Bus ALS berkaroseri Jetbus3+ dengan nomor pintu 244 sedang berjalan keluar dari Terminal Giwangan | |
| Didirikan | September 29, 1966;59 tahun lalu (1966-09-29) |
|---|---|
| Mulai operasi | 1966 |
| Kantor pusat | Jalan Sisingamangaraja km 6,5, Harjosari II, Medan Amplas, Medan, Sumatera Utara, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa dan Sumatra |
| Jenis layanan | |
| Armada | 258 unit (Mercedes-Benz) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Chandra Lubis |
| Situs web | tiketals.com busals.com |
PT Antar Lintas Sumatera (ALS) adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang didirikan di Kotanopan, Mandailing Natal, dan kini berpusat di Jalan Sisingamangaraja km 6,5, Harjosari II, Medan Amplas, Medan, Sumatera Utara. Didirikan pada tahun 1966, ALS merupakan operator bus terbesar di pulau Sumatra dan melayani trayek ke banyak kota di pulau Sumatra dan pulau Jawa. Dikenal sebagai salah satu PO yang sangat tangguh di Indonesia, ALS juga merupakan salah satu pemilik trayek terjauh di Indonesia dengan rute Kota Medan di Sumatera Utara hingga Kabupaten Jember di Jawa Timur.
Sejarah
Antar Lintas Sumatera (ALS) didirikan di Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 29 September 1966. Perusahaan ini dirintis oleh tujuh bersaudara bermarga Lubis, yaitu Sati, Nursewan, Jasanti, Jagu Lembang, Muhammad Arif, dan Hanafiah, serta satu orang lain yang masih bersifat tentatif. Sati menjadi pimpinan perusahaan dan masih terus diwariskan kepada anaknya, Chandra.[1]
Awalnya, ALS belum melayani bus antarkota, tetapi sebagai operator truk. Ketika pertama kali merintis usaha angkutan penumpang, ALS hanya melayani trayek antarkota dalam provinsi, yakni rute Medan–Kotanopan. Seiring meningkatnya kebutuhan penumpang, ALS mulai membuka layanan antarkota antarprovinsi, dengan trayek Medan–Bukittinggi sebagai rute pertamanya.[2]
Memasuki tahun 1972, ALS berkembang pesat dengan membuka berbagai trayek baru ke kota-kota besar di Sumatra, antara lain Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Bandar Lampung. Pada dekade 1970-an, ALS telah merencanakan membuka trayek menuju Jawa, meskipun kendaraan darat belum dapat menyeberang langsung ke Jawa karena keterbatasan kapal feri ro-ro. Untuk mengatasi kendala tersebut, ALS memanfaatkan jasa agen yang mengurus pemberangkatan penumpang dari Pelabuhan Merak dengan menggunakan kendaraan lain menuju kota tujuan di Jawa.[3][4]
Pada dekade 1980-an, ketika fasilitas penyeberangan feri sudah memungkinkan kendaraan menyeberang langsung ke Jawa, ALS mulai membuka trayek langsung ke berbagai kota di Jawa seperti DKI Jakarta, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Yogyakarta, dan Kota Surabaya, yang kemudian disusul dengan rute ke Kota Malang.[2] Bahkan, ALS sempat memperluas jangkauannya hingga ke Bali. Namun, trayek jarak sangat jauh tersebut akhirnya ditutup pada tahun 2003 karena pertimbangan waktu tempuh yang terlalu panjang serta kondisi mesin bus yang kurang mendukung untuk perjalanan jauh.[3]
Armada

ALS dikenal luas sebagai salah satu perusahaan otobus di Sumatra yang mengandalkan kekuatan armada bus bersasis Mercedes-Benz. Hingga 2025, ALS masih mengoperasikan unit sasis era 1990-an, seperti Mercedes-Benz OH 1521 yang populer dengan julukan "Setir Tampah" karena ukuran kemudinya yang besar.[5] Sementara itu, tulang punggung armada ALS yang lebih baru didominasi oleh sasis Mercedes-Benz OH 1526 dan OH 1626. ALS memercayakan sasis Mercedes-Benz karena diklaim memiliki reputasi kuat untuk penggunaan jarak jauh, daya tahan tinggi, serta kemampuan melibas jalur menanjak dan panjang yang banyak ditemui di Pulau Sumatra.[6][7]
Sasis Mercedes-Benz OH 1626 yang digunakan ALS dibekali mesin diesel OM 906 LA Euro 3 berkonfigurasi enam silinder dengan kapasitas sekitar 6.374 cc (389,0 cu in). Mesin ini menghasilkan tenaga sekitar 260 hp (190 kW) dengan torsi besar, sehingga memberikan akselerasi yang responsif sekaligus stabil saat membawa beban penuh di medan berat. Tenaga tersebut disalurkan melalui pilihan transmisi manual maupun otomatis enam percepatan, yang memungkinkan PO ini menyesuaikan karakter bus dengan kebutuhan layanan dan preferensi pengemudi.[6]
Dalam hal karoseri, ALS memanfaatkan keahlian dari banyak karoseri besar di Indonesia. Beberapa unit menggunakan bodi Avante H8 Facelift dari perusahaan karoseri Tentrem dengan desain minimalis, modern, dan selendang yang lebih kontemporer.[6] Armada lainnya mengandalkan bodi Patriot TU dari Morodadi Prima yang menawarkan opsi kaca ganda serta karakter desain yang kokoh dan khas.[8] Sementara itu, bus-bus dengan bodi Jetbus dari Adi Putro hadir dengan tampilan agresif melalui desain lampu depan modern dan sentuhan estetis.[7]
Ciri khas armada dan tampilan

Ciri khas armada ALS dapat terlihat baik dari sisi fungsi maupun tampilan visual. ALS dikenal dengan julukan "Raja Paket", sehingga hampir seluruh armadanya dilengkapi landasan di atas atap bus untuk mengangkut paket dan bagasi dengan ketentuan dimensi tertentu.[9] Dari segi tampilan, bus ALS mudah dikenali melalui kombinasi warna hijau pupus gelap dan hijau muda sebagai warna utama bodi, dipadukan dengan aksen oranye, biru, dan abu-abu. Tampilan ini sering dilengkapi wheel dop putih dan minim stiker sehingga terlihat bersih dan elegan. Grafis khas seperti peta Pulau Sumatra dan Jawa menjadi identitas visual ALS.[6]
Ciri khas lainnya yang dimiliki ALS adalah sistem penomoran armada (yang biasa disebut sebagai "nomor pintu"). Sebagai perusahaan keluarga, maka kepemilikan armada bus ALS tidak hanya satu orang. Digit terakhir dari nomor pintu merupakan penanda siapa tauke (pemilik) dari armada tersebut:[10]
- Angka 1 adalah milik keluarga Sati Lubis (Direktur Utama pertama ALS).
- Angka 3 adalah milik keluarga Rasyad Nasution.
- Angka 5 adalah milik keluarga Japarkayo Hasibuan.
- Angka 7 adalah milik keluarga Muhammad Arif Lubis.[a]
- Angka 8 adalah milik keluarga Abdul Wahab Lubis dan Hasbullah Lubis.
- Angka 9 dan 0 adalah milik keluarga Nursewan Lubis dan Rangkuti.
- Angka-angka lainnya dimiliki oleh anggota keluarga lainnya dan bersifat acak, misalnya milik keluarga Hamzah Nasution dan Nasir Daulay. Namun seiring berjalannya waktu, kepemilikan bus tersebut dikelola pula oleh generasi-generasi kedua dan ketiga dari pemilik.
Misalnya, jika bus ALS memiliki nomor pintu 311, maka kepemilikan armada ini berada pada keluarga Sati Lubis (saat ini dipegang oleh anaknya, Chandra, yang saat ini berstatus sebagai pimpinan dan pemilik perusahaan[11]).
Trayek
Bus antarkota

ALS menjadikan bus antarkota sebagai satu-satunya lini bisnis. Ribuan kilometer jalan raya lintas Sumatra—baik lintas timur maupun lintas tengah—dipadati armada bus dari ratusan perusahaan otobus. Di antara para pemain besar itu, ALS dari Sumatera Utara dengan armada sekitar 258 unit kerap dijuluki "raja jalanan" dari Sumatra,[12] sejajar dengan PMTOH dari Aceh, ANS dan NPM dari Sumatera Barat, serta Gumarang Jaya dari Lampung.[13][14]
Seluruh titik awal keberangkatan bus ALS berpusat di Kota Medan, Sumatera Utara, yang juga menjadi lokasi kantor pusat perusahaan. Dari Medan, ALS membentangkan jaringan trayek yang menjangkau hampir seluruh kota di Sumatra dan Jawa[b]. Berdasarkan daftar agen dan terminal pada situs pemesanan tiket resminya, layanan pemesanan daring ALS difokuskan pada trayek awal mulai dari DKI Jakarta menuju hampir seluruh wilayah Sumatra, dengan pengecualian Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Aceh.[15] Sementara itu, kota-kota lain di Pulau Jawa tetap dilayani melalui pola tradisional, yakni kantor perwakilan dan agen yang beroperasi di sepanjang jalur trayek.[16]
Kisah pengembangan trayek ALS juga diwarnai cerita-cerita unik, misalnya, saat ALS hendak membuka trayek Yogyakarta–Medan. Dalam proses persiapan pembukaan kantor perwakilan dan pengurusan izin trayek di Yogyakarta, pendiri ALS, Sati Lubis, justru sempat terlihat menggunakan becak saat berbelanja di kota tersebut.[16] Dari jaringan panjang yang dibangun, ALS dikenal memiliki salah satu trayek terpanjang di Indonesia, yakni Kota Medan, Sumatera Utara–Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan jarak mencapai sekitar 2.839 kilometer (1.764 mi).[17]
- Keterangan
Bus bandar udara
Sejak Bandar Udara Internasional Kualanamu mulai beroperasi pada 25 Juli 2013 untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Polonia, ALS menjadi salah satu operator bus pemadu moda yang melayani akses darat menuju dan dari bandara tersebut. Pada saat awal pengoperasian Kualanamu, ALS memperoleh layanan trayek Kota Binjai–Bandar Udara Internasional Kualanamu, sementara dua trayek dari Kota Medan dilayani oleh DAMRI.[18] Sebelumnya, pada Mei 2013, ALS telah ditetapkan sebagai pemenang lelang trayek transportasi pemadu moda untuk rute Kota Binjai–Bandar Udara Internasional Kualanamu.[19]
Layanan tersebut menghubungkan kawasan Kota Binjai dengan Bandar Udara Internasional Kualanamu melalui wilayah Kota Medan. Dalam salah satu penelitian mengenai trayek ALS, rute Binjai–Kualanamu tercatat melalui Kampung Lalang, Kodam, Pondok Kelapa, Jalan Ring Road Kota Medan, Asrama Haji, Jalan Sisingamangaraja, Kayu Besar, kemudian menuju Bandar Udara Internasional Kualanamu. Panjang lintasan tercatat sekitar 53 kilometer.[20]
Dalam perkembangannya, ALS juga melayani trayek dari kawasan Jalan Ring Road di Medan menuju Kualanamu. Layanan tersebut dikenal sebagai trayek Bandar Udara Internasional Kualanamu–Jalan Ring Road Kota Medan atau Bandar Udara Internasional Kualanamu–Jalan Gagak Hitam. Dengan demikian, layanan bus bandara ALS mencakup hubungan Kualanamu dengan dua kawasan utama di sekitar Medan, yaitu Kota Binjai dan kawasan Ring Road di Kota Medan.[21]
Pada 2023, trayek Bandar Udara Internasional Kualanamu–Kota Binjai masih tercantum sebagai salah satu trayek angkutan pemadu moda yang dilayani ALS berdasarkan data yang merujuk pada keputusan Gubernur Sumatera Utara.[22]
Komunitas

ALS dikenal karena ikatan emosional yang kuat antara penumpang, kru, dan penggemarnya. Hal ini tecermin dari jargon ALS: "Naik sebagai penumpang, turun sebagai saudara." Jargon tersebut lahir dari pengalaman perjalanan yang sangat jauh dan memakan waktu lama, sehingga kru bus harus membersamai penumpang dalam durasi berhari-hari. Kondisi ini menciptakan interaksi yang intens, membuat para penumpang saling mengenal, berbagi cerita, dan membangun keakraban, tidak hanya dengan sesama penumpang tetapi juga dengan pengemudi dan awak bus, hingga banyak yang akhirnya menjadi pelanggan setia.[23]
Ikatan tersebut juga terwadahi dalam sebuah komunitas penggemar dan penumpang yang dikenal dengan nama "ALS Mania". Komunitas ini menjadi ruang berkumpul bagi pelanggan lama, calon penumpang, dan penggemar setia untuk saling berbagi pengalaman perjalanan, mengunggah foto-foto armada, mencari informasi jadwal keberangkatan dan tarif, menuangkan kritik dan saran, hingga melaporkan berbagai insiden di perjalanan. Hingga tahun 2023, ALS Mania tercatat memiliki sekitar 174.000 anggota dan aktif di media sosial Facebook.[24]
Budaya populer
Eksistensi ALS yang telah dikenal masyarakat Sumatra dan Jawa selama 59 tahun juga meninggalkan jejak dalam budaya populer.[25] Bus ALS kerap dijadikan tema karya seni dan musik, baik sebagai latar maupun simbol perjalanan jarak jauh. Salah satu contohnya adalah lagu "Di Loket ni ALS" yang dipopulerkan oleh Bonardo Trio, grup musik pop Batak asal Tapanuli Utara, yang mengangkat suasana dan emosi di sekitar loket bus ALS. Selain itu, penyanyi asal Mandailing Natal, Maryati boru Lubis, juga pernah membawakan lagu bertema bus ALS.[26]
Referensi
- ↑ Zulhendri (12 Mei 2025). Irsyad (ed.). "Sejarah Bus ALS Dibangun 7 Saudagar Bersaudara, PO dengan Trayek Terjauh di Indonesia". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- 1 2 "Profil Bus ALS yang Kecelakaan di Padang Panjang". Tempo. 7 Mei 2025 | 10.56 WIB. Diakses tanggal 2025-10-17.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - 1 2 Lubis, Rahmat Kurnia (2 Februari 2025). "ALS, Bus Legendaris Sumatera: Penguasa Jalur Lintas Pulau Sejak 1966, Rute Terjauh Melebihi Jarak Tempuh Amsterdam ke Moskow". RENTAK.ID. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- ↑ Kompas, Tim Harian (5 Oktober 2019). "Laju Panjang Bisnis Bus AKAP". Kompas.id. Diakses tanggal 24 Oktober 2025.
- ↑ GridOto.com. "Terkenal di Era 90-an, Ini Kelebihan Sasis Mercedes-Benz OH1521 yang Dipakai Bus ALS - Gridoto". www.gridoto.com. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- 1 2 3 4 Anshori, Luthfi. "Bus Baru PO ALS Meluncur dari Garasi Tentrem, Pakai Sasis Mercedes-Benz". detikoto. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- 1 2 "PO ALS Manjakan Penumpang: Bus Baru Super Nyaman dengan Kursi Sultan!". SINDOnews Otomotif. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- ↑ Media, Kompas Cyber (28 November 2024). "PO ALS Rilis Bus Baru Buatan Karoseri Morodadi Prima". KOMPAS.com. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pambudi, R. (6 Juli 2022). "3 PO Bus yang Dijuluki Raja Paket di Indonesia, Sering Bawa Barang Menumpuk di Atap". iNews. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- ↑ Radityasani, Muhammad Fathan (21 November 2020). Maulana, Aditya (ed.). "Kenali Arti dari Nomor Pintu yang Ada di Bus PO ALS". Kompas.com. Diakses tanggal 28 Desember 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ BeritaSatu.com. "Mengenal Sosok Chandra Lubis, Pemilik PO Bus ALS yang Bawa Perubahan". beritasatu.com. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- ↑ Kurniawan, Farid (11 Februari 2025). "Daftar PO Bus Terkaya dari Sumatra, Punya Armada Premium". IDN Times. Diakses tanggal 31 Oktober 2025.
- ↑ "Bus ALS, Si Penjelajah Kawasan Sumatera, Jawa hingga Denpasar Riwayatmu Kini". Sindonews.com. 10 Desember 2019. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.
- ↑ Kurnia, Ilham (4 Juni 2019). "ALS ; Bus Dengan Trayek Terjauh, Lintas Sumatera – Jawa". GoWest.ID. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.
- ↑ disway.id. "Mau Coba Naik PO ALS? Cek Dulu Daftar Harga Tiketnya Nih". disway.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- 1 2 Suherni, N. (7 Juli 2022). "Sosok Haji Sati Lubis Pendiri PO Bus ALS di Mata Karyawan, Sederhana Tak Malu Naik Becak". iNews. Diakses tanggal 22 Desember 2025.
- ↑ detikOto, Tim. "Bus dengan Trayek Terjauh di Indonesia, Jarak Tempuh Hampir 3.000 Km". detikbali. Diakses tanggal 29 Oktober 2025.
- ↑ "Tiga Pilihan Transportasi Umum Menuju Bandara Internasional Kualanamu". detikFinance. 25 Juli 2013. Diakses tanggal 19 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Info Bandara Kuala Namu". Diakses tanggal 19 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lumban Gaol, Trisna Romauli. Universitas Medan Area https://repositori.uma.ac.id/jspui/bitstream/123456789/21025/1/128110062%20-%20Trisna%20Romauli%20Lumban%20Gaol%20-%20Fulltext.pdf. Diakses tanggal 19 September 2026.
{{cite journal}}:|title=tidak ada atau kosong; Kutipan journal memerlukan|journal=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Kualanamu International Airport". Diakses tanggal 19 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Tabel II.3 Rute Trayek AKDP Berdasarkan SK Gubernur 2023" (PDF). Politeknik Transportasi Darat Indonesia–STTD. Diakses tanggal 19 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ detikcom, Tim. "Bus AKAP Rute Terjauh di Indonesia: Naik Tak Kenal, Turun Jadi Saudara". detikoto. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
- ↑ Okezone (13 Juli 2024). "8 PO Bus yang Memiliki Penggemar Terbanyak di Sosial Media - PAGE 2 : Okezone Ototekno". Okezone. Diakses tanggal 2 November 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Belum Banyak yang Tahu, Ini 5 PO Bus di Indonesia yang Berusia 50 Tahun!". kumparan. Diakses tanggal 29 Mei 2021.
- ↑ Redaksi (27 September 2021). "Rayakan HUT ke-55 Tahun, ALS Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim - Start News". Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
{{cite web}}:|last=memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
Media terkait Antar Lintas Sumatera buses di Wikimedia Commons- (Indonesia) Situs web resmi
- (Indonesia) Situs web resmi (alternatif)