| Bambu Runtjing | |
|---|---|
| Pendiri | Bahar Rezak |
Pemimpin | Chairul Saleh (POW) |
| Didirikan | 1947 |
| Periode aktif | 1947–1959 |
| Wilayah operasi | Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.[1] |
| Posisi politik | Pendukung Tan Malaka |
← Didahului oleh Laskar Rakjat Djawa Barat | |
Bambu Runtjing atau Bambu Runcing adalah laskar komunis nasional yang aktif di Indonesia dari tahun 1947 hingga 1959. Organisasi ini dibentuk dari Laskar Rakyat Djawa Barat.[2] Bambu Runtjing terkadang bekerja sama dengan atau bertempur melawan Darul Islam.[3]
Sejarah
Masa awal Bambu Runtjing
Bambu Runtjing didirikan pada akhir bulan Juli 1947 oleh Bahar Rezak alias Soetan Akbar setelah mendapatkan mandat dari Soedirman untuk menyusun kembali setelah Agresi Militer Belanda I.[4] Pemimpin pertamanya adalah Bahar Rezak dan dia membagi laskar ini ke dalam lima brigade yang berbeda di Cirebon, Priangan, Bogor, Jakarta, dan Banten.[5] Kelima brigade tersebut beserta pemimpinnya adalah sebagai berikut:[4]
- Brigade-A Banten: Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani
- Brigade-B Bogor: Waloejo dan Armansjah
- Brigade-C Jakarta: Wahidin Nasution
- Brigade-D Priangan Timur: Astrawinata
- Brigade-E Cirebon: Sastrosoewirjo dan Maulana
Rezak bergabung dengan Brigade-E Cirebon pada bulan Agustus 1947.[6] Brigade Bambu Runtjing Jakarta yang dipimpin oleh Wahidin Nasution pindah ke Purwakarta dan bermarkas di Pangkalan yang terletak di lereng Gunung Sanggabuana.[7] Rezak memiliki sedikit pengaruh terhadap brigade di Jakarta, Bogor, dan Banten.[6]
Bambu Runtjing awalnya memiliki reputasi yang baik dari rakyat dan pihak kepolisian. Namun, hal tersebut berubah ketika kekuatan baru dari Yogyakarta bergabung dengan laskar ini. Kelompok ini terlibat dalam perampokan, penahanan, dan kontak senjata dengan laskar lain. Mereka juga membuat propaganda bahwa aksi heroik TNI adalah khayalan.[4]
Pada tahun 1949, Bambu Runcing memiliki hubungan erat dengan para pengikut Tan Malaka. Sebuah kelompok yang terdiri dari 20 pendukung Tan Malaka dan mantan anggota Laskar Rakyat Djakarta Raya, yang dipimpin oleh Chairul Saleh, bergabung dengan organisasi tersebut di Gunung Sanggabuana. Saleh kemudian mengambil alih kepemimpinannya.[8] Menurut akademisi Suharto, organisasi tersebut dibentuk sebagai kelanjutan dari gagasan politik yang berkaitan dengan Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan.[9]
Di bawah kepemimpinan Saleh, Bambu Runtjing dimasukkan ke dalam persekutuan laskar-laskar yang bernama Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur pada tanggal 6 April 1949. Setelah Perjanjian Roem-Roijen ditandatangani, di mana salah satu kesepakatannya adalah gencatan senjata, Bambu Runtjing menentang perjanjian tersebut karena tindakan tersebut mengkhianati prinsip-prinsip revolusi nasional. Pada tanggal 6 Agustus 1949, Bambu Runtjing menyatakan menolak gencatan senjata dan tetap melanjutkan perjuangan. Hal ini menyebabkan Staf Gabungan Gerilya Jakarta Timur bubar dan Saleh memindahkan markas BR ke Pangkalan yang terletak di lereng utara Gunung Sanggabuana.[10] Saleh juga menolak pembubaran Pemerintah Republik Jawa Barat (PRJB) pada 1 September 1949.[11]
Pindah ke Banten Selatan
Akibat penolakan terhadap pembubaran PRJB, konflik antara Bambu Runtjing dan Divisi Siliwangi mulai terjadi. Divisi Siliwangi melakukan serangkaian serangan terhadap Laskar Bambu Runtjing dan berhasil membuat mereka terusir dari markasnya dan melarikan diri ke Cibinong. Pada bulan September 1949, Bambu Runtjing memutuskan untuk pindah ke Banten Selatan demi mengonsolidasikan kekuasaannya. Pemilihan Banten Selatan didasari oleh kepercayaan mereka bahwa rakyat setempat akan mendukungnya.[12]
Pada minggu pertama bulan Oktober 1949, 400 pasukan Bambu Runtjing yang dipimpin oleh Khaerul Saleh bergerak dari Bogor Utara ke Cibaliung. Dalam perjalanan tersebut, mereka melewati Lebak Selatan, menghadapi serangan dari pasukan DI/TII dan pasukan penjaga perkebunan, melakukan aksi pembunuhan, dan merebut Malingping dari TNI.[13] Setibanya di Cibaliung, mereka membunuh warga sipil, polisi, dan tentara. Korban pembunuhan Laskar Bambu Runtjing adalah Wakil Residen Banten Ahmad Fathoni, Kepala Kepolisian Keresidenan Banten Yusuf Martadilaga, Letnan Dua Mukhtar, Lurah Halimi, dan Letnan Suwarno.[14] Pada tanggal 11 Oktober 1949, Bambu Runtjing memproklamasikan dirinya sebagai Tentara Rakyat dan menangkat Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani sebagai Pimpinan Umum Central Komando Harian , Khaerul Saleh sebagai Panglima Central Commando, dan dan Muhidin Nasution sebagai Kepala Staf Central Commando Harian.[15]
Pasukan Divisi Siliwangi di bawah pimpinan Mayor Sudarsono menyerang Bambu Runtjing pada November 1949 sehingga membuat mereka terpencar-pencar sebelum mereka sempat mencapai pesisir.[16] Chairul Saleh ditangkap pada 4 November di lokasi yang jauh dari medan pertempuran. Syamsuddin Can dan Muhidin Nasution juga kemudian ditangkap. Manglep kembali ke tempat persembunyiannya yang lama di sepanjang hilir Sungai Citarum, tetapi tidak lama kemudian tewas dalam bentrokan dengan tentara. Sidik Samsi dan Camat Nata selamat dan kembali berpindah ke daerah kaki Gunung Sanggabuana.[17] Pasukan mereka sempat aktif di wilayah pedesaan Karawang. Operasi militer selanjutnya melemahkan kekuatan kelompok tersebut, dengan sejumlah komandan lokal tewas.[18]
Konflik dengan pemerintah pasca tahun 1949
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, Bambu Runtjing tersebut terus melakukan perlawanan karena menganggap hasil perjuangan kemerdekaan tidak adil.[3] Pada Maret 1954, Camat Nata menerima tawaran amnesti pemerintah dan menyerah di Cibitung. Setelah itu, hanya beberapa unit kecil Bambu Runcing yang masih melanjutkan perlawanan, yakni pasukan di bawah pimpinan Tjetje Subrata di sebelah selatan Sukabumi dan Haji Usman Debot di perbukitan kapur sekitar Cibinong.[18] Pada 4 Januari 1956, Tadjudin, seorang komandan regional Bambu Runcing, tewas dalam bentrokan di dekat pos militer Tanjung.[19] Pada tahun 1959, Debot menyerahkan diri ke Batalion 313 Divisi Siliwangi setelah Soekarno memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945.[20]
Referensi
- ↑ "Vuurgevecht in Pasar Minggu". Java Bode. 19 Maret 1954. hlm. 2. Diakses tanggal 16 Oktober 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Crib 1991, hlm. 158. sfn error: tanpa target: CITEREFCrib1991 (bantuan)
- 1 2 REBELLION UNDER THE BANNER OF ISLAM
- 1 2 3 Pribadi, Irfan Teguh. "Bambu Runtjing dan Brigade Tjitarum di Palagan Jawa Barat". tirto.id. Tirto. Diakses tanggal 31 Oktober 2026.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 3.
- 1 2 Crib 1991, hlm. 159. sfn error: tanpa target: CITEREFCrib1991 (bantuan)
- ↑ Suharto 2010, hlm. 4.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 5.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 16–17.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 6.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 6-7.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 7.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 7-8.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 8.
- ↑ Suharto 2010, hlm. 9.
- ↑ 1 ”TENTARA RAKYAT” DI BANTEN SELATAN
- ↑ Suharto 2010, hlm. 15.
- 1 2 Crib 1991, hlm. 187. sfn error: tanpa target: CITEREFCrib1991 (bantuan)
- ↑ Monthly Indonesian Press Survey, 1956
- ↑ Crib 1991, hlm. 187-188. sfn error: tanpa target: CITEREFCrib1991 (bantuan)
Bibliografi
- Cribb, Robert (1991). Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People's Militia and the Indonesian Revolution, 1945-1949. Honolulu: University of Hawaii Press.
- Suharto (2010). ""Tentara Rakyat" di Banten Selatan: Kekuatan Terakhir Pembela Tan Malaka". Jurnal Masyarakat dan Budaya. 12 (1). P2KK-LIPI: 1–18. doi:10.14203/jmb.v12i1.161tidak aktif 17 Oktober 2026.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)