Selasa, 22 September 2026
02:25 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Candi Sumberjati

Candi Sumberjati

bangunan kuil di Indonesia

Candi Sumberjati
ꦱꦸꦩ꧀ꦧꦺꦂꦗꦠꦶ
330px-Simping3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Candi Simping
Informasi umum
Gaya arsitekturCandi Jawa Timuran
LokasiDesa Sumberjati, Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur 7°44′05″S 112°09′40″E / 7.7346631°S 112.1611311°E / -7.7346631; 112.1611311
KotaKabupaten Blitar
Negara Indonesia
Selesai dibangunAbad ke -14
Desain dan konstruksi
ArsitekMajapahit

Candi Sumberjati dikenal pula dengan nama Candi Simping. Awalnya, pada tahun 1866 J.E. Teijsmann melaporkan sebuah bangunan suci bernama Soengkoep, dan kemudian disebut Candi Simping oleh F.F.K. Boscj.[butuh rujukan] P.J. Perquin selanjutnya juga menulis tentang Candi Sumberjati/Candi Simping tersebut yang membuat banyak peneliti mulai tertarik untuk mengadakan penelitian tentang candi tersebut.[butuh rujukan]

250px-Harihara_Majapahit_1.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Harihara (paduan Siwa dan Wisnu) perwujudan Kertarajasa dari Candi Simping, Blitar, kini koleksi Museum Nasional.

Sayangnya, candi saat ini tinggal bagian kaki candi saja. Kaki candi dihiasi oleh antefiks yang mengelilinginya. Menarik perhatian, karena relief pada antefiks tersebut berupa relief berbagai jenis binatang, termasuk “binatang bulan” (hare/sasa) binatang suci yang banyak ditemukan sebagai relief di candi-candi Jawa Timur.[butuh rujukan]

Candi Sumberjati/Candi Simping menghadap ke barat dan di depan pintu masuk terdapat sebuah bangunan kecil yang berfungsi seperti “aling-aling”. Pada keempat sudut kakinya terdapat bekas-bekas tempat miniatur candi. Arca berbentuk Harihara, sekarang sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.[butuh rujukan]

latar belakang

Latar belakang pendirian Candi Sumberjati/Candi Simping ada dalam Kakawin Nagarakretagama. Disebutkan baginda Raja Hayam Wuruk yang berkeliling mengunjungi wilayah kerajaannya pada tahun 1283 Saka (1361 Masehi) dari Lodaya, lalu singgah ke Simping. Raja melihat reruntuhan prasada dan juga letaknya terlalu ke barat. Maka pada tahun 1286 saka (1363 Masehi) raja berkunjung ke Simping lagi dan prasada yang rusak pun diperbaiki serta letaknya digeser ke timur. Upacara persajian (widhi-widhana) dan puja dilakukan oleh pengawas (adhyaksa) yaitu Yang Mulia Rajaparakrama. Ia melanjutkan upacara berdasarkan pengetahuannya tentang Tattwopadesa dan Siwagama. Kemudian ia melakukan upcara peresmian arca (adhistana) Raja Krtarajasa Jayawardhana.[butuh rujukan]

Dari cerita tersebut diketahui, Candi Simping adalah pendharmaan Raja Kertarajasa yang rusak dan kemudian diperbaiki kembali oleh Raja Rajasanagara. Mungkin arca Harihara, adalah arca perwujudan Raja Krtarajasa. Yang diresmikan oleh Adhyaksa Rajaparakrama.[1]

Penegasan tentang keberadaan candi Simping atau Sumber Jati ini tertulis dalam Negarakertagama Pupuh XLVII/3 bagian yang ketiga yang berbunyi:[2][3]

... Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231 Saka), Sang prabhu (Raden Wijaya) mangkat, didharmakan di dalam pura, Antahpura, begitu nama pendharmaan beliau, Dan di pendharmaan Simping ditegakkan arca Siwa, ...

Struktur bangunan

250px-Simping.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sisa bangunan candi utama yang masih tersisa

Saat ini, candi ini hanya berupa lantai pondasinya saja, sementara bangunan utuhnya telah runtuh. Candi ini dibangun dengan bahan dasar batu andesit, berbeda dengan candi-candi yang ditemukan di wilayah Trowulan, Mojokerto. Kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi.[butuh rujukan]

Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, Angsa, Merak, burung Garuda, Babi hutan dan Kera. Di sisi barat ada tangga (flight step) yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi. Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut. Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini. Para sejarawan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa.[butuh rujukan]

Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga. Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai). Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping (slim) sebagaimana bentuk candi-candi Jawa Timur-an. Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kala ini, seperti umumnya kepala Kala model Jawa Timur-an, tidak dilengkapi dengan Makara.[butuh rujukan]

Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang tampak berserakan di halaman candi. Di halaman candi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan di mana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat. Sedangkan dibagian atas bersegi delapan. Di dekat Lingga-Yoni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali. Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badannya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur candi. Diduga kuat di sini ada patung Dewa Harihara yang kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. [butuh rujukan]

Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang[butuh rujukan]

Kitab Negarakretagama menyebutkan candi itu merupakan tempat Raden Wijaya diperabukan. Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya diperabukan di Candi Brahu Trowulan. Candi Brahu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam.[butuh rujukan]

Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta, Nurhadi Rangkuti menulis bahwa Kitab Kakawin Nagarakretagama mencatat Raden Wijaya atau Sri Kertarajasa meninggal pada tahun Saka 1231 (1309 M) dan di-dharma-kan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis. Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam Negarakretagama disebutkan Sri Rajasa Jayanegara Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Kertarajasa Jayawardhana.[butuh rujukan]

Lokasi

alamat : Desa Sumberjati, Kademangan, Blitar, Jawa Timur

Koordinat : 8°9' 52,000" LS 112°8' 46,000" BT

ketinggian : 166 mdpl

Pranala luar

Referensi

  1. Sedyawati, Edi, 1938-. Candi Indonesia. Latief, Feri,, Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, (Edisi Cetakan pertama). [Jakarta]. ISBN 978-602-17669-3-4. OCLC 886882212.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  2. http://www.spaetmittelalter.uni-hamburg.de/java-history/JavaNagara-Kertagama.html
  3. "Situs candi simping". Diakses tanggal 9 Juli.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
Jawa
Bali
Sumatra
Kalimantan
Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan