Rabu, 14 Oktober 2026
03:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Kadato Kie

Kadato Kie

museum di Indonesia

Bagikan:
Kadato Kie
Kedaton Sultan Tidore
330px-Kadato_Kie.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tampak depan Kedaton Sultan Tidore (Kadato Kie) di Tidore
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Kadato_Kie&revid=30020509&groups=_0fbc0b75b2014a47eff727aebe1043aa15d49fa3&parser=parsoid
Peta interaktif area Kadato Kie
Informasi umum
JenisKadaton
Gaya arsitekturLang Kie Jiko Sorabi[1]
LokasiSoasio, Tidore, Tidore Kepulauan
Negara Indonesia
Mulai dibangun1657; Dibangun Kaicil Golofino
Selesai dibangun1812-1856; Diperluas dan dibuat lebih permanen
2004-2010; Dibangun kembali
1912; Hancur karena konflik
330px-Istana-sultan-tidore.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Istana Kesultanan Tidore (Kadato Kie) di Tidore.

Kadato Kie (Istana Kie), juga disebut Kedaton Tidore, adalah istana tempat bersemayamnya sultan dari Kesultanan Tidore. Istana ini terletak di Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan. Awal mulanya setelah konflik dengan Portugis dan Spanyol, Sultan Syaifuddin atau Kaicil Golofino memindahkan ibukota ke Limau Timore, dibangunlah sebuah kedaton dengan nama Kadato Ijo yang kemudian dikenal dengan nama Fola Ijo, ini karena bangunan diwarnai hijau. Berdasarkan buku Amin Faruk, Perdana menteri Tidore, kedaton kemudian dibangun lebih luas dan permanen pada tahun 1812 pada masa Sultan Muttahiddin Muhammad dan dilanjutkan sampai 1856 pada masa Sultan Ahmad Syaifuddin. Nama Limau Timore kemudian berubah nama menjadi Soa Sio seperti sekarang. Sementara Kedaton Ternate, diketahui dibangun satu tahun setelahnya, yakni 1813.[2]

Naman karena politik Belanda dan konflik Kedaton dihancurkan pada tahun 1912 pada masa Sultan Syahjuan. Baru pada tahun 1997 dimulai pembangunan kembali atas dorongan dari Sultan Djafar Syah, dan dibangun dari tahun 2004 dan selesai pada Maret 2010.[3]

Terdapat interpretasi lain bahwa Kedaton Kesultanan Ternate didirikan pada 1813 oleh Sultan Muhammad Ali di atas sebuah bukit di Kelurahan Salero, Ternate. Lokasinya berada pada kawasan yang menghadap ke Laut Halmahera.[4]

Bangunan kedaton memiliki denah berbentuk segi delapan dengan bentuk keseluruhan yang menyerupai singa dalam posisi duduk. Kedaton terdiri atas dua lantai dengan warna dominan kuning dan hijau. Bangunan ini menggunakan kayu serta sejumlah bahan bangunan tradisional sebagai material utama.[4]

Sejarah Kedaton Tidore tidak dapat dipisahkan dari perubahan lokasi pusat pemerintahan Kesultanan Tidore. Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara mencatat bahwa pusat pemerintahan Tidore pernah terletak di berbagai lokasi. Dalam salah satu narasi sejarah, pada era Sultan Saifuddin atau Kaicil Golofino di abad ke-17, pusat kekuasaan berpindah dan kemudian maju di daerah yang sekarang disebut Soasio. Perpindahan itu tidak hanya terkait dengan keperluan administratif.[5]

Peran kedaton

Posisi Tidore dalam persaingan politik dan militer di Maluku Utara menjadikan lokasi pusat pemerintahan memiliki nilai strategis. Interaksi dan perselisihan dengan kekuatan luar, khususnya Portugis, Spanyol, dan kemudian Belanda, juga memengaruhi sejarah kesultanan. Oleh karena itu, kedaton harus dimaknai sebagai elemen dari suatu wilayah kerajaan, bukan sebagai struktur yang berdiri sendiri.[6]

250px-Sumur_enteng_barnaveld.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sumur Benteng Barnaveld

Identitas Kesultanan Tidore juga sangat terkait dengan evolusi Islam di Maluku Utara. Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat bahwa pada masa pemerintahan Sultan Jamaluddin, yang berkuasa sekitar 1495-1512,[5] Islam menjadi agama resmi Kesultanan Tidore. Pertumbuhan Islam selanjutnya memengaruhi berbagai sisi kehidupan kerajaan dan masyarakat, termasuk adanya kedaton dan masjid kesultanan.

Dalam hal ini, kedaton berfungsi sebagai area di mana nilai-nilai keislaman, tradisi, dan sistem pemerintahan kesultanan berinteraksi.[7] Keterkaitan antara kedaton dan masjid menjadi salah satu karakteristik utama dalam lanskap pusat pemerintahan Tidore. Kedekatan antara mereka menunjukkan bagaimana politik dan kehidupan religius beriringan dalam tradisi Kesultanan Tidore.[8]

Referensi

  1. ↑ Elvira, Suci; Tungka, Aristotulus Ernst; Wuisang, Cynthia Erlita Virgin (2021-05-30). "Building Typology of Kadato Kie from Tidore Sultanate". Techno: Jurnal Penelitian. 10 (1): 94–103. doi:10.33387/tjp.v10i1.3006. ISSN 2580-7129. Diakses tanggal 2022-07-25.
  2. ↑ "Kegagahan Singa yang Tersirat dari Kedaton Ternate". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-09-13.
  3. ↑ Sultan Tidore ke-36 Meninggal. Obituari. Kompas cetak, edisi 14 April 2012.
  4. 1 2 Ternate, Wonderful. "Kedaton Kesultanan Ternate". Wonderful Ternate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-03.
  5. 1 2 Parinduri, Alhidayath. "Sejarah Kesultanan Tidore: Pendiri, Kejayaan, & Daftar Raja-Sultan". tirto.id. Diakses tanggal 2026-09-03.
  6. ↑ "Kerajaan Tidore: Sejarah, Corak, Kejayaan, dan Peninggalannya". kumparan. Diakses tanggal 2026-09-03.
  7. ↑ "sejarah Kerajaan ternate tidore poltik ekonomi dan letak geografisnya". Slideshare. Diakses tanggal 2026-09-03.
  8. ↑ "Istana Tidore, Saksi Sejarah Kesultanan di Maluku Utara". JNEWS Online (dalam bahasa American English). 2026-01-05. Diakses tanggal 2026-09-03.
Ikon rintisan

Artikel bertopik bangunan dan struktur ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan