Minggu, 20 September 2026
20:28 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Wayang bambu Osing

Wayang bambu Osing adalah produk kreatif kontemporer dari wayang Osing (using) dari Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, wilayah Banyuwangi, yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk beberapa tokoh wayang pada umumnya. Wayang Osing anyaman bambu ini merupakan seni tradisional khas masyarakat Banyuwangi, yang disesuaikan dengan budaya setempat, artinya pertunjukan dalam wayang ini mengadaptasi berbagai aspek kehidupan dan tradisi khas masyarakat di Banyuwangi. Adaptasi budaya lokal ini tampak jelas dalam lakon-lakon yang sering dibawakan, busana yang menggambarkan motif Banyuwangi dan penggunaan bahasa Osing dalam dialog lakon wayang.[1] Suku Osing dikenal memiliki komitmen kuat dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya mereka melalui pendidikan, pertunjukan budaya, dan festival tradisional, dengan dukungan pemerintah daerah.[2]

Pertunjukan Wayang Osing ini memadukan unsur sejarah dan tambahan narasi dramatik seperti adegan heroik khas pewayangan. Lakon yang ditampilkan tidak hanya sebagai wahana hiburan, tetapi juga sebagai media transmisi nilai, identitas, dan ingatan kolektif masyarakat Banyuwangi. Beberapa simbol pada wayang Osing bersifat multivokal seperti simbol ular yang dulu dipandang sakral dan penuh makna spiritual, yang kini berubah menjadi peringatan moral tentang keserakahan dan bahaya kekuasaan, sehingga hal ini menunjukkan adanya perubahan makna. Hal ini menunjukkan bahwa simbol tersebut juga berfungsi sebagai penguat nilai religius dalam kehidupan masyarakat. Selain wayang yang terbuat dari anyaman bambu, terdapat juga jenis wayang lain yang terbuat dari kulit, seperti halnya pada pertunjukkan wayang kulit biasanya. Dalam wayang Osing, ruang liminalitas menekankan peran penting dalam ikatan sosial dan pembentukan identitas dari nilai Hindu ke nilai Islam pada pertunjukan wayang Osing itu.[3]

Suku Osing diyakini sebagai keturunan dari Kerajaan Blambangan yang dahulu berlokasi di wilayah Banyuwangi. Bahasa Osing, dialek dari Bahasa Jawa, memiliki variasi kosakata dan aksen yang khas dan masih aktif digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh komunitas Suku Osing saat ini. Bagi masyarakat awam mungkin sulit untuk mengidentifikasi Suku Osing, tetapi mereka di antaranya kerap menekuni kesenian batik dan tenun. Motif-motif batik mereka menggambarkan kekayaan alam, legenda, dan cerita sehari-hari. Keahlian menenun juga menjadi bagian dari seni rupa yang tak ternilai yang menjadi warisan budaya untuk dilestarikan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Osing ini bisa dikenali dari ritual dan upacara adat yang dilakukannya. Kebanyakan dari mereka memiliki berbagai ragam upacara adat, di antaranya pernikahan, ritual panen, dan acara keagamaan. Tradisi itu bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menjaga identitas dan keberlangsungan budaya Osing. Selain pertunjukan wayang Osing ini, terdapat juga bentuk kesenian lain seperti seni wayang wong, kethoprak, dan tari topeng. Itu merupakan bagian penting dari warisan budaya yang dijaga dengan penuh dedikasi oleh Suku Osing.

Identifikasi terhadap masyarakat Osing juga bisa dilakukan lewat pencermatan terhadap arsitek rumah yang mereka tinggali. Rumah adat Suku Osing memiliki desain khas dengan atap berpola balung (empat sisi) atau crocogan (dua sisi), serta ukiran kayu yang memperindah rumah mereka. Desain itu mencerminkan keindahan tradisional dan keahlian tata ruang Suku Osing.[4][5]


Jenis wayang bambu yang lain

Wayang bambu Bogor adalah bentuk kesenian wayang bambu lainnya yang diciptakan pada tahun 2000 sebagai representasi budaya dan filosofi masyarakat di kampung Cijahe, kelurahan Curugmekar, kecamatan kabupaten Bogor.[6] Sesuai namanya, wayang bambu ini terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai sosok Wayang Golek yang sudah populer di tanah Pasundan. Dalam pementasan wayang jenis ini, seorang dalang akan membacakan kisah lampau tentang kehidupan raja-raja, maupun cerita Mahabarata yang melegenda. Keunikan dari wayang bambu ini ada pada musik pengiringnya yang bukan dari gamelan melainkan musik karinding. Karinding merupakan alat musik unik yang terbuat dari bambu. Karinding dimainkan dengan cara menempelkan ruas tengah bambu di depan mulut yang sedikit terbuka. Kemudian ujung paling kanan dipukul perlahan menggunakan ruas jari sehingga mengeluarkan suara.[7]

Wilayah kampung Cijahe ini memiliki banyak pegiat seni dan budaya khas Bogor. Pegiat tersebut merupakan penduduk asli Kota Bogor yang menggunakan bahasa Sunda khas Kota Bogor. Salah satu pegiat yang dapat dijadikan informan adalah Ki Drajat, pegiat wayang bambu di kelurahan Curugmekar, Kecamatan Bogor Barat. Dalam berbagai pertunjukan wayang bambu, Ki Drajat kerap tampil menggunakan bahasa Sunda khas Bogor agar dekat dengan masyarakat untuk melestarikan bahasa khas setempat yang berbeda dengan bahasa Sunda standar di Bandung. Dengan mempertahankan dan mengembangkan wayang bambu, masyarakat Bogor tidak hanya menjaga warisan budayanya, tetapi juga memberikan kontribusi yang berharga dalam melestarikan keberagaman budaya Indonesia.[8]

Referensi

  1. "Banyuwangi Bamboo Puppets from an Ethnomathematics Perspective". journals.ums.ac.id. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Banyuwangi Bamboo Puppets" (PDF). semanticscholar.org. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. "Makna Simbolik Pertunjukan Wayang Osing Di Desa Songgon Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi Tahun 2014-2020". digilib.uinkhas.ac.id/. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. "Suku Osing Penjaga Warisan Budaya Banyuwangi". indonesia.go.id. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. "Cerita Rakyat Osing Banyuwangi: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai-Nilai Budaya". kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. "Wayang Bambu Kampung Cijahe, Kesenian Milik Bogor Raya". kompasiana.com. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. "Mengenal Seni Wayang Bambu Bogor, Kisahkan Kehidupan Masyarakat Sehari-hari". merdeka.com. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. "Penelusuran Kosakata Bahasa Sunda Khas Kota Bogor". badanbahasa.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Lihat pula

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan