Kamis, 08 Oktober 2026
14:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Tadashi Maeda

Tadashi Maeda

laksamana Jepang (1898-1977)

Bagikan:
Tadashi Maeda
250px-Tadashi-maeda.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tadashi Maeda pada tahun 1942
Lahir(1898-03-03)3 Maret 1898
Kajiki, Kagoshima, Jepang
Meninggal13 Desember 1977 (79 tahun)
Jepang
Pengabdian Kekaisaran Jepang
Dinas/cabang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang
Pangkat40px-Imperial_Japan-Navy-OF-7-collar.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Laksamana Muda

Laksamana Muda Tadashi Maeda (前田 精, Maeda Tadashi, 3 Maret 1898 – 13 Desember 1977 ) adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada masa Perang Pasifik. Sebelum perang, Maeda ditugaskan dalam peran sebagai ajudan, perwira penghubung, dan intelijen di angkatan laut, dengan tugas yang mencakup pembentukan jaringan Jepang di Hindia Belanda. Setelah invasi, saat ditempatkan di Batavia, ia mensponsori sekolah nasionalis Indonesia dan membangun hubungan dengan kalangan nasionalis Indonesia. Maeda memainkan peran penting dalam kemerdekaan Indonesia; ia bertemu dengan Soekarno dan Mohammad Hatta di rumahnya di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 dan rumahnya digunakan untuk menyusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Setelah keluar dari dinas militer, Maeda bekerja di industri minyak.

Masa muda

Maeda lahir di kota Kajiki, Kagoshima pada tanggal 3 Maret 1898. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di sana, dan dia adalah bagian dari keluarga samurai. Dia bergabung dengan Sekolah Tinggi Kelautan pada usia 18 tahun, dengan spesialisasi navigasi, dan dia berpangkat letnan satu pada tahun 1930 ketika dia bergabung dengan Staf Angkatan Laut.[1][2]

Karier

Sebelum awalnya merupakan staf khusus seksi urusan Eropa selama satu setengah tahun, sebelum ditugaskan ke Markas AL Ōminato [en] antara dan isasi dalam hal-hal yanggan Jerman. Istrinya meninggal selama penugasan Maeda, dan sepanjang sisa hidupnya Maeda tetap seorang duda. Maeda ditunjuk menjadi ajudan Laksamana Muda Sonosuke Kobayashi, dan menemaninya ke Britania Raya sebagai bagian kontingen perwakilan Jepang ke koronasi Raja George VI.[1][3] Pada tahun 1940, Maeda ditunjuk menjadi atase AL untuk Belanda, dan setelah Jerman Nazi menyerbu Norwegia dan Denmark, Maeda memperingatkan pemerintah Belanda bahwa Jerman akan menyerbu Belanda selanjutnya.[4]

Pada bulan Oktober 1940, Maeda ditugaskan ke Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) untuk menegosiasikan perjanjian dagang dengan pemerintah kolonial, terutama untuk membeli minyak untuk Jepang. Selain perdagangan, Maeda juga ditugaskan membangun jaringan mata-mata di Indonesia, dengan bantuan warga Jepang sipil seperti Shigetada Nishijima. Maeda dipanggil kembali ke Jepang pertengahan 1941, di mana ia kembali bekerja di seksi urusan Eropa.[1]

250px-Sukarno_Makassar_30_April_1945.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Maeda (baris depan, kedua dari kiri) difoto selama kunjungan Soekarno ke Makassar, 1945

Penjajahan Jepang dan Proklamasi

Saat Jepang menyerbu Hindia Belanda, Maeda ditugaskan untuk mengatur operasi-operasi AL di wilayah Irian Jaya.[5] Setelah invasi usai dan pemerintah kolonial Belanda jatuh, Maeda ditugaskan ke Batavia/Jakarta sebagai penghubung antara AL Jepang dan Angkatan Darat ke-16 Jepang.[1] Sepanjang masa Jepang, Maeda mengizinkan kapal selam Jerman Nazi untuk beroperasi dan transit di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.[6] Seusai diutarakannya janji Koiso yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia oleh perdana menteri Jepang Kuniaki Koiso, Maeda membentuk Asrama Indonesia Merdeka pada bulan Oktober 1944. Maksud asrama ini adalah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin untuk negara Indonesia yang merdeka.[7]

Setelah Jepang dibom atom Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Kekalahan Jepang semakin dekat. Hal ini membangkitkan semangat pemuda Indonesia untuk segera mencapai kemerdekaan. Pada tanggal 12 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat dipanggil oleh Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi di markas besarnya di Dalat (sekarang Ho Chi Minh) di Vietnam. Dalam pertemuan itu, Terauchi berjanji akan memberi bangsa Indonesia kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Radio Asia Raya mengumumkan kekalahan Jepang. Kaisar Jepang, Hirohito menyerah kepada Sekutu. Berita ini kemudian tersebar luas di seluruh kalangan pemuda dan rakyat Indonesia. Mereka ingin pelaksanaan kemerdekaan dilakukan secepat mungkin. Mereka itulah yang termasuk golongan muda. Namun, di sisi lain, golongan tua ingin agar kemerdekaan dilaksanakan sesuai janji Jepang agar menghindari adanya pertumpahan darah.

Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda seperti Sukarni dan Chaerul Saleh menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak mereka segera membacakan proklamasi. Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya semua setuju proklamasi dibacakan di luar janji Jepang yakni 24 Agustus.

Di hari yang sama, para pemuda mengantarkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta untuk segera merumuskan naskah proklamasi. Namun ketika tiba dari Rengasdengklok ke Jakarta, hari sudah larut. Pada pukul 22.00, rombongan tiba di Hotel Des Indes. Mereka akan memesan ruangan untuk dijadikan tempat merumuskan naskah proklamasi. Sayangnya tempat itu sudah tutup. Para pemuda tidak kehabisan akal. Mereka lalu menghubungi seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, Laksamana Maeda. Ia pun mengizinkan rumahnya, yang sekarang beralamat di Jalan Imam Bonjol no.1 untuk dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi dan menjamin keamanan selama rapat karena Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) sehingga rumahnya merupakan ekstateritorial dan harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan darat kekaisaran Jepang / Kempeitai) maka rumah Maeda dianggap aman. Rumah Maeda tersebut kini berubah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Karier Selanjutnya

Pada tahun 1950-an, Maeda, Nishijima, dan Miyoshi menerbitkan memoar yang memuat kisah keterlibatan mereka dalam proklamasi kemerdekaan—meskipun beberapa kontribusi mereka sempat dikecam oleh Sukarno dalam pidatonya pada 17 Agustus 1959 (khususnya, Sukarno menepis tuduhan bahwa Revolusi Nasional Indonesia merupakan buatan Jepang). Baru setahun sebelumnya, Maeda sempat bertemu kembali dengan Sukarno saat sang presiden berkunjung ke Jepang pada tahun 1958.

Terlepas dari hal tersebut, menurut putra Maeda, keduanya tetap menjalin hubungan erat dan Sukarno sempat menjenguk Maeda ketika ia jatuh sakit. Selain itu, pada tahun 1962, menyusul sengketa Irian Barat, Sukarno menerima tawaran Maeda untuk melanjutkan kembali eksplorasi minyak oleh perusahaan-perusahaan Jepang di wilayah Semenanjung Vogelkop. Semasa masih bertugas di militer, Maeda memang telah menyadari potensi produksi minyak di wilayah tersebut. Sebelumnya, Maeda (dan Nishijima) juga telah terlibat dalam ekspor minyak mentah Indonesia melalui Permina (yang kemudian bergabung membentuk Pertamina) serta berpartisipasi dalam usaha patungan dengan sebuah perusahaan yang dikendalikan oleh PKI.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Anderson 2006, hlm. 427.
  2. ↑ The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War: In cooperation with the Netherlands Institute for War Documentation (dalam bahasa Inggris). BRILL. 2009. hlm. 544–545. ISBN 9789004190177.
  3. ↑ Chapman, John (6 April 2011). Ultranationalism in German-Japanese Relations, 1930-1945: From Wenneker to Sasakawa (dalam bahasa Inggris). Global Oriental. hlm. 208. ISBN 978-90-04-21278-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ De Jong, Louis (1969). Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog, Deel 2: Neutraal (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: Rijksinstituut voor Oorlogsdocumentatie. hlm. 254.
  5. ↑ Poulgrain 1999, hlm. 210.
  6. ↑ "Tokoh Ini Lindungi Masuknya Kapal Nazi ke Jakarta". Tempo.co. 12 Desember 2014. Diakses tanggal 3 Oktober 2021.[pranala nonaktif permanen]
  7. ↑ Anderson 2006, hlm. 44.

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan