Jumat, 30 Oktober 2026
04:20 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pajala (perahu)

Pajala (perahu)

Perahu penangkap ikan dengan jala dari Sulawesi Selatan

Bagikan:
250px-Bugis-Makassan_prauw_William_Westall_1803.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perahu gaya pajala Makassar berujung ganda dengan tiang tripod dan layar miring persegi (beberapa di antaranya diturunkan dan disimpan di geladak), serta kemudi quarter yang digantung. Gambar ini dibuat tahun 1803 oleh seniman William Westall tentang perahu Macassan (Makassar) di pesisir pantai Arnhem, Australia. Kesempatan itu datang ketika Flinders bertemu dengan armada perahu Makassar yang datang dari Sulawesi ketika mereka mengumpulkan teripang. Perahu ini memiliki bobot 25 ton dan dipersenjatai dengan meriam kecil.

Pajala adalah jenis perahu tradisional dari bagian barat Sulawesi Selatan, Indonesia. Ia digunakan terutama untuk memancing, tetapi pada saat ini adalah nama bahasa Makassar perahu berukuran kecil hingga sedang.[1]

Etimologi

Namanya berasal dari kata bahasa Indonesia/Melayu "jala", yang ditambahi awalan pa- (sama artinya dengan pe-). Sehingga dapat diartikan pajala adalah perahu yang digunakan untuk menebar jala.

Deskripsi

250px-Left%2C_Two_pajalas_sailed_by%3B_right%2C_Pajalas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pajala, sekitar tahun 1937.

Pajala sebuah perahu pantai yang biasanya memiliki sebuah tiang tripod yang membawa satu layar tanja besar. Dibangun dengan cara carvel, dan seperti perahu Austronesia lainnya, ia merupakan double-ender (haluan dan buritan perahu tajam, yaitu memiliki linggi depan dan linggi belakang).[2]: 22–23  Haluan dan buritan memiliki bentuk yang serupa, biasanya berbelok dalam sudut tajam karena papannya dipotong, bukan dibengkokkan, menjadi berbentuk. Pola papan menunjukkan bahwa ia tidak berbeda dengan perahu tradisional sejak 1000 tahun yang lalu. Papan pertama lebih panjang dari lunasnya. Papan itu disusun dari sudut ke sudut dengan pasak internal. Meskipun sebagian besar lambungnya tak bergeladak, ada geladak rendah di belakang linggi depan, di belakangnya ada tempat untuk mencuci.[3] Mereka dibangun menggunakan papan dengan rangka lengkung yang halus, dengan kemudi samping ganda, digunakan sebagai rangka dengan tulang rusuk dimasukkan setelahnya.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Horridge (2015). p. 190-191.
  2. ↑ Vuuren 1917 op.cit., e.g., Nooteboom, C. 1940: ‘Vaartuigen van Mandar’. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 80.
  3. ↑ Horridge (2015). p. 14-15.

Bacaan lanjutan

  • Liebner, Horst H. (2005), "Perahu-Perahu Tradisional Nusantara: Suatu Tinjauan Perkapalan dan Pelayaran", dalam Edi, Sedyawati (ed.), Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim, Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia, hlm. 53–124
  • Horridge, Adrian (2015). Perahu Layar Tradisional Nusantara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Terjemahan bahasa Indonesia dari Horridge, Adrian (1985). The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia, second edition. Oxford: Oxford University Press.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan