Minggu, 04 Oktober 2026
06:26 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Maruto Darusman

Maruto Darusman

Bagikan:
KAS_Maruto_Darusman.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Maruto Darusman

Maruto Darusman adalah seorang politikus asal Indonesia. Ia merupakan tokoh berpengaruh dalam gerakan sayap kiri dan mendukung Musso serta Amir Sjarifuddin dalam upaya menggulingkan pemerintah. Setelah Pemberontakan Madiun gagal, Maruto ditangkap oleh pasukan pemerintah bersama beberapa tokoh lainnya dan dieksekusi pada Desember 1948.[1]

Biografi

Maruto berangkat ke Belanda saat dia kira-kira berusia 20an tahun. Di Belanda, dia kuliah di jurusan Indologi di Universitas Leiden.[2] Maruto aktif di organisasi Roekoen Peladjar Indonesia (Roepi). Di organisasi tersebut, dia pernah menjadi wakil ketua, lalu ketua. Maruto juga ikut serta mengurus media Roepi, Soeara Roepi.[3]

Bersama Soeripno dan Soenito, Maruto ikut memimpin Perhimpunan Indonesia ketika invasi Belanda oleh Jerman. Maruto punya nama samaran Nico van Zuilen. Maruto baru betul-betul aktif dalam gerakan bawah tanah ketika Jerman menyerbu Rusia. Di masa pendudukan Jerman, Maruto bertemu dan kemudian menikah dengan Sundari, kawan wanitanya dalam pergerakan di Belanda. Setelah Perang Dunia II dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Maruto Darusman dan Setiadjit pulang bersama Suwandi pada tanggal 25 April 1946 sehabis perundingan di Hoge Veluwe.[4]

Dia masuk Partai Komunis Indonesia dan masuk ke dalam kabinet Amir Sjarifuddin I, menjabat sebagai menteri negara yang tidak memimpin departemen. Setelah kabinet Amir bubar, Maruto terseret ke dalam pemberontakan Madiun. Alasan Maruto dan Amir menyingkir ke Madiun karena alasan keamanan. Di Madiun, mereka disebut bergiat dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR).[5] Maruto tiba di Madiun pada 27 Sepetember 1948.[6]

Maruto sempat bersama rombongan pimpinan Amir Sjarifuddin. Dalam rombongan tersebut, terdapat Fransisca Fanggidaej.[7] Maruto ditangkap 18 November 1948. Selama berminggu-minggu setelahnya, dia ditahan. Wajahnya ikut menghiasi pamflet terbitan pemerintah yang berjudul "Musso cs: Mengatjau Kesalamatan Negara Kita." Nasib Maruto dan kawan-kawannya yang tertangkap itu diputuskan pada 18 Desember 1948 dalam sebuah sidang yang yang diliputi ketegangan. Dari 12 menteri kabinet Hatta, hanya 4 yang setuju mereka dibebaskan dari eksekusi mati. Pada 19 Desember 1948, mereka akhirnya dibawa ke Ngalihan di sebelah timur Solo untuk dieksekusi mati.[8]

Referensi

  1. ↑ "5 Tokoh di Balik Pemberontakan PKI Madiun". Tempo.
  2. ↑ Gie, Soe Hok. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan.
  3. ↑ Poeze, Harry (2008). Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.
  4. ↑ Mulyana, Slamet (2008). Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan.
  5. ↑ Peristiwa Madiun. 1983.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=
  6. ↑ Poeze, Harry (2011). Madiun 1948: PKI Bergerak.
  7. ↑ Fanggidaej, Fransisca (2006). Memoar Perempuan Revolusioner.
  8. ↑ "Kisah Tragis Maruto Darusman". Tirto.id.


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan