Sabtu, 03 Oktober 2026
02:12 WIB
TERKINI
Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri
Paku Alam

Paku Alam

penguasa Kadipaten Pakualaman

Bagikan:
Adipati Pakualaman
ꦲꦢꦶꦥꦠꦶꦦꦏꦸꦄꦭꦩ꧀ꦩꦤ꧀
120px-Emblem_of_Pakualaman.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sedang berkuasa
250px-Wakil_Gubernur_Yogyakarta%2C_Paku_Alam_X_%282020%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Paku Alam X
sejak 7 Januari 2016
Adipati Pakualaman
Perincian
Sapaan resmiSri Paduka
PewarisBendara Pangeran Harya Kusumo Bimantoro
Penguasa pertamaPaku Alam I
Pembentukan1813
KediamanPura Pakualaman
PenunjukHereditas

Paku Alam adalah gelar bagi Adipati Pakualaman. Nama ini pertama kali disandang Pangeran Harya Natakusuma, adik tiri Hamengkubuwana II, ketika dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman dengan gelar Paku Alam I oleh Pemerintah Hindia Inggris pada 29 Juni 1813. Sebelumnya, yaitu pada 17 Maret 1813, kedua pihak sepakat untuk mendirikan suatu pemerintahan baru di Yogyakarta yang bernama Kadipaten Pakualaman. Pemerintahan ini menduduki sebagian wilayah Yogyakarta yang diserahkan Hamengkubuwana II kepada Natakusuma. Hamengkubuwana II sendiri digulingkan oleh Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Hindia Inggris waktu itu) dalam Geger Sepehi.[1]

Sejarah

Latar belakang

Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah kadipaten yang berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta sebagai hasil dinamika politik pada awal abad ke-19. Pembentukannya tidak terlepas dari konflik internal di lingkungan Keraton Yogyakarta serta campur tangan pemerintah kolonial Eropa.[2]

Pembentukan Pakualaman (1812–1813)

Kadipaten Pakualaman didirikan pada tahun 1812–1813 sebagai bagian dari konsekuensi politik setelah peristiwa Geger Sepehi, yaitu penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris.[3]

Sebagai hasil perjanjian dengan pemerintah Inggris, Pangeran Notokusumo diangkat menjadi penguasa dengan gelar Paku Alam I. Pembentukan ini merupakan bagian dari kontrak politik antara pemerintah Britania Raya dan pihak keraton, yang sekaligus menjadikan Pakualaman sebagai pecahan dari Kesultanan Yogyakarta.[4]

Dengan berdirinya Pakualaman, struktur kekuasaan warisan Mataram Islam semakin terfragmentasi menjadi beberapa entitas politik di Jawa.[5]

Masa pemerintahan kolonial

Pada masa pemerintahan kolonial, Pakualaman berstatus sebagai daerah semi-otonom di bawah pengaruh pemerintah kolonial, сначала Inggris dan kemudian Belanda. Kedudukannya mirip dengan Praja Mangkunegaran di Surakarta.[6]

Para adipati Pakualaman tetap menjalankan fungsi administratif lokal serta menjaga stabilitas politik di wilayah Yogyakarta di bawah pengawasan kolonial.[7]

Masa pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), struktur pemerintahan tradisional termasuk Pakualaman tetap dipertahankan, namun berada di bawah kontrol militer Jepang. Status kadipaten tetap ada, tetapi kekuasaan politiknya terbatas.[8]

Peran dalam kemerdekaan Indonesia

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Adipati Pakualaman saat itu, yaitu Paku Alam VIII, menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia. Bersama Sri Sultan Hamengkubuwana IX, ia berperan penting dalam integrasi wilayah Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.[9]

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah Indonesia menetapkan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sistem pemerintahan khusus.[10]

Era Daerah Istimewa Yogyakarta

Dalam sistem pemerintahan modern, Adipati Pakualaman menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta secara turun-temurun, berdampingan dengan Sultan Yogyakarta sebagai Gubernur.[11]

Perkembangan kontemporer

Hingga saat ini, Kadipaten Pakualaman tetap eksis sebagai institusi budaya dan pemerintahan simbolik yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun dari Paku Alam I hingga Paku Alam X.[12]

Daftar

Nama
Jangka hidup
Awal memerintah
Akhir memerintah
Keterangan
Keluarga
Gambar
Paku Alam I
Pangeran Harya Natakusuma
(1764-03-21)21 Maret 1764 – 4 Oktober 1829(1829-10-04) (umur 65) 1813 1829 Anak dari Hamengkubuwono I
Paku Alam II
Raden Tumenggung Natadiningrat
(1786-06-25)25 Juni 1786 – ? 1829 1858 Anak dari Paku Alam I
Paku Alam III
Pangeran Harya Sasraningrat
(1827-12-20)20 Desember 1827 – 17 Oktober 1864(1864-10-17) (umur 36) 1858 1864 Anak dari Paku Alam II
Paku Alam IV
Raden Mas Nataningrat
(1841-10-25)25 Oktober 1841 – ? 1864 1878 Keponakan dari Paku Alam III
Paku Alam V
Pangeran Harya Suryadilaga
(1833-06-23)23 Juni 1833 – ? 1878 1900 Anak dari Paku Alam II
Paku Alam VI
Pangeran Ario Notokusumo
(1856-04-09)9 April 1856 – ? 1900 1902 Anak dari Paku Alam V
Dewan Perwalian Pakualaman 1902 1906
Paku Alam VII
Raden Mas Haryo Surarjo
(1882-12-09)9 Desember 1882 – 16 Desember 1937(1937-12-16) (umur 55) 1906 1937 Anak dari Paku Alam VI
Paku Alam VIII
Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno
(1910-04-10)10 April 1910 – 11 September 1998(1998-09-11) (umur 88) 1937 1998 Anak dari Paku Alam VII
Paku Alam IX
Raden Mas Haryo Ambarkusumo
(1938-05-07)7 Mei 1938 - 21 November 2015(2015-11-21) (umur 77) 1998 2015 Anak dari Paku Alam VIII
Paku Alam X
Raden Mas Wijoseno Hario Bimo
15 Desember 1962 (umur 63) 2016 masih menjabat Anak dari Paku Alam IX

Garis waktu

0u5phjimjtj5uk218hwsbgun3fvoi56.png

Referensi

  1. ↑ Raditya, Iswara Noor (2017-11-21). Sugito, Zen Rahmat (ed.). "Dua Episode Perebutan Takhta Pakualaman". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-19.
  2. ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  3. ↑ "Geger Sepehi 1812: Latar Belakang, Kronologi, dan Dampak". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  4. ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  5. ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  6. ↑ "Pakualaman: Sejarah Berdirinya, Raja-raja, dan Pemerintahan". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  7. ↑ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.
  8. ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
  9. ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
  10. ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
  11. ↑ "Pakualaman". Wikipedia. Diakses tanggal 2026-03-30.
  12. ↑ "Daftar Adipati Pakualaman". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-03-30.

Lihat pula

Gubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam X
Arsitektur bersejarah
120px-Coat_of_arms_of_Yogyakarta.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Candi
Monumen dan museum
Transportasi
Objek wisata alam
Tempat ibadah
Wisata belanja, hiburan,
hotel, dan kuliner
Pendidikan
Olahraga
Militer dan kepolisian
Kebudayaan
Makanan dan minuman
tradisional khas Yogyakarta
Festival dan pesta rakyat
Media
Topik lainnya
Lihat pula: Kategori
Proyek  · Portal
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan