Minggu, 08 November 2026
08:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Pencalang

Pencalang

Sebuah jenis perahu Melayu

Bagikan:
250px-Java_Amiral_E_Paris_Prao_Mayang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pencalang (di salah labelkan sebagai mayang) dengan layar penuh, Jawa, 1841.

Pencalang adalah kapal dagang tradisional dari Nusantara. Dulunya ia juga ditulis sebagai pantchiallang atau pantjalang. Pada awalnya, kapal jenis ini dibuat oleh orang-orang Melayu dari daerah Riau dan Semenanjung Melayu, tetapi telah ditiru oleh pembuat kapal Jawa.[1]: 20 [2]: 27  Pada akhir abad ke-17 kapal ini telah dibangun oleh pembuat kapal Jawa and China disekitar Rembang. Namun kapal ini adalah pilihan populer untuk nakhoda Bali diikuti oleh nakhoda Sulawesi.[3]

Etimologi

Kata pencalang berasal dari kata bahasa Melayu, yang sekarang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, yaitu calang dan mencalang, yang berarti meninjau, mengintai, dan mengintip. Oleh karena itu pencalang dapat diartikan sebagai "perahu yang digunakan untuk memata-matai" atau "perahu intai".[4] Menurut glosarium VOC, ia berasal dari kata bahasa Melayu pentjalang berarti "perahu yang dikirim untuk mengintai" dari kata "tjalang" yang berarti intai, dengan tambahan awalan pe(n)-.[5]: 86 

Deskripsi

250px-Gezicht_op_het_fort_van_Rembang%2C_gezien_vanaf_de_weg_cropped_boat.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pencalang bersiap berlayar di Rembang. Beberapa meriam putar dapat dilihat.

Pencalang memiliki dengan satu atau dua tiang layar, dengan geladak yang menutupi sepanjang lambung dan sebuah bilik di tengah yang berfungsi sebagai ruang muatan, ditutup dengan geladak tetap.[2]: 27  Pencalang memiliki buritan depan dan belakang yang sangat melengkung dan dasar lambung bundar dengan lunas. Freeboard rendah dinaikkan di tengah kapal melalui sisi kanan. Kapal memiliki balok melintang yang berat dan dek sebagian maupun dek kontinu. Sebuah "rumah" dibangun di sebagian besar lambung kapal. Juru mudi dilindungi oleh atap. Kapal dikemudikan dengan kemudi sisi yang dapat digunakan dengan kait di kedua sisi kapal. Tiangnya yang kokoh ditempatkan pada sekat kedap air, dapat diturunkan ke penyangga tiang. Kapal ini memiliki layar tanja yang sangat lebar dan rendah dengan boom. Tali-temali terhubung ke tiang cucur panjang. Awaknya sekitar 8–20 orang. Panjang kapal lokal asli adalah 10,7 hingga 16,5 m dengan lebar 3,7 hingga 5,5 m. Kedalamannya 1,8 hingga 3,7 m, sedikit lebih besar dari yang dibangun untuk pedagang perorangan. Untuk VOC mereka memiliki panjang 55–60 kaki (16,5–18 m) dan kapasitas muat 20–35 last (36,2–63,35 metrik ton) pada awal abad ke-18; kemudian mereka menjadi lebih besar dengan 60–75 kaki (18–22,5 m) panjangnya dan muatan 60–80 last (108,6–144,8 metrik ton).[6] Lebih kecil dari itu biasanya digunakan oleh bajak laut.[2]: 27 

Peran

250px-Maleisch_Zeilvaartuig_19e_eeuw_Chr._Rave_Artist_Signed_Old_Postcard.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perahu layar Melayu abad ke-19, mungkin sebuah pencalang.

Salah satu catatan paling awal tentang pencalang berlatar abad ke-15 atau 16, disebutkan dalam Hikayat Hang Tuah, yang ditulis setelah abad ke-17. Dua pencalang dan dua ghurab digunakan kerajaan Majapahit untuk mengirim surat dan hadiah untuk meningkatkan hubungan dengan kesultanan Melaka.[7]: 258  Pencalang disebutkan dalam Hikayat Indraputra sebagai pembawa senjata.[8]: 200 

Pencalang terutama merupakan kapal dagang, tetapi kadang-kadang dapat digunakan dalam peperangan dan perompakan. VOC juga membuat kapal jenis ini dibangun di Indonesia agar mereka memiliki kapal pengangkut kecil untuk digunakan di perairan India. Meskipun pada awal abad ke-18 VOC memiliki selup dan pencalang, pada akhir abad itu hanya pencalang yang masih dibangun. Dalam peperangan, pencalang sering digunakan untuk memata-matai musuh dengan memakai sifat dagangnya itu.[4]: 1043  Karena kemampuan berlayar yang baik, perahu ini digunakan oleh VOC dalam memerangi para bajak laut.[9]

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ Liebner, Horst H. (2005), "Perahu-Perahu Tradisional Nusantara: Suatu Tinjauan Perkapalan dan Pelayaran", dalam Edi, Sedyawati (ed.), Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim, Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia, hlm. 53–124
  2. 1 2 3 Liebner, Horst H. (2016). Beberapa Catatan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara. Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture.
  3. ↑ Knaap, G.J. (1996). Shallow Waters, Rising Tide – Shipping and Trade in Java around 1775. Leiden: KITLV Press.
  4. 1 2 Departemen Pendidikan Nasional (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  5. ↑ Kooijmans, Marc; Oosterling, Judith Ellen (2000). VOC-Glossarium: Verklaringen van Termen, Verzameld Uit de Rijks Geschiedkundige Publicatiën, Die Betrekking Hebben op de Verenigde Oost-Indische Compagnie. The Hague: Instituut voor Nederlandse Geschiedenis.
  6. ↑ Groenewegen, G. (1789). Verzameling van vier en tachtig stuks Hollandsche schepen : geteekend en in koper gebragt. Rotterdam: J. van den Brink.
  7. ↑ Robson-McKillop, Rosemary (2010). The Epic of Hang Tuah. ITBM. ISBN 9789830687100.
  8. ↑ Mulyadi, S.W.R. (1983). Hikayat Indraputra: A Malay Romance. Dordrecht: Foris.
  9. ↑ Lohanda, Mona (2018). VOC Glossary Indonesia. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia and The Corts Foundation. hlm. 12.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan