Rabu, 07 Oktober 2026
17:24 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Candi Badut

Candi Badut

bangunan kuil di Indonesia

Bagikan:
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Candi Badut" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Candi Badut
ꦕꦟ꧀ꦢꦶꦧꦝꦸꦠ꧀
330px-039_Stairway_to_Inner_Sanctum%2C_Candi_Badut_%2840417064281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Candi Badut tampak dari depan
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Candi_Badut&revid=28738159&groups=_3d85cd93c10810b6170bb9c60ac3851e6d2751da&parser=parsoid
Peta interaktif area Candi Badut
Informasi umum
Gaya arsitekturCandi peralihan
NegaraIndonesia
Selesai dibangun760
Data teknis
Ukuran17,27 m x 14,04 m

Candi Badut adalah sebuah candi yang terletak di kawasan Tidar, di bagian barat Kabupaten Malang. Secara administratif candi badut terletak di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi candi ini berada di dekat Universitas Ma Chung, sekitar 15 menit berjalan kaki dari sana ke arah Timur. Candi ini berjarak sekitar 16 km dari Pura Bhuvana Kertha di Singosari. Lokasi ini juga dapat ditempuh dengan angkot jurusan AT, terminal Arjosari-Tidar. Lokasi tersebut dapat dilihat di . Tidak seperti arsitektur candi Jawa Timur lainnya seperti Candi Singasari atau Candi Kidal, candi ini mengikuti arsitektur yang lebih tua di Jawa Tengah. Diperkirakan dibangun pada 760 M, oleh karena itu dianggap sebagai yang tertua di Jawa Timur.[1]

Saat ini, Candi Badut berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Etimologi

Kata Badut diduga berasal dari bahasa Sanskerta Bha-dyut yang berarti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya.

Sejarah

Candi ini ditemukan pada tahun 1921 berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dipugar kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya. Candi Badut oleh Purbatjaraka dikaitkan dengan sebuah prasasti yang di temukan di kelurahan Merjosari, yaitu prasasti Dinoyo. Prasasti berbahasa sanskerta dan berhuruf Jawa kuno itu berangka tahun Candrasangkala: nayana vayu ras yang mengandung arti angka tahun saka 682 atau 760 Masehi. isi prasasti yang menceritakan raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan.[2]

Keunikan

Candi Badut menghadap ke barat, tiga buah sisa-sisa candi perwara di hadapannya dan dahulunya di kelilingi oleh pagar tembok. Candi berdenah bujur sangkar dengan ukuran 11x11 meter itu tidak diketahui tingginya. Keistimewaan candi Badut adalah lapik setinggi dua meter tanpa hiasan sama sekali. Area di sekeliling Candi Badut Candi Badut tepatnya terletak disebelah Barat Sungai Metra merupakan daerah kering tetapi tumbuh beberapa jenis tanaman keras seperti pohon jambu, kelapa, randu, beringin, alpokat, akasia yang akarnya berpotensi merusak Candi Badut.[3]

Selain berusia jauh lebih tua dari candi-candi lainnya di Jawa Timur, Candi Badut yang merupakan candi bercorak Hindu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan juga memiliki keunikan khusus atau ciri khas tersendiri. Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Nasional RI, salah satu keunikan Candi Badut adalah terdapat pahatan Kalamakara di ambang pintunya. Kalamakara berupa kepala dan wajah raksasa yang biasanya ditempatkan di pintu masuk candi dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat.

Relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur pada umumnya dibuat lengkap dengan rahang bawah. Namun, Kalamakara yang terdapat di Candi Badut berwujud tanpa rahang bawah, mirip dengan Kalamakara yang terdapat pada candi-candi di Jawa tengah. Selain itu, bentuk Candi Badut yang tambun lebih mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah, sedangkan candi-candi di Jawa Timur rata-rata berbentuk lebih ramping. Relief Candi Badut yang simetris juga memiliki kemiripan dengan Candi Dieng di Jawa Tengah.[4]

Dalam buku Sejarah Seni Budaya Daerah Jawa Timur (1977) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan disebutkan bahwa Candi Badut bentuknya mirip sekali dengan candi-candi Jawa Tengah pada masa-masa permulaan.[5]

Usia

Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun, merupakan yang tertua di Jawa Timur dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Candi Badut ini meninggalkan jejak purbakala sebagai peninggalan sejarah yang perlu di jaga dan dilestarikan keadaannya.

Bangunan

Para ahli menyatakan bahwa candi Badut merupakan peralihan gaya bangunan Klasik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pada ruangan induk candi yang berisi lingga dan yoni, simbol Siwa dan Parwati. Sebagaimana umumnya percandian Hindu di Jawa, pada bagian dinding luar terdapat relung-relung yang semestinya berisi arca. Dua relung di kanan dan kiri pintu mestinya berisi arca Mahakala dan Nandiswara, relung utara untuk arca Durga Mahisasuramardini, relung timur untuk arca Ganesha, dan di sisi selatan terdapat relung untuk arca Agastya yakni Siwa sebagai Mahaguru. Namun di antara semua arca itu hanya arca Durga Mahisasuramardini yang tersisa di candi Badut.

Asal Usul Nama

Raja Gajayana memiliki nama kecil Liswa yang tercatat dalam Prasati Dinoyo. Liswa dalam kamus sanskerta memiliki arti pelawak, anak komedi, penari, Dewasa ini kata "Liswa" memiliki makna yang sama dengan kata badut. Badut memiliki makna seseorang yang memiliki tingkah lucu atau lawak. Hal tersebut yang menjadi asal-usul mengapa bangunan suci umat Hindu ini diberi nama Candi Badut.[6]

Galeri

250px-Candi_Badut_Malang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
candi badut view dari jarak +- 30 meter

Referensi

  1. ↑ Hoffman, Linda (1995-06-15). Indonesia Tuttle Travel Pack: Your Guide to Indonesia's Best Sights for Every Budget (dalam bahasa Inggris). Tuttle Publishing. ISBN 978-1-4629-1355-8.
  2. ↑ Ningsih, Widya ('2023-01-18'). "Candi Badut, Candi Tertua di Jawa Timur". Kompas.com. Diakses tanggal '2025-10-18'.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  3. ↑ Sulistio, Andrew; Natadjaja, Listia; Febriani, Rika (2018-07-20). "PERANCANGAN BUKU FOTOGRAFI HISTORIS CANDI BADUT SEBAGAI CANDI TERTUA DI JAWA TIMUR". Jurnal DKV Adiwarna. 1 (12): 9.
  4. ↑ Octavian, Fiqhy ('2023-09-12'). "Sejarah Candi Badut: Candi Tertua Di Malang". Kompasiana. Diakses tanggal '2025-10-18'.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  5. ↑ Issatriadi, author; et al. (1977). Sejarah seni budaya daerah jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.{{cite book}}: |first= memiliki nama generik; Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-01-18). "Candi Badut, Candi Tertua di Jawa Timur Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-02-24.

Pranala luar

Jawa
Banten
Ja-bar
Ja-teng
Ja-tim
Jogja (DIY)
60px-Candi_Indonesia_id.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-Borobudur-Nothwest-view.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Main_shrine_of_Prambanan_temples.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Mendut_-_facade_north_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Pawon_-_facade_northwest_%282025%29_-_img_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-RA_3420014.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Sambisari_Panorama_%2829_December_2013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Plaosan_Temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Singosari_B.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Besakih01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Candi_Muaro_Jambi_dengan_langit_biru.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-007_Candi_Tua_from_East%2C_Main_Entrance_%2838244913275%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Prasasti-Yupa02.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

60px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Offerplaats_bij_tempelcomplex_Lingsar_TMnr_60012478.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bali
Sumatera
Jambi
Sum-bar
Sum-sel
Sum-ut
Ba-bel
Riau
Kalimantan
Kal-bar
Kal-sel
Kal-tim
Nusa
Tenggara
NTB
NTT
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan