Rabu, 30 September 2026
20:51 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Kompleks Candi Padangroco

Kompleks Candi Padangroco

bangunan kuil di Indonesia

Bagikan:
Percandian Padang Roco
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
250px-Candi_Padang_Roco_2025_04.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Kompleks_Candi_Padangroco&revid=29844838&groups=_ab425093a9ec97f82edcc788fdf0fcd936aac099&parser=parsoid
Peta interaktif Kompleks Candi Padangroco
40px-Logo_Direktorat_Pelestarian_Cagar_Budaya_dan_Permuseuman.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Cagar budaya Indonesia
KategoriSitus
No. Regnas188.45/244/KPTS-BUP/2019
Lokasi
keberadaan
Siguntur, Sitiung, Dharmasraya, Sumatera Barat
Tanggal SK12 Juli 2019
PemilikPemerintah Kabupaten Dharmasraya
PengelolaBalai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Kementerian Kebudayaan
Kompleks Candi Padangroco di Sumatera Barat
Percandian Padang Roco
Percandian Padang Roco
Lokasi di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat

Kompleks Candi Padangroco adalah salah satu situs budaya yang berada di daerah aliran Sungai Batanghari, tepatnya di Jorong Sungai Langsat (Sei Langsek).[1] Situs ini dahulunya termasuk dalam wilayah Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung. Namun, setelah adanya pemekaran, kini berada di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Situs ini termasuk peninggalan kerajaan bercorak Buddha di Dharmasraya, dan sebagai bukti kejayaan peninggalan Kerajaan Melayu atau Swarnabhumi, yang beribu kota di Dharmasraya pada abad 3 SM s.d 14 Masehi.[2]

Secara keseluruhan, Kompleks Candi Padangroco terbuat dari susunan bata dan terdiri dari 4 candi lainnya, tiga di antaranya telah selesai digali dan dipugar yaitu Candi Padangroco I, Candi Padangroco II dan Candi Padangroco III.

Sejarah

Pada tahun 1286-1347 Masehi, wilayah Dharmasraya pernah menjadi pusat pemerintahan dan ibu kota Kerajaan Malayu dan telah diakui oleh para sarjana sejarah dan arkeologi. Keberadaan percandian Padangroco saat itu menunjukkan wilayah Dharmasraya pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena itu dibuatlah candi-candi sebagai sarana ibadah raja, keluarga dan rakyatnya. Daerah Sungai Langsat (Sei Langsek) tempat ditemukannya candi ini juga merupakan lokasi ditemukannya lapik arca Amoghapasa.[3]

Verkerk Pistorius adalah orang yang pertama kali melaporkan keberadaan candi di Padangroco saat ia melakukan penelitian kepurbakalaan di daerah aliran Sungai Batanghari pada awal 1860-an. L.C. Westenenk, seorang controleur berkebangsaan Belanda mengadakan survei dan pemetaan di daerah penemuan candi di Padangroco. Berdasarkan temuannya, di daerah tersebut terdapat sisa-sisa bangunan candi bata yang berbentuk gundukan. Gundukan itu dinamai munggu oleh penduduk setempat.

Pada tahun 1991, di daerah Provinsi Sumatera Barat dilakukan peneitian epigrafi dan arsitektur oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Penelitian tersebut dilanjutkan pada tahun 1992 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Provinsi Sumatera Barat dan Riau dengan melakukan survei pendataan arkeologi DAS Batanghari, dan ekskavasi Candi Sungai Langsat (Candi Padangroco). Hingga situs itu ditinjau dan didata ulang oleh tim Pusat Arkeologi Nasional yang sedang mengadakan penelitian di daerah Rao, di Kabupaten Pasaman pada Mei 2014.[4]

Kompleks Candi

Kompleks Candi Padangcoro terdiri dari empat candi, yang tiga di antaranya telah selesai dipugar. Candi-candi tersebut yaitu:[1]

Candi Padangroco I

Candi Padangroco I adalah candi terbesar dibandingkan dengan tiga candi yang lainnya dan menjadi candi induk. Candi ini berukuran 21 x 21 meter dengan bentuk denah bujursangkar. Struktur bata di bagian sisi kaki candi yang tersisa memiliki ketinggian sekitar 90 cm dan terdiri atas 22–26 lapis bata. Bagian tengah candi berisi tanah urugan dengan ketinggian sekitar 3 meter. Lapisan fondasi untuk bagian kaki candi terdiri dari campuran pasir dengan kerikil dan kerakal batu setebal 80 cm.

Candi induk ini berorientasi pada arah baratdaya-timurlaut dengan azimut 30º dari arah utara-selatan. Selain itu, Candi Padangroco I memiliki tangga yang terletak di sisi kaki candi baratdaya. Candi tersebut sekarang sudah dalam keadaan dipugar.

Candi Padangroco II

Candi Padangroco II merupakan candi perwara dari Candi Padangroco I dan terbuat dari konstruksi susunan bata. berdenah bujur sangkar, berukuran 4, 40 x 4,40 m. Kaki candi berukuran 4,40 x 4,40 m, berdenah bujursangkar dengan tinggi yang tersisa sekarang sekitar 1,28 m. Bangunan candi berorientasi ke baratdaya–timurlaut dengan pintu masuk dan tangga yang menjadi arah hadap di sisi barat.

Candi Padangroco III

Candi Padangroco III terbuat dari susunan bata seperti candi lainnya dengan bentuk memanjang pada arah baratdaya-timurlaut dengan azimut sekitar 10º dari arah utara-selatan. Candi ini terdiri atas dua bangunan. Bangunan pertama merupakan candi dengan denah bujursangkar dan berukuran sekitar 8,50 x 8,50 m. Bangunan kedua adalah maṇḍapa dengan ukuran 13,50 x 8,50 m dan berdenah empat persegi panjang. Kedua bagian dari Candi Padangroco III tampak seolah menyatu berukuran 22 x 8,50 m. Seharusnya terdapat sisa tangga atau pintu di sisi baratdaya kedua bangunan tersebut, tetapi tidak dapat ditemukan.

Temuan lain di sekitar candi

Di sekeliling candi ditemukan parit kuno dari arah barat menyambung ke utara dan berakhir di sisi timur yang bermuara ke Sungai Batanghari. Menurut temuan BPCB Sumbar, bagian ujung parit sudah hampir rata dengan permukaan tanah, sehingga sulit dikenali lagi. Sedangkan parit sisi utara masih dapat ditemukenali, walaupun sekarang sudah menjadi jalan kerbau sebagian, tetapi parit beserta tanggulnya relatif masih baik.[5]

Parit di bagian timur candi yang membujur baratlaut-tenggara menembus kolam, yang sekarang menjadi sawah penduduk (sawah tabek) dengan lebar sawah sekitar 20 – 40 m. Di ujung tenggara candi, terdapat kolam bercabang ke arah utara dan selatan membentuk huruf T. Terdapat juga parit yang mengarah ke timur, menuju bukit Giring dengan tinggi kurang lebih 176 cm di timur Jorong Koto Lamo di tepi kelokan Sungai Batanghari. Lebar parit tersebut antara 4–8 m dan kedalaman 1–5 m.

Galeri

  • Candi Padangroco I
    Candi Padangroco I
  • Candi Padangroco II
    Candi Padangroco II
  • Candi Padangroco III
    Candi Padangroco III

Referensi

  1. 1 2 PCBM, Dit (2018-03-27). "Kompleks Candi Padangroco | Direktorat Pelindungan Kebudayaan". Diakses tanggal 2025-01-23.
  2. ↑ "Dharmasraya Memiliki Candi Roco dan Sawah". www.harianhaluan.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-23. Diakses tanggal 2019-02-22.
  3. ↑ "CANDI PADANG ROCO - Pemerintah Kabupaten Dharmasraya". Pemerintah Kabupaten Dharmasraya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Diakses tanggal 2019-02-22.
  4. ↑ Hasan Djafar, (2014), Kompleks Candi Padangroco, editor., Ramelan, Wiwin Djuwita,. Candi Indonesia. ISBN 9789798250484. OCLC 897346793.{{cite book}}: |last= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)Halaman: 91-92
  5. ↑ bpcbsumbar (2017-12-07). "Candi Padangroco di Kerajaan Melayu Dharmasraya". Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-02-22.

Lihat pula

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Candi Padangroco.
Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan