Aluminium, yang juga disebut aluminum atau alumunium (bentuk tidak baku), adalah sebuah unsur kimia dengan lambangAl dan nomor atom 13. Aluminium memiliki massa jenis yang lebih rendah dibandingkan logam umum lainnya, yaitu sekitar sepertiga dari massa jenis baja. Aluminium memiliki afinitas yang tinggi terhadap oksigen sehingga membentuk lapisan pelindung (lapisan oksida) pada permukaannya ketika terkena udara. Secara visual, aluminium menyerupai perak, baik dari segi warna maupun kemampuannya yang tinggi dalam memantulkan cahaya. Aluminium bersifat lunak, nonmagnetik, dan ulet. Aluminium memiliki satu isotop stabil, yaitu 27Al, yang sangat melimpah, sehingga aluminium menjadi unsur ke-12 yang paling melimpah di alam semesta. Sifat radioaktif dari 26Al menyebabkan isotop ini digunakan dalam penanggalan radiometrik.
Secara kimia, aluminium merupakan logam pascatransisi dalam golongan boron. Seperti unsur-unsur lain dalam golongan tersebut, aluminium umumnya membentuk senyawa dengan keadaan oksidasi +3. Kation aluminium Al3+ memiliki ukuran kecil dan muatan tinggi. Oleh karena itu, kation ini memiliki daya polarisasi yang besar, sehingga ikatan yang terbentuk oleh aluminium memiliki karakter kovalen yang lebih kuat. Afinitas aluminium yang tinggi terhadap oksigen menyebabkan oksida aluminium banyak ditemukan di alam. Di Bumi, aluminium umumnya terdapat dalam batuan di kerak Bumi. Aluminium merupakan unsur paling melimpah ketiga di kerak Bumi setelah oksigen dan silikon. Aluminium tidak banyak ditemukan di mantel Bumi dan hampir tidak pernah ditemukan sebagai logam bebas. Aluminium diperoleh secara industri melalui penambangan bauksit, yaitu batuan sedimen yang kaya akan mineral aluminium.
Penemuan aluminium diumumkan pada tahun 1825 oleh fisikawan Denmark, Hans C. Ørsted. Produksi aluminium secara industri pertama kali dimulai oleh kimiawan Prancis, Henri É. S. C. Deville, pada tahun 1856. Aluminium menjadi jauh lebih mudah diperoleh masyarakat setelah dikembangkannya proses Hall–Héroult pada tahun 1886 secara independen oleh insinyur Prancis Paul Héroult dan insinyur Amerika Charles M. Hall. Produksi aluminium secara massal kemudian menyebabkan penggunaannya berkembang secara luas dalam industri dan kehidupan sehari-hari. Pada tahun 1954, aluminium menjadi logam nonbesi yang paling banyak diproduksi, melampaui tembaga. Pada abad ke-21, sebagian besar aluminium digunakan dalam bidang transportasi, teknik, konstruksi, dan kemasan di Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang. Massa atom standar aluminium relatif rendah dibandingkan dengan banyak logam lainnya,[b] sehingga menghasilkan massa jenis yang rendah dan menjadi salah satu alasan utama aluminium memiliki banyak kegunaan.
Meskipun aluminium sangat melimpah di lingkungan, tidak ada makhluk hidup yang diketahui mampu memetabolisme garam aluminium. Namun, aluminium dapat ditoleransi dengan baik oleh tumbuhan dan hewan. Karena garam aluminium sangat melimpah, kemungkinan adanya peran biologis dari senyawa-senyawa tersebut menarik untuk diteliti, dan penelitian mengenai hal ini masih terus berlangsung.
Karakteristik fisik
Curah


Logam aluminium memiliki penampilan yang berkisar dari putih keperakan hingga abu-abu kusam, bergantung pada kekasaran permukaannya.[c] Cermin aluminium memberikan reflektivitas yang tinggi terhadap cahaya di wilayah ultraungu, cahaya tampak (setara dengan perak),[8] dan inframerah jauh.[9] Aluminium juga mampu memantulkan radiasi matahari dengan baik, meskipun paparan sinar matahari dalam waktu lama di udara dapat menurunkan kemampuan pantul logam tersebut.[8] Hal ini dapat dicegah jika aluminium dianodisasi, yaitu dengan menambahkan lapisan oksida pelindung pada permukaannya.[10]
Massa jenis aluminium adalah 2,70 g/cm3, sekitar sepertiga dari massa jenis baja dan jauh lebih rendah dibandingkan logam lain yang umum dijumpai. Hal ini membuat bagian yang terbuat dari aluminium mudah dikenali karena bobotnya yang ringan.[11] Massa jenis aluminium yang rendah dibandingkan dengan sebagian besar logam lainnya disebabkan oleh ukuran sel unitnya yang relatif besar dibandingkan dengan jumlah nukleon yang dimilikinya. Satu-satunya logam yang lebih ringan adalah logam dari golongan 1 dan 2. Namun, selain berilium dan magnesium, logam-logam tersebut terlalu reaktif untuk digunakan sebagai bahan struktural (dan berilium bersifat sangat beracun).[12] Aluminium tidak sekuat atau sekaku baja, tetapi massa jenisnya yang rendah mengimbangi kekurangan tersebut dalam industri kedirgantaraan dan berbagai aplikasi lainnya yang membutuhkan bobot ringan serta kekuatan yang relatif tinggi.[13]
Aluminium murni cukup lunak dan memiliki kekuatan yang rendah. Oleh karena itu, dalam sebagian besar aplikasi digunakan berbagai paduan aluminium karena memiliki kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi.[14] Kekuatan luluh aluminium murni adalah 7–11 MPa, sedangkan paduan aluminium memiliki kekuatan luluh berkisar antara 200–600 MPa.[15] Aluminium bersifat ulet, dengan persen perpanjangan sebesar 50–70%,[16] dan mudah ditempa sehingga dapat dengan mudah ditarik dan diekstrusi.[17] Aluminium juga mudah dikerjakan dengan mesin dan dicetak.[17]
Aluminium merupakan penghantar panas dan listrik yang sangat baik. Jumlah aluminium yang diperlukan untuk menghantarkan arus listrik dengan kuat arus yang sama seperti tembaga hanya memiliki berat sekitar setengah dari tembaga.[18] Aluminium juga dapat menjadi superkonduktor, dengan suhu kritis superkonduktivitas sebesar 1,2 K dan medan magnet kritis sekitar 100 G (10 mT).[19] Aluminium bersifat paramagnetik sehingga pada dasarnya tidak terpengaruh oleh medan magnet statis.[20] Namun, konduktivitas listriknya yang tinggi menyebabkan aluminium sangat dipengaruhi oleh medan magnet bolak-balik melalui pembentukan arus pusar.[21]
Kulit elektron
Atom aluminium memiliki 13 elektron dengan konfigurasi elektron [Ne] 3s2 3p1,[22] yaitu memiliki tiga elektron di luar konfigurasi gas mulia yang stabil. Oleh karena itu, gabungan tiga energi ionisasi pertama aluminium jauh lebih rendah dibandingkan dengan energi ionisasi keempatnya.[23] Konfigurasi elektron seperti ini juga dimiliki oleh anggota lain dari golongannya yang telah diketahui dengan baik, yaitu boron, galium, indium, dan talium; konfigurasi ini juga diperkirakan dimiliki oleh nihonium. Aluminium dapat melepaskan tiga elektron terluarnya dalam banyak reaksi kimia (lihat di bawah). Elektronegativitas aluminium adalah 1,61 pada skala Pauling.[24]

Atom aluminium bebas memiliki jari-jari atom sebesar 143 pm.[25] Setelah tiga elektron terluarnya dilepaskan, jari-jari tersebut menyusut menjadi 39 pm untuk atom dengan koordinasi 4 atau 53,5 pm untuk atom dengan koordinasi 6.[25] Pada suhu dan tekanan standar, atom-atom aluminium (ketika tidak dipengaruhi oleh atom dari unsur lain) membentuk sistem kristal kubus berpusat-muka yang terikat melalui ikatan logam yang disediakan oleh elektron-elektron terluar atom. Oleh karena itu, aluminium (pada kondisi tersebut) merupakan logam.[26] Sistem kristal ini juga dimiliki oleh banyak logam lainnya, seperti timbal dan tembaga. Ukuran sel unit aluminium sebanding dengan ukuran sel unit logam-logam tersebut.[26] Namun, sistem ini tidak dimiliki oleh anggota lain dalam golongannya. Boron memiliki energi ionisasi yang terlalu tinggi sehingga tidak memungkinkan terjadinya pembentukan sifat logam. Talium memiliki struktur susunan padat heksagon, sedangkan galium dan indium memiliki struktur yang tidak lazim dan tidak tersusun padat seperti aluminium dan talium. Jumlah elektron yang relatif sedikit yang tersedia untuk membentuk ikatan logam pada aluminium kemungkinan menjadi salah satu penyebab aluminium bersifat lunak, memiliki titik lebur yang rendah, serta resistivitas listrik yang rendah.[27]
Isotop
Aluminium memiliki satu isotop stabil, yaitu 27Al, yang mencakup hampir seluruh aluminium yang terdapat secara alami. Hal ini umum terjadi pada unsur-unsur dengan nomor atom ganjil.[d] Oleh karena itu, aluminium merupakan unsur mononuklida untuk penentuan berat atom standar, yang sepenuhnya ditentukan oleh isotop tersebut. Aluminium berguna dalam resonansi magnet inti (NMR), karena satu-satunya isotop stabilnya (meskipun bersifat kuadrupolar) memiliki sensitivitas NMR yang tinggi.[29]
Semua isotop aluminium lainnya bersifat radioaktif. Isotop yang paling stabil di antaranya adalah 26Al, dengan waktu paruh 717.000 tahun. Meskipun 26Al pernah ada bersama 27Al yang stabil di medium antarbintang tempat Tata Surya terbentuk (yang diyakini dihasilkan melalui nukleosintesis bintang), tidak ada jumlah 26Al yang dapat terdeteksi yang diperkirakan masih bertahan sejak pembentukan Bumi. Namun, sejumlah kecil 26Al masih dihasilkan dari peluruhan argon di atmosfer yang dipicu oleh radiasi pengion dari sinar kosmik. Rasio 26Al terhadap 10Be telah digunakan untuk menentukan usia radiometrik berbagai proses geologi dalam rentang waktu 105 hingga 106 tahun, khususnya proses transportasi, deposisi, penyimpanan sedimen, waktu penguburan, dan erosi.[30] Sebagian besar ilmuwan yang mempelajari meteorit meyakini bahwa energi yang dilepaskan oleh peluruhan 26Al bertanggung jawab atas peleburan dan diferensiasi beberapa asteroid setelah pembentukannya sekitar 4,55 miliar tahun yang lalu.[31]
Isotop aluminium lainnya yang telah diketahui, dengan nomor massa berkisar antara 20 hingga 43, semuanya memiliki waktu paruh kurang dari 7 menit. Hal yang sama berlaku untuk empat keadaan metastabil yang telah terdeteksi.[32]
Kimia
Aluminium memiliki karakteristik yang merupakan gabungan antara logam transisi awal dan logam pascatransisi. Karena hanya memiliki sedikit elektron yang tersedia untuk membentuk ikatan logam, seperti halnya unsur-unsur golongan 13 yang lebih berat, aluminium memiliki sifat fisik khas logam pascatransisi, dengan jarak antaratom yang lebih panjang daripada yang diperkirakan.[27] Selain itu, karena Al3+ merupakan kation yang kecil dan bermuatan tinggi, ion ini memiliki daya polarisasi yang kuat sehingga ikatan dalam senyawa aluminium cenderung bersifat kovalen.[33] Perilaku ini mirip dengan berilium (Be2+) dan merupakan salah satu contoh hubungan diagonal.[34]
Inti elektron di bawah kulit valensi aluminium memiliki konfigurasi seperti gas mulia sebelumnya, sedangkan unsur-unsur golongan 13 yang lebih berat, yaitu galium, indium, talium, dan nihonium, juga memiliki subkulit d yang terisi penuh dan, dalam beberapa kasus, subkulit f yang terisi penuh. Oleh karena itu, elektron-elektron bagian dalam aluminium hampir sepenuhnya melindungi elektron valensinya, berbeda dengan elektron bagian dalam unsur-unsur golongan 13 yang lebih berat. Dengan demikian, aluminium merupakan logam yang paling elektropositif dalam golongannya, dan hidroksidanya sebenarnya lebih basa daripada hidroksida galium.[33][e] Aluminium juga memiliki beberapa kemiripan dengan boron, yang merupakan metaloid dan berada dalam golongan yang sama. Senyawa AlX3 bersifat isoelektronik valensi dengan senyawa BX3, yaitu memiliki struktur elektron valensi yang sama. Keduanya juga bertindak sebagai asam Lewis dan mudah membentuk aduk.[35] Selain itu, salah satu ciri utama kimia boron adalah struktur ikosahedral yang teratur, dan aluminium menjadi bagian penting dari banyak paduan kuasikristal ikosahedral, termasuk golongan Al–Zn–Mg.[36]
Aluminium memiliki afinitas kimia yang tinggi terhadap oksigen sehingga cocok digunakan sebagai agen pereduksi dalam reaksi termit. Serbuk aluminium yang sangat halus dapat bereaksi secara eksplosif ketika bersentuhan dengan oksigen cair. Namun, dalam kondisi normal, aluminium membentuk lapisan oksida tipis (sekitar 5 nm pada suhu kamar)[37] yang melindungi logam dari korosi lebih lanjut oleh oksigen, air, atau asam encer. Proses ini disebut pasivasi.[33][38] Aluminium tidak diserang oleh asam pengoksidasi karena adanya pasivasi tersebut. Hal ini memungkinkan aluminium digunakan untuk menyimpan pereaksi seperti asam nitrat, asam sulfat pekat, dan beberapa asam organik.[39]
Dalam asam klorida panas dan pekat, aluminium bereaksi dengan air disertai pelepasan hidrogen. Aluminium juga bereaksi dengan larutan natrium atau kalium hidroksida pada suhu kamar membentuk aluminat; dalam kondisi ini, perlindungan melalui pasivasi dapat diabaikan.[40] Air raja juga dapat melarutkan aluminium.[39] Aluminium juga mengalami korosi oleh klorida terlarut,[41] seperti natrium klorida yang umum digunakan sebagai garam dapur. Lapisan oksida pada aluminium juga dapat dihancurkan ketika bersentuhan dengan raksa melalui pembentukan amalgam, atau ketika bersentuhan dengan garam dari beberapa logam yang bersifat elektropositif.[33] Oleh karena itu, paduan aluminium yang paling kuat cenderung memiliki ketahanan korosi yang lebih rendah akibat reaksi galvanik dengan tembaga yang terdapat dalam paduan tersebut.[42] Ketahanan aluminium terhadap korosi juga sangat berkurang oleh garam dalam larutan berair, terutama jika terdapat logam yang berbeda.[27]
Aluminium bereaksi dengan sebagian besar unsur nonlogam ketika dipanaskan, membentuk senyawa seperti aluminium nitrida (AlN), aluminium sulfida (Al2S3), dan aluminium halida (AlX3). Aluminium juga membentuk berbagai macam senyawa antarlogam yang melibatkan logam dari setiap golongan dalam tabel periodik.[33]
Senyawa anorganik
Sebagian besar senyawa aluminium, termasuk semua mineral yang mengandung aluminium dan semua senyawa aluminium yang penting secara komersial, memiliki aluminium dalam keadaan oksidasi 3+. Bilangan koordinasi senyawa-senyawa tersebut bervariasi, tetapi secara umum Al3+ memiliki koordinasi enam atau empat. Hampir semua senyawa aluminium(III) tidak memiliki warna.[33]

Dalam larutan berair, Al3+ berada sebagai kation heksa-akua [Al(H2O)6]3+, yang memiliki nilai Ka sekitar 10−5.[29] Larutan seperti ini bersifat asam karena kation tersebut dapat bertindak sebagai donor proton dan mengalami hidrolisis secara bertahap hingga terbentuk endapan aluminium hidroksida, Al(OH)3. Hal ini berguna dalam proses penjernihan air, karena endapan tersebut bernukleasi pada partikel-partikel tersuspensi di dalam air sehingga menghilangkannya. Peningkatan pH lebih lanjut menyebabkan hidroksida tersebut kembali larut karena terbentuk aluminat, [Al(H2O)2(OH)4]−.
Aluminium hidroksida membentuk garam dan aluminat serta larut dalam asam dan alkali, maupun ketika dilebur bersama oksida yang bersifat asam dan basa.[33] Perilaku Al(OH)3 ini disebut amfoterisme dan merupakan karakteristik kation yang bersifat basa lemah, yang membentuk hidroksida tidak larut dan spesies terhidrasinya juga dapat mendonorkan proton. Salah satu akibatnya adalah garam aluminium dengan asam lemah mengalami hidrolisis dalam air menghasilkan hidroksida terhidrasi dan hidrida nonlogam yang bersesuaian; misalnya, aluminium sulfida menghasilkan hidrogen sulfida. Namun, beberapa garam seperti aluminium karbonat dapat berada dalam larutan berair, tetapi tidak stabil dalam keadaan tersebut. Hidrolisis hanya berlangsung sebagian pada garam dengan asam kuat, seperti halida, nitrat, dan sulfat. Untuk alasan yang serupa, garam aluminium anhidrat tidak dapat dibuat dengan memanaskan "hidrat"-nya: aluminium klorida terhidrasi sebenarnya bukan AlCl3·6H2O, melainkan [Al(H2O)6]Cl3, dan ikatan Al–O sangatlah kuat sehingga pemanasan tidaklah cukup untuk memutuskannya dan membentuk ikatan Al–Cl. Reaksi ini justru terjadi sebagai berikut:[33]
- 2[Al(H2O)6]Cl3 panas→ Al2O3 + 6 HCl + 9 H2O
Keempat aluminium trihalida telah dikenal dengan baik. Berbeda dengan struktur tiga trihalida yang lebih berat, aluminium trifluorida (AlF3) memiliki aluminium dengan koordinasi enam, yang menjelaskan sifatnya yang tidak mudah menguap dan tidak larut, serta kalor pembentukannya yang tinggi. Setiap atom aluminium dikelilingi oleh enam atom fluorin dalam susunan oktahedral terdistorsi, dengan setiap atom fluorin digunakan bersama pada sudut dua oktahedron. Unit {AlF6} semacam ini juga terdapat dalam fluorida kompleks seperti kriolit, Na3AlF6.[f] AlF3 melebur pada suhu 1.290 °C (2.354 °F) dan dibuat melalui reaksi aluminium oksida dengan gas hidrogen fluorida pada suhu 700 °C (1.300 °F).[44]
Pada halida yang lebih berat, bilangan koordinasinya lebih rendah. Trihalida lainnya memiliki bentuk dimer atau polimer dengan pusat aluminium berkoordinasi empat yang berbentuk tetrahedral.[g] Aluminium triklorida (AlCl3) memiliki struktur polimer berlapis di bawah titik leburnya, yaitu 192,4 °C (378 °F), tetapi ketika melebur berubah menjadi dimer Al2Cl6. Pada suhu yang lebih tinggi, dimer-dimer tersebut semakin terdisosiasi menjadi monomer AlCl3 berbentuk planar trigonal, yang strukturnya mirip dengan BCl3. Aluminium tribromida dan aluminium triiodida membentuk dimer Al2X6 pada ketiga fasenya sehingga tidak menunjukkan perubahan sifat yang signifikan ketika mengalami perubahan fase.[44] Bahan-bahan ini dibuat dengan mereaksikan aluminium dengan halogennya. Aluminium trihalida membentuk banyak senyawa adisi atau kompleks. Sifatnya sebagai asam Lewis membuatnya berguna sebagai katalis untuk reaksi Friedel–Crafts. Aluminium triklorida memiliki kegunaan industri yang penting dalam reaksi ini, misalnya dalam pembuatan antrakuinona dan stirena. Aluminium triklorida juga sering digunakan sebagai prekursor untuk berbagai senyawa aluminium lainnya dan sebagai pereaksi untuk mengubah fluorida nonlogam menjadi klorida yang bersesuaian (reaksi transhalogenasi).[44]
Aluminium membentuk satu oksida stabil dengan rumus kimia Al2O3, yang umumnya disebut alumina.[45] Senyawa ini ditemukan di alam dalam mineral korundum, yaitu fase α-alumina.[46] Terdapat pula fase γ-alumina.[29] Bentuk kristalnya, korundum[butuh klarifikasi], sangatlah keras (kekerasan Mohs 9), memiliki titik lebur tinggi yaitu 2.045 °C (3.713 °F), volatilitas sangat rendah, bersifat lengai secara kimia, dan merupakan insulator listrik yang baik. Korundum sering digunakan sebagai bahan abrasif (seperti ampelas), bahan tahan api, dan dalam keramik. Korundum juga merupakan bahan awal untuk produksi aluminium secara elektrolisis. Safir dan rubi merupakan korundum tidak murni yang terkontaminasi oleh sejumlah kecil logam lain.[29]
Dua oksida-hidroksida utamanya, AlO(OH), adalah boehmit dan diaspor. Terdapat tiga trihidroksida utama, yaitu bayerit, gibbsit, dan nordstrandit, yang berbeda dalam struktur kristalnya (polimorf). Banyak struktur antara dan struktur terkait lainnya juga telah diketahui.[29] Sebagian besar sistem Al–O–OH ini dihasilkan dari bijih melalui berbagai proses basah menggunakan asam dan basa. Pemanasan hidroksida akan menghasilkan korundum. Bahan-bahan ini sangat penting dalam produksi aluminium dan juga memiliki banyak kegunaan. Beberapa fase oksida campuran juga sangat berguna, seperti spinel (MgAl2O4), Na-β-alumina (NaAl11O17), dan trikalsium aluminat (Ca3Al2O6), yang merupakan fase mineral penting dalam semen Portland.[29]
Kalkogenida yang stabil pada kondisi normal hanyalah aluminium sulfida (Al2S3), selenida (Al2Se3), dan telurida (Al2Te3). Ketiganya dibuat melalui reaksi langsung unsur-unsur penyusunnya pada suhu sekitar 1.000 °C (1.800 °F) dan dengan cepat mengalami hidrolisis sempurna dalam air menghasilkan aluminium hidroksida dan hidrogen kalkogenida yang bersesuaian. Karena aluminium merupakan atom yang berukuran kecil dibandingkan dengan kalkogen-kalkogen tersebut, senyawa ini memiliki aluminium dengan koordinasi empat berbentuk tetrahedral, dengan berbagai polimorf yang memiliki struktur berkaitan dengan wurtzit. Dua pertiga dari situs logam yang mungkin telah ditempati, baik secara teratur (α) maupun secara acak (β). Sulfida tersebut juga memiliki bentuk γ yang berkaitan dengan γ-alumina serta bentuk heksagonal suhu tinggi yang tidak biasa, di mana setengah atom aluminium memiliki koordinasi tetrahedral empat dan setengah lainnya memiliki koordinasi trigonal bipiramida lima.[47]
Empat aluminium pniktida—aluminium nitrida (AlN), aluminium fosfida (AlP), aluminium arsenida (AlAs), dan aluminium antimonida (AlSb)—telah diketahui. Semuanya merupakan semikonduktor III-V yang isoelektronik dengan silikon dan germanium; semuanya, kecuali AlN, memiliki struktur sfalerit. Keempatnya dapat dibuat melalui reaksi langsung unsur-unsur penyusunnya pada suhu tinggi (dan mungkin juga pada tekanan tinggi).[47]
Aluminium dapat membentuk paduan dengan sebagian besar logam lainnya (kecuali sebagian besar logam alkali dan logam golongan 13), dan lebih dari 150 senyawa antarlogam dengan logam lain telah diketahui. Pembuatannya melibatkan pemanasan logam-logam dalam perbandingan tertentu, kemudian didinginkan secara bertahap dan dianil. Ikatan di dalamnya umumnya bersifat logam, sedangkan struktur kristalnya umumnya bergantung pada efisiensi pengemasan.[48]
Hanya sedikit senyawa yang memiliki keadaan oksidasi lebih rendah. Beberapa di antaranya adalah senyawa aluminium(I): AlF, AlCl, AlBr, dan AlI, yang semuanya terdapat dalam fase gas ketika trihalida yang bersesuaian dipanaskan bersama aluminium, dan juga pada suhu kriogenik.[44] Turunan aluminium monoiodida yang stabil adalah aduk siklik yang terbentuk dengan trietilamina, Al4I4(NEt3)4. Al2O dan Al2S juga dapat terbentuk, tetapi sangat tidak stabil.[49] Senyawa aluminium(II) yang sangat sederhana diduga terbentuk atau teramati dalam reaksi logam Al dengan oksidator. Sebagai contoh, aluminium monoksida, AlO, telah terdeteksi dalam fase gas setelah ledakan[50] dan dalam spektrum absorpsi bintang.[51] Senyawa yang lebih banyak diteliti adalah senyawa dengan rumus R4Al2, yang mengandung ikatan Al–Al dan R merupakan ligan organik berukuran besar.[52]
Senyawa organoaluminium dan hidrida terkait

Berbagai senyawa dengan rumus empiris AlR3 dan AlR1,5Cl1,5 diketahui ada.[53] Aluminium trialkil dan triaril merupakan cairan reaktif, mudah menguap, dan tidak berwarna, atau berupa padatan dengan titik lebur rendah. Senyawa-senyawa ini dapat terbakar secara spontan di udara dan bereaksi dengan air, sehingga diperlukan tindakan pencegahan saat menanganinya. Senyawa ini sering membentuk dimer, berbeda dengan analog boronnya, tetapi kecenderungan tersebut berkurang pada alkil rantai bercabang (misalnya Pri, Bui, Me3CCH2).
Sebagai contoh, triisobutilaluminium berada sebagai campuran kesetimbangan antara monomer dan dimer.[54][55] Dimer-dimer ini, seperti trimetilaluminium (Al2Me6), biasanya memiliki pusat Al tetrahedral yang terbentuk melalui dimerisasi, dengan beberapa gugus alkil menjembatani kedua atom aluminium. Senyawa-senyawa ini merupakan asam keras dan mudah bereaksi dengan ligan membentuk aduk. Dalam industri, senyawa ini umumnya digunakan dalam reaksi penyisipan alkena, yang ditemukan oleh Karl W. Ziegler, terutama dalam "reaksi pertumbuhan" yang menghasilkan alkena primer rantai panjang tidak bercabang dan alkohol, serta dalam polimerisasi etena dan propena pada tekanan rendah. Terdapat pula beberapa senyawa organoaluminium heterosiklik dan senyawa gugus yang melibatkan ikatan Al–N.[54]
Hidrida aluminium yang paling penting secara industri adalah litium aluminium hidrida (LiAlH4), yang digunakan sebagai agen pereduksi dalam kimia organik. Senyawa ini dapat dibuat dari litium hidrida dan aluminium triklorida.[56] Hidrida yang paling sederhana, yaitu aluminium hidrida atau alana, tidak begitu penting. Senyawa ini merupakan polimer dengan rumus (AlH3)n, berbeda dengan hidrida boron yang bersesuaian, yang merupakan dimer dengan rumus (BH3)2.[56]
Keterjadian
Luar angkasa
Kelimpahan aluminium per partikel di Tata Surya adalah 3,15 ppm (bagian per juta).[57][h] Aluminium merupakan unsur ke-12 yang paling melimpah dari seluruh unsur dan unsur ke-3 yang paling melimpah di antara unsur-unsur yang memiliki nomor atom ganjil, setelah hidrogen dan nitrogen.[57] Satu-satunya isotop aluminium yang stabil, 27Al, merupakan inti atom ke-18 yang paling melimpah di alam semesta. Isotop ini hampir seluruhnya terbentuk setelah fusi karbon di dalam bintang-bintang masif yang kemudian akan menjadi supernova tipe II. Fusi tersebut menghasilkan 26Mg, yang berubah menjadi aluminium setelah menangkap proton dan neutron bebas. Sejumlah kecil 27Al juga terbentuk di dalam selubung pembakaran hidrogen pada bintang-bintang yang telah berevolusi, ketika 26Mg dapat menangkap proton bebas.[58]
Hampir seluruh aluminium yang ada saat ini adalah 27Al. 26Al terdapat di Tata Surya awal dengan kelimpahan sebesar 0,005% relatif terhadap 27Al tetapi waktu paruhnya yang hanya 728.000 tahun terlalu singkat sehingga tidak ada inti aslinya yang dapat bertahan hingga sekarang; oleh karena itu, 26Al telah punah.[58] Berbeda dengan 27Al, pembakaran hidrogen merupakan sumber utama 26Al, dengan nuklida tersebut terbentuk setelah inti 25Mg menangkap sebuah proton bebas. Namun, sejumlah jejak 26Al yang masih ada merupakan pemancar sinar gama yang paling umum di dalam gas antarbintang.[58] Jika 26Al asli masih ada hingga sekarang, peta sinar gama Bima Sakti akan tampak lebih terang.[58]
Bumi
Secara keseluruhan, Bumi mengandung sekitar 1,59% aluminium berdasarkan massa, sehingga aluminium menempati urutan ketujuh dalam kelimpahan berdasarkan massa.[59] Aluminium terdapat dalam proporsi yang lebih besar di kerak Bumi dibandingkan dengan alam semesta secara keseluruhan. Hal ini karena aluminium mudah membentuk oksida dan terikat dalam batuan serta tetap berada di kerak Bumi, sedangkan logam yang kurang reaktif tenggelam menuju inti Bumi.[58] Di kerak Bumi, aluminium merupakan unsur logam yang paling melimpah (8,23% berdasarkan massa[60]) dan unsur ketiga yang paling melimpah dari semua unsur, setelah oksigen dan silikon.[61] Sejumlah besar mineral silikat di kerak Bumi mengandung aluminium.[62] Sebaliknya, mantel Bumi hanya mengandung 2,38% aluminium berdasarkan massa.[63] Aluminium juga terdapat dalam air laut dengan konsentrasi 0,41 μg/kg.[64]
Karena memiliki afinitas yang kuat terhadap oksigen, aluminium hampir tidak pernah ditemukan dalam keadaan bebas. Sebaliknya, aluminium ditemukan dalam bentuk oksida atau silikat. Felspar, kelompok mineral yang paling umum di kerak Bumi, merupakan aluminosilikat. Aluminium juga terdapat dalam mineral beril, kriolit, garnet, spinel, dan pirus.[65] Pengotor dalam alumina menghasilkan batu permata; misalnya, kromium menghasilkan rubi dan besi menghasilkan safir.[66] Logam aluminium asli sangatlah langka dan hanya dapat ditemukan sebagai fase minor dalam lingkungan dengan fugasitas oksigen rendah, seperti bagian dalam gunung berapi tertentu.[67] Aluminium asli telah dilaporkan ditemukan pada rembesan dingin di lereng benua Laut Tiongkok Selatan bagian timur laut. Ada kemungkinan bahwa endapan tersebut terbentuk akibat reduksi tetrahidroksoaluminat, Al(OH)4−, oleh bakteri.[68]
Meskipun aluminium merupakan unsur yang umum dan tersebar luas, tidak semua mineral aluminium merupakan sumber logam yang layak secara ekonomi. Hampir seluruh aluminium logam diproduksi dari bijih bauksit (AlOx(OH)3–2x). Bauksit terbentuk sebagai produk pelapukan batuan dasar yang rendah akan kandungan besi dan silika dalam kondisi iklim tropis.[69] Pada tahun 2017, sebagian besar bauksit ditambang di Australia, Guinea, India, dan Tiongkok.[70]
Sejarah

Sejarah aluminium telah dibentuk oleh penggunaan tawas. Catatan tertulis pertama mengenai tawas, yang dibuat oleh sejarawan Yunani Herodotos, berasal dari abad ke-5 SM.[71] Orang-orang zaman kuno diketahui menggunakan tawas sebagai zat warna mordan dan untuk pertahanan kota sebagai lapisan tahan api pada kayu.[72] Setelah Perang Salib, tawas, sebuah komoditas yang sangat penting dalam industri tekstil Eropa,[73] menjadi subjek perdagangan internasional;[74] tawas diimpor ke Eropa dari Mediterania timur hingga pertengahan abad ke-15.[75]
Sifat dari tawas sendiri tetap tidak diketahui hingga dokter asal Swiss, Paracelsus, mengemukakan pada sekitar tahun 1530 bahwa tawas adalah garam dari tanah tawas.[76] Dokter dan kimiawan Jerman Andreas Libavius mengonfirmasi hal ini secara eksperimental pada tahun 1595.[77] Kimiawan Jerman Friedrich Hoffmann mengumumkan keyakinannya bahwa dasar dari tawas adalah sebuah tanah yang khas pada tahun 1722.[78] Kimiawan Jerman Andreas S. Marggraf menyintesis alumina pada tahun 1754 dengan merebus tanah liat dalam asam sulfat dan kemudian menambahkan garam abu.[78]
Upaya untuk memproduksi aluminium dimulai sejak tahun 1760.[79] Namun, upaya pertama yang berhasil diselesaikan pada tahun 1824 oleh fisikawan dan kimiawan Denmark Hans C. Ørsted. Dia mereaksikan aluminium klorida anhidrat dengan amalgam kalium, menghasilkan gumpalan logam yang tampak mirip dengan timah.[80][81][82] Dia mempresentasikan hasil kerjanya dan mendemonstrasikan sampel logam baru tersebut pada tahun 1825.[83][84] Pada tahun 1827, kimiawan Jerman Friedrich Wöhler mengulangi eksperimen Ørsted tetapi tidak berhasil mengidentifikasi adanya aluminium.[85] (Alasan di balik inkonsistensi ini baru ditemukan pada tahun 1921.)[86] Dia melakukan eksperimen serupa pada tahun yang sama dengan mencampurkan aluminium klorida anhidrat dengan kalium (proses Wöhler) dan menghasilkan serbuk aluminium.[82] Pada tahun 1845, dia berhasil memproduksi serpihan kecil logam tersebut dan mendeskripsikan beberapa sifat fisiknya.[86] Selama bertahun-tahun setelahnya, Wöhler diakui sebagai penemu aluminium.[87]


Karena metode Wöhler tidak dapat menghasilkan aluminium dalam jumlah besar, logam tersebut tetap langka; harganya bahkan melampaui harga emas.[85] Produksi aluminium industri pertama didirikan pada tahun 1856 oleh kimiawan Prancis Henri É. S. C. Deville beserta rekan-rekannya.[88] Deville menemukan bahwa aluminium triklorida dapat direduksi dengan natrium, yang lebih praktis dan lebih murah daripada kalium yang digunakan oleh Wöhler.[89] Meskipun demikian, kemurnian aluminium saat itu masih belum terlalu tinggi dan sifat aluminium yang dihasilkan berbeda-beda di tiap sampel.[90] Berkat kapasitasnya dalam menghantarkan listrik, aluminium digunakan sebagai puncak Monumen Washington, yang selesai pada tahun 1885 dan merupakan bangunan tertinggi di dunia pada masa itu. Puncak logam antikorosi tersebut dimaksudkan untuk berfungsi sebagai ujung penangkal petir.
Metode produksi skala besar industri yang pertama dikembangkan secara independen pada tahun 1886 oleh insinyur Prancis Paul Héroult dan insinyur Amerika Serikat Charles M. Hall; metode ini sekarang dikenal sebagai proses Hall–Héroult.[91] Proses Hall–Héroult mengubah alumina menjadi logam. Kimiawan Austria Carl J. Bayer menemukan cara untuk memurnikan bauksit hingga menghasilkan alumina, yang kini dikenal sebagai proses Bayer, pada tahun 1889.[92] Produksi modern aluminium didasarkan pada proses Bayer dan Hall–Héroult.[93]
Seiring penurunan harga aluminium akibat produksi skala besar, logam ini mulai banyak digunakan dalam perhiasan, bingkai kacamata, instrumen optik, alat makan, kertas, serta barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya pada tahun 1890-an dan awal abad ke-20. Kemampuan aluminium untuk membentuk paduan yang keras namun ringan dengan logam lain memberikan logam ini banyak kegunaan pada masa itu.[94] Selama Perang Dunia I, pemerintah-pemerintah besar memesan pengiriman aluminium dalam jumlah besar untuk rangka pesawat yang ringan dan kuat;[95] selama Perang Dunia II, permintaan dari pemerintah besar untuk kebutuhan penerbangan bahkan jauh lebih tinggi.[96][97][98]
Dari awal abad ke-20 hingga tahun 1980, industri aluminium ditandai oleh kartelisasi, di mana perusahaan-perusahaan aluminium berkolusi untuk menjaga harga tetap tinggi dan stabil.[99] Kartel aluminium pertama, Aluminium Association, didirikan pada tahun 1901 oleh Pittsburgh Reduction Company (berganti nama menjadi Alcoa pada tahun 1907) dan Aluminium Industrie AG.[100] British Aluminium Company, Produits Chimiques d'Alais et de la Camargue, serta Société Électro-Métallurgique de Froges juga bergabung dengan kartel tersebut.[100]
Menjelang pertengahan abad ke-20, aluminium telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan komponen penting dalam peralatan rumah tangga.[101] Pada tahun 1954, produksi aluminium melampaui produksi tembaga,[i] yang secara historis berada di urutan kedua setelah besi,[104] sehingga menjadikannya logam nonbesi yang paling banyak diproduksi. Selama pertengahan abad ke-20, aluminium muncul sebagai bahan teknik sipil, dengan aplikasi bangunan baik dalam konstruksi dasar maupun pekerjaan penyelesaian interior,[105] serta semakin banyak digunakan dalam teknik militer, baik untuk mesin pesawat terbang maupun kendaraan berlapis baja.[106] Satelit buatan pertama di Bumi, yang diluncurkan pada tahun 1957, terdiri dari dua setengah bola aluminium terpisah yang disatukan, dan semua kendaraan antariksa berikutnya menggunakan aluminium sampai tingkat tertentu.[93] Kaleng aluminium ditemukan pada tahun 1956 dan digunakan sebagai wadah penyimpanan minuman pada tahun 1958.[107]

Sepanjang abad ke-20, produksi aluminium meningkat pesat: jika produksi dunia aluminium pada tahun 1900 adalah 6.800 t, produksi tahunannya pertama kali melampaui 100.000 t pada tahun 1916; 1.000.000 t pada tahun 1941; dan 10.000.000 t pada tahun 1971.[102] Pada tahun 1970-an, meningkatnya permintaan terhadap aluminium menjadikannya sebagai komoditas bursa; logam ini masuk ke London Metal Exchange, bursa logam industri tertua di dunia, pada tahun 1978.[93] Outputnya terus tumbuh: produksi tahunan aluminium melampaui 50.000.000 t pada tahun 2013.[102]
Harga riil aluminium merosot dari US$14.000/t pada tahun 1900 menjadi US$2.340/t pada tahun 1948 (dalam nilai Dolar AS tahun 1998).[102] Biaya ekstraksi dan pengolahan berhasil ditekan seiring dengan kemajuan teknologi dan skala ekonomi. Namun, kebutuhan untuk mengeksploitasi endapan berkualitas lebih rendah dan peningkatan biaya masukan yang cepat (terutama energi) menaikkan biaya neto aluminium;[108] harga riil mulai merangkak naik pada tahun 1970-an seiring dengan lonjakan biaya energi.[109]
Produksi bergeser dari negara-negara industri ke negara-negara dengan biaya produksi yang lebih murah.[110] Biaya produksi pada akhir abad ke-20 berubah akibat kemajuan teknologi, harga energi yang lebih rendah, nilai tukar Dolar AS, dan harga alumina.[111] Pangsa gabungan negara-negara BRIC dalam produksi primer dan konsumsi primer tumbuh secara substansial pada dekade pertama abad ke-21.[112] Tiongkok mengumpulkan pangsa produksi dunia yang sangat besar berkat kelimpahan sumber daya, energi murah, dan stimulus pemerintah;[113] negara ini juga meningkatkan pangsa konsumsinya dari 2% pada tahun 1972 menjadi 40% pada tahun 2010.[114] Di Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang, sebagian besar aluminium dikonsumsi dalam sektor transportasi, teknik, konstruksi, dan pengemasan.[115] Pada tahun 2021, harga logam industri seperti aluminium melonjak mendekati rekor tertinggi akibat krisis energi di Tiongkok yang mendongkrak biaya kelistrikan.[116]
Etimologi
Nama aluminium dan aluminum berasal dari kata alumine, yaitu istilah yang sudah tidak digunakan lagi untuk alumina,[j] oksida aluminium yang paling utama dan terdapat secara alami.[118] Alumine dipinjam dari bahasa Prancis, yang pada gilirannya berasal dari kata alumen, nama dalam bahasa Latin klasik untuk tawas, yaitu mineral yang dari sanalah alumina diperoleh.[119] Kata Latin alumen berasal dari akar Proto-Indo-Eropa *alu- yang berarti "pahit" atau "bir".[120] Nama bahasa Inggris alum tidak berasal secara langsung dari bahasa Latin, sedangkan alumine/alumina berasal dari kata Latin alumen. Dalam deklinasi, alumen alumen berubah menjadi alumin-.
Sejarah penamaan dan ejaan
Usulan awal (1808–1812)
Kimiawan Inggris Humphry Davy, yang melakukan sejumlah percobaan untuk mengisolasi logam tersebut, dianggap sebagai orang yang memberikan nama pada unsur ini. Nama pertama yang diusulkan untuk logam yang akan diisolasi dari tawas adalah alumium. Davy mengusulkan nama tersebut dalam sebuah artikel tahun 1808 mengenai penelitian elektrokimianya, yang diterbitkan dalam Philosophical Transactions of the Royal Society.[121] Nama tersebut tampaknya dibentuk dari kata bahasa Inggris alum dan akhiran Latin -ium; namun, pada masa itu merupakan kebiasaan untuk memberikan nama unsur yang berasal dari bahasa Latin, sehingga nama ini tidak diterima secara universal.
Nama alumium mendapat kritik dari para kimiawan sezamannya dari Prancis, Jerman, dan Swedia, yang berpendapat bahwa logam tersebut seharusnya dinamai berdasarkan oksidanya, yaitu alumina, yang menjadi sumber isolasinya.[122] Salah satu contohnya adalah Essai sur la Nomenclature chimique (Juli 1811), yang ditulis dalam bahasa Prancis oleh kimiawan Swedia Jöns J. Berzelius. Dalam karya tersebut, nama aluminium diberikan untuk unsur yang akan disintesis dari tawas.[123][k] (Artikel lain dalam edisi jurnal yang sama juga menyebut logam yang oksidanya merupakan penyusun dasar safir, yaitu logam yang sama, sebagai aluminium.)[125] Ringkasan salah satu kuliah Davy di Royal Society pada Januari 1811 juga menyebut aluminium sebagai salah satu kemungkinan namanya.[126]
Pada tahun 1812, Davy menerbitkan buku teks kimianya, Elements of Chemical Philosophy, yang menggunakan ejaan aluminum.[127]
Ejaan dan penggunaan pada abad ke-19

Pada tahun 1812, ilmuwan Inggris Thomas Young[128] menulis ulasan anonim mengenai buku Davy, dan mengusulkan nama aluminium sebagai pengganti aluminum, yang menurutnya memiliki "bunyi yang kurang klasik".[129] Nama ini kemudian bertahan: meskipun ejaan -um kadang-kadang digunakan di Inggris, bahasa ilmiah Amerika sejak awal menggunakan -ium.[130]
Orang Prancis telah menggunakan ejaan aluminium sejak awal.[131] Namun, di Inggris dan Jerman, ejaan aluminum yang digunakan Davy pada awalnya lebih umum. Hal ini berlangsung hingga Wöhler menerbitkan penjelasannya mengenai proses Wöhler pada tahun 1827, yang menggunakan ejaan Aluminium.[l] Hal tersebut menyebabkan ejaan ini diadopsi secara luas di Inggris dan Jerman, kecuali oleh sejumlah kecil kimiawan Inggris yang oleh Richards disebut sebagai kimiawan "patriotik" yang "menolak inovasi asing" dan kadang-kadang masih menggunakan aluminum.[131]
Sebagian besar kimiawan di seluruh dunia menggunakan akhiran -ium pada abad ke-19,[132] dan ejaan tersebut mengakar dalam beberapa bahasa Eropa lainnya, seperti bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda.[m]
Pada tahun 1828, leksikograf Amerika Noah Webster hanya mencantumkan ejaan aluminum dalam American Dictionary of the English Language.[133] Pada tahun 1830-an, ejaan -um mulai digunakan di Amerika Serikat; pada tahun 1860-an, ejaan tersebut telah menjadi ejaan yang lebih umum di luar bidang sains.[130] Pada tahun 1892, Hall menggunakan ejaan -um dalam selebaran iklannya untuk metode elektrolitik baru dalam memproduksi logam tersebut, meskipun ia secara konsisten menggunakan ejaan -ium dalam semua paten yang diajukannya antara tahun 1886 dan 1903. Tidak diketahui apakah ejaan tersebut muncul karena kesalahan atau memang disengaja, tetapi Hall lebih menyukai aluminum sejak awal penggunaannya karena kemiripannya dengan platinum, nama logam yang dianggap bergengsi.[134] Pada tahun 1890, kedua ejaan tersebut sudah umum digunakan di Amerika Serikat, dengan ejaan -ium sedikit lebih banyak digunakan. Pada tahun 1895, keadaan tersebut berbalik. Pada tahun 1900, aluminum digunakan dua kali lebih sering daripada aluminium. Pada dekade berikutnya, ejaan -um mendominasi penggunaan di Amerika.
Standardisasi pada abad ke-20 dan penggunaan regional
Pada tahun 1925, the Himpunan Kimia Amerika Serikat mengadopsi ejaan aluminum.[132] Persatuan Kimia Murni dan Terapan Internasional (IUPAC) mengadopsi aluminium sebagai nama internasional standar untuk unsur tersebut pada tahun 1990.[135] Pada tahun 1993, IUPAC mengakui aluminum sebagai bentuk varian yang dapat diterima;[135] edisi terbaru tata nama IUPAC untuk kimia anorganik edisi 2005 juga mengakui ejaan ini.[136] Publikasi resmi IUPAC menggunakan ejaan -ium sebagai bentuk utama dan mencantumkan keduanya jika sesuai.[n] Kedua ejaan tersebut tetap hidup berdampingan hingga sekarang. Penggunaannya saat ini bersifat regional: aluminum mendominasi di Amerika Serikat dan Kanada, sedangkan aluminium lebih umum digunakan di wilayah dunia lainnya yang berbahasa Inggris.[132]
Nama-nama lain yang pernah diusulkan
Fisikawan Jerman Ludwig W. Gilbert pernah mengusulkan nama Thonerde-metall, berdasarkan kata Jerman Thonerde[o] untuk alumina, dalam jurnal Annalen der Physik. Namun, nama tersebut sama sekali tidak pernah populer, bahkan di Jerman.[131] Kimiawan Amerika Joseph W. Richards[p] pada tahun 1891 menemukan hanya satu penggunaan nama argillium dalam bahasa Swedia, yang berasal dari kata Prancis argille[q], yang berarti tanah liat.[131]
Produksi dan pemurnian
| Negara | Output (ribu ton) |
|---|---|
| 43.000 | |
| 4.200 | |
| 3.800 | |
| 3.300 | |
| 2.700 | |
| 1.600 | |
| 1.500 | |
| 1.300 | |
| 1.100 | |
| 870 | |
| 780 | |
| 670 | |
| Negara lain | 6.800 |
| Total | 72.000 |
Produksi aluminium dimulai dengan penambangan batuan bauksit dari dalam tanah. Bauksit kemudian diolah dan diubah menjadi alumina melalui proses Bayer. Selanjutnya, alumina diproses menggunakan proses Hall–Héroult, yang menghasilkan aluminium akhir.
Produksi aluminium sangat membutuhkan energi, sehingga para produsen cenderung menempatkan pabrik peleburan di wilayah yang memiliki pasokan listrik yang melimpah sekaligus murah.[139] Untuk menghasilkan satu kilogram aluminium, dibutuhkan energi yang setara dengan 7 kilogram minyak, dibandingkan dengan 1,5 kilogram untuk baja dan 2 kilogram untuk plastik.[140] Pada tahun 2024, produsen aluminium terbesar di dunia adalah Tiongkok, India, Russia, Kanada, dan Uni Emirat Arab.[138] Tiongkok merupakan produsen aluminium terbesar dengan selisih yang sangat jauh, dengan pangsa lebih dari 55% produksi aluminium dunia.
Menurut laporan Metal Stocks in Society dari International Resource Panel, persediaan aluminium global yang digunakan oleh masyarakat (misalnya dalam mobil, bangunan, perangkat elektronik, dan sebagainya) rata-rata mencapai 80 kg (180 pon) per kapita. Sebagian besar aluminium tersebut terdapat di negara-negara yang lebih maju, dengan sekitar 350–500 kg (770–1.100 pon) per kapita, dibandingkan dengan 35 kg (77 pon) per kapita di negara-negara yang kurang berkembang.[141]
Proses Bayer
Bauksit diubah menjadi alumina melalui proses Bayer. Bauksit dicampur agar memiliki komposisi yang seragam, kemudian digiling hingga halus. Belubur yang dihasilkan dicampur dengan larutan panas natrium hidroksida. Campuran tersebut kemudian diproses dalam sebuah bejana digester pada tekanan yang jauh lebih tinggi daripada tekanan atmosfer. Proses ini melarutkan aluminium hidroksida yang terdapat dalam bauksit sekaligus mengubah zat-zat pengotor menjadi senyawa yang relatif tidak larut:[142]
Setelah reaksi tersebut, suhu belubur berada di atas titik didihnya pada tekanan atmosfer. Belubur kemudian didinginkan dengan mengeluarkan uap sambil menurunkan tekanannya. Residu bauksit dipisahkan dari larutan dan dibuang. Larutan yang sudah bebas dari padatan kemudian diberi kristal-kristal kecil aluminium hidroksida sebagai bibit. Penambahan ini menyebabkan ion [Al(OH)4]− terurai dan membentuk aluminium hidroksida. Setelah sekitar setengah dari aluminium mengendap, campuran dikirim ke alat klasifikasi (classifier) . Kristal-kristal kecil aluminium hidroksida dikumpulkan untuk digunakan sebagai bibit kristalisasi pada proses berikutnya. Partikel-partikel yang berukuran kasar diubah menjadi alumina melalui pemanasan. Larutan berlebih kemudian dikeluarkan melalui penguapan, dimurnikan jika diperlukan, dan didaur ulang untuk digunakan kembali dalam proses.[142]
Proses Hall–Héroult

Konversi alumina menjadi aluminium dilakukan melalui proses the Hall–Héroult. Dalam proses yang membutuhkan banyak energi ini, larutan alumina dalam campuran cair (940 dan 970 °C (1.720 dan 1.780 °F)) kriolit (Na3AlF6) dan kalsium fluorida dielektrolisis untuk menghasilkan aluminium logam. Aluminium cair mengendap di dasar larutan, kemudian dikeluarkan (tapped off) dan biasanya dicetak menjadi balok-balok besar yang disebut bilet aluminium untuk diproses lebih lanjut.[39]
Anoda pada sel elektrolisis terbuat dari karbon, yaitu bahan yang paling tahan terhadap korosi oleh fluorida. Anoda dapat dipanggang selama proses atau dibuat terlebih dahulu melalui proses pra-pemanggangan. Jenis yang pertama, yang juga disebut anoda Söderberg, kurang efisien dalam penggunaan daya. Selain itu, asap yang dilepaskan selama proses pemanggangan mahal untuk dikumpulkan. Oleh karena itu, anoda Söderberg secara bertahap digantikan oleh anoda yang telah dipanggang sebelumnya, meskipun anoda jenis ini memerlukan tambahan daya, energi, dan tenaga kerja untuk proses pra-pemanggangan. Karbon untuk anoda sebaiknya memiliki tingkat kemurnian yang tinggi agar aluminium maupun elektrolit tidak terkontaminasi oleh abu. Meskipun karbon cukup tahan terhadap korosi, karbon tetap terkonsumsi dengan laju sekitar 0,4–0,5 kg untuk setiap 1 kg aluminium yang dihasilkan. Katoda terbuat dari antrasit. Kemurnian yang tinggi tidak terlalu diperlukan karena zat-zat pengotor hanya larut secara sangat lambat. Katoda dikonsumsi dengan laju sekitar 0,02–0,04 kg untuk setiap 1 kg aluminium yang dihasilkan. Sebuah sel elektrolisis biasanya dihentikan setelah 2–6 tahun akibat kerusakan pada katoda.[39]
Proses Hall–Heroult menghasilkan aluminium dengan kemurnian lebih dari 99%. Pemurnian lebih lanjut dapat dilakukan melalui proses Hoopes. Proses ini melibatkan elektrolisis aluminium cair menggunakan elektrolit yang terdiri atas natrium, barium, dan aluminium fluorida. Aluminium yang dihasilkan memiliki kemurnian hingga 99,99.[39][143]
Energi listrik menyumbang sekitar 20–40% dari biaya produksi aluminium, bergantung pada lokasi pabrik peleburan. Produksi aluminium mengonsumsi sekitar 5% dari seluruh listrik yang dihasilkan di Amerika Serikat.[135] Oleh karena itu, berbagai alternatif terhadap proses Hall–Héroult telah diteliti, tetapi belum ada yang terbukti layak secara ekonomis.[39]
Daur ulang

Pemulihan logam melalui daur ulang telah menjadi kegiatan penting dalam industri aluminium. Daur ulang merupakan kegiatan yang kurang mendapat perhatian hingga akhir tahun 1960-an, ketika penggunaan kaleng minuman aluminium yang semakin luas membuat kegiatan ini mulai dikenal oleh masyarakat.[144] Daur ulang melibatkan peleburan aluminium bekas, suatu proses yang hanya membutuhkan sekitar 5% energi dibandingkan dengan energi yang diperlukan untuk menghasilkan aluminium dari bijih. Namun, sebagian besar bahan (hingga 15% dari bahan yang masuk) dapat hilang sebagai dross (oksida yang menyerupai abu).[145] Tungku peleburan aluminium tipe stack menghasilkan dross yang jauh lebih sedikit, dengan nilai yang dilaporkan kurang dari 1%.[146]
Dross putih dari produksi aluminium primer dan dari kegiatan daur ulang sekunder masih mengandung sejumlah aluminium yang berguna dan dapat diekstraksi secara industri. Proses tersebut menghasilkan bilet aluminium, bersama dengan limbah yang sangat kompleks. Limbah ini sulit ditangani. Limbah tersebut akan bereaksi dengan air dan melepaskan campuran gas yang antara lain terdiri dari asetilena,[147] hidrogen sulfida, dan sejumlah besar amonia.[148] Meskipun memiliki berbagai kendala tersebut, limbah ini digunakan sebagai bahan pengisi dalam aspal dan beton.[149] Potensinya untuk menghasilkan hidrogen juga telah dipertimbangkan dan diteliti.[150][151]
Aplikasi

Logam
Produksi aluminium dunia pada tahun 2016 mencapai 58,8 juta ton metrik.[butuh pemutakhiran] Jumlah ini lebih besar daripada produksi logam lainnya, kecuali besi yang mencapai 1.231 juta ton metrik.[152][153]
Aluminium hampir selalu digunakan dalam bentuk paduan, karena hal tersebut secara signifikan meningkatkan sifat mekanisnya, terutama setelah melalui proses penemperan. Sebagai contoh, kertas aluminium dan kaleng minuman yang umum digunakan merupakan paduan yang mengandung sekitar 92–99% aluminium.[154] Unsur paduan utama untuk aluminium tempa maupun aluminium cor adalah tembaga, seng, magnesium, mangan, dan silikon (misalnya pada duralumin), dengan kandungan logam lainnya hanya beberapa persen berdasarkan berat.[155][156]

Penggunaan utama aluminium meliputi:[157]
- Transportasi (mobil, pesawat terbang, truk, gerbong kereta api, kapal, sepeda, wahana antariksa, dan sebagainya). Aluminium digunakan karena densitasnya rendah,[158] tahan lama, dan tahan terhadap korosi;
- Kemasan (kaleng, kertas, rangka, dan sebagainya). Aluminium digunakan karena tidak beracun (lihat di bawah), tidak adsorptif, dan tidak mudah pecah menjadi serpihan;
- Bangunan dan konstruksi (jendela, pintu, kabel bangunan, pelapis, atap, dan sebagainya). Karena baja lebih murah, aluminium digunakan ketika bobot ringan, ketahanan terhadap korosi, atau karakteristik teknis tertentu menjadi hal yang penting;
- Penggunaan yang berkaitan dengan kelistrikan (paduan konduktor, motor dan generator, transformator, kapasitor, dan sebagainya). Aluminium digunakan karena relatif murah, memiliki konduktivitas listrik yang tinggi, kekuatan mekanis yang memadai, densitas rendah, serta tahan terhadap korosi;
- Berbagai macam barang rumah tangga, mulai dari peralatan memasak hingga furnitur. Densitas rendah, tampilan yang baik, kemudahan dalam proses fabrikasi, dan daya tahan merupakan faktor utama dalam penggunaan aluminium. Aluminium menjadi bahan pilihan untuk peralatan masak, panci, wadah, dan perkakas dapur karena dapat cepat panas, cepat dingin, dan ekonomis.[159] Oleh karena itu, aluminium digunakan baik di restoran cepat saji maupun dapur rumah tangga;
- Mesin dan peralatan (peralatan pengolahan, pipa, perkakas, rangka T-slot). Aluminium digunakan karena tahan terhadap korosi, tidak bersifat piroforik, dan memiliki kekuatan mekanis yang baik.
Aluminium merupakan bahan pengganti utama tembaga, dan penggunaannya dalam bidang-bidang yang secara tradisional didominasi oleh tembaga semakin mendapat perhatian ketika harga tembaga tinggi, seperti pada periode 2011–2014 dan 2021.[160] Terdapat persaingan antara penggunaan aluminium dan tembaga dalam industri otomotif. Namun, dalam penggunaan lainnya, seperti industri konstruksi serta kabel bawah tanah dan bawah laut, aluminium sebagian besar masih belum mampu bersaing dengan tembaga.[160]
Senyawa
Sebagian besar (sekitar 90%) aluminium oksida diubah menjadi aluminium logam.[142] Karena merupakan bahan yang sangat keras (kekerasan Mohs 9),[161] alumina banyak digunakan sebagai abrasif.[162] Karena sangat lengai secara kimia, alumina juga berguna dalam lingkungan yang sangat reaktif, seperti pada lampu natrium bertekanan tinggi.[163] Aluminium oksida umumnya digunakan sebagai katalis dalam berbagai proses industri,[142] misalnya proses Claus untuk mengubah hidrogen sulfida menjadi belerang di kilang minyak, serta dalam proses alkilasi amina.[164][165] Banyak katalis industri menggunakan alumina sebagai penyangga, yang berarti bahan katalis yang mahal disebarkan pada permukaan alumina yang lengai.[166] Penggunaan utama lainnya adalah sebagai bahan pengering atau penyerap.[142][167]

Beberapa sulfat aluminium memiliki berbagai penggunaan dalam industri dan perdagangan. Aluminium sulfat (dalam bentuk hidrat) diproduksi dalam jumlah beberapa juta ton metrik per tahun.[168] Sekitar dua pertiganya digunakan untuk pengolahan air.[168] Penggunaan utama berikutnya adalah dalam pembuatan kertas.[168] Aluminium sulfat juga digunakan sebagai mordan dalam proses pewarnaan, untuk pengawetan benih, menghilangkan bau minyak mineral, penyamakan kulit, serta dalam produksi senyawa aluminium lainnya.[168] Dua jenis tawas, yaitu tawas amonium dan tawas kalium, dahulu digunakan sebagai mordan dan dalam penyamakan kulit. Namun, penggunaannya telah menurun secara signifikan setelah tersedianya aluminium sulfat dengan kemurnian tinggi.[168] Aluminium klorida anhidrat digunakan sebagai katalis dalam industri kimia dan petrokimia, industri pewarnaan, serta dalam sintesis berbagai senyawa anorganik dan organik.[168] Aluminium hidroksiklorida digunakan dalam pemurnian air, industri kertas, dan sebagai antiperspiran.[168] Natrium aluminat digunakan dalam pengolahan air dan sebagai pemercepat pengerasan semen.[168]
Banyak senyawa aluminium lainnya memiliki penggunaan khusus, misalnya:
- Aluminium asetat dalam bentuk larutan digunakan sebagai astringen.[169]
- Aluminium fosfat digunakan dalam pembuatan kaca, keramik, produk pulp dan kertas, kosmetik, cat, pernis, serta semen gigi.[170]
- Aluminium hidroksida digunakan sebagai antasida dan mordan; juga digunakan dalam pemurnian air, pembuatan kaca dan keramik, serta pelapisan kain agar tahan air.[171][172]
- Litium aluminium hidrida merupakan agen pereduksi kuat yang digunakan dalam kimia organik.[173][174]
- Senyawa organoaluminium digunakan sebagai asam Lewis dan kokatalis.[175]
- Metilaluminoksana merupakan kokatalis untuk polimerisasi olefin Ziegler–Natta guna menghasilkan polimer vinil seperti polietena.[176]
- Ion aluminium dalam larutan berair (seperti aluminium sulfat dalam larutan) digunakan untuk mengatasi parasit ikan, seperti Gyrodactylus salaris.[177]
- Dalam banyak vaksin, garam aluminium tertentu berfungsi sebagai adjuvan imun, yaitu zat yang meningkatkan respons imun, sehingga protein dalam vaksin dapat mencapai potensi yang cukup sebagai perangsang respons imun.[178] Hingga tahun 2004, sebagian besar adjuvan yang digunakan dalam vaksin merupakan adjuvan berbasis aluminium.[179]
Biologi

Meskipun aluminium tersebar luas di kerak Bumi, aluminium hanya memiliki sedikit fungsi yang diketahui dalam biologi.[39] Pada pH 6–9 (kisaran yang relevan bagi sebagian besar perairan alami), aluminium mengendap dari air dalam bentuk aluminium hidroksida, sehingga tidak tersedia secara biologis. Sebagian besar unsur yang berperilaku seperti ini tidak memiliki peran biologis atau bersifat toksik.[181] Aluminium sulfat memiliki nilai LD50 sebesar 6.207 mg/kg (pemberian oral pada tikus).[182] Namun, ada satu organisme yang diketahui memanfaatkan aluminium, yaitu amphipoda laut dalam Hirondellea gigas. Krustasea ini dilapisi gel aluminium hidroksida yang melindungi eksoskeleton terkalsifikasi mereka agar tidak larut pada kedalaman di bawah kedalaman kompensasi karbonat.[183]
Toksisitas
Aluminium diklasifikasikan sebagai nonkarsinogen oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat.[184][r] Sebuah tinjauan yang diterbitkan pada tahun 1988 menyatakan bahwa hanya terdapat sedikit bukti bahwa paparan aluminium dalam kondisi normal menimbulkan risiko bagi orang dewasa yang sehat.[187] Tinjauan toksikologi multiunsur pada tahun 2014 juga tidak menemukan efek merugikan dari aluminium yang dikonsumsi dalam jumlah tidak lebih dari 40 mg/hari untuk setiap kg massa badan.[184] Sebagian besar aluminium yang tertelan dikeluarkan melalui feses, dan sebagian besar aluminium yang masuk ke dalam aliran darah dikeluarkan melalui urine. Namun, tidak semua aluminium yang diserap atau diberikan secara parenteral dapat dikeluarkan melalui ekskresi urine.[188][189]
Efek
Aluminium, meskipun jarang, dapat menyebabkan osteomalasia yang resisten terhadap vitamin D, anemia mikrositik yang resisten terhadap eritropoietin, dan gangguan pada sistem saraf pusat. Orang dengan insufisiensi ginjal memiliki risiko yang lebih tinggi, karena dialisis tidak terlalu efektif dalam mengeluarkan aluminium dari tubuh.[184] Konsumsi kronis aluminium silikat terhidrasi (untuk mengatasi keasaman lambung berlebih) juga dapat menyebabkan aluminium berikatan dengan isi usus dan meningkatkan pengeluaran logam lain, seperti besi atau seng; dosis yang cukup tinggi (lebih dari 50 g/hari) dapat menyebabkan anemia.[184]

Selama insiden pencemaran air Camelford, pada tahun 1988, air minum masyarakat Camelford tercemar aluminium sulfat selama beberapa minggu. Laporan akhir mengenai insiden tersebut pada tahun 2013 menyimpulkan bahwa kecil kemungkinan pencemaran tersebut menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang.[190]
Aluminium telah dicurigai sebagai salah satu kemungkinan penyebab penyakit Alzheimer,[191] tetapi penelitian mengenai hal ini selama lebih dari 40 tahun belum menemukan bukti yang kuat mengenai adanya hubungan sebab-akibat hingga2018[update].[192][193]
Aluminium meningkatkan ekspresi gen yang berkaitan dengan estrogen pada sel kanker payudara manusia yang dikultur di laboratorium.[194] Pada dosis yang sangat tinggi, aluminium dikaitkan dengan perubahan fungsi sawar darah–otak.[195] Sebagian kecil orang[196] mengalami alergi kontak terhadap aluminium dan dapat mengalami ruam merah yang gatal, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, gangguan daya ingat, insomnia, depresi, asma, sindrom iritasi usus, atau gejala lainnya setelah kontak dengan produk yang mengandung aluminium.[197]
Paparan terhadap serbuk aluminium atau asap hasil pengelasan aluminium dapat menyebabkan fibrosis paru.[198] Serbuk aluminium yang sangat halus dapat terbakar atau meledak, sehingga menimbulkan bahaya tambahan di tempat kerja.[199][200]
Jalur paparan
Makanan merupakan sumber utama aluminium. Air minum mengandung lebih banyak aluminium dibandingkan makanan padat;[184] namun, aluminium dari makanan dapat diserap lebih banyak dibandingkan aluminium dari air.[201] Sumber utama paparan aluminium secara oral pada manusia meliputi makanan (karena penggunaannya sebagai bahan tambahan pangan, dalam kemasan makanan dan minuman, serta peralatan memasak), air minum (karena penggunaannya dalam pengolahan air oleh pemerintah daerah), dan obat-obatan yang mengandung aluminium (terutama sediaan antasida/antiulkus dan aspirin dengan penyangga).[202] Paparan aluminium melalui makanan pada masyarakat Eropa rata-rata sebesar 0,2–1,5 mg/kg/minggu, tetapi dapat mencapai 2,3 mg/kg/minggu.[184] Tingkat paparan aluminium yang lebih tinggi terutama ditemukan pada tukang ledeng, kriya lepa, pekerja listrik, operator mesin, dan ahli bedah.[203]
Konsumsi antasida, antiperspiran, vaksin, dan kosmetik juga merupakan kemungkinan jalur paparan.[204] Konsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam bersama dengan aluminium meningkatkan penyerapan aluminium,[205] dan maltol telah terbukti meningkatkan akumulasi aluminium dalam jaringan saraf dan tulang.[206]
Pengobatan jika terjadi overdosis
Dalam kasus dugaan konsumsi aluminium dalam jumlah besar secara tiba-tiba, satu-satunya terapi adalah deferoksamin mesilat, yang dapat diberikan untuk membantu mengeluarkan aluminium dari tubuh melalui terapi kelasi.[207][208] Namun, terapi ini harus diberikan dengan hati-hati karena tidak hanya menurunkan kadar aluminium dalam tubuh, tetapi juga dapat menurunkan kadar logam lain seperti tembaga dan besi.[207]
Dampak terhadap lingkungan

Kadar aluminium yang tinggi ditemukan di sekitar lokasi pertambangan; sejumlah kecil aluminium dilepaskan ke lingkungan dari pembangkit listrik tenaga batu bara atau insinerator.[189] Aluminium di udara terbawa turun oleh hujan atau biasanya mengendap, tetapi partikel aluminium berukuran kecil dapat tetap berada di udara dalam waktu yang lama.[189]
Presipitasi asam merupakan faktor alami utama yang memobilisasi aluminium dari sumber-sumber alami[184] dan menjadi penyebab utama dampak aluminium terhadap lingkungan.[209] Namun, faktor utama keberadaan aluminium di perairan asin dan tawar adalah proses industri yang juga melepaskan aluminium ke udara.[184]
Di dalam air, aluminium bertindak sebagai zat toksik terhadap hewan yang bernapas dengan insang, seperti ikan, ketika air bersifat asam. Dalam kondisi tersebut, aluminium dapat mengendap pada insang,[210] menyebabkan hilangnya ion plasma dan hemolimfa yang kemudian mengakibatkan kegagalan osmoregulasi.[209] Kompleks organik aluminium dapat dengan mudah diserap dan mengganggu metabolisme pada mamalia dan burung, meskipun hal ini jarang terjadi dalam praktik.[209]
Aluminium merupakan salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan tumbuhan pada tanah asam. Meskipun umumnya tidak berbahaya bagi pertumbuhan tumbuhan pada tanah dengan pH netral, pada tanah asam konsentrasi kation Al3+ yang toksik meningkat dan mengganggu pertumbuhan serta fungsi akar.[211][212][213][214][215] Gandum telah mengembangkan toleransi terhadap aluminium dengan melepaskan senyawa organik yang mengikat kation aluminium yang berbahaya. Sorgum diyakini memiliki mekanisme toleransi yang sama.[216]
Produksi aluminium memiliki tantangan tersendiri terhadap lingkungan pada setiap tahap proses produksinya. Tantangan utamanya adalah emisi gas rumah kaca. Gas-gas tersebut berasal dari penggunaan listrik oleh fasilitas peleburan serta produk sampingan dari proses pengolahan.[217] Gas yang paling kuat dalam hal efek rumah kaca adalah perfluorokarbon, yaitu CF4 dan C2F6, yang dihasilkan dari proses peleburan.[218]
Biodegradasi aluminium logam sangat jarang terjadi; sebagian besar organisme yang dapat menyebabkan korosi aluminium tidak secara langsung menyerang atau mengonsumsi aluminium, melainkan menghasilkan limbah yang bersifat korosif.[219][220] Jamur Geotrichum candidum dapat mengonsumsi aluminium pada cakram padat.[221][222][223] Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan jamur Cladosporium resinae umum ditemukan di dalam tangki bahan bakar pesawat yang menggunakan bahan bakar berbasis minyak tanah (bukan avgas), dan kultur laboratorium dari organisme tersebut dapat mendegradasi aluminium.[224]
Lihat pula
- Baja aluminisasi, untuk ketahanan terhadap korosi dan sifat lainnya
- Baterai aluminium–udara
- Granula aluminium
- Jam kuantum
- Kain aluminisasi, untuk memantulkan panas
- Layar aluminisasi, untuk perangkat tampilan
- Sambungan aluminium
Catatan
- ↑ Penggunaan kata aluminum pada tahun 1812 oleh Davy telah mendahului penggunaan aluminium oleh penulis lain. Namun, Davy sering disebut-sebut sebagai orang yang menamai unsur tersebut; dia adalah orang pertama yang membuat nama untuk aluminium: dia menggunakan alumium in 1808. pada tahun 1808. Penulis lain tidak menerima nama itu, memilih aluminium sebagai gantinya. Lihat di bawah untuk lebih jelasnya.
- ↑ Sebagian besar logam lainnya memiliki massa atom standar yang lebih besar. Sebagai contoh, massa atom standar besi adalah 55,845; tembaga 63,546; dan timbal 207,2.[5] Hal ini berdampak pada sifat-sifat unsur ini (lihat di bawah)
- ↑ Kedua sisi kertas aluminium memiliki tingkat kilau yang berbeda: satu sisi mengilap, sedangkan sisi lainnya kusam. Perbedaan ini disebabkan oleh kerusakan mekanis kecil pada permukaan sisi yang kusam akibat proses teknologi dalam pembuatan kertas aluminium.[6] Kedua sisi memantulkan jumlah cahaya tampak yang hampir sama, tetapi sisi yang mengilap memantulkan bagian cahaya tampak yang jauh lebih besar secara terarah, sedangkan sisi yang kusam hampir sepenuhnya membaurkan cahaya. Kedua sisi kertas aluminium merupakan pemantul cahaya tampak yang baik, dengan kemampuan memantulkan sekitar 86% cahaya tampak, serta merupakan pemantul yang sangat baik terhadap radiasi inframerah menengah dan jauh, dengan kemampuan memantulkan hingga sekitar 97%.[7]
- ↑ Tidak ada unsur dengan nomor atom ganjil yang memiliki lebih dari dua isotop stabil, sedangkan unsur dengan nomor atom genap, mulai dari oksigen hingga timbal (nomor atom 8 hingga 82), semuanya memiliki lebih dari dua isotop stabil.[28] Lihat Inti atom ganjil dan genap untuk penjelasan lebih lanjut.
- ↑ Sebenarnya, sifat elektropositif aluminium, afinitasnya yang tinggi terhadap oksigen, dan potensial elektroda standarnya yang sangat negatif lebih sesuai dengan sifat skandium, itrium, lantanum, dan aktinium. Seperti aluminium, unsur-unsur tersebut memiliki tiga elektron valensi di luar inti gas mulia. Deret ini menunjukkan kecenderungan yang berkesinambungan, sedangkan kecenderungan pada golongan 13 terputus akibat munculnya subkulit d pertama pada galium yang menyebabkan kontraksi blok-d, serta munculnya subkulit f pertama pada talium yang menyebabkan kontraksi lantanida.[33]
- ↑ Ini tidak boleh dianggap sebagai anion kompleks [AlF6]3− karena ikatan Al–F tidak berbeda secara signifikan dalam jenisnya dibandingkan dengan ikatan M–F lainnya.[44]
- ↑ Perbedaan koordinasi antara fluorida dan halida yang lebih berat seperti ini bukanlah hal yang tidak lazim, misalnya terjadi pada SnIV dan BiIII; bahkan perbedaan yang lebih besar terjadi antara CO2 dan SiO2.[44]
- ↑ Kelimpahan dalam sumber tersebut dicantumkan relatif terhadap silikon, bukan dalam notasi per partikel. Jumlah seluruh unsur per 106 bagian silikon adalah 2,6682×1010 bagian; aluminium mencakup 8,410×104 bagian.
- ↑ Bandingkan statistik tahunan produksi aluminium[102] dan tembaga[103] berdasarkan data USGS.
- ↑ Ejaan alumine berasal dari bahasa Prancis, sedangkan ejaan alumina berasal dari bahasa Latin.[117]
- ↑ Davy menemukan beberapa unsur lainnya, termasuk unsur yang ia beri nama sodium dan potassium, yang masing-masing berasal dari kata dalam bahasa Inggris soda dan potash. Berzelius menyebutnya natrium dan kalium. Usulan Berzelius kemudian dikembangkan pada tahun 1814[124] melalui sistem lambang kimia yang terdiri dari satu atau dua huruf, yang masih digunakan hingga sekarang. Sodium memiliki lambang Na, sedangkan potassium memiliki lambang K, masing-masing berasal dari nama Latinnya.
- ↑ Wöhler sebelumnya telah menggunakan ejaan Aluminium pada tahun 1824, ketika menerjemahkan sebuah makalah karya Jöns J. Berzelius dari bahasa Swedia.[131]
- ↑ Beberapa bahasa Eropa, seperti bahasa Spanyol atau Italia, menggunakan akhiran yang berbeda dari akhiran Latin -um/-ium untuk membentuk nama suatu logam. Beberapa bahasa lainnya, seperti bahasa Polandia atau Ceko, menggunakan bentuk dasar nama unsur yang berbeda. Sementara itu, bahasa seperti bahasa Rusia atau Yunani sama sekali tidak menggunakan aksara Latin.
- ↑ Sebagai contoh, lihat edisi November–Desember 2013 dari Chemistry International: dalam sebuah tabel yang memuat beberapa unsur, unsur tersebut dicantumkan sebagai "aluminium (aluminum)".[137]
- ↑ Ejaan historis, yang saat ini ditulis sebagai "Tonerde"
- ↑ Pendiri dan kemudian presiden Electrochemical Society
- ↑ Saat ini ditulis sebagai argile
- ↑ Meskipun aluminium itu sendiri tidak bersifat karsinogenik, produksi aluminium dengan metode Söderberg bersifat karsinogenik, sebagaimana dicatat oleh Badan Penelitian Kanker Internasional,[185] kemungkinan besar disebabkan oleh paparan terhadap hidrokarbon aromatik polisiklik.[186]
Referensi
- ↑ (Indonesia) "Aluminium". KBBI Daring. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
- ↑ Dohmeier, C.; Loos, D.; Schnöckel, H. (1996). "Aluminum(I) and Gallium(I) Compounds: Syntheses, Structures, and Reactions". Angewandte Chemie International Edition. 35 (2): 129–149. doi:10.1002/anie.199601291.
- ↑ D. C. Tyte (1964). "Red (B2Π–A2σ) Band System of Aluminium Monoxide". Nature. 202 (4930): 383. Bibcode:1964Natur.202..383T. doi:10.1038/202383a0. S2CID 4163250.
- ↑ Lide, D. R. (2000). "Magnetic susceptibility of the elements and inorganic compounds" (PDF). CRC Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 81). CRC Press. ISBN 0849304814.
- ↑ Prohaska, Thomas; Irrgeher, Johanna; Benefield, Jacqueline; Böhlke, John K.; Chesson, Lesley A.; Coplen, Tyler B.; Ding, Tiping; Dunn, Philip J. H.; Gröning, Manfred; Holden, Norman E.; Meijer, Harro A. J. (4 Mei 2022). "Standard atomic weights of the elements 2021 (IUPAC Technical Report)". Pure and Applied Chemistry (dalam bahasa Inggris). doi:10.1515/pac-2019-0603. ISSN 1365-3075.
- ↑ "Heavy Duty Foil". Reynolds Kitchens (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-09-23. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pozzobon, V.; Levasseur, W.; Do, Kh.-V.; Palpant, Bruno; Perré, Patrick (2020). "Household aluminum foil matte and bright side reflectivity measurements: Application to a photobioreactor light concentrator design". Biotechnology Reports (dalam bahasa Inggris). 25 e00399. doi:10.1016/j.btre.2019.e00399. ISSN 2215-017X. PMC 6906702. PMID 31867227.
- 1 2 Hummel, R.E. (1981). "Reflectivity of silver- and aluminium-based alloys for solar reflectors". Solar Energy. 27 (6): 449–455. Bibcode:1981SoEn...27..449H. doi:10.1016/0038-092x(81)90040-2.
- ↑ Hass, G.; Heaney, J. B.; Hunter, W. R. (1982). "Reflectance and Preparation of Front Surface Mirrors for Use at Various Angles of Incidence from the Ultraviolet to the Far Infrared". Dalam Hass, Georg; Francombe, Maurice H.; Vossen, John L. (ed.). Physics of Thin Films - Advances in Research and Development. Vol. 12. Elsevier. hlm. 8. doi:10.1016/s0079-1970(13)70008-2. ISBN 978-0-12-533012-1.
- ↑ Yerokhin, A.; Khan, R. H. U. (2010). "4 - Anodising of light alloys". Dalam Dong, Hanshan (ed.). Surface Engineering of Light Alloys. Woodhead Publishing. hlm. 83–109. doi:10.1533/9781845699451.2.83. ISBN 978-1-84569-537-8.
- ↑ Lide 2004, hlm. 4-3.
- ↑ Puchta, Ralph (2011). "A brighter beryllium". Nature Chemistry. 3 (5): 416. Bibcode:2011NatCh...3..416P. doi:10.1038/nchem.1033. PMID 21505503.
- ↑ Davis 1999, hlm. 1–3.
- ↑ Davis 1999, hlm. 2.
- ↑ Polmear, I.J. (1995). Light Alloys: Metallurgy of the Light Metals (Edisi 3). Butterworth-Heinemann. ISBN 978-0-340-63207-9.
- ↑ Cardarelli, François (2008). Materials handbook: a concise desktop reference (Edisi 2). London: Springer. hlm. 158–163. ISBN 978-1-84628-669-8. OCLC 261324602.
- 1 2 Davis 1999, hlm. 4.
- ↑ Davis 1999, hlm. 2–3.
- ↑ Cochran, J.F.; Mapother, D.E. (1958). "Superconducting Transition in Aluminum". Physical Review. 111 (1): 132–142. Bibcode:1958PhRv..111..132C. doi:10.1103/PhysRev.111.132.
- ↑ Schmitz 2006, hlm. 6.
- ↑ Schmitz 2006, hlm. 161.
- ↑ Dean 1999, hlm. 4.2.
- ↑ Dean 1999, hlm. 4.6.
- ↑ Dean 1999, hlm. 4.29.
- 1 2 Dean 1999, hlm. 4.30.
- 1 2 Enghag, Per (2008). Encyclopedia of the Elements: Technical Data – History – Processing – Applications. John Wiley & Sons. hlm. 139, 819, 949. ISBN 978-3-527-61234-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-25. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 222–224.
- ↑ IAEA – Nuclear Data Section (2017). "Livechart – Table of Nuclides – Nuclear structure and decay data sciences". www-nds.iaea.org. Badan Tenaga Atom Internasional. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-03-23. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 242–252.
- ↑ Dickin, A.P. (2005). "In situ Cosmogenic Isotopes". Radiogenic Isotope Geology. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-53017-0. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-06. Diakses tanggal 2 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dodd, R.T. (1986). Thunderstones and Shooting Stars. Universitas Harvard Press. hlm. 89–90. ISBN 978-0-674-89137-1.
- ↑ Kondev, F.G.; Wang, M.; Huang, W.J.; Naimi, S.; Audi, G. (2021). "The NUBASE2020 evaluation of nuclear properties" (PDF). Chinese Physics C. 45 (3): 030001. doi:10.1088/1674-1137/abddae.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 224–227.
- ↑ Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 112–113.
- ↑ King 1995, hlm. 241.
- ↑ King 1995, hlm. 235–236.
- ↑ Hatch, John E. (1984). Aluminum: properties and physical metallurgy. Metals Park, Ohio: American Society for Metals, Aluminum Association. hlm. 242. ISBN 978-1-61503-169-6. OCLC 759213422.
- ↑ Vargel, Christian (2004) [Edisi bahasa Prancis dipublikasikan pada 1999]. Corrosion of Aluminium. Elsevier. ISBN 978-0-08-044495-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-05-21.
- 1 2 3 4 5 6 7 Frank, W.B. (2009). "Aluminum". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. Wiley-VCH. doi:10.1002/14356007.a01_459.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
- ↑ Beal, Roy E. (1999). Engine Coolant Testing: Fourth Volume. ASTM International. hlm. 90. ISBN 978-0-8031-2610-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-24.
- ↑ Xhanari, Klodian; Finšgar, Matjaž (Desember 2019). "Organic corrosion inhibitors for aluminum and its alloys in chloride and alkaline solutions: A review". Arabian Journal of Chemistry (dalam bahasa Inggris). 12 (8): 4648. Bibcode:2019ArJC...12.4646X. doi:10.1016/j.arabjc.2016.08.009.
- ↑ Polmear, I.J. (1995). Light Alloys: Metallurgy of the Light Metals (Edisi 3). Butterworth-Heinemann. ISBN 978-0-340-63207-9.
- ↑ Baes, C. F.; Mesmer, R. E. (1986) [1976]. The Hydrolysis of Cations. Robert E. Krieger. ISBN 978-0-89874-892-5.
- 1 2 3 4 5 6 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 233–237.
- ↑ Eastaugh, Nicholas; Walsh, Valentine; Chaplin, Tracey; Siddall, Ruth (2008). Pigment Compendium (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-37393-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Roscoe, Henry Enfield; Schorlemmer, Carl (1913). A treatise on chemistry (dalam bahasa Inggris). Macmillan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 252–257.
- ↑ Downs, A. J. (1993). Chemistry of Aluminium, Gallium, Indium and Thallium (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm. 218. ISBN 978-0-7514-0103-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dohmeier, C.; Loos, D.; Schnöckel, H. (1996). "Aluminum(I) and Gallium(I) Compounds: Syntheses, Structures, and Reactions". Angewandte Chemie International Edition. 35 (2): 129–149. doi:10.1002/anie.199601291.
- ↑ Tyte, D.C. (1964). "Red (B2Π–A2σ) Band System of Aluminium Monoxide". Nature. 202 (4930): 383–384. Bibcode:1964Natur.202..383T. doi:10.1038/202383a0.
- ↑ Merrill, P.W.; Deutsch, A.J.; Keenan, P.C. (1962). "Absorption Spectra of M-Type Mira Variables". The Astrophysical Journal. 136: 21. Bibcode:1962ApJ...136...21M. doi:10.1086/147348.
- ↑ Uhl, W. (2004). "Organoelement Compounds Possessing Al–Al, Ga–Ga, In–In, and Tl–Tl Single Bonds". Advances in Organometallic Chemistry Volume 51. Vol. 51. hlm. 53–108. doi:10.1016/S0065-3055(03)51002-4. ISBN 978-0-12-031151-4.
- ↑ Elschenbroich, C. (2006). Organometallics. Wiley-VCH. ISBN 978-3-527-29390-2.
- 1 2 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 257–67.
- ↑ Smith, Martin B. (1970). "The monomer-dimer equilibria of liquid aluminum alkyls". Journal of Organometallic Chemistry. 22 (2): 273–281. doi:10.1016/S0022-328X(00)86043-X.
- 1 2 Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 227–232.
- 1 2 Lodders, Katharina (10 Juli 2003). "Solar System Abundances and Condensation Temperatures of the Elements". The Astrophysical Journal. 591 (2): 1220–1247. Bibcode:2003ApJ...591.1220L. doi:10.1086/375492.
- 1 2 3 4 5 Clayton, D. (2003). Handbook of Isotopes in the Cosmos: Hydrogen to Gallium. Leiden: Cambridge University Press. hlm. 129–137. ISBN 978-0-511-67305-4. OCLC 609856530.
- ↑ McDonough, William F. The composition of the Earth. Diarsipkan 28 September 2011 di Wayback Machine. quake.mit.edu
- ↑ Cardarelli, François (2008). Materials handbook: a concise desktop reference (Edisi 2). London: Springer. hlm. 158–163. ISBN 978-1-84628-669-8. OCLC 261324602.
- ↑ Greenwood & Earnshaw 1997, hlm. 217–219.
- ↑ Wade, K.; Banister, A.J. (2016). The Chemistry of Aluminium, Gallium, Indium and Thallium: Comprehensive Inorganic Chemistry. Elsevier. hlm. 1049. ISBN 978-1-4831-5322-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-11-30. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Palme, H.; O'Neill, Hugh St. C. (2005). "Cosmochemical Estimates of Mantle Composition" (PDF). Dalam Carlson, Richard W. (ed.). The Mantle and Core (PDF). Elseiver. hlm. 14. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-04-03. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Menzel Barraqueta, Jan-Lukas; Samanta, Saumik; Achterberg, Eric P.; Bowie, Andrew R.; Croot, Peter; Cloete, Ryan; De Jongh, Tara; Gelado-Caballero, Maria D.; Klar, Jessica K.; Middag, Rob; Loock, Jean C.; Remenyi, Tomas A.; Wenzel, Bernhard; Roychoudhury, Alakendra N. (2020). "A First Global Oceanic Compilation of Observational Dissolved Aluminum Data with Regional Statistical Data Treatment". Frontiers in Marine Science. 7 468. Bibcode:2020FrMaS...7..468M. doi:10.3389/fmars.2020.00468. hdl:10553/74194.
- ↑ Downs, A.J. (1993). Chemistry of Aluminium, Gallium, Indium and Thallium (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-0-7514-0103-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-25. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kotz, John C.; Treichel, Paul M.; Townsend, John (2012). Chemistry and Chemical Reactivity. Cengage Learning. hlm. 300. ISBN 978-1-133-42007-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Barthelmy, D. "Aluminum Mineral Data". Mineralogy Database. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2008-07-04. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chen, Z.; Huang, Chi-Yue; Zhao, Meixun; Yan, Wen; Chien, Chih-Wei; Chen, Muhong; Yang, Huaping; Machiyama, Hideaki; Lin, Saulwood (2011). "Characteristics and possible origin of native aluminum in cold seep sediments from the northeastern South China Sea". Journal of Asian Earth Sciences. 40 (1): 363–370. Bibcode:2011JAESc..40..363C. doi:10.1016/j.jseaes.2010.06.006.
- ↑ Guilbert, J.F.; Park, C.F. (1986). The Geology of Ore Deposits. W.H. Freeman. hlm. 774–795. ISBN 978-0-7167-1456-9.
- ↑ Survei Geologi Amerika Serikat (2018). "Bauxite and alumina" (PDF). Mineral Commodities Summaries. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-03-11. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Drozdov 2007, hlm. 12.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 12-14.
- ↑ Clapham, John Harold; Power, Eileen Edna (1977) [1941]. The Cambridge Economic History of Europe: From the Decline of the Roman Empire. Vol. 5. Cambridge University Press. hlm. 207. ISBN 0-521-08710-4.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 16.
- ↑ Setton, Kenneth M. (1976). The papacy and the Levant: 1204-1571. 1 The thirteenth and fourteenth centuries. American Philosophical Society. ISBN 978-0-87169-127-9. OCLC 165383496.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 25.
- ↑ Weeks, Mary Elvira (1968). Discovery of the elements. Vol. 1 (Edisi 7). Journal of chemical education. hlm. 187. ISBN 978-0-608-30017-7.
- 1 2 Richards 1896, hlm. 2.
- ↑ Richards 1896, hlm. 3.
- ↑ Örsted, H. C. (1825). Oversigt over det Kongelige Danske Videnskabernes Selskabs Forhanlingar og dets Medlemmerz Arbeider, fra 31 Mai 1824 til 31 Mai 1825 [Gambaran Umum Prosiding Perhimpunan Sains Kerajaan Denmark dan Karya Para Anggotanya, dari 31 Mei 1824 hingga 31 Mei 1825] (dalam bahasa Dansk). hlm. 15–16. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-03-16. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Royal Danish Academy of Sciences and Letters (1827). Det Kongelige Danske Videnskabernes Selskabs philosophiske og historiske afhandlinger [Disertasi filosofis dan historis dari Perhimpunan Sains Kerajaan Denmark] (dalam bahasa Dansk). Popp. hlm. xxv–xxvi. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-24. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Wöhler, F. (Januari 1827). "Ueber das Aluminium". Annalen der Physik. 87 (9): 146–161. doi:10.1002/andp.18270870912. hdl:2027/uc1.b4433551.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Drozdov 2007, hlm. 36.
- ↑ Fontani, Marco; Costa, Mariagrazia; Orna, Mary Virginia (2014). The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side. Oxford University Press. hlm. 30. ISBN 978-0-19-938334-4.
- 1 2 Venetski, S. (1969). "'Silver' from clay". Metallurgist. 13 (7): 451–453. doi:10.1007/BF00741130.
- 1 2 Drozdov 2007, hlm. 38.
- ↑ Holmes, Harry N. (1936). "Fifty Years of Industrial Aluminum". The Scientific Monthly. 42 (3): 236–239. Bibcode:1936SciMo..42..236H. JSTOR 15938.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 39.
- ↑ Sainte-Claire Deville, H.É. (1859). De l'aluminium, ses propriétés, sa fabrication. Paris: Mallet-Bachelier. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-30.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 46.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 55–61.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 74.
- 1 2 3 "Aluminium history". All about aluminium. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-11-07. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Drozdov 2007, hlm. 64–69.
- ↑ Ingulstad, Mats (2012). "'We Want Aluminum, No Excuses': Business-Government Relations in the American Aluminum Industry, 1917–1957". Dalam Ingulstad, Mats; Frøland, Hans Otto (ed.). From Warfare to Welfare: Business-Government Relations in the Aluminium Industry. Tapir Academic Press. hlm. 33–68. ISBN 978-82-321-0049-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-25. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Seldes, George (1943). Facts and Fascism (Edisi 5). In Fact, Inc. hlm. 261.
- ↑ Thorsheim, Peter (2015). Waste into Weapons. Cambridge University Press. hlm. 66–69. ISBN 978-1-107-09935-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-04-06. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Weeks, Albert Loren (2004). Russia's Life-saver: Lend-lease Aid to the U.S.S.R. in World War II. Lexington Books. hlm. 135. ISBN 978-0-7391-0736-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-04-06. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bertilorenzi, Marco (2015). The International Aluminium Cartel: The Business and Politics of a Cooperative Industrial Institution (1886-1978) (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-80483-3.
- 1 2 Fridenson, Patrick (2024). "Industrial Consumers Versus Cartelized Producers: The French Carmaker Louis Renault and the Aluminium Cartel, 1911–1944". Business History Review. 98 (3): 637–655. doi:10.1017/S0007680524000692.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 69–70.
- 1 2 3 4 "Aluminum". Historical Statistics for Mineral Commodities in the United States (Laporan) (dalam bahasa Inggris). Survei Geologi Amerika Serikat. 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-03-08. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Copper. Supply-Demand Statistics". Historical Statistics for Mineral Commodities in the United States (Laporan) (dalam bahasa Inggris). Survei Geologi Amerika Serikat. 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-03-08. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gregersen, Erik. "Copper". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-06-22. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Drozdov 2007, hlm. 165–166.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 85.
- ↑ Drozdov 2007, hlm. 135.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 9.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 9–10.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 10.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 14–15.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 17.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 20.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 22.
- ↑ Nappi 2013, hlm. 23.
- ↑ "Aluminum prices hit 13-year high amid power shortage in China". Nikkei Asia. 22 September 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Black, J. (1806). Lectures on the elements of chemistry: delivered in the University of Edinburgh. Vol. 2. Graves, B. hlm. 291.
Para kimiawan Prancis telah memberikan nama baru untuk zat bumi murni ini; alumine dalam bahasa Prancis, dan alumina dalam bahasa Latin. Saya akui, saya tidak menyukai istilah alumina ini.
- ↑ "aluminium, n." Oxford English Dictionary, third edition. Oxford University Press. Desember 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Asal-usul: Dibentuk dalam bahasa Inggris melalui proses derivasi. Etimon: alumine kata benda, -ium akhiran, aluminum kata benda
- ↑ "alumine, n." Oxford English Dictionary, third edition. Oxford University Press. Desember 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Etimologi: berasal dari bahasa Prancis alumine (L. B. Guyton de Morveau 1782, Observ. sur la Physique 19 378), yang berasal dari bahasa Latin klasik alūmin-, alūmen alum kata benda1, dengan mengikuti pola akhiran4 bahasa Prancis -ine -ine.
- ↑ Pokorny, Julius (1959). "alu- (-d-, -t-)". Indogermanisches etymologisches Wörterbuch [Kamus etimologi bahasa-bahasa Indo-Eropa] (dalam bahasa Jerman). A. Francke Verlag. hlm. 33–34. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-11-23. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Davy, Humphry (1808). "Electro Chemical Researches, on the Decomposition of the Earths; with Observations on the Metals obtained from the alkaline Earths, and on the Amalgam procured from Ammonia". Philosophical Transactions of the Royal Society. 98: 353. Bibcode:1808RSPT...98..333D. doi:10.1098/rstl.1808.0023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Richards 1896, hlm. 3–4.
- ↑ Berzelius, J. J. (1811). "Essai sur la nomenclature chimique" [Esai tentang tata nama kimia]. Journal de Physique. 73: 253–286. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link). - ↑ Berzelius, J. (1814). Thomson, Th. (ed.). "Essay on the Cause of Chemical Proportions, and on some Circumstances relating to them: together with a short and easy Method of expressing them". Annals of Philosophy. III. Baldwin, R.: 51–62. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2014-07-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Delaméntherie, J.-C. (1811). "Leçonse de minéralogie. Données au collége de France" [Pelajaran mineralogi. Disampaikan di Collège de France]. Journal de Physique. 73: 469–470. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link). - ↑ "Philosophical Transactions of the Royal Society of London. For the Year 1810. — Part I". The Critical Review: Or, Annals of Literature. The Third (dalam bahasa Inggris). XXII: 9. Januari 1811. hdl:2027/chi.36013662.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Kalium, ketika bereaksi dengan alumina dan glusina, menghasilkan zat piroforik berwarna abu-abu gelap yang terbakar dengan memancarkan percikan api yang sangat terang serta meninggalkan alkali dan tanah. Ketika dimasukkan ke dalam air, zat tersebut menguraikan air dengan sangat hebat. Hasil percobaan ini belum sepenuhnya meyakinkan mengenai keberadaan unsur yang dapat disebut aluminium dan glucinium
- ↑ Davy, Humphry (1812). "Of metals; their primary compositions with other uncompounded bodies, and with each other". Elements of Chemical Philosophy: Part 1. Vol. 1. Bradford and Inskeep. hlm. 201. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-03-14. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cutmore, Jonathan (Februari 2005). "Quarterly Review Archive". Romantic Circles. Universitas Maryland. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-03-01. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Elements of Chemical Philosophy By Sir Humphry Davy". Quarterly Review (Review). VIII (15) IV: 72. September 1812. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Quinion, Michael (2005). Port Out, Starboard Home: The Fascinating Stories We Tell About the words We Use. Penguin Books Limited. hlm. 23–24. ISBN 978-0-14-190904-2.
- 1 2 3 4 5 Richards, Joseph W. (Maret 1891). "The Aluminium Problem". Journal of the Franklin Institute. American periodical series, 1800–1850. 131 (3). Pergamon Press: 190–191. Bibcode:1891FrInJ.131..189R. doi:10.1016/0016-0032(91)90249-3.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 "aluminium, n." Oxford English Dictionary, third edition. Oxford University Press. Desember 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)aluminium kata benda hidup berdampingan dengan sinonimnya, aluminum kata benda sepanjang abad ke-19. Sejak awal abad ke-20, aluminum secara bertahap menjadi bentuk yang dominan di Amerika Utara; nama tersebut kemudian ditetapkan sebagai nama resmi logam itu di Amerika Serikat oleh Himpunan Kimia Amerika Serikat pada tahun 1925. Di wilayah lain, aluminum secara bertahap digantikan oleh aluminium, yang diterima sebagai standar internasional oleh IUPAC pada tahun 1990.
- ↑ Webster, Noah (1828). "aluminum". American Dictionary of the English Language. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-11-13. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kean, S. (2018). "Elements as money". The Disappearing Spoon: And Other True Tales of Rivalry, Adventure, and the History of the World from the Periodic Table of the Elements (dalam bahasa Inggris) (Edisi Young Readers). Little, Brown Books for Young Readers. ISBN 978-0-316-38825-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Emsley, John (2011). Nature's Building Blocks: An A–Z Guide to the Elements. OUP Oxford. hlm. 24–30. ISBN 978-0-19-960563-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Connelly, Neil G.; Damhus, Ture, ed. (2005). Nomenclature of inorganic chemistry. IUPAC Recommendations 2005 (PDF). RSC Publishing. hlm. 249. ISBN 978-0-85404-438-2. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-12-22.
- ↑ "Standard Atomic Weights Revised" (PDF). Chemistry International. 35 (6): 17–18. ISSN 0193-6484. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-02-11.
- 1 2 National Minerals Information Center (2025). "USGS Minerals Information: Mineral Commodity Summaries" (PDF). minerals.usgs.gov (dalam bahasa Inggris). doi:10.3133/mcs2025. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Brown, T.J. (2009). World Mineral Production 2003–2007. Survei Geologi Britania Raya. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-07-13. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lama, F. (2023). Why the West Can't Win: From Bretton Woods to a Multipolar World. Clarity Press, Inc. hlm. 19. ISBN 978-1-949762-74-7.
- ↑ Graedel, T.E.; et al. (2010). Metal stocks in Society – Scientific Synthesis (PDF) (Laporan). International Resource Panel. hlm. 17. ISBN 978-92-807-3082-1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-04-26. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Hudson, L. Keith; Misra, Chanakya; Perrotta, Anthony J.; et al. (2005), "Aluminum Oxide", Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Weinheim: Wiley-VCH, doi:10.1002/14356007.a01_557
{{citation}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong:|authors= - ↑ Totten, G.E.; Mackenzie, D.S. (2003). Handbook of Aluminum. Marcel Dekker. hlm. 40. ISBN 978-0-8247-4843-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-06-15.
- ↑ Schlesinger, Mark (2006). Aluminum Recycling. CRC Press. hlm. 248. ISBN 978-0-8493-9662-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-02-15. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Benefits of Recycling". Ohio Department of Natural Resources. Diarsipkan dari asli tanggal 2003-06-24.
- ↑ "Theoretical/Best Practice Energy Use in Metalcasting Operations" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-10-31. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Manfredi, O.; Wuth, W.; Bohlinger, I. (November 1997). "Characterizing the physical and chemical properties of aluminum dross". JOM. 49 (11): 48–51. Bibcode:1997JOM....49k..48M. doi:10.1007/s11837-997-0012-9.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mahinroosta, Mostafa; Allahverdi, Ali (Oktober 2018). "Hazardous aluminum dross characterization and recycling strategies: A critical review". Journal of Environmental Management. 223: 452–468. Bibcode:2018JEnvM.223..452M. doi:10.1016/j.jenvman.2018.06.068. PMID 29957419.
- ↑ Dunster, A.M.; et al. (2005). "Added value of using new industrial waste streams as secondary aggregates in both concrete and asphalt" (PDF). Waste & Resources Action Programme. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ David, E.; Kopac, J. (Maret 2012). "Hydrolysis of aluminum dross material to achieve zero hazardous waste". Journal of Hazardous Materials. 209–210: 501–509. Bibcode:2012JHzM..209..501D. doi:10.1016/j.jhazmat.2012.01.064. PMID 22326245.
- ↑ Meshram, Arunabh; Jain, Anant; Rao, Mudila Dhanunjaya; Singh, Kamalesh Kumar (Juli 2019). "From industrial waste to valuable products: preparation of hydrogen gas and alumina from aluminium dross". Journal of Material Cycles and Waste Management. 21 (4): 984–993. Bibcode:2019JMCWM..21..984M. doi:10.1007/s10163-019-00856-y.
- ↑ Brown, T.J.; Idoine, N.E.; Raycraft, E.R.; Shaw, R.A.; Hobbs, S.F.; Everett, P.; Deady, E.A.; Bide, T. (2018). World Mineral Production: 2012–2016. Survei Geologi Britania Raya. ISBN 978-0-85272-882-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-05-16. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aluminum". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-03-12. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Millberg, L.S. "Aluminum Foil". How Products are Made. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2007-07-13. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sanders, R.E.; Lyle, J.P.; Granger, D.A. (2021). "Aluminum Alloys". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. Wiley-VCH. hlm. 6. doi:10.1002/14356007.a01_481.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
- ↑ Ross, R.B. (2013). Metallic Materials Specification Handbook. Springer Science & Business Media. ISBN 978-1-4615-3482-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Davis 1999, hlm. 17–24.
- ↑ "Aluminum". www.mit.edu. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "6 Crucial Aluminum Uses in Daily Life (And Why It's Everywhere)". Stanford Advanced Materials (dalam bahasa American English). 13 Oktober 2025. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Análisis de Minerales Críticos y/o Estratégicos [Analisis Mineral Kritis dan/atau Strategis] (Laporan) (dalam bahasa Spanyol). Chilean Copper Commission. 2024. hlm. 58–60. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lumley, Roger (2010). Fundamentals of Aluminium Metallurgy: Production, Processing and Applications. Elsevier Science. hlm. 42. ISBN 978-0-85709-025-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mortensen, Andreas (2006). Concise Encyclopedia of Composite Materials. Elsevier. hlm. 281. ISBN 978-0-08-052462-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-20. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ The Ceramic Society of Japan (2012). Advanced Ceramic Technologies & Products. Springer Science & Business Media. hlm. 541. ISBN 978-4-431-54108-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-11-29. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Slesser, Malcolm (1988). Dictionary of Energy. Palgrave Macmillan UK. hlm. 138. ISBN 978-1-349-19476-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Supp, Emil (2013). How to Produce Methanol from Coal. Springer Science & Business Media. hlm. 164–165. ISBN 978-3-662-00895-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-26. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ertl, Gerhard; Knözinger, Helmut; Weitkamp, Jens (2008). Preparation of Solid Catalysts. John Wiley & Sons. hlm. 80. ISBN 978-3-527-62068-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-24. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Armarego, W.L.F.; Chai, Christina (2009). Purification of Laboratory Chemicals. Butterworth-Heinemann. hlm. 73, 109, 116, 155. ISBN 978-0-08-087824-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 Helmboldt, O. (2007). "Aluminum Compounds, Inorganic". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. Wiley-VCH. hlm. 1–17. doi:10.1002/14356007.a01_527.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
- ↑ Stuart MC, Kouimtzi M, Hill SR, ed. (2009). WHO Model Formulary 2008. Organisasi Kesehatan Dunia. hdl:10665/44053. ISBN 978-92-4-154765-9.
- ↑ Occupational Skin Disease (dalam bahasa Inggris). Grune & Stratton. 1983. ISBN 978-0-8089-1494-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Galbraith, A; Bullock, S; Manias, E; Hunt, B; Richards, A (1999). Fundamentals of pharmacology: a text for nurses and health professionals. Harlow: Pearson. hlm. 482.
- ↑ Papich, Mark G. (2007). "Aluminum Hydroxide and Aluminum Carbonate". Saunders Handbook of Veterinary Drugs (Edisi 2). St. Louis, Mo: Saunders/Elsevier. hlm. 15–16. ISBN 978-1-4160-2888-8.
- ↑ Brown, Weldon G. (2011). "Reductions by Lithium Aluminum Hydride". Organic Reactions. hlm. 469–510. doi:10.1002/0471264180.or006.10. ISBN 978-0-471-26418-7.
- ↑ Gerrans, G.C.; Hartmann-Petersen, P. (2007). "Lithium Aluminium Hydride". SASOL Encyclopaedia of Science and Technology. New Africa Books. hlm. 143. ISBN 978-1-86928-384-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-08-23. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ M. Witt; H.W. Roesky (2000). "Organoaluminum chemistry at the forefront of research and development" (PDF). Curr. Sci. 78 (4): 410. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-10-06.
- ↑ A. Andresen; H.G. Cordes; J. Herwig; W. Kaminsky; A. Merck; R. Mottweiler; J. Pein; H. Sinn; H.J. Vollmer (1976). "Halogen-free Soluble Ziegler-Catalysts for the Polymerization of Ethylene". Angew. Chem. Int. Ed. 15 (10): 630–632. doi:10.1002/anie.197606301.
- ↑ Aas, Øystein; Klemetsen, Anders; Einum, Sigurd; Skurdal, Jostein (2011). Atlantic Salmon Ecology. John Wiley & Sons. hlm. 240. ISBN 978-1-4443-4819-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-21. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Singh, Manmohan (2007). Vaccine Adjuvants and Delivery Systems. John Wiley & Sons. hlm. 81–109. ISBN 978-0-470-13492-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-20. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lindblad, Erik B (Oktober 2004). "Aluminium compounds for use in vaccines". Immunology & Cell Biology. 82 (5): 497–505. doi:10.1111/j.0818-9641.2004.01286.x. PMID 15479435.
- 1 2 Exley, C. (2013). "Human exposure to aluminium". Environmental Science: Processes & Impacts. 15 (10): 1807–1816. Bibcode:2013ESPI...15.1807E. doi:10.1039/C3EM00374D. PMID 23982047.
- ↑ "Environmental Applications. Part I. Common Forms of the Elements in Water". Western Oregon University. Western Oregon University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-12-11. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Safety data sheet for Aluminium Sulfate". Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "This shrimplike creature makes aluminum armor to survive the deep sea's crushing pressure". www.science.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 Dolara, Piero (21 Juli 2014). "Occurrence, exposure, effects, recommended intake and possible dietary use of selected trace compounds (aluminium, bismuth, cobalt, gold, lithium, nickel, silver)". International Journal of Food Sciences and Nutrition. 65 (8): 911–924. doi:10.3109/09637486.2014.937801. ISSN 1465-3478. PMID 25045935.
- ↑ Polynuclear aromatic compounds. part 3, Industrial exposures in aluminium production, coal gasification, coke production, and iron and steel founding. International Agency for Research on Cancer. 1984. hlm. 51–59. ISBN 92-832-1534-6. OCLC 11527472.
- ↑ Wesdock, J. C.; Arnold, I. M. F. (2014). "Occupational and Environmental Health in the Aluminum Industry". Journal of Occupational and Environmental Medicine (dalam bahasa American English). 56 (5 Suppl): S5–S11. doi:10.1097/JOM.0000000000000071. ISSN 1076-2752. PMC 4131940. PMID 24806726.
- ↑ Physiology of Aluminum in Man. Aluminum and Health. CRC Press. 1988. hlm. 90. ISBN 0-8247-8026-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-05-19.
- ↑ Ganrot PO (Maret 1986). "Metabolism and possible health effects of aluminum". Environmental Health Perspectives. 65: 363–441. doi:10.1289/ehp.8665363. PMC 1474689. PMID 2940082.
- 1 2 3 "Public Health Statement: Aluminum". ATSDR (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-12-12. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Lowermoor Water Pollution incident "unlikely" to have caused long term health effects" (PDF). Committee on Toxicity of Chemicals in Food, Consumer Products and the Environment. 18 April 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2019-12-21. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tomljenovic, Lucija (21 Maret 2011). "Aluminum and Alzheimer's Disease: After a Century of Controversy, Is there a Plausible Link?". Journal of Alzheimer's Disease. 23 (4): 567–598. doi:10.3233/JAD-2010-101494. PMID 21157018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-11. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aluminum and dementia: Is there a link?". Alzheimer Society Canada. 24 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-21. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Santibáñez, Miguel; Bolumar, Francisco; García, Ana M (2007). "Occupational risk factors in Alzheimer's disease: a review assessing the quality of published epidemiological studies". Occupational and Environmental Medicine. 64 (11): 723–732. doi:10.1136/oem.2006.028209. ISSN 1351-0711. PMC 2078415. PMID 17525096.
- ↑ Darbre, P. D. (Mei 2006). "Metalloestrogens: an emerging class of inorganic xenoestrogens with potential to add to the oestrogenic burden of the human breast". Journal of Applied Toxicology. 26 (3): 191–197. doi:10.1002/jat.1135. PMID 16489580.
- ↑ Banks, William A.; Kastin, Abba J. (Maret 1989). "Aluminum-Induced neurotoxicity: Alterations in membrane function at the blood-brain barrier". Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 13 (1): 47–53. Bibcode:1989NBRev..13...47B. doi:10.1016/s0149-7634(89)80051-x. PMID 2671833.
- ↑ Bingham, Eula; Cohrssen, Barbara (2012). Patty's Toxicology, 6 Volume Set. John Wiley & Sons. hlm. 244. ISBN 978-0-470-41081-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-20. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aluminum Allergy Symptoms and Diagnosis". Allergy-symptoms.org (dalam bahasa American English). 20 September 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-07-23. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ al-Masalkhi, A.; Walton, S.P. (1994). "Pulmonary fibrosis and occupational exposure to aluminum". The Journal of the Kentucky Medical Association. 92 (2): 59–61. ISSN 0023-0294. PMID 8163901.
- ↑ "CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards – Aluminum". www.cdc.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-05-30. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards – Aluminum (pyro powders and welding fumes, as Al)". www.cdc.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-05-30. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Yokel R.A.; Hicks C.L.; Florence R.L. (2008). "Aluminum bioavailability from basic sodium aluminum phosphate, an approved food additive emulsifying agent, incorporated in cheese". Food and Chemical Toxicology. 46 (6): 2261–2266. doi:10.1016/j.fct.2008.03.004. PMC 2449821. PMID 18436363.
- ↑ Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat (1999). Toxicological profile for aluminum (PDF) (Laporan). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-05-09. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aluminum——Exposure Sources & Industrial Hygiene_Chemicalbook". www.chemicalbook.com. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chen, Jennifer K.; Thyssen, Jacob P. (2018). Metal Allergy: From Dermatitis to Implant and Device Failure. Springer. hlm. 333. ISBN 978-3-319-58503-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-26. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Slanina, P.; French, W.; Ekström, L.G.; Lööf, L.; Slorach, S.; Cedergren, A. (1986). "Dietary citric acid enhances absorption of aluminum in antacids". Clinical Chemistry. 32 (3): 539–541. doi:10.1093/clinchem/32.3.539. PMID 3948402.
- ↑ Van Ginkel, M.F.; Van Der Voet, G.B.; D'haese, P.C.; De Broe, M.E.; De Wolff, F.A. (1993). "Effect of citric acid and maltol on the accumulation of aluminum in rat brain and bone". The Journal of Laboratory and Clinical Medicine. 121 (3): 453–460. PMID 8445293.
- 1 2 "ARL: Aluminum Toxicity". www.arltma.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-08-31. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Aluminum Toxicity Diarsipkan 3 Februari 2014 di Wayback Machine. Dari NYU Langone Medical Center. Terakhir ditinjau tanggal November 2012 oleh Igor Puzanov, MD.
- 1 2 3 Rosseland, B.O.; Eldhuset, T.D.; Staurnes, M. (1990). "Environmental effects of aluminium". Environmental Geochemistry and Health. 12 (1–2): 17–27. Bibcode:1990EnvGH..12...17R. doi:10.1007/BF01734045. PMID 24202562.
- ↑ Baker, Joan P.; Schofield, Carl L. (Juli 1982). "Aluminum toxicity to fish in acidic waters". Water, Air, and Soil Pollution. 18 (1–3): 289–309. Bibcode:1982WASP...18..289B. doi:10.1007/BF02419419.
- ↑ Belmonte Pereira, Luciane; Aimed Tabaldi, Luciane; Fabbrin Gonçalves, Jamile; Jucoski, Gladis Oliveira; Pauletto, Mareni Maria; Nardin Weis, Simone; Texeira Nicoloso, Fernando; Brother, Denise; Batista Teixeira Rocha, João; Chitolina Schetinger, Maria Rosa Chitolina (2006). "Effect of aluminum on δ-aminolevulinic acid dehydratase (ALA-D) and the development of cucumber (Cucumis sativus)". Environmental and Experimental Botany. 57 (1–2): 106–115. Bibcode:2006EnvEB..57..106P. doi:10.1016/j.envexpbot.2005.05.004.
- ↑ Andersson, Maud (Juni 1988). "Toxicity and tolerance of aluminium in vascular plants: A literature review". Water, Air, and Soil Pollution. 39 (3–4): 439–462. Bibcode:1988WASP...39..439A. doi:10.1007/BF00279487.
- ↑ "Quảng Cáo ATA". 28 Mei 2021. Diakses tanggal 4 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Horst, Walter J. (1995). "The role of the apoplast in aluminium toxicity and resistance of higher plants: A review". Zeitschrift für Pflanzenernährung und Bodenkunde. 158 (5): 419–428. Bibcode:1995ZPflD.158..419H. doi:10.1002/jpln.19951580503.
- ↑ Ma, Jian Feng; Ryan, P.R.; Delhaize, E. (2001). "Aluminium tolerance in plants and the complexing role of organic acids". Trends in Plant Science. 6 (6): 273–278. Bibcode:2001TPS.....6..273M. doi:10.1016/S1360-1385(01)01961-6. PMID 11378470.
- ↑ Magalhaes, J.V.; Garvin, D.F.; Wang, Y.; Sorrells, M.E.; Klein, P.E.; Schaffert, R.E.; Li, L.; Kochian, L.V. (2004). "Comparative Mapping of a Major Aluminum Tolerance Gene in Sorghum and Other Species in the Poaceae". Genetics. 167 (4): 1905–1914. Bibcode:2004Genet.167.1905M. doi:10.1534/genetics.103.023580. PMC 1471010. PMID 15342528.
- ↑ Saevarsdottir, Gudrun; Kvande, Halvor; Welch, Barry J. (Januari 2020). "Aluminum Production in the Times of Climate Change: The Global Challenge to Reduce the Carbon Footprint and Prevent Carbon Leakage". JOM. 72 (1): 296–308. doi:10.1007/s11837-019-03918-6.
- ↑ Abrahamson, Dean (9 April 1992). "Aluminium and global warming". Nature. 356 (6369): 484. Bibcode:1992Natur.356..484A. doi:10.1038/356484a0.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Fuel System Contamination & Starvation". Duncan Aviation. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-02-25.
- ↑ Romero, Elvira; Ferreira, Patricia; Martínez, Ángel T.; Jesús Martínez, María (April 2009). "New oxidase from Bjerkandera arthroconidial anamorph that oxidizes both phenolic and nonphenolic benzyl alcohols". Biochimica et Biophysica Acta (BBA) - Proteins and Proteomics. Proteins and Proteomics 1794 (4): 689–697. doi:10.1016/j.bbapap.2008.11.013. PMID 19110079. Jamur artrokonidial tipe Geotrichum diisolasi oleh para penulis dari sebuah cakram padat yang telah mengalami kerusakan dan ditemukan di Belize (Amerika Tengah)....Dalam makalah ini, kami melaporkan pemurnian dan karakterisasi suatu oksidase ekstraseluler penghasil H2O2 yang diproduksi oleh jamur ini, yang memiliki sifat katalitik yang sama dengan AAO dari P. eryngii dan VAO dari P. simplicissimum.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Lihat juga abstrak Romero et al. 2007. - ↑ Bosch, Xavier (27 Juni 2001). "Fungus eats CD". Nature. doi:10.1038/news010628-11.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Garcia-Guinea, Javier; Cárdenes, Victor; Martínez, Angel T.; Jesús Martínez, Maria (2001). "Fungal bioturbation paths in a compact disk". Short Communication. Naturwissenschaften. 88 (8): 351–354. Bibcode:2001NW.....88..351G. doi:10.1007/s001140100249. PMID 11572018.
- ↑ Romero, Elvira; Speranza, Mariela; García-Guinea, Javier; Martínez, Ángel T.; Jesús Martínez, María (8 Agustus 2007). Prior, Bernard (ed.). "An anamorph of the white-rot fungus Bjerkandera adusta capable of colonizing and degrading compact disc components". FEMS Microbiol Lett. 275 (1). Blackwell Publishing Ltd.: 122–129. doi:10.1111/j.1574-6968.2007.00876.x. hdl:10261/47650. PMID 17854471.
- ↑ Sheridan, J.E.; Nelson, Jan; Tan, Y.L. "Studies on the "Kerosene Fungus" Cladosporium resinae (Lindau) De Vries: Part I. The Problem of Microbial Contamination of Aviation Fuels". Tuatara. 19 (1): 29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-12-13.
Bibliografi
- Davis, J. R. (1999). Corrosion of Aluminum and Aluminum Alloys (dalam bahasa Inggris). ASM International. ISBN 978-1-61503-238-9.
- Dean, J. A. (1999). Lange's handbook of chemistry (Edisi 15). McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-016384-3. OCLC 40213725.
- Drozdov, A. (2007). Aluminium: The Thirteenth Element. RUSAL Library. ISBN 978-5-91523-002-5.
- King, R. B. (1995). Inorganic Chemistry of Main Group Elements. Wiley-VCH. ISBN 978-0-471-18602-1.
- Lide, D. R., ed. (2004). Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 84). CRC Press. ISBN 978-0-8493-0566-5.
- Nappi, C. (2013). The global aluminium industry 40 years from 1972 (PDF) (Laporan). International Aluminium Institute. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2022.
- Richards, J. W. (1896). Aluminium: Its history, occurrence, properties, metallurgy and applications, including its alloys (Edisi 3). Henry Carey Baird & Co.
- Schmitz, C. (2006). Handbook of Aluminium Recycling (dalam bahasa Inggris). Vulkan-Verlag GmbH. ISBN 978-3-8027-2936-2.
Bacaan lebih lanjut
- Sheller, Mimi (2014). Aluminum Dreams. doi:10.7551/mitpress/9626.001.0001. ISBN 978-0-262-32136-5.
Pranala luar
- (Inggris) Aluminium di The Periodic Table of Videos (Universitas Nottingham)
- (Inggris) Toxicological Profile for Aluminum (PDF) (September 2008) — laporan setebal 357 halaman dari United States Department of Health and Human Services, Public Health Service, Agency for Toxic Substances and Disease Registry
- (Inggris) Entri Aluminum (terakhir ditinjau 30 Oktober 2019) dalam NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards yang diterbitkan oleh National Institute for Occupational Safety and Health, CDC
- (Inggris) Harga aluminium saat ini dan historis (1998–sekarang) untuk kontrak berjangka aluminium di pasar komoditas global
- (Inggris) Film pendek Aluminum tersedia untuk diunduh secara gratis di the Internet Archive[selebihnya]
- (Inggris) usgs.gov (Mineral Commodity Summaries 2025): Aluminum
Senyawa aluminium | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Al(I) | |||||
| Al(II) | |||||
| Al(III) |
| ||||
| (besar) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |||||||||||||||||||||||||||
| 1 | H | He | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2 | Li | Be | B | C | N | O | F | Ne | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 3 | Na | Mg | Al | Si | P | S | Cl | Ar | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 4 | K | Ca | Sc | Ti | V | Cr | Mn | Fe | Co | Ni | Cu | Zn | Ga | Ge | As | Se | Br | Kr | ||||||||||||||||||||||||||
| 5 | Rb | Sr | Y | Zr | Nb | Mo | Tc | Ru | Rh | Pd | Ag | Cd | In | Sn | Sb | Te | I | Xe | ||||||||||||||||||||||||||
| 6 | Cs | Ba | La | Ce | Pr | Nd | Pm | Sm | Eu | Gd | Tb | Dy | Ho | Er | Tm | Yb | Lu | Hf | Ta | W | Re | Os | Ir | Pt | Au | Hg | Tl | Pb | Bi | Po | At | Rn | ||||||||||||
| 7 | Fr | Ra | Ac | Th | Pa | U | Np | Pu | Am | Cm | Bk | Cf | Es | Fm | Md | No | Lr | Rf | Db | Sg | Bh | Hs | Mt | Ds | Rg | Cn | Nh | Fl | Mc | Lv | Ts | Og | ||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
