Kamis, 24 September 2026
03:47 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Suku Kaili

Suku Kaili

kelompok etnik di Indonesia

"Kaili" beralih ke halaman ini. Untuk bahasa yang digunakan suku ini, lihat Bahasa Kaili. Untuk pemain sepak bola Jepang, lihat Kaili Shimbo.
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Suku Kaili"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Suku Kaili
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_Kaili_Centraal-_en_Noord-Celebes_TMnr_10005738.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto Orang Kaili (k. 1913), koleksi Tropenmuseum.
Daerah dengan populasi signifikan
Sulawesi Tengah: 1.600.256.
Bahasa
Kaili, dan Indonesia.
Agama
Islam, Animisme
Kelompok etnik terkait
Suku Pamona, Suku Mori

Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara Gunung Gawalise, Gunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Tojo Una-Una dan Kabupaten Poso. Masyarakat suku Kaili mendiami kampung/desa di Teluk Tomini yaitu Tinombo, Moutong, Parigi, Sausu, Ampana, Tojo dan Una-Una, sedang di Kabupaten Poso mereka mendiami daerah Mapane, Uekuli dan pesisir Pantai Poso.[butuh rujukan]

Untuk menyatakan "orang Kaili" disebut dalam bahasa Kaili dengan menggunakan awalan "To" yaitu To Kaili.

Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata Kaili, salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku Kaili ini berasal dari nama pohon dan buah Kaili yang umumnya tumbuh di hutan-hutan di kawasan daerah ini, terutama di tepi Sungai Palu dan Teluk Palu. Pada zaman dulu, tepi pantai Teluk Palu letaknya menjorok l.k. 34 km dari letak pantai sekarang, yaitu di Kampung Bangga. Sebagai buktinya, di daerah Bobo sampai ke Bangga banyak ditemukan karang dan rerumputan pantai/laut. Bahkan di sana ada sebuah sumur yang airnya pasang pada saat air di laut sedang pasang demikian juga akan surut pada saat air laut surut.

Menurut cerita (tutura), dahulu kala, di tepi pantai dekat Kampung Bangga tumbuh sebatang pohon kaili yang tumbuh menjulang tinggi. Pohon ini menjadi arah atau panduan bagi pelaut atau nelayan yang memasuki Teluk Palu untuk menuju pelabuhan pada saat itu, Bangga.

Suku Kalili atau etnik Kaili, merupakan salah satu etnik dengan yang memiliki rumpun etnik sendiri. Untuk penyebutannya, suku Kaili disebut etnik Kaili, sementara rumpun suku Kaili lebih dari 30 rumpun suku, seperti, rumpun Kaili Rai, rumpun Kaili Ledo, rumpun Kaili Ija, rumpun Kaili Moma, rumpun Kaili Da'a, rumpun Kaili Unde, rumpun Kaili Inde, rumpun Kaili Tara, rumpun Kaili Doi, rumpun Kaili Torai, dll.

Bahasa

Suku Kaili mengenal lebih dari dua puluh bahasa yang masih hidup dan dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Uniknya, di antara kampung yang hanya berjarak 2 km kita bisa menemukan bahasa yang berbeda satu dengan lainnya. Namun, suku Kaili memiliki lingua franca, yang dikenal sebagai bahasa Ledo. Kata "Ledo" ini berarti "tidak". Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang) masih ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Mandar dan bahasa Melayu.

Bahasa-bahasa yang masih dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu bahasa Tara (Tondo, vatu tela, Talise, Tanamodindi, Lasoani, Poboya, Kavatuna, Sou love dan Parigi), bahasa Rai (Mamboro, Taipa, Tawaeli, Labuan, Toaya, Sampai Tompe), bahasa Kaili Doi (Pantoloan dan Kayumalue); bahasa Unde (Ganti, Banawa, Loli,Dalaka, Limboro, Tovale dan Kabonga), bahasa Ado (Sibalaya, Sibovi, Pandere, bahasa Edo (Pakuli, Tuva), bahasa Ija (Bora, Vatunonju), bahasa Da'a (Porame, Balane, Uwemanje, Rondingo, Pobolobia, Kayumpia, Wayu, Dombu, Jono'oge), bahasa Moma (Kulavi). Semua kata dasar bahasa tersebut berarti "tidak".

Kehidupan

Mata pencaharian utama masyarakat suku Kaili adalah bercocok tanam di sawah, di ladang dan menanam kelapa. Di samping itu masyarakat suku Kaili yang tinggal di dataran tinggi, mereka juga mengambil hasil bumi di hutan seperti rotan, damar, dan kemiri, dan beternak. Sedang masyarakat suku Kaili yang dipesisir pantai di samping bertani dan berkebun, mereka juga hidup sebagai nelayan dan berdagang antarpulau seperti ke Kalimantan.

Makanan asli suku Kaili pada umumnya adalah nasi, karena sebagian besar tanah dataran di lembah Palu, Parigi sampai ke Poso merupakan daerah persawahan. Kadang pada musim paceklik masyarakat menanam jagung, sehingga sering juga mereka memakan nasi dari beras jagung (campuran beras dan jagung giling).

Alat pertanian suku Kaili di antaranya: pajeko (bajak), salaga (sisir), pomanggi (cangkul), pandoli(linggis), Taono(parang); alat penangkap ikan di antaranya: panambe, meka, rompo, jala dan tagau.

Budaya

250px-Baju_adat_suku_Kaili_Tado.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Baju adat suku Kaili Tado

Sebagaimana suku-suku lainnya di wilayah persada Nusantara, Suku Kaili juga mempunyai adat istiadat sebagai bagian kekayaan budaya di dalam kehidupan sosial, memiliki Hukum Adat sebagai aturan dan norma yang harus dipatuhi, serta mempunyai aturan sanksi dalam hukum adat.

Penyelenggaraan upacara adat biasanya dilaksanakan pada saat pesta perkawinan (no-Rano, no-Raego, kesenian berpantun muda/i), pada upacara kematian (no-Vaino, menuturkan kebaikan orang yang meninggal), pada upacara panen (no-Vunja, penyerahan sesaji kepada Dewa Kesuburan), dan upacara penyembuhan penyakit (no-Balia, memasukkan ruh untuk mengobati orang yang sakit); pada masa sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, upacara-upacara adat seperti ini masih dilakukan dengan mantra-mantra yang mengandung animisme.

Setelah masuknya agama Islam dan Kristen, pesta perkawinan dan kematian sudah disesuaikan antara upacara adat setempat dengan upacara menurut agama penganutnya. Demikian juga upacara yang mengikuti ajaran Islam seperti: Khitan (Posuna), Khatam (Popatama) dan gunting rambut bayi usia 40 hari (Niore ritoya), penyelenggaraannya berdasarkan ajaran agama Islam.

Beberapa instrumen musik yang dikenal dalam kesenian suku Kaili antara lain: Kakula (disebut juga gulintang, sejenis gamelan pentatonis),Lalove (serunai), nggeso-nggeso (rebab berdawai dua), gimba (gendang), gamba-gamba (gamelan datar/kecil), goo (gong), suli (suling).

Salah satu kerajinan masyarakat suku Kaili adalah menenun sarung. Ini merupakan kegiatan para wanita di daerah Wani, Tavaili, Palu, Tipo dan Donggala. Sarung tenun ini dalam bahasa Kaili disebut Buya Sabe, tetapi oleh masyarakat umum sekarang dikenal dengan Sarung Donggala. Jenis Buya Sabe ini pun mempunyai nama-nama tersendiri berdasarkan motif tenunannya, seperti Bomba, Subi atau Kumbaja. Demikian juga sebutan warna sarung Donggala didasarkan pada warna alam,seperti warna Sesempalola / kembang terong (ungu), Lei-Kangaro/merah betet (merah-jingga), Lei-pompanga (merah ludah sirih).

Di daerah Kulawi masih ditemukan adanya pembuatan bahan pakaian yang diproses dari kulit kayu yang disebut Katevu. Pakaian dari kulit Kayu Katevu ini sebagian besar dipakai oleh para wanita dalam bentuk rok dan baju adat.

Sebelum masuknya agama ke Tanah Kaili, masyarakat suku Kaili masih menganut animisme, pemujaan kepada roh nenek moyang dan dewa sang Pencipta (Tomanuru), dewa Kesuburan (Buke/Buriro) dan dewa Penyembuhan (Tampilangi). Agama Islam masuk ke Tanah Kaili, setelah datangnya seorang Ulama Islam, keturunan Datuk/Raja yang berasal dari Minangkabau bernama Syekh Abdullah Raqie. Ia beserta pengikutnya datang ke Tanah Kaili setelah bertahun-tahun bermukim belajar agama di Mekkah. Di Tanah Kaili, Syekh Abdullah Raqie dikenal dengan nama Dato Karama/Datuk Karama (Datuk Keramat), karena masyarakat sering melihat kemampuan dia yang berada di luar kemampuan manusia pada umumnya. Makam Dato Karama sekarang merupakan salah satu cagar budaya yang di bawah pengawasan Pemerinta Daerah.

Hubungan kekerabatan masyarakat suku Kaili sangat tampak kerjasamanya pada kegiatan-kegiatan pesta adat, kematian, perkawinan dan kegiatan bertani yang disebut SINTUVU (kebersamaan/gotong royong).

Pemerintahan

Pemerintahan pada masa dahulu, sudah dikenal adanya struktur organisasi pemerintahan di dalam suatu Kerajaan (KAGAUA) dikenal adanya MAGAU (Raja), MADIKA MALOLO (Raja Muda). Di dalam penyelenggaraan pemerintahan Magau dibantu oleh LIBU NU MARADIKA (Dewan Pemerintahan Kerajaan) yang terdiri dari: MADIKA MATUA (Ketua Dewan Kerajaan/Perdana Menteri) bersama PUNGGAWA (Pengawas Pelaksana Adat/ Urusan Dalam Negeri), GALARA (Hakim Adat), PABICARA (Juru Bicara), TADULAKO (Urusan Keamanan/ Panglima Perang) dan SABANDARA (Bendahara dan Urusan Pelabuhan).

Di samping dewan Libu nu Maradika, juga ada LIBU NTO DEYA (Dewan Permusyawaratan Rakyat) yang merupakan perwakilan Rakyat berbentuk PITUNGGOTA NGATA(Dewan yg Mewakili Tujuh Penjuru Wilayah) atau PATANGGOTA NGATA (Dewan yg Mewakili Empat Penjuru Wilayah). Bentuk Kota Pitunggota atau Kota Patanggota berdasarkan luasnya wilayah kerajaan yang memiliki banyaknya perwakilan Soki (kampung) dari beberapa penjuru. Ketua Kota Pitunggota atau Kota Patanggota disebut BALIGAU.

Strata sosial masyarakat Kaili dahulu mengenal adanya beberapa tingkatan yaitu MADIKA/MARADIKA, (golongan keturunan raja atau bangsawan), TOTUA NUNGATA (golongan keturunan tokoh-tokoh masyarakat), TO DEA (golongan masyarakat biasa), dan BATUA (golongan hamba/budak).

Pada zaman sebelum penjajahan Belanda, daerah Tanah Kaili mempunyai beberapa raja yang masing-masing menguasai daerah kekuasaanya, seperti Banawa, Palu, Tavaili, Parigi, Sigi dan Kulavi. Raja-raja tersebut mempunyai pertalian kekeluargaan serta tali perkawinan antara satu dengan lainnya, dengan maksud untuk mencegah pertempuran antara satu dengan lainnya serta mempererat kekerabatan.

Pada saat Belanda masuk ke daerah Tanah Kaili, Belanda mencoba mengadu domba antara raja yang satu dengan raja lainnya agar mempermudah Belanda menguasai seluruh daerah kerajaan di Tanah kaili. Namun, sebagian besar daripada raja-raja tersebut melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda, mereka bertempur dan tidak bersedia dijajah Belanda. Dengan kelicikan Belanda setelah mendapat bala bantuan dari Jawa, akhirnya beberapa raja berhasil ditaklukkan, bahkan ada di antaranya yang ditangkap dan ditawan oleh Belanda kemudian dibuang ke Pulau Jawa.

Beberapa alat senjata perang yang digunakan oleh suku Kaili di antaranya: Guma (sejenis parang), Pasatimpo (sejenis keris), Toko (tombak), Kanjai (tombak trisula), Kaliavo (perisai).

Lihat juga

Suku bangsa di Sumatra
Batak
Melayu
Minangkabau
Melayu Bukit Barisan Selatan
Melayu Aborigin
Lampung
Kepulauan Barat Sumatera
Lain-lain
Tionghoa
Suku bangsa di Jawa

Baduy Banten Bawean Betawi Ciptagelar Cirebon Indo Jawa Kalang Kangean Madura Melayu Osing Peranakan Sunda Tengger

Abui Adang Adonara Alor Amarasi Anakalangu Atoni Bali Bilba Bima Blagar Boti Bunak Dela-Oenale Dengka Dhao Ende Hamap Helong Ile Ape Kabola Kafoa Kamang Kambera Kedang Kelon Kemak Ke'o Kepo' Kodi Komodo Kui Kula Lamaholot Lamalera Lamatuka Lamboya Lamma Laura Lembata Barat Lembata Selatan Levuka Lewo Eleng Lewotobi Lio Lole Melayu Loloan Kupang Larantuka Mamboru Manggarai Nage Nedebang Ngada Ngada Timur Palue Rajong Rembong Retta Ringgou Riung Rongga Sabu Sasak Sawila Sika So'a Sumba Sumbawa Tambora Tereweng Termanu Tetun Tewa Tii Uab Meto Wae Rana Wanukaka Wejewa Wersing

Suku bangsa di Kalimantan *

Abal Agabag Ampanang Aoheng Bahau Bakati' Bekati' Rara Bekati' Sara Bakumpai Banjar Basap Bawo Benyadu' Bentian Benuaq Berau Bidayuh (BiatahBukar-Sadong) • Bolongan Bukit (Pitap) • Bukitan Burusu Dayak Dusun (DeyahMalangWitu) • Embaloh Iban (MualangSeberuang) • Jangkang Kanayatn Kayan (BusangMahakamSungai KayanMendalamWahau) • Kebahan Kelabit Kembayan Keninjal Kenyah (KelinyauWahauLebu' Kulit) • Kohin Krio Kutai (Kota BangunTenggarong) • Lawangan Lengilu Lun Bawang Ma'anyan Mali Mayau Melayu Modang Ngaju (BarangasKatingan) • Okolod Ot Danum (Limbai) • Paku Pasir Pesaguan Punan (AputBukatHovonganKerehoMerahMerapTubu) • Putoh Ribun Sa'ban Sambas Sanjau Basap Sanggau Segai Selungai Murut Semandang Sembakung Murut Siang Murung Tagal Murut Taman Tausug Tawoyan Tidung Tunjung Uma' Lasan Uma' Lung Wehea

Suku bangsa di Sulawesi

Andio Aralle-Tabulahan Bada Bahonsuai Bajau Balaesang Balantak Bambam Banggai Bantik Baras Batui Behoa Bentong Bintauna Boano Bobongko Bolango Bonerate Budong-Budong Bugis Bungku Buol Busoa Buton (CiaciaKulisusuLasalimuWolio) • Campalagian Dakka Dampelas Dondo Duri Enrekang Gorontalo Kaidipang Kaili (Kaili Da'aKaili LedoKaili Unde) • Kaimbulawa Kalao Kalumpang Kamaru Kioko Kodeoha Konjo Pegunungan Konjo Pesisir Koroni Kumbewaha Laiyolo Lauje Lemolang Liabuku Lindu Lolak Luwu Maiwa Makassar Manado Malimpung Mamasa Mamuju Mandar Melayu Minahasa Moma Mongondow Mori (Mori AtasMori Bawah) • Moronene Muna Napu Onda'e Padoe Pamona Panasuan Pancana Pannei Pebato Pendau Polahi Ponosakan Rahambuu Rampi Ratahan Saluan Sangir Sarudu Sedoa Seko Padang Seko Tengah Selayar Suwawa Taje Tajio Talaud Taloki Talondo' Toala' Tolaki Tomadino Tombelala Tombulu Tomini Tondano Tonsawang Tonsea Tontemboan Topoiyo Toraja Totoli Tukang Besi Selatan Tukang Besi Utara Ulumanda' Uma Wana Waru Wawonii Wotu

Suku bangsa di Kepulauan Maluku

Alfur Alune Amahai Ambelau Ambon Aputai Asilulu Babar Tenggara Babar Utara Bacan Banda Barakai Bati Batuley Benggoi Boano Bobot Buli Buru Dai Damar Barat Damar Timur Dawera-Daweloor Dobel Elpaputih Emplawas Fordata Galela Gamkonora Gane Gebe Geser-Gorom Gorap Haruku Hitu Horuru Hoti Huaulu Hukumina Hulung Ibu Ili'uun Imroing Kadai Kaibobo Kamarian Kao Karey Kayeli Kei Kisar Koba Kola Kompane Kur Laba Laha Larike-Wakasihu Latu Leti Liana-Seti Lisabata-Nuniali Lisela Lola Loloda Lorang Loun Luang Luhu Maba Makian Barat Makian Timur Mangole Manipa Manombai Manusela Mariri Masarete Masela Barat Masela Tengah Masela Timur Masiwang Modole Moksela Naka'ela Nila Nuaulu (Naulu SelatanNaulu Utara) • Nusa Laut Oirata Pagu Palumata Patani Paulohi Perai Piru Roma Sahu Salas Saleman Saparua Sawai Seit-Kaitetu Selaru Seluwasan Sepa Serili Serua Sula Tabaru Taliabu Talur Tarangan Barat Tarangan Timur Tela-Masbuar Teluti Teor Ternate Ternateño1 Te'un Tidore Tobelo Tugun Togutil Tulehu Ujir Waioli Watubela Wemale (SelatanUtara) • Yalahatan Yamdena

Suku bangsa di Papua *

Abinomn 3 Abun 3 Airoran Ambai Amungme Anasi Ansus Arandai Arfak (HatamMoileSoughMeyah) • Arguni As Asmat (Asmat Pantai KasuariAsmat TengahAsmat UtaraAsmat Yaosakor) • Atohwaim Auye Awbono Awera Awyi Awyu Bagusa Baham Barapasi Bauzi Bayono Bedoanas Beneraf Berik Betaf Biak Biga Biritai Bonggo Burate Burmeso Burumakok Buruwai Busami Citak Dabe Damal Dani Dao Dem Demisa Dera Diebroud Dineor Diuwe Doutai Duriankere Dusner Duvle Edopi Ekari Elseng 3 Emem Eritai Erokwanas Fayu Fedan Foau Gresi Hupla Iau Iha Imekko (SuaboKaisPuragiKaburiKokoda) • Irarutu Iresim Isirawa Itik Iwur Jofotek-Bromnya Kaiy Kalabra Kamberau Kamoro Kapauri Kaptiau Karas Kaure Kauwera Kayagar Kayupulau Kehu 5 Keijar Kemberano Kembra 5 Kemtuik Ketengban Ketum Kimaghima Kimki Kimyal Kirikiri Kofei Kombai Komyandaret Konda Koneraw Kopkaka Korowai Kosare Kowiai Kuri Kurudu Kwer Kwerba Kwerba Mamberamo Kwerisa Kwesten Kwinsu Lani Lepki 5 Liki Maden Maibrat (AyamaruKaron DoriMareAifatAitinyo) • Mairasi Mander Mandobo Atas Mandobo Bawah Manem Mapia Marau Marind (Marind BianMaklew-YabKanumYei) • Masimasi Massep 3 Matbat Mawes Ma'ya (LaganyanKaweWauyai) • Mek (KosarekNipsanNalcaEipomek) • Mekwei Meoswar Mer Mlap Mo Moi Molof 5 Mombum Momuna Moni Mora Mor Morai Morori Moskona Mpur 3 Munggui Murkim 5 Muyu Nafri Nakai Namla 5 Narau Ndom Nduga Ngalik Ngalum Nggem Nimboran Ninggerum Nisa Obokuitai Onin Ormu Orya Papasena Papuma Pom Rasawa Riantana Roon Samarokena Saponi Sauri Sause Saweru Sawi Seget Sekar Semimi Sempan Sentani Serui-Laut Sikaritai Skou Sobei Sowanda Sowari Sunum Tabla Taikat Tamagario Tanahmerah Tandia Tangko Tarpia Tause Tebi Tefaro Tehit Tobati Tofanma 5 Towei Trimuris Tsaukambo Tunggare Una Uruangnirin Usku 5 Viid Vitou Wabo Waigeo Walak Wambon Wandamen Wanggom Wano Warembori Wares Waris Waritai Warkay-Bipim Waropen Wauyai Woi Wolai Woria Yahadian Yali Yaqay Yarsun Yaur Yawa Yeretuar Yetfa Yoke Zorop

Suku bangsa lain
Lihat pula: Pribumi-Nusantara
*Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan