Jumat, 06 November 2026
13:52 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Chialoup

Chialoup

Tipe kapal dagang dari Hindia Belanda

Bagikan:
250px-Het_Gezicht_van_Cheribon_1775_cropped_chialoup.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah chialoup di Cirebon, 1775.

Chialoup (atau chaloup) adalah sejenis selup yang digunakan di Hindia Timur. Ia adalah hasil dari teknologi dan teknik pembuatan kapal barat (Belanda) dan Nusantara (Indonesia). Banyak dari "kapal-perahu" ini diproduksi di galangan kapal VOC di Rembang dan Juwana, di mana sebagian besar pekerja adalah orang Jawa lokal. Chialoup digunakan oleh VOC dan pedagang-pelaut swasta yang berasal dari barat dan Nusantara.

Deskripsi

250px-Javaanse_prauw_met_twee_stuurriemen%2C_NG-1985-7-2-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perahu Jawa dengan 2 kemudi.

Layar chialoup meniru layar yang digunakan pada selup, yang merupakan kombinasi dari layar persegi dengan jenis layar fore-and-aft yang dipasang secara umum. Perahu-perahu itu biasanya memiliki satu tiang, kadang-kadang ditambahkan dengan tiang buritan.[1]: 34  Meskipun sebagian besar chialoup ini menggunakan setir tengah bergaya Eropa, beberapa dari mereka dilengkapi dengan dua kemudi samping (quarter rudder), sebuah ciri khas kapal Nusantara. Panjangnya antara 15 hingga 25 m, dengan ruang kargo mencapai hampir 6 m panjangnya. Tergantung pada ukurannya, krunya berjumlah di antara 20 dan 40 orang. Kapasitas muatan adalah 40–80 last (72,4–144,8 metrik ton).[2] Dalam catatan syahbandar Malaka bahkan ada chialoup yang mengangkut hingga 200 ton kargo dan 75 awak.[3] Chialoup rata-rata dipersenjatai 4 meriam, 1 meriam putar, and 7 senapan.[4]

Pada era setelah 1820 chialoup secara bertahap menghilang dari "Daftar Kapal dan Kendaraan Laut dari Hindia Belanda" yang secara berkala diterbitkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan istilah chialoup di surat kabar menjadi lebih jarang muncul, sebaliknya mereka digantikan dengan kotter, perkataan Belanda untuk suatu jenis selup.[5]: 37 [6]: 434, 444 [7]: 42 

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Knaap, Gerrit (1996). Shallow Waters, Rising Tide. Leiden: Brill. ISBN 978-90-67-18102-0.
  2. ↑ Groenewegen, G. (1789). Verzameling van vier en tachtig stuks Hollandsche schepen : geteekend en in koper gebragt. Rotterdam: J. van den Brink.
  3. ↑ Lee, Kam Hing (1986): 'The Shipping Lists of Dutch Melaka: A Source for the Study of Coastal Trade and Shipping in the Malay Peninsula During the 17th and 18th Centuries', in Mohd. Y. Hashim (ed.), Ships and Sunken Treasure (Kuala Lumpur: Persatuan Muzium Malaysia), hal. 53-76.
  4. ↑ Knaap, Gerrit (1999). "Shipping and Trade in Java, c. 1775: A Quantitative Analysis". Modern Asian Studies. 33: 405–420.
  5. ↑ Bruijn Kops, G.F. de (1854): 'Iets over de Zeevaart in den Indischen Archipel', Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indië, 1, 21-69.
  6. ↑ Bruyn Kops, G.F. de (1921): 'Vaartuigen', in D.G. Stibbe and C. Spat (eds.), Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (5; ‘sGravenhage: Nijhoff), 422-446
  7. ↑ Liebner, Horst H. (2016). Beberapa Catatan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara. Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture.

Bacaan lebih lanjut

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan