Selasa, 22 September 2026
01:53 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Wayang bambu

Wayang bambu

Wayang bambu
ᮝᮚᮀ ᮘᮙ᮪ᮘᮥ
330px-Wayang_bambu_karakter.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Karakter pada Wayang bambu.
JenisWayang
Seni pendahuluKebudayaan Sunda
Budaya awalIndonesia
Awal berkembang2000 (2000) M

Wayang bambu (Aksara Sunda: ᮝᮚᮀ ᮘᮙ᮪ᮘᮥ) adalah kesenian khas dari yang berasal dari wilayah Kampung Cijahe, Kelurahan Curugmekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat.[1] Wayang ini terbuat dari bambu yang dibersihkan dan di bentuk menyerupai karakter tokoh tertentu, wayang bambu juga dimainkan oleh seorang dalang dan diiringi lagu kesenian khas Sunda.[2]

Berbeda dengan tema cerita pewayangan lain di daerah Pulau Jawa dan Bali yang mengambil cerita Mahabarata, Wayang bambu dibawakan dengan mengusung cerita sehari-hari yang menggambarkan kehidupan masyarakat, khususnya warga Kota Bogor. Pada acara pagelaran seni, wayang bambu sering dibawakan dalam bahasa Sunda dialek Bogor agar lebih dekat dengan warga dan menghibur.[3]

Sejarah

330px-Ki_Darajat_Iskandar%2C_Wayang_Bambu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ki Darajat Iskandar, penggagas kesenian Wayang bambu.

Kesenian Wayang bambu ini diciptakan oleh Ki Darajat Iskandar yang merupakan budayawan Sunda di Kota Bogor. Sejak awal tahun 2000 sampai sekarang, beliau telah ratusan kali mengadakan pagelaran wayang bambu dan tak jarang beliau mendapat penghargaan dari ajang lomba-lomba yang diselenggarakan dari banyak pihak.[4]

Wayang ini terbuat dari bambu yang dianyam menjadi bagian tubuh dan kepala, lalu diberi hias-hiasan baju dari kertas, manik-manik dan kain. Hanya saja pada bagian wajah wayang ini tidak diberi cat, tidak memiliki mimik wajah seperti pada umumnya wayang golek atau wayang kulit. Ki Darajat Iskandar sengaja tidak memberikan wajah pada wayang-wayang ciptaannya dengan tujuan agar tidak menghilangkan unsur estetik dari anyaman bambu itu sendiri. Alasan lainnya adalah agar kepribadian si wayang tersebut bisa dimainkan leluasa mungkin oleh dalangnya dan sebagai ciri khas. Walaupun ada beberapa wayang yang wajahnya diberi cat merah atau putih sebagai peranannya dalam tokoh antagonis atau protagonis, menurut Ki Darajat Iskandar itu hanyalah opsional. Beliau lebih senang untuk tidak mewarnai wajah wayang tersebut.[5]

Pada masa awal penampilannya, kesenian wayang bambu ini pernah dipandu dengan musik gamelan khususnya gamelan Sunda. Seiring waktu Ki Darajat Iskandar mengganti alat musik perkusi gamelan dengan menggunakan alat musik yang terbuat dari bambu juga, seperti suling, angklung, karinding, celempung, dan lain-lain. Beliau sering kali berkolaborasi dengan banyak budayawan di lingkungannya, terutama para musisi yang menggunakan alat musik tradisional. Seperti rekannya Ki Banon yang ahli dalam alat musik karinding dan suling sunda, Kang Miftah sebagai pemain alat musik celempung, Kang Herawan pemain rain stick dan masih banyak lagi.

Satu hal lagi yang mencolok yang membedakan wayang bambu ini dengan wayang lainnya adalah dalam pertunjukannya Ki Darajat Iskandar tidak mengangkat cerita-cerita lama atau pakem-pakem kuno seperti kisah Ramayana atau Mahabarata. Beliau lebih suka mengangkat cerita-cerita modern yang terinspirasi dari problematika kehidupan era modern seperti kasus narkoba, perkelahian antar remaja, perilaku seks bebas, perjudian dan lain sebagainya.

Seolah kesenian wayang bambu menjadi semacam sarana bagi Ki Darajat Iskandar untuk menyebarkan pesan moral, khususnya bagi generasi muda. Salah satu tokoh wayang bambu yang terkenal bernama Raden Rangga Seta. Dia merupakan salah satu tokoh protagonis yang sering digambarkan sebagai pahlawan, pembawa pesan kebaikan dan semacamnya. Lewat tokoh ini, Ki Darajat Iskandar menyampaikan pesan moral, mendidik generasi muda dengan cara yang unik dan indah.[6]

Lihat juga

Referensi

  1. "Wayang Bambu, Harta Yang Pernah Hilang". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  2. "Wayang Bambu, Potensi Kampung Cijahe Bogor". kelcurugmekar.kotabogor.go.id. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  3. "5 Kesenian Asli Bogor Yang Indah Dan Unik". lapisbogor.co.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-30. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  4. "Wayang Bambu, Pewayangan Khas Kota Hujan". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  5. "Budayawan Bogor Tampilkan Pertunjukan Wayang Modern". m.antaranews.com. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
  6. "Wayang Bambu Cijahe Angkat Kisah Era Modern". brisik.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-31. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Ikon rintisan

Artikel bertopik Sunda ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan