| Didirikan | 1954 |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan | Bus antarkota |
| Tujuan akhir | |
| Terminal | 4 |
| Garasi | |
| Armada | 132 unit/hari (2020) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Pimpinan |
|
PT Coyo adalah perusahaan otobus Indonesia yang didirikan di Kota Tegal dan kini berpusat di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1954 (satu angkatan dengan Rajawali), perusahaan otobus ini melayani bus antarkota antarprovinsi dan dalam provinsi dengan trayek Pantura Jawa Tengah. Perusahaan otobus ini merupakan perusahaan otobus tertua kedua di Jawa Tengah yang masih beroperasi hingga sekarang dan memiliki garasi di Tegal, Pekalongan, dan Semarang.
Sejarah
Coyo didirikan pada tahun 1954 oleh seorang pengusaha beras dari keluarga besar Winoto yang jeli melihat peluang bisnis transportasi darat. Sang pendiri menyadari bahwa truk pengangkut berasnya kerap dipenuhi penumpang yang ikut menumpang dari pabrik menuju rumah atau pasar. Kondisi transportasi yang sangat terbatas pada masa itu, terutama minimnya kendaraan pribadi, membuat angkutan umum menjadi kebutuhan utama masyarakat. Muncullah gagasan mendirikan perusahaan otobus yang pada masa awal menggunakan nama dalam ejaan lama Tjojo, kontraksi dari kata Pertjojo yang bermakna "kepercayaan".[1][2]
Pada masa awal operasi, armada awal Coyo berasal dari truk-truk bekas perang peninggalan Belanda yang sebagian di antaranya diambil dari parit dengan izin Pemerintah Kota Tegal. Truk-truk ini dimodifikasi menjadi bus bodi kayu yang dapat mengangkut penumpang. Kendaraan-kendaraan ini menjadi solusi transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat, meski kenyamanannya masih terbatas. Kakek dari pimpinan Coyo saat ini, Untung Winoto, memanfaatkan jaringan usaha lain, seperti pabrik beras, bisnis perhotelan, dan vulkanisasi ban, untuk menopang perkembangan usaha angkutan ini sembari membangun kepercayaan publik.[1][3][4]
Memasuki era 1960-an, estafet kepemimpinan beralih ke generasi kedua keluarga Winoto, yakni ayah dari Untung Winoto. Coyo kemudian berkembang pesat, dengan memperluas layanan yang sebelumnya melayani rute-rute perdesaan menjadi rute antarkota. Secara bertahap, Coyo melayani rute Pemalang, Pekalongan, hingga Semarang pada dekade 1980-an. Ekspansi ini menjadikan Coyo sebagai salah satu pemain utama angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) di jalur Pantura Jawa Tengah, menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan budaya seperti Cirebon, Tegal, Pekalongan, dan Semarang, bahkan hingga beberapa kota di Jawa Timur.[1][2]
Dalam perjalanan panjangnya, Coyo tidak hanya menghadapi tantangan bisnis eksternal, tetapi juga dinamika internal terkait kesejahteraan karyawan. Misalnya, aksi mogok massal pengemudi dan kernet bus patas jurusan Tegal–Semarang yang terjadi di Kramat, Tegal, pada 29 Mei 2008. Aksi ini dipicu oleh kebijakan pengurangan jatah solar serta berbagai peraturan perusahaan yang dianggap memberatkan karyawan. Para sopir memprotes sistem pengupahan yang bergantung pada komisi dan sisa uang solar, yang dalam kondisi penumpang sepi dinilai tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup. Mogok kerja tersebut melibatkan sopir dari berbagai daerah dan menyebabkan puluhan armada tidak beroperasi.[5] Meski diterpa berbagai tantangan, Coyo masih berupaya untuk bertahan hingga sekarang.[1][2]
Armada
Sebelum pandemi Covid-19, Coyo mengoperasikan 132 unit bus, yang kemudian hanya beroperasi 15 unit selama pandemi.[6] Berbeda dengan PO lain yang sering menggunakan sasis Mercedes-Benz atau Hino, Coyo mengandalkan sasis atau bus utuh buatan Hyundai.[7] Coyo dikenal memiliki kebijakan untuk tidak menjual bus-bus yang sudah melewati masa pakai. Kebijakan ini bermula dari pengalaman generasi kedua yang pernah menjual satu unit bus lama kepada pihak luar, tetapi justru bus tersebut digunakan untuk bersaing langsung dengan Coyo. Sejak kejadian itu, manajemen memilih untuk menyimpan armada-armada tua di garasi. Kebijakan ini juga dianggap sebagai komitmen Coyo atas penghargaan sejarah dan perjuangan, sekaligus simbol nostalgia atas masa-masa awal membangun usaha dari nol.[1]
Trayek
Coyo hanya memiliki satu lini bisnis, yaitu bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan dalam provinsi (AKDP) dengan trayek Semarang–Tegal–Cirebon via Pantura. Bus-bus yang beroperasi adalah kelas ekonomi dan patas, sehingga tidak memanfaatkan infrastruktur yang memungkinkan bus berjalan cepat seperti Jalan Tol Trans-Jawa. Sementara itu, layanan AKDP Coyo sendiri juga beroperasi di rute-rute dalam wilayah provinsi seperti Semarang–Tegal dan sekitarnya.[8] Lebih dari 70 tahun mengaspal, seiring naiknya biaya operasional seperti harga BBM dan suku cadang, Coyo pernah menyesuaikan tarif tiket bagi penumpang AKAP dan AKDP mereka agar operasional tetap berkelanjutan. Misalnya, pada 2022, ketika terjadi penyesuaian harga BBM dan inflasi biaya perawatan, Coyo menaikkan tiket ekonomi sekitar 10% pada beberapa rute.[8]
Dalam konteks pelarangan mudik dan perubahan pola operasional, masih banyaknya pengguna transportasi umum saat pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa bus AKDP Coyo tetap menjadi salah satu pilihan moda darat bahkan ketika layanan AKAP menurun drastis. Misalnya saat larangan mudik diberlakukan pada Lebaran 2020 di Terminal Tegal, hanya bus dengan trayek dalam provinsi—termasuk bus Coyo—yang masih beroperasi dengan frekuensi terbatas.[9][10] Pasca-pandemi, Terminal Harjamukti di Kota Cirebon juga mulai diisi oleh bus-bus Jawa Timuran, melengkapi pemain tetap termasuk Coyo dan PO yang masih satu kota asal, Ezri.[11]
Perjalanan panjang Coyo dalam melayani masyarakat juga dihadapkan dengan masalah. Sejumlah kasus seperti calo tiket di Terminal Terboyo pada 2024 juga menyinggung kehadiran layanan bus Patas Coyo di lapangan riil penumpang. Investigasi terhadap calo tiket mencatat bahwa tiket bus Patas Coyo semestinya memiliki tarif yang sudah ditentukan perusahaan, tetapi dijual ulang dengan tarif lebih mahal, yang akhirnya ditindak oleh petugas.[12]
Referensi
- 1 2 3 4 5 Ramadan, M.F. (11 Januari 2023). "Kisah PO Coyo, Pelopor PO Bus di Jawa Tengah Berawal dari Truk Perang Belanda". iNews. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- 1 2 3 Bramantyo, Muhammad (20 April 2025). "Kisah Heroik PO Coyo: Dari Truk Bekas Perang Jadi Legenda Bus Jawa Tengah yang Terancam Punah". Hariankota.com. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sejarah PO Bus Tertua di Indonesia: Masih Beroperasi Hingga Kini?". merdeka.com. 8 Agustus 2024. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- ↑ Okezone (22 Februari 2023). "Sejarah PO Bus Coyo: Pernah Ubah Truk Perang Jadi Bus : Okezone Ototekno". https://ototekno.okezone.com/. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
{{cite web}}: Tautan eksternal dalam|website= - ↑ WiE (29 Mei 2008). "Puluhan Sopir dan Kernet Bus Coyo Mogok Kerja". Kompas.com. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- ↑ "Larangan Mudik Lebaran, Begini Curahan Hati Pengusaha Bus di Semarang". iNews.ID. 10 April 2021. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Yuk! Mengenal Bus Hyundai Asal Korea Selatan yang Mengaspal di Indonesia". beritatrans.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- 1 2 Media, Kompas Cyber (10 September 2022). "Tarif Bus AKAP dan AKDP di Semarang Mulai Naik". KOMPAS.com. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Herlambang, Adib Auliawan. "Angkutan Kembali Beroperasi, Terminal Tegal Masih Sepi dari Bus AKAP". Ayo Tegal. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- ↑ "Paling Sehari Cuma Lima Penumpang Masuk Terminal Tegal". Tribunbanyumas.com. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- ↑ "Bus-Bus dari Jateng dan Jatim Ramaikan Terminal Harjamukti Kota Cirebon". beritatrans.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Januari 2026.
- ↑ Hartono, A. (14 April 2024). "Naikkan Harga Tiket, Calo di Terminal Bus Terboyo Dicokok". inilah.com. Diakses tanggal 18 Januari 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)