Senin, 21 September 2026
05:46 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Perang preventif

Bagian dari seri artikel mengenai
Perang

Perang preventif adalah perang atau aksi militer yang dimulai untuk mencegah pihak terlibat atau netral memiliki kemampuan untuk menyerang. Pihak yang kalah perang menyimpan ancaman tersembunyi atau menunjukkan melalui gerak-geriknya bahwa pihaknya berkeinginan membalas dendam. Perang preventif bertujuan untuk mencegah pergeseran keseimbangan kekuasaan[1] dengan cara menyerang secara strategis sebelum keseimbangan kekuasaan bergeser ke pihak lawan. Perang preventif berbeda dengan perang preemtif, yang merupakan serangan pertama yang dilancarkan sebelum musuh menyerang.[1]

Sebagian besar ahli sepakat bahwa serangan preventif yang dilakukan tanpa persetujuan PBB adalah ilegal di bawah kerangka modern hukum internasional.[2][3][4] Robert Delahunty dan John Yoo dari pemerintahan George W. Bush menyatakan dalam diskusi tentang Doktrin Bush bahwa standar-standar ini tidak realistis..[5]

Contoh

Blok Poros dalam Perang Dunia II secara rutin menyerbu negara-negara netral dengan alasan mencegah peperangan, dan memulai invasi ke Polandia pada tahun 1939 dengan mengklaim bahwa Polandia telah menyerang pos perbatasan terlebih dahulu. Pada tahun 1940, Jerman menginvasi Denmark dan Norwegia, beralasan Britania kemungkinan memanfaatkan negara-negara tersebut sebagai titik peluncuran serangan, atau menghalangi pemasokan bahan baku ke Jerman. Pada musim panas 1941, Jerman menginvasi Uni Soviet, memicu perang darat sengit dan brutal dengan alasan memberantas konspirasi Yahudi-Bolshevik yang mengancam Reich. Pada akhir 1941, Britania dan Soviet menyerbu Iran dalam rangka mengamankan pasokan bensin ke Uni Soviet. Shah Iran meminta bantuan Presiden AS Franklin D. Roosevelt, tetapi ditolak dengan alasan "pergerakan pendudukan Jerman akan terus berlanjut dan akan meluas ke Asia, Afrika, dan bahkan ke Amerika, kecuali dihentikan. oleh kekuatan militer."[6]

Referensi

  1. 1 2 Taming American Power, Stephen M. Walt, pp 224
  2. Beinart, Peter (2017-04-21). "How America Shed the Taboo Against Preventive War". The Atlantic (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-03-13.
  3. Warren, Aiden; Bode, Ingvild (2014), Warren, Aiden; Bode, Ingvild (ed.), "Self-Defense in International Law: Preemptive/Preventive Requisites", Governing the Use-of-Force in International Relations: The Post 9/11 US Challenge on International Law, New Security Challenges Series (dalam bahasa Inggris), Palgrave Macmillan UK, hlm. 23–45, doi:10.1057/9781137411440_3, ISBN 9781137411440{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  4. Suzanne Uniacke (2007), "The False Promise of Preventive War", dalam Henry Shue; David Rodin (ed.), Preemption: military action and moral justification, Oxford UP, hlm. 88
  5. The "Bush Doctrine": Can Preventive War be Justified, Robert J. Delahunty & John Yoo Diarsipkan 2013-05-15 di Wayback Machine.
  6. Sunrise at Abadan, Stewart Richard pp 94–108

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan