Jumat, 23 Oktober 2026
13:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal

Taktik militer

Bagikan:
Ilmu dan seni mengorganisasi suatu kekuatan militer dan teknik-tekniknyaTemplat:SHORTDESC:Ilmu dan seni mengorganisasi suatu kekuatan militer dan teknik-tekniknya
Bagian dari seri artikel mengenai
Perang
250px-Gari-Melchers-War-Highsmith.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Taktik militer mencakup seni mengorganisasi dan menggunakan kekuatan tempur di atau dekat medan perang. Taktik melibatkan penerapan empat fungsi medan perang yang saling berkaitan erat, yaitu daya tembak atau kinetik, mobilitas, perlindungan atau keamanan, dan aksi kejut. Taktik merupakan fungsi yang terpisah dari komando dan kendali serta logistik. Dalam ilmu militer kontemporer, taktik merupakan tingkat terendah dari tiga tingkat peperangan, dengan tingkat yang lebih tinggi berupa tingkat strategis dan operasional. Sepanjang sejarah, telah terjadi perubahan keseimbangan antara keempat fungsi taktis tersebut, yang umumnya didasarkan pada penerapan teknologi militer, sehingga satu atau lebih fungsi taktis menjadi dominan selama suatu periode tertentu, biasanya disertai dengan dominasi suatu cabang tempur terkait yang dikerahkan di medan perang, seperti infanteri, artileri, kavaleri, atau tank.[1]

Fungsi taktis

Daya tembak

Dimulai dengan penggunaan senjata jarak dekat dan senjata pelontar seperti gada dan tombak, fungsi daya tembak dalam taktik berkembang seiring dengan kemajuan teknologi sehingga penekanannya beralih dari senjata jarak dekat dan senjata pelontar jarak pendek ke senjata proyektil berjangkauan lebih jauh. Dampak tempur pada umumnya dihasilkan oleh pedang, tombak, lembing, dan busur hingga diperkenalkannya artileri oleh Romawi. Hingga pertengahan abad ke-19, nilai daya tembak senjata pelontar yang digunakan infanteri tidaklah tinggi, yang berarti hasil suatu pertempuran jarang ditentukan oleh daya tembak infanteri saja dan sering kali bergantung pada artileri. Perkembangan tembakan salvo yang disiplin, dilakukan dari jarak dekat, mulai meningkatkan daya hancur infanteri dan sebagian mengompensasi jangkauan yang terbatas, akurasi yang buruk, dan laju tembak yang rendah dari senapan lontak awal. Kemajuan teknologi, khususnya diperkenalkannya senapan lontak beralur yang digunakan dalam Perang Krimea dan Perang Saudara Amerika, menghasilkan lintasan yang lebih datar dan akurasi yang lebih baik pada jarak yang lebih jauh, disertai peningkatan jumlah korban. Peningkatan daya tembak defensif yang dihasilkan membuat serangan infanteri tanpa dukungan artileri semakin sulit dilakukan. Daya tembak juga menjadi sangat penting untuk menahan musuh agar tetap berada di tempatnya sehingga serangan yang menentukan dapat dilakukan. Senapan mesin secara signifikan menambah daya tembak infanteri pada pergantian abad ke-20, sementara daya tembak bergerak yang disediakan oleh tank, artileri swagerak, dan pesawat militer meningkat secara signifikan pada abad berikutnya. Bersama dengan senjata infanteri, tank dan kendaraan lapis baja lainnya, artileri swagerak, senjata berpemandu presisi, dan pesawat menyediakan daya tembak bagi angkatan bersenjata modern.[2]

Mobilitas

Mobilitas, yang menentukan seberapa cepat suatu kekuatan tempur dapat bergerak, selama sebagian besar sejarah manusia dibatasi oleh kecepatan seorang prajurit yang berjalan kaki, bahkan ketika perbekalan dibawa oleh hewan pengangkut. Dengan keterbatasan ini, sebagian besar angkatan bersenjata tidak dapat bergerak lebih dari 32 kilometer (20 mi) per hari, kecuali jika bergerak melalui sungai. Hanya unsur-unsur kecil suatu kekuatan seperti kavaleri atau pasukan ringan yang dilatih secara khusus yang dapat melampaui batas ini. Keterbatasan mobilitas taktis ini bertahan hingga tahun-tahun terakhir Perang Dunia I, ketika kemunculan tank meningkatkan mobilitas secara memadai untuk memungkinkan manuver taktis yang menentukan. Meskipun terdapat kemajuan tersebut, mobilitas taktis sepenuhnya belum tercapai hingga Perang Dunia II, ketika formasi lapis baja dan bermotor meraih keberhasilan yang luar biasa. Namun, unsur-unsur besar angkatan bersenjata pada Perang Dunia II tetap bergantung pada transportasi yang ditarik kuda, yang membatasi mobilitas taktis seluruh kekuatan. Mobilitas taktis dapat dibatasi oleh penggunaan rintangan medan, yang sering kali dibuat oleh insinyur militer.[3]

Perlindungan dan keamanan

Baju zirah pribadi telah digunakan sejak zaman klasik untuk memberikan tingkat perlindungan individual, yang juga diperluas hingga mencakup zirah hewan tunggangan. Keterbatasan baju zirah selalu berupa berat dan ukurannya yang besar, serta dampaknya terhadap mobilitas dan daya tahan manusia maupun hewan. Pada abad ke-18 dan ke-19, baju zirah pribadi sebagian besar ditinggalkan hingga diperkenalkannya kembali helm selama Perang Dunia I sebagai tanggapan terhadap daya tembak artileri. Kendaraan tempur lapis baja berkembang pesat selama Perang Dunia II, dan setelah perang tersebut, baju zirah tubuh kembali digunakan oleh infanteri, khususnya di angkatan bersenjata Barat. Benteng pertahanan, yang telah digunakan sejak zaman kuno, memberikan perlindungan kolektif, dan contoh modernnya mencakup parit pertahanan, barikade jalan, kawat berduri, dan ladang ranjau. Seperti halnya rintangan, benteng pertahanan sering kali dibuat oleh insinyur militer.[3]

Aksi kejut

Aksi kejut merupakan fungsi taktik yang bersifat psikologis sekaligus fisik dan dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penggunaan kejutan. Aksi ini dilakukan oleh serangan infanteri, serta oleh kereta perang, gajah perang, kavaleri, dan kendaraan lapis baja yang memberikan momentum pada serangan. Aksi kejut juga digunakan secara defensif, misalnya melalui hujan anak panah dari pemanah busur panjang Inggris dalam Pertempuran Agincourt pada 1415 yang menyebabkan kuda-kuda ksatria Prancis panik. Selama peperangan modern awal, penggunaan formasi taktis berupa kolom dan barisan memiliki dampak yang lebih besar daripada daya tembak formasi itu sendiri. Selama tahap-tahap awal Perang Dunia II, gabungan daya tembak senapan mesin dan meriam tank Jerman, yang diperkuat oleh tembakan tidak langsung yang akurat dan serangan udara, sering kali menghancurkan unit-unit Sekutu sebelum serangan mereka dimulai, atau menyebabkan mereka kehilangan efektivitas akibat korban di antara para pemimpin unit utama. Baik dalam contoh peperangan modern awal maupun Perang Dunia II, dampak kejut psikologis kumulatif terhadap musuh sering kali lebih besar daripada jumlah korban aktual yang ditimbulkan.[4]

Perkembangan

Perkembangan taktik melibatkan perubahan keseimbangan antara keempat fungsi taktis sejak zaman kuno, dan perubahan dalam daya tembak serta mobilitas menjadi faktor mendasar dalam perubahan tersebut. Berbagai model telah diajukan untuk menjelaskan interaksi antara fungsi-fungsi taktis dan dominasi cabang tempur tertentu selama periode yang berbeda. J. F. C. Fuller mengusulkan tiga "siklus taktis" dalam masing-masing era klasik dan Kristen. Untuk era terakhir, ia mengusulkan siklus "kejutan" antara 650 dan 1450, siklus "kejutan dan proyektil" 1450–1850, dan siklus "proyektil" dari 1850, dalam kaitannya dengan peperangan di Barat dan Amerika Utara.[5] Selama Perang Dunia II, Tom Wintringham mengusulkan enam periode kronologis, yang secara bergantian menempatkan pasukan tanpa lapis baja dan pasukan lapis baja sebagai kekuatan dominan serta menyoroti kecenderungan taktis pada setiap periode.[1]

Perkembangan taktik[6]
Periode Cabang tempur dominan Kecenderungan taktis
Periode tanpa lapis baja pertama
(hingga Pertempuran Plataia (479 SM))
Tidak ada – baik infanteri maupun kavaleri memiliki daya kinetik yang relatif rendah, kereta perang memberikan tingkat aksi kejut tertentuPasukan Mesir, Persia, dan Yunani menjadi lebih terorganisasi dan diperlengkapi dengan lebih baik
Periode lapis baja pertama
(hingga Pertempuran Adrianopel (378))
Infanteri – phalanx dan legiun Romawi, percobaan penggunaan gajah untuk aksi kejut hanya menghasilkan keberhasilan terbatasJumlah pasukan dan korban meningkat secara signifikan, Romawi memperkenalkan artileri pengepungan dan artileri medan
Periode tanpa lapis baja kedua
(hingga kemenangan Charlemagne di Pavia (774))
Kavaleri ringan – pemanah berkuda dan aksi kejut mengalahkan infanteriMobilitas mendominasi hingga terhenti oleh kavaleri lapis baja
Periode lapis baja kedua
(hingga pertempuran Morgarten (1315), Crécy (1346), dan Battle of Ravenna (1512))
Kavaleri berat – dimungkinkan oleh diperkenalkannya sanggurdi dan baju zirahBiaya membatasi jumlah kavaleri lapis baja, infanteri Swiss yang dipersenjatai dengan halberd dan pemanah busur panjang Inggris menyeimbangkan kembali keadaan
Periode tanpa lapis baja ketiga
(hingga Pertempuran Cambrai (1917))
Infanteri – dengan daya tembak yang terus meningkatSenjata gabungan, dengan daya tembak artileri menjadi dominan
Periode lapis baja ketiga
(hingga sekarang)
Pasukan lapis baja memulihkan mobilitasSenjata gabungan lapis baja dilawan oleh pesawat militer dan senjata antiranjau?

Tembakan salvo massal oleh para pemanah menempatkan daya tembak infanteri sebagai unsur utama dalam peperangan Jepang pada paruh kedua abad ke-13, mendahului kebangkitan pemanah busur panjang Inggris.[7] Mobilitas dan aksi kejut pasukan Oirat Mongol dalam Pertempuran Tumu pada 1449 menunjukkan bahwa kavaleri masih dapat mengalahkan kekuatan infanteri yang besar.[8] Baik dalam tradisi peperangan Eropa maupun Timur, kemunculan bubuk mesiu selama akhir Abad Pertengahan dan periode modern awal menghasilkan pergeseran yang terus-menerus sehingga daya tembak infanteri menjadi cabang yang "menentukan, jika bukan dominan" di medan perang,[9] yang dicontohkan oleh dampak signifikan arkebusier massal pada Pertempuran Nagashino pada 1575.[10]

Taktik senjata gabungan

Sinkronisasi berbagai cabang tempur untuk mencapai misi taktis dikenal sebagai taktik senjata gabungan. Salah satu metode untuk mengukur efektivitas taktis adalah sejauh mana berbagai cabang tersebut, termasuk penerbangan militer, terintegrasi di medan perang. Prinsip utama taktik senjata gabungan yang efektif adalah bahwa untuk mencapai potensi maksimal, semua unsur dalam tim senjata gabungan harus memiliki tingkat mobilitas yang sama, serta daya tembak dan perlindungan yang memadai. Sejarah perkembangan taktik senjata gabungan dipenuhi oleh pelajaran yang mahal dan menyakitkan. Sebagai contoh, sementara para komandan Jerman pada Perang Dunia II memahami dengan jelas sejak awal prinsip utama taktik senjata gabungan yang diuraikan di atas, para komandan Inggris terlambat menyadari hal tersebut. Taktik senjata gabungan yang berhasil mengharuskan berbagai cabang tempur berlatih bersama dan memahami kemampuan satu sama lain.[11]

Dampak kekuatan udara

Dimulai pada tahap-tahap akhir Perang Dunia I, kekuatan udara membawa perubahan signifikan terhadap taktik militer. Perang Dunia II menyaksikan perkembangan dukungan udara jarak dekat yang sangat meningkatkan dampak pasukan darat melalui penggunaan daya tembak udara serta peningkatan pengintaian taktis dan interdiksi kekuatan udara musuh. Hal tersebut juga memungkinkan pasokan pasukan darat melalui udara, yang berhasil dilakukan oleh Inggris selama Kampanye Burma tetapi gagal dilakukan oleh Jerman dalam Pertempuran Stalingrad. Setelah Perang Dunia II, pesawat sayap putar memberikan dampak signifikan terhadap daya tembak dan mobilitas, serta menjadi cabang tempur tersendiri dalam banyak angkatan bersenjata. Pesawat, terutama yang beroperasi pada ketinggian rendah atau menengah, tetap rentan terhadap sistem pertahanan udara berbasis darat serta pesawat lainnya.[11]

Operasi penerjun payung dan glider militer, serta pesawat sayap putar, telah memberikan mobilitas yang signifikan kepada pasukan darat, tetapi berkurangnya mobilitas, perlindungan, dan daya tembak pasukan yang diterjunkan melalui udara setelah mendarat telah membatasi kegunaan taktis pengepungan vertikal atau operasi serangan udara tersebut. Hal ini ditunjukkan selama Operation Market Garden pada September 1944, dan selama Perang Vietnam, dalam kasus terakhir meskipun terdapat tambahan daya tembak yang disediakan oleh helikopter serang dan kemampuan untuk dengan cepat mengevakuasi korban melalui evakuasi aeromedis.[12]

Konsep

Berkas:Disguisetactics.jpg
Jerman Perang Dunia I pos pengamatan yang disamarkan sebagai pohon.

Taktik militer menjawab pertanyaan mengenai cara terbaik untuk menempatkan dan menggunakan pasukan dalam skala kecil.[13] Beberapa praktik tidak berubah sejak awal peperangan: serangan, penyergapan, pertempuran kecil, manuver mengepung sisi, pengintaian, menciptakan dan menggunakan rintangan serta pertahanan, dan sebagainya. Pemanfaatan medan secara maksimal juga tidak banyak berubah. Ketinggian, sungai, rawa, celah, titik sempit, dan perlindungan alami semuanya dapat digunakan dengan berbagai cara. Sebelum abad ke-19, banyak taktik militer terbatas pada persoalan medan perang: bagaimana melakukan manuver unit selama pertempuran di medan terbuka. Saat ini, taktik khusus tersedia untuk berbagai situasi, misalnya untuk mengamankan sebuah ruangan di dalam bangunan.

Taktik menentukan bagaimana prajurit dipersenjatai dan dilatih. Dengan demikian, teknologi dan masyarakat memengaruhi perkembangan jenis prajurit atau pejuang sepanjang sejarah: hoplite Yunani, legioner Romawi, ksatria abad pertengahan, pemanah berkuda Turki-Mongol, pemanah busur silang Tiongkok, atau pasukan kavaleri udara. Masing-masing—dibatasi oleh persenjataan, logistik, dan kondisi sosial—akan menggunakan medan perang secara berbeda, tetapi biasanya berusaha mencapai hasil yang sama melalui penggunaan taktik. Perang Dunia Pertama memaksa terjadinya perubahan besar dalam taktik karena kemajuan teknologi membuat taktik sebelumnya tidak lagi berguna.[14] Perubahan teknologi dapat membuat taktik yang ada menjadi usang, sementara perubahan sosiologis dapat menggeser tujuan dan metode peperangan, sehingga memerlukan taktik baru. Taktik militer diadaptasi dan diinovasi untuk menghindari kekalahan.[15]

Taktik "zona abu-abu" juga semakin banyak digunakan. Taktik ini mencakup "segala sesuatu mulai dari diplomasi dengan tekanan dan pemaksaan ekonomi, hingga manipulasi media dan serangan siber, serta penggunaan pasukan paramiliter dan pasukan proksi". Istilah "zona abu-abu" berasal dari ambiguitas antara pertahanan dan serangan, serta antara pemeliharaan perdamaian dan upaya perang.[16]

Lihat juga

Catatan

  1. 1 2 Holmes et al. 2001, hlm. 893–894.
  2. ↑ Holmes et al. 2001, hlm. 894–895.
  3. 1 2 Holmes et al. 2001, hlm. 895.
  4. ↑ Holmes et al. 2001, hlm. 895–896.
  5. ↑ Holmes et al. 2001, hlm. "Introduction".
  6. ↑ Holmes et al. 2001, hlm. 894.
  7. ↑ Haskew et al. 2008, hlm. 17.
  8. ↑ Haskew et al. 2008, hlm. 12–17.
  9. ↑ Haskew et al. 2008, hlm. 7–8.
  10. ↑ Haskew et al. 2008, hlm. 54–62.
  11. 1 2 Holmes et al. 2001, hlm. 896.
  12. ↑ Holmes et al. 2001, hlm. 896–897.
  13. ↑ Rogers, Clifford J. (2006). "Strategy, Operational Design, and Tactics". Dalam Bradford, James C. (ed.). International Encyclopedia of Military History. New York: Routledge.
  14. ↑ Paddy Griffith (1994). Battle Tactics of the Western Front: The British Army's Art of Attack, 1916–18. Yale University Press. hlm. 20.
  15. ↑ Farrell, Theo (2010). "Improving in War: Military Adaptation and the British in Helmand Province, Afghanistan, 2006–2009". Journal of Strategic Studies. 33 (4): 567–594. doi:10.1080/01402390.2010.489712. ISSN 0140-2390. Diakses tanggal 9 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Bowman, Bradley; Gabel, Andrew (7 November 2019). "Deeper Partnership With Israel Can Help U.S. Solve Defense Dilemma". FDD.org (dalam bahasa Inggris). Foundation for the Defense of Democracies.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bibliografi

Bacaan lebih lanjut

  • Johnson, Rob; Whitby, Michael; France, John (2010). How to win on the battlefield : 25 key tactics to outwit, outflank, and outfight the enemy. Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-25161-4.
  • Muhm, Gerhard. "German Tactics in the Italian Campaign". Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 27 September 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Gerhard Muhm : La Tattica nella campagna d’Italia, in Linea Gotica Avamposto Dei Balcani, (Hrsg.) Amedeo Montemaggi – Edizioni Civitas, Roma 1993.

Pranala luar

Templat:Military and war Templat:Military tactics

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan