Kamis, 01 Oktober 2026
00:21 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh

Candi Laras

bangunan kuil di Indonesia

Bagikan:
Untuk kegunaan lain, lihat Candi Laras.
Infotaula de geografia políticaCandi Laras
situs arkeologi
Candi Suntingan nilai di Wikidata
Tempat
osm-intl,12,a,a,323x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Candi_Laras&revid=29394983&groups=_75dfa0f7427897b0af037ce0aaa82bfba5d7a4fe&parser=parsoidKoordinat: 2°37′12″S 114°56′0″E / 2.62000°S 114.93333°E / -2.62000; 114.93333 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaKalimantan Selatan
KabupatenTapin
KecamatanCandi Laras Selatan
DesaCandi Laras Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata

Candi Laras adalah situs candi berukuran kecil yang terdapat di desa Candi Laras, Candi Laras Selatan, Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan yang ditemukan pada lokasi yang dinamakan penduduk dengan sebutan Tanah Tinggi yang terletak pada posisi koordinat 2°37′12″S 114°56′0″E / 2.62000°S 114.93333°E / -2.62000; 114.93333. Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru memegang cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dīpankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi "siddha" (selengkapnya seharusnya berbunyi "jaya siddha yatra" artinya "perjalanan ziarah yang mendapat berkat"). kalimat tersebut mengingatkan pada baris ke sepuluh prasasti kedukan bukit peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke 7 M "Sriwijaya jaya siddha yatra subhiksa". kemiripan kalimat pada kedua prasasti mungkin menunjukan adanya hubungan antara kerajaan Sriwijaya dengan Tapin. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.[1]

Sejarah dan fungsi

Bangunan Candi Laras sudah hancur, dan saat dilakukan penggalian hanya ditemukan sisa-sisa bata yang tidak lagi membentuk struktur, serta temuan terpisah seperti fragmen prasasti dan arca. Karena minimnya informasi yang tersedia, sulit untuk menentukan siapa yang membangun candi ini dan kapan pembangunannya dilakukan. Ekskavasi pada tahun 1997 menemukan tonggak kayu ulin yang sangat panjang. Berdasarkan temuan ini, diperkirakan Candi Laras dibangun menggunakan struktur bata yang didukung oleh balok kayu ulin.

Untuk memperkirakan usia candi, para peneliti menggunakan data arkeologi yang relevan, seperti fragmen prasasti dan arca Buddha. Berdasarkan informasi dari laman Kemdikbud, benda-benda arkeologi pendukung Candi Laras terdiri dari arca babi dari batu alam, arca Buddha Dipangkara, dan fragmen batu tulis atau prasasti. Benda-benda arkeologi ini berukuran kecil dan ditemukan cukup jauh dari lokasi situs, sekitar 450-650 meter.

Temuan arca Buddha Dīpankara

Berdasarkan penemuan benda arkeologi yang ditemukan di sekitar situs ini berasal dari abad ke-8 atau ke-9.[2]

Di daerah yang berdekatan dengan candi tersebut, yaitu di jalan Desa Baringin B dekat sungai Tambingkaran termasuk daerah aliran Sungai Amas ditemukan arca . Keadaanya sudah rusak bagian tangan kanan dan kedua kaki sudah patah. Arca Buddha itu dibuat dari bahan perunggu dengan ukuran lebar 8 cm dan tinggi 21 cm. Digambarkan berdiri memakai jubah yang disampirkan pada bahu kiri. Tangan kirinya ke depan sambil memegang ujung jubah. Wajahnya digambarkan agak bulat dengan mata sipit dan mulut dengan ujung bibirnya agak ke atas seperti pada wajah arca-arca Thailand. Melihat ciri wajahnya arca Buddha itu berlanggam Dwarawati yang berkembang pada sekitar abad ke-8 Masehi. Fragmen prasasti batu dengan tulisan beraksara Pallawa ditemukan di dasar Sungai Amas. Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini yang berkaitan dengan “perjalanan suci”, berbunyi //… siddha…// (selengkapnya seharusnya berbunyi // jaya siddha yatra// artinya “perjalanan suci yang mendapat berhasil”). Prasasti siddhayatra ini kalau dilihat bentuk akasaranya sejaman dengan prasasti siddhayatra yang banyak ditemukan dari daerah Palembang, Dilihat dari gaya seni arca Buddha Dipaŋkara dan bentuk aksara pada fragmen prasasti diduga bahwa tempat itu sudah ada penduduk sejak abad ke-7-8 Masehi. Pada 2000 dilakukan penelitian radiokarbon C-14 dari sampel tonggak kayu ulin yang masih tertancap di lokasi aslinya, dan dihasilkan penanggalan sekitar abad ke-14 Masehi.[3] Candi Laras dibangun tahun 1400M.[4]

Pranala luar

Catatan kaki

Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan