Rabu, 14 Oktober 2026
12:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas

Candi Tandihat

Bagikan:

Candi Tandihat merupakan kompleks percandian Buddha bersejarah yang terletak di Desa Tandihat, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Sebagai peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia khususnya dari periode Kerajaan Panai yang pernah berdiri di pesisir timur Sumatera Utara antara abad ke-11 hingga ke-14, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-12 Masehi berdasarkan penemuan prasasti yang bertanggal 1101 Saka (1179 M). Candi ini menampilkan arsitektur khas dan berfungsi ganda sebagai pusat kegiatan keagamaan (ibadah) maupun pendidikan pada masanya.[1][2]

Etimologi

Nama "Tandihat" berasal dari penamaan lokal untuk kompleks percandian Buddha di Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, meskipun asal-usul pastinya belum tercatat secara eksplisit dalam literatur arkeologi. Situs ini juga dikenal dengan sebutan Candi Si Djoreng Belangah atau Sijoreng Belanga, yang dalam bahasa setempat (perpaduan bahasa Padang dan Batak) berarti perkampungan berbentuk belanga (periuk tanah), merujuk pada bentuk topografi lokasinya. Istilah candi sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, terkait dengan tradisi Hindu-Buddha, yang secara umum merujuk pada bangunan suci berfungsi sebagai tempat pemujaan, penyimpanan relik, atau pusat kegiatan keagamaan. Dengan demikian, nama Candi Tandihat mencerminkan karakteristik lokal situs tersebut sekaligus menegaskan fungsinya sebagai tempat ibadah Buddha pada abad ke-12 di Sumatera Utara.[3][4]

Kompleks Candi Tandihat

Candi Tandihat merupakan kompleks percandian Buddha bersejarah yang terdiri dari tiga struktur utama (Candi Tandihat I, II, dan III) yang telah terdaftar sebagai cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh. Sebagai peninggalan mazhab Vajrayana, ketiga candi tersebut saat ini dalam kondisi tidak utuh. Candi Tandihat II dan III masih tertimbun tanah, sementara Candi Tandihat I hanya menyisakan bagian kaki hingga badan candi. Berdasarkan distribusi geografis, Candi I dan II berada di Desa Tandihat, sedangkan Candi III terletak di Desa Gunung Manaung yang masih dalam wilayah kecamatan sama.[4]

Arsitektur dan Temuan Arkeologis

Candi Tandihat I (disebut lokal sebagai Candi Joreng Belanga) memiliki denah segi empat (5.91×5.87 m) dengan tinggi residual 6.1 meter. Prasasti berangka tahun 1101 Saka (1179 M) mengindikasikan pembangunannya pada abad ke-12, dengan Louis-Charles Damais menetapkan tanggal spesifik 26 April 1179. Ekskavasi mengungkap lapik arca, hiasan padma, dan berbagai artefak lepas. Candi Tandihat II, berjarak 750 meter dari Candi I, terdiri dari candi induk (8.5×6 m) dan dua perwara yang telah runtuh, beserta temuan makara dan arca perunggu/batu. Sementara Candi III yang tertimbun tanah hanya menyisakan stamba (pilar) besar dan gundukan diduga candi perwara. Upaya konservasi terbatas pada pembangunan pelindung atap untuk Candi I.[4]

Referensi

  1. ↑ "Inventarisasi Situs Bersejarah di Kecamatan Padang Lawas Utara". Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora. 8 (1): 1196. 2024. doi:10.36526/js.v3i2.3968.{{cite journal}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Wisely, Goklas. "Candi Si Djoreng Belangah, Jejak 'Kerajaan yang Terlupakan' di Palas". detiksumut. Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ↑ "Candi Tandihat Binanga di Sumatera Utara, Sering Dikunjungi Turis Thailand, Ada Apa? - News+ on RCTI+". RCTI+. Diakses tanggal 2025-06-17.
  4. 1 2 3 Ningsih, widya Lestari (10 Mei 2023). "Sejarah Candi Tandihat di Sumatera Utara". Kompas.com. Diakses tanggal 18 Juni 2025.
Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan