Rabu, 21 Oktober 2026
05:57 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
A kara

A kara

Bagikan:
A kara
250px-Bali_vowel_A_kara.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinA
IASTA
Fonem[a], [ə][1]
UnicodeU+1B05
Warga aksarakanthya

A atau A kara adalah salah satu aksara swara (huruf vokal) dalam sistem penulisan aksara Bali. Aksara ini melambangkan bunyi /a/, sama halnya seperti aksara अ (A) dalam aksara Dewanagari, huruf A dalam alfabet Latin, atau huruf alfa (α) dalam alfabet Yunani.

Bentuk

Huruf A dalam aksara Brahmi telah menurunkan aksara Grantha, Pallawa dan bentuknya telah mengalami perubahan. A kara dalam aksara Bali merupakan keturunannya. Aksara Jawa juga memiliki kekerabatan yang dekat dengannya, dan dapat dilihat dari kemiripan bentuknya.

Aksara Brahmi Aksara Grantha Aksara Pallawa Aksara Jawa Aksara Bali
A pendek
120px-Brahmi_a.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Grantha_A.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
60px-Pallava_A.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Jawa_A.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_vowel_A_kara.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
A panjang
120px-Brahmi_aa.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Grantha_Aa.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Pallava_Aa.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Jawa_Aa.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
120px-Bali_vowel_A_kara-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

A kara dirgha

A kara dirga
250px-Bali_vowel_A_kara-tedung.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinA
IASTĀ
Fonem[aː], [ɑ]
UnicodeU+1B06
Warga aksarakanthya

A kara yang melambangkan bunyi /a/ panjang (/ɑː/[2]) disebut A kara dirgha (secara harfiah, dirgha berarti panjang). Bentuknya merupakan gabungan antara tedung dengan A kara biasa (A kara hrasua atau A kara berbunyi pendek). Bila A kara dirgha dialihaksarakan ke dalam huruf Latin, maka ditulis Ā menurut IAST.

Pada masa kini, pengucapan suara /ɑː/ dengan /a/ dalam bahasa Bali sudah jarang dibedakan lagi. Dengan kata lain, pengucapannya disamakan, seolah-olah suara panjang dan pendek tidak ada bedanya.[3] Misalnya kata "aagama" diucapkan "agama", kata "aaksara" diucapkan "aksara", dll. Namun apabila menulis lontar, kidung, dan mantra-mantra, aturan mengenai suara panjang dan pendek masih tetap diperhatikan, dan pada saat itulah A kara dirgha digunakan.

Penggunaan

250px-Modre_symbol_Ang.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ang kara, A kara yang dibubuhi ulu candra.

A kara hanya digunakan apabila menulis bahasa non-Bali[4] (contohnya bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno) dengan menggunakan aksara Bali, atau untuk menulis kata serapan dari bahasa non-Bali dengan menggunakan aksara Bali. Contoh kata dalam bahasa Bali yang diserap dari bahasa non-Bali, yaitu: Arjuna (dari bahasa Sanskerta: Arjuna), aksara (dari bahasa Sanskerta: ākshara), agama (dari bahasa Sanskerta: āgama), arta (dari bahasa Sanskerta: artha), dan lain-lain. Kata-kata tersebut layak ditulis memakai A kara. Selain itu, A kara hanya digunakan sebagai huruf awal suatu kata, jadi hanya boleh ditulis pada awal kata.

A kara tidak digunakan apabila menulis kata-kata yang memang berasal dari bahasa Bali, atau bukan bahasa Bali yang diserap dari bahasa non-Bali. Contohnya antara lain: amah, aba, apang, ajum, dll. Sebagai penggantinya, dianjurkan memakai aksara "ha" yang dapat melambangkan dua bunyi, yaitu /h/ dan /ə/, tergantung kata apa yang ditulis.

A kara tidak memiliki gantungan huruf. Sebagai penggantinya, dianjurkan memakai gantungan aksara Ha.

A kara yang dibubuhi oleh tanda ulu candra dianggap aksara suci bagi Dewa Brahma oleh penganut agama Hindu di Bali. A kara yang dibubuhi ulu candra tersebut dibaca "Ang". Kombinasi antara A kara (Ang) dengan U (Ung) dan M (Mang) menghasilkan simbol Aum atau Om, simbol yang dikeramatkan oleh umat Hindu.

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Catatan kaki

  1. ↑ अ dibaca /ə/ dalam bahasa Sanskerta.
  2. ↑ Lihat artikel IAST.
  3. ↑ Tinggen, hal. 7.
  4. ↑ Tinggen, hal. 11.

Lihat pula

Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan