Minggu, 04 Oktober 2026
16:51 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Achmad Soebardjo

Achmad Soebardjo

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Achmad Soebardjo
Achmad-Soebardjo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Menteri Luar Negeri Indonesiake-1
Masa jabatan
2 September 1945 –14 November 1945
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada (jabatan baru)
PenggantiSutan Syahrir
Masa jabatan
4 Agustus 1951 –20 Desember 1952
PresidenSoekarno
PendahuluMohamad Roem
PenggantiWilopo
Informasi pribadi
LahirTeuku Abdul Manaf atau Raden Ahmad Soebardjo Djojoadisoerjo
(1896-03-23)23 Maret 1896
Meninggal15 Desember 1978(1978-12-15) (umur 82)
Jakarta, Indonesia
Suami/istriRaden Ayu Poedji Astuti Soebardjo
PendidikanUniversitas Leiden
ProfesiDiplomat
Tanda tangan

Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo atau Teuku Abdul Manaf (23 Maret 1896 – 15 Desember 1978) adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Achmad Soebardjo memiliki gelar Meester in de Rechten (Mr.) yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

Masa kecil dan remaja

Achmad Soebardjo dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Keresidenan Batavia, pada 23 Maret 1896. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf,[1] masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kakek Achmad Soebardjo dari pihak ayah adalah Ulee Balang dan ulama di wilayah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf adalah pegawai pemerintahan dengan jabatan Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe, Karawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah. Ia keturunan Jawa-Bugis,[1] dan merupakan anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.

Ayahnya mulanya memberinya nama Teuku Abdul Manaf, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo.[1] Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena "Peristiwa 3 Juli 1946".[2]

Mengikuti ayahnya yang merupakan seorang Pamong Praja di Batavia, pada tahun 1903, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Kwitang yang kemudian pindah ke ELS B Schoolweg di dekat daerah Pasar Baru. Ia kemudian melanjutkan sekolahnya ke HBS Prins Hendrik School, namun pada tahun 1909 pindah ke HBS Koning Willem (KW) III di Salemba karena tidak ingin menjadi seorang pedagang atau perwira kapal. Ia akhirnya berhasil lulus HBS V pada tahun 1917. Soebardjo awalnya ingin untuk melanjutkan pendidikan hukum, namun karena situasi Eropa sedang perang dan tidak adanya sekolah hukum di Batavia, ia memutuskan untuk bergabung ke Tri Koro Dharmo (cikal bakal Jong Java) selama periode 1917–1919. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1917 dan memperoleh sarjana muda pada tahun 1922. Ijazah Meester in de Rechten (di masanya setara dengan magister hukum) di bidang undang-undang baru ia raih pada tahun 1933.[3]

Perjuangan saat mahasiswa

Semasa masih menjadi mahasiswa, Soebardjo aktif dalam memperjuangkan nasionalisme Indonesia melalui organisasi Indische Vereeniging. Ia menjadi Ketua Indische Vereeniging (sebelum berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) untuk periode 1919-1921. Ia juga terlibat dalam berbagai orientasi filsafat, kebudayaan, sejarah, dan kesusastraan. Di bidang hukum, ia terlibat dalam seminar hukum internasional di Peace Palace, Hague 1922-1923. Puncaknya, Soebardjo menjadi salah satu anggota delegasi untuk Kongres Anti Imperialis di Brussels pada tanggal 10-15 Februari 1927 bersama Mohammad Hatta (ketua), Semaun, Gatot Tarunamihardja, dan Muhammad Nazir Datuk Pamoentjak.[4] Kongres ini kemudian membentuk League Against Imperialism and For National Independence yang menyebabkan keempat orang selain Soebardjo (karena sedang dalam perjalanan ke Rusia dan Prancis) ditangkap oleh aparat kepolisian Belanda.[5]

Selama menjadi ketua Indische Vereeniging dan sebelum mengundurkan diri pada tahun 1920 karena ketegangan di internal organisasi, Soebardjo memiliki peran besar dalam menanamkan ide dan arah politik yang kemudian mendorong perubahan nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Selama masa kepemimpinannya, ia menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa harus mengarah pada kemerdekaan Indonesia, bukan hanya kegiatan sosial. Ia juga memperkenalkan istilah “Indonesia” secara konsisten dalam diskusi, tulisan, dan komunikasi organisasi, jauh sebelum nama itu resmi digunakan. Meskipun ia tak lagi menjadi ketua PI pada tahun 1925, Soebardjo menjadi pemimpin penerbitan buku Perhimpunan Indonesia ke-15 yang berisi kumpulan karangan mahasiswa Indonesia di Belanda.

  • Beberapa catatan internal organisasi (termasuk testimoni Hatta) menyebut bahwa:

    “Nama Perhimpunan Indonesia adalah kelanjutan alami dari arah politik yang sudah ditanamkan oleh Subardjo dan rekan-rekan sebelum 1925.” (Lihat: Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 1979; Ali Sastroamidjojo, Tonggak-Tonggak di Perjalananku, 1974.) Bulan Februari 1927, ia pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa "Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah" yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman. Pada persidangan pertama itu juga ada Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika.[6] .

Peristiwa Rengasdengklok

Pada tanggal 16 Agustus 1945 Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, Shudanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.[7] Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.

Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.[8] Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.[9] Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.[10] Bahkan Achmad Soebardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 11.30. Dengan adanya jaminan itu, Komandan Kompi Peta Rengasdengklok Cudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Naskah proklamasi

Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda.[11] Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.

Masa setelah kemerdekaan

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun-tahun 1957 - 1961.

Dalam bidang pendidikan, Soebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan, Universitas Indonesia.

Wafat

Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia dalam usia 82 tahun (15 Desember 1978) di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat flu yang menimbulkan komplikasi. Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung, Bogor.[2] Pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009.[12]

Tanda Kehormatan

Referensi

  1. 1 2 3 Bersama Bung Hatta Diarsipkan 2016-03-04 di Wayback Machine., Copyright 2011 TEMPOinteraktif, 26 April 1975. Diakses 7 Februari 2011.
  2. 1 2 Ahmad Subardjo (1896-1978) Diarsipkan 2015-12-22 di Wayback Machine., Copyright 2011 TEMPOinteraktif, 23 Desember 1978. Diakses 7 Februari 2011.
  3. ↑
  4. ↑
  5. ↑
  6. ↑ "Gerakan Nasionalis". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-10-21. Diakses tanggal 2009-11-10.
  7. ↑ "peristiwa rengasdengklok".
  8. ↑ ibid
  9. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-09. Diakses tanggal 2011-11-30.
  10. ↑ "Peran Achmad Subardjo dan Rengasdengklok".
  11. ↑ Media, Kompas Cyber (2022-01-26). "Peran Achmad Soebardjo dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-07-20.
  12. ↑ Yudi, Jandi, John Lie Mendapat Gelar Pahlawan Nasional Diarsipkan 2011-08-18 di Wayback Machine., Sinergi, edisi November 2009, dalam Situs Perhimpunan INTI, Senin, 09 November 2009 18:14. Diakses 2 Februari 2011.
  13. ↑ "Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 1959–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 12 Agustus 2021.
  14. ↑ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
Jabatan politik
Posisi baru Menteri Luar Negeri Indonesia
1945
Diteruskan oleh:
Sutan Sjahrir
Didahului oleh:
Mohammad Roem
Menteri Luar Negeri Indonesia
1951–1952
Diteruskan oleh:
Wilopo
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Alfian Yusuf Helmi
Duta Besar Indonesia untuk Swiss
1957–1961
Diteruskan oleh:
Mohammad Nazir
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Indonesia Anggota BPUPKI
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan