Kamis, 08 Oktober 2026
02:10 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Boediardjo

Boediardjo

Bagikan:
Boediardjo
Het_koninklijk_paar_tijdens_een_dienst_in_de_Willemskerk_in_Jakarta%2C_Bestanddeelnr_254-9022_%28Boediardjo%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Duta Besar Indonesia untuk Spanyol
Masa jabatan
1976–1979
PresidenSoeharto
PendahuluTidak ada, posisi baru
PenggantiSoerodjo Sarni
Menteri Penerangan Indonesiake-19
Masa jabatan
10 Juni 1968 –27 Maret 1973
PresidenSoeharto
PendahuluB. M. Diah
PenggantiMashuri Saleh
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja
Masa jabatan
1965–1968
PresidenSoekarno
Soeharto
PendahuluAbdul Karim Rasyid
PenggantiSuharnoko Harbani
Informasi pribadi
Lahir(1921-11-16)16 November 1921
Meninggal15 Maret 1997(1997-03-15) (umur 75)
Jakarta, Indonesia
Suami/istriSri Redjeki
Anak4
Karier militer
Dinas/cabang40px-Insignia_of_the_Indonesian_Air_Force.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail TNI Angkatan Udara
Pangkat40px-Pdu_marsdyatni_staf.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Marsekal Madya TNI
SatuanKorps Penerbang

Boediardjo (16 November 1921 – 15 Maret 1997) adalah Menteri Penerangan pada tahun 1968–1973 menggantikan B. M. Diah. Ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kamboja dan Spanyol.[1] Dalam karier militernya, ia mencapai pangkat Marsekal Madya TNI AU.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Boediardjo lahir di Dukuh Tingal, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, pada 16 November 1921.[2][3] Ia adalah anak kedua dari sembilan bersaudara, putra dari pasangan R. Djakpar Tjokrodisastro (lurah Wanurejo) dan R. Ngt. Sulimah Tjokrodisastro.[3]

Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Rejosari, Semarang (lulus 1935), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang (lulus 1939).[3] Sejak kecil ia sudah dekat dengan dunia pewayangan, karena pamannya, Tjokrowihardjo, adalah seorang dalang kondang yang tinggal di Walitelon, Temanggung.[3] Boediardjo juga gemar membaca buku-buku petualangan seperti karya Karl May dan Jules Verne, serta belajar menari serimpi.[3]

Karier Militer

Awal Karier (1939–1945)

Boediardjo memulai kariernya di bidang penerbangan sejak masa kolonial. Pada tahun 1939, setelah lulus MULO, ia mendaftar menjadi serdadu dan bergabung dengan Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Hindia Belanda) sebagai radio telegrafis di pesawat Glenn Martin (B-10).[4] Ia ditempatkan di pangkalan Andir, Bandung, kemudian Semplak, Kalijati, dan Cililitan, Jakarta.[4]

Pada Februari 1942, dalam misi pengeboman di Palembang, pesawat Glenn Martin yang ditumpanginya tertembak pesawat tempur Jepang. Boediardjo selamat dengan terjun payung ke rawa-rawa dan menyusuri Sungai Musi bersama pilotnya, seorang Indo-Belanda. Mereka ditolong perahu pengangkut kayu dan menyeberang ke Jawa, namun sesampai di Banten mereka ditangkap Jepang dan dipenjara selama tiga bulan.[4] Dalam memoarnya, ia menulis bahwa rekan pilotnya mengajarinya untuk menegaskan bahwa ia pribumi, karena pribumi mendapat perlakuan lebih baik dari Jepang.[4]

Setelah dibebaskan, ia bekerja di koperasi desa dan kemudian sebagai pegawai stasiun kereta api di Magelang untuk menghindari wajib militer Jepang.[4]

Bergabung dengan TNI AU (1945–1950)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Boediardjo bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan, yang kelak menjadi AURI.[5] Pada tahun 1946, ia menjadi instruktur di sekolah radio telegrafis di Bugis, Malang, dan berhasil menghubungkan Bugis dengan Maguwo, Yogyakarta pada 11 Oktober 1946 — yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Perhubungan TNI AU.[5]

Peran dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Sebagai Kepala Jawatan Perhubungan Udara AURI, Boediardjo mendirikan stasiun radio darurat rahasia dengan kode panggil PC2 di sebuah rumah petani di Dusun Banaran, Playen, Gunungkidul.[6] Dalam memoarnya, ia menulis bahwa untuk menghindari deteksi Belanda, antena radio disembunyikan di pohon kelapa dan genset disembunyikan di lubang rahasia pada siang hari, dan stasiun radio ini hanya dioperasikan pada malam hari.[7] Keluarga Pawirosetomo yang memiliki rumah itu dihormati karena kharismanya, dan dua putranya selalu membantu tugas rahasia ini.[7]

Pada pagi hari 1 Maret 1949, Serangan Umum berhasil mengambil alih Yogyakarta selama beberapa jam. Keesokan harinya, dini hari tanggal 2 Maret 1949, stasiun radio PC2 yang dipimpin Boediardjo mengirimkan berita kemenangan ini — pertama ke Bukittinggi, lalu ke Takengon, dan diteruskan ke Rangoon (Burma). Dari Burma, berita diterima oleh All India Radio di New Delhi yang menyiarkannya ke seluruh dunia, hingga akhirnya sampai kepada delegasi Indonesia di PBB di New York.[8][6]

Boediardjo menulis dalam memoarnya:

Ketika siaran berhasil, kami melonjak-lonjak kegirangan, saling berpelukan, seperti orang kesurupan. Keluarga Pawirosetomo tidak mengerti mengapa kami sampai begitu gembira.[7]

Karier di AURI (1950–1965)

Setelah pengakuan kedaulatan, Boediardjo menjadi Kepala Jawatan Perhubungan Angkatan Udara dan kemudian Direktur Komunikasi dan Navigasi AURI (1952-1953).[9] Pada tahun 1953-1954, ia mengikuti pendidikan di Royal Air Force Staff College, Andover, Inggris, bersama Suharnoko Harbani.[9] Di sana, ia dinilai sebagai "detailist" karena perhatiannya pada hal-hal mendetail, dan ia mulai mengembangkan kecintaannya pada fotografi dengan membeli kamera Leica bekas.[9]

Pada tahun 1956, ia diangkat sebagai Atase Udara di Cairo, Mesir, sebuah pos yang dalam memoarnya ia sebut sebagai "pembuangan" namun kemudian menjadi pintu gerbang karier diplomatiknya.[10] Dari Cairo, ia membantu pembelian persenjataan dari Cekoslovakia dan Polandia untuk persiapan pembebasan Irian Barat.[10]

Pada tahun 1962, ia menjadi Deputi Menteri/Panglima Angkatan Udara bidang Logistik, dan bertugas dalam Tim Logistik Bersama Komando Mandala Pembebasan Irian Barat di bawah Panglima Soeharto.[11]

Karier Diplomatik

Duta Besar untuk Kamboja (1965–1968)

Pada bulan April 1965, Boediardjo diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kamboja oleh Presiden Soekarno. Sebelum berangkat, Soekarno berpesan: *"Kamu saya tugaskan untuk jadi duta besar di negara yang kepala negaranya adalah saudara saya."*[12]

Selama di Kamboja, Boediardjo menjalin hubungan dekat dengan Pangeran Norodom Sihanouk. Dalam memoarnya, ia menceritakan bahwa Sihanouk sering mengajak para duta besar ke pegunungan, mandi ramai-ramai di alam bebas, dan pada malam hari Sihanouk bermain saksofon sementara para duta besar disuruh berdansa sampai pagi.[12] Ia juga menulis bahwa setiap kali ke istana, ia membawa karangan bunga anggrek sebagai tanda terima kasih karena ia secara rutin mengangkut kotoran gajah dari kandang istana untuk dijadikan pupuk anggrek di kebun KBRI.[12]

Setelah peristiwa G30S pada Oktober 1965, Boediardjo segera terbang ke Jakarta. Di Istana Bogor, ia menemui KSAU Omar Dhani dan Presiden Soekarno. Ia juga menemui Soeharto dan menyampaikan bahwa ia tidak terima jika AURI dituduh terlibat Gestapu. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa Soeharto "mengerti" dan bahwa keterlibatan AURI tidak lebih dari tersangkutnya Omar Dhani atas perintah Soekarno.[13]

Pada bulan April 1968, saat Presiden Soeharto berkunjung ke Kamboja, terjadi insiden ketika lagu "Genjer-Genjer" berkumandang dalam sambutan. Boediardjo segera berbisik kepada Soeharto: *"Pak Harto, mungkin juga terkejut, minimal heran. Cepat-cepat saya bisikkan pada beliau bahwa saya yang salah, tidak meneliti lagu-lagu yang dinyanyikan. Saya bertanggung jawab."*[14] Soeharto tidak memarahinya, dan dua bulan kemudian Boediardjo dipanggil pulang untuk diangkat menjadi Menteri Penerangan.[14]

Duta Besar untuk Spanyol (1976–1979)

Setelah menjabat sebagai Menteri Penerangan, Boediardjo diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Spanyol pada tahun 1976. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa ia awalnya tidak dapat segera berangkat karena belum memiliki rumah. Dengan bantuan Soeharto, ia diizinkan membeli dan mengangsur rumah dinasnya di Jalan Teuku Umar 32.[15]

Di Spanyol, ia aktif dalam diplomasi budaya, termasuk mengadakan pameran wayang dan ceramah tentang wayang dalam bahasa Spanyol.[15] Ia juga mengunjungi berbagai situs bersejarah dan belajar tentang pengelolaan pariwisata dan pelestarian budaya, yang kelak bermanfaat dalam tugasnya di Borobudur.[15]

Menteri Penerangan (1968–1973)

Boediardjo menjabat sebagai Menteri Penerangan periode 1968–1973 menggantikan B.M. Diah.[16]

Selama masa jabatannya, ia juga menjabat sebagai:[17]

  • Ketua Dewan Pers (1972)
  • Wakil Ketua II Lembaga Pemilihan Umum (1971)

Dalam memoarnya, ia menceritakan berbagai kebijakan penting selama menjadi menteri, termasuk pembreidelan tiga majalah porno pada tahun 1968 dan pencabutan sementara Surat Izin Terbit harian Sinar Harapan pada Januari 1973.[18] Ia juga mengembangkan sistem komunikasi tatap muka bernama Pancawara untuk menjangkau masyarakat di daerah-daerah terpencil.[18]

Ia dikenal dekat dengan wartawan dan memiliki kecintaan terhadap fotografi. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa ia selalu membawa kamera ke mana pun pergi dan telah mengoleksi sekitar 60.000 slide foto.[19]

Peran di Candi Borobudur (1980–1985)

Pada tahun 1980, Boediardjo diangkat sebagai Direktur Utama pertama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (sekarang PT TWC), menjabat hingga tahun 1985.[20]

Pembebasan Lahan

Tugas terberatnya adalah membebaskan lahan seluas 85 hektar di sekitar Candi Borobudur untuk dijadikan taman wisata, yang berarti lima desa (Kenayan, Ngaran-Krajan, Gopalan, Gendingan, dan Sabrang-rowo) harus direlokasi, mencakup sekitar 380 keluarga.[21]

Dalam memoarnya, ia menulis bahwa tantangan ini sangat berat karena ia adalah penduduk asli setempat. Ibunya sendiri menyambut gembira dan berkata: *"Mbok tanahnya kamu gusur, supaya saya dapat uang."*[21] Namun banyak warga lain yang menolak dan melakukan demonstrasi. Ada yang membawakan ia nisan sebagai simbol "kuburan bagi pengusir."[21] Meskipun mendapat tekanan besar, ia dikenang karena kesabarannya dalam menghadapi konflik ini.

Warisan Budaya

Meskipun proses pembebasan lahan menyakitkan, warisannya di Borobudur sangat positif dalam bidang budaya:

  • Pondok Tingal: Membangun kompleks penginapan dan pusat seni yang terjangkau bagi wisatawan dan pelajar dengan dana terbatas, agar mereka bisa belajar tentang Candi Borobudur secara mendalam.[21]
  • Museum Wayang "Sasana Guna Rasa": Membantu pendirian museum wayang yang menyimpan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.[21]
  • Pagelaran Wayang Rutin: Setiap bulan pada hari Sabtu pekan keempat, di Pondok Seni dan Budaya Boediardjo diadakan pagelaran wayang kulit.[22]

Kehidupan Pribadi dan Minat

Keluarga

Boediardjo menikah dengan Sri Redjeki (dipanggil Yu Sri), yang juga kakak sepupunya. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa mereka telah saling jatuh cinta sejak remaja tetapi berusaha menghindar karena masih bersaudara.[23] Mereka menikah sekitar Oktober-November 1948 di Magelang dalam suasana gerilya.[23] Mereka dikaruniai empat orang anak: Dandung Bardo Kahono, Ennie Angkawati Boediardjo, Grombyang Setyaning Boediardjo, dan Iwan Wiwoho. Dalam memoarnya, ia juga menyebut bahwa ia memiliki 18 orang cucu.[23]

Hobi dan Minat

Boediardjo dikenal sebagai:

  • **Fotografer amatir** yang gemar menulis dan memotret. Ia telah mengoleksi sekitar 60.000 slide foto.[19]
  • **Pakar wayang** yang sangat menguasai seni pedalangan, belajar dari pamannya Tjokrowihardjo.[3]
  • **Pencinta anggrek** yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) selama lebih dari 20 tahun. Ia berhasil mendorong pengakuan Anggrek Bulan sebagai Puspa Pesona Indonesia.[24]
  • **Penulis** yang menerbitkan buku fotografi dan otobiografi, antara lain *"H Boediardjo Mendongeng dengan Foto"* dan *"Siapa Sudi Saya Dongengi"*.[1]

Lakon "Salya Begal"

Sebagai epilog dari buku otobiografinya, Boediardjo menulis sinopsis lakon wayang kulit berjudul "Salya Begal". Lakon ini adalah salah satu dari empat lakon wayang ciptaannya.[25] Lakon ini mengisahkan tentang Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka yang mengalami kekecewaan dan keputusasaan ketika rencananya untuk mencegah perang Bharatayudha gagal. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah agar manusia tidak berputus asa dan menyerahkan segala keinginan kepada Tuhan Yang Maha Esa.[22]

Lakon ini pertama kali dipentaskan pada tanggal 16 November 1996 di Jakarta dalam acara ulang tahun Boediardjo yang ke-75, dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.[22] Dalam buku otobiografinya, Boediardjo menulis: *"Saya ingin mengakhiri dongeng ini dengan pagelaran wayang kulit lakon 'Salya Begal'."*[25]

Hubungan dengan Masyarakat Tionghoa

Boediardjo memiliki hubungan dekat dengan komunitas Tionghoa. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa ia diangkat menjadi Ketua Kehormatan Yayasan Suaka Insan, yang menyediakan pemakaman bagi warga Tionghoa yang tergusur di Jelambar. Meskipun ia bukan Tionghoa, ia juga diberi dua kapling pemakaman di kompleks baru seluas 15 hektar di Parung.[26] Ia juga bersahabat dengan Go Tik Swan (KRT Hardjonegoro), seorang ahli batik dan keris.[26]

Hubungan dengan Presiden Soeharto

Dalam memoarnya, Boediardjo menceritakan hubungannya dengan Soeharto yang erat. Ia diangkat sebagai Menteri Penerangan oleh Soeharto setelah sukses menjadi tuan rumah kunjungan Soeharto ke Kamboja.[14] Ia juga menceritakan bagaimana Soeharto membantunya membeli rumah dinas di Jalan Teuku Umar 32.[15] Ia menulis bahwa Soeharto adalah seorang pemimpin yang memperhatikan kelembagaan dalam merekrut seseorang.[14]

Kematian dan Penghormatan

Boediardjo meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 15 Maret 1997 pada usia 75 tahun. Ia dimakamkan di TPU Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang.[2]

Hingga kini, komunitas pers khususnya di Magelang secara rutin mengadakan ziarah ke makamnya setiap peringatan Hari Pers Nasional (9 Februari) untuk menghormati kontribusinya terhadap dunia jurnalistik Indonesia.[2] PT Taman Wisata Candi Borobudur & Prambanan juga rutin mengadakan ziarah tahunan untuk mengenang jasanya.[20]

Nama Boediardjo juga diabadikan sebagai nama ruang dan gedung di beberapa lokasi:

  • Gedung Boediardjo di Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta.[27]
  • Balai Prajurit Boediardjo di Markas Komando Pemeliharaan Materiel TNI Angkatan Udara (Makoharmatau), Lanud Husein Sastranegara, Bandung.[28]
  • Ruang Boediardjo di Manohara Center of Borobudur Study, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang.[29]

Penghargaan

Dalam Negeri

Luar Negeri

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 271, ISBN 979-416-425-9
  2. 1 2 3 Atmasari, Nina (2021-02-09). "Peringati HPN, Wartawan Magelang Ziarah ke Makam Mantan Menteri Penerangan Boedihardjo". Harianjogja.com. Diakses tanggal 2026-07-03.
  3. 1 2 3 4 5 6 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 1-5
  4. 1 2 3 4 5 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 31-35
  5. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 51-55
  6. 1 2 "PC2, Radio Penjaga Eksistensi Indonesia". Historia.id. 1 Maret 2019. Diakses tanggal 2 Juli 2026.
  7. 1 2 3 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 85-92
  8. ↑ "Dari Gunungkidul Serangan Umum 1 Maret 1949 Mendunia". KOMPAS.com. 1 Maret 2016. Diakses tanggal 2026-07-03.
  9. 1 2 3 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 99-105
  10. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 115-120
  11. ↑ Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 155-160
  12. 1 2 3 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 170-175
  13. ↑ Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 180-185
  14. 1 2 3 4 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 210-215
  15. 1 2 3 4 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 230-235
  16. ↑ "Boediardjo, Mantan Menteri Penerangan Era Orde Baru - Suara Jurnalis". 2026-06-23. Diakses tanggal 2026-07-03.
  17. ↑ AP, Agus (2021-02-10). "Mesin Ketik dan Afdruk Foto Tidak Terlupakan". radarsemarang. Diakses tanggal 2026-07-03.
  18. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 240-245
  19. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 270
  20. 1 2 "TWC selenggarakan kegiatan Edukasi dan "Socio-Culture Engagement"". Antara News. 2023-07-16. Diakses tanggal 2026-07-03.
  21. 1 2 3 4 5 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 290-295
  22. 1 2 3 "Salyo Begal Makna Kepasrahan Kepada Allah SWT". Berita Magelang. 25 November 2023. Diakses tanggal 2 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. 1 2 3 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 280-285
  24. ↑ Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 310-315
  25. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 336-345
  26. 1 2 Boediardjo, 1996: Siapa Sudi Saya Dongengi, hal. 320
  27. ↑ "Museum Wayang Sasana Guna Rasa, Rumah Ribuan Wayang Koleksi Boediardjo". JoSS.co.id. 15 Juni 2023. Diakses tanggal 2 Juli 2026.
  28. ↑ "Menilik Koleksi Wayang Milik Boediardjo". Liputan6.com. 15 Juni 2023. Diakses tanggal 2 Juli 2026.
  29. ↑ "100 Pramuwisata Ikuti Pembekalan Candi Borobudur". Kompas.com. 18 Oktober 2022. Diakses tanggal 2 Juli 2026.
  30. ↑ Departemen Dalam Negeri, Indonesia (1976). Mimbar. Indonesia: Departemen Dalam Negeri. hlm. 29.
  31. ↑ "BOE-A-1979-8147 Real Decreto 558/1979, de 12 de marzo, por el que se concede la Gran Cruz del Mérito Aeronáutico, con distintivo blanco, al Mariscal de la Aeronáutica de Indonesia, Embajador extraordinario y plenipotenciario de dicho país en España, señor Boediardjo". www.boe.es. Diakses tanggal 2024-06-30.

Daftar Pustaka

  • Boediardjo (1996). Siapa Sudi Saya Dongengi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. ISBN 979-416-425-9.

Pranala luar

Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
B.M. Diah
Menteri Penerangan
1968–1973
Diteruskan oleh:
Mashuri
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Abdul Karim Rasyid
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja
1965–1968
Diteruskan oleh:
Suharnoko Harbani
Jabatan baru Duta Besar Indonesia untuk Spanyol
1976–1979
Diteruskan oleh:
Soerodjo Sarni
Kabinet Pembangunan I (1968–1973)
Mendagri: Basuki Rahmat, Amir Machmud •Menlu: Adam Malik •Menhankam/Panglima ABRI: Soeharto, Maraden Panggabean •Menhak: Oemar Senoadji •Menteri Penerangan: Boediardjo •Menkeu: Ali Wardhana •Mendag: Sumitro Djojohadikusomo •Mentan: Thoyib Hadiwidjaja •Menperin: M. Jusuf •Mentam: Sumantri Brodjonegoro •Menteri PUTL: Sutami •Menhub: Frans Seda •Mendikbud: Mashuri Saleh •Menkes: G.A. Siwabessy •Menag: Muhammad Dahlan, Abdul Mukti Ali •Menaker: Mursalin Daeng Mamangung, M. Sadli •Mentranskop: M. Sarbini, Subroto •Mensos: Albert Mangaratua Tambunan, Idham Chalid (Plt.), M. S. Mintaredja •Menteri Ekuin: Sri Sultan Hamengkubuwono IX •Menteri Kesra: Idham Chalid •Menteri PPN/ Ketua BAPPENAS: Sunawar Sukowati, Widjojo Nitisastro •Menpenhukpemmen (dihapuskan sejak Reshuffle Kabinet pada 11 September 1971): M. S. Mintaredja •Menteri PPAN: Harsono Tjokroaminoto, Emil Salim •Jaksa Agung: Sugih Arto •Gubernur Bank Indonesia: Radius Prawiro •Pangkopkamtib: Maraden Panggabean, Sumitro •Mensesneg: Alamsyah Ratu Perwiranegara, Soedharmono
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan