Minggu, 20 September 2026
11:23 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Abdoel Moeis

Abdoel Moeis

pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Untuk bupati Mimika, lihat Abdul Muis (politikus).
Untuk perwira TNI-AU, lihat Abdul Muis (militer).
Abdoel Moeis
250px-Abdul_Muis%2C_Pekan_Buku_Indonesia_1954%2C_p211.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir(1886-07-03)3 Juli 1886
Meninggal17 Juni 1959(1959-06-17) (umur 75)
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
PekerjaanPenulis
Pasangan menikah
Soenarsih
(m. 1925)
[1]
Anak12
KerabatSoedjana Sapi'ie (menantu)
Karier kepenulisan
GenreFiksi
Karya terkenalSalah Asuhan
Pertemuan Jodoh

Abdoel Moeis (EYD: Abdul Muis; 3 Juli 1886  17 Juni 1959) adalah seorang penulis, jurnalis, dan nasionalis Indonesia.[2][3] Ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Ia adalah orang pertama yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno.[4][5]

Riwayat Hidup

Kehidupan awal

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_het_dorpshoofd_van_Soengai_Poear_TMnr_10005323.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sutan Sulaiman, Demang Sungai Puar, ayah Abdul Muis

Abdoel Moeis adalah seorang Minangkabau.[6] Ia merupakan putra dari Soelaiman Dt Toemanggoeng dan Siti Djariah.

Selesai dari ELS, Abdoel Moeis melanjutkan pendidikannya ke Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta.[7] Namun karena sakit, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.[8]

Karier dan aktivisme

Abdoel Moeis memulai kariernya sebagai klerk di Departemen Onderwijs en Eredienst atas bantuan Mr. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan. Namun pengangkatannya itu tidak disukai oleh karyawan Belanda lainnya. Setelah dua setengah tahun bekerja di departemen itu, ia keluar dan menjadi wartawan di Bandung.[7] Pada tahun 1905, ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia. Bintang Hindia merupakan sebuah majalah yang memuat berita politik di Bandung. Pada tahun 1907, Bintang Hindia dilarang terbit, Abdul Muis pindah kerja ke Bandungsche Afdeelingsbank sebagai mentri lumbung. Pekerjaan ini ditekuni oleh Abdul Muis selama 5 tahun. Pada 1912, ia bekerja menjadi wartawan pada surat kabar Belanda Preanger Bode.[9] Pada Preanger Bode Abdul Muis bekerja sebagai korektor. Dalam waktu 3 bulan, ia diangkat menjadi hoofdcorector (korektor kepala) karena kemampuan berbahasa Belanda yang cukup baik.[10]

Pada tahun 1913 ia bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda.[11] Koran Kaoem Moeda merupakan koran pertama yang mengenalkan rubrik "Pojok" sejak tahun 1913-an. Posisi Moeis sebagai redaktur serta mengurusi masalah-masalah penerbitan dan pemasaran, membuatnya lebih leluasa untuk melanjutkan perjuangan dengan pena sebagai senjata. Koran Kaoem Moeda merupakan tulang punggung perjuangan Sarekat Islam di Bandung.[12] Setahun kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdoel Moeis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis.[13]

Tahun 1917, ia dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam pergi ke negeri Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan itu, ia juga mendorong tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung (ITB) di Priangan. Pada tahun 1918, Abdoel Moeis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam.[14][15]

Bulan Juni 1919, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli, Sulawesi Utara dibunuh setelah ia berpidato di sana. Abdoel Moeis dituduh telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi sehingga terjadi pembunuhan tersebut. Atas kejadian itu dia dipersalahkan dan dipenjara.[11] Selain berpidato ia juga berjuang melalui berbagai media cetak. Dalam tulisannya pada harian berbahasa Belanda De Express, Abdoel Moeis mengecam tulisan orang-orang kolonialis Belanda.[16]

Pada tahun 1920, dia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian. Setahun kemudian ia memimpin pemogokan kaum buruh di Yogyakarta. Pada 1923 ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Di sana ia mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah, menentang pajak yang memberatkan masyarakat Minangkabau. Berkat aksinya tersebut ia dilarang berpolitik. Selain itu, ia juga dikenakan passentelsel yang melarangnya tinggal di Sumatera Barat dan keluar dari Pulau Jawa. Kemudian ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Di kota ini ia menyelesaikan novelnya yang cukup terkenal yaitu Salah Asuhan.[16]

Abdoel Moeis merupakan tokoh yang begitu komitmen terhadap perjuangan dan nasib rakyat yang saat itu sedang dijajah. Tidak hanya melalui garis profesi sastrawan, ia bahkan berjuang dalam dunia politik. Tulisan-tulisan Abdoel Moeis yang tajam dan gerakan-gerakan politiknya itulah yang kemudian menyebabkannya dilarang tinggal di tempat kelahirannya. Ia kemudian memilih daerah Garut sebagai tanah pengasingannya, dan di sanalah ia menghabiskan sisa-sisa hidupnya.[17]

Tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Enam tahun kemudian diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942). Karena sudah merasa tua, pada 1944 Abdul Moeis berhenti bekerja. Namun, pada era setelah proklamasi, ia aktif kembali bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bahkan, ia pernah diminta untuk menjadi anggota DPA.[18]

Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang berfokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda.[11]

Wafat

Abdoel Moeis wafat di Kota Bandung pada tanggal 17 Juni 1959.[19] Jenazahnya diimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.[20]

Ia wafat meninggalkan dua orang istri dan 13 orang anak.[21]

Karya

Salah Asuhan

Salah Asuhan adalah sebuah novel yang diterbitkan tahun 1928. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Modern Library of Indonesia.[butuh rujukan] Pada tahun 1972, novel ini difilmkan dengan sutradara Asrul Sani.[22]

Abdoel Moeis juga menulis novel lain, yaitu Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953).[23]

Kehidupan Pribadi

Abdoel Moeis awalnya menikah dengan gadis pihan orang tuanya, yaitu gadis Minangkabau, tetapi pernikahan itu tidak berlangsung lama, karena sang istri meninggal dunia.[24]

Setelah cukup lama menduda, Abdoel Moeis menikahi gadis pilihannya, yaitu gadis Priangan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak. Namun, rumah tangga mereka berakhir perceraian karena Abdoel Moeis.[24]

Abdul Moeis menikah lagi dengan gadis Priangan bernama Soenarsih pada 1925. Pasangan ini dikarunia 12 anak.[24] Anak tertua bernama Sulaiman lahir saat Abdoel Moeis dalam masa pembuangan di Garut, Jawa Barat. Sulaiman meninggal dalam usia enam hari karena mendapat tetanus.[25]

Di antara anak-anak Abdoel Moeis yang hidup sampai dewasa, yakni Diana Moeis, Kencana Moeis, dan Achir Moeis.

Terjemahan

  • Don Kisot (karya Miguel de Cervantes, 1923)
  • Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
  • Sebatang Kara (karya Hector Malot, 1922)
  • Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)

Pranala luar

Referensi

  1. https://www.google.com/search?q=%22soenarsih%22+%22abdoel+moeis%22&rlz=1C1CHBF_enID855ID855&biw=1366&bih=657&tbm=bks&sxsrf=APwXEdcp5khXQQLpK-D6MFdr53aBzYPWwA%3A1685783494697&ei=xgN7ZLaPKoWeseMP07OZ0A0&ved=0ahUKEwi2ivry4Kb_AhUFT2wGHdNZBtoQ4dUDCAg&uact=5&oq=%22soenarsih%22+%22abdoel+moeis%22&gs_lcp=Cg1nd3Mtd2l6LWJvb2tzEANQAFhqYNcBaABwAHgAgAGKAYgB6wGSAQMxLjGYAQCgAQHAAQE&sclient=gws-wiz-books
  2. dkk, R. Toto Sugiarto (2021-05-01). Abdul Moeis (1883-1959) hingga Agustinus Adisoetjipto (1916-1947): Seri Ensiklopedi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Hikam Pustaka. hlm. 2. ISBN 978-623-311-124-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Abdoel_Moeis?. Diakses tanggal 2026-05-29.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  4. "DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA" Diarsipkan 2020-12-19 di Wayback Machine.. Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959
  5. "Wayback Machine". ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2026-05-29.{{cite web}}: Kutipan menggunakan judul generik
  6. "Biografi Abdoel Moeis dan Hari Sastra Indonesia". PENAINFO. Diakses tanggal 2025-05-26.
  7. 1 2 (Indonesia) Eneste, Pamusuk (2001). Buku pintar sastra Indonesia : biografi pengarang dan karyanya, majalah sastra, penerbit sastra, penerjemah, lembaga sastra, daftar hadiah dan penghargaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 9799251788. halaman 5
  8. Rinaldo (2015-11-08). "Abdul Muis, Sastrawan yang Jadi Pahlawan Nasional Pertama". liputan6.com. Diakses tanggal 2023-02-23.
  9. Rizkianto, Anggit (2020-06-01). Jalan Dakwah Sarekat Islam. Zhena Ardh Grumma. hlm. 210. ISBN 978-623-94754-1-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. Daniswari, Dini (2022-01-25). "Profil Abdul Muis: Asal, Kisah, Karya, dan Perjuangan Halaman all". KOMPAS com. Diakses tanggal 2023-05-31.
  11. 1 2 3 (Inggris) Moeis, Abdoel (2010). Never the twain. Jakarta, Indonesia: Lontar. ISBN 9789798083549. page 221.
  12. Rahayu, Siwi P. "Profil - Abdoel Moeis". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-05-31.
  13. Nurhadi (2021-06-17). "Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Abdoel Moeis". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-05-31.
  14. Setiono, Benny. G (2002). Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia. hlm. 355.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=
  15. Tamara, Nasir (2021-11-16). Demokrasi di Era Digital. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 172. ISBN 978-623-321-092-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. 1 2 "Artikel "Abdoel Moeis" - Ensiklopedia Sastra Indonesia". ensiklopedia.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2024-01-15.
  17. Faidi, A (2014). Jejak-jejak Pengasingan Para Tokoh Bangsa. Yogyakarta: Saufa. hlm. 15–16. ISBN 9786022554646.
  18. "Abdul Muis, Sastrawan yang Jadi Pahlawan Nasional Pertama". liputan6.com. 2015-11-08. Diakses tanggal 2023-05-31.{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=
  19. Bakar, J., dkk. (1985). Pemahaman Salah Asuhan (PDF). Jakarta Timur: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. 8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. Florentin, Vindry (2018-11-10). "Hari Pahlawan, Jokowi Tabur Bunga di Pusara Abdul Moeis". Tempo. Diakses tanggal 2025-01-28.
  21. Moeis, Abdoel (1977). Robert Anak Surapati. Balai Pustaka (Persero), PT. ISBN 978-602-260-299-6.
  22. Kartikasari HS., A. dan Suprapto, E. (2018). Kajian Kesusastraan: Sebuah Pengantar (PDF). Magetan: CV. Ae Medika Grafika. hlm. 40. ISBN 978-602-6637-26-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. Muis, Diana N (2000). Sejarah pertumbuhan sastra Indonesia di Jawa Barat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 35. Diakses tanggal 21 Januari 2025.
  24. 1 2 3 Basri, Yusmar (2001). Abdul Moeis: politikus, jurnalis, sastrawan. Mutiara Sumber Widya. ISBN 978-979-9331-26-7.
  25. Azmi (1984). Abdul Muis. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan