Sabtu, 24 Oktober 2026
20:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Suku Pamona

Suku Pamona

kelompok etnik dari Sulawesi Tengah, Indonesia

Bagikan:
Pamona
To Pamona, Poso, Bare'e
250px-To_Pamona_Bridewealth_exchange.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertukaran kain katun (maskawin) di sebuah pernikahan To Pamona pada tahun 1991.
Jumlah populasi
167.000[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Indonesia
Bahasa
Pamona, Indonesia
Agama
Kristen Protestan (mayoritas), agama rakyat
Kelompok etnik terkait
Tau Taa Wana, Toraja, Poso Pesisir

Pamona (sering kali disebut sebagai To Pobare'e/Orang Berbahasa Bare'e atau To Poso/Orang Poso).[2] Suku Pamona mendiami hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Tojo Una-Una, dan sebagian Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah; bahkan ada juga beberapa yang tinggal di Kabupaten Luwu Timur di Sulawesi Selatan, dan sebagian kecil yang tersisa hidup di bagian lain di Indonesia.

Jika terdapat suku Pamona di wilayah tertentu, maka merupakan hal yang umum jika Rukun Poso (asosiasi komunitas orang Poso) dibentuk disana, yang berfungsi sebagai sarana sekelompok orang dari latar belakang etnis yang umum untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di kawasan ini.

Hampir seluruh orang Pamona memeluk agama Kristen. Kristen masuk ke wilayah Poso tahun 1892 (2026 adalah tahun ke-134) dan hingga saat ini diterima secara umum sebagai agama rakyat. Hingga hari ini, semua gereja dengan denominasi yang umum dikelompokkan ke dalam Gereja Kristen Sulawesi Tengah yang bermarkas di kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.[3] Hampir semua orang menggunakan bahasa Pamona dan bahasa Indonesia yang dicampurkan dengan kalimat slang lokal. Pekerjaan orang suku Pamona biasanya sebagai petani, pendeta, pastor, wirausahawan, pejabat pemerintahan, dan sebagainya.

Sejarah

Wilayah dataran tinggi di sekeliling Danau Poso merupakan rumah bagi tujuh subsuku dengan hubungan kekerabatan dekat, yang menurut legenda adalah keturunan dari enam saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Legenda tersebut menjelaskan bahwa setelah mereka menggulingkan penindas mereka, ketujuh saudara tersebut memutuskan untuk berpisah dan membentuk komunitasnya sendiri. Untuk mengenang kejadian ini, mereka membuat tujuh "batu pemisahan" (bahasa Pamona:Watu Mpoga'a) yang masih dapat ditemukan saat ini di Tentena.[4]

Lembaga adat Pamona

Nama Pamona juga merujuk kepada persatuan dari beberapa etnis, yang merupakan singkatan dari Pakaroso Mosintuwu Naka Molanto (Pamona).[5] Secara historis, adat Pamona yang dilembagakan sebelumnya dibagi dengan beberapa otoritas. Untuk Poso, dipimpin oleh Datu Poso dan beberapa kabosenya (tetua) yang merepresentasikan kelompok suku mereka masing-masing.[6] Di Luwu, dipimpin oleh Makole Tawi dan keberadaan institusi adat Pamona saat ini terbagi menjadi dua lembaga. Di Poso, dinamakan Majelis Adat Pamona Poso, sedangkan di Tanah Luwu (Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara) disebut Lembaga Adat Pamona Luwu. Saat ini, keberadaan dari beberapa lembaga ini masih dijaga oleh komunitas Pamona yang berada di Mangkutana (Luwu Timur) dan Masamba (Luwu Utara), maupun orang-orang yang berada di Poso.

Bahasa

Artikel utama: Bahasa Pamona
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Twee_meisjes_uit_Poso_in_feestkleding_TMnr_10005915.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua gadis mengenakan pakaian adat Poso, Sulawesi, ca 1920–1930.

Bahasa yang digunakan oleh suku Pamona adalah bahasa Pamona. Struktur bahasa Pamona termasuk unik dalam hal suku kata dari akar kata, dimana akar kata mungkin memiliki arti yang berbeda ketika awalan, akhiran, sisipan atau imbuhan ditambahkan. Contoh dari akar kata yang telah berubah setelah awalan, akhiran atau imbuhan ditambahkan dan membentuk arti yang berbeda untuk itu, seperti:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Ja'a Jahat Evil, Bad
Awalan

Maja'a
Kaja'a

Rusak, Jahat
Kejahatan

Spoilt, Damage
Crime, Wickedness

Akhiran

Ja'andaya
Ja'anya
Ja'asa
Ja'ati

Kemarahan
Kerugiannya, sayangnya
Alangkah jahatnya
Dirusaki

Anger
Loss
How wicked is that
Tempered, Damaged

Imbuhan Kakaja'ati Sayang (untuk barang yang rusak) How wasted, What a waste
Sisipan Ja'a-ja'a Buruk Bad, Not good

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Monco Benar True
Imbuhan Kamonconya Sesungguhnya, Sebenarnya Indeed, Actually
Akhiran

Moncoro
Moncou

Bersiaga
Terayun

Alert
Swung

Sisipan Monco-monco Sungguh-sungguh Earnest

Ada juga beberapa kata-kata akar yang diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif (seperti contoh sebelumnya yang merupakan bagian dari kata-kata inventif namun tidak diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif) dengan hanya perubahan posisi abjad, sehingga menciptakan makna lain. Sebagai contoh:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Soe Ayun Swing
Soa Kosong Empty
Sue Mencontoh Imitate
Sia Sobek Torn
Sou, Sau Turunkan Lower down
Sua Masuk Enter
Sai Kais As in a chicken digging the ground with its claws
Seo Sobek (karena lapuk) Worn out

Bahasa Pamona termasuk unik karena memiliki banyak fase suku kata yang bisa diputar untuk membentuk arti yang berbeda, misalnya:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Mekaju Mencari kayu bakar Finding firewood
Mokuja Sedang berbuat apa? What are you doing?
Makuja Bertanya mengenai jenis kelamin bayi yang baru lahir Inquiring the gender of a newborn baby
Makijo Bunyi teriakan riuh sebangsa monyet Sound of a primate shouting
Mokeju Bersanggama Copulate

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Koyo Usung Stretcher
Kuya Jahe Ginger
Kayu Usungan yang terbuat dari pelepah rumbia A sort of stretcher made of sago palm leaves
Koyu Simpul tali berkali-kali pada suatu rentang tali Weaving of knots into a form of a rope
Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Lio Wajah Face
Lou Ayun badan kebawah Swinging downwards
Lau Berada di tempat yang lebih rendah Located at lower lands
Lua Muntah Vomit
Loe Jinjing Tote
Liu Lewat Late

Kebudayaan

Artikel utama: Budaya Pamona
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Avondmaalviering_te_Poso_Sulawesi_TMnr_10000743.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perayaan Ekaristi di Poso, Sulawesi Tengah, 1937.

Musik

Secara tradisional, suku Pamona memiliki gaya musik dalam bentuk kata yang diucapkan. Salah satu contoh dari gaya musik yang sering dinyanyikan di antara rakyat desa pada tahun 1940-an:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris

Ee nona ee nona iwenu pai nu kabaga?
Pai ku kabaga, bonce be manana,

Ee bonce, ee bonce, iwenu pai be manana?
Pai be manana, kaju wota-wota,

Ee kaju, ee kaju, iwenu pai nu ka wota?
Pai ku ka wota, na tudusi uja,

Ee uja, ee uja, iwenu pai nu katudu?
Pai ku katudu, da napandiu ntumpa,

Ee tumpa, ee tumpa, iwenu pai nu pandiu?
Pai ku pandiu, da natungku ule,

Ee ule, ee ule, iwenu pai nu patungku?
Pai ku patungku, kina'a ntu'aku,

Eh nona, mengapa perutmu buncit?
Perutku buncit karena makan bubur yang tidak matang,

Eh bubur, mengapa engkau tidak matang?
Karena (dimasak dengan) kayu bakar basah,

Eh kayu, mengapa engkau (kayu bakar) basah?
Aku (kayu bakar) basah karena hujan turun,

Eh hujan, mengapa engkau turun?
Aku (hujan) turun karena akan dipakai kodok untuk mandi,

Eh kodok, mengapa engkau mandi (air hujan)?
Aku (kodok) mandi, karena aku akan di santap ular,

Eh ular, mengapa engkau (hendak) menyantap si kodok?
Aku (ular) akan menyantap kodok, (karena) makanan moyangku,

Eh lady, eh lady, why is your stomach distended?
My stomach is distended because I ate uncooked porridge,

Eh porridge, eh porridge, why are you uncooked?
I'm uncooked because I was cooked with wet firewood,

Eh wood, eh wood, why are you wet?
I'm wet because of the rain,

Eh rain, eh rain, why did you rained down?
I rained down because the frog wants to bathe,

Eh frog, eh frog, why do you want to bathe?
I wanted to bathe because the snake is going to eat me,

Eh snake, eh snake, why do you want to eat the frog?
I want to eat the frog because that is the food of my ancestors,

Tarian

Tarian Dero, atau madero merupakan tarian populer di kalangan Suku Pamona. Tarian ini diadakan pada pesta-pesta rakyat. Biasanya dilakukan oleh orang-orang muda. Tarian melingkar dilakukan dengan saling bergandengan tangan, sambil berbalas pantun diringi musik ceria. Beberapa daerah di Palu melarang kegiatan Tarian Dero atau madero karena sering menjadi pemicu perkelahian antar pemuda yang saling berebut perhatian gadis-gadis.

Tarian Dero juga berfungsi sebagai sarana hubungan sepasang kekasih di depan umum, kecuali untuk tari Raego yang agak kental dengan budaya dan tidak terkait dengan hubungan sepasang kekasih.

Sosial

250px-Swidden_landscape_%28with_swidden_houses%29%2C_Poso_area_%281905%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembukaan lahan sekitar tahun 1905

Orang-orang Pamona hidup dalam permukiman memanjang yang tersebar di puncak bukit sepanjang lembah Sungai Poso yang dibentengi dari serangan musuh. Kehidupan sehari-hari dijalani dengan cara kepemimpinan bersama melalui konsensus yang mengizinkan Kabosenya—seorang pemimpin suku atau komunitas, bertindak sebagai wakil untuk bernegosiasi dengan komunitas lain, memimpin perang antarsuku, ekspedisi berburu kepala dan penangkapan budak, mengatur perayaan suku, dan kegiatan lainnya. Unjuk hegemoni seperti perebutan wilayah, perburuan budak dan kulit kepala, persaingan dagang dan sejenisnya memicu rivalitas dan semakin memperlebar jarak antarsuku yang terlibat. Permukiman di puncak bukit pun semakin sukar untuk diserang karena dibentengi dengan kuat.[4]

Sistem pertanian yang dilakukan orang-orang Pamona pada masa lampau adalah perladangan berpindah. Beras dan jagung adalah tanaman produksi utama dalam sistem ini dan para petani Pamona biasanya memperdagangkan hasil hutan seperti damar kepada para pedagang Tionghoa atau Muslim di pesisir pantai. Hasil dagang digunakan untuk memperoleh pakaian, gula, perhiasan, senjata, dan barang lainnya. Pakaian adalah barang yang umumnya dijadikan saran tukar-menukar antarsuku.[4]

Marga

Marga Pamona terdiri dari:-

  • Angka
  • Awundapu
  • Awusi
  • Banumbu
  • Bali'e
  • Balidjandji
  • Baloga
  • Belala
  • Betalino
  • Beto
  • Botilangi
  • Bulinde
  • Bungkundapu
  • Bungu
  • Buntinge
  • Bakumawa
  • Dese
  • Dike
  • Dongalemba
  • Gaibu
  • Gilirante
  • Gimbaro
  • Gugu
  • Gundo
  • Kaluti
  • Kampindo
  • Kambodji
  • Kalembiro
  • Kalengke
  • Kalingani
  • Karape
  • Karebungu
  • Kayori
  • Kayupa
  • Kewalaki
  • Koedio
  • Kogege
  • Kolombuto
  • Kolobinti
  • Kuko
  • Lakiu
  • Langgari
  • Ladjamba
  • Lambangasi
  • Labiro
  • Liante
  • Lidongi
  • Lu'o
  • Lumaya
  • Lundara
  • Lolongudju
  • Magido
  • Manganti
  • Mangedo
  • Meringgi
  • Metungku
  • Mogadi
  • Mossepe
  • Mowose
  • Monepa
  • Monipo
  • Ndese
  • Ntore
  • Nyolo-nyolo
  • Nggau
  • Nggo'u
  • Nua
  • Nyaua
  • Pakuli
  • Palaburu
  • Parimo
  • Pariu
  • Paroda
  • Pasunu
  • Patara
  • Pebadja
  • Penina
  • Pekita
  • Penyami
  • Pesudo
  • Poa
  • Poai
  • Pombaela
  • Pobonde
  • Podala
  • Pasepe
  • Polempe
  • Purasongka
  • Rangga
  • Ratengku
  • Pusuloka
  • Rampalino
  • Rampalodji
  • Rantelangi
  • Rare'a
  • Rontja
  • Ruagadi
  • Rubo
  • Rumbani
  • Ruutana
  • Santule
  • Satigi
  • Santjuu
  • Sawiri
  • Sigilipu
  • Sipatu
  • So'e
  • Sowolino
  • Tabanci
  • Tadanugi
  • Tadalangi
  • Tadale
  • Tadadja
  • Tadjaji
  • Tadjio
  • Taiso
  • Talasa
  • Tambo'eo
  • Tandawuya
  • Tarante
  • Tara'u
  • Tasiabe
  • Tawuku
  • Tawurisi
  • Tekora
  • Tepara
  • Tiladuru
  • Tolala
  • Tobondo
  • Tobogu
  • Tolimba
  • Torau
  • Toumbo
  • Tumonggi
  • Turuka
  • Taduga
  • Ule
  • Ululai
  • Warara
  • Wenali
  • Werokila
  • Wuri
  • Wutabisu

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ "Pamona, Poso in Indonesia". Joshua Project. Diakses tanggal 2014-11-05.
  2. ↑ Alb. C. Kruyt (1916). Wawo nTana.
  3. ↑ Albert Schrauwers (2000). Colonial "Reformation" In The Highlands of Central Sulawesi, Indonesia, 1892–1995. University of Toronto Press. ISBN 978-0-8020-8303-6.
  4. 1 2 3 Gobée 2007, hlm. 3. sfn error: tanpa target: CITEREFGobée2007 (bantuan)
  5. ↑ "Pamona Tribe". Modero Dance Company. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-11-11. Diakses tanggal 2014-11-11.
  6. ↑ Hasan (2004). Sejarah Poso. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Poso & Penerbit Tiara Wacana Yogya. ISBN 979-9340-50-0.

Daftar pustaka

Sumber

Suku bangsa di Sumatra
Batak
Melayu
Minangkabau
Melayu Bukit Barisan Selatan
Melayu Aborigin
Lampung
Kepulauan Barat Sumatera
Lain-lain
Tionghoa
Suku bangsa di Jawa

Baduy • Banten • Bawean • Betawi • Ciptagelar • Cirebon • Indo • Jawa • Kalang • Kangean • Madura • Melayu • Osing • Peranakan • Sunda • Tengger

Abui • Adang • Adonara • Alor • Amarasi • Anakalangu • Atoni • Bali • Bilba • Bima • Blagar • Boti • Bunak • Dela-Oenale • Dengka • Dhao • Ende • Hamap • Helong • Ile Ape • Kabola • Kafoa • Kamang • Kambera • Kedang • Kelon • Kemak • Ke'o • Kepo' • Kodi • Komodo • Kui • Kula • Lamaholot • Lamalera • Lamatuka • Lamboya • Lamma • Laura • Lembata Barat • Lembata Selatan • Levuka • Lewo Eleng • Lewotobi • Lio • Lole • Melayu Loloan • Kupang • Larantuka • Mamboru • Manggarai • Nage • Nedebang • Ngada • Ngada Timur • Palue • Rajong • Rembong • Retta • Ringgou • Riung • Rongga • Sabu • Sasak • Sawila • Sika • So'a • Sumba • Sumbawa • Tambora • Tereweng • Termanu • Tetun • Tewa • Tii • Uab Meto • Wae Rana • Wanukaka • Wejewa • Wersing

Suku bangsa di Kalimantan *

Abal • Agabag • Ampanang • Aoheng • Bahau • Bakati' • Bekati' Rara • Bekati' Sara • Bakumpai • Banjar • Basap • Bawo • Benyadu' • Bentian • Benuaq • Berau • Bidayuh (Biatah • Bukar-Sadong) • Bolongan • Bukit (Pitap) • Bukitan • Burusu • Dayak • Dusun (Deyah • Malang • Witu) • Embaloh • Iban (Mualang • Seberuang) • Jangkang • Kanayatn • Kayan (Busang • Mahakam • Sungai Kayan • Mendalam • Wahau) • Kebahan • Kelabit • Kembayan • Keninjal • Kenyah (Kelinyau • Wahau • Lebu' Kulit) • Kohin • Krio • Kutai (Kota Bangun • Tenggarong) • Lawangan • Lengilu • Lun Bawang • Ma'anyan • Mali • Mayau • Melayu • Modang • Ngaju (Barangas • Katingan) • Okolod • Ot Danum (Limbai) • Paku • Pasir • Pesaguan • Punan (Aput • Bukat • Hovongan • Kereho • Merah • Merap • Tubu) • Putoh • Ribun • Sa'ban • Sambas • Sanjau Basap • Sanggau • Segai • Selungai Murut • Semandang • Sembakung Murut • Siang Murung • Tagal Murut • Taman • Tausug • Tawoyan • Tidung • Tunjung • Uma' Lasan • Uma' Lung • Wehea

Suku bangsa di Sulawesi

Andio • Aralle-Tabulahan • Bada • Bahonsuai • Bajau • Balaesang • Balantak • Bambam • Banggai • Bantik • Baras • Batui • Behoa • Bentong • Bintauna • Boano • Bobongko • Bolango • Bonerate • Budong-Budong • Bugis • Bungku • Buol • Busoa • Buton (Ciacia • Kulisusu • Lasalimu • Wolio) • Campalagian • Dakka • Dampelas • Dondo • Duri • Enrekang • Gorontalo • Kaidipang • Kaili (Kaili Da'a • Kaili Ledo • Kaili Unde) • Kaimbulawa • Kalao • Kalumpang • Kamaru • Kioko • Kodeoha • Konjo Pegunungan • Konjo Pesisir • Koroni • Kumbewaha • Laiyolo • Lauje • Lemolang • Liabuku • Lindu • Lolak • Luwu • Maiwa • Makassar • Manado • Malimpung • Mamasa • Mamuju • Mandar • Melayu • Minahasa • Moma • Mongondow • Mori (Mori Atas • Mori Bawah) • Moronene • Muna • Napu • Onda'e • Padoe • Pamona • Panasuan • Pancana • Pannei • Pebato • Pendau • Polahi • Ponosakan • Rahambuu • Rampi • Ratahan • Saluan • Sangir • Sarudu • Sedoa • Seko Padang • Seko Tengah • Selayar • Suwawa • Taje • Tajio • Talaud • Taloki • Talondo' • Toala' • Tolaki • Tomadino • Tombelala • Tombulu • Tomini • Tondano • Tonsawang • Tonsea • Tontemboan • Topoiyo • Toraja • Totoli • Tukang Besi Selatan • Tukang Besi Utara • Ulumanda' • Uma • Wana • Waru • Wawonii • Wotu

Suku bangsa di Kepulauan Maluku

Alfur • Alune • Amahai • Ambelau • Ambon • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Bacan • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Gorap • Haruku • Hitu • Horuru • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Barat • Makian Timur • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masarete • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Nuaulu (Naulu Selatan • Naulu Utara) • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Togutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wemale (Selatan • Utara) • Yalahatan • Yamdena

Suku bangsa di Papua *

Abinomn 3 • Abun 3 • Airoran • Ambai • Amungme • Anasi • Ansus • Arandai • Arfak (Hatam • Moile • Sough • Meyah) • Arguni • As • Asmat (Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor) • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu • Bagusa • Baham • Barapasi • Bauzi • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Dabe • Damal • Dani • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Ekari • Elseng 3 • Emem • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hupla • Iau • Iha • Imekko (Suabo • Kais • Puragi • Kaburi • Kokoda) • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kapauri • Kaptiau • Karas • Kaure • Kauwera • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kimyal • Kirikiri • Kofei • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Lani • Lepki 5 • Liki • Maden • Maibrat (Ayamaru • Karon Dori • Mare • Aifat • Aitinyo) • Mairasi • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Mapia • Marau • Marind (Marind Bian • Maklew-Yab • Kanum • Yei) • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya (Laganyan • Kawe • Wauyai) • Mek (Kosarek • Nipsan • Nalca • Eipomek) • Mekwei • Meoswar • Mer • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momuna • Moni • Mora • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu • Nafri • Nakai • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalik • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nisa • Obokuitai • Onin • Ormu • Orya • Papasena • Papuma • Pom • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yali • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop

Suku bangsa lain
Lihat pula: Pribumi-Nusantara
*Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan