Kamis, 22 Oktober 2026
22:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal
U kara

U kara

Bagikan:
U kara
250px-Bali_vowel_U_kara.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinU
IASTU
Fonem[u]
UnicodeU+1B09
Warga aksaraosthya

U kara adalah salah satu aksara swara (huruf vokal) dalam sistem penulisan aksara Bali. Aksara ini melambangkan bunyi /uː/, sama halnya seperti aksara उ (u) dalam aksara Dewanagari, huruf U dalam alfabet Latin, atau huruf upsilon (υ) dalam alfabet Yunani. Jika dialihaksarakan dari aksara Bali ke huruf Latin, maka U kara ditulis "U".

Penggunaan

U kara hanya digunakan apabila menulis bahasa non-Bali[1] (contohnya bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno) dengan menggunakan aksara Bali, atau untuk menulis kata serapan dari bahasa non-Bali dengan menggunakan aksara Bali. Contoh kata yang menggunakan U kara (dalam bahasa Bali serapan): umanis, ujar, utama, utara, utsaha, upakara, utpati, dsb.

U kara tidak digunakan apabila menulis kata-kata yang memang berasal dari bahasa Bali, atau bukan bahasa Bali yang diserap dari bahasa non-Bali. Contohnya antara lain: urab, ujan, ulung, ubet, dll. Sebagai penggantinya, dianjurkan memakai aksara Ha yang dapat dibubuhi oleh tanda suku.

U kara yang dibubuhi oleh tanda ulu candra dianggap aksara suci bagi Dewa Wisnu oleh penganut agama Hindu di Bali. U kara yang dibubuhi ulu candra tersebut dibaca "Ung". Kombinasi antara A kara (Ang) dengan U kara (Ung) dan Ma (Mang) menghasilkan simbol Aum atau Om, simbol yang dikeramatkan oleh umat Hindu.

U kara dirgha

U kara dirgha
250px-Bali_vowel_U_kara-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinU
IASTŪ
Fonem[u], [uː]
UnicodeU+1B0A
Warga aksaraoshtya

U kara yang melambangkan bunyi /u/ panjang (/uː/) disebut U kara dirgha atau U kara matedung (secara harfiah, dirgha berarti panjang). Bentuknya merupakan gabungan antara tedung dengan U kara biasa (U kara hrasua atau U kara berbunyi pendek). Bila U kara dirgha dialihaksarakan ke dalam huruf Latin, maka ditulis Ū atau Uu.

Namun dalam percakapan berbahasa Bali zaman sekarang, pengucapan suara /uː/ dengan /u/ sudah jarang dibedakan lagi. Dengan kata lain, pengucapannya disamakan, seolah-olah suara panjang dan pendek tidak ada bedanya.[2] Namun apabila menulis lontar, kidung, dan mantra-mantra, aturan mengenai suara panjang dan pendek masih tetap diperhatikan, dan pada saat itulah U kara dirgha digunakan.

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ Tinggen, hal. 11.
  2. ↑ Tinggen, hal. 7.
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan