlm. 11.
  59. 1 2 Valerio 2016.
  60. 1 2 Black 2011, hlm. 2.
  61. 1 2 Gehart 2012, hlm. 7.
  62. ↑ Zgierska et al. 2009.
  63. ↑ Didonna 2008, hlm. 27.
  64. ↑ Kristeller 2007, hlm. 393.
  65. ↑ Germer 2005, hlm. 15.
  66. 1 2 Hick 2010, hlm. 10.
  67. ↑ Tanay & Bernstein 2013, hlm. 1286–1299.
  68. ↑ Kvamme, Sandberg & Silvanto 2024.
  69. ↑ Gkintoni, Vassilopoulos & Nikolaou 2025.
  70. ↑ Matiz 2025.
  71. ↑ Weder 2022.
  72. ↑ ScienceDirect, Mindfulness
  73. ↑ Deatherage 1975.
  74. ↑ Slagter, Davidson & Lutz 2011.
  75. 1 2 3 Karunamuni, Wood & Galante 2025.
  76. ↑ Wilson 2014, hlm. 89.
  77. ↑ Alvear, Soler & Cebolla 2022.
  78. ↑ Shonin & Van Gordon 2013, hlm. 105.
  79. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 4.
  80. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 4, 9.
  81. 1 2 3 4 5 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 5.
  82. 1 2 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 9.
  83. 1 2 Purser & Milillo 2015, hlm. 14.
  84. ↑ Shonin & Van Gordon 2013, hlm. 106.
  85. ↑ Karunamuni, Wood & Galante 2025, hlm. 12, catatan c; 17.
  86. 1 2 3 Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 11.
  87. ↑ Robert H. Sharf. "Mindfulness or Mindlessness: Traditional and Modern Buddhist Critiques of "Bare Awareness"". McGill University. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Oktober 2014. Diakses tanggal 25 Mei 2014.
  88. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 8.
  89. 1 2 Purser & Milillo 2015, hlm. 12.
  90. ↑ Purser & Milillo 2015, hlm. 13.
  91. ↑ Purser & Milillo 2015.
  92. 1 2 Satipaṭṭhāna Sutta: The Foundations of Mindfulness, terjemahan Bhikkhu Ñāṇamoli dan Bhikkhu Bodhi
  93. 1 2 Satipatthana Sutta: Frames of Reference, terjemahan Thanissaro Bhikkhu
  94. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 10.
  95. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 10, 15.
  96. ↑ Bigman-Peer & Yovel 2024, hlm. 2404.
  97. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 11-12.
  98. ↑ Chems-Maarif et al. 2025, hlm. 12.
  99. ↑ Bigman-Peer & Yovel 2024, hlm. 2403.
  100. ↑ Bigman-Peer & Yovel 2024, hlm. 2402.
  101. ↑ Bigman-Peer & Yovel 2024, hlm. 2409.
  102. 1 2 3 4 5 McMahan 2008.
  103. ↑ "The 18th Mind and Life Dialogues meeting". Diarsipkan dari asli tanggal 22 Maret 2014. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  104. ↑ Rhys Davids, T.W. (1977) [terbit pertama 1910]. Dialogues of the Buddha, Part II. Oxford: Pali Text Society. hlm. 322–346. ISBN 0-86013-034-7.
  105. ↑ Williams & Tribe 2000, hlm. 46.
  106. ↑ Vetter 1988.
  107. ↑ Polak 2011.
  108. 1 2 Repetti 2022.
  109. ↑ Lee 2020, hlm. 363.
  110. ↑ "The Spiritual Exercises of St. Ignatius of Loyola: Third Week: Eating".
  111. ↑ Alkitab, Matius 6:34
  112. 1 2 3 Harris 2009, hlm. 268.
  113. ↑ Kipf 1979, hlm. 3–8.
  114. ↑ King 2001.
  115. ↑ Wilson 2014, hlm. 22.
  116. ↑ Wilson 2014, hlm. 17.
  117. ↑ Wilson 2014, hlm. 32.
  118. 1 2 Wilson 2014, hlm. 33.
  119. ↑ Harrington & Dunne 2015, hlm. 622.
  120. 1 2 Harrington & Dunne 2015, hlm. 623.
  121. 1 2 Harrington & Dunne 2015, hlm. 624.
  122. 1 2 Wilson 2014, hlm. 34.
  123. 1 2 Heyward 2025, hlm. 377.
  124. ↑ Wilson 2014, hlm. 85.
  125. ↑ Heyward 2025, hlm. 378.
  126. ↑ Bishop et al. 2004, hlm. 230–231: "Sebagian besar minat pada penerapan klinis kewawasan dipicu oleh diperkenalkannya Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), program terapi termanualkan yang semula dikembangkan untuk penanganan nyeri kronis."
  127. ↑ James, William (2012). Bradley, Matthew (ed.). The Varieties of Religious Experience. Oxford University Press.
  128. ↑ Hurley 2014.
  129. ↑ Wang, Lei & Fan 2023. sfn error: banyak target (2×): CITEREFWangLeiFan2023 (bantuan)
  130. ↑ Wilson 2014, hlm. 54–55.
  131. ↑ Mahāsi Sayādaw, Manual of Insight, Bab 5
  132. ↑ Buddhadasa Bhikkhu (2014), Heartwood of the Bodhi Tree, Wisdom Publications, hlm. 79, 101, 117 catatan 42
  133. 1 2 3 Analayo 2003.
  134. 1 2 Bhikkhu Bodhi.
  135. ↑ "What is Theravada Buddhism?". Access to Insight. Diakses tanggal 17 Agustus 2013.
  136. ↑ Mahasi Sayadaw, Practical Vipassana Instructions, hlm. 22–27
  137. ↑ "The Art of Living: Vipassana Meditation". Dhamma.org. Diakses tanggal 30 Mei 2013.
  138. ↑ ""The Nature of Mindfulness and Its Role in Buddhist Meditation": A Correspondence between B.A. Wallace and the Venerable Bhikkhu Bodhi, Winter 2006, hlm. 4" (PDF). Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  139. ↑ Warner, Brad (2003). Hardcore Zen: Punk Rock, Monster Movies, & the Truth about Reality. Wisdom Publications. hlm. 189–190. ISBN 0-86171-380-X.
  140. ↑ Suzuki, Shunryū (2011). Zen Mind, Beginner's Mind. Shambhala Publications. hlm. 15–16. ISBN 978-1-59030-849-3.
  141. 1 2 Gunaratana 2011, hlm. 21.
  142. ↑ Marlatt & Kristeller 1999, hlm. 68.
  143. 1 2 3 4 Hick 2010, hlm. 6.
  144. ↑ Kabat-Zinn, Full Catastrophe Living (Revised Edition) (2013), hlm. lxiv
  145. ↑ Ihnen & Flynn 2008, hlm. 148.
  146. ↑ Williams et al. 2007, hlm. 55–56.
  147. ↑ Stanszus LS, Frank P, Geiger SM (Oktober 2019). "Healthy eating and sustainable nutrition through mindfulness? Mixed method results of a controlled intervention study". Appetite. 141. doi:10.1016/j.appet.2019.104325. PMID 31228507.
  148. ↑ Pickert K (Februari 2014). "The art of being mindful". Time. Vol. 183, no. 4. hlm. 40–46. PMID 24640415.
  149. ↑ Kabat-Zinn 2000.
  150. 1 2 Ergas, Oren (2013). "Mindfulness in education at the intersection of science, religion, and healing". Critical Studies in Education. 55: 58–72. doi:10.1080/17508487.2014.858643. S2CID 144860756.
  151. ↑ Piet J, Hougaard E (Agustus 2011). "The effect of mindfulness-based cognitive therapy for prevention of relapse in recurrent major depressive disorder: a systematic review and meta-analysis". Clinical Psychology Review. 31 (6): 1032–1040. doi:10.1016/j.cpr.2011.05.002. PMID 21802618.
  152. ↑ Manicavasgar V, Parker G, Perich T (April 2011). "Mindfulness-based cognitive therapy vs cognitive behaviour therapy as a treatment for non-melancholic depression". Journal of Affective Disorders. 130 (1–2): 138–144. doi:10.1016/j.jad.2010.09.027. PMID 21093925.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  153. ↑ Hofmann SG, Sawyer AT, Fang A (September 2010). "The empirical status of the "new wave" of cognitive behavioral therapy". The Psychiatric Clinics of North America. 33 (3): 701–710. doi:10.1016/j.psc.2010.04.006. PMC 2898899. PMID 20599141.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  154. 1 2 Felder JN, Dimidjian S, Segal Z (Februari 2012). "Collaboration in mindfulness-based cognitive therapy". Journal of Clinical Psychology. 68 (2): 179–186. doi:10.1002/jclp.21832. PMID 23616298.
  155. ↑ Ma SH, Teasdale JD (Februari 2004). "Mindfulness-based cognitive therapy for depression: replication and exploration of differential relapse prevention effects". Journal of Consulting and Clinical Psychology. 72 (1): 31–40. doi:10.1037/0022-006x.72.1.31. PMID 14756612.
  156. ↑ Plumb JC, Stewart I, Dahl J, Lundgren T (2009). "In search of meaning: values in modern clinical behavior analysis". The Behavior Analyst. 32 (1): 85–103. doi:10.1007/bf03392177. PMC 2686995. PMID 22478515.
  157. ↑ Hayes, Steven. "Acceptance & Commitment Therapy (ACT)". ContextualPsychology.org.
  158. ↑ Zettle, Robert D (2005). "The evolution of a contextual approach to therapy: From comprehensive distancing to ACT". International Journal of Behavioral Consultation and Therapy. 1 (2): 77–89. doi:10.1037/h0100736.
  159. ↑ Murdock, N. L. (2009). Theories of counseling and psychotherapy: A case approach. Upper Saddle River, N.J.: Merrill/Pearson
  160. ↑ "Getting in on the Act". The Irish Times. 7 Juni 2011. Diakses tanggal 16 Maret 2012.
  161. ↑ "Acceptance and Commitment Therapy (ACT)". Nexus Psychology. Diakses tanggal 6 April 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  162. ↑ Linehan 1993, hlm. 19.
  163. ↑ Linehan 1993, hlm. 20–21.
  164. ↑ Apsche JA, DiMeo L (2010). Mode Deactivation Therapy for aggression and oppositional behavior in adolescents: An integrative methodology using ACT, DBT, and CBT. Oakland, CA: New Harbinger. ISBN 978-1-60882-107-5.
  165. ↑ Swart, Joan; Apsche, Jack (2014). "Family mode deactivation therapy (FMDT) mediation analysis". International Journal of Behavioral Consultation and Therapy. 9: 1–13. doi:10.1037/h0101009.
  166. ↑ Sugg HV, Frost J, Richards DA (Mei 2019). "Morita Therapy for depression (Morita Trial): an embedded qualitative study of acceptability". BMJ Open. 9 (5). doi:10.1136/bmjopen-2018-023873. PMC 6549637. PMID 31147359.
  167. ↑ Schwartz, Richard C. (2013). Internal Family Systems Therapy. Guilford Publications. ISBN 978-1-4625-1395-6.
  168. ↑ Robinson, Lawrence; Segal, Robert; Segal, Jeanne; Smith, Melinda (Desember 2017). "Relaxation Techniques". Helpguide.org.
  169. ↑ Ergas, Oren; Todd, Sharon, ed. (2016). Philosophy East/West: Exploring intersections between educational and contemplative practices (Edisi 1st). Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-119-14733-6.
  170. ↑ Renshaw, Tyler L; Cook, Clayton R (2017). "Introduction to the Special Issue: Mindfulness in the Schools". Psychology in the Schools. 54: 5–12. doi:10.1002/pits.21978.
  171. ↑ Eklund, Katie; O'Malley, Meagan; Meyer, Lauren (2017). "Gauging Mindfulness in Children and Youth: School-Based Applications". Psychology in the Schools. 54: 101–14. doi:10.1002/pits.21983.
  172. ↑ Davidson, Richard J.; Dunne, John; Eccles, Jacquelynne S. (Juni 2012). "Contemplative Practices and Mental Training: Prospects for American Education". Child Development Perspectives. 6 (2): 146–153. doi:10.1111/j.1750-8606.2012.00240.x. PMC 3420012. PMID 22905038.
  173. ↑ Hobby, Kristen; Jenkins, Elizabeth (2014). "Mindfulness in schools". EarthSong Journal. 2 (7): 26. ISSN 1449-8367.
  174. 1 2 Zenner C, Herrnleben-Kurz S, Walach H (2014). "Mindfulness-based interventions in schools: a systematic review and meta-analysis". Frontiers in Psychology. 5: 603. doi:10.3389/fpsyg.2014.00603. PMC 4075476. PMID 25071620.
  175. ↑ Ivlev, Ilya; Pappas, Miranda; Cheney, Tamara P. (20 Mei 2026). "Mindfulness-Based Interventions for Well-Being and Mental Health in Children and Adolescents". Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). doi:10.23970/ahrqepc_sr_mindfulness.
  176. ↑ Semple, Randye J; Lee, Jennifer; Rosa, Dinelia; Miller, Lisa F (2009). "A Randomized Trial of Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Children". Journal of Child and Family Studies. 19 (2): 218–29. doi:10.1007/s10826-009-9301-y.
  177. ↑ Flook, Lisa; Smalley, Susan L; Kitil, M. Jennifer (2010). "Effects of Mindful Awareness Practices on Executive Functions in Elementary School Children". Journal of Applied School Psychology. 26 (1): 70–95. doi:10.1080/15377900903379125.
  178. ↑ Johnson C, Burke C, Brinkman S, Wade T (Juni 2016). "Effectiveness of a school-based mindfulness program for transdiagnostic prevention in young adolescents". Behaviour Research and Therapy. 81: 1–11. doi:10.1016/j.brat.2016.03.002. PMID 27054828.
  179. 1 2 Good, Darren J; Lyddy, Christopher J; Glomb, Theresa M (2015). "Contemplating Mindfulness at Work". Journal of Management. 42 (1): 114–42. doi:10.1177/0149206315617003.
  180. ↑ Boyatzis, R. E., & McKee, A. (2005). Resonant Leadership. Boston: Harvard Business School Press.
  181. 1 2 Carroll, Michael (2007). The Mindful Leader: Ten Principles for Bringing Out the Best in Ourselves and Others. Shambhala Publications. ISBN 978-1-59030-347-4.
  182. 1 2 Schultz, Patricia P; Ryan, Richard M; Niemiec, Christopher P (2014). "Mindfulness, Work Climate, and Psychological Need Satisfaction in Employee Well-being". Mindfulness. 6 (5): 971. doi:10.1007/s12671-014-0338-7.
  183. ↑ Janssen M, Heerkens Y, Kuijer W, van der Heijden B, Engels J (2018). "Effects of Mindfulness-Based Stress Reduction on employees' mental health: A systematic review". PLOS ONE. 13 (1). doi:10.1371/journal.pone.0191332. PMC 5783379. PMID 29364935.
  184. ↑ "Meditation classes raise attorneys mindfulness" (2009). New Orleans CityBusiness.
  185. ↑ Program on Negotiation at Harvard Law School (2008). Program on Negotiation Webcasts.
  186. ↑ Samuelson, Marlene; Carmody, James; Kabat-Zinn, Jon; Bratt, Michael A (2016). "Mindfulness-Based Stress Reduction in Massachusetts Correctional Facilities". The Prison Journal. 87 (2): 254–68. doi:10.1177/0032885507303753.
  187. ↑ Shonin, Edo; Van Gordon, William; Slade, Karen; Griffiths, Mark D (2013). "Mindfulness and other Buddhist-derived interventions in correctional settings: A systematic review". Aggression and Violent Behavior. 18 (3): 365–72. doi:10.1016/j.avb.2013.01.002.
  188. ↑ Dafoe, Terra; Stermac, Lana (2013). "Mindfulness Meditation as an Adjunct Approach to Treatment Within the Correctional System". Journal of Offender Rehabilitation. 52 (3): 198–216. doi:10.1080/10509674.2012.752774.
  189. ↑ Rochman B (6 September 2009). "Samurai Mind Training for Modern American Warriors". Time.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  190. ↑ Li J, Shen J, Wu G, Tan Y, Sun Y, Keller E, Jiang Y, Wu J (Agustus 2018). "Mindful exercise versus non-mindful exercise for schizophrenia". Complementary Therapies in Clinical Practice. 32: 17–24. doi:10.1016/j.ctcp.2018.04.003. PMID 30057047.
  191. ↑ Zou L, Zhang Y, Yang L, Loprinzi PD, Yeung AS, Kong J (Mei 2019). "Are Mindful Exercises Safe and Beneficial for Treating Chronic Lower Back Pain?". Journal of Clinical Medicine. 8 (5): 628. doi:10.3390/jcm8050628. PMC 6571780. PMID 31072005.
  192. ↑ Vonderlin, Ruben; Biermann, Miriam; Bohus, Martin; Lyssenko, Lisa (2 Maret 2020). "Mindfulness-Based Programs in the Workplace: a Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials". Mindfulness. 11 (7): 1579–1598. doi:10.1007/s12671-020-01328-3.
  193. 1 2 Dawson AF, Brown WW, Anderson J, Datta B, Donald JN, Hong K (Juli 2020). "Mindfulness-Based Interventions for University Students: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomised Controlled Trials". Applied Psychology: Health and Well-Being. 12 (2): 384–410. doi:10.1111/aphw.12188. PMID 31743957.
  194. 1 2 Tomlinson ER, Yousaf O, Vittersø AD, Jones L (2018). "Dispositional Mindfulness and Psychological Health: a Systematic Review". Mindfulness. 9 (1): 23–43. doi:10.1007/s12671-017-0762-6. PMC 5770488. PMID 29387263.
  195. ↑ Xiao, Qianguo; Hu, Chunmei; Wang, Ting (1 November 2020). "Mindfulness Practice Makes Moral People More Moral". Mindfulness. 11 (11): 2639–2650. doi:10.1007/s12671-020-01478-4. ISSN 1868-8535.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  196. ↑ Xue J, Zhang Y, Huang Y (Juni 2019). "A meta-analytic investigation of the impact of mindfulness-based interventions on ADHD symptoms". Medicine. 98 (23). doi:10.1097/MD.0000000000015957. PMC 6571280. PMID 31169722.
  197. ↑ Cavicchioli M, Movalli M, Maffei C (2018). "The Clinical Efficacy of Mindfulness-Based Treatments for Alcohol and Drugs Use Disorders". European Addiction Research. 24 (3): 137–162. doi:10.1159/000490762. PMID 30016796.
  198. ↑ Spijkerman MP, Pots WT, Bohlmeijer ET (April 2016). "Effectiveness of online mindfulness-based interventions in improving mental health". Clinical Psychology Review. 45: 102–114. doi:10.1016/j.cpr.2016.03.009. PMID 27111302.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  199. ↑ Petcharat M, Liehr P (Februari 2017). "Mindfulness training for parents of children with special needs". Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursing. 30 (1): 35–46. doi:10.1111/jcap.12169. PMID 28449389.
  200. ↑ Fuchs, Wendy W; Mundschenk, Nancy J; Groark, Brian (2017). "A Promising Practice: School-Based Mindfulness-Based Stress Reduction for Children with Disabilities". Journal of International Special Needs Education. 20 (2): 56–66. doi:10.9782/2159-4341-20.2.56.
  201. ↑ Cachia, Renee L; Anderson, Angelika; Moore, Dennis W (2016). "Mindfulness in Individuals with Autism Spectrum Disorder". Review Journal of Autism and Developmental Disorders. 3 (2): 165–78. doi:10.1007/s40489-016-0074-0.
  202. ↑ Benevides TW, Shore SM, Andresen ML, Caplan R, Cook B, Gassner DL (Agustus 2020). "Interventions to address health outcomes among autistic adults: A systematic review". Autism. 24 (6): 1345–1359. doi:10.1177/1362361320913664. PMC 7787674. PMID 32390461.
  203. ↑ Peng, Qiyan; Dong, Yujie; Jin, Jie (27 Juni 2025). "The effectiveness of mindfulness-based interventions for children with autism and their parents". Frontiers in Psychology. 16. doi:10.3389/fpsyg.2025.1526001. PMC 12245922. PMID 40657585.
  204. ↑ Goldberg SB, Tucker RP, Greene PA, Davidson RJ, Wampold BE, Kearney DJ, Simpson TL (Februari 2018). "Mindfulness-based interventions for psychiatric disorders: A systematic review and meta-analysis". Clinical Psychology Review. 59: 52–60. doi:10.1016/j.cpr.2017.10.011. PMC 5741505. PMID 29126747.
  205. ↑ Boyd JE, Lanius RA, McKinnon MC (Januari 2018). "Mindfulness-based treatments for posttraumatic stress disorder". Journal of Psychiatry & Neuroscience. 43 (1): 7–25. doi:10.1503/jpn.170021. PMC 5747539. PMID 29252162.
  206. ↑ Rodrigues MF, Nardi AE, Levitan M (2017). "Mindfulness in mood and anxiety disorders: a review of the literature". Trends in Psychiatry and Psychotherapy. 39 (3): 207–215. doi:10.1590/2237-6089-2016-0051. PMID 28767927.
  207. ↑ Aust J, Bradshaw T (Februari 2017). "Mindfulness interventions for psychosis: a systematic review of the literature". Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing. 24 (1): 69–83. doi:10.1111/jpm.12357. PMID 27928859.
  208. ↑ Cramer H, Lauche R, Haller H, Langhorst J, Dobos G (Januari 2016). "Mindfulness- and Acceptance-based Interventions for Psychosis: A Systematic Review and Meta-analysis". Global Advances in Health and Medicine. 5 (1): 30–43. doi:10.7453/gahmj.2015.083. PMC 4756771. PMID 26937312.
  209. ↑ Louise S, Fitzpatrick M, Strauss C, Rossell SL, Thomas N (Februari 2018). "Mindfulness- and acceptance-based interventions for psychosis". Schizophrenia Research. 192: 57–63. doi:10.1016/j.schres.2017.05.023. PMID 28545945.
  210. ↑ Kaplan DM, Palitsky R, Carey AL, Crane TE, Havens CM, Medrano MR (Juli 2018). "Maladaptive repetitive thought as a transdiagnostic phenomenon and treatment target". Journal of Clinical Psychology. 74 (7): 1126–1136. doi:10.1002/jclp.22585. PMID 29342312.
  211. 1 2 3 Querstret D, Cropley M (Desember 2013). "Assessing treatments used to reduce rumination and/or worry: a systematic review". Clinical Psychology Review. 33 (8): 996–1009. doi:10.1016/j.cpr.2013.08.004. PMID 24036088.
  212. ↑ Kiken LG, Garland EL, Bluth K, Palsson OS, Gaylord SA (Juli 2015). "From a state to a trait: Trajectories of state mindfulness in meditation during intervention predict changes in trait mindfulness". Personality and Individual Differences. 81: 41–46. doi:10.1016/j.paid.2014.12.044. PMC 4404745. PMID 25914434.
  213. ↑ Gu J, Strauss C, Bond R, Cavanagh K (April 2015). "How do mindfulness-based cognitive therapy and mindfulness-based stress reduction improve mental health and wellbeing?". Clinical Psychology Review. 37: 1–12. doi:10.1016/j.cpr.2015.01.006. PMID 25689576.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  214. ↑ Perestelo-Perez L, Barraca J, Peñate W, Rivero-Santana A, Alvarez-Perez Y (2017). "Mindfulness-based interventions for the treatment of depressive rumination". International Journal of Clinical and Health Psychology. 17 (3): 282–295. doi:10.1016/j.ijchp.2017.07.004. PMC 6220915. PMID 30487903.
  215. ↑ Kappes, Cathleen; Marion-Jetten, Ariane S.; Taylor, Geneviève (1 Desember 2023). "The role of mindfulness and autonomous motivation for goal progress and goal adjustment: an intervention study". Motivation and Emotion. 47 (6): 946–964. doi:10.1007/s11031-023-10033-2.
  216. ↑ Southwick, S.M., & Charney, D.S. (2012). Resilience: The Science of Mastering Life's Greatest Challenges. Cambridge University Press.
  217. ↑ Galante, Julieta; Friedrich, Claire; Aeamla-Or, Napaporn (10 Juli 2023). "Systematic review and individual participant data meta-analysis of randomized controlled trials assessing mindfulness-based programs for mental health promotion". Nature Mental Health. 1 (7): 462–476. doi:10.1038/s44220-023-00081-5. PMC 7615230. PMID 37867573.
  218. ↑ Tang YY, Leve LD (Maret 2016). "A translational neuroscience perspective on mindfulness meditation as a prevention strategy". Translational Behavioral Medicine. 6 (1): 63–72. doi:10.1007/s13142-015-0360-x. PMC 4807201. PMID 27012254.
  219. ↑ Cheng FK (2016). "Is meditation conducive to mental well-being for adolescents?". International Journal of Africa Nursing Sciences. 4: 7–19. doi:10.1016/j.ijans.2016.01.001.
  220. ↑ Garland SN, Zhou ES, Gonzalez BD, Rodriguez N (September 2016). "The Quest for Mindful Sleep". Current Sleep Medicine Reports. 2 (3): 142–151. doi:10.1007/s40675-016-0050-3. PMC 5300077. PMID 28191449.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  221. ↑ Ong JC, Smith CE (Juni 2017). "Using Mindfulness for the Treatment of Insomnia". Current Sleep Medicine Reports. 3 (2): 57–65. doi:10.1007/s40675-017-0068-1. PMC 6171769. PMID 30294523.
  222. ↑ Kurth, Florian; Cherbuin, Nicolas; Luders, Eileen (2017). "Aging Mindfully to Minimize Cognitive Decline". Journal of Cognitive Enhancement. 1 (2): 108–14. doi:10.1007/s41465-017-0027-2.
  223. ↑ Xu J (November 2018). "A Tripartite Function of Mindfulness in Adjustment to Aging". The Gerontologist. 58 (6): 1009–1015. doi:10.1093/geront/gnx100. PMID 30395235.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  224. ↑ Acevedo BP, Pospos S, Lavretsky H (2016). "The Neural Mechanisms of Meditative Practices". Current Behavioral Neuroscience Reports. 3 (4): 328–339. doi:10.1007/s40473-016-0098-x. PMC 5110576. PMID 27909646.
  225. ↑ Colzato, Lorenza S; Kibele, Armin (2017). "How Different Types of Meditation Can Enhance Athletic Performance Depending on the Specific Sport Skills". Journal of Cognitive Enhancement. 1 (2): 122–26. doi:10.1007/s41465-017-0018-3.
  226. 1 2 Noetel et al. 2019.
  227. ↑ Crescentini C, Capurso V (2015). "Mindfulness meditation and explicit and implicit indicators of personality and self-concept changes". Frontiers in Psychology. 6: 44. doi:10.3389/fpsyg.2015.00044. PMC 4310269. PMID 25688222.
  228. ↑ Crescentini C, Matiz A, Fabbro F (2015). "Improving personality/character traits in individuals with alcohol dependence". Journal of Addictive Diseases. 34 (1): 75–87. doi:10.1080/10550887.2014.991657. PMID 25585050.
  229. ↑ Hafenbrack, A. C.; LaPalme, M. L.; Solal, I. (2022). "Mindfulness meditation reduces guilt and prosocial reparation". Journal of Personality and Social Psychology. 123 (1): 28–54. doi:10.1037/pspa0000298. PMID 34941333.
  230. ↑ Poulin, M. J.; Ministero, L. M.; Gabriel, S. (2021). "Minding Your Own Business? Mindfulness Decreases Prosocial Behavior for People With Independent Self-Construals". Psychological Science. 32 (11): 1699–1708. doi:10.1177/09567976211015184. PMID 34705576.
  231. ↑ "How mindfulness can make you a darker person". bbc.com. 3 Maret 2022. Diakses tanggal 9 Juli 2024.
  232. ↑ Malin, Yael (2023). "Others in mind: A systematic review and meta-analysis of the relationship between mindfulness and prosociality". Mindfulness. 14 (7): 1582–1605. doi:10.1007/s12671-023-02150-3.
  233. ↑ Berry, Daniel R.; Hoerr, Jonathan P.; Cesko, Selena (Agustus 2020). "Does Mindfulness Training Without Explicit Ethics-Based Instruction Promote Prosocial Behaviors? A Meta-Analysis". Personality and Social Psychology Bulletin. 46 (8): 1247–1269. doi:10.1177/0146167219900418. PMID 31971095.
  234. ↑ Donald, James N.; Sahdra, Baljinder K.; Van Zanden, Brooke (Februari 2019). "Does your mindfulness benefit others? A systematic review and meta-analysis of the link between mindfulness and prosocial behaviour". British Journal of Psychology. 110 (1): 101–125. doi:10.1111/bjop.12338. PMID 30094812.
  235. ↑ Sala M, Shankar Ram S, Vanzhula IA, Levinson CA (Juni 2020). "Mindfulness and eating disorder psychopathology: A meta-analysis". The International Journal of Eating Disorders. 53 (6): 834–851. doi:10.1002/eat.23247. PMID 32100320.
  236. ↑ Carrière K, Khoury B, Günak MM, Knäuper B (Februari 2018). "Mindfulness-based interventions for weight loss: a systematic review and meta-analysis". Obesity Reviews. 19 (2): 164–177. doi:10.1111/obr.12623. PMID 29076610.
  237. ↑ Rogers JM, Ferrari M, Mosely K, Lang CP, Brennan L (Januari 2017). "Mindfulness-based interventions for adults who are overweight or obese". Obesity Reviews. 18 (1): 51–67. doi:10.1111/obr.12461. PMID 27862826.
  238. 1 2 Scott-Sheldon LA, Gathright EC, Donahue ML, Balletto B, Feulner MM, DeCosta J (Januari 2020). "Mindfulness-Based Interventions for Adults with Cardiovascular Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis". Annals of Behavioral Medicine. 54 (1): 67–73. doi:10.1093/abm/kaz020. PMC 6922300. PMID 31167026.
  239. ↑ Wang YY, Wang F, Zheng W, Zhang L, Ng CH, Ungvari GS, Xiang YT (2020). "Mindfulness-Based Interventions for Insomnia: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials". Behavioral Sleep Medicine. 18 (1): 1–9. doi:10.1080/15402002.2018.1518228. PMID 30380915.
  240. ↑ Kanen, Jonathan; Nazir, Racha; Sedky, Karim; Pradhan, Basant (30 April 2015). "The Effects of Mindfulness-Based Interventions on Sleep Disturbance: A Meta-Analysis". Adolescent Psychiatry. 5 (2): 105–115. doi:10.2174/2210676605666150311222928.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  241. ↑ Xunlin NG, Lau Y, Klainin-Yobas P (April 2020). "The effectiveness of mindfulness-based interventions among cancer patients and survivors". Supportive Care in Cancer. 28 (4): 1563–1578. doi:10.1007/s00520-019-05219-9. PMID 31834518.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  242. ↑ Xie C, Dong B, Wang L, Jing X, Wu Y, Lin L, Tian L (Maret 2020). "Mindfulness-based stress reduction can alleviate cancer-related fatigue: A meta-analysis". Journal of Psychosomatic Research. 130. doi:10.1016/j.jpsychores.2019.109916. PMID 31927347.
  243. 1 2 Nnate DA, Anyachukwu CC, Igwe SE, Abaraogu UO (Oktober 2021). "Mindfulness-based interventions for psychological wellbeing and quality of life in men with prostate cancer". Psycho-Oncology. 30 (10): 1680–1690. doi:10.1002/pon.5749. PMID 34139035.
  244. 1 2 Cillessen L, Johannsen M, Speckens AE, Zachariae R (Desember 2019). "Mindfulness-based interventions for psychological and physical health outcomes in cancer patients and survivors". Psycho-Oncology. 28 (12): 2257–2269. doi:10.1002/pon.5214. PMC 6916350. PMID 31464026.
  245. ↑ Simpson R, Simpson S, Ramparsad N, Lawrence M, Booth J, Mercer SW (Februari 2020). "Effects of Mindfulness-based interventions on physical symptoms in people with multiple sclerosis". Multiple Sclerosis and Related Disorders. 38. doi:10.1016/j.msard.2019.101493. PMID 31835209.
  246. ↑ Di Cara M, Grezzo D, Palmeri R, Lo Buono V, Cartella E, Micchia K (Januari 2022). "Psychological well-being in people with multiple sclerosis". Neurological Sciences. 43 (1): 211–217. doi:10.1007/s10072-021-05686-1. PMC 8724219. PMID 34697659.
  247. ↑ DiRenzo D, Crespo-Bosque M, Gould N, Finan P, Nanavati J, Bingham CO (Oktober 2018). "Systematic Review and Meta-analysis: Mindfulness-Based Interventions for Rheumatoid Arthritis". Current Rheumatology Reports. 20 (12). doi:10.1007/s11926-018-0787-4. PMC 6233984. PMID 30338418.
  248. ↑ Guo J, Wang H, Luo J, Guo Y, Xie Y, Lei B (11 Desember 2019). "Factors influencing the effect of mindfulness-based interventions on diabetes distress: a meta-analysis". BMJ Open Diabetes Research & Care. 7 (1). doi:10.1136/bmjdrc-2019-000757. PMC 6936501. PMID 31908794.
  249. ↑ Demarzo MM, Montero-Marin J, Cuijpers P, Zabaleta-del-Olmo E, Mahtani KR, Vellinga A (November 2015). "The Efficacy of Mindfulness-Based Interventions in Primary Care: A Meta-Analytic Review". Annals of Family Medicine. 13 (6): 573–582. doi:10.1370/afm.1863. PMC 4639383. PMID 26553897.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  250. ↑ Hutton, Jane (September 2016). "How can mindfulness help patients with skin conditions". Dermatological Nursing. 15 (3): 32–35.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  251. ↑ Isgut M, Smith AK, Reimann ES, Kucuk O, Ryan J (Desember 2017). "The impact of psychological distress during pregnancy on the developing fetus". Journal of Perinatal Medicine. 45 (9): 999–1011. doi:10.1515/jpm-2016-0189. PMID 28141546.
  252. ↑ Dhillon A, Sparkes E, Duarte RV (2017). "Mindfulness-Based Interventions During Pregnancy: a Systematic Review and Meta-analysis". Mindfulness. 8 (6): 1421–1437. doi:10.1007/s12671-017-0726-x. PMC 5693962. PMID 29201244.
  253. ↑ Matvienko-Sikar K, Lee L, Murphy G, Murphy L (Desember 2016). "The effects of mindfulness interventions on prenatal well-being: A systematic review". Psychology & Health. 31 (12): 1415–1434. doi:10.1080/08870446.2016.1220557. PMID 27539908.
  254. ↑ Zeidan F, Vago DR (Juni 2016). "Mindfulness meditation-based pain relief: a mechanistic account". Annals of the New York Academy of Sciences. 1373 (1): 114–127. doi:10.1111/nyas.13153. PMC 4941786. PMID 27398643.
  255. ↑ Reangsing, Chuntana; Punsuwun, Sasinun; Oerther, Sarah (Januari 2026). "Effects of mindfulness-based interventions (MBIs) on headache pain in migraine patients". General Hospital Psychiatry. 98: 107–115. doi:10.1016/j.genhosppsych.2025.12.013. PMID 41421052.
  256. ↑ Zeidan F, Martucci KT, Kraft RA, Gordon NS, McHaffie JG, Coghill RC (April 2011). "Brain mechanisms supporting the modulation of pain by mindfulness meditation". The Journal of Neuroscience. 31 (14): 5540–5548. doi:10.1523/JNEUROSCI.5791-10.2011. PMC 3090218. PMID 21471390.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  257. 1 2 Karunamuni N, Imayama I, Goonetilleke D (Maret 2021). "Pathways to well-being: Untangling the causal relationships among biopsychosocial variables". Social Science & Medicine. 272. doi:10.1016/j.socscimed.2020.112846. PMID 32089388.
  258. ↑ Grierson AB, Hickie IB, Naismith SL, Scott J (September 2016). "The role of rumination in illness trajectories in youth". Psychological Medicine. 46 (12): 2467–2484. doi:10.1017/S0033291716001392. PMC 4988274. PMID 27352637.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  259. ↑ Verkuil B, Brosschot JF, Gebhardt WA, Thayer JF (2010). "When worries make you sick: a review of perseverative cognition, the default stress response and somatic health". Journal of Experimental Psychopathology. 1 (1): 87–118. doi:10.5127/jep.009110.
  260. ↑ Pascoe MC, Thompson DR, Jenkins ZM, Ski CF (Desember 2017). "Mindfulness mediates the physiological markers of stress: Systematic review and meta-analysis". Journal of Psychiatric Research. 95: 156–178. doi:10.1016/j.jpsychires.2017.08.004. PMID 28863392.
  261. ↑ Dunn, Thomas J.; Dimolareva, Mirena (Maret 2022). "The effect of mindfulness-based interventions on immunity-related biomarkers". Clinical Psychology Review. 92. doi:10.1016/j.cpr.2022.102124. PMID 35078038.
  262. 1 2 Black DS, Slavich GM (Juni 2016). "Mindfulness meditation and the immune system: a systematic review of randomized controlled trials". Annals of the New York Academy of Sciences. 1373 (1): 13–24. doi:10.1111/nyas.12998. PMC 4940234. PMID 26799456.
  263. ↑ Creswell JD, Lindsay EK, Villalba DK, Chin B (April 2019). "Mindfulness Training and Physical Health: Mechanisms and Outcomes". Psychosomatic Medicine. 81 (3): 224–232. doi:10.1097/PSY.0000000000000675. PMC 6613793. PMID 30806634.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  264. ↑ Liu YZ, Wang YX, Jiang CL (2017). "Inflammation: The Common Pathway of Stress-Related Diseases". Frontiers in Human Neuroscience. 11. doi:10.3389/fnhum.2017.00316. PMC 5476783. PMID 28676747.
  265. ↑ Kelly SJ, Ismail M (Maret 2015). "Stress and type 2 diabetes: a review of how stress contributes to the development of type 2 diabetes". Annual Review of Public Health. 36: 441–462. doi:10.1146/annurev-publhealth-031914-122921. PMID 25581145.
  266. ↑ Schutte NS, Malouff JM (April 2014). "A meta-analytic review of the effects of mindfulness meditation on telomerase activity". Psychoneuroendocrinology. 42: 45–48. doi:10.1016/j.psyneuen.2013.12.017. PMID 24636500.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  267. ↑ Larouche E, Hudon C, Goulet S (Januari 2015). "Potential benefits of mindfulness-based interventions in mild cognitive impairment and Alzheimer's disease". Behavioural Brain Research. 276: 199–212. doi:10.1016/j.bbr.2014.05.058. PMID 24893317.
  268. ↑ Buric I, Farias M, Jong J, Mee C, Brazil IA (2017). "What Is the Molecular Signature of Mind-Body Interventions?". Frontiers in Immunology. 8. doi:10.3389/fimmu.2017.00670. PMC 5472657. PMID 28670311.
  269. ↑ Sanada K, Alda Díez M, Salas Valero M, Pérez-Yus MC, Demarzo MM (Februari 2017). "Effects of mindfulness-based interventions on biomarkers in healthy and cancer populations: a systematic review". BMC Complementary and Alternative Medicine. 17 (1). doi:10.1186/s12906-017-1638-y. PMC 5324275. PMID 28231775.
  270. ↑ Creswell 2017, hlm. 505.
  271. ↑ Sequeira S (Januari 2014). "Foreword to Advances in Meditation Research". Annals of the New York Academy of Sciences. 1307 (1): v–vi. doi:10.1111/nyas.12305. PMID 24571183.
  272. ↑ Tang YY, Posner MI (Januari 2013). "Special issue on mindfulness neuroscience". Social Cognitive and Affective Neuroscience. 8 (1): 1–3. doi:10.1093/scan/nss104. PMC 3541496. PMID 22956677.
  273. 1 2 Gotink RA, Meijboom R, Vernooij MW, Smits M, Hunink MG (Oktober 2016). "8-week Mindfulness Based Stress Reduction induces brain changes similar to traditional long-term meditation practice". Brain and Cognition. 108: 32–41. doi:10.1016/j.bandc.2016.07.001. PMID 27429096.
  274. ↑ Last N, Tufts E, Auger LE (2017). "The Effects of Meditation on Grey Matter Atrophy and Neurodegeneration: A Systematic Review". Journal of Alzheimer's Disease. 56 (1): 275–286. doi:10.3233/JAD-160899. PMID 27983555.
  275. ↑ Ruther, Stacy; Jackson, Eric; vanSonnenberg, Eric (Februari 2026). "Mindfulness on the brain: a review of structural and functional MRI findings in mindfulness-based stress reduction". European Journal of Radiology. 195. doi:10.1016/j.ejrad.2025.112619. PMID 41422646.
  276. 1 2 Hölzel BK, Lazar SW, Gard T, Schuman-Olivier Z, Vago DR, Ott U (November 2011). "How Does Mindfulness Meditation Work?". Perspectives on Psychological Science. 6 (6): 537–559. doi:10.1177/1745691611419671. PMID 26168376.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  277. ↑ Rahrig, Hadley; Vago, David R.; Passarelli, Matthew A. (18 Juli 2022). "Meta-analytic evidence that mindfulness training alters resting state default mode network connectivity". Scientific Reports. 12 (1). doi:10.1038/s41598-022-15195-6. PMC 9293892. PMID 35851275.
  278. ↑ Hölzel BK, Carmody J, Vangel M, Congleton C, Yerramsetti SM, Gard T, Lazar SW (Januari 2011). "Mindfulness practice leads to increases in regional brain gray matter density". Psychiatry Research. 191 (1): 36–43. doi:10.1016/j.pscychresns.2010.08.006. PMC 3004979. PMID 21071182.
  279. 1 2 Simon R, Engström M (2015). "The default mode network as a biomarker for monitoring the therapeutic effects of meditation". Frontiers in Psychology. 6: 776. doi:10.3389/fpsyg.2015.00776. PMC 4460295. PMID 26106351.
  280. ↑ Creswell 2017, hlm. 497.
  281. ↑ de Vibe M, Bjørndal A, Fattah S, Dyrdal GM, Halland E, Tanner-Smith EE (2017). "Mindfulness-based stress reduction (MBSR) for improving health, quality of life and social functioning in adults". Campbell Systematic Reviews. 13 (1): 1–264. doi:10.4073/csr.2017.11.
  282. 1 2 Luders E, Kurth F, Mayer EA, Toga AW, Narr KL, Gaser C (2012). "The unique brain anatomy of meditation practitioners: alterations in cortical gyrification". Frontiers in Human Neuroscience. 6: 34. doi:10.3389/fnhum.2012.00034. PMC 3289949. PMID 22393318.
  283. ↑ Mark Wheeler (14 Maret 2012). "Evidence builds that meditation strengthens the brain, UCLA researchers say". UCLA Newsroom. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Mei 2014.
  284. ↑ Fjorback, L. O.; Arendt, M.; Ornbøl, E.; Fink, P.; Walach, H. (2011). "Mindfulness-based stress reduction and mindfulness-based cognitive therapy: A systematic review of randomized controlled trials". Acta Psychiatrica Scandinavica. 124 (2): 102–119. doi:10.1111/j.1600-0447.2011.01704.x. PMID 21534932.
  285. ↑ Baer RA, Smith GT, Hopkins J, Krietemeyer J, Toney L (Maret 2006). "Using self-report assessment methods to explore facets of mindfulness". Assessment. 13 (1): 27–45. doi:10.1177/1073191105283504. PMID 16443717.
  286. ↑ Baer, Ruth A.; Lykins, Emily L. B.; Peters, Jessica R. (1 Mei 2012). "Mindfulness and self-compassion as predictors of psychological wellbeing in long-term meditators and matched nonmeditators". The Journal of Positive Psychology. 7 (3): 230–238. doi:10.1080/17439760.2012.674548.
  287. ↑ Bergomi, Claudia; Tschacher, Wolfgang; Kupper, Zeno (1 Desember 2015). "Meditation Practice and Self-Reported Mindfulness: a Cross-Sectional Investigation of Meditators and Non-Meditators Using the Comprehensive Inventory of Mindfulness Experiences (CHIME)" (PDF). Mindfulness. 6 (6): 1411–1421. doi:10.1007/s12671-015-0415-6.
  288. ↑ Suelmann H, Brouwers A, Snippe E (1 Desember 2018). "Explaining Variations in Mindfulness Levels in Daily Life". Mindfulness. 9 (6): 1895–1906. doi:10.1007/s12671-018-0932-1. PMC 6244631. PMID 30524516.
  289. ↑ Gotink RA, Hermans KS, Geschwind N, De Nooij R, De Groot WT, Speckens AE (1 Desember 2016). "Mindfulness and mood stimulate each other in an upward spiral". Mindfulness. 7 (5): 1114–1122. doi:10.1007/s12671-016-0550-8. PMC 5010615. PMID 27642373.
  290. ↑ Shapiro SL, Carlson LE, Astin JA, Freedman B (Maret 2006). "Mechanisms of mindfulness". Journal of Clinical Psychology. 62 (3): 373–386. doi:10.1002/jclp.20237. PMID 16385481.
  291. ↑ Goyal M, Singh S, Sibinga EM, Gould NF, Rowland-Seymour A, Sharma R (Maret 2014). "Meditation programs for psychological stress and well-being: a systematic review and meta-analysis". JAMA Internal Medicine. 174 (3): 357–368. doi:10.1001/jamainternmed.2013.13018. PMC 4142584. PMID 24395196.
  292. ↑ "Does meditation carry a risk of harmful side effects?". nhs.uk. 26 Mei 2017. Diakses tanggal 7 Mei 2018.
  293. ↑ "Dangers of Meditation". Psychology Today. 2016. Diakses tanggal 7 Mei 2018.
  294. ↑ "Is Mindfulness Meditation Dangerous?". BBC Radio 4. Diakses tanggal 7 Mei 2018.
  295. ↑ "Meditation is touted as a cure for mental instability but can it actually be bad for you?". independent.co.uk. 2015. Diakses tanggal 8 Mei 2018.
  296. ↑ Chan-Ob, T; Boonyanaruthee, V (1999). "Meditation in association with psychosis". Journal of the Medical Association of Thailand. 82 (9): 925–30. ISSN 0125-2208. PMID 10561951.
  297. ↑ Farias, M.; Maraldi, E.; Wallenkampf, K. C.; Lucchetti, G. (2020). "Adverse events in meditation practices and meditation-based therapies: a systematic review". Acta Psychiatrica Scandinavica. 142 (5): 374–393. doi:10.1111/acps.13225. PMID 32820538.
  298. ↑ Goud, S. S. (2022). "A Double-Edged Sword: A Case Report of Psychosis Associated with Excessive Unguided Meditation". Case Reports in Psychiatry. 2022. doi:10.1155/2022/2661824. PMC 9617715. PMID 36316997.
  299. ↑ Yadav, J.; Bhardwaj, A.; Jangid, P. (2023). "Meditation: A Slippery Slope for Psychosis: A Case Series With Review of Evidence". The Journal of Nervous and Mental Disease. 211 (8): 634–638. doi:10.1097/NMD.0000000000001656. PMID 37505896.
  300. ↑ Farias, M; Wikholm, C (2016). "Has the science of mindfulness lost its mind?". BJPsych Bulletin. 40 (6): 329–332. doi:10.1192/pb.bp.116.053686. PMC 5353526. PMID 28377813.
  301. ↑ M. Farias dan C. Wikholm, The Buddha Pill: Can Meditation Change You?, 2019 ISBN9781780287188
  302. ↑ T. Joiner, Mindlessness: The Corruption of Mindfulness in a Culture of Narcissism, 2017 ISBN0190200626
  303. 1 2 3 Purser 2019a.
  304. ↑ Schlosser, Marco; Sparby, Terje; Vörös, Sebastjan (2019). "Unpleasant meditation-related experiences in regular meditators: Prevalence, predictors, and conceptual considerations". PLOS ONE. 14 (5). doi:10.1371/journal.pone.0216643. PMC 6508707. PMID 31071152.
  305. ↑ Britton, W. B.; Lindahl, J. R.; Cooper, D. J. (2021). "Defining and measuring meditation-related adverse effects in mindfulness-based programs". Clinical Psychological Science. 9 (6): 1185–1204. doi:10.1177/2167702621996340. PMC 8845498. PMID 35174010.
  306. ↑ Burgess, Diana J; Calvert, Collin; Bangerter, Ann (1 November 2024). "Do mindfulness interventions cause harm?". Pain Medicine. 25 (Supplement_1): S68–S76. doi:10.1093/pm/pnae056. PMC 11548848. PMID 39514882.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  307. ↑ Hirshberg, Matthew J.; Goldberg, Simon B.; Rosenkranz, Melissa; Davidson, Richard J. (April 2022). "Prevalence of harm in mindfulness-based stress reduction". Psychological Medicine. 52 (6): 1080–1088. doi:10.1017/S0033291720002834. PMC 7889774. PMID 32807249.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  308. ↑ Hadash, Yuval; Veksler, Tatyana; Dar, Omer (April 2024). "Peak experiences during insight mindfulness meditation retreats and their salutary and adverse impact". Journal of Consulting and Clinical Psychology. 92 (4): 213–225. doi:10.1037/ccp0000875. PMID 38573713.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  309. ↑ Vörös, Sebastjan (2016). "Sitting with the Demons: Mindfulness, Suffering, and Existential Transformation". Asian Studies. 4 (2): 59–83. doi:10.4312/as.2016.4.2.59-83. Diakses tanggal 31 Januari 2020.
  310. 1 2 3 Salguero, C. Pierce (2023). ""Meditation Sickness" in Medieval Chinese Buddhism and the Contemporary West" (PDF). Journal of Buddhist Ethics. 30 (2): 169–211. ISSN 1076-9005. Diakses tanggal 14 Februari 2024.
  311. 1 2 Shonin, Edo; Van Gordon, William; Griffiths, Mark D (Juli 2014). "Are there risks associated with using mindfulness in the treatment of psychopathology?". Clinical Practice. 11 (4): 389–392. doi:10.2217/cpr.14.23.
  312. 1 2 3 4 Compson, Jane (Oktober 2018). "Adverse Meditation Experiences: Navigating Buddhist and Secular Frameworks for Addressing Them". Mindfulness. 9 (5): 1358–1369. doi:10.1007/s12671-017-0878-8.
  313. 1 2 Anālayo, Bhikkhu (Januari 2019). "In the Seen Just the Seen: Mindfulness and the Construction of Experience". Mindfulness. 10 (1): 179–184. doi:10.1007/s12671-018-1042-9.
  314. ↑ Ruan, Hang; Pocock, Ian T.; Ruan, Howard (Maret 2023). ""You Just Have to Stick With the Practice": A Long-Term Weekly Mindfulness Group at the VA". Group. 47 (1–2): 91–114. doi:10.1353/grp.2023.0008. PMC 12311827. PMID 40746623.
  315. ↑ Kerr, Catherine E.; Josyula, Krishnapriya; Littenberg, Ronnie (Januari 2011). "Developing an observing attitude: an analysis of meditation diaries in an MBSR clinical trial". Clinical Psychology & Psychotherapy. 18 (1): 80–93. doi:10.1002/cpp.700. PMC 3032385. PMID 21226129.
  316. ↑ Goldberg, Simon B.; Lam, Sin U.; Britton, Willoughby B.; Davidson, Richard J. (3 April 2022). "Prevalence of meditation-related adverse effects in a population-based sample in the United States". Psychotherapy Research. 32 (3): 291–305. doi:10.1080/10503307.2021.1933646. PMC 8636531. PMID 34074221.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  317. ↑ Lomas, Tim; Cartwright, Tina; Edginton, Trudi; Ridge, Damien (Agustus 2015). "A Qualitative Analysis of Experiential Challenges Associated with Meditation Practice". Mindfulness. 6 (4): 848–860. doi:10.1007/s12671-014-0329-8.
  318. ↑ Tang YY, Hölzel BK, Posner MI (April 2015). "The neuroscience of mindfulness meditation". Nature Reviews. Neuroscience. 16 (4): 213–225. doi:10.1038/nrn3916. PMID 25783612.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  319. ↑ Chan EY (2019). "Mindfulness and willingness to try insects as food: The role of disgust". Food Quality and Preference. 71: 375–383. doi:10.1016/j.foodqual.2018.08.014.
  320. ↑ Chan EY, Wang Y (September 2019). "Mindfulness changes construal level: An experimental investigation". Journal of Experimental Psychology. General. 148 (9): 1656–1664. doi:10.1037/xge0000654. PMID 31355654.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  321. ↑ Wachs K, Cordova JV (Oktober 2007). "Mindful relating: exploring mindfulness and emotion repertoires in intimate relationships". Journal of Marital and Family Therapy. 33 (4): 464–481. doi:10.1111/j.1752-0606.2007.00032.x. PMID 17935530.
  322. ↑ McLean G, Lawrence M, Simpson R, Mercer SW (Mei 2017). "Mindfulness-based stress reduction in Parkinson's disease: a systematic review". BMC Neurology. 17 (1). doi:10.1186/s12883-017-0876-4. PMC 5433018. PMID 28506263.
  323. ↑ Lever Taylor B, Cavanagh K, Strauss C (2016). "The Effectiveness of Mindfulness-Based Interventions in the Perinatal Period: A Systematic Review and Meta-Analysis". PLOS ONE. 11 (5). doi:10.1371/journal.pone.0155720. PMC 4868288. PMID 27182732.
  324. ↑ Grossman P (April 2008). "On measuring mindfulness in psychosomatic and psychological research". Journal of Psychosomatic Research. 64 (4): 405–408. doi:10.1016/j.jpsychores.2008.02.001. PMID 18374739.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  325. ↑ Giesler, Markus; Veresiu, Ela (2014). "Creating the Responsible Consumer: Moralistic Governance Regimes and Consumer Subjectivity". Journal of Consumer Research. 41 (Oktober): 849–67. doi:10.1086/677842.
  326. ↑ Bond, Michael (13 September 2017). "Lost in meditation: Two books argue over mindfulness". New Scientist.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  327. ↑ Joiner, Thomas (2017). Mindlessness: The Corruption of Mindfulness in a Culture of Narcissism. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-020062-6.
  328. ↑ Shonin, Edo (27 Agustus 2015). Buddhist Foundations of Mindfulness (Edisi 1st). Springer. hlm. 90–94.

Sumber

Buddhis
  • Analayo, Bhikku (2003). Satipaṭṭhāna, the direct path to realization. Windhorse Publications.
  • Bhikkhu Bodhi. "The Noble Eightfold Path". Access to Insight. Diakses tanggal 16 Maret 2009.
  • Gunaratana, Bhante (2011). Mindfulness in plain English. Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-906-8.
  • PTS. "Sati". The Pali Text Society's Pali-English Dictionary. Digital Dictionaries of South Asia, University of Chicago. Diarsipkan dari asli tanggal 25 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Makalah penelitian
Bab buku
  • Germer CK (2005). "Mindfulness. What Is It? What does It Matter?". Dalam Germer CK, Siegel RD, Fulton PR (ed.). Mindfulness and Psychotherapy. Guilford Press.
  • Heyward, Carolyn (2025). "The History and Theoretical Framework of Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)". Dalam Wen Li, Wendy; Griffith, Gemma M.; Shapiro, Shauna (ed.). The Palgrave Handbook of Third-Wave Psychotherapies. Palgrave Macmillan.
  • Hick SF (2010). "Cultivating Therapeutic Relationships: The Role of Mindfulness". Dalam Hick SF, Bien T (ed.). Mindfulness and the Therapeutic Relationship. Guilford Press.
Buku ilmiah
  • Bazzano, Manu (2014). After Mindfulness: New Perspectives on Psychology and Meditation. Palgrave Macmillan.
  • Didonna, Fabrizio (2008). Clinical Handbook of Mindfulness. Springer Science & Business Media.
  • Gehart, Diane R. (2012). Mindfulness and Acceptance in Couple and Family Therapy. Springer Science & Business Media.
  • Harris, Mark W. (2009). The A to Z of Unitarian Universalism. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-0-8108-6333-0.
  • King, Richard (2001). Orientalism and Religion: Post-Colonial Theory, India and "The Mystic East". Taylor & Francis e-Library.
  • Kipf, David (1979). The Brahmo Samaj and the shaping of the modern Indian mind. Atlantic Publishers. ISBN 978-0-691-03125-5.
  • Kristeller JL (2007). "Mindfulness Meditation". Dalam Lehrer PM, Woolfolk RL, Sime WE (ed.). Principles and Practice of Stress Management (Edisi 3rd). Guilford Press.
  • Lee, Max J (2020). Moral Transformation in Greco-Roman Philosophy of Mind. Mohr Siebeck. ISBN 978-3-1614-9660-8.
  • Linehan, Marsha (1993). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
  • Marlatt GA, Kristeller J (1999). "Mindfulness and meditation". Dalam Miller WE (ed.). Integrating spirituality in treatment: Resources for practitioners. Washington, DC: American Psychological Association Books. hlm. 67–84.
  • McMahan, David L. (2008). The Making of Buddhist Modernism. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-518327-6.
  • Polak, Grzegorz (2011). Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology. UMCS.
  • Purser, Ronald (2019a). McMindfulness: How Mindfulness Became the New Capitalist Spirituality. Watkins Media Limited. ISBN 978-1-912248-49-0.
  • Repetti, Rick (2022). Routledge Handbook on the Philosophy of Meditation. Routledge. ISBN 978-1-0005-7574-3.
  • Williams, Mark; Teasdale, John; Segal, Zindel; Kabat-Zinn, Jon (2007). The Mindful Way Through Depression. Guilford Press.
  • Thompson, Evan (2020). Why I Am Not a Buddhist. Yale University Press. hlm. 120. ISBN 978-0-300-22655-3.
  • Vetter, Tilmann (1988). The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism. Brill.
  • Williams, Paul; Tribe, Anthony (2000). Buddhist Thought. Routledge.
  • Wilson, Jeff (2014). Mindful America: the Mutual Transformation of Buddhist Meditation and American Culture. Oxford University Press.
Populer
  • Ihnen, Anne; Flynn, Carolyn (2008). The Complete Idiot's Guide to Mindfulness. Penguin.
  • Kabat-Zinn, Jon (2011). Mindfulness for Beginners: Reclaiming the Present Moment and Your Life. Sounds True.
  • Kabat-Zinn, J. (2013). Full Catastrophe Living. New York: Bantam Dell. ISBN 978-0-345-53972-4.
  • Kabat-Zinn, Jon (2013a). Arriving at Your Own Door: 108 Lessons in Mindfulness. Hyperion. ISBN 978-1-306-75229-9.
Berita
Sumber web
  1. 1 2 3 4 5 6 "What Is Mindfulness?". The Greater Good Science Center. The Greater Good Science Center at the University of California, Berkeley. Diakses tanggal 24 April 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Purser, Ron; Loy, David (1 Juli 2013). "Beyond McMindfulness". HuffPost.
  3. 1 2 Caring-Lobel, Alex (2 Juli 2013). "Trike Contributing Editor David Loy takes on "McMindfulness"". Tricycle: The Buddhist Review.
  4. 1 2 3 4 "Thesaurus results for 'Mindfulness'". www.merriam-webster.com. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  5. ↑ "Component Selection for 'mindfulness'". dico.isc.cnrs.fr. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  6. 1 2 3 "I found great synonyms for "mindfulness" on the new Thesaurus.com!". www.thesaurus.com. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  7. 1 2 "Translator for the Buddha: An Interview with Bhikkhu Bodhi". www.inquiringmind.com. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  8. 1 2 3 "Geoffrey Samuel, Transcultural Psychiatry". Diarsipkan dari asli tanggal 1 November 2020. Diakses tanggal 30 April 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Young, Shinzen (April 2015). "See Hear Feel: An Introduction (Draft)" (PDF). 1.8.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 Kabat-Zinn, Jon. "Mindfulness Meditation (For Everyday Life)" (PDF).
  11. ↑ Finseth, Ian Frederick. "The Emergence of Transcendentalism". virginia.edu. The University of Virginia. Diarsipkan dari asli tanggal 6 November 2014. Diakses tanggal 9 November 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ "Stress Reduction Program". University of Massachusetts Worcester Campus Center for Mindfulness. Diarsipkan dari asli tanggal 14 April 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Drage, Matthew (22 Februari 2018). "A history of mindfulness". Wellcome Collection. Diakses tanggal 13 Desember 2019.
  14. ↑ Bernhard, Toni (6 Juni 2011). "6 Benefits of Practicing Mindfulness Outside of Meditation". Psychology Today.
  15. ↑ Ayya Khema. "All of Us". Access to Insight. Diakses tanggal 16 Maret 2009.
  16. ↑ Reginald A. Ray (2004). "Vipashyana". Buddhadharma: The Practitioner's Quarterly. Shambhala Sun Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Januari 2014. Diakses tanggal 30 Mei 2013.
  17. 1 2 Satyadarshin. "Friends of the Western Buddhist Order (FWBO): Buddhism and Mindfulness". madhyamavani.fwbo.org. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
  18. ↑ Komaroff, Anthony (31 Maret 2014). "Does "mindfulness meditation" really help relieve stress and anxiety?". Ask Doctor K. Harvard Health Publications. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Januari 2020. Diakses tanggal 22 April 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ "Body Scan Meditation (Greater Good in Action)". ggia.berkeley.edu.
  20. ↑ "History of MBSR". University of Massachusetts Medical School. 17 November 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ "What is Mindfulness-Based Stress Reduction?". Mindful Living Programs. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Juli 2006. Diakses tanggal 15 April 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Booth, Robert (7 Mei 2014). "Politicians joined by Ruby Wax as parliament pauses for meditation". The Guardian.
  23. ↑ Wang, Y.; Lei, S. M.; Fan, J. (2023). "Effects of Mindfulness-Based Interventions on Promoting Athletic Performance and Related Factors among Athletes". International Journal of Environmental Research and Public Health. 20 (3): 2038. doi:10.3390/ijerph20032038. PMC 9915077. PMID 36767403.
  24. 1 2 3 Safran, Jeremy D. (13 Juni 2014). "McMindfulness". www.psychologytoday.com. Diakses tanggal 2 April 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Purser, Ronald (14 Juni 2019). "The mindfulness conspiracy". The Guardian. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  26. Farias, Miguel (5 Juni 2015). "Mindfulness Has Lost Its Buddhist Roots, and it may not be doing you good". The Conversation. Diakses tanggal 5 Februari 2020.

Bacaan lebih lanjut

  • Braun, Erik (2016). The Birth of Insight. Meditation, Modern Buddhism, and the Burmese Monk Ledi Sayadaw. The University of Chicago Press.
  • Brahm, Ajahn (2005). Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator's Handbook. Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-275-5.
  • Gunaratana, Bhante Henepola (2002). Mindfulness in Plain English. Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-906-8.
  • Nyanaponika (1962). The Heart of Buddhist Meditation: Satipaṭṭhāna. Buddhist Publication Society.
  • Hart, William (2011). The Art of Living: Vipassana Meditation As Taught by S.N. Goenka. Pariyatti.
  • Hanh, Thich Nhat (1996). The Miracle of Mindfulness: A Manual on Meditation. Beacon Press.
  • Germer, Christopher K.; Siegel, Ronald; Fulton, Paul R. (2005). Mindfulness and Psychotherapy. The Guilford Press. ISBN 1-59385-139-1.
  • Segal ZV, Williams JM, Teasdale JD (2012). Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Depression (Edisi 2nd). Guilford Press. ISBN 978-1-4625-0750-4.
  • Carrette, Jeremy R.; King, Richard (2005). Selling Spirituality: The Silent Takeover of Religion. Psychology Press.
  • Wallis, Glenn (2018). A Critique of Western Buddhism: Ruins of the Buddhist Real. Bloomsbury Academic.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan