Rabu, 14 Oktober 2026
06:13 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Kabinet Djuanda

Kabinet Djuanda

Bagikan:
Kabinet Djuanda
60px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kabinet Pemerintahan Indonesia ke-18
1957–1959
330px-Djuanda_Cabinet_Mimbar_Penerangan_April_1957_p211.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dibentuk9 April 1957
Diselesaikan6 Juli 1959
Struktur pemerintahan
PresidenSoekarno
Perdana MenteriDjuanda Kartawidjaja
Wakil Perdana Menteri
Total jumlah menteri28
Partai anggota  PNI
  NU
  Masyumi
  PSII
  IPKI
  Parkindo
  SKI
  Independen
Sejarah
Pemilihan umum sebelumnya
PeriodeDPR 1956–1959
Nasihat dan persetujuanDewan Perwakilan Rakyat
Konstituante
PendahuluKabinet Ali Sastroamidjojo II
PenggantiKabinet Kerja I
Artikel ini adalah bagian dari seri
Politik dan Ketatanegaraan
Republik Indonesia
(Negara Kesatuan Republik Indonesia)
120px-National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hukum
Pemerintahan Pusat
Pemerintahan Daerah
Politik Praktis
Kebijakan luar negeri
120px-Dr._Ir._Soekarno%2C_10_Orang_Indonesia_Terbesar_Sekarang_%281952%29%2C_p7_%283x4_close_cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini bagian dari
seri tentang
Soekarno

Presiden pertama Indonesia

Soekarno's signature
120px-Indonesian_Presidential_Seal_gold.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Galeri: Gambar, Suara, Video

Kabinet Djuanda disebut juga Kabinet Karya adalah kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Soekarno.[a] Kabinet ini diumumkan pada 8 April 1957 dan bertugas sejak 9 April 1957 hingga 6 Juli 1959.[b] Kabinet ini merupakan salah satu kabinet zakken.

Latar belakang

Pada 14 Maret 1957, Kabinet Ali Sastroamidjojo Kedua runtuh akibat tekanan pemberontakan daerah, perpecahan antar partai, dan serangan terhadap sistem politik yang berujung pada pengunduran diri anggotanya. Presiden Soekarno sempat mengutarakan keinginannya untuk membentuk kabinet gotong royong, di mana empat partai besar, termasuk Partai Komunis Indonesia (PKI), akan bekerja sama demi kepentingan nasional. Namun, setelah mendapat tentangan keras dari partai lain dan Angkatan Darat, Soekarno terpaksa mengurungkan niat tersebut. Pada 15 Maret, ia meminta ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Suwirjo untuk membentuk kabinet, tetapi ia tidak mampu melaksanakan tugas tersebut, sehingga Soekarno sendiri mengadakan pertemuan pada 14 April dengan para pemimpin partai dan perwira militer, di mana mereka semua ditanya apakah mereka siap untuk bergabung dengan kabinet. Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), yang sebagian besar anggotanya menolak masuk kabinet, menuduh Soekarno bertindak melawan hukum, tetapi sia-sia. Partai tersebut kemudian memecat dua anggotanya yang masuk kabinet. Soekarno menunjuk veteran kabinet Djuanda Kartawidjaja untuk memimpin kabinet yang terdiri dari orang-orang yang memenuhi syarat dan tidak mewakili partai mana pun. Kabinet diumumkan pada 8 April dan dilantik oleh Soekarno keesokan harinya di Istana Merdeka.[1][2][3]

Pimpinan

No. Jabatan Foto Pejabat Mulai menjabat Selesai menjabat Partai
Perdana dan Wakil Perdana Menteri
1 Perdana Menteri 120px-Menkeu_Djuanda.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Djuanda Kartawidjaja 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
2 Wakil Perdana Menteri I 120px-Hardi%2C_Hasil_Rakjat_Memilih_Tokoh-tokoh_Parlemen_%28Hasil_Pemilihan_Umum_Pertama_-_1955%29_di_Republik_Indonesia%2C_p56.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Hardi 9 April 1957 6 Juli 1959 PNI
Wakil Perdana Menteri II 120px-Idham_Chalid.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Idham Chalid 9 April 1957 6 Juli 1959 NU
Wakil Perdana Menteri III 120px-Johannes_Leimena%2C_Minister_of_Social_Affairs_of_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Johannes Leimena[c] 29 April 1957 6 Juli 1959 Parkindo

Anggota

No. Jabatan Foto Pejabat Mulai menjabat Selesai menjabat Partai
3 Menteri Luar Negeri 120px-Subandrio_Nasional_12_Apr_1961_p1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Subandrio 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
4 Menteri Dalam Negeri 120px-Sanusi_Hardjadinata%2C_Departemen_Dalam_Negeri_dari_Masa_ke_Masa%2C_p103.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Sanusi Hardjadinata 9 April 1957 6 Juli 1959 PNI
5 Menteri Pertahanan 120px-Menkeu_Djuanda.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Djuanda Kartawidjaja 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
6 Menteri Kehakiman 120px-G.A._Maengkom%2C_Menteri_Kehakiman.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Gustaaf Adolf Maengkom 9 April 1957 6 Juli 1959 PNI
7 Menteri Penerangan 120px-Minister_of_Information_Soedibjo%2C_Garuda_Perdamaian%2C_p3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soedibjo 9 April 1957 6 Juli 1959 PSII
8 Menteri Keuangan 120px-Menkeu_Soetikno_Slamet.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soetikno Slamet 9 April 1957 6 Juli 1959 PNI
9 Menteri Pertanian 120px-Sadjarwo%2C_Kami_Perkenalkan_%281954%29%2C_p26.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Sadjarwo Djarwonagoro 9 April 1957 6 Juli 1959 PNI
10 Menteri Perdagangan 120px-Soenardjo_Djuanda_Cabinet_Mimbar_Penerangan_April_1957_p208.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soenardjo[d] 9 April 1957 25 Juni 1958 NU
120px-Rachmat_Muljomiseno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Rachmat Muljomiseno 25 Juni 1958 6 Juli 1959 NU
11 Menteri Perindustrian 120px-Freddy_Jaques_Inkiriwang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail F.J. Inkiriwang 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
12 Menteri Perhubungan 120px-Soekarda_at_Djuanda_Cabinet_Mimbar_Penerangan_April_1957_p208.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soekardan 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
13 Menteri Pelayaran 120px-Laksamana_Muda_M._Nazir.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mohammad Nazir 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
14 Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga 120px-Pangeran_Mohammad_Noor%2C_Kami_Perkenalkan_%281954%29%2C_p105.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Pangeran Mohammad Nur 9 April 1957 6 Juli 1959 Masyumi
15 Menteri Perburuhan 120px-Samjono_-_Djuanda_Cabinet_Mimbar_Penerangan_April_1957_p208.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mr. Samjono 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
16 Menteri Sosial 120px-Johannes_Leimena%2C_Minister_of_Social_Affairs_of_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Johannes Leimena[e] 9 April 1957 24 Mei 1957 Parkindo
120px-Muljadi_Djojomartono%2C_Minister_of_Social_Affairs_of_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Muljadi Djojomartono 25 Mei 1957 6 Juli 1959 Masyumi
17 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 120px-Prijono.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Prijono 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
18 Menteri Agama 120px-K._H._Muhammad_Ilyas%2C_Menteri_Agama_Indonesia.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Muhammad Ilyas 9 April 1957 6 Juli 1959 NU
19 Menteri Kesehatan 120px-Kol._Abdul_Azis_Saleh_at_Djuanda_Cabinet%2C_1957.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Azis Saleh 9 April 1957 6 Juli 1959 IPKI
20 Menteri Agraria 120px-Achmad_Sunaryo%2C_Departemen_Dalam_Negeri_dari_Masa_ke_Masa%2C_p99.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail R. Sunarjo 9 April 1957 6 Juli 1959 NU
21 Menteri Urusan Pengerahan Tenaga Rakyat untuk Pembangunan[f]
(dihapuskan sejak 25 Juni 1958)
120px-A.M._Hanafi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail A.M. Hanafi[g] 9 April 1957 25 Juni 1958 Nonpartai
22 Menteri Negara Urusan Veteran 120px-ChairulSaleh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Chaerul Saleh 9 April 1957 6 Juli 1959 Nonpartai
23 Menteri Negara Urusan Hubungan Antar Daerah[f]
(dihapuskan sejak 25 Juni 1958)
120px-Ferdinand_Lumbantobing%2C_Kami_Perkenalkan_%281954%29%2C_p18.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ferdinand Lumban Tobing[h] 9 April 1957 25 Juni 1958 SKI
24 Menteri Negara[i] 120px-Dadang_Suprajogi%2C_Riwajat_hidup_anggota-anggota_Majelis_Permusyawaratan_Rakyat_hasil_pemilihan_umum_1971%2C_p1166.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Dadang Suprajogi
(Urusan Stabilitasi Ekonomi)
25 Juni 1958 6 Juli 1959 Nonpartai
120px-Wahib_Wahab_Nasional_26_Aug_1960_p1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Muhammad Wahib Wahab
(Urusan Kerjasama Sipil-Militer)
25 Juni 1958 6 Juli 1959 NU
120px-Ferdinand_Lumbantobing%2C_Kami_Perkenalkan_%281954%29%2C_p18.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ferdinand Lumban Tobing
(Urusan Transmigrasi)
25 Juni 1958 6 Juli 1959 SKI
120px-A.M._Hanafi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail A.M. Hanafi 25 Juni 1958 6 Juli 1959 Nonpartai
120px-Mohammad_Yamin%2C_Pekan_Buku_Indonesia_1954%2C_p251.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mohammad Yamin 25 Juni 1958 6 Juli 1959 Nonpartai

Program kerja

Program kerja Kabinet Djuanda disebut Soekarno dengan sebutan 'pancakarya', yang terdiri dari kata 'panca' (dari Bahasa Sanskerta 'lima') dan 'karya' (kerja).[4] Kelima 'karya' atau tujuan program kerja kabinet di antaranya:

  1. Pembentukan 'Dewan Nasional', berdasarkan Konsepsi Presiden;
  2. Menormalisasikan keadaan internal republik;
  3. Implementasi penarikan perjanjian dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949;
  4. Memperjuangkan Irian Barat; dan
  5. Mempercepat proses pembangunan.

Perkembangan

Kabinet Djuanda sejak awal telah dikritik oleh anti-komunis. Walaupun Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi tidak masuk ke dalam kabinet, beberapa menteri dicurigai merupakan komunis atau berhubungan erat dengan PKI. Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) juga terus berargumen bahwa kabinet dibentuk secara inkonstitusional karena tidak dilantik oleh parlemen. Namun, Perdana Menteri Djuanda terus melaporkan kegiatan kabinet kepada parlemen dan ia berargumen bahwa secara praktis hanya Masyumi, Partai Katolik, dan partai kecil besutan Sutomo, Partai Rakjat Indonesia (PRI) yang menjadi opsosisi. Secara praktis, peran parlemen hampir berakhir, dan para menteri juga memiliki kekuasaan yang lebih kecil dibanding kabinet sebelumnya. Masa darurat tetap berjalan, dan sejarawan Amerika Serikat George Kahin menulis: "Pelantikan kabinet telah melemahkan peran kedua parlemen dan partai politik secara setara untuk memperluas peran presiden dan militer."[5]

Soekarno mencoba untuk mewujudkan konsep demokrasi terpimpinnya. Pada Mei 1957, Soekarno menggunakan peraturan darurat untuk membentuk Dewan Nasional. Dewan Nasional adalah badan yang setara dengan kabinet, terdiri dari refleksi masyarakat berdasarkan 'golongan pekerja' (seperti petani, buruh, pemuda, pebisnis, dan perempuan) dibandingkan berdasarkan partai politik. Dewan Nasional juga meliputi perwakilan dari beragam wilayah dan kepulauan.[1]

Setelah percobaan di Perserikatan Bangsa-Bangsa agar Irian Barat bergabung dengan Indonesia gagal pada November 1957, pemerintahan Soekarno mengambil alih kegiatan dari perusahaan-perusahaan Belanda. Pada 5 Desember, seluruh 46,000 orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia.[1] Terdapat beberapa penolakan dalam kabinet terhadap keputusan tersebut, termasuk dari Wakil Presiden Mohammad Hatta. Partai oposisi Masyumi mengutarakan kritiknya, dan para pimpinan partai Mohammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra. Gerakan Permesta juga ikut berkembang. Kedua pergerakan separatis tersebut merupakan alasan penting mengapa Soekarno dapat mempertahankan keadaan darurat dan dapat mengembangkan demokrasi terpimpinnya lebih luas.

Sejak awal 1958, pemilihan umum selanjutnya mulai direncanakan. Setelah pemilihan umum legislatif 1955, pemilihan selanjutnya dijadwalkan dilaksanakan pada September 1959. Namun, partai-partai politik yang kini lemah tidak mau menghadapi pemilihan umum karena kekhawatiran bahwa komunis PKI akan menang besar, dan juga beberapa kelompok lain seperti Angkatan Darat (yang diperkuat oleh keadaan darurat) tidak menginginkan adanya pemilihan umum. Selain PKI, seluruh partai politik besar sepakat untuk menunda pemilihan umum, dan pada 22 September 1958 Perdana Menteri Djuanda mengumumkan bahwa pemilihan umum akan ditunda selama maksimal 1 tahun, alasan resmi penundaan tersebut adalah keamanan yang tidak dapat dijamin oleh adanya pemberontakan.[1]

Pembubaran kabinet

250px-1959_Sukarno%27s_Presidential_Decree.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Presiden Soekarno membacakan Dekrit Presiden Republik Indonesia pada 5 Juli 1959.

Konstituante, yang telah dibentuk setelah adanya Pemilihan umum Konstituante 1955 mengerjakan rancangan konstitusi baru sejak tahun 1956, tetapi tidak berhasil. Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution mengajukan untuk kembali ke Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Rencana tersebut mendapatkan dukungan luas, dan pada 5 Juli 1959, Soekarno mengeluarkan dekrit yang mengembalikan UUD 1945, membubarkan Konstituante dan mengembalikan Dewan Perwakilan Rakyat terpilih berubah menjadi parlemen yang ditunjuk. Dekrit tersebut juga menandakan akhir dari Kabinet Djuanda, dan Soekarno mengambil alih kekuasaan pemerintahan dengan menjabat sebagai presiden dan perdana menteri dalam Kabinet Kerja I.

Galeri

  • Pengumuman
  • Pengumuman Kabinet Djuanda oleh Pemerintah.
    Pengumuman Kabinet Djuanda oleh Pemerintah.

Catatan

  1. ↑ Kabinet Djuanda dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1957.
  2. ↑ Kabinet ini demisioner sejak tanggal 6 Juli 1959 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 151 Tahun 1959
  3. ↑ Pada waktu kabinet dibentuk jabatan ini belum ada. Dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115 Tahun 1957 tertanggal 16 Mei 1957, dan untuk jabatan tersebut diangkat Dr. Johannes Leimena sementara merangkap sebagai Menteri Sosial. Beliau merangkap jabatan sebagai Menteri Sosial sejak 29 April 1957.
  4. ↑ Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 1958 tertanggal 25 Juni 1958, Soenardjo digantikan Rachmat Muljomiseno.
  5. ↑ Pada 29 April 1957, Dr. Johannes Leimena sementara merangkap jabatan sebagai Menteri Sosial dan Wakil Perdana Menteri III sampai 24 Mei 1957. Sejak 25 Mei 1957, jabatan Menteri Sosial dipegang oleh Muljadi Djojomartono berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 120 Tahun 1957 tertanggal 24 Mei 1957.
  6. 1 2 Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 1958 tertanggal 25 Juni 1958, jabatan ini dihapuskan sejak 25 Juni 1958.
  7. ↑ Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 1958 tertanggal 25 Juni 1958, A.M. Hanafi dibebaskan dari jabatannya sebagai Menteri Urusan Pengerahan Tenaga Rakyat untuk Pembangunan dan diangkat sebagai Menteri Negara.
  8. ↑ Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 1958 tertanggal 25 Juni 1958, Ferdinand Lumban Tobing dibebaskan dari jabatannya sebagai Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Transmigrasi.
  9. ↑ Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 1958 dibentuk 5 jabatan Menteri Negara yang terdiri dari Menteri Negara Urusan Stabilisasi Ekonomi, Menteri Negara Urusan Kerjasama Sipil-Militer, Menteri Negara Urusan Transmigrasi, dan 2 Menteri Negara, dengan diangkat sebagai Menteri-Menterinya: Kol. Suprajogi, K.H. Wahib Wahab, Dr. F.L. Tobing, A.M. Hanafi dan Prof. Mr. H. Moh. Yamin.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Lev (2009) pp 26-34
  2. ↑ Feith (2007) pp 579-580
  3. ↑ Simanjuntak (2003) p182
  4. ↑ Hakiki, Paizon (2014). Saiman, Marwoto; Suri, Syofyan (ed.). "SISTEM PEMERINTAHAN PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL TAHUN 1949-1959" (PDF). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Vol. 1 (No. 1): 1–15.{{cite journal}}: |issue= memiliki teks tambahan; |volume= memiliki teks tambahan
  5. ↑ Kahin, George McTurnan (1958). Major governments of Asia. New York: Cornell University Press. ISBN 9780801402180.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggalPemeliharaan CS1: Status URL (link)

Karya dikutip

  • Feith, Herbert (2009) [1962], The Decline of Constitutional Democracy in Indonesian, Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd, hlm. 469–470, ISBN 979-3780-45-2
  • Lev, Daniel S (2009) [1966], The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1959, Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd, hlm. 34, 136, ISBN 978-602-8397-40-7
  • Simanjuntak, P. N. H. (2003) (in Indonesian), Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi, Jakarta: Djambatan, pp. 181–187, ISBN 979-428-499-8.

Pranala luar

40px-National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kabinet Pemerintahan Indonesia
Didahului oleh:
Kabinet Ali Sastroamidjojo II
Kabinet Djuanda
1957–1959
Diteruskan oleh:
Kabinet Kerja I
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan