Jumat, 25 September 2026
18:53 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia
Sabet

Sabet

Sabet adalah semua bentuk ekspresi dalang lewat gerak wayang dalam pertunjukan wayang sesuai dengan karakter tokoh dan suasananya.[1] Sabet merujuk pada semua olah gerak wayang yang dimainkan oleh dalang.[1] Karakter dan suasana seorang tokoh wayang dapat dikenali dari gerak-gerik wayang di kelir.[2] Sabet merupakan unsur pementasan wayang yang menyentuh aspek visual, khususnya bagi penonton.[3] Kelincahan seorang dalang memainkan gerak wayang menjadi aspek penting dalam konsep sabet.[4] Bagian tubuh wayang yang bisa digerakkan oleh dalang adalah tangan.[5] Dalam menggerakkan wayang, dalang akan menggoyangkan tubuh wayang disertai gerakan tangan wayang.[5]

250px-Schattenspiel1a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tangan menjadi bagian tubuh wayang yang digerakkan oleh dalang

Unsur-unsur Teknik Sabet

Unsur-unsur teknik sabet terdiri dari 4 jenis, yaitu cepengan, tancepan, solah, bedholan dan entas-entasan.[1]

Cepengan

Cepengan berasal dari bahasa Jawa krama cepeng, cekel dalam bahasa ngoko, yang artinya adalah memegang.[1] Teknik cepengan adalah teknik yang berkaitan dengan cara memegang wayang.[1] Cepengan dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan ukuran wayang dan suasana adegan.[1] Berdasarkan ukuran wayang cepengan tergantung dari besar kecil tokoh wayang yang dimainkan.[1] Semakin besar dan berat tokoh wayang maka cepengan harus semakin ke atas mendekati badan wayang.[1] Sementara berdasarkan suasana adegan, cepengan menyesuaikan suasana adegan yang sedang berlangsung.[1] Misalnya ada teknik cepengan untuk adegan perang, menari, berjalan dan juga terbang.[1]

Cepengan berfungsi untuk memberikan patokan kepada dalang bagaimana memegang tokoh wayang.[1] Cepengan juga berfungsi untuk memberi pijakan bagi dalang untuk menggerakan wayang sesuai dengan karakter dan tokoh wayang.[1] Cepengan memberikan penekanan dan kesan hidup pada setiap gerakan wayang.[1]

Tancepan

Tancepan berasal dari bahasa Jawa tancep yang artinya tancap.[1] Tancepan merupakan teknik menancapkan wayang pada gedebog (batang pisang) yang menjadi panggung wayang.[1] Kaidah-kaidah tancepan disebut udanegara.[1] Seorang dalang tidak bisa hanya asal dalam menancapkan wayang.[1] Posisi menancapkan wayang disesuaikan dengan kedudukan dan status tokoh wayang.[1] Seorang raja akan ditancapkan di sebelah kanan agak ke atas.[1] Sementara patih akan berada di sisi kiri agak ke bawah.[1] Selain menunjukkan kedudukan, tancepan berfungsi untuk menggambarkan keadaan batin seorang tokoh wayang.[1]

Solah

Solah merupakan kata kerja dalam bahasa Jawa yang artinya bergerak.[1] Teknik solah adalah teknik menggerakkan wayang sesuai dengan adegan yang dimainkan.[1] Terdapat tiga aspek dalam solah, yaitu nges, trampil, dan semu.[1] Nges adalah kemampuan dalang membuat gerakan wayang sungguh-sungguh tampak hidup.[1] Terampil adalah kelincahan dan ketepatan dalang dalam menggerakkan wayang.[1] Sementara semu merupakan keluwesan dalam memegang wayang sehingga gerakan mengalir dan tidak dibuat-buat.[1]

Bedholan

Artikel utama: Bedholan

Bedholan berasal dari kata dalam bahasa Jawa bedhol yang artinya cabut.[1] Bedholan adalah teknik mencabut wayang dari gedebog yang disesuaikan dengan udanegara.[1] Misalnya, tokoh raja akan dicabut terlebih dahulu daripada tokoh-tokoh yang mempunyai kedudukan di bawahnya.[1]

Entas-entasan

Entas dalam bahasa Jawa artinya keluar dari.[1] Tekhnik entas-entasan merupakan teknik bagaimana mengeluarkan seorang tokoh wayang dari panggung.[1] Entas-entasan disesuaikan dengan situasi adegan yang sedang berlangsung.[1] Misalnya, tergesa-gesa, normal, sedih atau situasi yang lain.[1] Selain itu juga terdapat teknik untuk mengeluarkan tokoh wayang ketika dia mati.[1]

Rujukan

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Bambang Murtiyoso, dkk (2007). Teori Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta. hlm. 29-37. ISBN 979-8217-60-8.
  2. ↑ Soetarno, dkk (2007). Estetika Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta. ISBN 979-8217-59-4.
  3. ↑ Purbo Asmoro (2011). "Konsep Garap Sabet Dalam Tradisi Pedalangan". Pusat Data Wayang Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-06. Diakses tanggal 6 Mei 2014.
  4. ↑ Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 293.
  5. 1 2 Clifford Geerstz (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya. hlm. 352.
Menurut
media
Kulit
Kayu
Orang
Bambu
Kain
Rumput
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Papieren_wajangpop_voorstellende_Arjuna_%28kinderspeelgoed%29_TMnr_809-46c.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail


250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pauzeteken_uit_het_wajangspel_van_karbouwenhuid_TMnr_21-63.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_voorstellende_Arjuna_Sasra_Bahu_TMnr_4283-59.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menurut
asal
Inovasi
Properti dan
kesenian
pendukung
Sumber
cerita
Organisasi
Museum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan