Kamis, 22 Oktober 2026
12:01 WIB
TERKINI
Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal

Candi Koto Rao

Bagikan:

Candi Koto Rao adalah situs candi kuno yang terletak di Jorong Tanjung Aia, Desa Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Situs ini berada di kawasan yang berdekatan dengan Prasasti Kubu Sutan, peninggalan penting Kerajaan Melayu Dharmasraya dari abad ke-13. Lokasinya yang strategis dekat Sungai Batang Sibinail dan pusat perdagangan emas serta rempah-rempah kuno menunjukkan peran kawasan ini dalam jaringan ekonomi dan keagamaan masa lalu. Situs ini juga dikelilingi oleh peninggalan arkeologis lain seperti Candi Tanjungmedan dan Prasasti Ganggo Hilia Bonjol.[1]

Penemuan Candi Koto Rao pada 12 April 2007 dan ekskavasi oleh Tim BP3 Batu Sangkar tahun 2008 mengungkap struktur bangunan dari batu bata dengan ciri khas Hindu-Buddha. Temuan artefak seperti makara dan arca dwarapala mengindikasikan fungsi situs sebagai tempat pemujaan, didukung oleh keterkaitannya dengan Prasasti Kubu Sutan yang menyebut tempat pemujaan Sri Indrakila Parwata Puri. Analisis menunjukkan candi ini mungkin terkait dengan Raja Bijayendrasekhara dan berkembangnya aliran Tantrayana pada masa Adityawarman. Situs ini kini tercatat sebagai cagar budaya dengan nomor inventaris 10/BCB-TB/A/08/2007.[2]

Arsitektur

Candi Koto Rao menampilkan arsitektur Hindu-Buddha abad ke-13 dengan material utama batu tufa dan batu bata. Struktur berukuran 3x3 meter ini memiliki denah persegi dengan elemen khas seperti makara dan arca dwarapala, sebagai penjaga spiritual yang membawa gada dengan upawita berbentuk ular. Meski kini dalam kondisi reruntuhan, situs seluas 500x130 meter ini merefleksikan perpaduan unsur Hindu-Buddha dengan karakter lokal, khususnya dalam konteks perkembangan Tantrayana di Sumatera Barat pada periode abad pertengahan.[3]

Simbolisme Arsitektur Candi Koto Rao

Sebagai representasi miniatur Gunung Mahameru yang dianggap pusat alam semesta dalam mitologi Hindu-Buddha, candi ini dibagi menjadi tiga tingkatan vertikal, yakni bagian dasar (bhurloka) melambangkan dunia manusia, bagian tengah (bhuvarloka) menyimbolkan alam transisi, dan bagian puncak (svarloka) menggambarkan kediaman para dewa.[4]

Elemen dekoratif candi memiliki makna perlindungan dan spiritual. Makara yang terpasang di ambang pintu berperan sebagai penjaga gerbang dunia spiritual, sementara arca dwarapala dengan atribut gada dan upawita ular berfungsi menjaga kesucian kompleks candi. Hiasan kepala kala di atas pintu masuk dimaknai sebagai pelindung dari pengaruh negatif. Motif flora seperti sulur-suluran dan pohon hayat (kalpavriksha) melambangkan kesuburan dan kehidupan abadi.[4]

Referensi

  1. ↑ Minangsatu. "Artefak Purbakala Itu Adalah Makara, Padang Nunang Pun Ramai Dikunjungi". minangsatu.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ↑ Mandiri, Riau (2018-01-21). "Heboh Penemuan Artefak Berbentuk Makara di Sungai Batang Sibanail Pasaman". riaumandiri. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ↑ Redaksi5 (2019-09-28). "Usai Diteliti, Ini Kesimpulan Sementara Penemuan Makara di Sungai Batang Sibinail". Prokabar. Diakses tanggal 2025-06-19.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  4. 1 2 "Wayback Machine" (PDF). repositori.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.{{cite web}}: Kutipan menggunakan judul generik
Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan