Senin, 21 September 2026
02:47 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Bob Hasan

Bob Hasan

Bob Hasan
鄭建盛
250px-Bob_Hasan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesiake-16
Masa jabatan
16 Maret 1998 –21 Mei 1998
PresidenSoeharto
PendahuluTungki Ariwibowo
PenggantiRahardi Ramelan
Informasi pribadi
LahirThe Kian Seng
(1931-02-24)24 Februari 1931
Meninggal31 Maret 2020(2020-03-31) (umur 89)[1]
Jakarta, Indonesia
Sebab kematianKanker paru-paru
Suami/istriPertiwi Hasan
Anak3
PekerjaanKonglomerat kayu lapis
KabinetKabinet Pembangunan VII

Mohammad "Bob" Hasan (24 Februari 1931  31 Maret 2020), adalah seorang pengusaha Indonesia, yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia yang hanya berjalan selama 3 bulan dari Maret 1998 hingga Mei 1998 karena jatuhnya pemerintahan Soeharto. Ia lalu divonis 2 tahun penjara pada Februari 2001 setelah terbukti menggelapkan uang kontrak antara Departemen Kehutanan dengan PT Mapindo Parama.[2] Dia adalah salah satu kroni paling dekat dengan presiden Soeharto yang lama menjabat dan dijuluki "raja hutan" karena bisnis kehutanannya. Hasan menjabat sebagai Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) sejak September 1984 sampai kematiannya. Bob Hasan sejak kecil diasuh sebagai anak oleh Jenderal Gatot Subroto.

Namanya mencuat karena berbisnis dalam industri kayu. Bob Hasan juga menjabat sebagai Honorary Life Council Member International Associations of Athletic Federation. Ia adalah pendiri majalah Gatra. Ia pernah mendapat penghargaan Kalpataru pada 1997.

Kehidupan awal

Lahir dengan nama The Kiang Seng di Semarang, Jawa Tengah, pada Februari 1931 dari seorang pedagang tembakau Tionghoa, Hasan menjadi anak angkat Gatot Soebroto, seorang jenderal TNI Angkatan Darat, yang saat itu memimpin Kolonel Soeharto pada tahun 1950-an.[3][4]

Karier bisnis

Setelah Soeharto menggantikan Gatot Subroto sebagai Panglima Divisi Diponegoro Angkatan Darat, Hasan bekerja dengan Soeharto untuk mengembangkan berbagai bisnis sampingan, yang dikendalikan oleh militer, yang memberikan banyak dana untuk Divisi tersebut serta pendapatan tambahan bagi para perwira.[5]

Setelah Soeharto mengambil alih kursi kepresidenan pada tahun 1966, ia memprakarsai perluasan besar-besaran penebangan komersial Indonesia, terutama di pulau-pulau di luar Jawa. Pada tahun 1970-an, Hasan menjabat sebagai "mitra" Indonesia yang dibutuhkan untuk perusahaan asing yang ingin memanen kayu di Indonesia, terutama bekerja dengan perusahaan Amerika Serikat, Georgia Pacific, dan juga mendirikan sejumlah usaha patungan antara dia dan perusahaan milik pemerintah. Pada tahun 1981 pemerintah melarang ekspor kayu yang tidak digiling, yang menyebabkan banyak perusahaan asing menjual kegiatan mereka di Indonesia kepada pemilik dalam negeri yang tertarik untuk mendirikan operasi pengolahan; Hasan, yang sudah menjadi pemegang saham utama dalam operasi Georgia Pacific di Indonesia, menjadi pemilik tunggal ketika perusahaan tersebut meninggalkan Indonesia pada tahun 1983.[5] Berawal dari perkayuan, ia mengembangkan bisnisnya ke bidang keuangan, asuransi, otomotif, dan industri lainnya, terutama melalui perusahaan induk Kalimanis miliknya.[6] Grup Kalimanis milik Hasan dilaporkan menguasai lebih dari 2 juta hektar (7.700 mil persegi) konsesi utama di Kalimantan.[7]

Hasan juga Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo). Di bawah Hasan, Apkindo diberikan kendali penuh atas harga kayu lapis, pemasaran, dan ekspor. Apkindo membantu Indonesia memperoleh sekitar tiga perempat dari pasar ekspor kayu lapis dunia pada awal 1990-an, kadang-kadang menggunakan teknik yang digambarkan oleh pengamat sebagai "harga predator". Hasan secara pribadi mendapatkan keuntungan dari kepemimpinannya baik dengan mendukung bisnis yang dimilikinya maupun melalui pengendalian biaya yang dibayarkan kepada organisasi oleh anggota lain.[5] Ketenarannya dalam industri kayu lapis membuatnya dijuluki "raja hutan".[8]

Hasan menjalankan PT Nusantara Ampera Bakti (Nusamba) yang 80% sahamnya dimiliki oleh yayasan yang dikendalikan oleh Suharto.[7][9]

Hasan menjadi mediator dalam perselisihan bisnis antara enam anak Soeharto, setelah kematian istri Soeharto pada tahun 1996.[7] Dia mengatur kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan pemegang saham seputar deposit emas Busang yang ditemukan oleh Bre-X Minerals di Kalimantan sebelum penemuan emas itu terungkap sebagai tipuan.[7][9][10]

Menteri perindustrian dan perdagangan

Suharto menunjuk Hasan sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 14 Maret 1998 dan dilantik pada 16 Maret 1998, menjadikannya satu-satunya keturunan Tionghoa yang bergabung dengan salah satu kabinet Suharto. Pengangkatannya dipandang sebagai bukti bahwa Soeharto tidak serius melakukan perubahan fiskal yang substansial untuk mengatasi krisis keuangan Asia yang dimulai pada pertengahan 1997.[11] Akibat persyaratan Dana Moneter Internasional (IMF) selama krisis, Apkindo ditutup pada tahun 1998.[12] Hasan kehilangan jabatan kabinetnya ketika Suharto mundur pada 21 Mei 1998 menyusul protes dan kerusuhan massal.

Hukuman korupsi dan penjara

Hasan sering menjadi subjek tuduhan korupsi karena urusan bisnisnya dan kendali sebagian besar industri Indonesia. Setelah Suharto lengser pada tahun 1998, serangkaian putusan pengadilan menemukan bukti kejahatan. Hasan didenda 50 miliar rupiah sebagai akibat dari gugatan yang diajukan oleh beberapa organisasi pemuda, menuduh dia telah memerintahkan pembakaran hutan di Sumatra.[12] Pada Februari 2001, ia dihukum karena menyebabkan kerugian sebesar 244 juta dolar AS kepada pemerintah Indonesia melalui proyek pemetaan hutan yang curang di Jawa pada awal 1990-an. Dia dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang dan kemudian di Lembaga Pemasyarakatan Pulau Nusa Kambangan yang sulit diakses di lepas pantai selatan-tengah Jawa, sampai pembebasan bersyaratnya pada Februari 2004.[13] Hasan adalah orang pertama dan di antara rekan-rekan Soeharto yang dihukum karena penipuan dan korupsi.

Hasan adalah anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) dari tahun 1994 hingga 2004, ketika IOC mengeluarkannya karena tuduhan korupsi. IOC dikritik oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2000 karena menyatakan bahwa Hasan harus diizinkan untuk menghadiri Olimpiade 2000 di Sydney, Australia, meskipun dia ditahan pada saat itu.[14]

Wafat

Pada 31 Maret 2020, Hasan meninggal dunia pada usia 89 tahun akibat kanker paru-paru di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.[15]

Referensi

  1. "Bob Hasan Meninggal Dunia". Kumparan. Diakses tanggal 31 Maret 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Leo/APr. "Vonis Bob Hasan Dianggap Terlalu Ringan". hukumonline.com (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2026-02-05.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  3. Joe Studwell (3 September 2010). Asian Godfathers: Money and Power in Hong Kong and South East Asia. Profile Books. hlm. 250–. ISBN 1-84765-144-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Hamish McDonald (6 Januari 2015). Demokrasi: Indonesia in the 21st Century. St. Martin's Publishing Group. hlm. 117–. ISBN 978-1-4668-7926-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 Barr, Christopher M (1998). Bob Hasan, the rise of Apkindo, and the shifting dynamics of control in Indonesia's timber sector. Indonesia 65:1-36.
  6. Saragosa, Manuel (1997). Indonesian tycoon plays influential role. Financial Times February 13. p 6.
  7. 1 2 3 4 "Indonesia's Uncle Bob (Mar 27, 1997)". The economist. Diakses tanggal 31 Juli 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Anny Wong (24 Oktober 2018). The Roots of Japan's Environmental Policies. Taylor & Francis. hlm. 286–. ISBN 978-1-317-73405-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 Borsuk, Richard (Feb 16, 1997). "Freeport Beats Out Canadians To Develop Busang Gold Mine". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 31 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. Richard Borsuk; Nancy Chng (23 Mei 2014). Liem Sioe Liong's Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 348–. ISBN 978-981-4459-57-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. Porter, Barry (1998). Suharto cronies dominate new financial team. South China Morning Post March 15.
  12. 1 2 Cotton, James (1999). The "haze" over Southeast Asia: challenging the ASEAN mode of regional engagement. Pacific Affairs 72(3):331-351.
  13. Donnan, Shawn (2004). Jailed ex-tycoon Hasan is released early in Indonesia. Financial Times February 23. p 2.
  14. Bita, Natasha (2000). IOC tries to get its own out of jail. The Australian. September 13.
  15. Wulandaru, Dicky Christanto (31 Maret 2020). "Track and field figure, former minister Mohamad 'Bob' Hasan dies of cancer". The Jakarta Post. Diakses tanggal 31 Maret 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Jabatan politik
Didahului oleh:
Tungki Ariwibowo
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia
1998
Diteruskan oleh:
Rahardi Ramelan
Menko Polkam: Feisal Tanjung Menko Ekuin/Kepala BAPPENAS: Ginandjar Kartasasmita Menko PP-PAN: Hartarto Sastrosoenarto Menko Kesra/Kepala BKKBN: Haryono Suyono Mendagri: R. Hartono Menlu: Ali Alatas Menhankam/Panglima ABRI: Wiranto Menhak: Muladi Menteri Penerangan: Muhammad Alwi Dahlan Menkeu: Fuad Bawazier Menperindag: Mohammad Hasan Mentan: Justika Baharsjah Mentamben: Kuntoro Mangkusubroto Menhutbun: Sumahadi Menteri PU: Rachmadi Bambang Sumadhijo Menhub: Giri Suseno Hadihardjono Menparsenbud: Abdul Latief Menkopukm: Subiakto Tjakrawerdaya Menaker: Theo L. Sambuaga Menteri Trans-PPH: AM Hendropriyono Mendikbud: Wiranto Arismunandar Menkes: Faried Anfasa Moeloek Menag: Muhammad Quraish Shihab Mensos: Siti Hardijanti Rukmana Menristek: Rahardi Ramelan Menves: Sanyoto Sastrowardoyo Menteri Agraria: Ary Mardjono Menpera: Akbar Tanjung Menteri LH: Juwono Sudarsono Menteri Panhorbat: Haryanto Dhanutirto Menteri BUMN: Tanri Abeng Menperwan: Tuti Alawiyah Menpora: Agung Laksono Jaksa Agung: Soedjono C. Atmonegoro Gubernur Bank Indonesia: Syahril Sabirin Mensesneg: Saadillah Mursjid
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan