Rabu, 23 September 2026
03:33 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Istana Merdeka

Istana Merdeka

kediaman resmi dan kantor Presiden Indonesia

Kediaman resmi in Jakarta Pusat, IndonesiaTemplat:SHORTDESC:Kediaman resmi in Jakarta Pusat, Indonesia
Istana Merdeka
330px-Istana_Negara_%2830139691680%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fasad depan Istana Merdeka
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Istana_Merdeka&revid=29836402&groups=_4418afee0543cba421cb058bc98bce2acce380f2&parser=parsoid
Peta interaktif area Istana Merdeka
Nama sebelumnyaPaleis te Koningsplein
Informasi umum
JenisKediaman resmi
Gaya arsitekturGaya Kerajaan Hindia Belanda
LokasiJalan Medan Merdeka Utara
Gambir, Jakarta Pusat, Indonesia
Koordinat06°10′13″S 106°49′27″E / 6.17028°S 106.82417°E / -6.17028; 106.82417
Penyewa sekarangPresiden Republik Indonesia
Mulai dibangun1873
Selesai dibangun1879
KlienGubernur Jenderal Hindia Belanda
PemilikPemerintah Indonesia
Desain dan konstruksi
ArsitekJacobus Bartholomeus Drossaers

Istana Merdeka merupakan tempat resmi kediaman dan kantor Presiden Indonesia yang letaknya menghadap ke Taman Monumen Nasional, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Awalnya istana ini digunakan sebagai tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda hingga pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Istana dengan luas sekitar 2.400 m² ini terletak satu kompleks dengan Istana Negara dan Bina Graha.

Sejarah

250px-Collectie_NMvWereldculturen%2C_TM-30010123%2C_Foto-_Het_paleis_van_de_Gouverneur-Generaal_in_Batavia%3B_zijde_Koningsplein%2C_Woodbury_%26_Page%2C_1888_-_1910.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Istana Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang kini menjadi Istana Merdeka. Foto diambil dalam kurun 1888-1910.

Istana Rijswijk yang dibangun lebih awal pada tahun 1796 dinilai sesak untuk kegiatan administratif kenegaraan sehingga Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu, Pieter Mijer memerintahkan untuk membangun sebuah bangunan baru sebagai pengganti Istana Risjwijk pada tahun 1869.

Pembangunan istana ini baru dilaksanakan 4 tahun kemudian ketika masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Loudon pada tahun 1873. Istana baru ini dibangun di sebelah selatan Istana Risjwijk, menghadap ke arah Koningsplein (sekarang Medan Merdeka). Akhirnya istana ini diresmikan tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge setelah menelan biaya 360.000 Gulden.

Istana ini lalu dinamakan Paleis te Koningsplein (Istana Koningsplein) atau masyarakat sering menyebutnya sebagai Istana Gambir karena banyak pohon gambir yang tumbuh di sekitar Lapangan Koningsplein.[1][2]

Pada masa pendudukan Jepang, Istana ini bersamaan dengan Istana Rijswijk dijadikan tempat kediaman resmi Saiko Shikikan.

Pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia, Istana Merdeka sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J. Lovink, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.[2]

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950. Tercatat selain Presiden Sukarno, yang mendiami istana ini adalah Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Joko Widodo. Saat ini, Istana Merdeka menjadi kediaman resmi dari Presiden Prabowo Subianto.

Pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto memutuskan untuk tidak menjadikan Istana Merdeka sebagai tempat kediaman dan memilih untuk tinggal di rumah pribadinya di Jalan Cendana di daerah Menteng. Ia tidak mau tinggal di Istana Merdeka karena kepentingan keluarga.[3][4]

Kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, dan penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat.

Galeri

  • Kedatangan PM Tojo di Jawa dalam sebuah film propaganda Jepang yang juga menampilkan suasana Istana Merdeka ketika Ia mengunjunginya.
  • Foto Istana Merdeka yang diambil dari udara, 1980.
    Foto Istana Merdeka yang diambil dari udara, 1980.
  • Foto Lapangan Merdeka, Kompleks Istana Merdeka dan Bina Graha, serta daerah di sekitarnya yang diambil dari udara, 1980.
    Foto Lapangan Merdeka, Kompleks Istana Merdeka dan Bina Graha, serta daerah di sekitarnya yang diambil dari udara, 1980.
  • Istana Merdeka,  1880-1900.
    Istana Merdeka, 1880-1900.
  • Istana Merdeka, kurun 1950-1960.
    Istana Merdeka, kurun 1950-1960.
  • Istana Merdeka dalam sebuah kartu pos, kurun 1900-1930.
    Istana Merdeka dalam sebuah kartu pos, kurun 1900-1930.
  • Istana Merdeka, sekitar kurun 1900-1920.
    Istana Merdeka, sekitar kurun 1900-1920.
  • LItografi Istana Merdeka oleh Josias Cornelis Rappard. Antara tahun 1881-1889.
    LItografi Istana Merdeka oleh Josias Cornelis Rappard. Antara tahun 1881-1889.
  • Istana Merdeka pada sekitar tahun 1880
    Istana Merdeka pada sekitar tahun 1880
  • Istana Merdeka pada tahun 1946, ketika Belanda mencoba untuk mendirikan kembali Hindia Belanda
    Istana Merdeka pada tahun 1946, ketika Belanda mencoba untuk mendirikan kembali Hindia Belanda
  • Istana Merdeka pada tahun 1952, setelah Indonesia bebas dari pendudukan Belanda
    Istana Merdeka pada tahun 1952, setelah Indonesia bebas dari pendudukan Belanda
  • Istana Merdeka pada sekitar tahun 1976
    Istana Merdeka pada sekitar tahun 1976
  • Istana Merdeka pada tahun 2016
    Istana Merdeka pada tahun 2016
  • Istana Merdeka, kurun 1936-1938.
    Istana Merdeka, kurun 1936-1938.

Lihat pula

Referensi

  1. Istana-Istana Kepresidenan Republik Indonesia Diarsipkan 2015-09-24 di Wayback Machine., setneg.go.id
  2. 1 2 "Merdeka, Istana". Jakarta. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-10-18. Diakses tanggal 2016-10-16.
  3. Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, An Authorised Biography. Diterjemahkan oleh Lubis, Zamira. Singapore: Marshall Cavendish. hlm. 83. ISBN 978-979-1056-11-3.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  4. Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (Otobiografi). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. hlm. 229. ISBN 978-979-17339-9-1.

Pranala luar

Topik mengenai Batavia
Daerah
Duizendeilanden
Benedenstad
Bovenstad
Ommelanden
Lambang Kota Batavia
Lambang Kota Batavia
Jalan
Taman
Tim Sepak Bola
Bangunan
Pelabuhan
Stasiun Kereta Api
Halte Trem
Bandara
Tempat Pemerintahan
Rumah Besar
Penjara
Kastel/Benteng/Bastion
Tempat Ibadah
Tempat Hiburan
Rumah Sakit
Kantor Pos
dan Kantor Telegraf
Kantor Telepon
Hotel
Museum
Lapangan Bola
Pasar
Mercusuar
Lain-Lain
Perusahaan Layanan
Masyarakat
Bank

De Javasche Bank · Postspaarbank · De Chartered Bank

Sarana Pendidikan
Taman
Pemakaman Umum
Transportasi
Sumatra
Jawa
Jakarta
Cirebon
Yogyakarta
Surakarta
Kota lainnya
Kalimantan
Nusantara
Kota lainnya
Bali
Sulawesi
Pulau lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan