Minggu, 11 Oktober 2026
07:46 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Salya Begal

Bagikan:
Artikel ini berkualitas rendah karena menggunakan kata-kata yang berlebihan dan hiperbolis tanpa memberikan informasi yang jelas. Silakan buang istilah-istilah yang hiperbolis tersebut. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Salya Begal (atau Salyo Begal) adalah sebuah lakon wayang kulit purwa karya Boediardjo, seorang tokoh militer dan Menteri Penerangan Republik Indonesia periode 1968–1973. Lakon ini merupakan salah satu dari empat cerita wayang ciptaan Boediardjo dan menjadi karyanya yang paling terkenal. Lakon ini mengisahkan tentang Prabu Salya, raja Mandaraka, yang mengalami kekecewaan mendalam ketika usahanya untuk mencegah perang Bharatayudha gagal, dan ia pun "dibegal" oleh tipu daya Kurawa.[1][2]

Latar Belakang Penciptaan

Lakon "Salya Begal" diciptakan oleh Boediardjo (akrab disapa "Pak Boed") sebagai bagian dari buku otobiografinya yang berjudul "Siapa Sudi Saya Dongengi". Pada bagian akhir buku tersebut, Boediardjo mencantumkan sinopsis "Salya Begal" sebagai sebuah epilog.[3]

Lakon ini pertama kali dipentaskan pada tanggal 16 November 1996 di Jakarta dalam rangka perayaan ulang tahun Boediardjo yang ke-75. Pementasan perdana ini digelar oleh Ki Manteb Sudarsono, seorang dalang kondang yang dijuluki "Dalang Setan".[2] Dalam buku otobiografinya, Boediardjo menulis: "Saya ingin mengakhiri dongeng ini dengan pagelaran wayang kulit lakon 'Salya Begal'."[4]

Sinopsis

Lakon "Salya Begal" bercerita tentang Prabu Salya, raja Kerajaan Mandaraka, yang sangat kecewa setelah mengetahui bahwa upaya Prabu Kresna sebagai duta Pandawa untuk berdamai dengan Kurawa gagal. Prabu Duryudana, raja Astina sekaligus menantu Salya, bersikeras tidak mau mengembalikan Amarta dan Indraprastha kepada Pandawa, dan memilih untuk berperang.[5]

Prabu Salya dilanda kebimbangan. Di satu sisi, ia memiliki kewajiban terhadap menantunya di Astina (Kurawa). Di sisi lain, di pihak Pandawa ada dua keponakannya yang sangat ia sayangi, yaitu Nakula dan Sadewa. Dalam keadaan bingung dan kecewa, Salya pulang ke Mandaraka dan tertidur. Ia bermimpi melihat perang dahsyat terjadi dan Duryudana menghajar habis-habisan Nakula dan Sadewa.[5]

Salya pun segera pergi dengan keretanya menuju tempat Pandawa, berniat mencegah perang. Di tengah jalan, ia dihadang oleh sambutan ramah dari orang-orang yang dikiranya utusan Pandawa. Ternyata, itu adalah siasat Duryudana dan Sengkuni untuk menjebaknya agar Salya berpihak kepada Kurawa. Salya pun "dibegal" oleh tipu daya menantunya sendiri. Rencananya untuk berdamai gagal, dan ia tidak bisa lagi pergi ke Pandawa.[2]

Karena sangat kecewa, Prabu Salya membuang semua senjata dan kesaktiannya, termasuk Aji Candrabirawa pemberian mertuanya, Resi Bagaspati. Ia kemudian ngudarasa (berkata pada diri sendiri): "Kanggo apa aku urip? Kanggo apa aku kasinungan praja lan bandha? Saiki kabeh wis ora ana paedahe." (Buat apa saya hidup? Untuk apa saya bergelimang tahta dan harta? Kini, semuanya sudah tidak ada gunanya).[2] Keluh-kesah ini menggetarkan bumi dan didengar oleh Dewa Narada dan Semar yang turun dari Suralaya untuk memberikan wejangan agar Salya tidak larut dalam keputusasaan.[2]

Tradisi Pagelaran

Setelah wafatnya Boediardjo pada tahun 1997, lakon "Salya Begal" terus dilestarikan oleh keluarga dan komunitas seni di Borobudur. Lakon ini menjadi pagelaran "wajib" yang digelar setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Boediardjo pada tanggal 16 November, serta menjadi bagian dari pagelaran wayang rutin setiap bulan di Pondok Seni dan Budaya Boediardjo di Borobudur, Magelang.[2]

Beberapa dalang terkenal yang pernah mementaskan lakon ini antara lain:

  • Ki Manteb Sudarsono (pementasan perdana, 1996)[2]
  • Purbo Asmoro (dalam bentuk pakeliran padat berdurasi sekitar 50 menit)[5]
  • Aryo Pranowo (dalang cilik asal Solo, 2013)[1]
  • Ki Eko Sugiono (pada peringatan ke-102 kelahiran Boediardjo, 2023)[2]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 "Pameran foto Pak Boed ditutup penampilan dalang cilik". SINDOnews Daerah. 24 November 2013. Diakses tanggal 3 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 "Salyo Begal Makna Kepasrahan Kepada Allah SWT". Berita Magelang. 26 November 2023. Diakses tanggal 3 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Kajian Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Salya Begal" (PDF). Lakon. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
  4. ↑ "Tinggalkan Cerita Wayang Kulit Salya Begal". Radar Semarang. 9 Februari 2021. Diakses tanggal 3 Juli 2026.
  5. 1 2 3 "Kajian Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Salya Begal Sajian Purbo Asmoro". Jurnal Lakon.{{cite journal}}: |access-date= memerlukan |url=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan