Rabu, 23 September 2026
20:15 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Partai Musyawarah Rakyat Banyak

Partai Musyawarah Rakyat Banyak

bekas partai politik di Indonesia

Partai Musyawarah Rakyat Banyak
Partai Murba
250px-Logo_of_the_Murba_Party.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
KetuaSoekarni (pertama)
Sekretaris JenderalSjamsu Harja Udaja (pertama)
Pendiri
Dibentuk7 November 1948 (1948-11-07)
Dibubarkan11 Januari 1973 (1973-01-11)
Didahului oleh
  • Partai Rakyat
  • Partai Rakyat Jelata
  • Partai Buruh Merdeka
Digabungkan denganPartai Demokrasi Indonesia
Diteruskan oleh
  • Partai Murba (1998)[1]
Surat kabar
  • Murba
  • Massa
  • Pembela Proklamasi
Sayap pelajarGMM (mahasiswa)
Sayap pemudaPARRI
Sayap wanitaSerikat Wanita Murba
Keanggotaan (1948)80.000
IdeologiMurbaisme[2]
Faksi:
Tan Malakaisme
1948–1966:
Marxisme-Leninisme
Komunisme nasional
1966–1973: Demokrasi sosial
Sosialisme
Posisi politikSayap kiri ke Kiri Jauh
Sayap buruhSOBRI

Partai Musyawarah Rakyat Banyak atau Partai Murba adalah partai politik Indonesia yang berhaluan kiri.[3] Partai ini sempat dibekukan pada September 1965, akan tetapi setahun kemudian partai ini direhabilitasi oleh pemerintah yang dalam masa peralihan dari Soekarno ke Soeharto. Pada tahun 1971, partai ini mengikuti Pemilu 1971 akan tetapi pada Pemilu 1977 partai ini dilebur dalam Partai Demokrasi Indonesia.[4]

Pada era demokrasi, Partai Murba didirikan kembali dan berpartisipasi dalam Pemilu 1999, dengan nama Partai Murba dengan nomor urut 31, akan tetapi karena tidak memenuhi electoral threshold partai ini lenyap kembali.[5][6]

Pendirian

Pemberontakan PKI 1948 menimbulkan akibat yang tajam terhadap PKI. Di seluruh Jawa (kecuali Banten), muncul kekosongan politik di sayap kiri. Para pengikut Tan Malaka berupaya memanfaatkan situasi ini, dan pada 3 Oktober 1948 tiga unsur utama Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR) yang dipimpin Tan Malaka: Partai Rakyat, Partai Rakyat Jelata, dan Partai Buruh Indonesia Merdeka, menyatakan bahwa mereka akan melebur untuk membentuk Partai Murba. Peleburan tersebut dijadwalkan selesai pada 7 November 1948, bertepatan dengan peringatan Revolusi Rusia. Anggaran dasar partai diumumkan pada 12 November 1948. Pada saat pendiriannya, partai baru ini memiliki sekitar 80.000 anggota. GRR sendiri tetap eksis secara terpisah, dengan Partai Murba sebagai salah satu afiliasinya.[7]

Partai Murba didirikan oleh Tan Malaka, Chaerul Saleh, Sukarni dan Adam Malik.

Tan Malaka sendiri tidak berhasil membesarkan Partai Murba, karena ia ditembak mati di Kediri tiga bulan setelah mendirikan partai itu. Pilihan hari pembentukan partai itu, 7 November 1948 — bertepatan dengan hari revolusi Rusia. Partai Murba muncul setelah Partai Komunis Indonesia tersingkir pasca-Peristiwa Madiun, September 1948. Karena itu Murba dicitrakan sebagai partai komunis baru atau semacam pengganti PKI.

Masa revolusi fisik

Partai Murba mewarisi pertikaian ideologis antara Tan Malaka dengan Musso yang telah bermula sejak pemberontakan PKI yang gagal pada tahun 1926-1927. Ketika Musso pulang ke Indonesia pada tahun 1948, program politiknya memiliki berbagai kesamaan dengan Tan Malaka. Namun, ketika ditanya wartawan apakah mereka akan bekerja sama, Musso menjawabnya sinis. Bila ia punya kesempatan, katanya, yang pertama dilakukannya adalah menggantung Tan Malaka.

Sejak awal sudah terjadi perdebatan apakah Murba akan dijadikan partai kader atau partai massa. Namun yang jelas partai ini lahir dalam kancah revolusi karena dikembangkan sambil bergerilya. Ada Chaerul Saleh di Jawa Barat dengan Barisan Bambu Runcing. Sukarni dan kawan-kawan yang menyebar dari Yogyakarta ke Jawa Tengah, dan Tan Malaka sendiri di Jawa Timur yang bergabung dengan batalion yang dipimpin Mayor Sabarudin. Ketiga upaya itu akhirnya gagal. Chaerul Saleh ditangkap, lalu diperintahkan Presiden Soekarno untuk studi ke Jerman. Sebelum gerakan kelompok Tan Malaka terkristalisasi, terjadilah Agresi Militer II pada bulan Desember 1948.

Setelah Tan Malaka tewas, Murba masih memiliki banyak tokoh seperti Iwa Kusumasumantri, Chaerul Saleh, Adam Malik, Sukarni dan Prijono. Walaupun terdiri dari pemuda yang bersemangat, akan tetapi dalam berorganisasi mereka kurang andal. Kisah dan nama besar Tan Malaka dijadikan legenda, tetapi pemikirannya tidak dijabarkan dalam bentuk aksi. Mesin pengkaderan partai di berbagai sektor tidak berjalan sama sekali. Partai ini sama sekali tidak memiliki penerbitan serius, kecuali Pembela Proklamasi yang hanya terbit sejumlah 20 edisi.

Perpecahan antara Partai Murba dengan PKI menyebabkan terjadinya perpecahan dalam golongan kiri-komunis di Indonesia. Upaya mendekatkan Murba dengan PKI seperti dirintis Ibnu Parna dari Partai Acoma (Angkatan Communis Indonesia) ditolak elite PKI. Pada saat itu, M. H. Lukman, anggota Politbiro PKI, menulis bahwa Tan Malaka adalah pengkhianat Marxisme-Leninisme.

Dalam Komite Nasional Indonesia Pusat pada tahun 1949, Partai Murba merupakan partai terkecil dalam lembaga tersebut dengan hanya menduduki delapan kursi dari total 536 kursi. Pada rapat pleno ke-6 KNIP, Partai Murba meningkatkan jumlah kursinya menjadi 12 kursi dari 539 orang anggota.

Masa Demokrasi Liberal

Partai Murba berpartisipasi dalam Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Pada Pemilihan Umum 1955, Partai Murba hanya mendapatkan 0,53% suara nasional (199.588 suara), yang menempatkannya pada urutan ke-16 dan sangat jauh terpaut dari rival utamanya, PKI, yang menempati posisi keempat. Partai Murba menduduki dua kursi dalam DPR hasil pemilihan umum dan enam kursi dalam Konstituante. Karena sedikitnya jumlah kursi yang didapatkan, di dalam parlemen Partai Murba membentuk Fraksi Nasional Progresif bersama Baperki, Permai, PRN, Gerakan Indonesia, dan PIR Wongsonegoro.

Masa Demokrasi Terpimpin

Partai Murba menjadi salah satu partai yang paling vokal mendukung Demokrasi Terpimpin setelah gagasan tersebut dicanangkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1957. Setelah Dekret Presiden 1959, Partai Murba menjadi satu dari hanya sepuluh partai yang diperbolehkan dalam masa Demokrasi Terpimpin.

Setelah DPR hasil pemilihan umum dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat Dekrit Presiden, jumlah kursi Partai Murba dalam parlemen berkurang menjadi hanya dua orang (Adam Malik dan Pandu Kartawiguna). Karena sedikitnya jumlah kursi yang didapatkan, maka Partai Murba kembali duduk dalam Fraksi Nasional Progresif.

Pada tahun 1960, DPR kembali dibubarkan dan digantikan oleh DPRGR, di mana jumlah kursi Partai Murba kembali berkurang menjadi satu kursi.

Masa Demokrasi Terpimpin memberikan peluang bagi Murba ketika Soekarno menjadikannya sebagai penyeimbang posisi PKI. Kongres Murba kelima pada Desember 1959 dihadiri langsung oleh Presiden Soekarno. Chaerul Saleh dan Prijono masuk kabinet sedangkan Adam Malik dan Sukarni menjadi Duta Besar di Moskow dan Beijing. Puncaknya, Tan Malaka diangkat menjadi pahlawan nasional pada 1963.

Pertentangan antara Murba dan PKI makin tajam. Ketika PKI makin kuat, Murba bekerja sama dengan militer dan pihak lain dalam usaha menjegal PKI dengan membentuk Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Namun setelah itu BPS dibubarkan oleh Bung Karno. Sukarni dan Syamsudin Chan ditahan pada awal 1965. Murba dibekukan dan kemudian dibubarkan pada September 1965 karena dituduh menerima uang US$ 100 juta dari CIA untuk menggulingkan Presiden. Setelah dibekukan, satu-satunya anggota Partai Murba yang duduk dalam DPRGR (Abdullah Sutan Bandaharo Panjang) dianggap berhenti pada tanggal 1 April 1966.

Hilangnya kekuatan politik PKI pasca genosida 1965-1966 menyebabkan kembalinya kekuatan Partai Murba sebagai poros utama sayap kiri politik (mengingat Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sutan Sjahrir tidak diizinkan untuk dibangkitkan kembali oleh rezim Orde Baru). Pada 17 Oktober 1966 Soekarno merehabilitasi partai Murba melalui Keputusan Presiden Nomor 223 Tahun 1966.

Setelah direhabilitasi, Partai Murba kembali duduk dalam DPRGR dengan empat orang wakil. Keempat orang wakil dari Partai Murba berperan dalam penggulingan Presiden Sukarno dan penetapan Suharto sebagai presiden pada Maret 1967.

Masa Orde Baru

Pada awal Orde Baru, Adam Malik menjadi Menteri Luar Negeri dan kemudian Wakil Presiden. Namun posisinya ini tidak berpengaruh sama sekali bagi Partai Murba.

250px-DAFTAR_CALON_PEMILU_1971_DARI_PARTAI_MURBA_0004.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daftar kandidat pemilu dari Partai Murba pada tahun 1971. Ibrahim Yaacob berada di samping Soekarni.

Dalam pemilu pertama era Orde Baru, Juli 1971, dua bulan setelah wafatnya Sukarni, Partai Murba memperoleh 49 ribu suara (0,09 persen pemilih). Walaupun Partai Murba menjadi satu-satunya perwakilan dari golongan kiri yang diizinkan ikut serta dalam pemilihan umum ini, kegagalan utama Murba disebabkan oleh stigma rezim Orde Baru terhadap seluruh golongan kiri. Selain itu Orde Baru juga menabukan sosok Tan Malaka. Gelar pahlawannya memang tak pernah dicabut, tetapi namanya dihilangkan dari buku pelajaran sejarah di sekolah. Dalam pemilu selanjutnya (1977) Murba dipaksa oleh rezim Orde Baru untuk berfusi dengan PNI, Partai Katolik, dan Parkindo untuk membentuk Partai Demokrasi Indonesia, tetapi karena lemahnya kedudukan Partai Murba, pimpinan dan anggota Partai Murba tidak berpengaruh sama sekali dalam PDI.

Masa Reformasi

Setelah Soeharto jatuh, Murba kembali didirikan dan mencoba mengikuti Pemilu pada tahun 1999.[8] Namun partai ini hanya mendapat 62 ribu suara (0,06 persen pemilih) sehingga tidak lolos electoral threshold untuk Pemilu berikutnya. Menjelang Pemilu 2009, partai ini muncul kembali dalam bentuk baru dengan nama Partai Murba Indonesia akan tetapi partai ini tidak lolos seleksi oleh KPU.[9]

Daftar Ketua Umum

No. Name Potret Mulai Jabatan Akhir Jabatan Ket.
1Soekarni
(1916–1971)
120px-Soekarni_%28Kepartaian_di_Indonesia%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 7 November 1948 26 Agustus 1960
2Wasid Suwarto
(1927–2005)
120px-Wasid_Suwarto.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 26 Agustus 1960 17 Oktober 1966 [a]
(1)Soekarni
(1916–1971)
120px-Soekarni_%28Kepartaian_di_Indonesia%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 17 Oktober 1966 7 Mei 1971 [b][c]
Maruto Nitimihardjo (1906–1989) 120px-Maruto_Nitimihardjo_Kami_Perkenalkan_%281954%29_%28page_109_crop%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 7 Mei 1971 10 Oktober 1971 [d]
3Sugiarto Murbantoko
(1927–?)
120px-Sugiarto_Murbantoko.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail10 Oktober 1971 11 Januari 1973
Berfusi dengan: Partai Demokrasi Indonesia

Daftar Sekretaris Jenderal

No. Name Potret Mulai Jabatan Akhir Jabatan Ket.
1Sjamsu Harja Udaja
(1913–?)
7 November 1948 Maret 1951
2Hassan Mangkuto
Maret 1951 28 Januari 1952
3Sjamsu Harja Udaja
(1913–?)
28 Januari 1952 4 April 1955
4Wasid Suwarto
(1927–2005)
120px-Wasid_Suwarto.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail4 April 1955 26 Agustus 1960
5 Gondowardojo
26 Agustus 1960 20 Desember 1960
6 Bambang Singgih
(1928–2005)
120px-Bambang_Singgih.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 20 Desember 1960 17 Oktober 1966
7 Sugiarto Murbantoko
(1927–?)
120px-Sugiarto_Murbantoko.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 17 Oktober 1966 10 Oktober 1971
8 Husein Jusuf
(1923–?)
120px-Husein_Jusuf.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 10 Oktober 1971 11 Januari 1973

Hasil Pemilu

Pemilihan Umum Kursi Suara Persentase
1955 (DPR)
2 / 257
199.588 0,53%
1955 (Konstituante)
4 / 514
248.633 0,66%
1971
0 / 360
48.126 0,08%
1999
0 / 462
62.006 0,06%

Tokoh

Lihat pula

Keterangan

  1. Partai sempat dibekukan dari 6 Januari 1965 hingga 17 Oktober 1966.
  2. Beda periode
  3. Meninggal dunia saat menjabat.
  4. Ketua sementara

Rujukan

  1. "Wajah 48 partai peserta Pemilu 1999: Nomor 31: Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba)". Kompas. 12 Maret 1999. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-15. Diakses tanggal 2009-01-26 via Seasite.niu.edu (Southeast Asian languages, literatures and cultures).{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Pokok-Pokok Ajaran Tan Malaka (Murbaisme)," Biro Pendidikan Partai Murba (1960)
  3. "Warisan Tan Malaka" Diarsipkan 2009-10-08 di Wayback Machine., Tempo Interaktif, 11 Agustus 2008
  4. "Tan Malaka dan Adam Malik"[pranala nonaktif permanen], MyRMNews, 29 November 2008
  5. "Wajah 48 partai peserta Pemilu 1999: Nomor 31: Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba)". Kompas. 12 Maret 1999. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-15. Diakses tanggal 26-01-2009 via Seasite.niu.edu (Southeast Asian languages, literatures and cultures).{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  6. "Partai Murba Indonesia" Diarsipkan 2009-01-20 di Wayback Machine., Indopolitik, diakses 26 Januari 2009
  7. Brown, Colin (1994). "The Politics of Trade Union Formation in the Java Sugar Industry, 1945-1949". Modern Asian Studies. 28 (1): 77–98. ISSN 0026-749X.
  8. "Wajah 48 partai peserta Pemilu 1999: Nomor 31: Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba)". Kompas. 12 Maret 1999. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-15. Diakses tanggal 26-01-2009 via Seasite.niu.edu (Southeast Asian languages, literatures and cultures).{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  9. "Partai Murba Indonesia Dideklarasikan" Diarsipkan 2009-08-18 di Wayback Machine., Tempo Interaktif, 13 Januari 2007
Partai didirikan masa pra-kemerdekaan
Partai didirikan masa Orde Lama dan Baru
Partai didirikan masa Reformasi
Perang dan insiden
Perang
Insiden
Organisasi
Tokoh kunci
Afiliasi
Topik terkait
Budaya populer
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan