Senin, 21 September 2026
11:30 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Chialoup

Chialoup

Tipe kapal dagang dari Hindia Belanda

250px-Het_Gezicht_van_Cheribon_1775_cropped_chialoup.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah chialoup di Cirebon, 1775.

Chialoup (atau chaloup) adalah sejenis selup yang digunakan di Hindia Timur. Ia adalah hasil dari teknologi dan teknik pembuatan kapal barat (Belanda) dan Nusantara (Indonesia). Banyak dari "kapal-perahu" ini diproduksi di galangan kapal VOC di Rembang dan Juwana, di mana sebagian besar pekerja adalah orang Jawa lokal. Chialoup digunakan oleh VOC dan pedagang-pelaut swasta yang berasal dari barat dan Nusantara.

Deskripsi

250px-Javaanse_prauw_met_twee_stuurriemen%2C_NG-1985-7-2-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perahu Jawa dengan 2 kemudi.

Layar chialoup meniru layar yang digunakan pada selup, yang merupakan kombinasi dari layar persegi dengan jenis layar fore-and-aft yang dipasang secara umum. Perahu-perahu itu biasanya memiliki satu tiang, kadang-kadang ditambahkan dengan tiang buritan.[1]:34 Meskipun sebagian besar chialoup ini menggunakan setir tengah bergaya Eropa, beberapa dari mereka dilengkapi dengan dua kemudi samping (quarter rudder), sebuah ciri khas kapal Nusantara. Panjangnya antara 15 hingga 25 m, dengan ruang kargo mencapai hampir 6 m panjangnya. Tergantung pada ukurannya, krunya berjumlah di antara 20 dan 40 orang. Kapasitas muatan adalah 40–80 last (72,4–144,8 metrik ton).[2] Dalam catatan syahbandar Malaka bahkan ada chialoup yang mengangkut hingga 200 ton kargo dan 75 awak.[3] Chialoup rata-rata dipersenjatai 4 meriam, 1 meriam putar, and 7 senapan.[4]

Pada era setelah 1820 chialoup secara bertahap menghilang dari "Daftar Kapal dan Kendaraan Laut dari Hindia Belanda" yang secara berkala diterbitkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan istilah chialoup di surat kabar menjadi lebih jarang muncul, sebaliknya mereka digantikan dengan kotter, perkataan Belanda untuk suatu jenis selup.[5]:37[6]:434,444[7]:42

Lihat juga

Referensi

  1. Knaap, Gerrit (1996). Shallow Waters, Rising Tide. Leiden: Brill. ISBN 978-90-67-18102-0.
  2. Groenewegen, G. (1789). Verzameling van vier en tachtig stuks Hollandsche schepen : geteekend en in koper gebragt. Rotterdam: J. van den Brink.
  3. Lee, Kam Hing (1986): 'The Shipping Lists of Dutch Melaka: A Source for the Study of Coastal Trade and Shipping in the Malay Peninsula During the 17th and 18th Centuries', in Mohd. Y. Hashim (ed.), Ships and Sunken Treasure (Kuala Lumpur: Persatuan Muzium Malaysia), hal. 53-76.
  4. Knaap, Gerrit (1999). "Shipping and Trade in Java, c. 1775: A Quantitative Analysis". Modern Asian Studies. 33: 405–420.
  5. Bruijn Kops, G.F. de (1854): 'Iets over de Zeevaart in den Indischen Archipel', Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indië, 1, 21-69.
  6. Bruyn Kops, G.F. de (1921): 'Vaartuigen', in D.G. Stibbe and C. Spat (eds.), Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (5; ‘sGravenhage: Nijhoff), 422-446
  7. Liebner, Horst H. (2016). Beberapa Catatan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara. Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture.

Bacaan lebih lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan