Selasa, 22 September 2026
23:43 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Paduwang

Paduwang

Perahu cadik dari Madura

330px-Java_Amiral_E_Paris_Pr%C3%A2os_Bedouang_de_Bezouki%2C_%C3%A0_la_voile.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua jenis perahu paduwang (bedouang) berlayar di laut. Paduwang berujung konvensional ada di depan, paduwang berujung bifid ada di belakang.

Paduwang (juga dikenal sebagai bedouang) adalah perahu cadik ganda tradisional dari Madura, Indonesia. Ia dibangun dengan papan, bukan kayu tunggal, dan digunakan untuk menangkap ikan, perdagangan dan transportasi orang dan barang di dekat pulau Madura.[1] Pada abad ke-19, paduwang adalah perahu nelayan yang populer di Jawa Timur.[2]:80

Etimologi

Menurut Horridge, kata “paduwang”, mempunyai akar kata wa, wangka, waga, wangga, dan bangka dari bahasa Austronesia. Istilah tersebut diasosiasikan pada “perahu bercadik atau perahu kecil”.[3] Nama "bedouang" digunakan oleh pengamat barat seperti laksamana François-Edmond Pâris, yang mungkin merupakan salah pengucapan nama tersebut.[2]:80–81

Deskripsi

Paduwang memiliki dua tiang pendek, satu di haluan dan yang lainnya sekitar 1/3 dari panjangnya di belakang. Sistem layarnya menggunakan layar lete, yang memiliki andang-andang atas (disebut pebahu) and andang-andang bawah (pekaki). Pebahunya selalu disokong oleh sebuah galah bambu (disebut sokong atau supak).[4] Layar depannya dipasang pada tiang pendek, sedangkan layar utamanya tidak memiliki tiang. Layar utamanya dijaga pada posisinya oleh tali lalei dan tali lain yang melekat pada andang-andangnya.[5]

250px-A_model_of_Madurese_paduwang.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Model paduwang Madura di Museum Nasional Leiden, Belanda.

Ia memiliki 2 versi, satu dengan ujung konvensional, yang lain memiliki ujung bifid[6] (yang berarti bentuk bercabang dua di haluan dan membentuk "rahang").[7] Lambungnya dibangun di atas lunas kayu yang dilubangi, kedua ujungnya ditutup oleh papan vertikal sederhana.[5] Paduwang hanya memiliki 1 kemudi, diikat dengan tali, ditambatkan ke papan. Kemudi selalu diposisikan di bawah arah angin, dengan konfigurasi sedemikian rupa sehingga dapat dipindahkan ke sisi lain dengan mudah. Paduwang kecil panjangnya hanya 5 m, sedangkan paduwang transportasi besar memiliki sebuah rumah geladak kecil di tengah lambung, dan panjangnya sekitar 14–16 m. Paduwang juga bisa didorong menggunakan dayung.[2]:81 Paduwang besar menghilang di awal abad ke-20, tidak lama setelah kemunculan golekan.[6]

Lihat pula

Perahu nelayan lainnya dari Indonesia:

Referensi

  1. Stenross (2007). hlm. 66.
  2. 1 2 3 Pâris, François-Edmond (1841). Essai sur la construction navale des peuples extra-européens : ou, Collection des navires et pirogues construits par les habitants de l'Asie, de la Malaisie, du Grand Océan et de l'Amérique volume 1. Paris: A. Bertrand.
  3. Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.
  4. Stenross (2007). hlm. 272.
  5. 1 2 H. H. Frese. (1956). Small Craft in the Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden. The Mariner's Mirror. 42 : 2, 101-112.
  6. 1 2 Stenross (2007). hlm. 274.
  7. Stenross (2007). hlm. xiii.

Bacaan lanjutan

  • Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.
  • Stenross, Kurt. (2007). The Seafarers and Maritime Entrepreneurs of Madura: History, Culture, and Their Role in the Java Sea Timber Trade. Murdoch University, Perth, Australia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan