Semaoen | |
|---|---|
Semaoen ca 1955 | |
| Ketua Partai Komunis Indonesia | |
| Masa jabatan 13 Februari 1922 –10 Juni 1924 | |
| Pendahulu | Tan Malaka |
| Pengganti | Alibasah Winanta |
| Masa jabatan 23 Mei 1920 –25 Desember 1921 | |
| Pendahulu | C. Hartogh (ISDV) |
| Pengganti | Tan Malaka |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 1899 (1899) |
| Meninggal | 7 April 1971(1971-04-07) (umur 71–72) Jakarta, Indonesia |
| Makam | TPU Gunung Gangsir, Beji, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia |
| Partai politik | Sarekat Islam Partai Komunis Indonesia Partai Murba |
| Pekerjaan | Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia Politikus |
Semaoen (EYD: Semaun; 1899 – 7 April 1971) adalah Ketua Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) dan merupakan pemimpin Sarekat Islam (SI) cabang Semarang.
Kehidupan awal
Semaoen lahir pada tahun 1899 di Curahmalang, Jombang, Jawa Timur. Semaoen adalah putra Prawiroatmodjo, seorang tukang batu di kementerian perkeretaapian. Meskipun bukan putra orang kaya, Semaoen berhasil masuk sekolah Tweede Klas (sekolah pribumi kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan dalam bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi. Oleh karena itu, ia bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis kecil.
Politik
Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri dan hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor utama mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.
Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Pada tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.
Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.
Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.
Pada bulan Mei 1921, ketika Partai Komunis Indonesia didirikan setelah pendiri ISDV dideportasi, Semaoen menjadi ketua pertama. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tetapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.
Pengasingan
Pada tahun 1923, VSTP, serikat pekerja kereta api, mengorganisir pemogokan umum. Pemogokan itu segera dipadamkan oleh pemerintah Belanda, dan Semaoen diasingkan dari Hindia Belanda. Ia kembali ke Uni Soviet, tempat ia tinggal selama lebih dari tiga puluh tahun. Ia tetap terlibat sebagai aktivis nasionalis dalam skala terbatas, beberapa kali berbicara di Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia yang berbasis di Belanda. Ia juga sempat belajar di Universitas Komunis Para Pekerja dari Timur. Ia banyak bepergian di Eropa, dan memainkan peran kepemimpinan di Tajikistan pada era Soviet. Ia menulis sebuah novel, Hikayat Kadiroen, yang menggabungkan cita-cita komunis dan Islam, dan menghasilkan sejumlah pamflet dan artikel surat kabar.
Setelah kembali ke Indonesia usai kemerdekaan, Semaoen pindah ke Jakarta, di mana dari tahun 1959 hingga 1961 ia bertugas di dewan penasihat pemerintah. Ia ditolak oleh kepemimpinan baru PKI, dan berafiliasi dengan Partai Murba (Partai Proletar), yang menentang PKI. Terhindar dari dampak Gerakan 30 September, ia mengajar ekonomi di Universitas Padjadjaran di Bandung. Ia meninggal di Jakarta pada tahun 1971.
Kematian
Semaoen meninggal pada 7 April 1971 dan dimakamkan di pemakaman keluarga R.A. Prawira Atmaja, di Pemakaman Umum Gununggansir, Beji, Pasuruan, Jawa Timur.[2]
Dalam budaya populer
- Dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Semaoen diperankan oleh Tanta Ginting.
Referensi
- Jarvis, Helen (1991). Notes and appendices for Tan Malaka, From Jail to Jail. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies.
- Kahin, George McT. (1952) Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca, New York:Cornell University Press.
- Ricklefs, M.C. (2001) A history of modern Indonesia since c.1200 3rd ed. Stanford, California:Stanford University Press
Catatan kaki
- ↑ Semaoen. Tenaga manusia postulat teori ekonomi terpimpin Djakarta, Penerbitan Universitas (dalam bahasa Inggris). publisher not identified.
- ↑ Redaksi (2017-10-04). "Ternyata, Makam Semaun Ketum Pertama PKI di Beji Pasuruan". WartaBromo. Diakses tanggal 2020-04-19.
{{cite web}}:|last=memiliki nama generik
Pranala luar
- (Indonesia) Semaoen, Aktivis Buruh dan Pemikir Diarsipkan 2007-03-06 di Wayback Machine., Kompas 21 Mei 2005.