Sabtu, 03 Oktober 2026
21:55 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Sardjono

Sardjono

Bagikan:
Sardjono
250px-Sardjono_PKI.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sardjono
Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Indonesia
Masa jabatan
20 Desember 1924 –10 November 1926
PendahuluAliarcham
PenggantiSuprodjo
Masa jabatan
29 Maret 1946 –19 Desember 1948
PresidenSukarno
PendahuluMohamad Jusuf
PenggantiAlimin
Ketua Umum Serikat Indonesia Baroe (SIBAR)
Masa jabatan
6 Agustus 1944 –15 Agustus 1945
PendahuluJabatan dibentuk
PenggantiJabatan dihapuskan
Informasi pribadi
Lahir1897
Meninggal19 Desember 1948
(umur 50 atau 51)
Partai politikSI (berafiliasi dengan SR)
PKI
PekerjaanJurnalis

Sardjono (1897 – 19 Desember 1948) adalah seorang tokoh pergerakan nasional. Sardjono dikenal sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia, dan ketua organisasi Serikat Indonesia Baroe (SIBAR) sebuah organisasi nasionalis Indonesia di Australia pada masa Perang Dunia II. Setelah kegagalan Peristiwa Madiun, Sardjono ditangkap bersama tokoh-tokoh FDR lainnya dan dieksekusi mati.

Kehidupan awal

Sardjono lahir di Sumenep pada tahun 1897. Dia menjalani pendidikan dasar di Sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse School, kelak berkembang menjadi HIS) di Sukabumi. Sardjono kemudian bekerja sebagai juru tulis di sebuah pabrik mesin, lalu pindah ke kantor kotamadya (gemeente) dan kembali bekerja sebagai juru tulis.[1]

Sardjono aktif di Sarekat Islam dan pernah menjabat sebagai ketua cabang SI di Sukabumi pada tahun 1922. Kemudian, dia juga menjadi seorang guru di sebuah sekolah SI, sebelum dikenakan larangan mengajar oleh Residen Priangan selama setahun pada tahun 1923 karena dianggap menyebarkan "pemikiran yang tidak diinginkan".[1]

Awal aktivisme di PKI

Sardjono terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PKI di Batavia, menggantikan Aliarcham pada Desember 1924 setelah perdebatan panjang dalam tubuh partai mengenai posisi Sarekat Rakyat dalam PKI. Pada tahun 1925, Sardjono pergi ke Bangkok untuk mengikuti sebuah konferensi dengan para delegasi Soviet di sana. Saat kantor pusat PKI dipindah dari Batavia ke Bandung pada tahun 1926, Sardjono juga ikut pindah dan menetap di sana.[1][2]

Sardjono adalah tokoh sentral yang menyusun pemberontakan di Jawa pada tahun 1926. Ia merupakan tokoh kunci di samping Winanta dan Herujuwono. Namun, menjelang pemberontakan, pada 10 November, kantor pusat PKI cabang Bandung dan Priangan melantik Ketua Umum baru yang menentang pemberontakan, yakni Suprodjo. Tetapi, semuanya sudah terlambat sebab tak lama kemudian, pemberontakan pecah di Jawa pada malam 12 November 1926 dan di Sumatera pada 1 Januari 1927.[2]

Pengasingan dan hidup di Australia

Sardjono_%28%2A1897%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Potret Sardjono sebagai calon dari Partai Komunis Belanda yang terpilih dalam pemilihan anggota Tweede Kamer pada 1933.

Pemberontakan berhasil diredam oleh satuan kepolisian dan tentara Hindia Belanda. Sardjono ditangkap dan ia diasingkan ke Boven Digoel hingga era Perang Dunia II. Saat di pengasingan, pada tanggal 28 April 1933, Sardjono terpilih sebagai anggota parlemen Belanda bersama dengan Alimin, mewakili Partai Komunis Belanda.[3]

Setelah perang pecah, Belanda membawa para tahanan ke Australia, salah satunya adalah Sardjono. Di Australia, dengan bantuan mantan Gubernur Jawa Timur Charles van der Plas, pada 6 Agustus 1944, Sardjono memimpin organisasi pergerakan yang baru dibentuk, yaitu Serikat Indonesia Baroe. Organisasi ini didominasi oleh tokoh-tokoh komunis lama era 1920-an.[4]

Pasca proklamasi hingga Pemberontakan Madiun

Setelah proklamasi, Sardjono berupaya menggalang dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia di Australia. Pada bulan November 1945, dia menyampaikan sebuah pernyataan yang mengutuk keras aksi Inggris dalam Pertempuran Surabaya dan membandingkannya dengan pengeboman Jerman terhadap Coventry dan Rotterdam semasa Perang Dunia II. Pernyataan tersebut disiarkan melalui radio. Sardjono juga menyeru kepada kaum buruh di Inggris dan Belanda untuk secara tegas mengecam agresi yang dilakukan negara mereka terhadap Indonesia.[5]

Pada awal tahun 1946, Sardjono kembali ke Indonesia dan disambut oleh berbagai tokoh yang dahulu mengenalnya. Pada Maret 1946, kepemimpinan Mohamad Jusuf dalam PKI goyah akibat kegagalan pemberontakan PKI di Cirebon dan digantikan oleh Sardjono.[6] Sardjono juga memimpin front rakyat yang terbentuk setelah ditangkapnya tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan, yaitu Konsentrasi Nasional. Front ini bertujuan untuk menggabungkan kekuatan partai-partai politik dalam menentang kebijakan lunak pemerintah republik. Menjelang Peristiwa Madiun, Sardjono sedang tidak di dalam kota. Namun posisinya menjadi terancam ketika kabar mengenai jatuhnya Madiun kembali ke tangan Siliwangi menyebar, Sardjono terpaksa harus melakukan long march dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Amir Sjarifoeddin, Maruto Darusman, dan lainnya.

Kematian

Ia berhasil ditangkap pada 26 November 1948, dan akhirnya dibawa ke Solo pada 19 Desember 1948 untuk dieksekusi, bersama dengan Amir Sjarifoeddin dan tokoh-tokoh lainnya.[7]

Referensi

  1. 1 2 3 "Indonesische kandidaten voor de Tweede Kamerverkiezingen van de C.P.H." (PDF). Huygens ING – Den Haag. 1933.
  2. 1 2 McVey 2006, hlm. 326.
  3. ↑ "Two Indonesian Comrades Elected". The Workers' Weekly. 1933-06-16. Diakses tanggal 20 Februari 2024.
  4. ↑ Poeze 2014, hlm. 27-30.
  5. ↑ "Java Communist's Appeal to World". Tribune. 1945-11-20. Diakses tanggal 20 Februari 2024.
  6. ↑ Poeze 2011, hlm. 44-46. sfn error: banyak target (2×): CITEREFPoeze2011 (bantuan)
  7. ↑ Poeze 2011, hlm. 297. sfn error: banyak target (2×): CITEREFPoeze2011 (bantuan)

Daftar Pustaka

  • McVey, Ruth T. (2006). The Rise of Indonesian Communism. Jakarta: Equinox Publishing. ISBN 979-3780-36-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Poeze, Harry A. (2011). Madiun 1948: PKI Bergerak. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-602-433-834-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Poeze, Harry A. (2011). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 2: Maret 1946-Maret 1947. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-730-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Poeze, Harry A. (2014). PKI SIBAR: Persekutuan Aneh antara Pemerintah Belanda dan Orang Komunis di Australia 1943-1945. Depok: Komunitas Bambu. ISBN 978-602-9402-47-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Jabatan partai politik
Didahului oleh:
Aliarcham
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia
1924–1926
Diteruskan oleh:
Suprodjo
Didahului oleh:
Mohamad Jusuf
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia
1946–1948
Diteruskan oleh:
Alimin
Perang dan insiden
Perang
Insiden
Organisasi
Tokoh kunci
Afiliasi
Topik terkait
Budaya populer
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan