Candi Batu Kebayan atau Candi Jepara adalah situs candi kuno yang terletak di Pekon Jepara Tuha, Kecamatan Buway Pematang Ribu, Danau Ranau Ogan Komering Ulu berbatasan dengan Lampung Barat. Candi ini pertama kali ditemukan dan dilaporkan oleh kontrolir Belanda, G.A. Schouten, pada tahun 1885. Candi Batu Kebayan terbuat dari batu andesit, berbeda dengan candi-candi lain di Sumatera yang umumnya berbahan bata merah.[1]
Pada 1973, seorang konservator musuem di Palembang melaporkan adanya fondasi bangunan candu dari batu alam. Pada sisi timur bangunan ditemukan empat tangga, sementara profil dindingnya memiliki bentuk oyief atau ogives dan setengah lingkaran. Penggunaan batu andesit pada bangunan tersebut juga dicatat sebagai hal yang relatif jarang ditemukan pada candi-candi di Sumatera[2].
Karakteristik Arkeologis
Candi Batu Kebayan memiliki dimensi 8,3 x 9,7 meter dengan orientasi barat-timur. Bagian yang masih teridentifikasi dengan jelas adalah struktur kaki candi yang menampilkan profil dinding berbentuk Ogiva (sisi genta) dan setengah lingkaran. Adanya goresan lengkung pada pintu masuk serta ketiadaan badan dan atap yang utuh mengindikasikan kemungkinan bahwa pembangunan candi ini tidak terselesaikan, sehingga diduga berbentuk teras terbuka tanpa bilik dalam maupun struktur atap.[3]
Berdasarkan analisis komparatif, pembangunan Candi Batu Kebayan diperkirakan berasal dari periode abad ke 6 Masehi dan kemudian berkesinambungan pada bentuk candi di Jawa Tengah seperti Candi Plaosan, Candi Sari, dan Candi Sambisari. Karakteristik bentuk kaki candi dengan hiasan Ogiva dan setengah lingkaran menunjukkan ciri khas arsitektur candi periode awal di Indonesia.[3] Candi Batu Kebayan merupakan Candi era Sriwijaya dan diidentifikasi merupakan prototipe dari Candi Borobudur sebagai tinggalan masa Medang ri Bhumi Mataram yang merupakan mandala dari Kedatuan Sriwijaya.
Sebagai salah satu bukti material peradaban pada masa masa awal Hindu Buddha di kawasan Danau Ranau Sumbagsel, Candi Jepara meskipun dalam kondisi reruntuhan dan diduga belum selesai dibangun, tetapi memiliki nilai sejarah yang sangat penting.[4] Perlu dicatat bahwa di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terdapat Candi Angin sebagai peninggalan dari Kerajaan Kalingga, dimungkinkan merupakan kesinambungan dari Candi Jepara di Sumatera Selatan.[5]
Bentuk pelipit Candi Jepara, terutama sisi genta dan lingkaran/setengah bulat, mempunyai kemiripan dengan sejumlah candi di Jawa seperti Candi Sari, Sambisari, dan Plaosan di Jawa Tengah serta Badut dan Songgoriti di Jawa Timur. Penelitian arkeologi menggunakan persamaan tersebut sebagai salah satu dasar untuk memperkirakan latar waktu pembangunannya[6].
Penggunaan Batu Andesit pada Candi Jepara
Candi Jepara menggunakan batu andesit sebagai bahan utama pembangunannya. Pemilihan material ini didasarkan pada sifat fisik batu andesit yang memiliki daya tahan tinggi terhadap faktor cuaca dan waktu, suatu karakteristik penting untuk struktur bangunan monumental seperti candi yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang.[butuh rujukan]
Batu andesit merupakan jenis batuan beku vulkanik dengan ciri khas warna abu-abu kehitaman, struktur padat, dan tekstur halus. Sifat-sifat ini memberikan beberapa keunggulan:[butuh rujukan]
- Ketahanan terhadap proses erosi
- Resistensi terhadap pertumbuhan organisme seperti jamur dan lumut
- Permukaan yang memiliki sifat anti-selip ketika diaplikasikan sebagai lantai atau dinding
Karakteristik unggul tersebut menjadikan batu andesit sebagai material pilihan utama dalam pembangunan berbagai candi kuno di Indonesia.[7][8][9]
Referensi
- ↑ "Atraksi Pariwisata di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan". sisparnas.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ↑ "Candi Jepara » Budaya Indonesia". versilama.budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-09-18.
- 1 2 Author, Direktorat Pelindungan Kebudayaan (21 Januari 2016). "Candi Jepara di Ogan Komering Ulu". Diakses tanggal 19 Juni 2025.
{{cite web}}:|last=memiliki nama generik - ↑ "Candi Jepara Batu Kebayan Salah Satu Bukti Keberadaan Peradaban Maju di Ranau Zaman Dahulu". sumsel.kejarfakta.co. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ↑ "Berada di Ketinggian 1.200 Mdpl, Ini 3 Fakta Menarik Candi Angin di Jepara". merdeka.com. 2021-09-23. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ↑ Suantika, I Wayan (3 november 2010). "ISA - SISA CANDI HINDU DI PURA CANDI MAS, DESA CANDI KUNING, KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN".
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=; line feed karakter dalam|title=pada posisi 23 - ↑ Rousthesa, Desfira Ramadhania; Munandar, Agus Aris (2024-09-02). BAB 4 Penggunaan Balok Batu pada Konstruksi Candi Perwara (Studi Kasus Candi Perwara Sewu Deret I No. 26 dan Candi Perwara Plaosan Lor Deret II No. 29). Penerbit BRIN. ISBN 978-623-8372-95-9.
- ↑ Liputan6.com (2022-02-09). "Mengenal Batu Andesit, dari Asal Muasal hingga Keunggulannya". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) - ↑ "4 Keunggulan Batuan Andesit sebagai Bahan Bangunan". Tempo. 10 Februari 2022 | 15.17 WIB. Diakses tanggal 2025-06-19.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=