Jumat, 30 Oktober 2026
02:09 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Suharnoko Harbani

Suharnoko Harbani

menteri perindustrian Indonesia

Bagikan:
Suharnoko Harbani
250px-Suharnoko_Harbani.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menteri Perindustrian Ringan Indonesia
Masa jabatan
24 Februari 1966 –25 Juli 1966
PresidenSoekarno
PendahuluM. Jusuf
PenggantiM. Jusuf
Informasi pribadi
Lahir(1925-03-30)30 Maret 1925
Meninggal5 November 2001(2001-11-05) (umur 76)
Jakarta, Indonesia
Suami/istriMaemunah Supardi Suharnoko Harbani
Anak4
AlmamaterSekolah Penerbang A-1 (1945-1946)
Karier militer
Dinas/cabang40px-Lambang_TNI_AU.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail TNI Angkatan Udara
Pangkat40px-21-TNI_Air_Force-LG.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Marsekal Madya TNI
SatuanKorps Penerbang (Tempur)

Suharnoko Harbani (30 Maret 1925 – 5 November 2001), adalah Menteri Perindustrian Indonesia pada Kabinet Dwikora II dan Kabinet Dwikora III pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ia juga mantan anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan pelaku sejarah dari TNI AU dalam penyerangan melalui udara diwilayah tangsi-tangsi Belanda di Kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada tahun 1947.[1][2] dengan pangkat terakhir Marsekal Madya TNI. Suharnoko Harbani juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kamboja.[3]

Saat ini nama beliau oleh TNI Angkatan Udara diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI AU di daerah Tarakan, Kalimantan Utara, dan menjadi Lanud Suharnoko Harbani.

Riwayat Hidup

250px-H._Suharnoko_Harbani_-_TMPNU_Kalibata_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam Suharnoko Harbani di Taman Makam Pahlawan Kalibata

Pelaku Penyerangan Markas Belanda Di Ambarawa

Marsdya TNI (Purn) Suharnoko Harbani adalah seorang Kadet yang melakukan pengeboman markas Belanda di Ambarawa menggunakan pesawat cureng pada 29 Juli 1947 silam. para Penerbang AU, Kadet Penerbang Mulyono, Sutarjo Sigit, dan Suharnoko Harbani, mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Mereka melakukan serangan udara pada pagi hari ke kubu pertahanan Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga. Serangan udara itu merupakan operasi udara pertama kali, dan menjadi cikal bakal operasi udara yang terus dikembangkan TNI AU. Kemudian, gugurnya perintis dan pendahulu TNI AU, Komodor Udara Agustinus Adisucipto dan Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, serta Opsir Muda Udara I Adi Soemarmo, yang sedang melakukan misi kemanusiaan, membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia.[4]

Lapangan Terbang Maguwo menjadi saksi bisu peristiwa 71 tahun silam. Selasa subuh, 29 Juli 1947 para pemuda penerbang Indonesia sibuk mempersiapkan serangan ke tangsi militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Empat pesawat direncanakan melakukan operasi udara, tetapi saat akan terbang, hanya tiga pesawat yang siap dipasangi bom. Hal itu dikerjakan siang malam oleh para teknisi.

Deru mesin pesawat pagi itu memecahkan lapangan Udara Maguwo. Pesawat Guntai dan dua pesawat Cureng secara beruntun terbang meninggalkan Maguwo. Pesawat Guntai dipiloti Kadet Udara 1 Mulyono, didampingi Air-Gunner Dulrahman tinggal landas terlebih dahulu. Disusul dua pesawat Cureng yang diawaki Kadet Udara 1 Sutarjo Sigit, berpasangan dengan Air-Gunner Sutarjo. Juga Kadet Udara 1 Suharnoko Harbani dengan Air-Gunner Kaput.

Kaca Cockpit pesawat dilepaskan, badan dan sayap diberi cat warna hijau militer. Sedangkan modifikasi mengutamakan pada mekanisme untuk menjatuhkan bom, yang digantungkan di kedua sayap pesawat. Bom beratnya masing masing 50 kg. Kadet Mulyono diperintah menyerang tangsi Belanda yang berada di Semarang. Menggunakan pesawat pembom tukik “driver Bomber” Guntai berkekuatan 850 daya kuda. Pesawat berkecepatan jelajah 265 km/ jam dibebani 400 kg. Dilengkapi dua senapan, disayap dan dibelakang penerbang. Berperan sebagai penembak udara, Dulrahman.

Dengan menggunakan penerangan lampu senter dibarengi kode-kode dari sesama penerbang, akhirnya pesawat berhasil diterbangkan. Ketika malam masih menyelimuti kota, bom telah dijatuhkan ke tangsi militer. Misi selesai, sesegera mungkin kembali ke pangkalan udara Maguwo dengan terbang rendah dan mendarat jam enam pagi.

Sekolah Penerbang Angkatan ke-1

Ia merupakan alumni Sekolah Penerbang Angkatan ke-1 tahun 1945-1946,[5] meluluskan 29 Penerbangan diantaranya Komodor (Anumerta) Iswahjoedi, Marsda TNI (Anumerta) Prof. Abdulrahman Saleh, Opsir Udara I (Anumerta) Husein Sastranegara, Maradya TNI H. Sujono dan Kapten Udara (Anumerta) Muljono.

Referensi

Dalam budaya populer

Pranala luar

Jabatan politik
Didahului oleh:
M. Jusuf
Menteri Perindustrian Ringan
1966
Diteruskan oleh:
M. Jusuf
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Boediardjo
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja
1968–1971
Diteruskan oleh:
Hartono Rekso Dharsono
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan