Senin, 28 September 2026
23:44 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Wayang Suluh

Wayang Suluh

250px-Wayang_Suluh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pementasan wayang suluh

Wayang Suluh adalah wayang yang terbuat dari kulit dan berbentuk manusia biasa, dengan tokoh wayang keseharian, misalnya Pak Lurah, Pak Haji, Ibu Guru, Bapak Guru, petani, saudagar, anak sekolah, mahasiswa dan lainnya. Ceritanya pun tentang permasalahan sehari-hari dalam keluarga, masyarakat,dan kehidupan masyarakat pedesaan, yang sangat sederhana sesuai dengan keadaan masyarakat waktu itu.[1][2]

Suluh berarti "secercah sinar" terang. Wayang Suluh pada zaman setelah kemerdekaan digunakan oleh Departemen Penerangan dalam melakukan penyuluhan pembangunan kepada masyarakat. Menteri Penerangan Ali Murtopo, Boediardjo dan Harmoko memakai wayang suluh sebagai media penerangan yang handal. Bahkan dalang wayang kulit waktu itu dalam adegan Intermeso Limbukan, menampilkan acara selingan dengan memainkan wayang Suluh. Mbah Cermo dari kota Pacitan adalah salah satu dalang wayang suluh ternama di daerah Pacitan di sekitar tahun 70an.

  • "Sesuluh" berarti memberikan penjelasan atau membuat hati yang gelap menjadi terang, memberikan pencerahan dari yang belum tahu menjadi mengerti.
  • "Penyuluhan" memberikan pengertian, penjelasan suatu hal baru kepada masyarakat yang belum mengerti sehingga mereka paham akan suatu program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, atau dalam bahasa sekarang: "Sosialisasi"
  • "Penyuluh" atau juru penerang, adalah orang atau pegawai pemerintah yang tugasnya memberikan penyuluhan atau penerangan tentang berbagai program pemerintah kepada masyarakat.

"Dalang" pada zaman itu juga bertindak sebagai juru penerang pemerintah yang ikut menyebar-luaskan program-program pembangunan, dan salah satu medianya adalah dengan menggunakan Wayang Suluh ini. [3][4]

Referensi

  1. ↑ "COLLECTION OF Museum Penerangan: Wayang Suluh". ranggawarsitamuseum.id. Diakses tanggal 10 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Wayang Suluh". emuseum.cornell.edu. Diakses tanggal 10 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "#Wayang Suluh". kompas.com. Diakses tanggal 10 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "wayang kulit suluh". kompas.com. Diakses tanggal 10 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan