Sabtu, 07 November 2026
03:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Paduwang

Paduwang

Perahu cadik dari Madura

Bagikan:
330px-Java_Amiral_E_Paris_Pr%C3%A2os_Bedouang_de_Bezouki%2C_%C3%A0_la_voile.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua jenis perahu paduwang (bedouang) berlayar di laut. Paduwang berujung konvensional ada di depan, paduwang berujung bifid ada di belakang.

Paduwang (juga dikenal sebagai bedouang) adalah perahu cadik ganda tradisional dari Madura, Indonesia. Ia dibangun dengan papan, bukan kayu tunggal, dan digunakan untuk menangkap ikan, perdagangan dan transportasi orang dan barang di dekat pulau Madura.[1] Pada abad ke-19, paduwang adalah perahu nelayan yang populer di Jawa Timur.[2]: 80 

Etimologi

Menurut Horridge, kata “paduwang”, mempunyai akar kata wa, wangka, waga, wangga, dan bangka dari bahasa Austronesia. Istilah tersebut diasosiasikan pada “perahu bercadik atau perahu kecil”.[3] Nama "bedouang" digunakan oleh pengamat barat seperti laksamana François-Edmond Pâris, yang mungkin merupakan salah pengucapan nama tersebut.[2]: 80–81 

Deskripsi

Paduwang memiliki dua tiang pendek, satu di haluan dan yang lainnya sekitar 1/3 dari panjangnya di belakang. Sistem layarnya menggunakan layar lete, yang memiliki andang-andang atas (disebut pebahu) and andang-andang bawah (pekaki). Pebahunya selalu disokong oleh sebuah galah bambu (disebut sokong atau supak).[4] Layar depannya dipasang pada tiang pendek, sedangkan layar utamanya tidak memiliki tiang. Layar utamanya dijaga pada posisinya oleh tali lalei dan tali lain yang melekat pada andang-andangnya.[5]

250px-A_model_of_Madurese_paduwang.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Model paduwang Madura di Museum Nasional Leiden, Belanda.

Ia memiliki 2 versi, satu dengan ujung konvensional, yang lain memiliki ujung bifid[6] (yang berarti bentuk bercabang dua di haluan dan membentuk "rahang").[7] Lambungnya dibangun di atas lunas kayu yang dilubangi, kedua ujungnya ditutup oleh papan vertikal sederhana.[5] Paduwang hanya memiliki 1 kemudi, diikat dengan tali, ditambatkan ke papan. Kemudi selalu diposisikan di bawah arah angin, dengan konfigurasi sedemikian rupa sehingga dapat dipindahkan ke sisi lain dengan mudah. Paduwang kecil panjangnya hanya 5 m, sedangkan paduwang transportasi besar memiliki sebuah rumah geladak kecil di tengah lambung, dan panjangnya sekitar 14–16 m. Paduwang juga bisa didorong menggunakan dayung.[2]: 81  Paduwang besar menghilang di awal abad ke-20, tidak lama setelah kemunculan golekan.[6]

Lihat pula

Perahu nelayan lainnya dari Indonesia:

Referensi

  1. ↑ Stenross (2007). hlm. 66.
  2. 1 2 3 Pâris, François-Edmond (1841). Essai sur la construction navale des peuples extra-européens : ou, Collection des navires et pirogues construits par les habitants de l'Asie, de la Malaisie, du Grand Océan et de l'Amérique volume 1. Paris: A. Bertrand.
  3. ↑ Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.
  4. ↑ Stenross (2007). hlm. 272.
  5. 1 2 H. H. Frese. (1956). Small Craft in the Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden. The Mariner's Mirror. 42 : 2, 101-112.
  6. 1 2 Stenross (2007). hlm. 274.
  7. ↑ Stenross (2007). hlm. xiii.

Bacaan lanjutan

  • Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.
  • Stenross, Kurt. (2007). The Seafarers and Maritime Entrepreneurs of Madura: History, Culture, and Their Role in the Java Sea Timber Trade. Murdoch University, Perth, Australia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan