| Adipati Pakualaman | |
|---|---|
| ꦲꦢꦶꦥꦠꦶꦦꦏꦸꦄꦭꦩ꧀ꦩꦤ꧀ | |
| Sedang berkuasa | |
| Paku Alam X sejak 7 Januari 2016 | |
| Adipati Pakualaman | |
| Perincian | |
| Sapaan resmi | Sri Paduka |
| Pewaris | Bendara Pangeran Harya Kusumo Bimantoro |
| Penguasa pertama | Paku Alam I |
| Pembentukan | 1813 |
| Kediaman | Pura Pakualaman |
| Penunjuk | Hereditas |
Paku Alam adalah gelar bagi Adipati Pakualaman. Nama ini pertama kali disandang Pangeran Harya Natakusuma, adik tiri Hamengkubuwana II, ketika dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman dengan gelar Paku Alam I oleh Pemerintah Hindia Inggris pada 29 Juni 1813. Sebelumnya, yaitu pada 17 Maret 1813, kedua pihak sepakat untuk mendirikan suatu pemerintahan baru di Yogyakarta yang bernama Kadipaten Pakualaman. Pemerintahan ini menduduki sebagian wilayah Yogyakarta yang diserahkan Hamengkubuwana II kepada Natakusuma. Hamengkubuwana II sendiri digulingkan oleh Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Hindia Inggris waktu itu) dalam Geger Sepehi.[1]
Sejarah
Latar belakang
Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah kadipaten yang berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta sebagai hasil dinamika politik pada awal abad ke-19. Pembentukannya tidak terlepas dari konflik internal di lingkungan Keraton Yogyakarta serta campur tangan pemerintah kolonial Eropa.[2]
Pembentukan Pakualaman (1812–1813)
Kadipaten Pakualaman didirikan pada tahun 1812–1813 sebagai bagian dari konsekuensi politik setelah peristiwa Geger Sepehi, yaitu penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris.[3]
Sebagai hasil perjanjian dengan pemerintah Inggris, Pangeran Notokusumo diangkat menjadi penguasa dengan gelar Paku Alam I. Pembentukan ini merupakan bagian dari kontrak politik antara pemerintah Britania Raya dan pihak keraton, yang sekaligus menjadikan Pakualaman sebagai pecahan dari Kesultanan Yogyakarta.[4]
Dengan berdirinya Pakualaman, struktur kekuasaan warisan Mataram Islam semakin terfragmentasi menjadi beberapa entitas politik di Jawa.[5]
Masa pemerintahan kolonial
Pada masa pemerintahan kolonial, Pakualaman berstatus sebagai daerah semi-otonom di bawah pengaruh pemerintah kolonial, сначала Inggris dan kemudian Belanda. Kedudukannya mirip dengan Praja Mangkunegaran di Surakarta.[6]
Para adipati Pakualaman tetap menjalankan fungsi administratif lokal serta menjaga stabilitas politik di wilayah Yogyakarta di bawah pengawasan kolonial.[7]
Masa pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), struktur pemerintahan tradisional termasuk Pakualaman tetap dipertahankan, namun berada di bawah kontrol militer Jepang. Status kadipaten tetap ada, tetapi kekuasaan politiknya terbatas.[8]
Peran dalam kemerdekaan Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Adipati Pakualaman saat itu, yaitu Paku Alam VIII, menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia. Bersama Sri Sultan Hamengkubuwana IX, ia berperan penting dalam integrasi wilayah Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.[9]
Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah Indonesia menetapkan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sistem pemerintahan khusus.[10]
Era Daerah Istimewa Yogyakarta
Dalam sistem pemerintahan modern, Adipati Pakualaman menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta secara turun-temurun, berdampingan dengan Sultan Yogyakarta sebagai Gubernur.[11]
Perkembangan kontemporer
Hingga saat ini, Kadipaten Pakualaman tetap eksis sebagai institusi budaya dan pemerintahan simbolik yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun dari Paku Alam I hingga Paku Alam X.[12]
Daftar
| Nama |
Jangka hidup |
Awal memerintah |
Akhir memerintah |
Keterangan |
Keluarga |
Gambar |
| Paku Alam I Pangeran Harya Natakusuma |
(1764-03-21)21 Maret 1764 – 4 Oktober 1829(1829-10-04) (umur 65) | 1813 | 1829 | Anak dari Hamengkubuwono I | ||
| Paku Alam II Raden Tumenggung Natadiningrat |
(1786-06-25)25 Juni 1786 – ? | 1829 | 1858 | Anak dari Paku Alam I | ||
| Paku Alam III Pangeran Harya Sasraningrat |
(1827-12-20)20 Desember 1827 – 17 Oktober 1864(1864-10-17) (umur 36) | 1858 | 1864 | Anak dari Paku Alam II | ||
| Paku Alam IV Raden Mas Nataningrat |
(1841-10-25)25 Oktober 1841 – ? | 1864 | 1878 | Keponakan dari Paku Alam III | ||
| Paku Alam V Pangeran Harya Suryadilaga |
(1833-06-23)23 Juni 1833 – ? | 1878 | 1900 | Anak dari Paku Alam II | ||
| Paku Alam VI Pangeran Ario Notokusumo |
(1856-04-09)9 April 1856 – ? | 1900 | 1902 | Anak dari Paku Alam V | ||
| Dewan Perwalian Pakualaman | 1902 | 1906 | ||||
| Paku Alam VII Raden Mas Haryo Surarjo |
(1882-12-09)9 Desember 1882 – 16 Desember 1937(1937-12-16) (umur 55) | 1906 | 1937 | Anak dari Paku Alam VI | ||
| Paku Alam VIII Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno |
(1910-04-10)10 April 1910 – 11 September 1998(1998-09-11) (umur 88) | 1937 | 1998 | Anak dari Paku Alam VII | ||
| Paku Alam IX Raden Mas Haryo Ambarkusumo |
(1938-05-07)7 Mei 1938 - 21 November 2015(2015-11-21) (umur 77) | 1998 | 2015 | Anak dari Paku Alam VIII | ||
| Paku Alam X Raden Mas Wijoseno Hario Bimo |
15 Desember 1962 (umur 63) | 2016 | masih menjabat | Anak dari Paku Alam IX |
Garis waktu

Referensi
- ↑ Raditya, Iswara Noor (2017-11-21). Sugito, Zen Rahmat (ed.). "Dua Episode Perebutan Takhta Pakualaman". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-19.
- ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Geger Sepehi 1812: Latar Belakang, Kronologi, dan Dampak". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
- ↑ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
Lihat pula
- Dewan Perwalian Pakualaman
- Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
- Amangkurat
- Pakubuwana
- Hamengkubuwana
- Mangkunagara
- Vorstenlanden