Minggu, 11 Oktober 2026
18:51 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Perang preventif

Bagikan:
Bagian dari seri artikel mengenai
Perang
250px-Gari-Melchers-War-Highsmith.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Perang preventif adalah perang atau aksi militer yang dimulai untuk mencegah pihak terlibat atau netral memiliki kemampuan untuk menyerang. Pihak yang kalah perang menyimpan ancaman tersembunyi atau menunjukkan melalui gerak-geriknya bahwa pihaknya berkeinginan membalas dendam. Perang preventif bertujuan untuk mencegah pergeseran keseimbangan kekuasaan[1] dengan cara menyerang secara strategis sebelum keseimbangan kekuasaan bergeser ke pihak lawan. Perang preventif berbeda dengan perang preemtif, yang merupakan serangan pertama yang dilancarkan sebelum musuh menyerang.[1]

Sebagian besar ahli sepakat bahwa serangan preventif yang dilakukan tanpa persetujuan PBB adalah ilegal di bawah kerangka modern hukum internasional.[2][3][4] Robert Delahunty dan John Yoo dari pemerintahan George W. Bush menyatakan dalam diskusi tentang Doktrin Bush bahwa standar-standar ini tidak realistis..[5]

Contoh

Blok Poros dalam Perang Dunia II secara rutin menyerbu negara-negara netral dengan alasan mencegah peperangan, dan memulai invasi ke Polandia pada tahun 1939 dengan mengklaim bahwa Polandia telah menyerang pos perbatasan terlebih dahulu. Pada tahun 1940, Jerman menginvasi Denmark dan Norwegia, beralasan Britania kemungkinan memanfaatkan negara-negara tersebut sebagai titik peluncuran serangan, atau menghalangi pemasokan bahan baku ke Jerman. Pada musim panas 1941, Jerman menginvasi Uni Soviet, memicu perang darat sengit dan brutal dengan alasan memberantas konspirasi Yahudi-Bolshevik yang mengancam Reich. Pada akhir 1941, Britania dan Soviet menyerbu Iran dalam rangka mengamankan pasokan bensin ke Uni Soviet. Shah Iran meminta bantuan Presiden AS Franklin D. Roosevelt, tetapi ditolak dengan alasan "pergerakan pendudukan Jerman akan terus berlanjut dan akan meluas ke Asia, Afrika, dan bahkan ke Amerika, kecuali dihentikan. oleh kekuatan militer."[6]

Referensi

  1. 1 2 Taming American Power, Stephen M. Walt, pp 224
  2. ↑ Beinart, Peter (2017-04-21). "How America Shed the Taboo Against Preventive War". The Atlantic (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-03-13.
  3. ↑ Warren, Aiden; Bode, Ingvild (2014), Warren, Aiden; Bode, Ingvild (ed.), "Self-Defense in International Law: Preemptive/Preventive Requisites", Governing the Use-of-Force in International Relations: The Post 9/11 US Challenge on International Law, New Security Challenges Series (dalam bahasa Inggris), Palgrave Macmillan UK, hlm. 23–45, doi:10.1057/9781137411440_3, ISBN 9781137411440{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  4. ↑ Suzanne Uniacke (2007), "The False Promise of Preventive War", dalam Henry Shue; David Rodin (ed.), Preemption: military action and moral justification, Oxford UP, hlm. 88
  5. ↑ The "Bush Doctrine": Can Preventive War be Justified, Robert J. Delahunty & John Yoo Diarsipkan 2013-05-15 di Wayback Machine
  6. ↑ Sunrise at Abadan, Stewart Richard pp 94–108

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan