Senin, 21 September 2026
00:02 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Kalulis

Kalulis

Perahu tak berlunas dari Indonesia Timur

"Prahu kalulis" beralih ke halaman ini. Untuk perahu yang digunakan kerajaan Majapahit, lihat Kelulus.
250px-Kalulis_sketch.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah sketsa Alfred Wallace, sebuah kalulis yang digunakan Tim Severin.

Kalulis merupakan jenis perahu tradisional dari Indonesia bagian timur. Ia terutama dibangun di Kepulauan Kei, arah tenggara dari pulau Seram. Perahu ini kebanyakan digunakan untuk transportasi antarpulau, tetapi mereka tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh antara Maluku, Sulawesi, dan Jawa.[1] Ia juga dikenal sebagai perahu kalulis, ang kalulis, kalulus, dan kulis.[2]

Deskripsi

Perahu-perahu ini cukup dangkal dan lebar, dan dilengkapi dengan sistem layar tanja pada 1 atau 2 tiang,[3] mungkin di tiang tripod.[2] Ia dikemudikan menggunakan kemudi lateral ganda, dan memiliki sebuah rumah geladak.[3] Perahu-perahu ini memiliki pasak internal dan memiliki lug (kupingan) pada semua papan.[4] Di masa lalu, mereka diikat bersama-sama menggunakan serat melalui lug berukir pada interior papan, tetapi teknik ini telah menghilang di pulau Kei selama 1940-an. Panjangnya antara 4,5–14 m, dengan rasio lebar-ke-panjang bervariasi antara 1:2,33 hingga 1:3. Kedalaman rata-rata kalulis dengan panjang 5,25–7,5 m adalah 1,3 m.[5]

250px-Kalulis_sketch_left-back.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Alfred Wallace dilihat dari samping buritan.

Sejak 1945, mereka telah dilengkapi dengan rusuk kayu (gading) dan memiliki 5-8 papan. Bahan perahu modern berbeda dari perahu lama: Tali yang awalnya terbuat dari sabut kelapa (tali utis) dan gemutu (tali nauk) digantikan dengan tali polipropilena. Layar yang terbuat dari anyaman daun sagu atau karoro (kain goni, sorat pisang dari Jawa), sekarang dibuat dengan kapas atau kain polipropilena, kadang-kadang dengan lembaran polietilena.[6] Perahu modern menggunakan sistem layar gap dan gunter (layar nade). Kemudi lateral ganda (cangkilan) umumnya telah digantikan oleh kemudi tengah.[7] Karena mereka tak memiliki lunas, stabilitas adalah masalah, sehingga mereka tidak cocok untuk pelayaran antara pulau-pulau utama di Indonesia.[3]

Peran

Mereka digunakan untuk perjalanan jarak menengah antara Geser, Gorom, Watubela, Teor, Kei, Tayandu, Aru, dan pesisir Papua. Perahu-perahu ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan kargo, dan kadang-kadang untuk memancing, berburu kura-kura, dan mengumpulkan agar-agar. Perahu-perahu ini adalah andalan tradisional untuk perdagangan sagu antar pulau.[6]

Replika

  • Salah satu replika kalulis yang dibangun oleh Tim Severin bernama Alfred Wallace. Perahu ini digunakan dalam "The Spice Islands Voyage", petualangan terakhir Severin, menghidupkan kembali petualangan naturalis Alfred Russel Wallace di Nusantara. Perahu 14 meter itu jauh lebih kecil daripada yang biasanya digunakan oleh Wallace. Severin memang memiliki beberapa adaptasi modern: Sistem komunikasi satelit, generator angin dan motor sembilan tenaga kuda untuk keadaan darurat.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. Ellen, R. F. (2003). On the Edge of the Banda Zone: Past and Present in the Social Organization of a Moluccan Trading Network. University of Hawaii Press. hlm. 157. ISBN 9780824826765.
  2. 1 2 Lundberg, Anita (2003). "Time Travels in Whaling Boats". Journal of Social Archaeology. 3: 312–333.
  3. 1 2 3 4 Severin, Tim (1999). The Spice Islands Voyage: The Quest for Alfred Wallace, The Man Who Shared Darwin's Discovery of Evolution. Da Capo Press. ISBN 978-0786707218.
  4. Aglionby, J. (1991). Oxford University Expedition to Kei Kecil, Maluku Tenggara, Indonesia, 1990. Oxford: Aglionby.
  5. Ellen (2003). p.154.
  6. 1 2 Ellen (2003). p.157.
  7. Ellen (2003). p.158.

Bacaan lanjutan

  • Ellen, R. F. (2003). On the Edge of the Banda Zone: Past and Present in the Social Organization of a Moluccan Trading Network. University of Hawaii press. ISBN9780824826765.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan